Renata yang berada di dalam tubuh Irene seorang diri pergi ke rumah keluarga nya. Berharap bisa menemukan informasi tentang keberadaan keluarga nya.
“Ini mba, sudah sampai.” Ucap supir ojek online.
“Ohh… iya pak.” Irene turun dari motor dan membuka helm nya.
Setelah membayar ongkos, si bapak ojek online pun segera melanjutkan orderan nya lagi. Dan sekarang Irene sudah berada di depan rumah nya yang masih sepi dan gelap.
“Kenapa masih sama seperti ini lagi?” Irene merasa sedih seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Di lihat di sekitar, tidak ada seorang pun yang bisa di tanya. Beberapa kali dia memegang kepala, merasa pusing.
Lagi, pria bernama Zaidan lewat dengan motor nya. Di lihat wanita yang pernah di antar sedang duduk lemas di depan gerbang kumuh.
“Hey…. Cantik, apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Zaidan.
Irene yang menundukkan wajah nya, mendengar suara itu dan melihat ternyata ada seorang pria yang di kenal berdiri di hadapan nya.
“Ck….. ada apa dengan mu sih? Ini sudah dua kali loh aku melihat mu menangis? Apa kau sedang bertengkar dengan pacar mu ya?” Tanya Zaidan.
Irene menggelengkan kepala nya.
“lalu kenapa kau menangis? Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Zaidan berjongkok di depan Irene.
Irene tidak menjawab. Di hapus air mata yang ada di pipi nya.
“Apa kau tinggal di sini?” Tanya Irene berdiri.
“Tidak, aku baru datang dari Malaysia. Aku baru 2 bulan tinggal di sini. Kenapa?” Tanya Zaidan.
Irene diam, tidak ada harapan.
“Tidak apa-apa.” Gadis itu menggelengkan kepala nya.
“Apa kau mau aku antar lagi?” pria itu menawarkan bantuan.
“Tidak usah. Aku akan memesan Ojek online.” Tolak Irene.
“Seperti nya kau sedang ada masalah ya? Mau aku temanin?”Zaidan mencoba menghibur Irene.
“Temanin? Mmm….tidak usah. Aku mau pulang saja.”tolak nya pelan.
“Jangan takut, selain aku tampan, aku juga baik hati kok, tidak ada niat jahat pada mu.” Zaidan membujuk Irene.
“Kau mau menemani ku kemana?” Tanya Irene mulai penasaran.
“Kau mau nya ke mana? Ada tempat yang ingin kau datangi?” Tanya Zaidan balik.
Irene menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
“Bagaimana kalau kita main ice skating? Apa kau bisa?” tawar Zaidan.
“Tapi aku tidak bisa bermain ice skating.” Jawab Irene.
“Aku akan mengajari mu. Bagaimana?” balas Zaidan.
“Baik lah. Aku mau.” Irene tersenyum dan setuju dengan ajakan pria yang sudah dua kali bertemu dengan nya.
“Sepakat, sekarang pakai helm nya biar kita tidak di tilang polisi.” Di berikan helm pada Irene, dengan cepat segera di pakai dan langsung naik ke atas motor.
“Pegangan yang kuat. Aku tidak mau nanti di bilang membahayakan seorang wanita dan di kejar polisi.” Suruh Zaidan.
“Iya, aku tahu.” Jawab Irene dengan memonyongkan bibirnya, Zaidan bisa melihat ekspresi wanita yang duduk di belakang nya.
************
Di kantor, Noah masih memikirkan tentang kejadian di pagi hari. Ada rasa kasihan yang tidak bisa di pungkiri saat melihat gadis yang di panggil idiot itu menangis.
“Kenapa aku malah memikirkan nya?” gumam Noah.
“Apa Bianca sudah pulang?” gumam nya lagi.
Berinisiatif menghubungi penghuni rumah nya.
“Hallo tuan Noah.” Elijah menjawab panggilan telepon.
“Elijah, apa Enika dan Bianca sudah pergi?” Tanya Noah.
“Sudah tuan.” Jawab Elijah.
“DI mana si idiot itu?” Tanya Noah memanggil sebutan isteri nya.
“Nyonya sedang pergi keluar tuan, tidak lama setelah nyonya Enika dan nona Bianca pulang.” Jawab Elijah.
“Apa? Keluar? Kemana dia pergi?” Tanya Noah terkejut.
“Nyonya tidak bilang tuan. Yang pasti sebelum anda pulang nyonya sudah di rumah. Begitu kata nya tuan.” Jawab Elijah.
Terdengar tuan nya sedang kesal dari helaan nafas nya.
Segera dia menutup panggilan telepon tanpa berbicara lagi dengan Elijah.
“Kemana dia?” gumam nya.
“Apa dia pergi menemui laki-laki itu lagi? Siapa pria itu?” terlalu banyak pertanyaan yang ada di dalam pikiran Noah.
Berpikir semakin keras membuat nya kesal.
************
“Pelan-pelan, aku benar-benar tidak bisa bermain loh.” Irene di tuntun untuk berjalan dengan pelan.
Mereka sudah memakai sepatu khusus untuk ice skating. Tempat yang sangat dingin. Zaidan dengan sabar mengajarkan permainan itu pada Irene.
Bukan Cuma Irene yang tidak bisa bermain ice skating, banyak pengunjung juga yang sering jatuh bangun di tempat itu. Irene tertawa melihat mereka.
“Ternyata kau kalau tertawa seperti itu jadi lebih cantik.” Goda Zaidan.
Irene merasa malu dan gugup.
Beberapa kali juga Irene jatuh, dan selalu di bantu Zaidan untuk berdiri. Di bawa lagi mengelilingi area dengan pelan.
“Zaidan, aku sudah lelah. Aku mau istirahat dulu.” Pinta Irene.
“Okey, aku akan mengantar mu ke sana.” Tangan Irene yang tidak lepas dari genggaman tangan Zaidan.
Orang lain yang melihat akan berpikir kalau mereka adalah sepasang kekasih. Sangat dekat dan romantis.
“Kau duduk lah di sini. Aku masih ingin bermain lagi.” Zaidan kembali ke arena ice skating.
Irene melihat pria itu dengan cekatan dan lincah seperti melayang. Pandangan nya tidak lepas dari pria itu. tentu saja dengan tersenyum juga. Di rasa nya sangat dingin, membuat kedua tangan nya dilipat di depan dada nya.
Zaidan melihat dan tahu kalau Irene sedang kedinginan. Dia lalu pergi menuju gadis itu.
“Apa kau kedinginan?” Tanya Zaidan.
“Iya, apa kau masih lama?” Tanya Irene.
“Aku akan selesai.” Jawab nya.
“Bagus lah, aku ingin pulang, ini sudah sore.” Ucap Irene.
“Tunggu sebentar.” Zaidan membuka sepatu nya.
“Mana sepatu ice skating mu? Biar aku kembalikan dulu,” pinta Zaidan.
“Ini, maaf ya merepotkan.” Irene memberikan sepatu pada Zaidan dengan tertawa kecil.
Seorang diri Zaidan mengembalikan sepatu itu. Lalu kembali kearah Irene yang sedang menunggu nya.
“Ayo kita pulang.” Ajak nya.
Zaidan menggenggam tangan Irene. Dan gadis itu terkejut dengan aksi Zaidan.
“Hey Zaidan, tangan mu, lepaskan tangan ku.” Ucap Irene.
“Uupss….. sorry, hahahahaha…..” Zaidan melepaskan genggaman nya.
Sebenar nya dia memang sengaja melakukan itu, tapi tidak menyangka kalau Irene akan menolak nya.
“Apa kau mau langsung pulang?” Tanya Zaidan.
“Iya. Ini sudah sore.” Jawab Irene.
“Bagaimana kalau kita minum kopi dulu? Aku sangat kedinginan sekali. Jadi butuh kehangatan.” Bujuk Zaidan.
“Tapi aku tidak butuh kehangatan.” Jawab Irene jujur.
“Ayolah…. Masa kau tega membiarkan ku minum sendiri sih? Aku akan mengantar mu pulang nanti. Please……” bujuk Zaidan.
Irene merasa kasihan juga dengan permohonan teman nya itu.
“Baiklah, tapi jangan lama ya.” Pinta Irene.
“Janji.” Ucap Zaidan mengangkat dua jari nya dengan tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Dewi Kania
ada apa ya kok bisa kebetulan ketemu ziadan lagi.... bikin penasan
2022-12-07
0
Pia
calon pebinor🤭🤭🤭
2022-11-02
0
Pia
ciee ciee ciee, kesel 😄😄😄
2022-11-02
0