Pria itu menurunkan Irene di tempat yang dia ingin kan, yaitu pinggiran jalan raya.
“Benar tidak apa-apa turun di sini?” Tanya pria itu menunggu helm yang di pakai Irene.
“Iya, aku akan naik taksi. Ini helm nya. Terimakasih ya.” Irene memberikan helm kepada si pemilik motor.
“Nama ku Zaidan. Kamu siapa?” pria itu memperkenalkan diri nya.
“Oh….aku Irene.” Jawab nya ramah.
“Irene. Salam kenal ya. Jadi kalau kita berjumpa lagi, jangan panggil aku ‘pak’ ya, panggil Zaidan.” Ucap nya tersenyum.
“Hahaha…iya, maaf. Kalau begitu aku permisi dulu.” Irene pergi meninggalkan Zaidan yang masih memperhatikan kepergian nya.
“AKu harap kita bisa bertemu lagi….Irene.” ucap nya sendiri.
Sementara itu Noah secara tidak sengaja melihat Irene yang turun dari motor Zaidan.
“Apa yang di lakukan nya di sini? Dan siapa pria itu?” Tanya nya dalam hati.
Tidak lama taksi pesanan Irene sudah datang.
**********
“Kemana mereka? Apa pindah? Tidak mungkin.” Pertanyaan di dalam hati Irene membuat nya semakin bersedih.
Irene menangis di dalam mobil. Masih beberapa kali berusaha menghubungi nomor keluarga nya, tapi tetap tidak bisa.
“Mba, apa anda baik-baik saja? Kenapa anda menangis?” Tanya si supir taksi yang melihat Irene menangis.
“Ah….tidak apa-apa kok pak.” Irene menjawab dengan berpura-pura tersenyum.
Wajah nya yang biasa bahagia dan tersenyum, mendadak menjadi lebih diam dan tampak sedih.
Irene dalam perjalanan pulang ke kediaman Noah, suami si pemilik tubuh.
*****************
“Elijah, bikinkan kami makanan. Yang enak ya, jangan asal-asalan.” Suruh Enika, mama nya si Irene.
“Baik bu.” Jawab Elijah.
Elijah tidak suka kalau keluarga Irene datang. Mereka bertindak sesuka hati yang kelewat batas. Irene dan juga bersama Bianca kembali datang ke rumah Noah. Tidak hanya itu, Bianca membawa Koper yang berisi pakaian nya.
Dia berencana untuk tinggal lebih lama di situ.
Saat ini tidak ada si pemilik rumah, membuat Enika dan Bianca menjadi lebih leluasa. Tidak sopan, menaikkan kaki di atas sofa sambil
menoton Tv. Bianca mengelilingi rumah sambil eksis di salah satu aplikasi.
“Hallo gaissss… sekarang aku ada di rumah kakak ipar ku. Rumah nya sangat besar dan mewah.” Bianca memperlihat kan sudut-sudut ruangan.
“Ini dia kakak ipar ku, Noah Benyamin. Tampan kan? Oh ya, asal kalian tahu, sebentar lagi aku yang akan menjadi pengganti dari kakak ku yang idiot ini.” Bianca menunjukkan foto yang tertempel di dinding.
Tidak berapa lama, Irene sudah tiba di rumah. Dengan keadaan yang sangat melelahkan bagi nya, berjalan masuk ke dalam.
“Kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?” Tanya nya melihat Enika yang duduk santai memegang remot Tv.
Enika melihat Irene, lalu mengalihkan lagi pandangan nya ke Tv.
Irene merasa sangat kesal.
“Kalian dengar gak aku bicara?” Tanya Irene sudah merasa kesal.
Irene berjalan di depan Tv, di ambil nya paksa remot tv yang ada dalam genggaman Enika. Dan segera mematikan Tv. Enika geram dan marah.
“Kau… apa yang kau lakukan? Sini remot nya.” Enika berteriak sambil berdiri.
“Kalian ngapain datang lagi ke sini?” Irene tidak mau kalah.
“Terserah kami. Kenapa kau yang marah.” Jawab Enika.
Bianca mendengar perdebatan dari orang yang di kenal. Dengan cepat menuju lokasi.
“Kalian tidak tahu malu banget ya. Keluar!” teriak Irene.
PPPLAAAKKK……
Enika menampar keras pipi Irene. Irene kesakitan, tangan nya memegang pipi yang terasa bengkak.
“Elijah, lihat, nyonya Irene di tampar sama mama nya.” Panggil Vira pelan.
Semua pelayan melihat dan mendengar kegaduhan antara ibu dan anak kandung itu.
“Kau jangan jadi besar kepala dan melunjak ya. Jangan jadi tidak tahu sopan sama orang tua.” Enika menunjuk wajah Irene.
“Kau berani menampar ku?” dengan kesal dia bertanya pada Enika.
“Kenapa? Apa kau pikir aku tidak berani? Hah?” teriak Enika.
Irene menarik rambut Enika, menarik dengan keras.
“Aaakkhhh…..lepaskan idiot……sakit….” Enika berusaha melepaskan tangan Irene yang menarik rambut nya.
Irene tidak mau mendengar, di tarik nya terus, di bawa ke kiri, ke kanan. Bianca berusaha membantu mama nya. Dia menarik pakaian Irene.
“Lepaskan mama ku…. Lepaskan cepat!” teriak Bianca.
Irene masih merasa marah dan kesal, dengan tangan nya sebelah kanan, segera di tarik nya rambut adik perempuan nya itu. dengan kuat
kedua orang itu berada dalam genggaman Irene.
Mereka menjerit bersamaan.
“Sialan…. Saat ini aku lagi ingin melampiaskan kemarahan, kebetulan sekali kalian ada di sini.” Ucap Irene.
Elijah dan pelayan lain nya berusaha melerai mereka. Ada yang memegang Irene ada juga yang memegang Bianca dan Enika. Irene bisa
melepaskan genggaman nya. Dengan rambut yang sudah rontok di genggaman Irene.
“Kurang ajar kau…..” teriak Enika menghampiri Irene.
PPLAAAKKK……
Lagi, Enika menampar keras pipi Irene.
“Lagi ma, tampar lagi, lebih keras.” Teriak Bianca.
Enika berusaha ingin menampar kembali Irene.
“Apa yang kalian lakukan???” teriak Noah yang kembali dari pekerjaan nya.
Semua melihat kehadiran Noah yang masih menenteng tas kerja.
Pria itu melihat Irene yang memegang pipi.
“Nak Noah, kamu sudah pulang.” Enika menghampiri Noah.
“Kakak ipar, kamu pasti sangat lelah, apa kakak mau aku buat kan kopi?” tawar Bianca menghampiri Noah.
Noah tidak memberi jawaban. Dia masih diam melihat Irene yang tampak menahan sakit.
Irene masih diam, dia melihat Noah yang menatap nya. Sementara Enika dan Bianca berada di sisi Noah.
Tanpa kata Irene pergi ke kamar nya, seperti tidak ingin menjelaskan apa-apa.
Noah sedikit heran dengan sikap isteri nya yang biasa nya tidak ingin mengalah.
“Ehhheemmm….. nak Noah, maafkan kami karena…..
“Apa yang kalian lakukan di sini?” Tanya Noah sinis.
Enika melihat Bianca.
“Kakak ipar, mama ke sini mau mengantar aku ke sini dan membawa koper.” Ucap Bianca mencari perhatian.
Noah melihat koper yang berada di depan Tv. Sedikit aneh dan heran.
“Benar nak, mama ingin Bianca ada di sini untuk menjaga Irene yang sedang sakit.” Ucap Enika.
“Sakit? Siapa yang sakit?” Tanya Noah.
“Irene, kakak ipar, penyakit nya kumat lagi, dia menampar dan menarik rambut kami. Dia sangat kuat sekali. Maka nya mama ke sini ingin membantu menenangkan kakak Irene. Tadi pagi juga kak Irene menampar ku beberapa kali, sakit sekali kak.” Bianca berakting manja.
“Apa benar itu?” Tanya Noah di dalam hati nya.
Noah melepaskan tangan nya dari dua wanita itu. Segera pergi ke atas, tempat kamar nya. Saat pria itu ingin ke kamar yang melewati kamar Irene, dia mendengar suara tangisan di dalam kamar
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Nanik Lestari
Sia sia jadi bar barnya masih bisa ditampar
2022-12-08
0
Dewi Kania
irene yg kuat ya...
2022-12-07
0
Dewi Kania
rasain....
2022-12-07
0