Hingga tiba di depan rumah mewah, sudah ada beberapa tamu yang datang di acara itu.
Noah turun lebih dulu. Dia melihat Irene yang masih melihat sisi kiri, seakan menyembunyikan wajah nya.
Setelah dia turun, dia berputar kesebelah tempat Irene duduk.
Di buka nya pintu dan ingin mengulurkan tangan agar wanita itu memegang tangan nya, agar tidak ada yang curiga dengan hubungan tidak romantis mereka.
Irene terkejut Noah sudah membuka pintu, dan melihat nya yang ternyata sudah menangis itu.
Noah mengernyit kan dahi nya.
“Dia menangis? Kenapa?” gumam Noah.
“Turun. Kita sudah sampai.” Suruh Noah.
“Oh…kita….kita sudah…sampai ya.” Irene menghapus air mata
nya.
Noah mengulurkan tangan dan tanpa berpikir Irene langsung menerima uluran dan turun dari mobil. Tampak kalau dia habis menangis.
Hingga akhir nya mereka berjalan dengan bergenggaman tangan.
“Kau jangan menangis, semua akan mengira kalau aku melukai mu.” Bisik Noah di telinga Irene.
“Maaf.” Jawab Irene dengan suara lirih.
“Selamat malam tuan Noah dan nyonya Irene.” Sapa beberapa tamu saat mereka sudah masuk.
“Selamat malam juga tuan Djordy.” Noah menjabat tangan rekan kerja papa nya.
“Saya permisi dulu mau bertemu dengan papa.” Ucap Noah.
“Silahkan tuan Noah.”
Noah membawa Irene untuk menemui orang tuanya.
“Papa, selamat ulang tahun ya.” Noah menjabat tangan dan memeluk papa nya.
“Terimakasih nak, kalian datang juga.”jawab papa nya.
Noah melihat Irene.
“Papa….selamat ulang…tahun…” ucap Irene menjabat tangan mertua nya.
“Terimakasih Irene. Papa senang kalian datang nak.” Ucap Okta, mertua nya.
“Sayang, sebaik nya bawa Irene duduk dulu, seperti nya dia sangat lelah sekali.” Suruh Dinda.
Irene melihat mama mertua nya. Mereka bertatapan.
“Mama…” Irene memeluk Dinda.
Dinda terkejut menantu nya memeluk dan bahkan memanggil nya dengan sebutan ‘mama’.
“Mama…. Aku sangat merindukan mu…..hhhuuuuuuhhhhuuuuuuu…..hhuuuuu…. aku sangat merindukan mu ma….” Irene
menangis dalam pelukan Dinda yang terkejut.
Semua melihat adegan itu.
“Irene, jangan menangis. Kalau kamu rindu dengan mama, kamu bisa datang kesini kok.” Dinda mengusap air mata yang masih mengalir di pipi Irene.
Belum berhenti menangis, bahkan sampai bahu nya bergetar karena efek tangisan nya.
“Ayo, kita duduk dulu di sana ya.” Ajak Dinda membawa Irene ke sebuah sofa empuk.
“Ada apa dengan nya Noah? Apa kalian bertengkar lagi?” Tanya Okta yang merasa curiga.
“Tidak Pa. Kami baik-baik saja. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan nya. Tiba-tiba saja dia seperti itu.” Noah merasa sama penasaran dan terkejut.
“Apa dia sedang berakting di depan orang tua ku?” gumam Noah.
Noah melihat Irene yang masih menyandarkan kepala nya di dada Dinda, seperti manja pada orang tua kandung nya.
“Lalu kenapa dia bilang kalau dia rindu? Apa kau melarang mama nya datang kerumah mu? Noah, ubah sikap mu, jangan membatasi nya.” Okta merasa kesal.
“Pa, aku tidak melarang nya, aku pernah bilang akan membawa mama dan adik perempuan nya datang kerumah, tapi Irene nya tidak mau.” Ucap Noah memberi penjelasan.
“Tapi dia terasa sangat bersedih. Dan dia sangat manja sekali dengan mama mu. Papa rasa dia rindu keluarga nya.” Ucap Okta yang juga melihat adegan itu.
“Aku akan mencoba membawa nya pulang kerumah keluarga nya pa.” ucap Noah.
Irene masih menangis, namun sedikit lebih tenang. Tangan nya merangkul pinggang Dinda. Dinda mengelus kepala menantu nya itu.
“Ada apa dengan nya? Apa dia rindu dengan orang tua nya? Kenapa dia sangat manja dan sedih sekarang?” Tanya Dinda dalam hati.
“Irene, ada apa dengan mu nak? Apa kamu sedang sakit? Atau apa Noah menjahati mu?” Tanya Dinda dengan pelan.
“Tidak ma. Suami ku tidak jahat kok.” Ucap Irene yang masih bersandar di dada Dinda.
“Tapi kenapa kamu menangis? Lihat nih pipi kamu sampai basah seperti ini.” Ucap Dinda.
“Aku, aku hanya rindu dengan…ma…..mama…” Irene menangis lagi.
“Sayang, jangan menangis. Mama juga bisa sedih kalau melihat mu menangis.
Dinda bisa mendengar suara tangisan Irene. Ratapan tangisan yang menyayat hati.
“Renata rindu dengan mama, papa dan kak Adrian…. Kemana kalian…. Kemana Renata harus mencari kalian.” Tanya Irene menangis.
“Sudah….sudah… apa kau sudah makan? Ayo kita makan dulu ya.” Ajak Dinda.
Irene mengangkat wajah nya. Lalu menganggukkan kepala nya. Setuju dengan ajakan mama mertua nya.
Dinda dan Irene berdiri, sambil bergandengan tangan mereka menghampiri Okta dan Noah yang masih berdiri memperhatikan mereka sedari tadi.
“Papa, sebaik nya kita mulai saja makan malam nya.” Ucap Dinda.
Irene berdiri di samping Dinda sambil memeluk lengan mama mertua nya. Noah sangat jelas melihat nya.
“Sejak kapan wanita ini menjadi akrab dengan mama?” Tanya Noah dalam hati.
“Baiklah kalau begitu, para rekan-rekan dan tamu sekalian, silahkan kita makan malam bersama. Hidangan nya juga sudah di siapkan.” Ucap Okta.
Mendengar pemberitahuan itu, mereka pergi keruang makan, di mana sudah tertata meja makan dengan hidangan yang sudah tersedia diatas meja, dan lengkap dengan peralatan makan yang masih kosong dan bersih.
Semua tamu duduk dan menikmati hidangan di atas meja, yang tertutup dengan rapat.
Ada juga beberapa menu tambahan di bagian sisi kiri, berikut dengan pelayan yang akan menyiapkan menu makanan apabila ada yang ingin meminta nya.
Irene duduk di samping Dinda, sedangkan Noah dan Okta berada di depan mereka yang masih satu meja.
Irene masih belum melepas genggaman tangan nya, bahkan menyandarkan kepala nya di bahu Dinda.
“Irene, kamu makan dulu ya.” Ucap mama mertua.
“Mama, Ren….Irene mau mama nyuapin aku makan.” Pinta Irene.
“Apa?” Dinda terkejut.
Bukan Cuma Dinda, Noah dan Okta yang mendengar permintaan Irene juga ikut terkejut.
“Menyuapin kamu makan?” Tanya Dinda memastikan nya lagi.
Irene menganggukkan kepala nya dengan tersenyum.
“Baiklah Irene. Mama akan menyuapi kamu ya. Sekarang mama akan ambil makanan nya dulu. Kamu mau makan yang mana? Mau udang, kerang atau….” Dinda menawarkan menu yang ada di atas meja yang berukuran besar.
“Irene gak bisa makan makanan seafood ma, selain itu Irene bisa makan.” Jawab Irene senyum.
“Apa? Tidak mau makan Seafood? Bukan nya itu adalah makanan favorite nya?” gumam Noah.
“Oh, bagaimana kalau daging sapi ini? Daging sapi kecap manis. Ini salah satu menu makanan mama.” Tawar Dinda.
“Irene mau ma.” Wanita muda itu dengan senang hati menganggukkan kepala nya.
Dinda mengisi piring nya dengan makanan. Di aduk nya sebentar, mengambil dengan sendok dan menyuapi Irene yang sudah menunggu suapan dari Dinda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Dian Isnu
apa muka nya sma
2022-10-31
0
DD😇
gimana yaa kabar kluarga Renata 😣😣😣 kalau ternyata kluarganya misalnya meninggal gimana coba..😭😭😭
2022-09-09
0
Karebet
👍👍👍👍
2022-09-02
0