Mata cokelat terang Xin Chen berubah cepat, hatinya terbakar mendapat hinaan itu. "Kau boleh menghinaku sepuasmu, tapi tidak dengan Ayahku, sialan!"
Lari Xin Chen menjadi lebih cekatan, anak itu berusaha menguasai emosi namun tak berhasil. Dia melayangkan tendangan tinggi yang mengenai rahang pria itu keras. Perlawanan balik pun turut dilayangkan padanya, Xin Chen bahkan sampai tak memiliki momentum untuk menghindar.
Bruakk!
Xin Chen terpelanting menghantam dinding, baru saja hendak bangun sadar tak sadar sebuah tendangan tengah menyerbu kepalanya.
Pukulan demi pukulan melayang menghantam tubuhnya hingga Xin Chen mati rasa, Rubah Petir sama sekali tak berniat menolong seperti yang dia katakan di awal meski nyawa Xin Chen sebagai taruhannya.
Rubah Petir terlihat kecewa, padahal dia sudah mengatakan tadi. Dalam pertarungan emosi bisa membuat pikirannya kacau hingga tak dapat berpikir jernih.
Hal inilah yang membuatnya sering kalah dalam pertarungan. Termasuk dengan Xin Zhan sendiri, setiap mengayunkan pedangnya Xin Chen ragu untuk melukai saudaranya itu.
"Rumahmu berbeda dengan hutan rimba, di sini yang kuatlah yang bertahan. Jika hanya sampai di situ kemampuanmu lebih baik aku melanjutkan perjalanan saja."
"Belum..."
Xin Chen menahan tangan lawannya, berusaha melepaskan diri dari cengkraman tersebut.
"Menghina Ayahku begitu, kau pikir dirimu siapa-!?"
Mendadak sebuah energi besar keluar, membuat mata Xin Chen yang semula cokelat berubah merah darah bersamaan dengan munculnya tanda bunga api di keningnya. "Tarik kembali kata-katamu!"
Pria itu tak dapat menahan amarah Xin Chen, tak dapat dipahaminya darimana aura yang terasa membunuh sekaligus membakar ini datang. Xin Chen terlihat sangat menakutkan, bahkan walaupun ukurannya dua kali lebih kecil dari tubuhnya.
"Cih, akhirnya kekuatan sebenarnya muncul juga." Rubah petir kembali duduk di tempat semula ketika merasa tontonan ini akan menjadi lebih seru.
Belum memulai apapun, pria itu dibuat bingung saat melihat Xin Chen menghilang tanpa jejak. Dia memutar tubuhnya dengan cepat mewaspadai serangan tiba-tiba. Dan benar saja, sebuah ayunan pedang sedang bergerak melibas dari atas.
Namun kecepatan Xin Chen masih di bawah lawannya sendiri, membuat serangan tersebut dapat dihindari meski hanya berbeda tipis. Pria itu menghindari serangan itu dengan mudah, tapi sayangnya dia tak memprediksikan Xin Chen akan melakukan serangan susulan seperti yang dia lakukan tadi.
Kepala pria itu berbunyi nyaring ketika lutut Xin Chen telak mengenai wajahnya.
"A-apaan kau ini? Kau hanya anak gagal yang memiliki kekuatan lemah, jangan besar kepala dulu–"
"Tarik kembali kata-katamu." Xin Chen berhasil membuat pria itu terpojok, kini mata pedang hanya berjarak beberapa senti dari leher pria itu, siap menembusnya kapanpun.
"Ba-baik, maafkan aku... Aku tarik kembali kata-kataku."
Xin Chen menarik pedang, terlihat mulai bisa mengendalikan emosinya.
Rubah Petir berkata pelan, "Mengapa kau tidak membunuhnya?"
"Hm? Dia tidak membunuhku." Xin Chen menjawab bingung, lagipula dia merasa nyawa pria itu juga patut diampuni. Pandangan bahwa setiap orang harus diberikan kesempatan kedua telah melekat dalam pikirannya sejak dulu.
"Mengampuninya hanya akan menunda masalah yang lebih besar datang. Kau tidak tahu, di masa lalu dia telah mengambil puluhan nyawa tanpa belas kasihan."
Xin Chen mulai bimbang, antara ingin membiarkan pria itu hidup atau tidak. Selagi itu Rubah Petir menambahkan, "Iblis telah tertanam abadi di tubuhnya, kau hanya bisa memusnahkan iblis itu setelah menghancurkan tubuh pemiliknya."
"Tidak akan kubiarkan kalian membunuhku!" Pergerakan tiba-tiba dari belakang menyambar Xin Chen, anak itu refleks menahan laju pedang dengan senjatanya pula.
"Hei bukankah aku sudah memaafkanmu?!"
"Cih, kau kira aku bodoh? Lagipula dengan membunuhmu aku bisa mendapatkan ratusan keping emas! Tidak ada yang tidak bisa kulakukan dengan uang-uang itu!"
Kini Xin Chen mengerti mengapa dia tak seharusnya memberikan kesempatan kedua ini kepada musuh, sesudah mendengar kata-kata tersebut tidak ada alasan lagi untuk membiarkannya hidup.
"Kalau begitu matilah dengan tenang, pak tua." Xin Chen menghilang kembali, membuat pria itu menerawang sekitarnya dengan ketakutan mendalam. Tiga detik kemudian tak ada satupun serangan datang membuat dirinya bingung.
Xin Chen menyerang dari atas kepalanya tanpa dia ketahui, kini pedang menancap di bahu pria itu sampai ke dalam, jeritan melolong seketika terdengar meraung di penjuru kota.
Beberapa penduduk yang mengintip dari rumah menyaksikannya sambil meringis, melihat seorang anak kecil berdarah dingin telah membunuh lawan yang sama sekali tak sepadan dengannya.
Rubah Petir turun dari atap, mendekati Xin Chen yang tampak linglung. Matanya terkunci di aliran darah musuh.
"Kau tidak melakukan hal yang salah, Chen. Untuk menciptakan perdamaian bukan hal aneh lagi menyingkirkan tikus-tikus kecil seperti ini."
"Guru, apa Ayahku akan marah kalau melihat ini?"
Hampir saja Rubah Petir tertawa mendengarnya, dia menjawab lantang. "Di umurmu dia sudah membunuh puluhan nyawa dengan tangannya sendiri. Mendekati maut dan menantang langit. Dia tentu takkan marah padamu," ujarnya. Membuat Xin Chen setidaknya menjadi lebih baik.
"Kekuatan yang tadi itu..." Xin Chen menatapi kedua tangannya. Rubah Petir tersenyum singkat.
"Kau hanya akan bisa berkembang jika dirimu di alam bebas. Tidak dengan latihan di rumah. Kau tidak selemah yang dirimu pikirkan, Chen."
Xin Chen tersenyum lebar, baru kali ini dia mendapatkan pujian yang sedemikian baik. Dibanding itu tiba-tiba dia teringat akan keluarga di dalam rumah tersebut, Xin Chen memasuki rumah itu kembali.
Melihat sepasang orangtua dengan satu orang anak tengah meringkuk ketakutan di dalam.
"Tu-tuan Muda! Kau berhasil selamat?"
"Lalu yang datang ke rumahmu ini siapa, Paman? Hantu?" Suasana berubah menjadi lebih cair dengan candaan tersebut, anak perempuan mereka yang masih balita pun berhenti menangis saat Xin Chen datang.
"Tuan kami benar-benar berutang nyawa padamu, meski kau masih kecil, kau telah menyelamatkan kami sekeluarga."
Mendengar pujian tersebut Xin Chen tak langsung besar kepala, mungkin saja kali ini dia sedang beruntung memenangkan pertarungan. Atau mungkin saja selama ini dia kalah dari Xin Zhan memang karena kakaknya itu jauh lebih kuat dari lawannya tadi. Xin Chen juga tak mengerti.
"Boleh aku tahu kenapa dia menyerang keluargamu?"
Pria itu lantas mengangguk, "Akhir-akhir ini terjadi wabah penyakit di beberapa desa, mungkin karena aliran air tercemar. Aku juga sudah mempelajari sedikit tentang wabah ini, kemungkinan besar ada seseorang yang merencanakan meluasnya penyakit ini hingga menjangkit banyak orang dalam sebentar."
Xin Chen menopang dagunya. "Wabah seperti ini seharusnya sudah diketahui Ayah, lalu kenapa tidak ada yang datang menyelamatkan mereka?"
"Begini, Tuan," ucapnya menggantung. "Tidak ada yang bersedia mendekati desa wabah itu walaupun sekedar memeriksa. Ketika membuat laporan untuk mengajukan permasalahan ini pada pemerintah pun mereka tak memiliki bukti akurat, kecuali mendatangi tempat tersebut secara langsung."
"Memang kenapa dengan desa itu? Kenapa sepertinya mereka takut memasukinya?"
Wajah peracik obat itu berubah tak enak, "Tidak tahu mengapa... Wabah ini menyebar luas dengan cepat, aku tidak tahu apakah ini menular atau tidak. Maka dari itu siapapun yang telah memasuki desa itu takkan diterima di manapun. Takutnya dia membawa wabah itu bersamanya."
Mulai sedikit mengerti Xin Chen pun menganggukkan kepala, ada satu pertanyaan lagi yang sempat dia tanyakan sebelum pergi. Yakni mengenai tujuan awalnya, yaitu mencari letak Lembah Para Dewa namun pria itu mengatakan dia pun tak tahu menahu tentang itu.
Hanya segelintir orang mengetahui keberadaan kelompok aliran hitam tersebut, memang hal paling mudah untuk mengetahuinya adalah dengan menemui penjual informasi namun sayangnya Xin Chen tak menemukannya sejak kemarin.
Rubah Petir menunggunya di luar, mayat pria tersebut kini telah dibakar olehnya menggunakan kekuatan listrik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Muhammad kenzo al fatih
mantul lanjutkan sukses selalu jangan lupa ngopi thour dan terima kasih sudah menberikan bacaan yang menarik
2024-01-05
1
ADjalius
lanjut....
2022-05-01
1
la beneamata
mirip film the mask,jago pas paki topeng
2022-03-11
1