"Berikan saja apa yang kuminta atau kau akan menanggung akibatnya!"
"Tu-tuan, aku benar-benar tidak memilikinya, kalaupun ada aku pasti akan–"
Leher istrinya menjadi ancaman, pria yang sedang berlutut memohon itu terlihat lebih gemetaran. Kedua tangan yang dia tangkupkan pun bergetar hebat.
Kemalangan menimpa keluarganya malam ini, setelah terdengar kabar bahwa peracik obat handal itu mampu menciptakan sebuah obat yang mampu menyembuhkan penyakit yang sedang mewabah di Desa Houbi, tempat yang dulunya maju dan dirampas oleh Manusia Darah Iblis sehingga menjadi seperti kuburan kematian.
Hanya beberapa penduduk yang tak memiliki tempat tinggal bermukim di sana. Disebabkan oleh perairan yang kurang para penduduk memanfaatkan air kotor untuk terus bertahan hidup namun sayangnya dari air itu sebuah penyakit baru muncul.
Harapan hidup banyak penduduk Desa Houbi bergantung penuh pada peracik obat tersebut, pria itu memohon pada orang asing di depannya yang hendak merampas obat tersebut secara cuma-cuma. Dari tampilannya saja, dia yakin pria tersebut berasal dari sekte aliran hitam.
"Kukatakan padamu cepat berikan atau aku akan mengambil kepala istrimu!"
"Tapi obat itu akan dikirim ke Desa Houbi! Mereka jauh lebih membutuhkan pertolongan ini!"
Leher pembuat obat itu dicekik kuat, tatapan nyalang menyerbunya. "Kau tahu, orang-orangku juga mengalami hal yang sama! Apa bedanya membantu mereka dengan membantu kami?!"
Meskipun ketakutan pria itu tetap menentangnya. "Aku menyelamatkan nyawa mereka karena mereka takkan pernah membunuh manusia seperti kalian semua!"
"Itu sudah terjadi dulu sekali, kalaupun bisa membunuh aku sudah pasti akan menghabisi kalian semua. Hanya saja Pedang Iblis sudah menguasai Kekaisaran ini..."
"Kau menyebut Ayahku? Kebetulan anaknya ada di sini."
Xin Chen terlihat memasuki rumah, tidak ada bunyi pintu ataupun derap kaki. Membuat kedua orang itu menatapnya seperti sedang melihat hantu. Xin Chen membuka topengnya perlahan, menampilkan senyum sinisnya.
"Lepaskan pak tua itu kalau kau mau selamat."
"Cih, anak Pedang Iblis hanya segini? Kau pasti yang bernama Xin Chen, bukan? Anak gagal yang diceritakan orang-orang. Sayangnya kehebatan ayahmu tak mengalir dalam tubuhmu."
Omongan itu memang untuk memanas-manasi Xin Chen, sayangnya Xin Chen sendiri sudah kebal mendengarnya. "Kalaupun aku gagal menjadi anaknya, setidaknya aku tidak gagal menjadi manusia sepertimu."
"Apa kau bilang-?!"
Bola mata Xin Chen terkunci di satu titik, dia mengenali pakaian pria itu. Pria tersebut adalah sisa dari anggota Manusia Darah Iblis yang masih hidup.
Setelah perang besar beberapa tahun silam, semua anggota Manusia Darah Iblis yang tersebar di penjuru Kekaisaran memilih untuk menyembunyikan diri. Tidak ada niat untuk menghilangkan iblis dalam tubuh mereka karena dengan demikian kekuatan mereka akan merosot tajam. Menjadi lemah seperti sedia kala.
Xin Chen mengernyitkan dahinya sebentar memikirkan sesuatu diam-diam. Dia mengeluarkan secarik kain dari bajunya. "Kau pasti mengenal mereka."
Pria itu menyipitkan mata agar bisa melihat ukiran di kain tersebut. "Aku tidak memiliki urusan dengan mereka."
"Kau pasti memiliki hubungan dengan orang-orang ini," sahut Xin Chen berusaha memancing pria itu untuk mengatakan lebih banyak. Lawan bicaranya ini pasti mengetahui lebih banyak informasi sesama sekte aliran hitam.
"Bekerja sama dengan Lembah Para Dewa? Cih, menawarkan keuntungan selangit dengan iming-iming harta. Setelah itu kau akan dihancurkan oleh mereka."
"Kau sepertinya mengetahui banyak tentang mereka."
"Sial, jangan mengulur-ulur waktuku! Aku tidak memiliki kepentingan apapun dengan mereka dan lagipula..." Seringaian sinis muncul di sudut bibirnya. "Kurasa mereka akan menjadi kehancuran besar setelah Manusia Darah Iblis."
Xin Chen mulai merasakan tekanan udara di sekitarnya mulai menipis, pundaknya terasa berat dalam satu waktu.
"Meskipun kau tak begitu hebat tapi harga kepalamu pasti sangat mahal, bocah." Pria itu mengeluarkan pedang miliknya yang berkilap merah terang.
"Karena kau anaknya Pedang Iblis aku takkan segan-segan mengambil kepalamu!"
Xin Chen memilih mundur terlebih dahulu agar keluarga di dalam rumah tersebut tak terkena imbasnya. Jalanan malam hari mulai sepi, tak ada satupun orang yang melewati tempat tersebut.
Tangan Xin Chen memegang senjata dengan ragu-ragu, dia tahu bertarung adalah sebuah keharusan untuk seorang pendekar. Tapi mentalnya belum siap jika harus melihat potongan daging leher seperti sebelumnya.
"Terlalu banyak berpikir kau akan mati!"
Suara Rubah Petir terdengar, dia menonton dari atas atap rumah. Memerhatikan Xin Chen bertarung dengan jeli.
Lawan Xin Chen menengok ke atas dan dapat mengukur sedikit kekuatan Rubah Petir, membuatnya mulai ragu untuk membunuh.
"Tidak perlu cemas, aku berjanji takkan turun dari sini. Kalau mau bertarung silakan, jangan buang-buang kesempatanmu ini."
Xin Chen setengah tak percaya mendengarnya, dalam artian lain Rubah Petir sedang menyerahkan nyawanya kepada pria tersebut. Seperti yang dikatakan Rubah Petir, terlalu banyak berpikir hanya akan membuatnya ragu-ragu.
Tahu nyawanya berada dalam ancaman Xin Chen mulai bersiap bertarung.
Terdengar Rubah Petir menyahutnya dari atas, "Lebarkan kakimu itu, kau akan mudah diserang dengan pertahanan seperti itu!"
Lawan Xin Chen sendiri mengerti apa yang sedang terjadi, dia yakin Rubah Petir sedang menguji muridnya di tempat ini. Entah hasilnya akan baik atau tidak, dari perkiraannya dia yakin Rubah Petir takkan menyelamatkan Xin Chen.
Kedua mata mereka saling bertemu. Xin Chen memusatkan perhatian seperti yang dia lakukan saat latihan bersama sang Ayah. Berbekal ilmu yang diajarkan Xin Fai selama ini, meski tak yakin Xin Chen masih memiliki sedikit harapan untuk selamat.
"Untuk menguasai pedangmu, pertama-tama kau harus menguasai emosimu. Chen, di saat-saat seperti takkan ada yang menolongmu kecuali dirimu sendiri!" Rubah Petir berkata tegas.
Xin Chen mengangguk pelan, mengintai ke depannya menunggu pergerakan lawan.
Ingatan saat Ren Yuan menyemangatinya pun terlintas, jika dipikir-pikir lagi selama ini masih banyak orang-orang yang mendukungnya. Hanya saja Xin Chen terlalu memusingkan omongan orang lain daripada dukungan Ayah Ibunya.
"Aku tidak boleh menghancurkan reputasi Ayah, lihat saja pak tua. Aku juga takkan segan mengambil kepalamu!"
Sedikit tersentak pria itu saat menghadapi bola mata Xin Chen yang sangat mirip dengan Ayahnya, entah mengapa dia sangat takut akan hal itu.
Bagaimana saat dulu dirinya lari terbirit-birit saat Aliansi Pedang Suci datang mengacak-acak markas Manusia Darah Iblis. Mengingatnya saja sudah membangkitkan kenangan buruk di masa lalu.
Xin Chen menarik pedangnya, hingga pantulan wajahnya terlihat di bilah pedang tersebut. Keduanya berdiri saling mengawasi pergerakan lawan hingga akhirnya pria tersebut lebih dulu menyerang.
Xin Chen mengenakan topengnya, menghindar ke samping. Namun justru pria itu melayangkan serangan susulan, membuatnya tak sempat menghindar. Tangan Xin Chen ditarik oleh musuh dan tubuhnya diputar hingga terbanting keras ke tanah.
Tak habis sampai di sana pria itu menggunakan pedangnya, membuka luka sayatan hingga tangan Xin Chen mengeluarkan darah.
"Hahahaha.. baru sekali serang saja kau sudah terluka. Benar kata orang-orang. Kau memang tak memiliki bakat."
Baru kali ini Xin Chen benar-benar tersinggung mendengarnya, dia sedikit kecewa pada sendiri. Xin Chen sendiri kini tak berani melihat Rubah Petir.
"Kurasa aku memiliki saran untukmu, dari pada menjadi pendekar kau lebih cocok menjadi pengusaha saja. Itupun kalau otakmu pintar."
Hinaan demi hinaan keluar begitu saja dari mulutnya, membuat mental Xin Chen benar-benar jatuh mendengarnya. Xin Chen membenarkan pegangannya pada pedang. Mencoba fokus sekali lagi.
"Hahaha ini lucu sekali, kukira kau bukan hanya anak gagal, tapi Ayahmu juga gagal dalam mendidikmu."
Mata Xin Chen melotot penuh hawa pembunuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Muhammad kenzo al fatih
mantul lanjutkan sukses selalu jangan lupa ngopi thour dan terima kasih sudah menberikan bacaan yang menarik
2024-01-05
0
Mas Uan
ada yg level 20, kerjane cman mandengin Noveltoon po??
2023-07-17
0
Semar Bodronoyo
crita 💩
2023-07-06
0