Meskipun curiga namun penjaga kota itu sendiri tak memiliki hak untuk memaksa Xin Chen. Anak itu terkenal karena sangat susah diperintah, keras kepalanya melebihi batu memang. Perbedaan sikap Xin Chen dan Xin Zhan tampak sangat kontras dari sikap keduanya.
Xin Chen berhenti di ujung lorong dan tidak dapat menemukan siapapun. Padahal sebelumnya dia yakin sosok berjubah tersebut melalui tempat ini. Hingga akhirnya dia ditarik kencang ke dalam gang buntu sempit. Xin Chen tak sempat berteriak karena mulutnya dibekap sedemikian rupa.
"Siapa kau?" terdengar suara di belakangnya, Xin Chen tak dapat melihat karena minimnya penerangan. Sekelebat dia dapat merasakan sosok yang menahannya ini bukanlah manusia. Tidak ada manusia yang memiliki tangan berbulu seperti ini.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Boleh lepaskan aku?"
Meskipun ragu sosok tersebut mau melepaskannya namun hal itu benar-benar terjadi, Xin Chen yakin dia tidak memiliki niat buruk terhadapnya.
Tanpa peringatan apapun sosok tersebut memukul sekaligus menahan tangannya di dada Xin Chen, membuat anak itu memprotes. "Apa-apaan ini?"
"Darah iblis mengalir dalam dirimu..."
"Y-ya? Aku anaknya Pedang Iblis, kau pasti mengenalnya. Namaku Xin Chen. Dan kuharap kau tidak mencemoohku karena kekuatanku yang sekelas ikan teri ini." Tanpa diminta dia segera memperkenalkan diri.
"Kau memiliki kekuatan seperti ayahmu."
Xin Chen mendengus, meskipun tak bisa melihat apa-apa dia tetap memasang ekspresi jengah. "Dan kau jelas ingin menghiburku. Dibanding itu, bisa beritahu kau siapa?"
Perlahan namun pasti sosok tersebut mulai menampakkan diri. Sebuah cahaya keperakan bersinar dalam kegelapan, memperlihatkan wujud seekor rubah dengan mata perak menyala. "Kau bisa memanggilku Rubah Petir."
"Whoaa keren seka–"
Mulut Xin Chen dibekap lagi, tak jauh dari mereka terdengar suara derap kaki kuda dalam rombongan. Tampaknya mereka sedang mencari Rubah Petir yang sedang menyusup di Kota Renwu.
Ketika rombongan kuda tersebut telah jauh, Rubah Petir mengajaknya ke tempat yang lebih aman. Xin Chen tak habis-habisnya terpana melihat siluman sekelas Rubah Petir, dari aura yang dipancarkannya saja dia yakin pasti Rubah Petir bukan siluman biasa.
"Kau diam-diam memasuki kawasan manusia, memangnya untuk apa?" tanya Xin Chen saat mereka tiba di sebuah padang rumput. Rubah Petir memberhentikan langkahnya dan berjalan normal seperti binatang berkaki empat pada umumnya.
Untuk menyusup di antara manusia Rubah Petir terpaksa berjalan hanya dengan dua kaki, sebenarnya dulu sekali dia sudah sering menyamar seperti ini. Hanya saja hal itu sudah terlalu lama dan dia belum terbiasa.
"Aku merasa ada yang salah dengan aura aneh di sekitar sini, maka dari itu aku pergi dari Hutan Kabut dan mencarinya langsung."
"Hutan Kabut, ya?" Xin Chen mengingat sebentar. "Tu-tunggu, tunggu. Ka-kau da-dari hutan itu?" Tiba-tiba saja dia tergagap ketika menyadari dengan siapa dirinya sekarang. "Kau yang dimaksud Ayah dengan Rubah Petir?"
"Bukannya dari tadi aku sudah memperkenalkan diri?" Rubah Petir memasang wajah asam, dia tahu keturunan Xin Fai memang takkan jauh dari Ayahnya sendiri tapi tak menyangka akan lebih bodoh darinya. "Kau agak lama berpikir, kalau suatu saat nanti dihadapkan pada situasi genting aku yakin kau akan mengambil keputusan yang salah."
"Hahahaha, tidak akan. Lagipula jika hal itu terjadi aku yakin yang akan menanganinya adalah Kakakku. Dia cukup hebat. Tanpa aku pun dia bisa sendiri."
Rubah Petir sedikit menganggukkan kepala. "Ternyata kalian bersaudara."
Plakk!
"Aduh! Ampun!" Xin Chen menjerit kala merasakan denyutan hebat menjalar di kepalanya, seperti habis ditumbuk dengan palu.
"Tidak seharusnya kau berpikir begitu! Menyerahkan tanggung jawab pada orang lain, kau sama sekali tidak kekurangan apapun. Lantas mengapa tidak terpikirkan olehmu untuk menjadi sosok yang kuat?" Rubah Petir tak habis pikir, bayangan bagaimana Xin Fai kecil dulu amat berbeda dengan anaknya yang sekarang.
Xin Chen seperti tak memiliki harapan untuk menjadi yang terkuat. Menyelamatkan manusia-manusia hingga bertarung melawan siluman dewa. Hanya untuk memastikan tak ada tumpah darah lagi yang terjadi ke depannya.
"Itu... Aku sudah terlalu sering diremehkan. Mau berlatih sampai tulangku patah juga kemampuanku hanya sebatas ini saja. Menurut mereka, hanya Zhan Gege yang pantas menjadi penerus Ayah berikutnya."
Lirik mata Rubah Petir berubah ketika mendengar suara Xin Chen, putus asa dan kecewa terdengar jelas saat dia mengungkapkannya. Entah apa yang telah dia alami.
"Kau tidak tahu kalau kau gagal atau tidak dengan hanya mengeluh. Sampai kau berhasil membuat orang-orang yang merendahkanmu diam. Di situ kau boleh menilai apa kau benar-benar gagal atau tidak."
Xin Chen termenung mendengarnya, lalu menyahut di detik-detik berikutnya. "Kata-katamu keren juga. Kalau begitu boleh aku berguru padamu?" Anak itu menunduk penuh hormat.
"Apa?"
"Tolong terima aku jadi muridmu, Rubah Petir. Aku ingin menjadi semakin kuat seperti yang kau bilang dan menemukan cara untuk menyembuhkan Zhan Gege!"
"Menyembuhkan kakakmu? Apa yang terjadi padanya?" Jelas Rubah Petir tertarik akan hal ini, dia mulai penasaran ketika Xin Chen mengeluarkan sebilah pisau kecil dari saku jubahnya. Menyodorkan hati-hati sambil berujar pelan.
"Aku mendapatkan ini tadi, kemungkinan besar ini akan mengantarkan kita pada pelaku yang telah meracuni kakakku. Dan juga..." Xin Chen meraba bajunya, seharusnya Permata Cahaya Biru ada di lingkaran lehernya.
"Aku harus merebut kembali Permata Cahaya Biru milik Ayah. Aku yakin benda itu sangat berharga baginya."
"Permata cahaya biru telah dicuri?"
Xin Chen mengedipkan matanya. "Kau mengetahui sesuatu? Ayah tak pernah memberitahu apapun tentang permata itu, kurasa ada kaitannya dengan sesuatu..."
"Kita harus segera mengambilnya kembali, kau tahu, dengan membawa Permata Cahaya Biru, Naga Air akan keluar dari tempat persemayamannya."
"Naga Air? Aku pernah mendengarnya juga!"
"Benar, andai saja orang-orang yang mencurinya tahu di mana lokasi Naga Air dan mereka mengambil kesempatan itu untuk menangkapnya. Bukan tidak mungkin dengan ilmu hitam Naga Air akan berubah ganas. Dia akan membahayakan nyawa banyak orang."
"Kita harus menghentikannya. Ngomong-ngomong... Kau sepertinya tahu banyak tentang ini semua, mengapa kau berniat menyelamatkan para manusia? Maksudku, siluman sepertimu juga tak harus ikut campur dengan urusan kami."
Rubah Petir tersenyum kecil, memperlihatkan batu kehidupan di kepalanya. "Ayahmu berhasil merebut kembali benda ini, hidupku bisa bertahan lama bahkan hingga jutaan tahun berkat dirinya." Ketika menjawabnya Rubah Petir memiliki sesuatu yang hendak dia katakan namun dia tahu pembahasannya sangat sulit dimengerti oleh Xin Chen nanti.
"Begitu... Kalau seperti itu bagaimana dengan permintaanku tadi? Apa kau mau menerimaku menjadi muridmu?"
Rubah Petir sendiri tak tahu harus merespon seperti apa, dia memerhatikan langit malam yang bertabur bintang. Mengawasinya dengan berpikir-pikir keras.
Jika benar dugaannya selama satu tahun belakangan ini, Xin Fai mungkin takkan tinggal diam di tempatnya. Tapi hal ini sendiri terlalu beresiko, menghadapinya sendiri bukan pilihan tepat sedangkan di dunia ini hampir tidak ada manusia yang kekuatannya setara dengan Xin Fai sendiri.
"Aku yakin sesuatu yang datang kali ini bahkan ayahmu sendiri tak sanggup menahannya. Bagaimana denganmu sendiri? Apa kau bersedia menjadi Pedang Iblis kedua? Ini bukan tentang menjaga perdamaian Kekaisaranmu lagi, tapi tentang menjaga keutuhan dunia kita. Tempat para manusia, binatang, siluman dan yang lainnya hidup. Kau harus menjamin itu semua dengan nyawamu sendiri."
"Baik. Mengerti, Guru."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
TONO
sampai disini ternyata asyik juga👍👍👍
2022-09-05
1
Immortal zie
hahaha bodoh ny lebih parah dari ayah ny waktu kecil
2022-07-01
1
ADjalius
lanjut..
2022-04-28
1