Xin Chen menyimak Rubah Petir, binar matanya yang biasanya terlihat usil mulai serius. Sedangkan siluman di hadapannya mulai menceritakan sebuah kisah lama, yang selama ini tak pernah dikatakan pada siapapun termasuk pada Xin Fai sendiri.
"Sejak ribuan tahun lalu Kitab Terlarang sudah menjadi satu dari legenda dunia yang paling terkenal berbahaya, dengan reputasi itu pula para umat manusia saling bertarung untuk mendapatkannya. Pertarungan demi pertarungan terjadi hingga akhirnya kitab itu jatuh ke tanganku."
Rubah Petir melanjutkan, "Dengan kekuatan milikku tiada satupun manusia yang bisa mengambilnya, aku terus membawa kitab itu ke manapun aku pergi. Kau bisa menebak mengapa aku menyembunyikan Kitab Terlarang itu?"
Xin Chen memiringkan kepala saat disuruh menebak, dia menjawab sembarangan. "Mungkin manusia takut kepadamu, dengan Kitab Terlarang kau bisa saja menghancurkan manusia. Kutebak kau melindunginya untuk menjaga kedamaian dunia? Atau semacamnya?"
Tawa kecil terdengar dari Rubah Petir, di detik itu Xin Chen sadar jawabannya salah.
"Justru aku lah yang takut pada manusia, dalam Kitab Terlarang tersegel satu mantra tak terkalahkan, yang bahkan bisa mengalahkan sepuluh Siluman Penguasa Bumi, ratusan pendekar kaisar langit dan... Ayahmu sekalipun."
Xin Chen menelan ludahnya berat, tak terbayangkan olehnya kekuatan sebesar itu masih ada di bumi. Karena setahunya setelah mendengar cerita para orang dewasa, Ayahnya bahkan telah mengalahkan siluman paling terkuat di muka bumi ini. Tidak ada lagi orang sehebat Ayahnya kini. Jika dia kalah lantas siapa yang bisa menyelamatkan manusia?
Asal-usul Kitab Terlarang juga tak pernah diketahui, yang dapat diketahui oleh Rubah Petir sendiri Kitab Terlarang terkenal setelah mengguncang dunia persilatan. Hal itu telah terjadi ribuan tahun lamanya sehingga dia tidak dapat mengingat lebih jelas lagi.
"Mengalahkan Ayahku? Kalau begitu di mana mantra itu tersegel? Apa kita bisa mendapatkannya?"
"Saat aku mendapatkan Kitab Terlarang, lembar ketiga di kitab itu memang sudah dikoyak. Aku yakin dengan pasti setelah mendengar kabar kematian Siluman Penguasa Es, pemilik lembar ketiga itu sudah merencanakan sesuatu. Dan itu baru bisa terendus setelah beberapa tahun kemudian. Dia sedang merencanakan sesuatu yang besar."
Xin Chen terdiam dalam pikirannya yang mulai kacau, dia ingin sekali kembali dan mengabarkan berita penting ini pada Ayahnya akan tetapi ada sesuatu yang menahannya.
"Kau berpikir untuk memberitahu Ayahmu?"
Xin Chen terkejut sedikit, dia heran mengapa Rubah Petir pandai sekali dalam menebak isi pikirannya.
"Jika Ayahmu tahu, aku yakin dia berpikir untuk langsung menumpasnya sedangkan masalah ini telah mengakar. Melakukan tindakan gegabah hanya akan menyusahkan kita di kemudian hari. Kita harus mencari tahu lebih dahulu sebelum mengambil keputusan terbaik."
"Maka dari itu kita tidak boleh mengatakannya pada Ayah?
"Benar sekali. Sampai di sini paham?"
Pundak Xin Chen melorot, dia mencoba mencerna percakapan mereka sebelumnya. Tentang perampok yang meracuni kakaknya hingga hubungannya dengan Kitab Terlarang.
Rubah Petir menepuk pundaknya, "Karena sudah menjadi muridku tidak ada salahnya berpikir sambil berlatih. Sekarang berdirilah di atas batu itu dengan sebelah kaki."
"H-hah?"
"Cepat lakukan sebelum kusengat dengan listrik-listrik ini," bentaknya mengancam. Kekuatan petir terlihat di tangan Rubah Petir, sekali terkena saja pendekar besar pun bisa hangus tak bersisa dibuatnya.
"Baik Guru."
Xin Chen menaiki batu besar tak jauh darinya dan berdiri di atasnya kesusahan, berkali-kali dirinya jatuh dan menghantam kerikil di bawah. Membuat tubuhnya mulai menimbulkan memar dan lecet. Baju miliknya pun mulai kusut berantakan.
"Kau terlalu dimanja oleh ibumu sepertinya. Karena itu kau tidak terbiasa dengan kerasnya hidup di alam liar seperti ini."
Xin Chen tidak dapat membantahnya, sebagai anak dari keluarga yang terpandang dirinya diperlakukan bak anak emas, penjagaan ketat dan pengawal berada di sisinya setiap waktu. Sebab alasan itu pula Xin Chen jarang menarik pedangnya untuk pertarungan serius.
Satu jam berlalu dengan lama, keringat di pelipis Xin Chen membasahi wajahnya. Tak dia sangka udara panas malam itu pertanda akan terjadinya hujan lebat. Benar saja bersamaan dengan kencangnya angin, tetesan hujan pun mulai membasahi bumi.
Rubah Petir berada di tempat teduh sedangkan Xin Chen masih berdiri menyeimbangkan tubuh di atas batu, dua jam berikutnya tubuh anak itu mulai lemah. Wajah pucatnya terlihat kedinginan di sana membuat Rubah Petir mulai menaruh iba.
"Sudah cukup, kau bisa kembali ke sini."
"Ti-tidak... Aku masih bisa bertahan, sebentar lagi..." Pandangan anak itu buyar akibat air hujan, dia terpeleset ke genangan air.
Rubah Petir hanya bisa memperhatikan gerak-gerik Xin Chen di bawah pohon. Melihat apa yang akan dilakukannya. Kaki anak itu gemetaran tak terkendali. Dia kembali menaiki batu tersebut dan berdiri di atasnya sembari melatih teknik berpedang.
"Kau yakin?" Siluman itu mulai ragu, tiga jam termasuk lama bagi seorang anak kecil untuk bertahan di air hujan. Dia khawatir hal itu malah membuat kesehatannya menurun.
"Tidak apa-apa, lagipula aku suka hujan. Kalau aku pingsan nanti baru aku berhenti-"
Xin Chen benar-benar pingsan sebelum berhasil menyelesaikan perkataannya. "Anak ini..." Rubah Petir berdesis.
"Benar-benar mirip dengan Ayahnya!"
**
Kicau burung-burung pohon terdengar sayup, ketika Xin Chen membuka matanya terlihat sebuah desa asing di hadapan sana. Mereka hampir tiba di gerbang desa kecil tersebut. Rubah Petir masih menggendongnya, tentu dengan menutup wajah menggunakan tudung jubah.
"Kau sudah bangun, baguslah. Tugasmu sekarang untuk berbicara dengan penjaga gerbang itu."
Xin Chen tahu alasan Rubah Petir memintanya, selain agar penyamaran Rubah Petir tidak ketahuan, Xin Chen sendiri memiliki nama klan Xin. Reputasi ini memudahkan dirinya untuk memasuki tempat manapun tanpa terhalangi.
Terdengar bisik-bisik di antara para penjaga gerbang, tampaknya mereka mengenali siapa yang kali ini mendatangi desa mereka.
Akan tetapi di balik bisik-bisik itu hanya terdengar omongan yang tidak mengenakkan terhadap Xin Chen, tentu saja kenyataan bahwa di umur 10 tahun ini Xin Chen masih tidak bisa menggunakan tenaga dalamnya juga turut menjadi bahan perbincangan.
Rubah Petir sedikitnya mengetahui perihal Xin Chen kini, pantas saja dirinya merasa aneh saat anak itu malah ketakutan saat berhadapan dengan ular.
"Tidak ada yang perlu dipikirkan," ujar Rubah Petir singkat. Langit mulai menampakkan semburat jingga pertanda matahari akan terbit, meski demikian di seputaran desa tersebut masih terlihat sepi.
Xin Chen dan Rubah Petir mencari penginapan yang terletak di tengah desa, beruntung masih ada satu penginapan yang menyediakan satu kamar jadi mereka tak perlu berkeliling untuk mendapatkannya.
Sejak tadi Rubah Petir tahu Xin Chen tidak bisa tertidur, anak itu beranjak ke jendela dan bersandar di sana sembari memerhatikan pisau kecil di tangannya.
Memerhatikan dengan jeli ukiran di pisau tersebut sambil merenungi sesuatu. Sedangkan Rubah Petir sendiri bermeditasi untuk menyempurnakan Qi-nya.
Ketika Rubah Petir membuka matanya, Xin Chen sudah tidak ada di sana. Siluman itu hanya bisa mengembuskan napas berat.
Saat merasa para penduduk mulai beraktivitas seperti biasanya Xin Chen langsung keluar dari penginapan untuk mencari informasi yang dia butuhkan, akan tetapi saat itu juga dirinya sadar identitasnya memang sudah diketahui orang banyak. Xin Chen rasa hal ini mungkin akan membahayakan dirinya sendiri.
Bisa saja ada orang yang berencana untuk membunuhnya, hal itu memang sudah tak bisa dipungkiri lagi. Sebab para pendekar aliran hitam sendiri ingin sekali menghancurkan generasi dari Pedang Iblis. Agar mereka dapat bergerak leluasa membunuh penduduk seperti sedia kala.
***
sampe sini author mau nnya bagusan cover awal/ yg sekarang?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Rahman Hartomo
ceritanya jgn sama dgn ayahny dong masak nglawan naga lagi trus ama iblis lagi sma aja mengulang ngulang lagi
2022-11-13
0
Alan Bumi
menghembuskan nafas
2022-11-03
0
Endanks
masih nyimak teruuuuuuuus semangat untuk terus berkarya author lanjutkan 😜
2021-12-03
1