Pria itu mengeluarkan sebuah mantra di kertas, saat kertas itu mulai menjadi abu tubuh mereka pun turut menghilang di udara.
Rubah Petir tak sempat menahannya ditambah lagi saat waktu yang hampir bersamaan terdengar jerit tangis di sekitar.
Xin Chen mendekati wanita yang tengah memangku sosok lelaki tua di pahanya, menangis tersedu-sedu meratapi kematiannya.
"Maaf, kami terlambat. Seharusnya nyawa pria itu masih bisa diselamatkan..." sesalnya menatapi mayat di depan, merasa sedikit bersalah atas kejadian ini.
"Tidak, ini bukan salahmu," jawab wanita itu mengusap dua pipinya dengan punggung tangan. Dia memerhatikan Xin Chen lebih teliti dan seperti mengingat orang yang telah lama dikenalnya, dia berkata lembut.
"Kau benar-benar datang..."
"Ya?" Xin Chen menaikkan sebelah alisnya heran, dia tak mengerti apa yang sedang wanita itu bicarakan.
"Namaku Mei Lian," dia sedikit tersenyum meski hanya senyuman tipis. "Kau benar-benar mirip dengan Ayahmu, jujur saja aku masih mengaguminya sampai hari ini."
Xin Chen tak begitu terkejut saat Mei Lian mengatakannya karena dari penglihatan dirinya sendiri Mei Lian bukan satu-satunya wanita yang menyukai Ayahnya.
Ada begitu banyak wanita yang jatuh cinta padanya tapi mereka tak berani menunjukkannya, karena hal itu pasti akan terendus oleh Ren Yuan yang mengerikan. Dalam satu kali pukulan saja pendekar besar akan pingsan dua hari karenanya.
Setelahnya Mei Lian mengeluarkan sebuah kalung kecil, yang dulu sempat Xin Fai berikan padanya setelah menyelamatkan Mei Lian. Hari itu dia berpikir Xin Fai akan kembali untuk melamarnya tapi sayang berita pernikahan Ren Yuan dan Xin Fai lebih dulu terdengar. Wanita itu kehilangan harapan dan memilih untuk tidak menikah hingga detik ini, dia hanya tak memiliki satupun pria yang bisa membuatnya jatuh cinta.
Xin Chen tak tahu menahu akan masalah Ayahnya dengan wanita ini, dia mengamati kalung tersebut. Mengambilnya dengan sopan.
"Aku yakin kelak kau akan sekuat Ayahmu, dengan dua tanganmu itu kau bisa menyelamatkan ribuan nyawa sekalipun."
Dengan baik Xin Chen menanggapinya. "Baik, aku akan mengingatnya. Terimakasih."
Walaupun Mei Lian terlihat tersenyum tetapi sebenarnya dia masih sedih atas kematian Xu Ming, ayah angkat yang telah merawatnya selama ini. Berkat pria itu dia dan semua orang yang tinggal di rumah ini bisa terus menyambung hidup. Tak terbayangkan betapa besar kebaikannya selama ini.
Rumah besar inipun berhasil dibangun Xu Ming setelah Xin Fai memberikannya begitu banyak belut listrik berharga tinggi, maka dari itu orang-orang rumah begitu menghargai Xin Chen. Mereka menunduk memperlihatkan hormat meski dalam keadaan berduka.
Untuk menghargai jasa Xu Ming terhadap mereka, Mei Lian berniat membuat pemakaman yang layak baginya. Beberapa dua mengangkut tubuhnya ke tempat aman untuk dimakamkan esok hari.
Mata lentik Mei Lian menangkap gelagat aneh Xin Chen, tampaknya dia tak ingin berlama-lama di sini.
"Sebelumnya terimakasih sudah membantu kami, Tuan Muda Xin. Apa kami bisa membalas budimu ini dengan sesuatu? Mungkin aku bisa memberinya," tawarnya dengan ramah.
Xin Chen memperhatikan Rubah Petir, tampaknya siluman itu enggan berbicara. "Ini tentang orang-orang yang membunuh lelaki ini, sebenarnya apa tujuan mereka melakukannya?"
Mei Lian melihat mayat Xu Ming dengan kesedihan mendalam, "Ayah bekerja sebagai penjual informasi. Dengan profesi itu kupikir banyak orang yang memiliki niat membunuhnya."
"Apa hanya alasan itu saja?"
"Aku juga tidak begitu tahu."
Xin Chen menjentikkan jarinya, memikirkan petunjuk lainnya. "Nah, tentang baja di tangan wanita itu tadi. Apa kau mengetahui sesuatu? Atau apapun itu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk?"
Mei Lian mengingat-ingat sebentar. "Kali ini aku tak yakin, tapi... Baja itu memiliki kekuatan tinggi, sepertinya mereka bukan berasal dari Kekaisaran Shang. Ditambah, dengan baja itu mereka menyerap informasi dari kepala Ayah."
"Baja yang bisa menyerap informasi? Apa itu batu sihir? Atau pusaka langit?" Xin Chen dibuat bingung sendiri, jika dihadapkan dengan ilmu luar Kekaisaran yang jelas lebih tinggi mungkin ini semua sudah di luar nalar. Bahkan sempat terdengar kabar bahwa di Kekaisaran Wei sedang diproduksi senjata api yang dapat menembakkan ratusan ratusan anak panah sekalipun. Untuk situasi perang, senjata itu jelas memiliki daya hancur yang cukup hebat.
Kemajuan di Kekaisaran Wei tentu menjadi ancaman bagi yang lainnya, untuk sebab itulah kini para pendekar mulai berlomba-lomba meningkatkan kekuatan. Baik dengan sumber daya maupun latihan ketat.
Xin Chen merogoh secarik kain hitam dari sakunya, dia memperlihatkan ukiran merah berbentuk segitiga bermata terbuka itu padanya.
"Apa kau mengetahui sesuatu tentang organisasi atau kelompok ini?" tanyanya. Mei Lian mendekatkan wajahnya sembari menyambut kain tersebut.
"Ah... Ini, aku pernah melihatnya tapi tidak tahu ini apa. Terakhir kali Ayah datang pada Walikota karena hal ini. Namun semua orang tak percaya dengan apa yang dia katakan dan justru meledekinya."
"Ada apa dengan organisasi ini?"
Mei Lian terlihat tak enak hati saat mengatakannya. "Kalau kau ingin mengetahui dengan pasti seharunya Ayah bisa menjawbmu. Tapi sayangnya..." Mei Lian memutar pandangan ke arah Xu Ming.
"Orang yang memiliki informasi ini sudah tiada."
Awalnya Xin Chen pikir mendapatkan informasi tentang lambang ini bukan perkara sulit, tapi kini dia menyadari pihak musuh sudah membungkam banyak orang agar tak mudah dilacak. Tentu waktu 7 hari bisa tidak cukup untuk menemukan penawar yang dicarinya.
"Kalau begitu baiklah... Aku akan mencari informasi ini di tempat lain," ujar Xin Chen kecil. "Mungkin di tempat walikota itu. Apa kau mengetahui di mana alamat rumahnya?"
Mei Lian memberitahu dengan senang hati, setidaknya dia merasa sedikit berguna pada Xin Chen.
Sebelum keduanya pergi Mei Lian sempat menawarkan mereka untuk bermalam di rumahnya tapi Xin Chen menolak. Selain karena Rubah Petir pasti tak ingin berada di sana, dirinya pun tak ingin merepotkan Mei Lian.
"Sebaiknya kita tidak tinggal di penginapan, di sana terlalu ramai." Rubah Petir mengutarakan keinginannya, jelas dia tak mau identitasnya terbongkar. Di tempat ini hanya ada satu penginapan itupun sangat-sangat ramai dikunjungi.
Sedangkan dia sendiri tak bisa menghilangkan keseluruhan aura siluman dalam dirinya, meski hanya sedikit, jika pendekar tingkat tinggi yang merasakannya jelas dia akan ketahuan.
"Baiklah, lagipula aku sudah terbiasa tidur di luar." Xin Chen memperhatikan kanan kiri, setelah memastikan tak ada orang dia pun memanjat ke atas atap perumahan dan duduk di atasnya sembari menatap langit malam.
Rubah Petir melakukan hal yang sama, dia duduk tepat di sebelah Xin Chen yang baru saja mengeluarkan sebuah barang berharga. Baru sempat terpikirkan untuk dibukanya saat ini.
Artefak berupa kertas yang terbuat dari kulit binatang itu memiliki rahasia kecil di dalamnya, Xin Chen menunjukkannya pada Rubah Petir.
"Apa kau bisa membaca isi di dalamnya?"
Rubah Petir menggelengkan kepalanya tanpa ragu-ragu. "Aku tidak pernah melihat tatanan bahasa seperti itu, kecuali jika kau menanyakannya pada roh pemilik topeng itu. Sepertinya dia tahu sesuatu tentang itu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Muhammad kenzo al fatih
mantul lanjutkan sukses selalu jangan lupa ngopi thour dan terima kasih sudah menberikan bacaan yang menarik
2024-01-05
0
Alan Bumi
beberapa dua mengangkut?
2022-11-04
0
Dema
koq agak aneh aku bacanya ya,,, kekuatan blm ada,umur masih kecil,tp alurnya seolah mc udah dewasa dan berkelana ,ga ada latihan tp mc udah keluyuran bak udah punya segalanya,,,
ga ada kultivasi,,cuma andalan topeng hantu darah ,trus mc kekuatanya juga ga ada ukuran ,,,
2022-09-17
1