Xin Fai menarik napas berat, kekacauan kembali menghantui Kekaisaran Shang seperti dulu. Entah dari mana akar dari permasalahan ini tumbuh, hingga dalam kurun waktu yang cukup cepat pembunuhan massal pun tak terelakkan.
Para pendekar aliran putih sebenarnya tak tinggal diam menangani hal ini akan tetapi mereka sendiri tak tahu kapan dan di mana penyerangan tersebut berasal, semuanya terjadi begitu diam-diam sampai tak meninggalkan sedikit pun jejak pelaku.
Sementara itu dirinya sendiri kurang mengetahui banyak perihal racun di tubuh Xin Zhan, rata-rata pendekar aliran hitam yang ahli dalam hal meracik racun telah tiada.
Hanya segelintir yang masih hidup, itupun jika mereka tak melakukan pembunuhan seperti yang sudah-sudah Mungkin ada beberapa dari mereka yang melarikan diri. Xin Fai tidak mengetahui pasti, sekelebat dia terbayang tubuh Xin Zhan lagi.
Terpikir juga olehnya itu bukan racun namun sebuah kutukan. Jika benar itu adalah kutukan, hanya ada satu kemungkinan yang muncul di kepalanya.
Ada satu tempat di mana ilmu terlarang masih terus berkembang luas. Namun mereka sama sekali tak pernah mengusik secara langsung ketentraman masyarakat.
Xin Fai yakin karena permasalahan ini Xin Chen pasti mengejar siapa pelakunya, meski ingin melarang Xin Fai tidak berniat menghentikannya. Dia mengerti apa yang Xin Chen rasakan, rasa bersalah amat mendalam itu hanya bisa ditebusnya dengan menyelesaikannya sendiri.
"Apapun yang terjadi kau harus menjaga diri."
**
Sebelum kedua orangtuanya memasuki kamar Xin Chen sempat teringat akan sesuatu, dia mengingat siang tadi pria itu menjatuhkan pisau kecil dari jubahnya. Satu-satunya barang bukti itu kemungkinan besar masih ada di tempat kejadian.
Xin Chen menatapi kakaknya agak lama, sebelum akhirnya mengucapkan salam perpisahan. "Zhan Gege, tunggu sampai aku pulang dan membawa penawarnya. Aku berjanji akan menyelamatkanmu."
Derap kaki Xin Chen tak terdengar sama sekali oleh penjaga yang ditempatkan di sekitar kamar. Xin Chen mengendap di loteng rumah dan tembus ke kamarnya.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk bersiap-siap sampai akhirnya langkah kakinya melangkah jauh dari rumah.
Xin Chen sempat menoleh sebentar seperti tertahan langkahnya untuk pergi meninggalkan rumah. Tapi dia sudah berjanji pada kakaknya untuk menemukan penawar racun tersebut.
Untuk pertama kalinya Xin Chen pergi mempertaruhkan nyawa. Mengumpulkan keberanian dan pergi melakukan pencarian sendirian. Selama ini semua orang selalu meremehkannya, Xin Chen tidak peduli akan hal itu.
Namun untuk situasi kali ini dia tidak bisa menjadikan ketidakmampuannya sebagai alasan. Xin Chen harus mencari cara untuk menyelamatkan Xin Zhan.
Masih tenggelam dalam lamunannya sendiri Xin Chen dikejutkan oleh rombongan dari kerajaan yang langsung berkunjung setelah mendapatkan kabar buruk. Dia segera bersembunyi di balik pohon.
Salah satu di antara mereka adalah bibinya, kakak perempuan dari pihak ibunya. Ren Su. Wanita dengan dua anak itu memiliki pemikiran tajam dan setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya amat menusuk.
Ren Su masih membenci Xin Chen, berulang kali berkata bahwa Xin Chen tak seharusnya lahir. Karena anak itu, ibunya harus terbaring di kamar sama sekali tidak dapat bepergian ke manapun.
Istri Kaisar Qin yang datang bersamanya hanya menanggapi obrolan di antara mereka sekedar, dia merasa tak enak hati jika harus merendahkan Xin Chen yang masih satu darah dengan Xin Fai sendiri.
"Anak itu, apalagi yang ingin dihancurkannya? Dia sudah membuat malu keluarga besar Ren. Tak seharusnya pasangan bahagia seperti Yuan'er dan suaminya mempunyai anak seperti dirinya. Aku tidak tahu kutukan apa yang ditimpakan pada mereka," dengusnya memegang kepala pusing.
"Tidak perlu diambil hati, dia pun masih anak kecil. Suatu saat aku yakin dia bisa membahagiakan kedua orang tuanya." Istri Kaisar Qin menjawabnya setelah sebelumnya hanya mendengar.
Meskipun terlihat sangat pendiam akan tetapi Lin Yun–nama istri Kaisar Qin tersebut memiliki pandangan lain, dia sangat cerdas dan terdidik. Merendahkan seseorang seperti ini membuatnya tak nyaman sedari tadi.
"Membahagiakan kedua orangtuanya? Aku bahkan tak yakin dia memiliki kemampuan. Sejak dalam kandungan dia sudah tak memiliki apapun. Anugerah bakat dan kepintaran telah diberikan kepada Zhan'er, tidak untuknya. Ah, aku jadi banyak bicara, Nyonya Qin tolong maafkan aku. Lupakan percakapan kita malam ini."
Kereta kuda berlalu begitu saja, meninggalkan Xin Chen dalam gelap malam bersama sayup-menyayup kumbang kecil. Bertabur di hamparan ilalang luas. Tak tergambarkan bagaimana perasaan Xin Chen saat mendengarkan kata-kata tersebut, sudah terlalu banyak orang yang menggunjingnya.
Xin Chen menggelengkan kepala, tetap fokus pada tujuan awalnya.
Sekembalinya di pasar tradisional Xin Chen segera bergerak menuju tempat di mana Xin Zhan diracuni. Kakinya berjongkok melihat dengan lebih dekat lagi, Xin Chen teringat saat dia menaiki pundak pria itu pisau kecil yang hendak dipakai untuk menusuknya sempat terpental tak jauh dari sana.
Tangan kecil Xin Chen menyingkirkan rerumputan yang agak tinggi, melihat pantulan sinar dari balik sana dan mengambil sebuah senjata kecil.
Kilau pantulan sinar tersebut menghilang saat Xin Chen merubah posisinya, di bilah pisau terdapat sebuah ukiran heksagram dengan bentuk gambar mata terbuka di tengahnya. Dia mendekatkan wajahnya sedikit, memerhatikan lebih teliti akan tetapi tetap tidak memiliki petunjuk soal ini.
"Hei! Apa yang kau lakukan di sana?!"
Xin Chen tertegun mendengar bentakan tersebut, tampaknya sangat dekat dari tempat dia berdiri. Segera saja anak itu membalikkan badan, mendapati seorang penjaga tengah menghampirinya penuh waspada.
Saat telah dekat pria itu dapat mengenali siapa orang yang dia curigai.
"Tuan Muda Xin kedua? Sedang apa di malam selarut ini?"
"Itu... Sedang..." Xin Chen mulai kelabakan. Tidak mungkin dia mengatakan sedang memburu pelaku yang meracuni kakaknya. Anak itu menyadari tingkahnya malah menimbulkan rasa aneh. Dia menarik senyum lebar seperti biasa. "Sedang berburu kumbang."
"Hah? Kau masih sehat atau ada yang bermasalah di kepalamu? Aduh... Tuan Muda ini, maafkan aku. Kalau tidak keberatan aku bisa mengantarmu kembali ke rumah. Malam seperti ini terlalu bahaya untukmu."
"Ti-tidak perlu!" tolak Xin Chen mentah-mentah. "Maksudku aku pergi bersama pengawal Ayah tadi, tidak perlu cemas."
"Ah, begitu ya. Kalau begitu aku akan menunggu di sini sampai pengawalmu datang." Pria itu masih teguh hati menawarkan bantuannya. Namun sayang Xin Chen sama sekali tak membutuhkan. Sedikit rasa cemas mulai terasa, dia takut orang-orang di rumah sudah menyadari dirinya pergi.
"Tuan Muda Xin, kalau tidak keberatan terimalah obat ini. Untuk mengobati luka di kakimu itu. Jika dibiarkan bisa bermasalah nanti," tawar pria tersebut. Sebenarnya luka tersebut sudah dirawat oleh Ren Yuan, hanya saja untuk hari ini semua orang terlalu sibuk mengurusi Xin Zhan.
Xin Chen menerimanya sepenuh hati. Sambil mengoleskannya di kaki dia memperhatikan sekitar. Memikirkan segala cara untuk melarikan diri dari pria tersebut tanpa harus dicurigai.
Sekelebat mata Xin Chen melihat satu orang lewat, ukuran tubuhnya seukuran dengan tubuh Xin Chen sendiri dan dia pun mengenakan jubah yang menutup seluruh tubuh hingga ke tanah.
Xin Chen menunjuk orang tersebut. "Ah, dia temanku! Kalau begitu aku pergi duluan, sampai jumpa!" Xin Chen melambaikan tangan buru-buru, membuat pria itu terdiam sambil berpikir.
"Apa teman-teman Tuan Muda Xin kedua seperti itu semua? Terlihat suram dan menakutkan..." Bukan tanpa sebab pria itu mengatakannya, sekilas saat sosok tersebut melalui jalan di depan mereka terasa tekanan hawa yang cukup mengerikan disertai energi misterius menekan tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Mùگàfìr '76
🤣katanya Ren Yu anak satu-satunya ?
kog ada Kakanya Ren Su?!Hallo ADA AQUA ???😂😜
2023-01-27
2
Alan Bumi
nafas pakai F bukan P
2022-11-03
0
Alan Bumi
nafas pakai F bukan P
2022-11-03
0