Sepulangnya ke rumah ternyata sudah banyak orang datang menyusul mereka, terutama di titik di mana Xin Zhan menyalakan kembang api. Bala bantuan memang datang agak terlambat, kalau bukan karena kedatangan Xin Fai tadi entah bagaimana nasib kedua anak kembarnya itu.
Para murid dan guru sekte Lembah Kabut Putih berkumpul dan berpencar di sana. Namun ketika melihat Xin Fai telah datang mengamankan situasi mereka bisa bernapas lega. Tidak ada yang perlu ditakutkan setelah sang Pedang Iblis datang.
"Saat mendengar suara petasan, aku dan para murid-muridku langsung ke sini. Kalau boleh tahu apa yang sudah terjadi di sini?" tanya seorang pendekar senior, diikuti tatapan penasarannya saat melihat kaki Xin Chen terluka.
Bukan tanpa alasan dia sedikit menaruh curiga sebab cuaca di Lembah Kabut Putih tiba-tiba menurun drastis menjadi sangat dingin disertai topan besar tadi. Jika terjadi sesuatu yang buruk maka Lembah Kabut Putih lah yang lebih dulu akan terkena dampaknya.
"Masalah ini tak sebaiknya dibicarakan di luar dan sebaiknya jangan disebar luaskan lebih dulu agar tak menimbulkan keresahan, untuk sementara keadaan sudah aman jadi kalian bisa kembali. Dan tolong jaga dua anakku selagi aku pergi ke pusat, mungkin akan menghabiskan waktu beberapa hari hingga aku pulang."
Xin Fai berpesan singkat sebelum akhirnya pergi begitu saja dari hadapan mereka, sekilas dia mengusap kepala kedua anaknya. Berharap kejadian malam ini tidak membuat mereka ketakutan.
**
Aroma khas pagi hari menyapa Xin Chen, anak muda kecil itu terlihat tanpa beban. Dia melompati batang pohon yang telah tumbang berlumut. Mencari hewan buruannya yang sejak tadi tidak kelihatan.
Walaupun Ren Yuan melarangnya untuk tidak pergi sembarangan mengingat kejadian semalam akan tetapi Xin Chen tidak mengindahkannya sama sekali. Dia lebih bosan lagi berdiam diri di rumah.
Sembari menoleh kanan kiri mencari kumbang Xin Chen akhirnya menemukan jalan yang langsung tembus ke arah pasar, dia mengintip di balik semak-semak. Berniat mengerjai salah satu penjual yang membuatnya jengah. Penjual yang diincarnya itu senang sekali mencibirnya jadi tak heran Xin Chen menaruh dendam padanya.
Sambil mengendap-endap akan mencuri dagangan si pria berbadan gempal itu, Xin Chen mengawasi sekitar. Merasa waktunya sudah tepat anak itu langsung menerobos dan berlari bersama topeng milik penjual. Yang anehnya, meskipun kakinya sedang terluka parah lari Xin Chen masih segesit belut, memang tak terkalahkan cepatnya.
"Anak itu lagi! Kembalikan punyaku, heiii!"
Orang-orang di sekitar hanya bisa menggeleng melihat tingkah laku Xin Chen, memang tidak bisa dielakkan lagi bahwa anak itu sangat-sangat usil. Hanya kesan buruk yang menempel padanya selama ini.
Xin Chen tertawa puas usai mengerjai pria itu, ada rasa senang tersendiri saat melakukannya. Dia meletakkan topeng itu sembarangan agar sang penjual mengambilnya nanti. Lagipula kalaupun mau membeli uangnya juga cukup banyak.
Sepintas lalu Xin Chen menangkap siluet kakaknya di samping, dia menoleh cepat lalu terdiam sejenak. Benar saja, Xin Zhan terlihat sedang membeli sesuatu di sebuah toko. Sepertinya sedang membeli barang yang diminta ibunya.
Xin Chen mengendap-endap lagi ingin mengejutkan kakaknya itu. Walaupun ujung-ujungnya dia sendiri yang terkejut melihat wajah kesal Xin Zhan ketika marah.
Tak disangka tiba-tiba saja terjadi sebuah perampokan, Kota Renwu memang masih belum sepenuhnya aman dikarenakan akses menuju tempat ini masih terbuka. Pendekar aliran hitam sendiri masih memiliki kesempatan untuk menyusup ke dalam.
Perampokan yang terjadi berlangsung di toko penjual permata dan barang pusaka lainnya. Xin Chen terkejut saat melihat sang perampok sedang menuju ke arahnya. Anak itu menukikan alis sembari merentangkan kedua tangan.
"Kau tidak boleh lewat! Serahkan harta yang kau curi sebelum aku memukulmu!"
"Bocah besar mulut! Kalau kau ingin bermain jangan mengajakku! Minggir dari jalanku!"
"Tidak akan!"
Pria itu mencuri pandang ke belakang, merasa takut pada rombongan warga yang tengah mengincarnya. Barang curian yang dia ambil sendiri berjumlah banyak, cukup untuk bertahan hidup 2 tahun.
Mata pria itu tertuju pada satu titik selama beberapa detik, dia mengenali kalung permata yang terselip di balik baju Xin Chen. Permata Cahaya Biru yang telah melegenda namanya dan diyakini sebagai permata milik siluman dewa bergelantungan di sana.
"Wah... Cukup menarik juga, di tengah jalan ini aku menemukan barang incaranku! Ambillah semua ini dan serahkan permata itu!" Dia menunjuk ke Permata Cahaya Biru dengan sangar, menakuti Xin Chen agar segera memberikannya. Di pikirannya Xin Chen hanya bocah kecil yang sekali digertak saja akan berlari mengadu pada ibunya.
"Peduli setan! Kembalikan barang-barang itu atau-"
"Xin Chen!! Kembalikan barang daganganku!" Di saat yang tidak tepat pemilik toko sebelumnya datang menjewer telinga Xin Chen dan memutarnya gemas.
"Aduh! Ampun paman tidak lagi! Aku janji!"
"Cih, menghalang seorang pencuri sedangkan kau sendiri mencuri? Benar-benar membuatku muak!" Pria itu mendekat dalam waktu singkat dan mengambil permata milik Xin Chen begitu saja.
Xin Chen jelas tidak terima, dia melompat mengejar pria tersebut dan meraih kalungnya kembali.
"Kembalikan!"
Saat tangannya sibuk meraih kalung berwarna biru langit tersebut, pria itu mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya berniat menusuk Xin Chen.
Xin Chen menyadari bahaya sedang mengintai dirinya, dengan segera dia mencekik leher pencuri kalung tersebut dari belakang.
Pria itu menepis Xin Chen membuatnya jatuh terpental ke samping menabrak gerobak penjual. Tak mau berhenti Xin Chen mengejar lagi dan lagi, aksi kejar-kejaran ini berlangsung cukup lama hingga akhirnya di penghujung pasar terlihat jalan buntu.
Perampok itu berniat memanjat dinding namun Xin Chen lebih dulu menghalaunya, dia melompat dari belakang dan memukuli kepalanya.
"Kembalikan!!"
Dalam posisi terpojok sekalipun, nyatanya saat ini Xin Chen yang berada dalam situasi sulit. Pria di hadapannya mengeluarkan aura membunuh.
Xin Chen memang tidak mahir menggunakan pedang dan hanya membawanya saat sedang latihan. Pedang itupun sengaja disimpannya dalam cincin ruang yang dia tinggalkan di kamar.
Hari ini dia menyesal mengapa tidak mengikuti kata Ayahnya untuk bersedia dengan senjata kalau saja terjadi hal-hal buruk padanya.
"Aku tahu kau anak Pedang Iblis dan tidak berniat membunuhmu. Tapi kalau kau terus menghalangiku aku tidak bisa menjamin keselamatan nyawamu."
"Kau sendiri tidak memiliki senjata. Sudahlah kembalikan dengan baik-baik sebelum para warga datang mengejarmu."
Sebuah botol kecil yang berisi racun dipamerkan oleh pria itu bersama senyuman mengerikan, Xin Chen baru menyadari bau yang begitu menyengat masih tetap tercium walaupun tutup botol tersebut terkunci rapat. Terlihat sangat tidak wajar karena dari botol tersebut muncul uap-uap kehitaman yang pekat.
"Dengan racun ini kau akan lumpuh tujuh hari sebelum mati dengan cara mengenaskan. Hanya ada satu penawarnya di dunia ini, itupun jika kau berhasil mendapatkannya. Kuucapkan selamat tinggal dan semoga beruntung, bocah nakal."
Xin Chen berniat mengelak namun hal itu terjadi begitu cepat, bahkan di luar dugaannya sendiri tiba-tiba Xin Zhan datang menolong.
Kakaknya itu terkena racun di bagian perutnya. Membuat Xin Chen melebarkan matanya terkejut, mulai menyadari situasi buruk ini dan saat dia mengangkat wajah pria tadi sudah melarikan diri begitu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Ulin Nuha
oon unlimited
2023-03-20
0
Alan Bumi
bernafas
2022-11-03
0
Rahmaa Dewii
ternyata anaknya lebih ceroboh dan goblok....
2021-12-21
0