Mulut roh perempuan itu terlihat menggerutu, dia berbicara sembari memperlihatkan lentik kukunya yang tajam. "Kau benar-benar tidak tahu apapun?"
Xin Chen menggeleng.
"Cih, kukira sejarah Topeng Hantu Darah sudah terkenal di zaman peradaban manusia, tak kusangka kehebatan kekuatanku sengaja disembunyikan dari orang-orang."
"Disembunyikan?"
Roh tersebut melipat kedua tangannya kesal. "Topeng Hantu Darah dan pusaka langit lain sebenarnya telah menjadi kabar menakutkan di zaman dulu, sebelum akhirnya kami terpisah pada masa kejayaan Qiang Jun si pemilik sebenarnya."
Penjelasan singkat roh perempuan tersebut mengundang lebih banyak pertanyaan lagi, dalam artian lain ada begitu banyak pusaka langit setingkat Topeng Hantu Darah dan Pedang Manusia Iblis di dunia ini.
Pantas saja roh tersebut menyebutnya sebagai kabar buruk, kenyataannya jika benda-benda itu jatuh di tangan yang salah marabahaya tentu akan datang dari manusia itu sendiri.
Xin Chen dan Rubah Petir saling bertatapan, nyatanya masih begitu banyak hal tak mereka ketahui selama ini.
"Siapa penciptamu sebenarnya? Dan untuk alasan apa sebenarnya kalian diciptakan?" tanya Rubah Petir berhati-hati.
Dua pertanyaan sekaligus, roh tersebut menjawabnya langsung.
"Han Zilong, seorang pendekar tanpa batas sekaligus penempa pedang paling handal di zamannya. Sebelum jiwaku dimasukkan ke dalam topeng ini, leluhurnya telah meramalkan akan kelahiran seorang Manusia Iblis.
Maka dari itu, sebelum kelahiran Qiang Jun dan sebelum dirinya mengembuskan napas terakhir Han Zilong menciptakan kedua pedang legendaris tanpa tanding, yaitu Pedang Manusia Iblis dan Pedang Kaisar Langit."
Rubah Petir bertanya kembali, "Bukannya kedua pedang itu ditujukan untuk Qiang Jun? Lalu siapa Tuanmu sebelumnya?"
"Qiang Jun lahir setelah 11 tahun pedang itu dibuat dan pada waktu itu Han Zilong, seorang pendekar yang pernah menduduki puncak dunia persilatan memberikan dua pilihan pada anak kandungnya."
Keduanya masih mendengarkan serius, karena hal ini pun baru mereka ketahui itupun langsung dari mulut roh penghuni topeng sendiri.
"Pilihan pertama menjadi pembunuh haus darah dengan Pedang Manusia Iblis, Topeng Hantu Darah, Kitab Terlarang serta Armor Dewa Perang."
Meskipun tidak tahu bagaimana bentuk benda tersebut namun Xin Chen yakin semuanya sangat hebat, bahkan kualitas Pedang Manusia Iblis saja sudah tidak bisa dibandingkan oleh penempa pedang mana pun di muka bumi ini.
"Aku pernah mendengar soal Armor Dewa Perang ini, pusaka terbaik ini menjadi rebutan sejak masa kepemimpinan ratusan tahun silam dan dilenyapkan begitu saja karena menimbulkan keresahan berskala besar." Rubah Petir memberikan pendapatnya.
Roh tersebut menimpali. "Han Zilong menghabiskan dua puluh tahun sisa umurnya untuk menciptakan semua senjata ini dan berharap bisa membantu kekacauan besar yang akan terjadi di masa depan."
"Maksudmu kebangkitan Raja Iblis?"
"Ya, untuk itulah semua pusaka ini diciptakan. Apa iblis itu sudah berhasil ditaklukkan?"
Xin Chen mengeluarkan suara. "Sudah. Dan kau bilang Han Zilong memberikan dua pilihan, satu pilihan lainnya belum kau sebutkan."
"Hm, kau pasti sudah mengetahuinya. Pedang Kaisar Langit, Kitab Tujuh Kunci dan Baja Phoenix. Sulit dijelaskan ke mana mereka tersebar. Yang jelas pada saat itu, anak Han Zilong yang bernama Han Wu memilih pilihan pertama. Berita mengenai kehebatan semua senjata yang diciptakan oleh Ayahnya tersebar luas di seluruh dunia dan membuat dia diincar-incar para pendekar aliran hitam."
Rasanya mengingat akan masa lalu membuat roh tersebut merindukan tuan pertamanya. "Karena kesemua senjata itu merenggut kemanusiaannya, membuat dia tak bisa mengendalikan diri. Justru dia menjadi musuh manusia sendiri, di saat itu tidak ada satupun orang ingin mempertahankan nyawanya. Karena mereka sendiri menginginkan apa yang dimiliki Han Wu."
"Dan dia mati oleh orang-orang yang menginginkan pusaka itu?"
Roh tersebut mengiyakan, "Tuanku yang malang itu harus merenggut nyawanya di tangan ratusan umat manusia yang berebut kekuatan. Untungnya sebelum dia mati para roh penjaga pusaka ini mengunci diri hingga menunggu pemilik aslinya datang."
Kisah pencipta kedua pedang legendaris ini terbilang sangat panjang hingga Xin Chen menguap lebar dibuatnya, tak sanggup menahan kantuk berkepanjangan.
Xin Chen tahu hal itu terbilang tak sopan tapi mau bagaimana lagi. Dia sendiri tak dapat menahan rasa kantuk tersebut semakin lama.
Rubah petir pun sadar secara psikologis Xin Chen tak dapat mencerna semua obrolan mereka ini, hal tersebut masih terlalu berat untuk pemikiran anak sekecilnya.
Maka dari itu Rubah Petir memilih menyuruhnya beristirahat selagi dirinya mengorek informasi lebih lanjut mengenai semua senjata yang diciptakan sosok melegenda bernama Han Zilong ini.
Dari apa yang didengarnya Rubah Petir menyimpulkan bahwa Han Zilong ini adalah seorang pendekar kelana, dia memiliki keahlian menempa pedang dan mendapatkan banyak pusaka tersebut dari perjalanannya selama berpuluh-puluh tahun di dunia persilatan.
Berbagai senjata dan perlengkapan perang diciptakannya untuk menepati janjinya kepada leluhur, menciptakan kedamaian demi menghindari pertumpahdarahan.
Saat dirinya telah berhasil menciptakan sebuah mahakarya tersebut sayangnya sosok yang diramalkan tak kunjung datang hingga akhirnya Han Zilong memberikan roh ke dalam masing-masing ke dalam tujuh senjata pusaka langit tersebut. Tentu dengan tujuan agar suatu waktu tak ada yang menyalahgunakan kekuatannya.
Anak dari Han Zilong yaitu Han Wu sengaja memilih menjadi pembunuh haus darah karena memang sifatnya demikian, bukannya menciptakan perdamaian justru dirinya menciptakan kekacauan besar. Hingga Han Zilong sendiri tak dapat menahannya.
Di masa itulah Rubah Petir mengetahui pergolakan yang terjadi di Kekaisaran Shang dan menyadari satu pusaka paling berbahaya dari ke semua senjata tersebut yaitu Kitab Terlarang harus diamankannya. Dia segera menyembunyikannya ke Lembah Kabut Putih dan mengurung diri di sana selama ribuan tahun.
Nasib pusaka langit lainnya tak begitu diketahui dan mereka tersebar ke seluruh penjuru dunia, seperti Kitab Tujuh Kunci di Kekaisaran Qing dan masih banyak lagi lainnya. Dari semua cerita tersebut Rubah Petir dapat mengetahui banyak hal. Dia menoleh ke arah Xin Chen yang tengah tertidur pulas.
"Kukira anak itu dilahirkan untuk misi yang lebih besar dari yang Han Zilong pikirkan..."
"Bukankah katamu Raja Iblis sudah berhasil ditaklukkan?"
"Ini semua tentang isi dari Kitab Terlarang..."
**
Menjelang pagi Xin Chen terbangun dari tidurnya, sayup-sayup dapat didengar tangisan lebih dari satu anak kecil di alun-alun desa.
Xin Chen mengintip di balik jendela, rupanya para pendekar dari pagoda sebelumnya telah berhasil mengumpulkan anak-anak kecil dari desa yang mereka yakini sebagai pencuri harta milik asosiasi.
Mata Xin Chen terbuka lebar menyaksikan kejadian tersebut, karena ulahnya kini orang-orang tak bersalah ikut terkena imbasnya juga. Xin Chen memberanikan diri untuk keluar akan tetapi dia menyadari Rubah Petir sudah tak ada lagi di kamar.
Ketika menempelkan telinganya ke pintu Xin Chen dapat mendengar perdebatan di luar sana, tampaknya Rubah Petir tengah bermasalah dengan orang-orang dari Asosiasi Pagoda Perak.
Mereka bersikeras untuk masuk ke dalam kamar dan memeriksa apakah ada anak kecil di dalam atau tidak.
Merasa dirinya memiliki tanggung jawab atas permasalahan ini Xin Chen lantas menampakkan dirinya, membuat dua pria yang berdiri di depan pintu serentak memperhatikan jeli.
"Jangan-jangan kau pelaku pencurian itu!"
Rubah Petir memelototinya geram. "Cepat masuk ke dalam!"
Bukan tanpa alasan Rubah Petir melakukan hal tersebut, dia yakin dengan terang-terangan mengatakan bahwa Xin Chen pembunuhnya akan mempersulit mereka berdua untuk keluar dari desa ini. Apalagi Asosiasi Pagoda Perak pasti memiliki koneksi yang luas. Ada banyak pihak yang siap membantu mereka di saat-saat seperti ini.
"Guru, aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Karena ulahku anak kecil di luar disiksa habis-habisan," sangkalnya terhadap perintah Rubah Petir.
"Jadi benar kau pelakunya?!" Salah seorang dari mereka menyeru kencang, membuat beberapa orang di luar penginapan tertarik melihat keributan di dalam.
Rubah Petir mengutuki diri sendiri, seharusnya dari awal dia menyadari bahwa Xin Chen memiliki sifat persis seperti Ayahnya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Edu Juan
bego
2024-05-29
0
dimuka bumi ini
2023-06-17
0
Alan Bumi
nafas
2022-11-03
0