Rubah Petir menjadi sedikit lebih waspada saat tak merasakan hawa manusia di sekitarnya, dia mengawasi dalam diam. Kurang dari sedetik satu serangan lainnya menyambut berturut-turut hingga akhirnya sosok berjubah serba hitam muncul tepat di depan persis Topeng Hantu Darah.
"Siapa kau-?" Xin Chen mengumpat kesal.
"Memang identitas penting? Tidak, sangat tidak penting." Sosok berjubah itu memungut Topeng Hantu Darah, meskipun tak terlihat namun dia tersenyum iblis di balik penutup wajahnya.
"Akhirnya setelah menghilang beberapa tahun, topeng ini memunculkan diri juga."
"Chen, jangan biarkan orang itu mengambil topeng tersebut." Rubah Petir berbisik kecil.
"Kembalikan topeng itu atau–"
"Atau kau akan membunuhku? Kata-kata basi itu biasa diucapkan oleh orang yang sebentar lagi akan mati di tanganku."
"Cih, sombong juga gayanya." Xin Chen mencibir sebal. Berpikir bisa mendapatkan kembali topengnya dengan damai, tampaknya sosok berjubah memang sedang menantangnya bertarung.
"Kulihat kau membunuh dua orang tadi, di umur sekecil ini saja sudah tidak ada lagi empati dalam dirimu."
"Diam."
"Apalagi saat kau sudah besar nanti, kau mungkin akan menjadi Han Wu yang kedua. Dengan atribut Dewa Iblis ini bukan tak mungkin kau justru akan mengacaukan perdamaian yang Ayahmu ciptakan susah payah itu."
Sosok berjubah itu mengetahui sangat banyak hal informasi membuat Xin Chen curiga, diam-diam dia menatapi teliti setiap inci orang itu. "Tampaknya kau memang sengaja mengikutiku, sejak kapan kau melakukannya?"
"Sejak kau mendapatkan topeng ini, kau tahu saat segel dalam topeng ini diaktifkan kembali kekuatannya dapat dirasakan oleh pendekar manapun. Kurasa kalau benda ini bersamamu hanya akan mengantar nyawamu begitu cepat." Dia menyelesaikan perkataannya. "Kalau begitu sudahlah, aku tak memiliki banyak waktu di tempat ini. Terimakasih atas topengnya!"
"Sepertinya kau memang meminta untuk dipukul, ya?" Xin Chen mulai geram, kedua tangannya terkepal erat. Tak beda jauh dengannya Rubah Petir pun turut kesal.
Sebelum pria berjubah itu pergi Rubah Petir lebih cepat menyerangnya, kecepatan menangkis pria itu ternyata tidak terlalu buruk akan tetapi dalam segi kekuatan Rubah Petir memang tak bisa dikalahkan. Energi siluman yang dilepaskannya juga tidak main-main, bahkan sanggup untuk menumbangkan sepuluh pohon sekaligus.
Rubah Petir berhenti memerhatikan lawannya, tampaknya pria berjubah itu memiliki kekuatan yang setara dengan pendekar agung. Dia masih bisa mempertahankan kuda-kudanya meski sedikit goyah.
"Pukulan yang hebat, aku tak menyangka ternyata kau orang yang cukup kuat. Daritadi ternyata kau sengaja menyembunyikan kekuatanmu?"
Rubah Petir tak menggubrisnya, tangannya terangkat ke atas menunjuk langit. "Petir Vulkanik."
Hentakan puluhan petir berwarna merah menyala menyambar bumi secara mengejutkan, membuat Xin Chen pun membuka matanya lebar-lebar. Dia tak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.
Dalam situasi itu Xin Chen justru teralihkan pada satu hal lain, dia memerhatikan sebuah bentuk ukiran di dada sebelah kiri pria tersebut. Terlihat samar-samar hingga dia bisa memastikan lambang itu sama seperti yang dilihatnya di pisau dalam jubahnya.
"Kau– darimana sebenarnya kau berasal?"
Petir vulkanik berhenti menyetrum tubuh pria itu, membuatnya jatuh berlutut. Penutup wajahnya mulai terbuka beberapa bagian memperlihatkan darah.
"Kau pasti akan mengetahuinya, tempat dewa selanjutnya akan bangkit... Hahahaha! Tidak ada yang bisa menghentikan kami semua, tidak akan!" Pria itu menunjuk Rubah Petir. "Bahkan Siluman Penguasa Bumi sepertimu sekalipun!"
Petir Vulkanik memang satu-satunya hanya Rubah Petir yang bisa menguasainya, hal itu sudah pasti diketahui mengingat pengendalian energi alam sebesar ini hanya bisa dikontrol dengan menggunakan energi siluman yang melimpah ruah.
Xin Chen tidak tinggal diam, dia berlari segera menyerang pria tersebut, bahkan dalam keadaan hampir tumbang pun musuhnya tetap bisa melakukan perlawanan yang seimbang. Xin Chen nyaris tak memiliki kesempatan untuk menang.
"Kau terlalu lemah, dengan kekuatan seperti ini kau hendak melawanku? Hanya membuatku muak saja!" Pukulan telak menghantam wajah Xin Chen, tak membiarkan musuhnya menang Xin Chen membalasnya dengan tendangan kencang.
"Kembalikan topengku!"
"Jangan mimpi-!?" Nada bicara pria itu mulai berubah saat topeng di tangan kirinya mengeluarkan reaksi aneh, sebuah kekuatan hitam pekat keluar dari topeng tersebut dan mengelilingi tubuhnya.
"Apa-apaan ini-?"
Muncul sebuah roh dari topeng tersebut sebagai perwujudannya, menatapi penuh dendam mendalam. Menghancurkan tubuh pria itu dengan aura pekat dengan mencengkram tangannya.
Tubuh pria itu terpecah belah hingga tak berbentuk, menghilang di udara seperti asap. Semenjak mengetahui betapa mengerikannya roh perempuan tersebut Xin Chen takkan berani lagi bersikap lancang padanya, dia yakin bisa saja tubuhnya mengalami hal yang sama seperti yang baru saja dia lihat.
"Seharusnya kau tidak perlu panik seperti itu, setelah menemukan Tuannya topeng ini takkan jatuh ke tangan lain, kecuali jika kau sudah tiada."
"Maksudmu?"
"Lemparkan topeng itu sejauh mungkin, atau kau bakar saja. Cepat lakukan."
Xin Chen melakukannya, dia benar-benar melemparkannya sejauh mungkin. Topeng tersebut menghilang di udara dan tak meninggalkan jejak sama sekali.
"H-hei? Ke mana perginya? Jangan bilang kau berbohong–" mata Xin Chen terbuka lebar melihat topeng tersebut kini muncul tiba-tiba di wajahnya.
Hal tersebut tentu membuat Xin Chen mengerti, Topeng Hantu Darah takkan pergi jauh dari Tuannya.
"Tapi untuk orang sepertinya, kurasa dia mengetahui cara mematahkan segel di Topeng ini."
"Mematahkan segel?"
Pembicaraan Rubah Petir dan roh tersebut diabaikan oleh Xin Chen sebentar, dia tertarik dengan robekan baju milik sosok tersebut.
Xin Chen memerhatikan robekan baju itu lebih jelas, seketika dia mencengkramnya. "Tanda ini memiliki bentuk yang sama dengan di pisau itu, aku yakin mereka berada pada satu kelompok yang sama."
Rubah Petir mengambil kain dalam genggaman Xin Chen. "Sepertinya ini semua saling berkaitan, kalau begitu kita tidak bisa menunda lebih lama lagi."
Enam jam berjalan tanpa henti akhirnya mereka tiba di tempat baru, tampaknya sebuah kota yang lebih maju dari desa yang mereka lalui tadi. Baru saja tiba di tempat tersebut tanpa berpikir banyak Xin Chen menerobos masuk, dengan menggunakan Topeng Hantu Darah bukan hal sulit lagi untuk menyusup seperti ini.
Rubah Petir kehilangan jejak anak itu, Xin Chen sudah lebih dulu mencari informasi di sana. Sementara itu Rubah Petir lebih tertarik ke segerombolan pendekar yang tengah sibuk berbincang sesuatu yang ganjil.
Rubah Petir menyimak sekilas, dari apa yang mereka ceritakan akhir-akhir ini terdengar kabar pembantaian satu klan dengan sangat keji. Pembantaian itu hanya berselang satu hari yang lalu dan pelakunya sendiri tak diketahui siapa.
Di tempat lain Xin Chen menghela napas berat, kain dalam cengkramannya mengendur. Sudah lebih dari dua puluh orang yang ditanyai tapi tak satupun dari mereka memiliki informasi berguna.
Xin Chen memutuskan untuk kembali, dia juga sudah meninggalkan Rubah Petir seenaknya tadi. Namun derap kakinya terhenti saat mendengar keributan di sebuah rumah obat, tampaknya sedang terjadi perkelahian di dalamnya.
"Pertengkaran, ya?" Xin Chen mendengarkan lebih jelas. "Hm... Ayah, anak, dan Ibunya... Semuanya berteriak, lantas tidak mungkin ini hanya perkelahian."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Muhammad kenzo al fatih
mantul lanjutkan sukses selalu jangan lupa ngopi thour dan terima kasih sudah menberikan bacaan yang menarik
2024-01-05
0
Alan Bumi
nafas
2022-11-04
0
zamal78901
Tambah lagi Thor😎
2021-12-11
1