Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!

...🍀🍀🍀...

Dhina yang tadinya sedang menonton film, kini telah tertidur pulas. Dengan laptop yang masih dalam keadaan hidup. Tidak lama kemudian, Ammar pun sampai di rumah dan disusul juga oleh Dhana dengan motor besarnya dari arah belakang. Terdengar suara mobil dan motor yang datang bersamaan, Dhina pun terbangun dari tidurnya.

"Suara mobil dan motor siapa itu?"

Dhina yang baru bangun pun mengerjapkan dan mengucek matanya sambil melihat ke arah jam.

"Ini 'kan masih siang. Tidak mungkin Ayah, Ibu, Mas Ammar, Mas Sadha atau Mas Dhana sudah pulang kerja. Siapa ya yang datang itu?"

Dhina pun berusaha untuk sadar dari bangun tidurnya. Tapi saat ia ingin duduk, tiba-tiba kepalanya terasa berat dan sakit lagi. Di saat bersamaan Dhina merasakan ada sesuatu yang mengalir di hidungnya. Dengan segera Dhina berjalan ke kamar mandi untuk melihatnya. Setelah sampai di depan cermin, Dhina melihat ada darah segar lagi yang keluar dari hidungnya.

"Aku mimisan lagi."

Lalu Dhina kembali ke kamarnya untuk mengambil tisu. Saat berjalan menuju kamar, kepala Dhina yang dari tadi terasa sangat berat membuatnya susah untuk berjalan. Dhina pun tersimpuh di lantai dan darah di hidungnya masih saja mengalir.

"Ya Allah, kepalaku sakit sekali. Mimisanku juga tidak berhenti. Siapa yang datang ya?"

Dhina pun berusaha bangun dan berjalan menuju meja rias untuk mengambil tisu. Ia tetap berusaha walaupun sering terjatuh dan terjatuh lagi. Setelah selesai membersihkan darah di hidungnya, Dhina pun beranjak keluar karena ingin melihat siapa yang datang.

Saat sampai di luar, ternyata yang datang adalah Ammar dan Dhana. Melihat kedua masnya yang pulang, Dhina pun berniat masuk ke kamar lagi. Ia masih kesal karena mengingat sikap ketiga masnya itu tadi pagi. Saat Dhina ingin berbalik, kepalanya yang masih pusing membuatnya terjatuh lagi.

Bruk!

Ammar dan Dhana yang baru masuk ke dalam rumah pun mendengar ada suara benda yang terjatuh dari lantai atas. Ammar dan Dhana saling pandang terkejut. Lalu...

"Apa itu Mas? Sepertinya ada yang terjatuh di lantai atas?" ujar Dhana yang menepuk tangan Ammar karena terkejut.

"Mas juga tidak tau, Dhana." jawab Ammar dengan santai pada Dhana sambil melihat ke arah Dhana.

Saat mereka hendak berjalan menuju tangga, Ammar dan Dhana teringat sesuatu dan langsung saling pandang lagi.

"Adek..."

Saat teringat Dhina, Ammar dan Dhana pun langsung berlari menuju lantai atas. Saat mereka sampai di atas, mereka berdua melihat Dhina yang tersimpuh di lantai sambil memegangi kepalanya. Lalu mereka berdua langsung berlari mendekati Dhina.

"Adek... Adek kenapa?" tanya Ammar seraya memegangi Dhina yang terlihat sangat pucat.

"Iya, Dek. Adek kenapa? Kenapa bisa duduk di lantai seperti ini?" timpal Dhana yang membantu Ammar untuk membantu Dhina berdiri.

"Tidak apa-apa. Lepas!!! Adek ingin masuk kamar." jawab Dhina dengan ketus karena masih kesal dengan sikap Ammar dan Dhana tadi pagi.

"Biar Mas bantu, nanti jatuh lagi bagaimana?" ujar Ammar yang masih memegangi Dhina.

"Memang mas peduli? Lepas!!! Adek bisa sendiri." jawab Dhina yang suaranya tertahan karena menahan tangis.

"Adek kenapa? Mas sama Mas Ammar bantu masuk ke kamar ya?" timpal Dhana yang masih memegangi Dhina.

Saat Dhana berusaha memegang tangan adik kembarnya itu, Dhina pun memberontak dan langsung menepis kasar tangan keduanya. Sementara Dhana dan Ammar yang mendapat perlakuan itu langsung melepaskannya.

"Mas tanya Adek kenapa? Harusnya Mas tanya diri Mas sendiri. Kenapa sekarang kalian berdua peduli? Tadi pagi ke mana? Kalian lupa? Sekarang urus saja diri kalian sendiri. Jangan peduli lagi sama Adek!" hardik Dhina yang emosi karena teringat sikap Ammar, Sadha dan Dhana yang tidak mau bicara dengannya tadi pagi.

Dhina pun langsung berjalan masuk ke kamar dan menutup pintu kamar dengan keras. Ammar dan Dhana merasa heran dengan sikap Dhina. Lalu mencoba membujuk Dhina agar membuka pintu kamarnya.

"Adek buka pintunya. Mas belum selesai bicara. Adek kenapa?" sahut Ammar dari luar kamar Dhina seraya mengetuk pintu kamarnya.

"Adek kenapa ya Mas? Sepertinya kesal sekali sama kita. Tapi sepertinya tidak hanya kita berdua saja. Mas Sadha juga sepertinya. Tapi kenapa?" tanya Dhana yang masih belum ingat dengan sikapnya tadi pagi pada Dhina.

"Ya ampun, Mas lupa. Tadi pagi kita cuekin Adek, Dhana. Mungkin karena itu. Mas jadi merasa bersalah karena sudah cuekin dia tadi pagi." jawab Ammar sambil menyandarkan kepalanya di pintu kamar Dhina.

"Oh iya, Dhana baru ingat. Ya ampun, sebenarnya Dhana tidak ingin seperti tadi, Mas. Setelah Mas dan Mas Sadha pergi, Adek marah sama Dhana. Tapi Dhana malah cuekin dia. Ditambah lagi tadi kita sudah tau kondisi Adek sebenarnya. Jadi merasa bersalah juga nih, Mas." ujar Dhana sambil duduk di sofa lantai atas.

"Adek... Mas minta maaf karena sudah cuekin Adek tadi pagi. Mas menyesal. Mas minta maaf ya. Buka pintunya, Sayang." sahut Ammar lagi seraya mengusap pintu kamar Dhina.

"Mas juga minta maaf, Dek. Buka pintunya ya. Kita ingin bicara sesuatu. Penting!" pekik Dhana yang mengetuk pintu kamar Dhina.

Setelah lama Ammar dan Dhana membujuk Dhina. Namun tidak ada suara sama sekali dari dalam. Hal itu membuat Ammar dan Dhana menjadi cemas dan khawatir. Apalagi mengingat kondisi Dhina yang sedang sakit parah. Ammar pun meminta Dhana untuk melihat Dhina dari jendela balkon. Lalu...

"Tidak ada jawaban, Dhana. Mas jadi khawatir. Coba kamu lihat Adek dari jendela balkon." ujar Ammar pada Dhana.

Dhana pun langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Lalu membuka jendela kamar dan keluar dari sana. Dhana berjalan perlahan menuju jendela kamar Dhina dan melihat ke dalam. Saat Dhana melihat dari jendela, betapa terkejutnya Dhana yang melihat Dhina tersimpuh di dekat tempat tidurnya dengan bersimbah darah yang keluar dari hidungnya.

"Ya Allah... Adek..."

Dhana yang terkejut dan terpekik dari jendela balkon pun tidak terdengar oleh Dhina karena jendela kamar Dhina tidak terbuka.

"Adek bersimbah darah seperti itu dan dia masih berusaha menutupinya dariku dan Mas Ammar?"

Dhana pun masuk lagi ke kamarnya dan langsung keluar dari pintu. Dhana langsung berlari ke arah Ammar dan memberitahu keadaan Dhina di dalam kamar.

"Mas... Mas..." pekik Dhana yang terengah-engah karena terkejut dan berlari ke arah Ammar.

"Dhana... ada apa?" tanya Ammar yang ikut panik melihat ekspresi dan sikap Dhana.

"Adek, Mas. Adek... Adek mimisan di dalam." jawab Dhana yang masih terengah-engah dan matanya juga sudah mengeluarkan air mata.

"Apa???"

Ammar pun gelap mata saat mendengar informasi dari Dhana. Ia langsung mendorong pintu kamar Dhina dengan keras. Hanya butuh dua kali dorongan tubuh Ammar, pintu kamar Dhina akhirnya terbuka. Ammar dan Dhana langsung masuk dan melihat Dhina sudah tersimpuh dengan darah di telapak tangannya.

"Ya Allah... Adek!!! Dhana... ambilkan tisu di sana!!!" ujar Ammar pada Dhana.

Ammar langsung menghampiri dan menggendong Dhina ke atas tempat tidur. Lalu...

"Ini Mas." ucap Dhana dari arah belakang Ammar seraya memberikan kotak tisu.

"Mas bantu ya. Apa yang Adek rasakan saat ini?" ujar Ammar yang matanya berkaca-kaca karena melihat kondisi adik perempuannya itu.

"Adek tidak apa-apa. Mas kenapa memaksa sekali sih masuk ke kamar Adek?" jawab Dhina yang masih jengah pada keduanya.

"Adek... Mas Ammar itu bertanya baik. Kenapa dijawab seperti itu?" timpal Dhana yang duduk di samping Dhina seraya membantu Ammar membersihkan darah yang ada di tangan Dhina.

"Biar Adek sendiri yang membersihkannya! Lebih baik Mas Ammar dan Mas Dhana keluar saja! Adek sedang ingin sendiri!" serkas Dhina yang ketus dan membuat Ammar habis kesabaran.

"Adek kenapa sih? Adek tau, Mas khawatir! Lihat ini, darah semua dan Adek masih ingin bersembunyi lagi. Kenapa Dek? Apa Adek tidak menganggap Mas? Apa Mas ini bukan masnya Adek? Kenapa Adek tidak mau jujur pada Mas?" hardik Ammar yang mulai emosi dengan sikap Dhina.

"Mas pikir Adek mau seperti ini? Mas pikir Adek senang bersembunyi seperti ini dari kalian? Tidak Mas, tidak!" jawab Dhina yang sudah menangis sambil memegangi kepalanya yang masih sakit.

"Kita bertiga kecewa, Dek. Kecewa sama Adek karena Adek sudah membohongi kita. Adek membohongi Mas Sadha. Adek juga membohongi Mas. Sekarang Adek ingin berbohong apa lagi?" timpal Dhana yang juga ikut emosi dengan sikap Dhina.

"Apa salahnya untuk jujur Dek? Keadaan Adek seperti ini tidak bisa disembunyikan. Kenapa Adek tidak jujur pada Mas, Sadha atau Dhana? Kenapa Dek?" ujar Ammar yang berusaha menahan emosinya karena melihat Dhina menangis.

"Adek dengar!!! Kita sayang sekali sama Adek. Adek itu seperti penerang di hidup kita bertiga. Hidup Mas, Mas Ammar dan juga Mas Sadha. Bahkan penerang hidup Ayah dan Ibu juga. Kita tidak ingin terjadi sesuatu sama Adek. Kalau Adek tertutup seperti ini, Mas ataupun Mas Ammar juga tidak bisa berbuat apa-apa." tutur Dhana sambil meraih tangan Dhina.

Tangis Dhina pun pecah saat mendengar perkataan Dhana. Disatu sisi, Dhina masih kesal dengan sikap ketiga masnya itu. Tapi disisi lain, Dhina juga merasa bersalah karena sudah bersikap tidak baik pada Ammar dan Dhana. Lalu...

Sebenarnya aku masih kesal dengan Mas Ammar, Mas Sadha dan Mas Dhana. Mereka cuekin aku tadi pagi. Tapi mereka seperti itu juga karena aku. Aku berbohong dan menyembunyikan semua ini dari mereka. Padahal aku sendiri tidak kuat menahan rasa sakit di kepalaku. Gumam Dhina dalam hati.

"Adek... Adek kenapa menangis? Sudah, sudah! Adek tidak usah menangis lagi seperti ini ya. Cup...cup...cup." ujar Dhana seraya memeluk Dhina yang menangis.

"Adek minta maaf ya, Mas. Adek sudah bohong dan berusaha menyembunyikan hal ini dari Mas semua. Adek melakukan semua ini karena Adek tidak ingin kalian semua khawatir dan cemas." jawab Dhina yang masih menangis dalam pelukan Dhana.

"Hei, hei, sudah jangan menangis lagi ya. Mas sama Mas Ammar juga ingin minta maaf karena sudah cuekin Adek tadi pagi." ujar Dhana yang melepaskan pelukannya dan mengusap air mata adik kembarnya itu.

"Adek minta maaf ya, Mas. Tidak seharusnya Adek bersikap seperti tadi pada Mas Ammar dan Mas Dhana." ujar Dhina seraya meraih tangan Ammar dan Dhana.

"Mas akan memaafkan Adek, tapi dengan satu syarat?" jawab Ammar yang memegang wajah Dhina.

"Syarat? Syarat apa Mas?" tanya Dhina yang heran dan penasaran.

"Syaratnya, Adek harus janji tidak boleh tertutup lagi sama Mas, Sadha, Dhana, Ayah ataupun Ibu. Apapun yang terjadi, Adek harus katakan pada kita semua, termasuk kejadian seperti tadi. Janji?" jawab Ammar pada Dhina sambil mengarahkan jari kelingkingnya.

"Iya Mas. Adek janji tidak akan tertutup lagi. Adek minta maaf ya. Jangan cuekin Adek lagi." ujar Dhina seraya mengikatkan kelingkingnya ke kelingking Ammar.

"Iya, iya. Adek jangan menangis lagi ya. Sekarang apa yang Adek rasakan? Kenapa Adek bisa tersimpuh di lantai seperti tadi?" tanya Dhana seraya mengusap kepala Dhina.

"Kepala Adek pusing dan berat sekali, Mas. Adek berusaha jalan, tapi rasanya seperti berputar." jawab Dhina seraya memegangi kepalanya yang masih sakit.

Ammar dan Dhana saling pandang saat melihat Dhina kesakitan seperti itu. Mereka mengerti dan sudah mengetahui apa yang terjadi pada adik perempuan mereka. Orang yang sakit kanker memang sering sakit kepala, mimisan bahkan pingsan. Dengan berhati-hati, Ammar mencoba memberikan obat yang tadi ia bawa dari rumah sakit pada Dhina. Ammar dan Dhana juga harus bersiap jika Dhina bertanya tentang obat itu tanpa membuat Dhina curiga untuk saat ini.

"Mungkin karena Adek terlalu kelelahan, makanya kepala Adek pusing dan berat bahkan mimisan. Ini Mas ada vitamin untuk Adek agar Adek tidak pusing dan mimisan lagi." ujar Ammar yang memberikan obat lengkap pada Dhina.

"Ini vitamin apa Mas? Vitamin, tapi kok banyak sekali?" tanya Dhina yang mengambil bungkus obat itu dari Ammar.

"Itu vitamin sekaligus penghilang rasa sakit di kepala Adek. Untuk sementara ini, Adek harus rutin minum itu. Biar tidak mudah lelah, pusing dan mimisan lagi." jawab Dhana dengan asal dan berusaha tenang agar Dhina tidak curiga.

"Oh begitu. Oke, Adek akan minum semuanya. Terima kasih banyak ya, Mas. Adek sayang sekali sama Mas." ujar Dhina tanpa merasa curiga pada Ammar sambil memeluk kedua masnya itu.

"Mas juga sayang sekali sama Adek. Cepat sembuh ya, Sayang." jawab Ammar yang memeluk Dhina erat dan membuatnya meneteskan air mata lagi.

"Mas juga sayang sekali sama Adek kembarnya Mas." timpal Dhana yang memeluk Dhina erat dengan mata yang berkaca-kaca.

Perang dingin diantara Ammar, Dhana dengan Dhina telah selesai. Tinggal Sadha dengan Dhina saja yang belum bertemu untuk saling meminta maaf. Ammar dan Dhana lega setelah memberikan obat, Dhina tidak curiga pada mereka sedikit pun. Tapi Ammar juga sedang berusaha mencari waktu yang tepat untuk memberitahu Dhina tentang penyakitnya saat ini.

***

Hari pun semakin siang. Setelah Dhina minum obat yang Ammar berikan, membuatnya tertidur sangat pulas. Ammar dan Dhana pun memilih pergi ke kamar mereka masing-masing untuk istirahat dan mandi. Tidak lama kemudian, mereka pun ikut tertidur di kamar mereka. Rasa lelah tidak dapat dihindari setelah mengetahui kenyataan bahwa kondisi Dhina saat ini sedang sakit parah.

Saat Ammar, Dhana dan Dhina tidur dikamar mereka, Pak Aidi dan Bu Aini pun pulang. Lalu mereka langsung masuk ke dalam rumah.

"Assalamualaikum." ucap Pak Aidi yang masuk ke dalam rumah namun tidak ada jawaban.

"Sepertinya Adek sedang tidur, Yah." ujar Bu Aini seraya menutup pintu dan berjalan ke arah Pak Aidi.

Pak Aidi dan Bu Aini yang mendapati rumah yang sepi saat pulang, mengira Dhina yang hanya sendiri di rumah, sedang tidur siang di kamar. Lalu saat Pak Aidi dan Bu Aini berjalan menuju kamar mereka, Bi Iyah datang menghampiri mereka.

"Bapak dan Ibu sudah pulang?" sapa Bi Iyah pada kedua majikannya itu.

"Iya, sudah Bi. Oh iya, Adek di mana Bi?" tanya Bu Aini pada Bi Iyah.

"Non Adek sedang tidur di kamarnya, Bu." jawab Bi Iyah pada Bu Aini.

"Ya sudah, tidak apa-apa. Apa tadi Adek ada keluar rumah Bi?" tanya Bu Aini lagi pada Bi Iyah yang sedang mengambilkan air minum.

"Tidak, Bu. Non Adek hanya di kamar saja dari tadi. Den Ammar dan Den Dhana juga sudah pulang, Bu." jawab Bi Iyah seraya memberikan minuman pada kedua majikannya itu.

"Sejak kapan Ammar dan Dhana pulang, Bi?" tanya Pak Aidi seraya meminum air yang diberikan Bi Iyah.

"Belum lama ini, Pak. Mereka juga sedang istirahat di kamarnya." jelas Bi Iyah pada Pak Aidi.

"Oh begitu ya, ya sudah Bi. Terima kasih informasinya ya." ujar Pak Aidi pada Bi Iyah.

"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya ke belakang dulu ya, Pak, Bu. Permisi." jawab Bi Iyah yang pamit ke belakang pada Pak Aidi dan Bu Aini.

"Kita istirahat juga ya, Bu. Ayah capek sekali hari ini, tadi habis rapat untuk acara besok." ujar Pak Aidi yang beranjak lalu berjalan menuju kamar.

"Iya, Yah. Ibu ingin ke atas dulu sebentar, ingin melihat anak-anak. Nanti Ibu menyusul." jawab Bu Aini yang berjalan menuju lantai atas.

Bu Aini pun melihat anak-anaknya satu per satu. Benar yang dikatakan oleh Bi Iyah, mereka semua sedang tertidur pulas.

Saat melihat Dhina di kamarnya, entah kenapa Bu Aini mempunyai perasaan yang tidak enak terhadap putri bungsunya itu. Perasaan itu muncul saat ia sedang bekerja tadi. Bu Aini merasakan ada sesuatu yang buruk akan menimpa putrinya. Tapi saat melihat Dhina tertidur pulas, Bu Aini pun menepis rasa gelisah di hatinya itu. Ia berusaha meyakinkan diri kalau putrinya baik-baik saja. Setelah puas melihat dan membelai wajah putrinya, Bu Aini pun beranjak lalu pergi ke kamarnya untuk menemui Pak Aidi dan ikut istirahat.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

Terpopuler

Comments

coni

coni

plis Dhina kamu yang mulai buat mereka cemas karena gak jujur, Mas mas tuh sayang banget sama kamu🤧🤧🤧🤧🤧 Ibu juga Balum kamu kasih tahu. tapi dia udah punya firasat gak baik tentang kamu. mulai sekarang jangan bohong²an lagi oke🥺🥺🥺🥺🥺

2021-06-14

1

Little Peony

Little Peony

Semangat selalu Thor ✨✨✨✨✨✨

2021-05-23

1

Nofi Kahza

Nofi Kahza

ya ampun dhina..kenapa kamu gk jujur aja..tindakanmu itu salah loh😩😩

2021-03-13

1

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan Tokoh
2 Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3 Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4 Episode 3 ~ Rencana Ibu
5 Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6 Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7 Episode 6 ~ On The Way Puncak
8 Episode 7 ~ Mulai Aneh
9 Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10 Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11 Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12 Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13 Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14 Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15 Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16 Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17 Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18 Episode 17 ~ Kecewa
19 Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20 Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21 Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22 Episode 21 ~ Diganggu Preman
23 Episode 22 ~ Foundation
24 Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25 Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26 Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27 Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28 Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29 Episode 28 ~ Terpukul
30 Episode 29 ~ Hilang
31 Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32 Episode 31 ~ Minta Maaf
33 Episode 32 ~ Berjodoh?
34 Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35 Episode 34 ~ Boleh Pulang
36 Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37 Episode 36 ~ Memar Lagi
38 Episode 37 ~ Balas Dendam
39 Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40 Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41 Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42 Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43 Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44 Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45 Episode 44 ~ Berenang
46 Episode 45 ~ Tenggelam
47 Episode 46 ~ Incaran Pertama
48 Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49 Episode 48 ~ Introgasi
50 Episode 49 ~ Sepemikiran
51 Episode 50 ~ Demam Tinggi
52 Episode 51 ~ Ibu Murka
53 Episode 52 ~ Kejutan
54 Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55 Episode 54 ~ Topeng Hantu
56 Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57 Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58 Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59 Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60 Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61 Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62 Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63 Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64 Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65 Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66 Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67 Episode 66 ~ Kemoterapi
68 Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69 Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70 Episode 69 ~ Mencari Tau
71 Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72 Episode 71 ~ Botak Bersama
73 Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74 Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75 Episode 74 ~ Muntah-muntah
76 Episode 75 ~ Karyawati Baru
77 Episode 76 ~ Barang Bukti
78 Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79 Episode 78 ~ Orang Asing
80 Episode 79 ~ Merubah Rencana
81 Episode 80 ~ Gelisah
82 Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83 Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84 Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85 Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86 Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87 Episode 86 ~ Mata Sembap
88 Episode 87 ~ Penyelidikan
89 Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90 Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91 Episode 90 ~ Obat Asing
92 Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93 Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94 Episode 93 ~ Stadium Tiga
95 Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96 Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97 Episode 96 ~ Rakha???
98 Episode 97 ~ Janji Dhina
99 Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100 Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101 Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102 Episode 101 ~ Melepas Rindu
103 Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104 Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105 Episode 104 ~ Semakin Sakit
106 Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107 Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108 Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109 Episode 108 ~ Tidak Tega
110 Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111 Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112 Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113 Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114 Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115 Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116 Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117 Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118 Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119 Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120 Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121 Visual
122 Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123 Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124 Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125 Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126 Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127 Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128 Episode 126 ~ Tes Mendadak
129 Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130 Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131 Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132 Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133 Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134 Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135 Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136 Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137 Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138 Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139 Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140 Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141 Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142 Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143 Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144 Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145 Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146 Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147 Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148 Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149 Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150 Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151 Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152 Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153 Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154 Episode 152 ~ Kenangan Manis
155 Episode 153 ~ Tetap Waspada
156 Episode 154 ~ Dijodohkan???
157 Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158 Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159 Episode 157 ~ Malam Pengajian
160 Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161 Episode 159 ~ Bucin
162 Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163 Episode 161 ~ First Kiss
164 Episode 162 ~ Baru Menyadari
165 Episode 163 ~ Balapan
166 Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167 Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168 Episode 166 ~ Masalah Lama
169 Episode 167 ~ Berita Bahagia
170 Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171 Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172 Episode 170 ~ Labil
173 Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174 Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175 Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176 Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177 Episode 175 ~ Komplikasi
178 Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179 Episode 177 ~ Perang Bathin
180 Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181 Episode 179 ~ Cuci Darah
182 Episode 180 ~ Dasar Mesum
183 Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184 Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185 Episode 183 ~ Bukan Peduli
186 Episode 184 ~ Botol Minum
187 Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188 Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189 Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190 Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191 Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192 Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193 Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194 Episode 192 ~ Terhalang Restu
195 Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196 Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197 Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198 Episode 196 ~ Jambret Nakal
199 Episode 197 ~ Bertemu Umi
200 Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201 Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202 Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203 Episode 201 ~ Hari Persiapan
204 Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205 Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206 Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207 Episode 205 ~ Firasat Dhana
208 Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209 Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210 Episode 208 ~ Akad Nikah
211 Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212 Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213 Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214 Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215 Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216 Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217 Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218 Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219 Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220 Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221 Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222 Surat Cinta Author dan Dhina
223 Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224 Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225 Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226 Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227 Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228 Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229 Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230 Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231 Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232 Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233 Pengumuman Novel Baru
234 Pemberitahuan Novel Sekuel
235 Novel Sekuel Sudah Rilis
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Pengenalan Tokoh
2
Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3
Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4
Episode 3 ~ Rencana Ibu
5
Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6
Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7
Episode 6 ~ On The Way Puncak
8
Episode 7 ~ Mulai Aneh
9
Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10
Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11
Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12
Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13
Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14
Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15
Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16
Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17
Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18
Episode 17 ~ Kecewa
19
Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20
Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21
Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22
Episode 21 ~ Diganggu Preman
23
Episode 22 ~ Foundation
24
Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25
Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26
Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27
Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28
Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29
Episode 28 ~ Terpukul
30
Episode 29 ~ Hilang
31
Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32
Episode 31 ~ Minta Maaf
33
Episode 32 ~ Berjodoh?
34
Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35
Episode 34 ~ Boleh Pulang
36
Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37
Episode 36 ~ Memar Lagi
38
Episode 37 ~ Balas Dendam
39
Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40
Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41
Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42
Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43
Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44
Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45
Episode 44 ~ Berenang
46
Episode 45 ~ Tenggelam
47
Episode 46 ~ Incaran Pertama
48
Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49
Episode 48 ~ Introgasi
50
Episode 49 ~ Sepemikiran
51
Episode 50 ~ Demam Tinggi
52
Episode 51 ~ Ibu Murka
53
Episode 52 ~ Kejutan
54
Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55
Episode 54 ~ Topeng Hantu
56
Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57
Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58
Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59
Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60
Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61
Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62
Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63
Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64
Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65
Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66
Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67
Episode 66 ~ Kemoterapi
68
Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69
Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70
Episode 69 ~ Mencari Tau
71
Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72
Episode 71 ~ Botak Bersama
73
Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74
Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75
Episode 74 ~ Muntah-muntah
76
Episode 75 ~ Karyawati Baru
77
Episode 76 ~ Barang Bukti
78
Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79
Episode 78 ~ Orang Asing
80
Episode 79 ~ Merubah Rencana
81
Episode 80 ~ Gelisah
82
Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83
Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84
Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85
Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86
Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87
Episode 86 ~ Mata Sembap
88
Episode 87 ~ Penyelidikan
89
Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90
Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91
Episode 90 ~ Obat Asing
92
Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93
Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94
Episode 93 ~ Stadium Tiga
95
Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96
Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97
Episode 96 ~ Rakha???
98
Episode 97 ~ Janji Dhina
99
Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100
Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101
Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102
Episode 101 ~ Melepas Rindu
103
Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104
Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105
Episode 104 ~ Semakin Sakit
106
Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107
Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108
Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109
Episode 108 ~ Tidak Tega
110
Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111
Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112
Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113
Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114
Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115
Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116
Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117
Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118
Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119
Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120
Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121
Visual
122
Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123
Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124
Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125
Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126
Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127
Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128
Episode 126 ~ Tes Mendadak
129
Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130
Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131
Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132
Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133
Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134
Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135
Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136
Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137
Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138
Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139
Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140
Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141
Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142
Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143
Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144
Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145
Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146
Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147
Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148
Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149
Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150
Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151
Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152
Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153
Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154
Episode 152 ~ Kenangan Manis
155
Episode 153 ~ Tetap Waspada
156
Episode 154 ~ Dijodohkan???
157
Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158
Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159
Episode 157 ~ Malam Pengajian
160
Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161
Episode 159 ~ Bucin
162
Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163
Episode 161 ~ First Kiss
164
Episode 162 ~ Baru Menyadari
165
Episode 163 ~ Balapan
166
Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167
Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168
Episode 166 ~ Masalah Lama
169
Episode 167 ~ Berita Bahagia
170
Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171
Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172
Episode 170 ~ Labil
173
Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174
Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175
Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176
Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177
Episode 175 ~ Komplikasi
178
Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179
Episode 177 ~ Perang Bathin
180
Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181
Episode 179 ~ Cuci Darah
182
Episode 180 ~ Dasar Mesum
183
Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184
Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185
Episode 183 ~ Bukan Peduli
186
Episode 184 ~ Botol Minum
187
Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188
Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189
Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190
Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191
Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192
Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193
Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194
Episode 192 ~ Terhalang Restu
195
Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196
Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197
Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198
Episode 196 ~ Jambret Nakal
199
Episode 197 ~ Bertemu Umi
200
Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201
Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202
Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203
Episode 201 ~ Hari Persiapan
204
Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205
Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206
Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207
Episode 205 ~ Firasat Dhana
208
Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209
Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210
Episode 208 ~ Akad Nikah
211
Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212
Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213
Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214
Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215
Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216
Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217
Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218
Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219
Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220
Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221
Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222
Surat Cinta Author dan Dhina
223
Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224
Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225
Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226
Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227
Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228
Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229
Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230
Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231
Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232
Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233
Pengumuman Novel Baru
234
Pemberitahuan Novel Sekuel
235
Novel Sekuel Sudah Rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!