...🍀🍀🍀...
Dhina yang tadinya sedang menonton film, kini telah tertidur pulas. Dengan laptop yang masih dalam keadaan hidup. Tidak lama kemudian, Ammar pun sampai di rumah dan disusul juga oleh Dhana dengan motor besarnya dari arah belakang. Terdengar suara mobil dan motor yang datang bersamaan, Dhina pun terbangun dari tidurnya.
"Suara mobil dan motor siapa itu?"
Dhina yang baru bangun pun mengerjapkan dan mengucek matanya sambil melihat ke arah jam.
"Ini 'kan masih siang. Tidak mungkin Ayah, Ibu, Mas Ammar, Mas Sadha atau Mas Dhana sudah pulang kerja. Siapa ya yang datang itu?"
Dhina pun berusaha untuk sadar dari bangun tidurnya. Tapi saat ia ingin duduk, tiba-tiba kepalanya terasa berat dan sakit lagi. Di saat bersamaan Dhina merasakan ada sesuatu yang mengalir di hidungnya. Dengan segera Dhina berjalan ke kamar mandi untuk melihatnya. Setelah sampai di depan cermin, Dhina melihat ada darah segar lagi yang keluar dari hidungnya.
"Aku mimisan lagi."
Lalu Dhina kembali ke kamarnya untuk mengambil tisu. Saat berjalan menuju kamar, kepala Dhina yang dari tadi terasa sangat berat membuatnya susah untuk berjalan. Dhina pun tersimpuh di lantai dan darah di hidungnya masih saja mengalir.
"Ya Allah, kepalaku sakit sekali. Mimisanku juga tidak berhenti. Siapa yang datang ya?"
Dhina pun berusaha bangun dan berjalan menuju meja rias untuk mengambil tisu. Ia tetap berusaha walaupun sering terjatuh dan terjatuh lagi. Setelah selesai membersihkan darah di hidungnya, Dhina pun beranjak keluar karena ingin melihat siapa yang datang.
Saat sampai di luar, ternyata yang datang adalah Ammar dan Dhana. Melihat kedua masnya yang pulang, Dhina pun berniat masuk ke kamar lagi. Ia masih kesal karena mengingat sikap ketiga masnya itu tadi pagi. Saat Dhina ingin berbalik, kepalanya yang masih pusing membuatnya terjatuh lagi.
Bruk!
Ammar dan Dhana yang baru masuk ke dalam rumah pun mendengar ada suara benda yang terjatuh dari lantai atas. Ammar dan Dhana saling pandang terkejut. Lalu...
"Apa itu Mas? Sepertinya ada yang terjatuh di lantai atas?" ujar Dhana yang menepuk tangan Ammar karena terkejut.
"Mas juga tidak tau, Dhana." jawab Ammar dengan santai pada Dhana sambil melihat ke arah Dhana.
Saat mereka hendak berjalan menuju tangga, Ammar dan Dhana teringat sesuatu dan langsung saling pandang lagi.
"Adek..."
Saat teringat Dhina, Ammar dan Dhana pun langsung berlari menuju lantai atas. Saat mereka sampai di atas, mereka berdua melihat Dhina yang tersimpuh di lantai sambil memegangi kepalanya. Lalu mereka berdua langsung berlari mendekati Dhina.
"Adek... Adek kenapa?" tanya Ammar seraya memegangi Dhina yang terlihat sangat pucat.
"Iya, Dek. Adek kenapa? Kenapa bisa duduk di lantai seperti ini?" timpal Dhana yang membantu Ammar untuk membantu Dhina berdiri.
"Tidak apa-apa. Lepas!!! Adek ingin masuk kamar." jawab Dhina dengan ketus karena masih kesal dengan sikap Ammar dan Dhana tadi pagi.
"Biar Mas bantu, nanti jatuh lagi bagaimana?" ujar Ammar yang masih memegangi Dhina.
"Memang mas peduli? Lepas!!! Adek bisa sendiri." jawab Dhina yang suaranya tertahan karena menahan tangis.
"Adek kenapa? Mas sama Mas Ammar bantu masuk ke kamar ya?" timpal Dhana yang masih memegangi Dhina.
Saat Dhana berusaha memegang tangan adik kembarnya itu, Dhina pun memberontak dan langsung menepis kasar tangan keduanya. Sementara Dhana dan Ammar yang mendapat perlakuan itu langsung melepaskannya.
"Mas tanya Adek kenapa? Harusnya Mas tanya diri Mas sendiri. Kenapa sekarang kalian berdua peduli? Tadi pagi ke mana? Kalian lupa? Sekarang urus saja diri kalian sendiri. Jangan peduli lagi sama Adek!" hardik Dhina yang emosi karena teringat sikap Ammar, Sadha dan Dhana yang tidak mau bicara dengannya tadi pagi.
Dhina pun langsung berjalan masuk ke kamar dan menutup pintu kamar dengan keras. Ammar dan Dhana merasa heran dengan sikap Dhina. Lalu mencoba membujuk Dhina agar membuka pintu kamarnya.
"Adek buka pintunya. Mas belum selesai bicara. Adek kenapa?" sahut Ammar dari luar kamar Dhina seraya mengetuk pintu kamarnya.
"Adek kenapa ya Mas? Sepertinya kesal sekali sama kita. Tapi sepertinya tidak hanya kita berdua saja. Mas Sadha juga sepertinya. Tapi kenapa?" tanya Dhana yang masih belum ingat dengan sikapnya tadi pagi pada Dhina.
"Ya ampun, Mas lupa. Tadi pagi kita cuekin Adek, Dhana. Mungkin karena itu. Mas jadi merasa bersalah karena sudah cuekin dia tadi pagi." jawab Ammar sambil menyandarkan kepalanya di pintu kamar Dhina.
"Oh iya, Dhana baru ingat. Ya ampun, sebenarnya Dhana tidak ingin seperti tadi, Mas. Setelah Mas dan Mas Sadha pergi, Adek marah sama Dhana. Tapi Dhana malah cuekin dia. Ditambah lagi tadi kita sudah tau kondisi Adek sebenarnya. Jadi merasa bersalah juga nih, Mas." ujar Dhana sambil duduk di sofa lantai atas.
"Adek... Mas minta maaf karena sudah cuekin Adek tadi pagi. Mas menyesal. Mas minta maaf ya. Buka pintunya, Sayang." sahut Ammar lagi seraya mengusap pintu kamar Dhina.
"Mas juga minta maaf, Dek. Buka pintunya ya. Kita ingin bicara sesuatu. Penting!" pekik Dhana yang mengetuk pintu kamar Dhina.
Setelah lama Ammar dan Dhana membujuk Dhina. Namun tidak ada suara sama sekali dari dalam. Hal itu membuat Ammar dan Dhana menjadi cemas dan khawatir. Apalagi mengingat kondisi Dhina yang sedang sakit parah. Ammar pun meminta Dhana untuk melihat Dhina dari jendela balkon. Lalu...
"Tidak ada jawaban, Dhana. Mas jadi khawatir. Coba kamu lihat Adek dari jendela balkon." ujar Ammar pada Dhana.
Dhana pun langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Lalu membuka jendela kamar dan keluar dari sana. Dhana berjalan perlahan menuju jendela kamar Dhina dan melihat ke dalam. Saat Dhana melihat dari jendela, betapa terkejutnya Dhana yang melihat Dhina tersimpuh di dekat tempat tidurnya dengan bersimbah darah yang keluar dari hidungnya.
"Ya Allah... Adek..."
Dhana yang terkejut dan terpekik dari jendela balkon pun tidak terdengar oleh Dhina karena jendela kamar Dhina tidak terbuka.
"Adek bersimbah darah seperti itu dan dia masih berusaha menutupinya dariku dan Mas Ammar?"
Dhana pun masuk lagi ke kamarnya dan langsung keluar dari pintu. Dhana langsung berlari ke arah Ammar dan memberitahu keadaan Dhina di dalam kamar.
"Mas... Mas..." pekik Dhana yang terengah-engah karena terkejut dan berlari ke arah Ammar.
"Dhana... ada apa?" tanya Ammar yang ikut panik melihat ekspresi dan sikap Dhana.
"Adek, Mas. Adek... Adek mimisan di dalam." jawab Dhana yang masih terengah-engah dan matanya juga sudah mengeluarkan air mata.
"Apa???"
Ammar pun gelap mata saat mendengar informasi dari Dhana. Ia langsung mendorong pintu kamar Dhina dengan keras. Hanya butuh dua kali dorongan tubuh Ammar, pintu kamar Dhina akhirnya terbuka. Ammar dan Dhana langsung masuk dan melihat Dhina sudah tersimpuh dengan darah di telapak tangannya.
"Ya Allah... Adek!!! Dhana... ambilkan tisu di sana!!!" ujar Ammar pada Dhana.
Ammar langsung menghampiri dan menggendong Dhina ke atas tempat tidur. Lalu...
"Ini Mas." ucap Dhana dari arah belakang Ammar seraya memberikan kotak tisu.
"Mas bantu ya. Apa yang Adek rasakan saat ini?" ujar Ammar yang matanya berkaca-kaca karena melihat kondisi adik perempuannya itu.
"Adek tidak apa-apa. Mas kenapa memaksa sekali sih masuk ke kamar Adek?" jawab Dhina yang masih jengah pada keduanya.
"Adek... Mas Ammar itu bertanya baik. Kenapa dijawab seperti itu?" timpal Dhana yang duduk di samping Dhina seraya membantu Ammar membersihkan darah yang ada di tangan Dhina.
"Biar Adek sendiri yang membersihkannya! Lebih baik Mas Ammar dan Mas Dhana keluar saja! Adek sedang ingin sendiri!" serkas Dhina yang ketus dan membuat Ammar habis kesabaran.
"Adek kenapa sih? Adek tau, Mas khawatir! Lihat ini, darah semua dan Adek masih ingin bersembunyi lagi. Kenapa Dek? Apa Adek tidak menganggap Mas? Apa Mas ini bukan masnya Adek? Kenapa Adek tidak mau jujur pada Mas?" hardik Ammar yang mulai emosi dengan sikap Dhina.
"Mas pikir Adek mau seperti ini? Mas pikir Adek senang bersembunyi seperti ini dari kalian? Tidak Mas, tidak!" jawab Dhina yang sudah menangis sambil memegangi kepalanya yang masih sakit.
"Kita bertiga kecewa, Dek. Kecewa sama Adek karena Adek sudah membohongi kita. Adek membohongi Mas Sadha. Adek juga membohongi Mas. Sekarang Adek ingin berbohong apa lagi?" timpal Dhana yang juga ikut emosi dengan sikap Dhina.
"Apa salahnya untuk jujur Dek? Keadaan Adek seperti ini tidak bisa disembunyikan. Kenapa Adek tidak jujur pada Mas, Sadha atau Dhana? Kenapa Dek?" ujar Ammar yang berusaha menahan emosinya karena melihat Dhina menangis.
"Adek dengar!!! Kita sayang sekali sama Adek. Adek itu seperti penerang di hidup kita bertiga. Hidup Mas, Mas Ammar dan juga Mas Sadha. Bahkan penerang hidup Ayah dan Ibu juga. Kita tidak ingin terjadi sesuatu sama Adek. Kalau Adek tertutup seperti ini, Mas ataupun Mas Ammar juga tidak bisa berbuat apa-apa." tutur Dhana sambil meraih tangan Dhina.
Tangis Dhina pun pecah saat mendengar perkataan Dhana. Disatu sisi, Dhina masih kesal dengan sikap ketiga masnya itu. Tapi disisi lain, Dhina juga merasa bersalah karena sudah bersikap tidak baik pada Ammar dan Dhana. Lalu...
Sebenarnya aku masih kesal dengan Mas Ammar, Mas Sadha dan Mas Dhana. Mereka cuekin aku tadi pagi. Tapi mereka seperti itu juga karena aku. Aku berbohong dan menyembunyikan semua ini dari mereka. Padahal aku sendiri tidak kuat menahan rasa sakit di kepalaku. Gumam Dhina dalam hati.
"Adek... Adek kenapa menangis? Sudah, sudah! Adek tidak usah menangis lagi seperti ini ya. Cup...cup...cup." ujar Dhana seraya memeluk Dhina yang menangis.
"Adek minta maaf ya, Mas. Adek sudah bohong dan berusaha menyembunyikan hal ini dari Mas semua. Adek melakukan semua ini karena Adek tidak ingin kalian semua khawatir dan cemas." jawab Dhina yang masih menangis dalam pelukan Dhana.
"Hei, hei, sudah jangan menangis lagi ya. Mas sama Mas Ammar juga ingin minta maaf karena sudah cuekin Adek tadi pagi." ujar Dhana yang melepaskan pelukannya dan mengusap air mata adik kembarnya itu.
"Adek minta maaf ya, Mas. Tidak seharusnya Adek bersikap seperti tadi pada Mas Ammar dan Mas Dhana." ujar Dhina seraya meraih tangan Ammar dan Dhana.
"Mas akan memaafkan Adek, tapi dengan satu syarat?" jawab Ammar yang memegang wajah Dhina.
"Syarat? Syarat apa Mas?" tanya Dhina yang heran dan penasaran.
"Syaratnya, Adek harus janji tidak boleh tertutup lagi sama Mas, Sadha, Dhana, Ayah ataupun Ibu. Apapun yang terjadi, Adek harus katakan pada kita semua, termasuk kejadian seperti tadi. Janji?" jawab Ammar pada Dhina sambil mengarahkan jari kelingkingnya.
"Iya Mas. Adek janji tidak akan tertutup lagi. Adek minta maaf ya. Jangan cuekin Adek lagi." ujar Dhina seraya mengikatkan kelingkingnya ke kelingking Ammar.
"Iya, iya. Adek jangan menangis lagi ya. Sekarang apa yang Adek rasakan? Kenapa Adek bisa tersimpuh di lantai seperti tadi?" tanya Dhana seraya mengusap kepala Dhina.
"Kepala Adek pusing dan berat sekali, Mas. Adek berusaha jalan, tapi rasanya seperti berputar." jawab Dhina seraya memegangi kepalanya yang masih sakit.
Ammar dan Dhana saling pandang saat melihat Dhina kesakitan seperti itu. Mereka mengerti dan sudah mengetahui apa yang terjadi pada adik perempuan mereka. Orang yang sakit kanker memang sering sakit kepala, mimisan bahkan pingsan. Dengan berhati-hati, Ammar mencoba memberikan obat yang tadi ia bawa dari rumah sakit pada Dhina. Ammar dan Dhana juga harus bersiap jika Dhina bertanya tentang obat itu tanpa membuat Dhina curiga untuk saat ini.
"Mungkin karena Adek terlalu kelelahan, makanya kepala Adek pusing dan berat bahkan mimisan. Ini Mas ada vitamin untuk Adek agar Adek tidak pusing dan mimisan lagi." ujar Ammar yang memberikan obat lengkap pada Dhina.
"Ini vitamin apa Mas? Vitamin, tapi kok banyak sekali?" tanya Dhina yang mengambil bungkus obat itu dari Ammar.
"Itu vitamin sekaligus penghilang rasa sakit di kepala Adek. Untuk sementara ini, Adek harus rutin minum itu. Biar tidak mudah lelah, pusing dan mimisan lagi." jawab Dhana dengan asal dan berusaha tenang agar Dhina tidak curiga.
"Oh begitu. Oke, Adek akan minum semuanya. Terima kasih banyak ya, Mas. Adek sayang sekali sama Mas." ujar Dhina tanpa merasa curiga pada Ammar sambil memeluk kedua masnya itu.
"Mas juga sayang sekali sama Adek. Cepat sembuh ya, Sayang." jawab Ammar yang memeluk Dhina erat dan membuatnya meneteskan air mata lagi.
"Mas juga sayang sekali sama Adek kembarnya Mas." timpal Dhana yang memeluk Dhina erat dengan mata yang berkaca-kaca.
Perang dingin diantara Ammar, Dhana dengan Dhina telah selesai. Tinggal Sadha dengan Dhina saja yang belum bertemu untuk saling meminta maaf. Ammar dan Dhana lega setelah memberikan obat, Dhina tidak curiga pada mereka sedikit pun. Tapi Ammar juga sedang berusaha mencari waktu yang tepat untuk memberitahu Dhina tentang penyakitnya saat ini.
***
Hari pun semakin siang. Setelah Dhina minum obat yang Ammar berikan, membuatnya tertidur sangat pulas. Ammar dan Dhana pun memilih pergi ke kamar mereka masing-masing untuk istirahat dan mandi. Tidak lama kemudian, mereka pun ikut tertidur di kamar mereka. Rasa lelah tidak dapat dihindari setelah mengetahui kenyataan bahwa kondisi Dhina saat ini sedang sakit parah.
Saat Ammar, Dhana dan Dhina tidur dikamar mereka, Pak Aidi dan Bu Aini pun pulang. Lalu mereka langsung masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum." ucap Pak Aidi yang masuk ke dalam rumah namun tidak ada jawaban.
"Sepertinya Adek sedang tidur, Yah." ujar Bu Aini seraya menutup pintu dan berjalan ke arah Pak Aidi.
Pak Aidi dan Bu Aini yang mendapati rumah yang sepi saat pulang, mengira Dhina yang hanya sendiri di rumah, sedang tidur siang di kamar. Lalu saat Pak Aidi dan Bu Aini berjalan menuju kamar mereka, Bi Iyah datang menghampiri mereka.
"Bapak dan Ibu sudah pulang?" sapa Bi Iyah pada kedua majikannya itu.
"Iya, sudah Bi. Oh iya, Adek di mana Bi?" tanya Bu Aini pada Bi Iyah.
"Non Adek sedang tidur di kamarnya, Bu." jawab Bi Iyah pada Bu Aini.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Apa tadi Adek ada keluar rumah Bi?" tanya Bu Aini lagi pada Bi Iyah yang sedang mengambilkan air minum.
"Tidak, Bu. Non Adek hanya di kamar saja dari tadi. Den Ammar dan Den Dhana juga sudah pulang, Bu." jawab Bi Iyah seraya memberikan minuman pada kedua majikannya itu.
"Sejak kapan Ammar dan Dhana pulang, Bi?" tanya Pak Aidi seraya meminum air yang diberikan Bi Iyah.
"Belum lama ini, Pak. Mereka juga sedang istirahat di kamarnya." jelas Bi Iyah pada Pak Aidi.
"Oh begitu ya, ya sudah Bi. Terima kasih informasinya ya." ujar Pak Aidi pada Bi Iyah.
"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya ke belakang dulu ya, Pak, Bu. Permisi." jawab Bi Iyah yang pamit ke belakang pada Pak Aidi dan Bu Aini.
"Kita istirahat juga ya, Bu. Ayah capek sekali hari ini, tadi habis rapat untuk acara besok." ujar Pak Aidi yang beranjak lalu berjalan menuju kamar.
"Iya, Yah. Ibu ingin ke atas dulu sebentar, ingin melihat anak-anak. Nanti Ibu menyusul." jawab Bu Aini yang berjalan menuju lantai atas.
Bu Aini pun melihat anak-anaknya satu per satu. Benar yang dikatakan oleh Bi Iyah, mereka semua sedang tertidur pulas.
Saat melihat Dhina di kamarnya, entah kenapa Bu Aini mempunyai perasaan yang tidak enak terhadap putri bungsunya itu. Perasaan itu muncul saat ia sedang bekerja tadi. Bu Aini merasakan ada sesuatu yang buruk akan menimpa putrinya. Tapi saat melihat Dhina tertidur pulas, Bu Aini pun menepis rasa gelisah di hatinya itu. Ia berusaha meyakinkan diri kalau putrinya baik-baik saja. Setelah puas melihat dan membelai wajah putrinya, Bu Aini pun beranjak lalu pergi ke kamarnya untuk menemui Pak Aidi dan ikut istirahat.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
coni
plis Dhina kamu yang mulai buat mereka cemas karena gak jujur, Mas mas tuh sayang banget sama kamu🤧🤧🤧🤧🤧 Ibu juga Balum kamu kasih tahu. tapi dia udah punya firasat gak baik tentang kamu. mulai sekarang jangan bohong²an lagi oke🥺🥺🥺🥺🥺
2021-06-14
1
Little Peony
Semangat selalu Thor ✨✨✨✨✨✨
2021-05-23
1
Nofi Kahza
ya ampun dhina..kenapa kamu gk jujur aja..tindakanmu itu salah loh😩😩
2021-03-13
1