...🍁🍁🍁...
Jam empat lewat tiga puluh pagi dan waktu subuh pun sudah masuk. Pak Aidi dan Bu Aini yang sudah bangun pun ingin bersiap untuk salat subuh berjama'ah.
"Ibu... sepertinya anak-anak belum bangun. Lebih baik Ibu ketuk pintu kamar mereka dulu, biar tidak kesiangan subuhnya." ucap Pak Aidi yang menyuruh Bu Aini mengetuk pintu kamar anak-anaknya.
"Tunggu sebentar ya. Ibu bangunka anak-anak dulu. Biar bisa salat berjama'ah." jawab Bu Aini lalu berjalan keluar kamar dan dibalas anggukan oleh Pak Aidi.
Saat Bu Aini berjalan menuju ke lantai atas, Bu Aini berpapasan dengan Sadha dan Dhana yang sudah mandi dan siap untuk salat subuh.
"Ibu... Ibu mau kemana?" sapa Sadha dan menghampiri sang ibu yang masih di tangga bawah.
"Ibu mau membangunkan kalian karena kalian belum kelihatan. Jadi Ayah minta Ibu untuk melihat kalian ke kamar." jelas Bu Aini pada kedua putranya itu yang masih berdiri di tangga.
"Kita tadi mandi dulu, Bu. Ini kita sudah rapih." ucap Sadha pada ibunya sambil melihat ke Dhana.
"Tapi Ammar dan Adek kalian di mana?" tanya Bu Aini seraya melihat ke belakang Sadha dan Dhana.
Ketika Bu Aini, Sadha dan Dhana masih berada di tangga. Tak lama kemudian, Ammar pun muncul karena ia juga ingin salat subuh berjama'ah bersama ayah dan ibunya.
"Ibu, Sadha dan Dhana... sedang apa di sini?" ujar Ammar yang baru dan ingin turun namun mendapati ibu dan kedua adiknya berada di tangga.
"Ibu disuruh Ayah untuk membangunkan kalian. Ibu kira kalian masih tidur. Ayo, kita ke mushallah." jawab Bu Aini yang hendak turun.
Saat Bu Aini memutar tubuhnya tiba-tiba ibu empat anak itu teringat dengan sesuatu dan membuatnya terhenti.
"Tunggu... Adek kalian belum bangun?" tanya Bu Aini pada putra-putranya.
"Sepertinya begitu, Bu. Tadi Dhana sudah sempat mengetuk pintu kamar Adek. Tapi Adek tidak menjawab. Jadi Dhana duluan saja dengan Mas Sadha." jelas Dhana pada ibunya.
"Ya sudah, kalian duluan saja. Ibu ingin melihat Adek kalian dulu. Ajak saja Ayah kalian salat berjama'ah duluan. Nanti biar Ibu salat sama Adek. Takutnya Ayah kalian menunggu lama." ceroteh Bu Aini pada putra-putranya seraya berjalan menuju kamar Dhina.
"Iya, Bu." jawab Ammar, Sadha dan Dhana serentak lalu berjalan menuruni tangga.
Saat sampai di depan kamar putrinya, Bu Aini pun mencoba mengetuk pintu kamar putrinya itu.
Tok... Tok... Tok...
Tok... Tok... Tok...
Sudah dua kali Bu Aini mengetuk pintu kamar putri bungsunya, tapi tidak ada jawaban. Tidak seperti biasanya Dhina susah bangun tidur seperti hari ini. Biasanya gadis itu selalu bangun lebih awal dari ketiga masnya. Karena penasaran, Bu Aini pun memilih langsung masuk ke kamar Dhina. Benar saja, Dhina masih terlelap dengan balutan selimut tebal di tubuhnya.
Perlahan Bu Aini pun masuk dan menghampiri Dhina. Lalu ia duduk di tepi tempat tidur Dhina dan membelai rambut hitam putri bungsunya itu.
"Sayang... bangun Nak. Sudah subuh."
Dengan sayang Bu Aini mengelus lembut kepala dan wajah sang putri yang masih terlelap.
"Kita harus siap-siap pergi liburan." ujar Bu Aini seraya mengecup hangat kening putrinya itu.
Mendengar suara lembut itu membuat Dhina akhirnya terbangun.
"Ibu..." ujar Dhina seraya mengerjap.
"Ayo bangun, Nak. Tidak biasanya anak gadis Ibu bangun telat untuk subuh. Biasanya selalu bangun duluan. Kenapa Nak? Adek begadang ya?" ujar sang ibu yang membuat Dhina teringat dengan kejadian tadi malam.
"T-tidak Bu. Adek tidur jam sepuluh tadi malam. Setelah Mas Ammar, Mas Sadha dan Mas Dhana selesai main, Adek langsung tidur." jawab Dhina gugup yang berusaha tenang.
Dhina terpaksa harus berbohong karena ia tidak ingin sang ibu mengetahui apa yang terjadi pada dirinya tadi malam.
"Ya sudah, kalau begitu Adek mandi dulu lalu salat. Ayah dan yang lainnya mungkin sudah selesai salat berjama'ah. Ibu ke bawah dulu ya, Sayang. Ibu mau salat dulu lalu menyiapkan sarapan." ujar Bu Aini sambil mengusap pipi Dhina dan mencium keningnya sebelum pergi.
Setelah Bu Aini keluar, Dhina menghela nafas lega karena sang ibu tidak mencurigai penjelasannya tadi. Kini kepala Dhina yang terasa sakit tadi malam sudah hilang. Lalu ia segera beranjak dari kasur dan langsung masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Dhina langsung salat dan membereskan kamarnya. Kemudian Dhina berniat ingin turun ke bawah untuk membantu Bu Aini dan Bi Iyah menyiapkan sarapan.
***
Di ruang keluarga sudah terlihat Pak Aidi, Ammar, Sadha dan Dhana yang sedang menunggu sarapan pagi terhidang. Sadha yang duduk dan melihat ke arah tangga, melihat sosok adik perempuannya yang sedang berjalan menuruni tangga. Lalu ia menyapanya.
"Pagi Nona cantik yang sedang menuruni tangga. Kenapa bangun telat?" sapa Sadha yang menggoda adik perempuannya itu.
Mendengar suara bariton Sadha yang menyapa Dhina, membuat semua mata tertuju ke arah Dhina. Sementara Dhina yang mendengar itu langsung menoleh ke arah ruang keluarga dan mendapati ayah dan ketiga masnya berada di sana.
"Mentang-mentang Mas Sadha bangun lebih awal, sudah berani mengejek Adek ya. Baru juga hari ini Mas bangun lebih pagi dari Adek." ujar Dhina yang meledek Sadha dengan menjulurkan lidahnya dan berjalan menuju dapur.
"Kamu itu ya Sadha, suka sekali mengganggu Adek kamu." ujar Pak Aidi sambil mencubit sedikit paha Sadha.
"Sakit Ayah! Kalau tidak menganggu Adek satu hari, tidak asyik Yah." jawab Sadha seraya mengusap bekas cubitan ayahnya.
Melihat tingkah putra keduanya itu membuat Pak Aidi hanya menggelengkan kepala. Di ruang makan, Bu Aini, Bi Iyah dan Dhina sudah selesai menata meja makan untuk sarapan. Setelah itu, Dhina memanggil ayah dan mas-masnya untuk segera ke ruang makan.
"Ayah, Mas Ammar, Mas Sadha, Mas Dhana... Ayo makan! Sarapan sudah siap." ujar Dhina yang berlari kecil dari dapur menuju ruang keluarga.
"Ayo semua, habis ini kita langsung berangkat." timpal Pak Aidi pada anak-anaknya seraya berjalan menuju meja makan.
Sadha yang berjalan di belakang Pak Aidi, tiba-tiba merangkul bahu Dhina dari belakang dan membuat adik perempuannya itu menjadi terkejut.
"Mas Sadha membuat Adek kaget saja." ujar Dhina yang mencubit pinggang Sadha karena tingkah usilnya itu.
"Maaf Dek, tiba-tiba saja Mas kangen sama Adek. Padahal tadi malam 'kan kita bertemu sebelum tidur." jawab Sadha yang merangkul bahu sang adik.
Mendengar perkataan Sadha membuat Dhina spontan untuk meraba kening Sadha dan memastikan apakah masnya itu sedang tidak bermimpi atau demam.
"Mas Sadha lagi mimpi? Atau Mas salah makan ya? Penyakit Mas Sadha kambuh lagi nih, Mas." ujar Dhina seraya meraba kening Sadha lalu menoleh ke arah Ammar.
"Nanti kita bawa dia ke rumah sakit jiwa, Dek. Biar sehat penyakitnya." jawab Ammar yang tertawa sambil menggoda Sadha.
"Masa rumah sakit jiwa sih. Sadha tidak gila, Mas." ujar Sadha yang masih berjalan sambil merangkul Dhina.
Dhina yang mendengar perkataan Sadha pun hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Sampai di meja makan, Sadha memperlakukan Dhina seperti ratu. Mengeluarkan kursi dan mempersilakan adik perempuannya itu duduk. Dhina merasa aneh dengan tingkah Sadha pagi ini karena jarang sekali Sadha bersikap seperti itu.
Semua yang ada di meja makan tidak merasa heran dengan sikap Sadha karena mereka semua tau, kalau Sadha sangat menyayangi Dhina. Hanya saja, karena sifat Sadha yang dingin dan terkesan cuek membuat ia jarang melakukan hal-hal kecil seperti itu. Setelah melayani Dhina seperti ratu, Sadha pun akhirnya duduk di kursinya. Kemudian mereka pun sarapan bersama sebelum berangkat ke puncak.
Mereka pun selesai sarapan dan sedang bersiap-siap untuk pergi ke puncak. Mereka pergi menggunakan mobil Ammar. Sebelum berangkat, Ammar yang sudah mendapat izin dari Bu Aini, untuk mengajak teman dekatnya pun menghubungi temannya itu.
"Hallo, assalamualaikum. Kita semua sudah siap, sebentar lagi aku jemput kamu ya." ucap Ammar yang menghubungi teman dekatnya itu.
"Wa'alaikumsalam.. Oke, aku sudah siap. Aku tunggu kamu ya." jawab teman dekat Ammar dari sana.
Ammar pun menutup telponnya. Lalu ingin kembali masuk ke dalam untuk memanggil kedua orang tua dan adik-adiknya. Tapi saat berjalan masuk, Ammar terkejut dengan keberadaan Dhana yang berdiri di dekat mobil dan tidak sengaja mendengar Ammar sedang menelpon. Dhana yang memergoki Ammar menelpon secara diam-diam pun langsung menggoda mas sulungnya itu.
"Kenapa menelpon harus bersembunyi Mas? Sedang menelpon pacarnya ya. Asyik ada yang tidak jomblo lagi." ujar Dhana yang tertawa melihat Ammar.
"Apaan sih, Dhana. Mas menelpon teman Mas yang ingin ikut bersama kita ke puncak. Suruh siap-siap, karena kita mau berangkat." jawab Ammar yang gugup karena tercyduk oleh adik kembarnya itu.
"Teman atau pacar? Tidak usah main rahasia Mas sama Dhana. Dari ekspresi wajah Mas saja Dhana sudah tau." ujar Dhana yang masih iseng menggoda Ammar.
"Kepo kamu, Dik. Sudahlah! Yang lain di mana? Sudah jam setengah enam. Nanti kita keburu terjebak macet kalau terlalu lama." ujar Ammar yang melihat ke belakang Dhana untuk mencari keberadaan yang lain.
Tidak lama kemudian, Pak Aidi dan yang lainnya pun muncul. Ditemani Bi Iyah yang ingin melihat keberangkatan keluarga Pak Aidi ke puncak.
"Bi... titip rumah ya. Kemungkinan kita sampai rumah tengah malam. Jadi kalau Bi Iyah lagi istirahat, pintunya di kunci ya, Bi." ucap Bu Aini pada Bi Iyah.
"Baik, Bu. Ibu dan Bapak hati-hati di jalan ya." jawab Bi Iyah.
"Iya, Bi. Terima kasih ya. Assalamualaikum." ucap Bu Aini dan langsung masuk ke mobil Ammar.
Setelah semua masuk ke mobil, Ammar yang mengemudi sudah bersiap untuk melajukan mobilnya. Pak Aidi yang duduk di samping Ammar juga sudah siap. Begitu juga dengan Bu Aini yang duduk di bangku tengah bersama Dhina. Untuk sementara Dhina duduk bersama ibunya di bangku tengah. Setelah teman dekat Ammar naik, maka Dhina akan pindah ke kursi belakang bersama Sadha dan Dhana.
Jarak rumah Ammar dengan teman dekatnya itu tidak terlalu jauh. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke sana. Berselang waktu setengah jam, akhirnya mereka pun sampai juga di rumah teman dekat Ammar.
Kemudian Ammar turun dan masuk ke dalam rumah teman dekatnya, untuk berpamitan dan minta izin kepada orang tuanya. Setelah selesai minta izin, Ammar dan teman dekatnya pun menuju mobil. Ammar membukakan pintu untuk temannya. Lalu teman Ammar duduk bersama Bu Aini di bangku tengah.
Sebelum memulai perjalanan, Ammar terlebih dahulu memperkenalkan teman dekatnya itu pada keluarganya.
"Ayah, Ibu, Sadha, kembar... kenalkan, ini teman dekat dan sahabat Mas. Namanya Bella tapi sering dipanggil Ibel." ujar Ammar yang duduk di depan sambil memutar tubuhnya hingga bisa melihat ke depan dan belakang.
Bella... lebih tepatnya Bella Indriyani atau sering dipanggil dengan Ibel. Bella adalah seorang wanita cantik memakai hijab dan juga seorang dokter di rumah sakit yang sama dengan Ammar. Ibel adalah rekan, teman, dan sahabat Ammar dari sejak awal masuk kuliah sampai sekarang.
Mereka tidak pacaran namun dekat seperti sahabat. Tapi tidak ada persahabatan yang murni di antara pria dan wanita. Salah satu di antaranya pasti memiliki rasa yang melebihi dari seorang sahabat. Hal itu tidak ada yang tau selain Ammar dan Ibel. Ibel adalah anak pertama di keluarganya dan kini mereka menetap di Jakarta. Sekilas tentang Ibel.
Setelah Ammar memperkenalkan Ibel, lalu Ibel pun memberanikan diri untuk memperkenalkan dirinya sendiri agar bisa menjalin kedekatan dengan keluarga Ammar.
"Assalamualaikum, Om, Tante.. saya Bella, panggil saja Ibel karena lebih akrab dipanggil seperti itu." sapa Ibel yang malu menatap Bu Aini dan Pak Aidi.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Kamu cantik sekali. Tidak salah ya Ammar memilih calon istri. Sudah cantik, dokter juga lagi." jawab Bu Aini yang memuji Ibel.
Ibel pun tersipu malu saat mendengar pujian Bu Aini. Sementara Ammar yang ikut mendengar itu pun terkejut karena ibunya mengira bahwa Ibel adalah calon istrinya.
Lalu Ammar memperkenalkan Ibel pada ketiga adiknya.
"Ibel... yang bertiga di belakang itu adikku. Nama mereka Sadha, Dhina dan Dhana." ujar Ammar yang melihat kaca mobil agar wajah adik-adiknya terlihat.
"Oh, jadi ini ketiga adik kamu yang sering kamu bilang itu, Mas." jawab Ibel yang memanggil Ammar dengan sebutan 'mas'.
Mendengar perkataan Ibel berhasil memancing perhatian Dhina dan membuatnya merasa kalau memang ada sesuatu di antara Ammar dan Ibel. Namun mereka masih malu untuk mengungkapkan.
"Iya, ayo adik-adik perkenalkan diri kalian. Jangan diam saja sejak tadi." ujar Ammar yang mengemudi mobil sambil memanggil adik-adiknya.
"Santai saja, Mas. Kenalkan Kak, aku Sadha. Aku adik tengahnya Mas Ammar." jawab Sadha sambil menyalami Ibel yang ia anggap seperti calon kakak ipar.
"Aku Dhina, Kak. Aku adik bungsunya Mas Ammar." timpal Dhina yang heran dengan wajah Ibel yang tidak asing baginya.
"Aku Dhana, Kak. Kakak kembarnya Dhina dan adik tengah atau adik bungsunya Mas Ammar." ujar Dhana yang melakukan hal yang sama dengan Sadha.
"Adik bungsu itu hanya Adek, Mas. Mas Dhana adik tengah sama seperti Mas Sadha." timpal Dhina yang tidak rela kalau Dhana mengaku sebagai adik bungsu Ammar.
"Kita kembar, Dek. Jadi kita sama-sama bungsu. Lagi pula kita hanya beda sepuluh menit saja." jawab Dhana yang jadi ikutan sewot pada Dhina.
"Mas Dhana itu lebih tua sepuluh menit dari Adek, artinya Mas Dhana bukan bungsu. Hanya Adek yang bungsu di sini." ujar Dhina dengan wajah cemberutnya yang membuat Ibel merasa gemas.
"Sudah, sudah! Kalian ini tidak di mobil, tidak di rumah selalu saja bertengkar." ujar Bu Aini yang melihat anak-anaknya ribut.
Pak Aidi, Ammar, Sadha dan Ibel yang melihat keributan sikembar dengan Bu Aini pun tertawa bersama karena melihat tingkah lucu sikembar yang berebut posisi jadi anak bungsu. Tak terasa, akhirnya Ibel berhasil akrab dengan keluarga Ammar. Selama di perjalanan, mereka saling mengobrol satu sama lain.
Dhina yang sejak tadi merasa tidak asing dengan wajah Ibel masih berusaha mengingat kalau dirinya pernah bertemu dengan Ibel. Lalu Dhina memilih untuk mengingat itu nanti setelah sampai di puncak. Kini Dhina sudah terlelap dengan menyandarkan kepalanya di bahu Sadha karena lelah bercanda gurau dan lama di perjalanan, akhirnya penghuni bangku belakang sudah terlelap semuanya.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
coni
rebutan jadi adik bungsu😂😂 Adek bungsunya mas Dhana, udah mas ngalah aja gak akan menang kalo sama adek😂😂
2021-04-21
1
Fira Ummu Arfi
ayokkkkkk kak saling dukung
salam ASIYAH AKHIR ZAMAN
2021-04-12
0
Nofi Kahza
hahaha..ngakak. posisi bungsu jd rebutan🤣 dhana udah kamu ngalah deh. meski cm 10 menit. tetep aja kamu lebih tua 10 menit🤣🤣
dhina..kamu hrs baik2 saja..🥺
2021-03-07
1