Episode 6 ~ On The Way Puncak

...🍁🍁🍁...

Jam empat lewat tiga puluh pagi dan waktu subuh pun sudah masuk. Pak Aidi dan Bu Aini yang sudah bangun pun ingin bersiap untuk salat subuh berjama'ah.

"Ibu... sepertinya anak-anak belum bangun. Lebih baik Ibu ketuk pintu kamar mereka dulu, biar tidak kesiangan subuhnya." ucap Pak Aidi yang menyuruh Bu Aini mengetuk pintu kamar anak-anaknya.

"Tunggu sebentar ya. Ibu bangunka anak-anak dulu. Biar bisa salat berjama'ah." jawab Bu Aini lalu berjalan keluar kamar dan dibalas anggukan oleh Pak Aidi.

Saat Bu Aini berjalan menuju ke lantai atas, Bu Aini berpapasan dengan Sadha dan Dhana yang sudah mandi dan siap untuk salat subuh.

"Ibu... Ibu mau kemana?" sapa Sadha dan menghampiri sang ibu yang masih di tangga bawah.

"Ibu mau membangunkan kalian karena kalian belum kelihatan. Jadi Ayah minta Ibu untuk melihat kalian ke kamar." jelas Bu Aini pada kedua putranya itu yang masih berdiri di tangga.

"Kita tadi mandi dulu, Bu. Ini kita sudah rapih." ucap Sadha pada ibunya sambil melihat ke Dhana.

"Tapi Ammar dan Adek kalian di mana?" tanya Bu Aini seraya melihat ke belakang Sadha dan Dhana.

Ketika Bu Aini, Sadha dan Dhana masih berada di tangga. Tak lama kemudian, Ammar pun muncul karena ia juga ingin salat subuh berjama'ah bersama ayah dan ibunya.

"Ibu, Sadha dan Dhana... sedang apa di sini?" ujar Ammar yang baru dan ingin turun namun mendapati ibu dan kedua adiknya berada di tangga.

"Ibu disuruh Ayah untuk membangunkan kalian. Ibu kira kalian masih tidur. Ayo, kita ke mushallah." jawab Bu Aini yang hendak turun.

Saat Bu Aini memutar tubuhnya tiba-tiba ibu empat anak itu teringat dengan sesuatu dan membuatnya terhenti.

"Tunggu... Adek kalian belum bangun?" tanya Bu Aini pada putra-putranya.

"Sepertinya begitu, Bu. Tadi Dhana sudah sempat mengetuk pintu kamar Adek. Tapi Adek tidak menjawab. Jadi Dhana duluan saja dengan Mas Sadha." jelas Dhana pada ibunya.

"Ya sudah, kalian duluan saja. Ibu ingin melihat Adek kalian dulu. Ajak saja Ayah kalian salat berjama'ah duluan. Nanti biar Ibu salat sama Adek. Takutnya Ayah kalian menunggu lama." ceroteh Bu Aini pada putra-putranya seraya berjalan menuju kamar Dhina.

"Iya, Bu." jawab Ammar, Sadha dan Dhana serentak lalu berjalan menuruni tangga.

Saat sampai di depan kamar putrinya, Bu Aini pun mencoba mengetuk pintu kamar putrinya itu.

Tok... Tok... Tok...

Tok... Tok... Tok...

Sudah dua kali Bu Aini mengetuk pintu kamar putri bungsunya, tapi tidak ada jawaban. Tidak seperti biasanya Dhina susah bangun tidur seperti hari ini. Biasanya gadis itu selalu bangun lebih awal dari ketiga masnya. Karena penasaran, Bu Aini pun memilih langsung masuk ke kamar Dhina. Benar saja, Dhina masih terlelap dengan balutan selimut tebal di tubuhnya.

Perlahan Bu Aini pun masuk dan menghampiri Dhina. Lalu ia duduk di tepi tempat tidur Dhina dan membelai rambut hitam putri bungsunya itu.

"Sayang... bangun Nak. Sudah subuh."

Dengan sayang Bu Aini mengelus lembut kepala dan wajah sang putri yang masih terlelap.

"Kita harus siap-siap pergi liburan." ujar Bu Aini seraya mengecup hangat kening putrinya itu.

Mendengar suara lembut itu membuat Dhina akhirnya terbangun.

"Ibu..." ujar Dhina seraya mengerjap.

"Ayo bangun, Nak. Tidak biasanya anak gadis Ibu bangun telat untuk subuh. Biasanya selalu bangun duluan. Kenapa Nak? Adek begadang ya?" ujar sang ibu yang membuat Dhina teringat dengan kejadian tadi malam.

"T-tidak Bu. Adek tidur jam sepuluh tadi malam. Setelah Mas Ammar, Mas Sadha dan Mas Dhana selesai main, Adek langsung tidur." jawab Dhina gugup yang berusaha tenang.

Dhina terpaksa harus berbohong karena ia tidak ingin sang ibu mengetahui apa yang terjadi pada dirinya tadi malam.

"Ya sudah, kalau begitu Adek mandi dulu lalu salat. Ayah dan yang lainnya mungkin sudah selesai salat berjama'ah. Ibu ke bawah dulu ya, Sayang. Ibu mau salat dulu lalu menyiapkan sarapan." ujar Bu Aini sambil mengusap pipi Dhina dan mencium keningnya sebelum pergi.

Setelah Bu Aini keluar, Dhina menghela nafas lega karena sang ibu tidak mencurigai penjelasannya tadi. Kini kepala Dhina yang terasa sakit tadi malam sudah hilang. Lalu ia segera beranjak dari kasur dan langsung masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Dhina langsung salat dan membereskan kamarnya. Kemudian Dhina berniat ingin turun ke bawah untuk membantu Bu Aini dan Bi Iyah menyiapkan sarapan.

***

Di ruang keluarga sudah terlihat Pak Aidi, Ammar, Sadha dan Dhana yang sedang menunggu sarapan pagi terhidang. Sadha yang duduk dan melihat ke arah tangga, melihat sosok adik perempuannya yang sedang berjalan menuruni tangga. Lalu ia menyapanya.

"Pagi Nona cantik yang sedang menuruni tangga. Kenapa bangun telat?" sapa Sadha yang menggoda adik perempuannya itu.

Mendengar suara bariton Sadha yang menyapa Dhina, membuat semua mata tertuju ke arah Dhina. Sementara Dhina yang mendengar itu langsung menoleh ke arah ruang keluarga dan mendapati ayah dan ketiga masnya berada di sana.

"Mentang-mentang Mas Sadha bangun lebih awal, sudah berani mengejek Adek ya. Baru juga hari ini Mas bangun lebih pagi dari Adek." ujar Dhina yang meledek Sadha dengan menjulurkan lidahnya dan berjalan menuju dapur.

"Kamu itu ya Sadha, suka sekali mengganggu Adek kamu." ujar Pak Aidi sambil mencubit sedikit paha Sadha.

"Sakit Ayah! Kalau tidak menganggu Adek satu hari, tidak asyik Yah." jawab Sadha seraya mengusap bekas cubitan ayahnya.

Melihat tingkah putra keduanya itu membuat Pak Aidi hanya menggelengkan kepala. Di ruang makan, Bu Aini, Bi Iyah dan Dhina sudah selesai menata meja makan untuk sarapan. Setelah itu, Dhina memanggil ayah dan mas-masnya untuk segera ke ruang makan.

"Ayah, Mas Ammar, Mas Sadha, Mas Dhana... Ayo makan! Sarapan sudah siap." ujar Dhina yang berlari kecil dari dapur menuju ruang keluarga.

"Ayo semua, habis ini kita langsung berangkat." timpal Pak Aidi pada anak-anaknya seraya berjalan menuju meja makan.

Sadha yang berjalan di belakang Pak Aidi, tiba-tiba merangkul bahu Dhina dari belakang dan membuat adik perempuannya itu menjadi terkejut.

"Mas Sadha membuat Adek kaget saja." ujar Dhina yang mencubit pinggang Sadha karena tingkah usilnya itu.

"Maaf Dek, tiba-tiba saja Mas kangen sama Adek. Padahal tadi malam 'kan kita bertemu sebelum tidur." jawab Sadha yang merangkul bahu sang adik.

Mendengar perkataan Sadha membuat Dhina spontan untuk meraba kening Sadha dan memastikan apakah masnya itu sedang tidak bermimpi atau demam.

"Mas Sadha lagi mimpi? Atau Mas salah makan ya? Penyakit Mas Sadha kambuh lagi nih, Mas." ujar Dhina seraya meraba kening Sadha lalu menoleh ke arah Ammar.

"Nanti kita bawa dia ke rumah sakit jiwa, Dek. Biar sehat penyakitnya." jawab Ammar yang tertawa sambil menggoda Sadha.

"Masa rumah sakit jiwa sih. Sadha tidak gila, Mas." ujar Sadha yang masih berjalan sambil merangkul Dhina.

Dhina yang mendengar perkataan Sadha pun hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.

Sampai di meja makan, Sadha memperlakukan Dhina seperti ratu. Mengeluarkan kursi dan mempersilakan adik perempuannya itu duduk. Dhina merasa aneh dengan tingkah Sadha pagi ini karena jarang sekali Sadha bersikap seperti itu.

Semua yang ada di meja makan tidak merasa heran dengan sikap Sadha karena mereka semua tau, kalau Sadha sangat menyayangi Dhina. Hanya saja, karena sifat Sadha yang dingin dan terkesan cuek membuat ia jarang melakukan hal-hal kecil seperti itu. Setelah melayani Dhina seperti ratu, Sadha pun akhirnya duduk di kursinya. Kemudian mereka pun sarapan bersama sebelum berangkat ke puncak.

Mereka pun selesai sarapan dan sedang bersiap-siap untuk pergi ke puncak. Mereka pergi menggunakan mobil Ammar. Sebelum berangkat, Ammar yang sudah mendapat izin dari Bu Aini, untuk mengajak teman dekatnya pun menghubungi temannya itu.

"Hallo, assalamualaikum. Kita semua sudah siap, sebentar lagi aku jemput kamu ya." ucap Ammar yang menghubungi teman dekatnya itu.

"Wa'alaikumsalam.. Oke, aku sudah siap. Aku tunggu kamu ya." jawab teman dekat Ammar dari sana.

Ammar pun menutup telponnya. Lalu ingin kembali masuk ke dalam untuk memanggil kedua orang tua dan adik-adiknya. Tapi saat berjalan masuk, Ammar terkejut dengan keberadaan Dhana yang berdiri di dekat mobil dan tidak sengaja mendengar Ammar sedang menelpon. Dhana yang memergoki Ammar menelpon secara diam-diam pun langsung menggoda mas sulungnya itu.

"Kenapa menelpon harus bersembunyi Mas? Sedang menelpon pacarnya ya. Asyik ada yang tidak jomblo lagi." ujar Dhana yang tertawa melihat Ammar.

"Apaan sih, Dhana. Mas menelpon teman Mas yang ingin ikut bersama kita ke puncak. Suruh siap-siap, karena kita mau berangkat." jawab Ammar yang gugup karena tercyduk oleh adik kembarnya itu.

"Teman atau pacar? Tidak usah main rahasia Mas sama Dhana. Dari ekspresi wajah Mas saja Dhana sudah tau." ujar Dhana yang masih iseng menggoda Ammar.

"Kepo kamu, Dik. Sudahlah! Yang lain di mana? Sudah jam setengah enam. Nanti kita keburu terjebak macet kalau terlalu lama." ujar Ammar yang melihat ke belakang Dhana untuk mencari keberadaan yang lain.

Tidak lama kemudian, Pak Aidi dan yang lainnya pun muncul. Ditemani Bi Iyah yang ingin melihat keberangkatan keluarga Pak Aidi ke puncak.

"Bi... titip rumah ya. Kemungkinan kita sampai rumah tengah malam. Jadi kalau Bi Iyah lagi istirahat, pintunya di kunci ya, Bi." ucap Bu Aini pada Bi Iyah.

"Baik, Bu. Ibu dan Bapak hati-hati di jalan ya." jawab Bi Iyah.

"Iya, Bi. Terima kasih ya. Assalamualaikum." ucap Bu Aini dan langsung masuk ke mobil Ammar.

Setelah semua masuk ke mobil, Ammar yang mengemudi sudah bersiap untuk melajukan mobilnya. Pak Aidi yang duduk di samping Ammar juga sudah siap. Begitu juga dengan Bu Aini yang duduk di bangku tengah bersama Dhina. Untuk sementara Dhina duduk bersama ibunya di bangku tengah. Setelah teman dekat Ammar naik, maka Dhina akan pindah ke kursi belakang bersama Sadha dan Dhana.

Jarak rumah Ammar dengan teman dekatnya itu tidak terlalu jauh. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke sana. Berselang waktu setengah jam, akhirnya mereka pun sampai juga di rumah teman dekat Ammar.

Kemudian Ammar turun dan masuk ke dalam rumah teman dekatnya, untuk berpamitan dan minta izin kepada orang tuanya. Setelah selesai minta izin, Ammar dan teman dekatnya pun menuju mobil. Ammar membukakan pintu untuk temannya. Lalu teman Ammar duduk bersama Bu Aini di bangku tengah.

Sebelum memulai perjalanan, Ammar terlebih dahulu memperkenalkan teman dekatnya itu pada keluarganya.

"Ayah, Ibu, Sadha, kembar... kenalkan, ini teman dekat dan sahabat Mas. Namanya Bella tapi sering dipanggil Ibel." ujar Ammar yang duduk di depan sambil memutar tubuhnya hingga bisa melihat ke depan dan belakang.

Bella... lebih tepatnya Bella Indriyani atau sering dipanggil dengan Ibel. Bella adalah seorang wanita cantik memakai hijab dan juga seorang dokter di rumah sakit yang sama dengan Ammar. Ibel adalah rekan, teman, dan sahabat Ammar dari sejak awal masuk kuliah sampai sekarang.

Mereka tidak pacaran namun dekat seperti sahabat. Tapi tidak ada persahabatan yang murni di antara pria dan wanita. Salah satu di antaranya pasti memiliki rasa yang melebihi dari seorang sahabat. Hal itu tidak ada yang tau selain Ammar dan Ibel. Ibel adalah anak pertama di keluarganya dan kini mereka menetap di Jakarta. Sekilas tentang Ibel.

Setelah Ammar memperkenalkan Ibel, lalu Ibel pun memberanikan diri untuk memperkenalkan dirinya sendiri agar bisa menjalin kedekatan dengan keluarga Ammar.

"Assalamualaikum, Om, Tante.. saya Bella, panggil saja Ibel karena lebih akrab dipanggil seperti itu." sapa Ibel yang malu menatap Bu Aini dan Pak Aidi.

"Wa'alaikumsalam, Nak. Kamu cantik sekali. Tidak salah ya Ammar memilih calon istri. Sudah cantik, dokter juga lagi." jawab Bu Aini yang memuji Ibel.

Ibel pun tersipu malu saat mendengar pujian Bu Aini. Sementara Ammar yang ikut mendengar itu pun terkejut karena ibunya mengira bahwa Ibel adalah calon istrinya.

Lalu Ammar memperkenalkan Ibel pada ketiga adiknya.

"Ibel... yang bertiga di belakang itu adikku. Nama mereka Sadha, Dhina dan Dhana." ujar Ammar yang melihat kaca mobil agar wajah adik-adiknya terlihat.

"Oh, jadi ini ketiga adik kamu yang sering kamu bilang itu, Mas." jawab Ibel yang memanggil Ammar dengan sebutan 'mas'.

Mendengar perkataan Ibel berhasil memancing perhatian Dhina dan membuatnya merasa kalau memang ada sesuatu di antara Ammar dan Ibel. Namun mereka masih malu untuk mengungkapkan.

"Iya, ayo adik-adik perkenalkan diri kalian. Jangan diam saja sejak tadi." ujar Ammar yang mengemudi mobil sambil memanggil adik-adiknya.

"Santai saja, Mas. Kenalkan Kak, aku Sadha. Aku adik tengahnya Mas Ammar." jawab Sadha sambil menyalami Ibel yang ia anggap seperti calon kakak ipar.

"Aku Dhina, Kak. Aku adik bungsunya Mas Ammar." timpal Dhina yang heran dengan wajah Ibel yang tidak asing baginya.

"Aku Dhana, Kak. Kakak kembarnya Dhina dan adik tengah atau adik bungsunya Mas Ammar." ujar Dhana yang melakukan hal yang sama dengan Sadha.

"Adik bungsu itu hanya Adek, Mas. Mas Dhana adik tengah sama seperti Mas Sadha." timpal Dhina yang tidak rela kalau Dhana mengaku sebagai adik bungsu Ammar.

"Kita kembar, Dek. Jadi kita sama-sama bungsu. Lagi pula kita hanya beda sepuluh menit saja." jawab Dhana yang jadi ikutan sewot pada Dhina.

"Mas Dhana itu lebih tua sepuluh menit dari Adek, artinya Mas Dhana bukan bungsu. Hanya Adek yang bungsu di sini." ujar Dhina dengan wajah cemberutnya yang membuat Ibel merasa gemas.

"Sudah, sudah! Kalian ini tidak di mobil, tidak di rumah selalu saja bertengkar." ujar Bu Aini yang melihat anak-anaknya ribut.

Pak Aidi, Ammar, Sadha dan Ibel yang melihat keributan sikembar dengan Bu Aini pun tertawa bersama karena melihat tingkah lucu sikembar yang berebut posisi jadi anak bungsu. Tak terasa, akhirnya Ibel berhasil akrab dengan keluarga Ammar. Selama di perjalanan, mereka saling mengobrol satu sama lain.

Dhina yang sejak tadi merasa tidak asing dengan wajah Ibel masih berusaha mengingat kalau dirinya pernah bertemu dengan Ibel. Lalu Dhina memilih untuk mengingat itu nanti setelah sampai di puncak. Kini Dhina sudah terlelap dengan menyandarkan kepalanya di bahu Sadha karena lelah bercanda gurau dan lama di perjalanan, akhirnya penghuni bangku belakang sudah terlelap semuanya.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

Terpopuler

Comments

coni

coni

rebutan jadi adik bungsu😂😂 Adek bungsunya mas Dhana, udah mas ngalah aja gak akan menang kalo sama adek😂😂

2021-04-21

1

Fira Ummu Arfi

Fira Ummu Arfi

ayokkkkkk kak saling dukung

salam ASIYAH AKHIR ZAMAN

2021-04-12

0

Nofi Kahza

Nofi Kahza

hahaha..ngakak. posisi bungsu jd rebutan🤣 dhana udah kamu ngalah deh. meski cm 10 menit. tetep aja kamu lebih tua 10 menit🤣🤣

dhina..kamu hrs baik2 saja..🥺

2021-03-07

1

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan Tokoh
2 Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3 Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4 Episode 3 ~ Rencana Ibu
5 Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6 Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7 Episode 6 ~ On The Way Puncak
8 Episode 7 ~ Mulai Aneh
9 Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10 Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11 Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12 Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13 Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14 Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15 Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16 Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17 Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18 Episode 17 ~ Kecewa
19 Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20 Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21 Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22 Episode 21 ~ Diganggu Preman
23 Episode 22 ~ Foundation
24 Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25 Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26 Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27 Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28 Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29 Episode 28 ~ Terpukul
30 Episode 29 ~ Hilang
31 Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32 Episode 31 ~ Minta Maaf
33 Episode 32 ~ Berjodoh?
34 Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35 Episode 34 ~ Boleh Pulang
36 Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37 Episode 36 ~ Memar Lagi
38 Episode 37 ~ Balas Dendam
39 Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40 Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41 Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42 Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43 Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44 Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45 Episode 44 ~ Berenang
46 Episode 45 ~ Tenggelam
47 Episode 46 ~ Incaran Pertama
48 Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49 Episode 48 ~ Introgasi
50 Episode 49 ~ Sepemikiran
51 Episode 50 ~ Demam Tinggi
52 Episode 51 ~ Ibu Murka
53 Episode 52 ~ Kejutan
54 Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55 Episode 54 ~ Topeng Hantu
56 Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57 Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58 Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59 Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60 Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61 Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62 Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63 Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64 Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65 Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66 Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67 Episode 66 ~ Kemoterapi
68 Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69 Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70 Episode 69 ~ Mencari Tau
71 Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72 Episode 71 ~ Botak Bersama
73 Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74 Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75 Episode 74 ~ Muntah-muntah
76 Episode 75 ~ Karyawati Baru
77 Episode 76 ~ Barang Bukti
78 Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79 Episode 78 ~ Orang Asing
80 Episode 79 ~ Merubah Rencana
81 Episode 80 ~ Gelisah
82 Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83 Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84 Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85 Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86 Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87 Episode 86 ~ Mata Sembap
88 Episode 87 ~ Penyelidikan
89 Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90 Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91 Episode 90 ~ Obat Asing
92 Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93 Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94 Episode 93 ~ Stadium Tiga
95 Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96 Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97 Episode 96 ~ Rakha???
98 Episode 97 ~ Janji Dhina
99 Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100 Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101 Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102 Episode 101 ~ Melepas Rindu
103 Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104 Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105 Episode 104 ~ Semakin Sakit
106 Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107 Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108 Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109 Episode 108 ~ Tidak Tega
110 Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111 Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112 Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113 Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114 Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115 Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116 Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117 Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118 Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119 Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120 Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121 Visual
122 Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123 Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124 Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125 Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126 Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127 Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128 Episode 126 ~ Tes Mendadak
129 Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130 Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131 Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132 Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133 Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134 Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135 Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136 Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137 Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138 Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139 Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140 Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141 Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142 Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143 Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144 Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145 Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146 Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147 Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148 Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149 Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150 Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151 Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152 Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153 Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154 Episode 152 ~ Kenangan Manis
155 Episode 153 ~ Tetap Waspada
156 Episode 154 ~ Dijodohkan???
157 Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158 Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159 Episode 157 ~ Malam Pengajian
160 Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161 Episode 159 ~ Bucin
162 Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163 Episode 161 ~ First Kiss
164 Episode 162 ~ Baru Menyadari
165 Episode 163 ~ Balapan
166 Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167 Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168 Episode 166 ~ Masalah Lama
169 Episode 167 ~ Berita Bahagia
170 Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171 Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172 Episode 170 ~ Labil
173 Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174 Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175 Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176 Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177 Episode 175 ~ Komplikasi
178 Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179 Episode 177 ~ Perang Bathin
180 Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181 Episode 179 ~ Cuci Darah
182 Episode 180 ~ Dasar Mesum
183 Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184 Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185 Episode 183 ~ Bukan Peduli
186 Episode 184 ~ Botol Minum
187 Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188 Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189 Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190 Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191 Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192 Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193 Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194 Episode 192 ~ Terhalang Restu
195 Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196 Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197 Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198 Episode 196 ~ Jambret Nakal
199 Episode 197 ~ Bertemu Umi
200 Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201 Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202 Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203 Episode 201 ~ Hari Persiapan
204 Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205 Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206 Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207 Episode 205 ~ Firasat Dhana
208 Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209 Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210 Episode 208 ~ Akad Nikah
211 Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212 Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213 Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214 Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215 Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216 Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217 Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218 Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219 Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220 Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221 Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222 Surat Cinta Author dan Dhina
223 Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224 Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225 Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226 Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227 Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228 Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229 Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230 Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231 Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232 Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233 Pengumuman Novel Baru
234 Pemberitahuan Novel Sekuel
235 Novel Sekuel Sudah Rilis
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Pengenalan Tokoh
2
Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3
Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4
Episode 3 ~ Rencana Ibu
5
Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6
Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7
Episode 6 ~ On The Way Puncak
8
Episode 7 ~ Mulai Aneh
9
Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10
Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11
Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12
Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13
Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14
Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15
Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16
Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17
Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18
Episode 17 ~ Kecewa
19
Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20
Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21
Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22
Episode 21 ~ Diganggu Preman
23
Episode 22 ~ Foundation
24
Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25
Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26
Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27
Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28
Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29
Episode 28 ~ Terpukul
30
Episode 29 ~ Hilang
31
Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32
Episode 31 ~ Minta Maaf
33
Episode 32 ~ Berjodoh?
34
Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35
Episode 34 ~ Boleh Pulang
36
Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37
Episode 36 ~ Memar Lagi
38
Episode 37 ~ Balas Dendam
39
Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40
Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41
Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42
Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43
Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44
Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45
Episode 44 ~ Berenang
46
Episode 45 ~ Tenggelam
47
Episode 46 ~ Incaran Pertama
48
Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49
Episode 48 ~ Introgasi
50
Episode 49 ~ Sepemikiran
51
Episode 50 ~ Demam Tinggi
52
Episode 51 ~ Ibu Murka
53
Episode 52 ~ Kejutan
54
Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55
Episode 54 ~ Topeng Hantu
56
Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57
Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58
Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59
Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60
Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61
Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62
Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63
Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64
Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65
Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66
Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67
Episode 66 ~ Kemoterapi
68
Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69
Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70
Episode 69 ~ Mencari Tau
71
Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72
Episode 71 ~ Botak Bersama
73
Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74
Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75
Episode 74 ~ Muntah-muntah
76
Episode 75 ~ Karyawati Baru
77
Episode 76 ~ Barang Bukti
78
Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79
Episode 78 ~ Orang Asing
80
Episode 79 ~ Merubah Rencana
81
Episode 80 ~ Gelisah
82
Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83
Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84
Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85
Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86
Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87
Episode 86 ~ Mata Sembap
88
Episode 87 ~ Penyelidikan
89
Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90
Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91
Episode 90 ~ Obat Asing
92
Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93
Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94
Episode 93 ~ Stadium Tiga
95
Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96
Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97
Episode 96 ~ Rakha???
98
Episode 97 ~ Janji Dhina
99
Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100
Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101
Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102
Episode 101 ~ Melepas Rindu
103
Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104
Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105
Episode 104 ~ Semakin Sakit
106
Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107
Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108
Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109
Episode 108 ~ Tidak Tega
110
Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111
Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112
Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113
Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114
Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115
Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116
Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117
Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118
Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119
Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120
Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121
Visual
122
Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123
Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124
Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125
Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126
Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127
Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128
Episode 126 ~ Tes Mendadak
129
Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130
Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131
Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132
Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133
Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134
Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135
Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136
Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137
Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138
Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139
Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140
Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141
Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142
Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143
Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144
Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145
Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146
Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147
Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148
Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149
Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150
Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151
Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152
Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153
Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154
Episode 152 ~ Kenangan Manis
155
Episode 153 ~ Tetap Waspada
156
Episode 154 ~ Dijodohkan???
157
Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158
Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159
Episode 157 ~ Malam Pengajian
160
Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161
Episode 159 ~ Bucin
162
Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163
Episode 161 ~ First Kiss
164
Episode 162 ~ Baru Menyadari
165
Episode 163 ~ Balapan
166
Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167
Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168
Episode 166 ~ Masalah Lama
169
Episode 167 ~ Berita Bahagia
170
Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171
Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172
Episode 170 ~ Labil
173
Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174
Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175
Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176
Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177
Episode 175 ~ Komplikasi
178
Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179
Episode 177 ~ Perang Bathin
180
Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181
Episode 179 ~ Cuci Darah
182
Episode 180 ~ Dasar Mesum
183
Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184
Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185
Episode 183 ~ Bukan Peduli
186
Episode 184 ~ Botol Minum
187
Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188
Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189
Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190
Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191
Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192
Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193
Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194
Episode 192 ~ Terhalang Restu
195
Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196
Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197
Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198
Episode 196 ~ Jambret Nakal
199
Episode 197 ~ Bertemu Umi
200
Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201
Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202
Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203
Episode 201 ~ Hari Persiapan
204
Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205
Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206
Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207
Episode 205 ~ Firasat Dhana
208
Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209
Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210
Episode 208 ~ Akad Nikah
211
Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212
Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213
Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214
Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215
Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216
Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217
Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218
Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219
Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220
Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221
Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222
Surat Cinta Author dan Dhina
223
Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224
Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225
Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226
Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227
Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228
Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229
Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230
Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231
Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232
Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233
Pengumuman Novel Baru
234
Pemberitahuan Novel Sekuel
235
Novel Sekuel Sudah Rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!