Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)

...🍁🍁🍁...

Pak Aidi dan keluarga pun melaksanakan salat maghrib berjama'ah di mushallah kecil yang ada di dalam rumah mereka. Setiap hari keluarga Pak Aidi selalu melakukan rutinitas ini agar kebahagian dan kedamaian keluarga selalu terjaga.

Setelah selesai salat, satu per satu dari mereka keluar dari mushallah. Namun di saat Dhina hendak pergi keluar mushallah, tiba-tiba ia teringat kembali dengan sikap Dhana di cafe tadi pagi. Entah kenapa Dhina merasa kalau mas kembarnya itu tidak menyukai Rezky.

Teringat hal itu membuat Dhina melihat ke arah Dhana yang masih berdo'a di depan sana. Sedangkan Pak Aidi dan yang lainnya sudah tidak ada lagi di mushallah. Dengan ragu, Dhina pun melangkah ke arah Dhana dan duduk di samping Dhana yang masih berdo'a. Melihat adik kembarnya yang duduk di sampingnya, Dhana pun melihat ke arah Dhina.

"Adek... ada apa? Kenapa belum ke atas? Setelah ini kita mau makan malam loh. Adek kenapa?" ujar Dhana yang menatap sang adik heran.

"Mas... Apakah Adek boleh bertanya sesuatu?" tanya Dhina yang menatap ke arah Dhana.

Dhana merasa heran dengan sikap Dhina saat ini, ia merasa kalau adik kembarnya itu tengah memikirkan sesuatu dan membuatnya tidak enak hati.

"Adek mau bertanya apa?" tanya Dhana yang lembut seraya mencubit pipi Dhina yang cubby.

"Tapi Mas janji harus jawab jujur dan tidak boleh marah ya." ujar Dhina sambil mengarahkan jari kelingkingnya pada Dhana.

"Iya, iya. Mas tidak akan marah. Coba bilang apa yang ingin Adek tanyakan. Kita tidak punya waktu banyak loh, Sayang." ujar Dhana yang mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Dhina.

"Mas Dhana... apakah Mas tidak suka pada Kak Rezky?" tanya Dhina yang menunduk karena ragu-ragu untuk menanyakan ini pada Dhana.

Mendengar pertanyaan Dhina, seketika membuat wajah Dhana yang tadinya ceria berubah menjadi datar. Dhana hanya diam, tapi Dhina kembali menanyakan hal yang sama.

"Mas... Mas Dhana tidak suka ya?" tanya ulang Dhina pada Dhana yang memberanikan diri untuk menatap Dhana.

Merasa tidak tega dengan sang adik, akhirnya Dhana menghela nafas panjang dan berdiri. Dhina yang melihat mas kembarnya berdiri pun juga ikut berdiri dan memegang tangan Dhana yang hendak pergi.

"Mas... Mas mau ke mana? Mas belum menjawab pertanyaan Adek. Mas marah ya?" ujar Dhina yang berusaha menenangkan Dhana dan masih menggenggam tangan mas kembarnya itu.

Dhana tetap bergeming, tiba-tiba rasa kesal yang ia rasakan saat bertemu dengan Rezky di cafe tadi pagi kembali memenuhi dadanya. Sementara Dhina yang menyadari sikap Dhana pun hanya bisa menghela nafas panjang.

"Adek hanya penasaran saja dengan sikap Mas tadi pagi, tiba-tiba diam setelah bertemu dengan Kak Rezky. Kalau Mas tidak mau menjawabnya, tidak apa-apa. Adek tidak memaksa. Ya sudah, ayo kita ke ruang makan. Ayah, Ibu, Mas Ammar dan Mas Sadha pasti sudah menunggu." ujar Dhina yang pasrah dan hendak mengajak Dhana menuju ruang makan.

Namun saat Dhina hendak menarik tangan Dhana. Dhana menahan tangannya dan membuat Dhina terhenti. Dengan heran, Dhina menoleh ke arah Dhana dengan mengeryitkan dahinya.

"Mas tidak hanya tidak suka dengan Rezky, Dek. Mas mempunyai feeling tidak baik terhadap pria itu. Dari cara dia menatap dan melihat Adek, itu sudah berbeda sekali. Tatapan itu, bukan tatapan yang baik. Entah apa arti tatapan itu, Mas juga tidak mengerti. Yang pasti... Mas merasa tidak aman kalau Adek dekat dengan dia." jawab Dhana yang memalingkan pandangan dari Dhina.

Dhina pun terdiam dengan penjelasan Dhana.

"Mas minta maaf dengan sikap Mas tadi karena sudah cuek sama Adek. Padahal Mas hanya tidak suka dengan Rezky, bukan marah sama Adek. Mas tidak suka saja dengan caranya menatap Adek. Seperti ada niat lain." ujar Dhana lagi seraya memegang bahu Dhina yang sudah menunduk mendengar penjelasan Dhana.

Melihat sang adik yang tertunduk, Dhana pun merasakan sesuatu pada diri saudari kembarnya itu.

"Adek... apa Adek menyukai Rezky?" tanya Dhana yang masih memegang kedua bahu adik kembarnya itu.

Dhina pun tersentak dari lamunannya dan langsung mengangkat kepalanya dan menatap Dhana.

"Adek tidak tau, Mas. Tapi dulu, saat masih satu organisasi, Adek memang sempat mengagumi Kak Rezky. Mungkin sekarang sudah biasa saja." jawab Dhina yang jujur namun masih ragu dengan perasaannya saat ini.

"Mas tidak akan melarang Adek untuk dekat dengan siapapun. Tapi Mas minta, Adek harus hati-hati dalam memilih pasangan. Kita sudah sama-sama dewasa, Sayang. Pasti Adek mengerti maksud Mas. Mas hanya tidak mau Adek disakiti. Mas, Mas Ammar dan Mas Sadha tidak akan terima melihat adik perempuan kita disakiti orang lain. Kita saja tidak pernah menyakiti Adek. Pesan Mas, berhati-hatilah dengan Rezky. Jangan lihat dia dari sisi luarnya saja karena kita tidak pernah tau sisi dalamnya seperti apa. Adek paham?" tutur Dhana yang meyakinkan sang adik seraya menatap dan mencubit pipi Dhina dengan lembut.

Dhana melakukan itu agar adik kembarnya merasa aman dan tenang dengan penjelasannya.

Dhina mendengar penjelasan dan merasakan kasih sayang Dhana yang begitu besar terhadap dirinya dan tanpa sadar air matanya pun jatuh ke pipi cubbynya itu. Lalu Dhina langsung memeluk mas kembarnya dengan erat dan dibalas oleh Dhana dengan penuh kasih sayang.

"Iya Mas. Adek akan ingat pesan Mas Dhana. Adek akan hati-hati dengan siapapun. Adek minta maaf ya, Mas. Adek sudah membuat mas merasa tidak enak hati. Terima kasih ya Mas. Adek sayang Mas Dhana." ujar Dhina yang sudah berurai air mata di dalam pelukan Dhana.

"Iya, Sayang. Ini sudah menjadi tugas Mas untuk menjaga, melindungi dan menyayangi Adek." jawab Dhana seraya memeluk dan membelai lembut kepala Dhina yang masih memakai mungkenah.

Dhina hanya mengangguk dan semakin membenamkan wajahnya ke dalam dekapan Dhana.

"Sudah, jangan menangis lagi! Nanti ketauan Ayah, Ibu dan yang lainnya. Sudah ya, sekarang kita susul mereka ke ruang makan." ujar Dhana sambil melepaskan pelukannya terhadap Dhina dan menghapus air mata adik kembarnya itu.

Setelah selesai dan mendapatkan jawaban dari Dhana, kini Dhina merasa lebih tenang. Ia akan mengingat pesan yang tadi diberikan Dhana kepadanya. Kini mereka berdua sedang menuju ke kamar untuk meletakkan peralatan shalat mereka masing-masing. Sementara di ruang makan, sudah terhidang makan malam untuk keluarga Pak Aidi. Bu Aini yang membantu Bi Iyah, melihat suami dan kedua putranya (Ammar dan Sadha) masih asyik di ruang keluarga langsung memanggil mereka.

"Ayah, Ammar, Sadha... ayo kita makan! Makanan sudah siap. Ayo sebelum makanannya dingin." sahut Bu Aini dari arah ruang makan sambil merapihkan piring.

Pak Aidi, Ammar dan Sadha yang mendengar Bu Aini memanggil langsung berdiri lalu berjalan menuju meja makan dan langsung duduk di kursi masing-masing.

"Si kembar di mana?" tanya Bu Aini yang melihat mereka satu per satu.

Bu Aini yang mengira bahwa Dhana dan Dhina ikut berkumpul dengan Pak Aidi, Ammar dan Sadha di ruang keluarga pun ternyata salah.

"Masih di kamar mungkin, Bu." jawab Ammar seraya mengambil nasi ke dalam piringnya.

"Itu si kembar, Bu." ujar Sadha sambil memajukan bibirnya ke arah Dhana dan Dhina yang sedang turun dari lantai atas.

"Ada apa Bu?"

Dhana yang baru saja turun dari tangga bersama Dhina dan melihat ke arah Bu Aini pun bertanya. Sedangkan Dhina langsung duduk di samping Bu Aini.

"Tidak apa-apa, Nak. Ayo makan! Ibu kira tadi kalian ikut duduk bersama Ayah dan mas-mas kalian di ruang keluarga." jawab Bu Aini sambil memberikan piring yang sudah berisi nasi pada Dhana.

"Dhana dan Adek habis dari kamar, Bu." ucap Dhana sambil mengambil piring yang diberikan oleh ibunya.

"Ya sudah, ayo makan." jawab Bu Aini pada semuanya.

Semua anggota keluarga Pak Aidi pun sudah berkumpul di meja makan. Kini mereka sedang menikmati makan malam dengan penuh suka cita. Saat makan berlangsung, Bu Aini pun memulai pembicaraan untuk membahas rencana weekend besok.

"Anak-anak... Ibu dan Ayah ada rencana untuk weekend besok." ujar Bu Aini seraya menyuapi makanan ke mulutnya.

"Rencana apa Bu?" tanya Sadha yang sedang mengambil minum di dekat Ammar.

"Besok pagi, kita jalan-jalan ke puncak." jawab Bu Aini dengan penuh semangat dan ceria.

"Ke puncak Bu?" tanya Dhina yang membulatkan kedua matanya melihat sang ibu untuk mendengar jelas apa yang Bu Aini katakan.

"Iya, Sayang. Besok kita berangkat habis subuh agar tidak terjebak macet di jalan. Malam ini jangan ada yang begadang ya! Setelah salat isya harus sudah tidur agar besok tidak kesiangan." ujar Bu Aini yang mencubit pipi putri satu-satunya dan melirik ke arah yang lain.

"Masa tidak boleh begadang, Bu. Ammar ada rencana ingin main game bersama Sadha dan Dhana. Lagi pula ini malam minggu." ujar Ammar karena ia sudah janji dari jauh hari dengan kedua adik laki-lakinya untuk main game.

"Main gamenya habis makan saja sampai menjelang isya 'kan masih lama, Nak. Pokoknya jangan tidur malam-malam. Jarang loh Ibu mengajak kalian jalan. Biasanya kalau weekend Ibu pergi arisan. Lagi pula jarak puncak dari rumah kita tidak terlalu jauh." ujar Bu Aini sambil merapihkan piring yang dibantu oleh Bi Iyah dan Dhina.

"Sudah, kalian ikuti saja apa maunya Ibu kalian. Jarang-jarang juga Ayah kasih izin untuk rencana ini." timpal Pak Aidi yang masih duduk di meja makan.

"Demi Ibu tercinta. Oke, kita mainnya hanya sampai jam sembilan. Bagaimana Bu? Boleh?" ujar Ammar sambil mengacungkan jempol ke arah ibunya.

"Iya, boleh. Tapi besok habis subuh jangan tidur lagi ya." jawab Bu Aini sambil menarik telinga Ammar dengan gemasnya.

"Tenang saja, Bu. Biar Adek yang kawal para mas Adek yang tampan ini main game. Biar tidak lupa waktu." timpal Dhina seraya mengedipkan salah satu matanya ke arah Bu Aini.

"Wanita memang tidak pernah mau kalah ya, Mas." ujar Dhana yang menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah Dhina dan meninggalkan meja makan.

Ammar dan Sadha yang juga melihat sikap Dhina hanya menggelengkan kepala dan tersenyum karena tingkah lucu adik perempuan mereka itu. Saat hendak berdiri, Ammar mengatakan sesuatu pada Bu Aini.

"Ibu... Apa Ammar boleh mengajak seseorang?" tanya Ammar sambil berjalan ke arah Bu Aini.

"Kamu ingin mengajak siapa Nak?" tanya Bu Aini pada Ammar sambil mengeryitkan keningnya.

"Mas Ammar ingin mengajak pacarnya, Bu. Biar bisa sekalian dikenalkan ke kita semua. Iya 'kan Mas?" timpal Dhina dari arah ruang makan sambil menggoda mas sulungnya.

"Pacar apaan sih, Dek. Bukan pacar, tapi teman dekat. Dari awal kuliah sampai dinas kerja selalu satu tempat, makanya kita dekat." jawab Ammar sambil mencibirkan bibirnya ke arah Dhina.

"Cewek atau cowok Nak?" tanya Bu Aini yang singkat dengan tatapan selidik.

"Ya cewek lah, Ibu. Masa teman dekat Mas Ammar cowok." timpal Dhina lagi masih dari arah yang sama dan masih menggoda Ammar.

"Adek kenapa sih? Ikut campur saja kalau orang bicara." sewot Ammar yang jengah dengan tingkah sang adik.

Dhina hanya terkekeh melihat ekspresi jengah mas sulungnya itu. Sementara Ammar kembali menoleh ke arah sang ibu.

"Teman Ammar cewek, Bu. Boleh ya... sudah lama sebenarnya Ammar ingin membawanya ke hadapan Ibu, Ayah dan adik-adik. Tapi belum ada waktu yang tepat. Besok Ammar rasa waktunya sudah cocok." tutur Ammar pada sang ibu dan berusaha meyakinkan ibunya.

Bu Aini terdiam sejenak mendengar perkataan Ammar. Bu Aini merasa bahwa putra sulungnya memang sudah dewasa dan berhak untuk segera memiliki pasangan. Setelah diam sejenak, Bu Aini menghela nafas dan menjawab.

"Iya, boleh. Besok kita jemput teman kamu itu ke rumahnya ya." jawab Bu Aini dengan senyum yang penuh kasih sayang.

"Benar Bu? Terima kasih Ibu. Ammar sayang Ibu." ujar Ammar sambil memeluk ibunya dan dibalas oleh Bu Aini.

Setelah mendapat izin dari Bu Aini untuk membawa teman dekatnya ikut berlibur besok, Ammar langsung menuju kamarnya untuk main game PS. Sedangkan Sadha dan Dhana sudah berada di sana duluan dari Ammar. Mereka pun terlihat sedang sibuk menyalakan PS.

"Kalau urusan game kalian memang cepat ya!" ujar Ammar yang baru masuk ke dalam kamarnya dan melihat kedua adik sudah ada di depan TV.

"So pasti dong, Mas. Untuk dapat kesempatan main game sama-sama seperti ini hanya malam minggu. Jadi tidak boleh terlewatkan." jawab Dhana yang tertawa melihat Ammar.

"Mas lama sekali, makanya kita duluan!" timpal Sadha yang sudah siap untuk main game bersama Dhana terlebih dahulu.

"Mas ada urusan sebentar tadi. Kenapa hanya kalian yang main? Mas ingin main juga. Dhana... pasang game yang main bertiga. Main di kamar siapa, yang main siapa. Enak saja kalian!" ujar Ammar yang sewot dan ingin mengganti game yang sedang mulai.

Saat Ammar ingin menekan tombol open, tangan Ammar dipukul kecil oleh Sadha.

"Tunggu dulu kenapa sih, Mas. Itu sudah mau mulai. Setelah ini kita main bertiga. Lagi pula siapa suruh telat." ujar Sadha yang sudah siap untuk bermain dengan Dhana.

"Kalian yang terlalu cepat datang! Tidak tunggu pemilik kamar datang dulu, sudah main saja. Dasar adik tidak punya akhlak!" jawab Ammar yang jengah namun masih bercanda pada sang adik.

"Mas Ammar sewot saja! Tunggu giliran sana. Mas itu harus mengalah sama adiknya." ujar Sadha sambil melirik sesekali ke arah Ammar.

"Ya sudah, kalian cerewet sekali! Cepat ya mainnya. King Ammar juga mau main. Kalian lupa, kita besok mau pergi dan Ibu kasih waktu main hanya sampai jam sembilan." jawab Ammar seraya berbaring di atas sofa.

"Tidak lupa, Mas. Tenang saja. Nanti juga ada pengawal kita." ujar Sadha pada Ammar dan teringat kalau akan ada pengawal saat mereka main.

"Oh iya, pengawal kita mana? Apa Adek sudah tidur duluan?" tanya Ammar yang langsung terduduk setelah teringat adik perempuannya itu.

"Adek masih di bawah, Mas. Duduk sama Ayah dan Ibu mungkin di ruang keluarga. Mana mungkin, Adek sudah tidur jam segini." jawab Dhana yang tau kebiasaan adik kembarnya itu dan tetap serius memainkan stick game.

"Kamu benar juga, Dhana. Ya sudah, kalian yang cepat mainnya." ujar Ammar yang kembali merebahkan tubuhnya ke atas sofa.

Sadha dan Dhana hanya tertawa melihat tingkah masnya itu. Sedangkan Ammar hanya bisa mengalah pada adik-adiknya dan memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa untuk melihat Sadha dan Dhana main.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

Terpopuler

Comments

Ica Snow Kim

Ica Snow Kim

TERNYATA ITU ALASAN DHANA GA SUKA DENGAN REZKY 😓😓😓, FEELING COWOK & KAKAK 😅😅😅,

KAKAK2 YG BAIK 😁😁😁

2021-05-12

1

coni

coni

mas Masnya Dhina baik² ya gak kayak, Abangnya Aster 😌😂😂

2021-04-20

1

Arthi Yuniar

Arthi Yuniar

Senengnya lihat si kembar yg akur 😁Dhana sayang bgt y sama Dhina dia kk yg sangat perhatian..Duh mas Amar temen deketnya siapa sih?kenalin atuh sm ortunya

2021-04-13

0

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan Tokoh
2 Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3 Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4 Episode 3 ~ Rencana Ibu
5 Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6 Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7 Episode 6 ~ On The Way Puncak
8 Episode 7 ~ Mulai Aneh
9 Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10 Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11 Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12 Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13 Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14 Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15 Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16 Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17 Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18 Episode 17 ~ Kecewa
19 Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20 Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21 Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22 Episode 21 ~ Diganggu Preman
23 Episode 22 ~ Foundation
24 Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25 Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26 Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27 Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28 Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29 Episode 28 ~ Terpukul
30 Episode 29 ~ Hilang
31 Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32 Episode 31 ~ Minta Maaf
33 Episode 32 ~ Berjodoh?
34 Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35 Episode 34 ~ Boleh Pulang
36 Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37 Episode 36 ~ Memar Lagi
38 Episode 37 ~ Balas Dendam
39 Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40 Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41 Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42 Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43 Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44 Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45 Episode 44 ~ Berenang
46 Episode 45 ~ Tenggelam
47 Episode 46 ~ Incaran Pertama
48 Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49 Episode 48 ~ Introgasi
50 Episode 49 ~ Sepemikiran
51 Episode 50 ~ Demam Tinggi
52 Episode 51 ~ Ibu Murka
53 Episode 52 ~ Kejutan
54 Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55 Episode 54 ~ Topeng Hantu
56 Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57 Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58 Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59 Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60 Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61 Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62 Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63 Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64 Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65 Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66 Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67 Episode 66 ~ Kemoterapi
68 Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69 Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70 Episode 69 ~ Mencari Tau
71 Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72 Episode 71 ~ Botak Bersama
73 Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74 Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75 Episode 74 ~ Muntah-muntah
76 Episode 75 ~ Karyawati Baru
77 Episode 76 ~ Barang Bukti
78 Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79 Episode 78 ~ Orang Asing
80 Episode 79 ~ Merubah Rencana
81 Episode 80 ~ Gelisah
82 Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83 Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84 Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85 Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86 Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87 Episode 86 ~ Mata Sembap
88 Episode 87 ~ Penyelidikan
89 Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90 Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91 Episode 90 ~ Obat Asing
92 Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93 Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94 Episode 93 ~ Stadium Tiga
95 Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96 Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97 Episode 96 ~ Rakha???
98 Episode 97 ~ Janji Dhina
99 Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100 Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101 Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102 Episode 101 ~ Melepas Rindu
103 Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104 Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105 Episode 104 ~ Semakin Sakit
106 Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107 Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108 Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109 Episode 108 ~ Tidak Tega
110 Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111 Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112 Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113 Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114 Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115 Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116 Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117 Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118 Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119 Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120 Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121 Visual
122 Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123 Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124 Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125 Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126 Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127 Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128 Episode 126 ~ Tes Mendadak
129 Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130 Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131 Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132 Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133 Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134 Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135 Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136 Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137 Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138 Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139 Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140 Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141 Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142 Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143 Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144 Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145 Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146 Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147 Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148 Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149 Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150 Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151 Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152 Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153 Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154 Episode 152 ~ Kenangan Manis
155 Episode 153 ~ Tetap Waspada
156 Episode 154 ~ Dijodohkan???
157 Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158 Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159 Episode 157 ~ Malam Pengajian
160 Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161 Episode 159 ~ Bucin
162 Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163 Episode 161 ~ First Kiss
164 Episode 162 ~ Baru Menyadari
165 Episode 163 ~ Balapan
166 Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167 Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168 Episode 166 ~ Masalah Lama
169 Episode 167 ~ Berita Bahagia
170 Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171 Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172 Episode 170 ~ Labil
173 Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174 Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175 Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176 Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177 Episode 175 ~ Komplikasi
178 Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179 Episode 177 ~ Perang Bathin
180 Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181 Episode 179 ~ Cuci Darah
182 Episode 180 ~ Dasar Mesum
183 Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184 Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185 Episode 183 ~ Bukan Peduli
186 Episode 184 ~ Botol Minum
187 Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188 Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189 Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190 Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191 Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192 Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193 Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194 Episode 192 ~ Terhalang Restu
195 Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196 Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197 Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198 Episode 196 ~ Jambret Nakal
199 Episode 197 ~ Bertemu Umi
200 Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201 Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202 Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203 Episode 201 ~ Hari Persiapan
204 Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205 Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206 Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207 Episode 205 ~ Firasat Dhana
208 Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209 Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210 Episode 208 ~ Akad Nikah
211 Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212 Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213 Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214 Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215 Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216 Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217 Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218 Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219 Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220 Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221 Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222 Surat Cinta Author dan Dhina
223 Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224 Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225 Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226 Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227 Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228 Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229 Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230 Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231 Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232 Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233 Pengumuman Novel Baru
234 Pemberitahuan Novel Sekuel
235 Novel Sekuel Sudah Rilis
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Pengenalan Tokoh
2
Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3
Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4
Episode 3 ~ Rencana Ibu
5
Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6
Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7
Episode 6 ~ On The Way Puncak
8
Episode 7 ~ Mulai Aneh
9
Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10
Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11
Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12
Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13
Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14
Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15
Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16
Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17
Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18
Episode 17 ~ Kecewa
19
Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20
Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21
Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22
Episode 21 ~ Diganggu Preman
23
Episode 22 ~ Foundation
24
Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25
Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26
Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27
Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28
Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29
Episode 28 ~ Terpukul
30
Episode 29 ~ Hilang
31
Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32
Episode 31 ~ Minta Maaf
33
Episode 32 ~ Berjodoh?
34
Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35
Episode 34 ~ Boleh Pulang
36
Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37
Episode 36 ~ Memar Lagi
38
Episode 37 ~ Balas Dendam
39
Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40
Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41
Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42
Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43
Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44
Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45
Episode 44 ~ Berenang
46
Episode 45 ~ Tenggelam
47
Episode 46 ~ Incaran Pertama
48
Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49
Episode 48 ~ Introgasi
50
Episode 49 ~ Sepemikiran
51
Episode 50 ~ Demam Tinggi
52
Episode 51 ~ Ibu Murka
53
Episode 52 ~ Kejutan
54
Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55
Episode 54 ~ Topeng Hantu
56
Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57
Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58
Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59
Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60
Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61
Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62
Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63
Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64
Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65
Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66
Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67
Episode 66 ~ Kemoterapi
68
Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69
Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70
Episode 69 ~ Mencari Tau
71
Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72
Episode 71 ~ Botak Bersama
73
Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74
Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75
Episode 74 ~ Muntah-muntah
76
Episode 75 ~ Karyawati Baru
77
Episode 76 ~ Barang Bukti
78
Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79
Episode 78 ~ Orang Asing
80
Episode 79 ~ Merubah Rencana
81
Episode 80 ~ Gelisah
82
Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83
Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84
Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85
Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86
Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87
Episode 86 ~ Mata Sembap
88
Episode 87 ~ Penyelidikan
89
Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90
Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91
Episode 90 ~ Obat Asing
92
Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93
Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94
Episode 93 ~ Stadium Tiga
95
Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96
Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97
Episode 96 ~ Rakha???
98
Episode 97 ~ Janji Dhina
99
Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100
Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101
Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102
Episode 101 ~ Melepas Rindu
103
Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104
Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105
Episode 104 ~ Semakin Sakit
106
Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107
Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108
Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109
Episode 108 ~ Tidak Tega
110
Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111
Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112
Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113
Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114
Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115
Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116
Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117
Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118
Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119
Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120
Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121
Visual
122
Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123
Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124
Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125
Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126
Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127
Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128
Episode 126 ~ Tes Mendadak
129
Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130
Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131
Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132
Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133
Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134
Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135
Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136
Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137
Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138
Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139
Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140
Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141
Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142
Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143
Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144
Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145
Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146
Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147
Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148
Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149
Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150
Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151
Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152
Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153
Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154
Episode 152 ~ Kenangan Manis
155
Episode 153 ~ Tetap Waspada
156
Episode 154 ~ Dijodohkan???
157
Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158
Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159
Episode 157 ~ Malam Pengajian
160
Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161
Episode 159 ~ Bucin
162
Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163
Episode 161 ~ First Kiss
164
Episode 162 ~ Baru Menyadari
165
Episode 163 ~ Balapan
166
Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167
Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168
Episode 166 ~ Masalah Lama
169
Episode 167 ~ Berita Bahagia
170
Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171
Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172
Episode 170 ~ Labil
173
Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174
Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175
Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176
Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177
Episode 175 ~ Komplikasi
178
Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179
Episode 177 ~ Perang Bathin
180
Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181
Episode 179 ~ Cuci Darah
182
Episode 180 ~ Dasar Mesum
183
Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184
Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185
Episode 183 ~ Bukan Peduli
186
Episode 184 ~ Botol Minum
187
Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188
Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189
Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190
Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191
Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192
Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193
Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194
Episode 192 ~ Terhalang Restu
195
Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196
Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197
Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198
Episode 196 ~ Jambret Nakal
199
Episode 197 ~ Bertemu Umi
200
Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201
Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202
Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203
Episode 201 ~ Hari Persiapan
204
Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205
Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206
Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207
Episode 205 ~ Firasat Dhana
208
Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209
Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210
Episode 208 ~ Akad Nikah
211
Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212
Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213
Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214
Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215
Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216
Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217
Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218
Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219
Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220
Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221
Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222
Surat Cinta Author dan Dhina
223
Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224
Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225
Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226
Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227
Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228
Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229
Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230
Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231
Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232
Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233
Pengumuman Novel Baru
234
Pemberitahuan Novel Sekuel
235
Novel Sekuel Sudah Rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!