...🍁🍁🍁...
Pak Aidi dan keluarga pun melaksanakan salat maghrib berjama'ah di mushallah kecil yang ada di dalam rumah mereka. Setiap hari keluarga Pak Aidi selalu melakukan rutinitas ini agar kebahagian dan kedamaian keluarga selalu terjaga.
Setelah selesai salat, satu per satu dari mereka keluar dari mushallah. Namun di saat Dhina hendak pergi keluar mushallah, tiba-tiba ia teringat kembali dengan sikap Dhana di cafe tadi pagi. Entah kenapa Dhina merasa kalau mas kembarnya itu tidak menyukai Rezky.
Teringat hal itu membuat Dhina melihat ke arah Dhana yang masih berdo'a di depan sana. Sedangkan Pak Aidi dan yang lainnya sudah tidak ada lagi di mushallah. Dengan ragu, Dhina pun melangkah ke arah Dhana dan duduk di samping Dhana yang masih berdo'a. Melihat adik kembarnya yang duduk di sampingnya, Dhana pun melihat ke arah Dhina.
"Adek... ada apa? Kenapa belum ke atas? Setelah ini kita mau makan malam loh. Adek kenapa?" ujar Dhana yang menatap sang adik heran.
"Mas... Apakah Adek boleh bertanya sesuatu?" tanya Dhina yang menatap ke arah Dhana.
Dhana merasa heran dengan sikap Dhina saat ini, ia merasa kalau adik kembarnya itu tengah memikirkan sesuatu dan membuatnya tidak enak hati.
"Adek mau bertanya apa?" tanya Dhana yang lembut seraya mencubit pipi Dhina yang cubby.
"Tapi Mas janji harus jawab jujur dan tidak boleh marah ya." ujar Dhina sambil mengarahkan jari kelingkingnya pada Dhana.
"Iya, iya. Mas tidak akan marah. Coba bilang apa yang ingin Adek tanyakan. Kita tidak punya waktu banyak loh, Sayang." ujar Dhana yang mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Dhina.
"Mas Dhana... apakah Mas tidak suka pada Kak Rezky?" tanya Dhina yang menunduk karena ragu-ragu untuk menanyakan ini pada Dhana.
Mendengar pertanyaan Dhina, seketika membuat wajah Dhana yang tadinya ceria berubah menjadi datar. Dhana hanya diam, tapi Dhina kembali menanyakan hal yang sama.
"Mas... Mas Dhana tidak suka ya?" tanya ulang Dhina pada Dhana yang memberanikan diri untuk menatap Dhana.
Merasa tidak tega dengan sang adik, akhirnya Dhana menghela nafas panjang dan berdiri. Dhina yang melihat mas kembarnya berdiri pun juga ikut berdiri dan memegang tangan Dhana yang hendak pergi.
"Mas... Mas mau ke mana? Mas belum menjawab pertanyaan Adek. Mas marah ya?" ujar Dhina yang berusaha menenangkan Dhana dan masih menggenggam tangan mas kembarnya itu.
Dhana tetap bergeming, tiba-tiba rasa kesal yang ia rasakan saat bertemu dengan Rezky di cafe tadi pagi kembali memenuhi dadanya. Sementara Dhina yang menyadari sikap Dhana pun hanya bisa menghela nafas panjang.
"Adek hanya penasaran saja dengan sikap Mas tadi pagi, tiba-tiba diam setelah bertemu dengan Kak Rezky. Kalau Mas tidak mau menjawabnya, tidak apa-apa. Adek tidak memaksa. Ya sudah, ayo kita ke ruang makan. Ayah, Ibu, Mas Ammar dan Mas Sadha pasti sudah menunggu." ujar Dhina yang pasrah dan hendak mengajak Dhana menuju ruang makan.
Namun saat Dhina hendak menarik tangan Dhana. Dhana menahan tangannya dan membuat Dhina terhenti. Dengan heran, Dhina menoleh ke arah Dhana dengan mengeryitkan dahinya.
"Mas tidak hanya tidak suka dengan Rezky, Dek. Mas mempunyai feeling tidak baik terhadap pria itu. Dari cara dia menatap dan melihat Adek, itu sudah berbeda sekali. Tatapan itu, bukan tatapan yang baik. Entah apa arti tatapan itu, Mas juga tidak mengerti. Yang pasti... Mas merasa tidak aman kalau Adek dekat dengan dia." jawab Dhana yang memalingkan pandangan dari Dhina.
Dhina pun terdiam dengan penjelasan Dhana.
"Mas minta maaf dengan sikap Mas tadi karena sudah cuek sama Adek. Padahal Mas hanya tidak suka dengan Rezky, bukan marah sama Adek. Mas tidak suka saja dengan caranya menatap Adek. Seperti ada niat lain." ujar Dhana lagi seraya memegang bahu Dhina yang sudah menunduk mendengar penjelasan Dhana.
Melihat sang adik yang tertunduk, Dhana pun merasakan sesuatu pada diri saudari kembarnya itu.
"Adek... apa Adek menyukai Rezky?" tanya Dhana yang masih memegang kedua bahu adik kembarnya itu.
Dhina pun tersentak dari lamunannya dan langsung mengangkat kepalanya dan menatap Dhana.
"Adek tidak tau, Mas. Tapi dulu, saat masih satu organisasi, Adek memang sempat mengagumi Kak Rezky. Mungkin sekarang sudah biasa saja." jawab Dhina yang jujur namun masih ragu dengan perasaannya saat ini.
"Mas tidak akan melarang Adek untuk dekat dengan siapapun. Tapi Mas minta, Adek harus hati-hati dalam memilih pasangan. Kita sudah sama-sama dewasa, Sayang. Pasti Adek mengerti maksud Mas. Mas hanya tidak mau Adek disakiti. Mas, Mas Ammar dan Mas Sadha tidak akan terima melihat adik perempuan kita disakiti orang lain. Kita saja tidak pernah menyakiti Adek. Pesan Mas, berhati-hatilah dengan Rezky. Jangan lihat dia dari sisi luarnya saja karena kita tidak pernah tau sisi dalamnya seperti apa. Adek paham?" tutur Dhana yang meyakinkan sang adik seraya menatap dan mencubit pipi Dhina dengan lembut.
Dhana melakukan itu agar adik kembarnya merasa aman dan tenang dengan penjelasannya.
Dhina mendengar penjelasan dan merasakan kasih sayang Dhana yang begitu besar terhadap dirinya dan tanpa sadar air matanya pun jatuh ke pipi cubbynya itu. Lalu Dhina langsung memeluk mas kembarnya dengan erat dan dibalas oleh Dhana dengan penuh kasih sayang.
"Iya Mas. Adek akan ingat pesan Mas Dhana. Adek akan hati-hati dengan siapapun. Adek minta maaf ya, Mas. Adek sudah membuat mas merasa tidak enak hati. Terima kasih ya Mas. Adek sayang Mas Dhana." ujar Dhina yang sudah berurai air mata di dalam pelukan Dhana.
"Iya, Sayang. Ini sudah menjadi tugas Mas untuk menjaga, melindungi dan menyayangi Adek." jawab Dhana seraya memeluk dan membelai lembut kepala Dhina yang masih memakai mungkenah.
Dhina hanya mengangguk dan semakin membenamkan wajahnya ke dalam dekapan Dhana.
"Sudah, jangan menangis lagi! Nanti ketauan Ayah, Ibu dan yang lainnya. Sudah ya, sekarang kita susul mereka ke ruang makan." ujar Dhana sambil melepaskan pelukannya terhadap Dhina dan menghapus air mata adik kembarnya itu.
Setelah selesai dan mendapatkan jawaban dari Dhana, kini Dhina merasa lebih tenang. Ia akan mengingat pesan yang tadi diberikan Dhana kepadanya. Kini mereka berdua sedang menuju ke kamar untuk meletakkan peralatan shalat mereka masing-masing. Sementara di ruang makan, sudah terhidang makan malam untuk keluarga Pak Aidi. Bu Aini yang membantu Bi Iyah, melihat suami dan kedua putranya (Ammar dan Sadha) masih asyik di ruang keluarga langsung memanggil mereka.
"Ayah, Ammar, Sadha... ayo kita makan! Makanan sudah siap. Ayo sebelum makanannya dingin." sahut Bu Aini dari arah ruang makan sambil merapihkan piring.
Pak Aidi, Ammar dan Sadha yang mendengar Bu Aini memanggil langsung berdiri lalu berjalan menuju meja makan dan langsung duduk di kursi masing-masing.
"Si kembar di mana?" tanya Bu Aini yang melihat mereka satu per satu.
Bu Aini yang mengira bahwa Dhana dan Dhina ikut berkumpul dengan Pak Aidi, Ammar dan Sadha di ruang keluarga pun ternyata salah.
"Masih di kamar mungkin, Bu." jawab Ammar seraya mengambil nasi ke dalam piringnya.
"Itu si kembar, Bu." ujar Sadha sambil memajukan bibirnya ke arah Dhana dan Dhina yang sedang turun dari lantai atas.
"Ada apa Bu?"
Dhana yang baru saja turun dari tangga bersama Dhina dan melihat ke arah Bu Aini pun bertanya. Sedangkan Dhina langsung duduk di samping Bu Aini.
"Tidak apa-apa, Nak. Ayo makan! Ibu kira tadi kalian ikut duduk bersama Ayah dan mas-mas kalian di ruang keluarga." jawab Bu Aini sambil memberikan piring yang sudah berisi nasi pada Dhana.
"Dhana dan Adek habis dari kamar, Bu." ucap Dhana sambil mengambil piring yang diberikan oleh ibunya.
"Ya sudah, ayo makan." jawab Bu Aini pada semuanya.
Semua anggota keluarga Pak Aidi pun sudah berkumpul di meja makan. Kini mereka sedang menikmati makan malam dengan penuh suka cita. Saat makan berlangsung, Bu Aini pun memulai pembicaraan untuk membahas rencana weekend besok.
"Anak-anak... Ibu dan Ayah ada rencana untuk weekend besok." ujar Bu Aini seraya menyuapi makanan ke mulutnya.
"Rencana apa Bu?" tanya Sadha yang sedang mengambil minum di dekat Ammar.
"Besok pagi, kita jalan-jalan ke puncak." jawab Bu Aini dengan penuh semangat dan ceria.
"Ke puncak Bu?" tanya Dhina yang membulatkan kedua matanya melihat sang ibu untuk mendengar jelas apa yang Bu Aini katakan.
"Iya, Sayang. Besok kita berangkat habis subuh agar tidak terjebak macet di jalan. Malam ini jangan ada yang begadang ya! Setelah salat isya harus sudah tidur agar besok tidak kesiangan." ujar Bu Aini yang mencubit pipi putri satu-satunya dan melirik ke arah yang lain.
"Masa tidak boleh begadang, Bu. Ammar ada rencana ingin main game bersama Sadha dan Dhana. Lagi pula ini malam minggu." ujar Ammar karena ia sudah janji dari jauh hari dengan kedua adik laki-lakinya untuk main game.
"Main gamenya habis makan saja sampai menjelang isya 'kan masih lama, Nak. Pokoknya jangan tidur malam-malam. Jarang loh Ibu mengajak kalian jalan. Biasanya kalau weekend Ibu pergi arisan. Lagi pula jarak puncak dari rumah kita tidak terlalu jauh." ujar Bu Aini sambil merapihkan piring yang dibantu oleh Bi Iyah dan Dhina.
"Sudah, kalian ikuti saja apa maunya Ibu kalian. Jarang-jarang juga Ayah kasih izin untuk rencana ini." timpal Pak Aidi yang masih duduk di meja makan.
"Demi Ibu tercinta. Oke, kita mainnya hanya sampai jam sembilan. Bagaimana Bu? Boleh?" ujar Ammar sambil mengacungkan jempol ke arah ibunya.
"Iya, boleh. Tapi besok habis subuh jangan tidur lagi ya." jawab Bu Aini sambil menarik telinga Ammar dengan gemasnya.
"Tenang saja, Bu. Biar Adek yang kawal para mas Adek yang tampan ini main game. Biar tidak lupa waktu." timpal Dhina seraya mengedipkan salah satu matanya ke arah Bu Aini.
"Wanita memang tidak pernah mau kalah ya, Mas." ujar Dhana yang menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah Dhina dan meninggalkan meja makan.
Ammar dan Sadha yang juga melihat sikap Dhina hanya menggelengkan kepala dan tersenyum karena tingkah lucu adik perempuan mereka itu. Saat hendak berdiri, Ammar mengatakan sesuatu pada Bu Aini.
"Ibu... Apa Ammar boleh mengajak seseorang?" tanya Ammar sambil berjalan ke arah Bu Aini.
"Kamu ingin mengajak siapa Nak?" tanya Bu Aini pada Ammar sambil mengeryitkan keningnya.
"Mas Ammar ingin mengajak pacarnya, Bu. Biar bisa sekalian dikenalkan ke kita semua. Iya 'kan Mas?" timpal Dhina dari arah ruang makan sambil menggoda mas sulungnya.
"Pacar apaan sih, Dek. Bukan pacar, tapi teman dekat. Dari awal kuliah sampai dinas kerja selalu satu tempat, makanya kita dekat." jawab Ammar sambil mencibirkan bibirnya ke arah Dhina.
"Cewek atau cowok Nak?" tanya Bu Aini yang singkat dengan tatapan selidik.
"Ya cewek lah, Ibu. Masa teman dekat Mas Ammar cowok." timpal Dhina lagi masih dari arah yang sama dan masih menggoda Ammar.
"Adek kenapa sih? Ikut campur saja kalau orang bicara." sewot Ammar yang jengah dengan tingkah sang adik.
Dhina hanya terkekeh melihat ekspresi jengah mas sulungnya itu. Sementara Ammar kembali menoleh ke arah sang ibu.
"Teman Ammar cewek, Bu. Boleh ya... sudah lama sebenarnya Ammar ingin membawanya ke hadapan Ibu, Ayah dan adik-adik. Tapi belum ada waktu yang tepat. Besok Ammar rasa waktunya sudah cocok." tutur Ammar pada sang ibu dan berusaha meyakinkan ibunya.
Bu Aini terdiam sejenak mendengar perkataan Ammar. Bu Aini merasa bahwa putra sulungnya memang sudah dewasa dan berhak untuk segera memiliki pasangan. Setelah diam sejenak, Bu Aini menghela nafas dan menjawab.
"Iya, boleh. Besok kita jemput teman kamu itu ke rumahnya ya." jawab Bu Aini dengan senyum yang penuh kasih sayang.
"Benar Bu? Terima kasih Ibu. Ammar sayang Ibu." ujar Ammar sambil memeluk ibunya dan dibalas oleh Bu Aini.
Setelah mendapat izin dari Bu Aini untuk membawa teman dekatnya ikut berlibur besok, Ammar langsung menuju kamarnya untuk main game PS. Sedangkan Sadha dan Dhana sudah berada di sana duluan dari Ammar. Mereka pun terlihat sedang sibuk menyalakan PS.
"Kalau urusan game kalian memang cepat ya!" ujar Ammar yang baru masuk ke dalam kamarnya dan melihat kedua adik sudah ada di depan TV.
"So pasti dong, Mas. Untuk dapat kesempatan main game sama-sama seperti ini hanya malam minggu. Jadi tidak boleh terlewatkan." jawab Dhana yang tertawa melihat Ammar.
"Mas lama sekali, makanya kita duluan!" timpal Sadha yang sudah siap untuk main game bersama Dhana terlebih dahulu.
"Mas ada urusan sebentar tadi. Kenapa hanya kalian yang main? Mas ingin main juga. Dhana... pasang game yang main bertiga. Main di kamar siapa, yang main siapa. Enak saja kalian!" ujar Ammar yang sewot dan ingin mengganti game yang sedang mulai.
Saat Ammar ingin menekan tombol open, tangan Ammar dipukul kecil oleh Sadha.
"Tunggu dulu kenapa sih, Mas. Itu sudah mau mulai. Setelah ini kita main bertiga. Lagi pula siapa suruh telat." ujar Sadha yang sudah siap untuk bermain dengan Dhana.
"Kalian yang terlalu cepat datang! Tidak tunggu pemilik kamar datang dulu, sudah main saja. Dasar adik tidak punya akhlak!" jawab Ammar yang jengah namun masih bercanda pada sang adik.
"Mas Ammar sewot saja! Tunggu giliran sana. Mas itu harus mengalah sama adiknya." ujar Sadha sambil melirik sesekali ke arah Ammar.
"Ya sudah, kalian cerewet sekali! Cepat ya mainnya. King Ammar juga mau main. Kalian lupa, kita besok mau pergi dan Ibu kasih waktu main hanya sampai jam sembilan." jawab Ammar seraya berbaring di atas sofa.
"Tidak lupa, Mas. Tenang saja. Nanti juga ada pengawal kita." ujar Sadha pada Ammar dan teringat kalau akan ada pengawal saat mereka main.
"Oh iya, pengawal kita mana? Apa Adek sudah tidur duluan?" tanya Ammar yang langsung terduduk setelah teringat adik perempuannya itu.
"Adek masih di bawah, Mas. Duduk sama Ayah dan Ibu mungkin di ruang keluarga. Mana mungkin, Adek sudah tidur jam segini." jawab Dhana yang tau kebiasaan adik kembarnya itu dan tetap serius memainkan stick game.
"Kamu benar juga, Dhana. Ya sudah, kalian yang cepat mainnya." ujar Ammar yang kembali merebahkan tubuhnya ke atas sofa.
Sadha dan Dhana hanya tertawa melihat tingkah masnya itu. Sedangkan Ammar hanya bisa mengalah pada adik-adiknya dan memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa untuk melihat Sadha dan Dhana main.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Ica Snow Kim
TERNYATA ITU ALASAN DHANA GA SUKA DENGAN REZKY 😓😓😓, FEELING COWOK & KAKAK 😅😅😅,
KAKAK2 YG BAIK 😁😁😁
2021-05-12
1
coni
mas Masnya Dhina baik² ya gak kayak, Abangnya Aster 😌😂😂
2021-04-20
1
Arthi Yuniar
Senengnya lihat si kembar yg akur 😁Dhana sayang bgt y sama Dhina dia kk yg sangat perhatian..Duh mas Amar temen deketnya siapa sih?kenalin atuh sm ortunya
2021-04-13
0