...🍁🍁🍁...
Setiap maghrib keluarga Pak Aidi selalu melakukan rutinitas seperti biasa. Kini hanya Pak Aidi, Bu Aini, Sadha dan Dhana yang melakukan salat berjama'ah karena Ammar dan Dhina sedang tidak berada di rumah. Setelah selesai salat maghrib, mereka pun duduk di ruang keluarga sambil menunggu Ammar dan Dhina pulang agar bisa makan malam bersama.
"Ayah... Ammar sama Adek kok lama sekali ya pulangnya? Apa tidak Ayah coba untuk hubungi mereka?" ujar Bu Aini di ruang makan seraya menyiapkan makan malam.
"Kita tunggu saja, Bu. Sebentar lagi mereka juga sampai." jawab Pak Aidi dengan santai yang duduk di ruang keluarga.
"Ini sudah hampir jam delapan, Yah. Mereka sudah pergi sejak tadi, sampai sekarang tidak pulang juga." ujar Bu Aini yang panik karena kedua anaknya belum pulang.
"Sabar, Bu. Lagi pula Adek 'kan perginya bersama Ammar. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." jawab Pak Aidi yang masih santai.
"Si Ayah... Tidak mengerti sekali sih dengan perasaan Ibu. Orang Ibu cemas seperti ini, malah dia nya biasa saja." ceroteh Bu Aini yang kesal dengan sikap sang suami.
Dhana yang duduk di ruang tamu melihat sikap Bu Aini yang begitu panik dan cemas karena Ammar dan Dhina belum pulang. Ia pun juga ikut merasa cemas. Apalagi jika teringat dengan kejadian tadi pagi. Dhina yang tiba-tiba pingsan dan semua orang tidak ada di rumah. Karena mrasa cemas, Dhana pun meminta Sadha untuk menghubungi Ammar. Sedangkan dirinya mencoba menghubungi Dhina.
"Mas... coba Mas hubungi Mas Ammar. Tanya mereka sudah di mana." ujar Dhana yang sedang duduk di ruang tamu bersama Sadha.
"Ini Mas juga sedang chatting Mas Ammar, Dhana. Tapi Mas Ammar tidak membalasnya." jawab Sadha sambil memegang ponselnya.
"Dhana juga sudah chat Adek, tapi ponselnya tidak aktif. Mereka ke mana ya Mas? Tadi sudah Dhana ingatkan, jangan pulang terlalu sore. Ini malah sudah malam belum pulang juga." ceroteh Dhana yang masih memantau whatsapp adik kembarnya.
Aku sebenarnya juga khawatir karena mereka belum pulang, tapi aku tidak mau ceroboh lagi seperti tadi. Nanti yang lain malah curiga. Gumam Sadha dalam hati.
"Sudah dibalas Mas Ammar, Mas?" ujar Dhana yang melihat ke arah Sadha dan membuat Sadha tersentak dari lamunannya.
"Belum, whatsapp Mas Ammar sebenarnya ceklis dua, tapi belum dibalas. Mungkin Mas Ammar sedang mengemudi, Dhana." jawab Sadha yang berusaha tenang agar Dhana tidak merasa curiga kalau dirinya juga sedang cemas.
Saat keduanya sibuk memantau chatting-an mereka dengan Ammar dan Dhina, tidak lama kemudian terdengar suara mobil yang masuk ke halaman rumah mereka. Mendengar suara itu, Sadha dan Dhana pun langsung keluar melihatnya.
"Akhirnya mereka pulang juga." ucap Dhana yang merasa lega karena melihat Ammar dan Dhina sudah pulang.
"Hei, Mas Dhana, Mas Sadha. Kalian sedang apa di luar?" sapa Dhina yang baru turun dari mobil dan menyapa kedua masnya.
"Kita hanya mencari angin. Kalian kenapa baru pulang? Ibu sudah khawatir tuh sama kalian." ujar Dhana yang berusaha santai padahal ia sangat cemas tadi.
"Dhana bohong, Dek. Dia khawatir sama Adek dan Mas Ammar yang belum pulang juga sejak tadi." timpal Sadha yang melirik ke arah Dhana dan tertawa.
"Apa yang kalian khawatirkan? Kita tadi terjebak macet lalu ponsel Mas habis baterai, makanya tidak bisa kasih kabar." jawab Ammar yang mengambil box makanan dari restoran tadi.
"Tapi ponsel Adek 'kan ada, Mas. Kebiasaan sekali kalau sudah jalan berdua pasti lupa waktu." ceroteh Dhana yang masih berdiri di depan pintu.
"Maaf ya Mas kembarnya Adek, ponsel Adek habis paket dan pulsa, makanya tidak bisa memberi kabar juga." jawab Dhina yang membujuk mas kembarnya yang badmood.
"Sudahlah, Dhana. Yang penting sekarang Mas Ammar sama Adek sudah di rumah. Kamu tidak usah cemas lagi." ujar Sadha yang merangkul bahu Dhana.
"Iya, iya. Sini Mas, Dhana bantu membawa makanannya. Kalian beli makanan di mana?" ujar Dhana seraya membantu Ammar membawa box makanan yang lumayan banyak.
"Iya nih, setiap Mas Ammar jalan sama Adek pasti memborong terus. Mas kena pajak lagi sama adik perempuan kita yang usil ini?" ujar Sadha yang menggoda adik perempuannya.
"Apaan sih, Mas. Pajak, pajak! Memang Adek ini kantor pajak, hah!?" jawab Dhina yang mencubit lengan Sadha.
"Ampun, ampun Dek." ujar Sadha yang kesakitan karena cubitan Dhina.
Saat Dhina mencubit lengan Sadha, tiba-tiba Sadha melihat luka memar yang cukup besar di tangan Dhina. Melihat itu, Sadha langsung meraih tangan Dhina lagi.
"Adek... tangan Adek kenapa memar seperti ini?" ujar Sadha yang terdengar oleh semua orang dan membuat semuanya melihat tangan Dhina.
"Memar? Sejak kapan ada memar di sini. Adek saja baru sadar, Mas." jawab Dhina yang tidak sadar ada bekas memar di tangannya.
"Besar sekali luka memar Adek. Adek terjatuh ya?" tanya Dhana yang meraih tangan Dhina.
"Tidak, Mas. Adek tidak terjatuh." jawab Dhina yang juga heran dengan memar di tangannya.
Melihat memar yang ada di tangan Dhina, membuat Dhana teringat dengan kejadian tadi pagi saat Dhina pingsan.
Apa karena Adek pingsan tadi? Tapi saat Adek pingsan, kursi itu tidak menimpa tangannya. Tapi kenapa ada luka memar sebesar itu ya. Gumam Dhana dalam hati.
"Mana coba Ibu lihat." ujar Bu Aini yang meraih tangan putrinya itu.
"Apa Adek tertimpa sesuatu tadi Nak?" tanya Pak Aidi yang sudah berada di samping Dhina.
"Tidak, Ayah. Adek tidak jatuh atau pun tertimpa benda berat atau yang lainnya. Adek juga bingung ini luka memar karena apa." jelas Dhina yang semakin bingung.
"Ya sudah, mungkin karena Adek terbentur sesuatu tapi Adek tidak sadar, makanya seperti ini." ujar Bu Aini sambil membawa Dhina untuk duduk.
"Coba Mas lihat tangan Adek." timpal Ammar yang meraih tangan adik perempuannya itu.
Saat menatap dalam luka memar yang ada di tangan adik perempuannya itu, membuat Ammar terdiam. Profesi Ammar yang sebagai dokter membuat ia tau banyak hal dengan semua jenis luka, termasuk luka memar di tangan Dhina. Ammar pun menatap dalam luka memar di tangan sang adiknya itu. Lalu...
Luka memar ini, ini... ini tidak mungkin. Aku pasti salah. Tidak mungkin Adek terkena kanker darah, tidak. Ya Allah... jangan sampai diagnosisku ini benar. Beberapa hari ini Adek sering pucat, mudah lelah, banyak diam, dan sekarang ada luka memar. Tadi pagi aku menemukan tisu yang penuh dengan darah di kamarnya. Tidak... aku tidak boleh berpikiran buruk dulu. Gumam Ammar dalam hati.
"Ammar... kenapa kamu diam Nak?" ujar Bu Aini yang mengagetkan putra sulungnya itu.
"Tidak, Bu. Mungkin benar yang Ibu katakan, Adek tidak sadar terbentur sesuatu sampai ada bekas memar seperti ini." jawab Ammar yang berusaha tenang menjawab pertanyaan Bu Aini.
"Ya sudah, lebih baik kita makan. Setelah ini kalian istirahat ya." ujar Bu Aini seraya berdiri dan menyiapkan makanan yang dibawa Ammar tadi.
"Sebelum makan, Ayah ingin menanyakan sesuatu pada kalian. Lusa kalian ada kegiatan tidak?" tanya Pak Aidi pada keempat anaknya.
"Ammar ada, Ayah. Ammar dinas jam sepuluh. Jadi pagi masih Ammar di rumah. Memang kenapa Ayah?" jawab Ammar yang mengambil makanan.
"Kalau Sadha bisa dikondisikan, Yah. Memang ada apa Ayah?" jawab Sadha yang melihat ke arah Pak Aidi.
"Kita diundang satu keluarga ke acara open office di kantor dinas Ayah. Apa kita semua bisa datang?" jawab Pak Aidi yang menyuapi makanannya.
"Kalau Ammar sebelum dinas bisa, Yah. Tapi jam sepuluh, Ammar harus pergi ke rumah sakit." ujar Ammar pada Pak Aidi.
"Acaranya jam berapa Ayah?" tanya Dhana yang sedang makan dan melihat ke arah Pak Aidi.
"Jam delapan, Nak. Kalau Sadha bagaimana? Ayah rasa semuanya bisa, tapi kalau Sadha Ayah kurang yakin." ujar Pak Aidi yang melihat ke arah Sadha.
"Sepertinya bisa, Yah. Besok lusa, Sadha juga tidak ada jadwal meeting. Besok juga tidak ada. Minggu ini sedang banyak jadwal kosong, Yah." jawab Sadha dan membuat Pak Aidi senang mendengarnya.
"Alhamdulillah, berarti keluarga kita bisa semua. Lusa kita berangkat jam delapan, khusus Ammar jam sepuluh kembali ke rumah sakit. Oke bukan?" ujar Pak Aidi yang semangat.
"Ada makanannya 'kan Yah?" tanya Dhina yang suka sekali dengan makanan.
"Dasar gembul! Pipi sudah gembul masih saja makan." timpal Sadha pada adik perempuannya itu.
"Mas Sadha rusuh saja sih. Mas tidak sadar apa, Mas juga gembul tuh." ujar Dhina yang menggoda balik mas tengahnya itu.
"Acaranya memang makan-makan, Sayang. Adek bisa ikut 'kan?" jawab Pak Aidi yang lupa bertanya pada Dhina.
"Kalau banyak makanan, pasti bisa dong Ayah. Masa Adek menolak makanan sih." ujar Dhina seraya menyuapi makanannya.
Semua tertawa melihat tingkah Dhina yang suka sekali dengan makanan. Tapi tidak dengan Ammar. Sejak melihat luka memar di tangan Dhina tadi, pikirannya menerawang entah ke mana. Ia juga sibuk memikirkan tisu berdarah, memar dan kebiasaan Dhina yang berubah.
Sadha dan Dhana pun juga demikian. Walaupun mereka tertawa tapi hati dan pikiran mereka tetap tidak tenang. Sejak melihat luka memar di tangan Dhina, Sadha pun berniat untuk memberitahu Ammar tentang kejadian yang ia lihat kemarin di wajah Dhina.
Dhana pun juga memikirkan hal yang sama, ia juga akan memberitahu Ammar tentang kejadian Dhina pingsan tadi agar semuanya jelas dan mereka bisa mencari tau kebenaran bersama-sama.
Setelah ini aku harus memberitahu Mas Ammar dan Dhana. Aku tidak peduli Mas Ammar akan marah atau tidak, yang penting saat ini adalah Adek. Luka memar dan mimisan itu, benar-benar membuatku tidak tenang. Gumam Sadha dalam hati.
Sejak kemarin, Adek sering pucat, dan tadi pingsan. Aku harus memberitahu pada Mas Ammar dan Mas Sadha. Aku yakin Mas Ammar dan Mas Sadha juga mengetahui sesuatu. Mungkin dengan begitu, aku bisa tau jawaban dari rasa penasaranku ini. Gumam Dhana dalam hati.
Setelah semua selesai makan, Ammar pun beranjak. Ia memilih pergi ke taman samping untuk mencari udara segar agar pikirannya tenang. Melihat Ammar yang berada di taman samping, Sadha pun berjalan dan menghampirinya. Lalu...
"Mas... apa yang sedang Mas pikirkan? Sejak tadi Sadha perhatikan, sepertinya Mas banyak pikiran." ujar Sadha yang ikut duduk di taman samping rumah.
"Tidak, Mas tidak sedang memikirkan apa-apa. Kamu sedang apa di sini Sadha?" jawab Ammar yang melihat wajah Sadha murung.
"Apakah Mas memikirkan Adek? Apakah Mas mengetahui sesuatu tentang kondisi Adek?" tanya Sadha balik pada Ammar.
Ammar pun langsung melihat ke arah Sadha saat mendengar pertanyaan adik tengahnya itu. Lalu...
"Maksud kamu apa Sadha? Mas tidak mengerti." ujar Ammar yang menatap tajam ke arah Sadha.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Sadha beritahu pada Mas Ammar tentang Adek." jawab Sadha yang gugup karena takut Ammar marah.
"Sesuatu apa Sadha? Bilang sama Mas!" ujar Ammar seraya meraih tangan Sadha.
"Saat pulang dari puncak kemarin, Sadha melihat... Sadha melihat... melihat Adek mimisan, Mas." jawab Sadha dengan gugup.
Ammar tersentak saat mendengar kebenaran dari bibir Sadha.
"Apa? Mimisan? Kamu jangan membohongi Mas, Sadha. Ini tidak lucu, kamu pasti sedang bercanda 'kan?" tanya Ammar yang langsung beranjak mendengar perkataan Sadha.
"Sadha tidak bohong, Mas. Sadha melihat sendiri dan karena waktu itu kita masih dalam perjalanan pulang, Sadha berusaha diam dan tetap tenang. Tapi tetap saja hati dan pikiran Sadha tidak bisa tenang, Mas." tutur Sadha yang membuat Ammar semakin emosi.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang? Jadi ini alasan sikap kamu yang aneh sejak kemarin? Tidak fokus mengemudi, tiba-tiba ingin ke kamar Adek. Jawab Sadha!? Apa itu benar?" serkas Ammar yang memegang kedua bahu Sadha dan membuat Sadha berdiri.
Saat mereka sedang berdebat di taman samping, Dhana yang masih berada di ruang makan pun mendengar suara Ammar yang begitu keras. Jarak taman samping sangat dekat dengan dapur dan ruang makan sehingga Dhana bisa mendengar suara Ammar. Mendengar suara keras itu, membuat Dhana berlari ke arah taman samping dan menghampiri mereka.
"Mas Ammar, Mas Sadha... kalian kenapa? Nanti terdengar oleh Ayah dan Ibu loh. Ada apa Mas?" ujar Dhana yang hendak memisahkan Ammar dan Sadha.
"Tanya sama Mas kamu itu, Dhana." jawab Ammar yang emosi seraya mendorong Sadha hingga terduduk di kursi.
"Mas Ammar tenang dulu, ini bisa dibicarakan dengan baik, Mas. Sebenarnya ada apa? Tadi kalian baik-baik saja, kenapa sekarang jadi seperti ini?" tanya Dhana pada keduanya.
"Sadha melihat Adek mimisan, Dhana. Saat kita dalam perjalanan pulang dari puncak." jawab Ammar yang berdiri membelakangi Sadha dan Dhana.
"Apa? Adek mimisan?" tanya Dhana yang terkejut dengan pernyataan Ammar.
Jadi ini alasan dari sikap aneh Mas Sadha sejak kemarin dan membuatnya cemas berlebihan tadi sore. Mas Sadha pernah melihat Adek mimisan. Gumam Dhana dalam hati.
"Iya, Dhana. Sadha hanya diam dan menutupi semuanya dari kita." jawab Ammar yang emosi dan menunjuk Sadha.
"Sadha minta maaf, Mas. Adek melarang Sadha untuk bicara dan karena Sadha tidak tega lalu sadha menurutinya begitu saja. Sadha menyesal, Mas. Sadha tidak menutupinya, tapi Sadha sedang berusaha mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini. Sejak melihat luka memar di tangan Adek, Sadha sudah tidak bisa diam lagi, Mas." tutur Sadha yang meraih tangan Ammar.
Ammar pun merasa sangat marah pada Sadha. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Sadha begitu saja. Sementara Dhana sangat terkejut saat mendengar kalau Dhina pernah mimisan. Dhana menghela nafas berat, lalu...
"Tadi pagi Adek juga sempat pingsan, Mas."
Bak jatuh lalu tertimpa oleh tangga pula. Untuk yang kedua kalinya Ammar mendengar kabar buruk tentang Dhina. Tidak hanya Ammar, Sadha pun merasa sangat terkejut dan melihat ke arah Dhana.
Apa? Adek pingsan? Apa diagnosisku ini akan sama dengan diagnosis Mas Ammar? Semua gejala itu... Tidak... semoga saja ini tidak benar. Gumam Sadha dalam hati.
"Apa? Pingsan? Mas tidak menyangka kalian bisa menyembunyikan hal seperti ini. Tujuan kalian apa, hah!? Apa kalian tidak sayang sama Adek?" hardik Ammar yang tersulut emosi pada Sadha dan Dhana.
"Kita tidak punya tujuan apa-apa, Mas. Kita bukan tidak sayang, tapi karena kita sayang sama Adek. Jika Mas berada di posisi kita, maka Mas juga akan merasakan hal yang sama. Adek tidak ingin membuat kita semua khawatir. Dhana dan Mas Sadha mungkin sudah membujuknya agar bicara jujur, tapi Adek tetap keras kepala. Dia tidak ingin kita semua tau dengan kondisinya, Mas." tutur Dhana yang menatap ke arah Ammar.
Ammar pun terdiam saat mendengar penjelasan Dhana. Lalu...
"Apa kalian tidak merasakan kegelisahan Mas sejak kemarin? Tadi pagi, sebelum Mas berangkat dinas, Mas masuk ke kamar Adek dan menemukan tisu yang penuh dengan darah." ujar Ammar yang terduduk di kursi taman dan mengusap kepalanya.
Sadha dan Dhana saling pandang karena terkejut saat mendengar perkataan Ammar. Lalu...
Jadi apa yang aku rasakan sama dengan yang Mas Ammar rasakan. Gumam Dhana dalam hati.
"Apa mungkin itu darah mimisan Adek, Mas? Itu artinya, Adek telah berbohong. Adek bilang kalau mimisan saat di mobil adalah mimisan pertamanya." ujar Sadha yang teringat dengan perkataan Dhina sore itu.
"Mas juga tidak tau, Sadha. Tapi Mas sudah membawa tisu itu ke labor rumah sakit dan besok pagi hasilnya akan keluar. Mas rasa, Adek sudah membohongi kita untuk menutupi semua ini." jawab Ammar yang suaranya tertahan karena menahan tangis.
"Sadha minta maaf ya, Mas. Seharusnya Sadha langsung mengatakan hal ini pada Mas. Sadha benar-benar minta maaf, Mas." ujar Sadha yang menyalami tangan mas sulungnya itu.
"Dhana juga minta maaf, Mas. Dhana terlalu mengikuti keinginan Adek." timpal Dhana yang juga menyalami tangan Ammar.
"Kalian sebenarnya tidak salah. Jadi tidak perlu minta maaf. Ini semua karena sifat Adek yang tidak terbuka pada kita. Mas tidak marah pada kalian, Mas hanya terkejut dan terbawa emosi." jawab Ammar yang meraih kedua tangan adiknya itu.
"Tapi Mas jangan marah sama Adek ya." ujar Dhana.
"Tidak, Mas tidak marah sama Adek. Mas hanya kecewa dengan sikapnya. Kalian tenang saja. Besok Mas akan melihat hasil labor dari tisu berdarah itu. Mas yakin sekali kalau itu darah Adek." jawab Ammar yang beranjak lagi.
"Apa Mas juga memikirkan hal yang sama dengan yang Sadha pikirkan saat ini?" ujar Sadha yang melihat keduanya.
"Maksud Mas Sadha?" tanya Dhana yang mengeryitkan dahinya karena heran.
"Sejak kemarin, Adek selalu telat bangun tidur, mudah lelah, wajahnya sering pucat, mimisan, pingsan dan luka memar di tangannya. Apa mungkin Adek terkena kanker darah Mas?" ujar Sadha dan membuat Dhana terkejut lagi namun tidak dengan Ammar.
"Mas Sadha kenapa bicara seperti itu sih? Perkataan itu do'a loh! Belum tentu itu gejala kanker, iya 'kan Mas?" timpal Dhana yang tidak terima Sadha menduga Dhina sakit kanker lalu bertanya pada Ammar.
"Mas juga berpikir seperti itu, Sadha. Gejala yang dialami Adek, memang menunjukan ke arah sana. Tapi sebelum hasil labor keluar, kita masih punya harapan dan berdo'a agar Adek baik-baik saja." jawab Ammar yang berusaha tenang di depan Sadha dan Dhana.
"Semoga saja diagnosis kita salah ya, Mas." ujar Sadha yang meraih bahu Ammar yang sedang berdiri.
Sadha dan Ammar berusaha untuk menenangkan diri mereka satu sama lain, namun tidak dengan Dhana. Dhana terdiam saat mendengar diagnosis yang dikatakan Ammar dan Sadha. Melihat Dhana yang terdiam, Ammar dan Sadha pun mendekatinya.
"Kamu jangan khawatir, Dhana. Selagi hasil labor belum keluar, kita masih bisa berdo'a dan berharap agar Adek baik-baik saja. Mas tau kamu khawatir, kita juga khawatir. Kita sangat sayang sama Adek. Jadi apapun yang terjadi, kita harus tetap kuat demi Adek." ujar Ammar yang berusaha menenangkan Dhana.
"Mas Ammar benar, Dhana. Lebih baik sekarang kita masuk, lalu istirahat. Nanti Ayah dan Ibu curiga kalau kita semua di sini." timpal Sadha yang mengajak Ammar dan Dhana masuk.
Ammar dan Dhana pun mengikuti yang dikatakan oleh Sadha. Kini mereka sudah saling mengetahui tentang kejadian yang terjadi pada Dhina selama dua hari ini. Rasa penasaran di antara mereka bertiga sudah terjawab, walaupun belum pasti. Diagnosis yang dikatakan Ammar dan Sadha, membuat ketiganya merasa tidak tenang.
Saat berada di kamar masing-masing, kini hanya Dhina yang tertidur pulas. Tidak dengan Ammar, Sadha dan Dhana. Mereka masih saja teringat dengan pembicaraan mereka tadi. Tidak terasa, malam pun semakin larut dan memaksa mereka untuk tertidur. Mereka terpaksa harus melupakan sementara permasalahan yang sedang mereka hadapi kini.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
coni
Mas-mas sabar ya semoga diagnosis kalian semua salah🥺🥺🥺
2021-05-27
1
Arthi Yuniar
Separah itukah penyakit Dhina kok aku jd takut lihat hasilnya ya
2021-04-13
0
Nofi Kahza
hatiku berdenyut ketika ammar mendiaknosa dibatin kalau dhina kena kanker darah. meskipun itu blm pasti😢
2021-03-13
2