Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan

...🍁🍁🍁...

Setiap maghrib keluarga Pak Aidi selalu melakukan rutinitas seperti biasa. Kini hanya Pak Aidi, Bu Aini, Sadha dan Dhana yang melakukan salat berjama'ah karena Ammar dan Dhina sedang tidak berada di rumah. Setelah selesai salat maghrib, mereka pun duduk di ruang keluarga sambil menunggu Ammar dan Dhina pulang agar bisa makan malam bersama.

"Ayah... Ammar sama Adek kok lama sekali ya pulangnya? Apa tidak Ayah coba untuk hubungi mereka?" ujar Bu Aini di ruang makan seraya menyiapkan makan malam.

"Kita tunggu saja, Bu. Sebentar lagi mereka juga sampai." jawab Pak Aidi dengan santai yang duduk di ruang keluarga.

"Ini sudah hampir jam delapan, Yah. Mereka sudah pergi sejak tadi, sampai sekarang tidak pulang juga." ujar Bu Aini yang panik karena kedua anaknya belum pulang.

"Sabar, Bu. Lagi pula Adek 'kan perginya bersama Ammar. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." jawab Pak Aidi yang masih santai.

"Si Ayah... Tidak mengerti sekali sih dengan perasaan Ibu. Orang Ibu cemas seperti ini, malah dia nya biasa saja." ceroteh Bu Aini yang kesal dengan sikap sang suami.

Dhana yang duduk di ruang tamu melihat sikap Bu Aini yang begitu panik dan cemas karena Ammar dan Dhina belum pulang. Ia pun juga ikut merasa cemas. Apalagi jika teringat dengan kejadian tadi pagi. Dhina yang tiba-tiba pingsan dan semua orang tidak ada di rumah. Karena mrasa cemas, Dhana pun meminta Sadha untuk menghubungi Ammar. Sedangkan dirinya mencoba menghubungi Dhina.

"Mas... coba Mas hubungi Mas Ammar. Tanya mereka sudah di mana." ujar Dhana yang sedang duduk di ruang tamu bersama Sadha.

"Ini Mas juga sedang chatting Mas Ammar, Dhana. Tapi Mas Ammar tidak membalasnya." jawab Sadha sambil memegang ponselnya.

"Dhana juga sudah chat Adek, tapi ponselnya tidak aktif. Mereka ke mana ya Mas? Tadi sudah Dhana ingatkan, jangan pulang terlalu sore. Ini malah sudah malam belum pulang juga." ceroteh Dhana yang masih memantau whatsapp adik kembarnya.

Aku sebenarnya juga khawatir karena mereka belum pulang, tapi aku tidak mau ceroboh lagi seperti tadi. Nanti yang lain malah curiga. Gumam Sadha dalam hati.

"Sudah dibalas Mas Ammar, Mas?" ujar Dhana yang melihat ke arah Sadha dan membuat Sadha tersentak dari lamunannya.

"Belum, whatsapp Mas Ammar sebenarnya ceklis dua, tapi belum dibalas. Mungkin Mas Ammar sedang mengemudi, Dhana." jawab Sadha yang berusaha tenang agar Dhana tidak merasa curiga kalau dirinya juga sedang cemas.

Saat keduanya sibuk memantau chatting-an mereka dengan Ammar dan Dhina, tidak lama kemudian terdengar suara mobil yang masuk ke halaman rumah mereka. Mendengar suara itu, Sadha dan Dhana pun langsung keluar melihatnya.

"Akhirnya mereka pulang juga." ucap Dhana yang merasa lega karena melihat Ammar dan Dhina sudah pulang.

"Hei, Mas Dhana, Mas Sadha. Kalian sedang apa di luar?" sapa Dhina yang baru turun dari mobil dan menyapa kedua masnya.

"Kita hanya mencari angin. Kalian kenapa baru pulang? Ibu sudah khawatir tuh sama kalian." ujar Dhana yang berusaha santai padahal ia sangat cemas tadi.

"Dhana bohong, Dek. Dia khawatir sama Adek dan Mas Ammar yang belum pulang juga sejak tadi." timpal Sadha yang melirik ke arah Dhana dan tertawa.

"Apa yang kalian khawatirkan? Kita tadi terjebak macet lalu ponsel Mas habis baterai, makanya tidak bisa kasih kabar." jawab Ammar yang mengambil box makanan dari restoran tadi.

"Tapi ponsel Adek 'kan ada, Mas. Kebiasaan sekali kalau sudah jalan berdua pasti lupa waktu." ceroteh Dhana yang masih berdiri di depan pintu.

"Maaf ya Mas kembarnya Adek, ponsel Adek habis paket dan pulsa, makanya tidak bisa memberi kabar juga." jawab Dhina yang membujuk mas kembarnya yang badmood.

"Sudahlah, Dhana. Yang penting sekarang Mas Ammar sama Adek sudah di rumah. Kamu tidak usah cemas lagi." ujar Sadha yang merangkul bahu Dhana.

"Iya, iya. Sini Mas, Dhana bantu membawa makanannya. Kalian beli makanan di mana?" ujar Dhana seraya membantu Ammar membawa box makanan yang lumayan banyak.

"Iya nih, setiap Mas Ammar jalan sama Adek pasti memborong terus. Mas kena pajak lagi sama adik perempuan kita yang usil ini?" ujar Sadha yang menggoda adik perempuannya.

"Apaan sih, Mas. Pajak, pajak! Memang Adek ini kantor pajak, hah!?" jawab Dhina yang mencubit lengan Sadha.

"Ampun, ampun Dek." ujar Sadha yang kesakitan karena cubitan Dhina.

Saat Dhina mencubit lengan Sadha, tiba-tiba Sadha melihat luka memar yang cukup besar di tangan Dhina. Melihat itu, Sadha langsung meraih tangan Dhina lagi.

"Adek... tangan Adek kenapa memar seperti ini?" ujar Sadha yang terdengar oleh semua orang dan membuat semuanya melihat tangan Dhina.

"Memar? Sejak kapan ada memar di sini. Adek saja baru sadar, Mas." jawab Dhina yang tidak sadar ada bekas memar di tangannya.

"Besar sekali luka memar Adek. Adek terjatuh ya?" tanya Dhana yang meraih tangan Dhina.

"Tidak, Mas. Adek tidak terjatuh." jawab Dhina yang juga heran dengan memar di tangannya.

Melihat memar yang ada di tangan Dhina, membuat Dhana teringat dengan kejadian tadi pagi saat Dhina pingsan.

Apa karena Adek pingsan tadi? Tapi saat Adek pingsan, kursi itu tidak menimpa tangannya. Tapi kenapa ada luka memar sebesar itu ya. Gumam Dhana dalam hati.

"Mana coba Ibu lihat." ujar Bu Aini yang meraih tangan putrinya itu.

"Apa Adek tertimpa sesuatu tadi Nak?" tanya Pak Aidi yang sudah berada di samping Dhina.

"Tidak, Ayah. Adek tidak jatuh atau pun tertimpa benda berat atau yang lainnya. Adek juga bingung ini luka memar karena apa." jelas Dhina yang semakin bingung.

"Ya sudah, mungkin karena Adek terbentur sesuatu tapi Adek tidak sadar, makanya seperti ini." ujar Bu Aini sambil membawa Dhina untuk duduk.

"Coba Mas lihat tangan Adek." timpal Ammar yang meraih tangan adik perempuannya itu.

Saat menatap dalam luka memar yang ada di tangan adik perempuannya itu, membuat Ammar terdiam. Profesi Ammar yang sebagai dokter membuat ia tau banyak hal dengan semua jenis luka, termasuk luka memar di tangan Dhina. Ammar pun menatap dalam luka memar di tangan sang adiknya itu. Lalu...

Luka memar ini, ini... ini tidak mungkin. Aku pasti salah. Tidak mungkin Adek terkena kanker darah, tidak. Ya Allah... jangan sampai diagnosisku ini benar. Beberapa hari ini Adek sering pucat, mudah lelah, banyak diam, dan sekarang ada luka memar. Tadi pagi aku menemukan tisu yang penuh dengan darah di kamarnya. Tidak... aku tidak boleh berpikiran buruk dulu. Gumam Ammar dalam hati.

"Ammar... kenapa kamu diam Nak?" ujar Bu Aini yang mengagetkan putra sulungnya itu.

"Tidak, Bu. Mungkin benar yang Ibu katakan, Adek tidak sadar terbentur sesuatu sampai ada bekas memar seperti ini." jawab Ammar yang berusaha tenang menjawab pertanyaan Bu Aini.

"Ya sudah, lebih baik kita makan. Setelah ini kalian istirahat ya." ujar Bu Aini seraya berdiri dan menyiapkan makanan yang dibawa Ammar tadi.

"Sebelum makan, Ayah ingin menanyakan sesuatu pada kalian. Lusa kalian ada kegiatan tidak?" tanya Pak Aidi pada keempat anaknya.

"Ammar ada, Ayah. Ammar dinas jam sepuluh. Jadi pagi masih Ammar di rumah. Memang kenapa Ayah?" jawab Ammar yang mengambil makanan.

"Kalau Sadha bisa dikondisikan, Yah. Memang ada apa Ayah?" jawab Sadha yang melihat ke arah Pak Aidi.

"Kita diundang satu keluarga ke acara open office di kantor dinas Ayah. Apa kita semua bisa datang?" jawab Pak Aidi yang menyuapi makanannya.

"Kalau Ammar sebelum dinas bisa, Yah. Tapi jam sepuluh, Ammar harus pergi ke rumah sakit." ujar Ammar pada Pak Aidi.

"Acaranya jam berapa Ayah?" tanya Dhana yang sedang makan dan melihat ke arah Pak Aidi.

"Jam delapan, Nak. Kalau Sadha bagaimana? Ayah rasa semuanya bisa, tapi kalau Sadha Ayah kurang yakin." ujar Pak Aidi yang melihat ke arah Sadha.

"Sepertinya bisa, Yah. Besok lusa, Sadha juga tidak ada jadwal meeting. Besok juga tidak ada. Minggu ini sedang banyak jadwal kosong, Yah." jawab Sadha dan membuat Pak Aidi senang mendengarnya.

"Alhamdulillah, berarti keluarga kita bisa semua. Lusa kita berangkat jam delapan, khusus Ammar jam sepuluh kembali ke rumah sakit. Oke bukan?" ujar Pak Aidi yang semangat.

"Ada makanannya 'kan Yah?" tanya Dhina yang suka sekali dengan makanan.

"Dasar gembul! Pipi sudah gembul masih saja makan." timpal Sadha pada adik perempuannya itu.

"Mas Sadha rusuh saja sih. Mas tidak sadar apa, Mas juga gembul tuh." ujar Dhina yang menggoda balik mas tengahnya itu.

"Acaranya memang makan-makan, Sayang. Adek bisa ikut 'kan?" jawab Pak Aidi yang lupa bertanya pada Dhina.

"Kalau banyak makanan, pasti bisa dong Ayah. Masa Adek menolak makanan sih." ujar Dhina seraya menyuapi makanannya.

Semua tertawa melihat tingkah Dhina yang suka sekali dengan makanan. Tapi tidak dengan Ammar. Sejak melihat luka memar di tangan Dhina tadi, pikirannya menerawang entah ke mana. Ia juga sibuk memikirkan tisu berdarah, memar dan kebiasaan Dhina yang berubah.

Sadha dan Dhana pun juga demikian. Walaupun mereka tertawa tapi hati dan pikiran mereka tetap tidak tenang. Sejak melihat luka memar di tangan Dhina, Sadha pun berniat untuk memberitahu Ammar tentang kejadian yang ia lihat kemarin di wajah Dhina.

Dhana pun juga memikirkan hal yang sama, ia juga akan memberitahu Ammar tentang kejadian Dhina pingsan tadi agar semuanya jelas dan mereka bisa mencari tau kebenaran bersama-sama.

Setelah ini aku harus memberitahu Mas Ammar dan Dhana. Aku tidak peduli Mas Ammar akan marah atau tidak, yang penting saat ini adalah Adek. Luka memar dan mimisan itu, benar-benar membuatku tidak tenang. Gumam Sadha dalam hati.

Sejak kemarin, Adek sering pucat, dan tadi pingsan. Aku harus memberitahu pada Mas Ammar dan Mas Sadha. Aku yakin Mas Ammar dan Mas Sadha juga mengetahui sesuatu. Mungkin dengan begitu, aku bisa tau jawaban dari rasa penasaranku ini. Gumam Dhana dalam hati.

Setelah semua selesai makan, Ammar pun beranjak. Ia memilih pergi ke taman samping untuk mencari udara segar agar pikirannya tenang. Melihat Ammar yang berada di taman samping, Sadha pun berjalan dan menghampirinya. Lalu...

"Mas... apa yang sedang Mas pikirkan? Sejak tadi Sadha perhatikan, sepertinya Mas banyak pikiran." ujar Sadha yang ikut duduk di taman samping rumah.

"Tidak, Mas tidak sedang memikirkan apa-apa. Kamu sedang apa di sini Sadha?" jawab Ammar yang melihat wajah Sadha murung.

"Apakah Mas memikirkan Adek? Apakah Mas mengetahui sesuatu tentang kondisi Adek?" tanya Sadha balik pada Ammar.

Ammar pun langsung melihat ke arah Sadha saat mendengar pertanyaan adik tengahnya itu. Lalu...

"Maksud kamu apa Sadha? Mas tidak mengerti." ujar Ammar yang menatap tajam ke arah Sadha.

"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Sadha beritahu pada Mas Ammar tentang Adek." jawab Sadha yang gugup karena takut Ammar marah.

"Sesuatu apa Sadha? Bilang sama Mas!" ujar Ammar seraya meraih tangan Sadha.

"Saat pulang dari puncak kemarin, Sadha melihat... Sadha melihat... melihat Adek mimisan, Mas." jawab Sadha dengan gugup.

Ammar tersentak saat mendengar kebenaran dari bibir Sadha.

"Apa? Mimisan? Kamu jangan membohongi Mas, Sadha. Ini tidak lucu, kamu pasti sedang bercanda 'kan?" tanya Ammar yang langsung beranjak mendengar perkataan Sadha.

"Sadha tidak bohong, Mas. Sadha melihat sendiri dan karena waktu itu kita masih dalam perjalanan pulang, Sadha berusaha diam dan tetap tenang. Tapi tetap saja hati dan pikiran Sadha tidak bisa tenang, Mas." tutur Sadha yang membuat Ammar semakin emosi.

"Kenapa kamu baru bilang sekarang? Jadi ini alasan sikap kamu yang aneh sejak kemarin? Tidak fokus mengemudi, tiba-tiba ingin ke kamar Adek. Jawab Sadha!? Apa itu benar?" serkas Ammar yang memegang kedua bahu Sadha dan membuat Sadha berdiri.

Saat mereka sedang berdebat di taman samping, Dhana yang masih berada di ruang makan pun mendengar suara Ammar yang begitu keras. Jarak taman samping sangat dekat dengan dapur dan ruang makan sehingga Dhana bisa mendengar suara Ammar. Mendengar suara keras itu, membuat Dhana berlari ke arah taman samping dan menghampiri mereka.

"Mas Ammar, Mas Sadha... kalian kenapa? Nanti terdengar oleh Ayah dan Ibu loh. Ada apa Mas?" ujar Dhana yang hendak memisahkan Ammar dan Sadha.

"Tanya sama Mas kamu itu, Dhana." jawab Ammar yang emosi seraya mendorong Sadha hingga terduduk di kursi.

"Mas Ammar tenang dulu, ini bisa dibicarakan dengan baik, Mas. Sebenarnya ada apa? Tadi kalian baik-baik saja, kenapa sekarang jadi seperti ini?" tanya Dhana pada keduanya.

"Sadha melihat Adek mimisan, Dhana. Saat kita dalam perjalanan pulang dari puncak." jawab Ammar yang berdiri membelakangi Sadha dan Dhana.

"Apa? Adek mimisan?" tanya Dhana yang terkejut dengan pernyataan Ammar.

Jadi ini alasan dari sikap aneh Mas Sadha sejak kemarin dan membuatnya cemas berlebihan tadi sore. Mas Sadha pernah melihat Adek mimisan. Gumam Dhana dalam hati.

"Iya, Dhana. Sadha hanya diam dan menutupi semuanya dari kita." jawab Ammar yang emosi dan menunjuk Sadha.

"Sadha minta maaf, Mas. Adek melarang Sadha untuk bicara dan karena Sadha tidak tega lalu sadha menurutinya begitu saja. Sadha menyesal, Mas. Sadha tidak menutupinya, tapi Sadha sedang berusaha mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini. Sejak melihat luka memar di tangan Adek, Sadha sudah tidak bisa diam lagi, Mas." tutur Sadha yang meraih tangan Ammar.

Ammar pun merasa sangat marah pada Sadha. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Sadha begitu saja. Sementara Dhana sangat terkejut saat mendengar kalau Dhina pernah mimisan. Dhana menghela nafas berat, lalu...

"Tadi pagi Adek juga sempat pingsan, Mas."

Bak jatuh lalu tertimpa oleh tangga pula. Untuk yang kedua kalinya Ammar mendengar kabar buruk tentang Dhina. Tidak hanya Ammar, Sadha pun merasa sangat terkejut dan melihat ke arah Dhana.

Apa? Adek pingsan? Apa diagnosisku ini akan sama dengan diagnosis Mas Ammar? Semua gejala itu... Tidak... semoga saja ini tidak benar. Gumam Sadha dalam hati.

"Apa? Pingsan? Mas tidak menyangka kalian bisa menyembunyikan hal seperti ini. Tujuan kalian apa, hah!? Apa kalian tidak sayang sama Adek?" hardik Ammar yang tersulut emosi pada Sadha dan Dhana.

"Kita tidak punya tujuan apa-apa, Mas. Kita bukan tidak sayang, tapi karena kita sayang sama Adek. Jika Mas berada di posisi kita, maka Mas juga akan merasakan hal yang sama. Adek tidak ingin membuat kita semua khawatir. Dhana dan Mas Sadha mungkin sudah membujuknya agar bicara jujur, tapi Adek tetap keras kepala. Dia tidak ingin kita semua tau dengan kondisinya, Mas." tutur Dhana yang menatap ke arah Ammar.

Ammar pun terdiam saat mendengar penjelasan Dhana. Lalu...

"Apa kalian tidak merasakan kegelisahan Mas sejak kemarin? Tadi pagi, sebelum Mas berangkat dinas, Mas masuk ke kamar Adek dan menemukan tisu yang penuh dengan darah." ujar Ammar yang terduduk di kursi taman dan mengusap kepalanya.

Sadha dan Dhana saling pandang karena terkejut saat mendengar perkataan Ammar. Lalu...

Jadi apa yang aku rasakan sama dengan yang Mas Ammar rasakan. Gumam Dhana dalam hati.

"Apa mungkin itu darah mimisan Adek, Mas? Itu artinya, Adek telah berbohong. Adek bilang kalau mimisan saat di mobil adalah mimisan pertamanya." ujar Sadha yang teringat dengan perkataan Dhina sore itu.

"Mas juga tidak tau, Sadha. Tapi Mas sudah membawa tisu itu ke labor rumah sakit dan besok pagi hasilnya akan keluar. Mas rasa, Adek sudah membohongi kita untuk menutupi semua ini." jawab Ammar yang suaranya tertahan karena menahan tangis.

"Sadha minta maaf ya, Mas. Seharusnya Sadha langsung mengatakan hal ini pada Mas. Sadha benar-benar minta maaf, Mas." ujar Sadha yang menyalami tangan mas sulungnya itu.

"Dhana juga minta maaf, Mas. Dhana terlalu mengikuti keinginan Adek." timpal Dhana yang juga menyalami tangan Ammar.

"Kalian sebenarnya tidak salah. Jadi tidak perlu minta maaf. Ini semua karena sifat Adek yang tidak terbuka pada kita. Mas tidak marah pada kalian, Mas hanya terkejut dan terbawa emosi." jawab Ammar yang meraih kedua tangan adiknya itu.

"Tapi Mas jangan marah sama Adek ya." ujar Dhana.

"Tidak, Mas tidak marah sama Adek. Mas hanya kecewa dengan sikapnya. Kalian tenang saja. Besok Mas akan melihat hasil labor dari tisu berdarah itu. Mas yakin sekali kalau itu darah Adek." jawab Ammar yang beranjak lagi.

"Apa Mas juga memikirkan hal yang sama dengan yang Sadha pikirkan saat ini?" ujar Sadha yang melihat keduanya.

"Maksud Mas Sadha?" tanya Dhana yang mengeryitkan dahinya karena heran.

"Sejak kemarin, Adek selalu telat bangun tidur, mudah lelah, wajahnya sering pucat, mimisan, pingsan dan luka memar di tangannya. Apa mungkin Adek terkena kanker darah Mas?" ujar Sadha dan membuat Dhana terkejut lagi namun tidak dengan Ammar.

"Mas Sadha kenapa bicara seperti itu sih? Perkataan itu do'a loh! Belum tentu itu gejala kanker, iya 'kan Mas?" timpal Dhana yang tidak terima Sadha menduga Dhina sakit kanker lalu bertanya pada Ammar.

"Mas juga berpikir seperti itu, Sadha. Gejala yang dialami Adek, memang menunjukan ke arah sana. Tapi sebelum hasil labor keluar, kita masih punya harapan dan berdo'a agar Adek baik-baik saja." jawab Ammar yang berusaha tenang di depan Sadha dan Dhana.

"Semoga saja diagnosis kita salah ya, Mas." ujar Sadha yang meraih bahu Ammar yang sedang berdiri.

Sadha dan Ammar berusaha untuk menenangkan diri mereka satu sama lain, namun tidak dengan Dhana. Dhana terdiam saat mendengar diagnosis yang dikatakan Ammar dan Sadha. Melihat Dhana yang terdiam, Ammar dan Sadha pun mendekatinya.

"Kamu jangan khawatir, Dhana. Selagi hasil labor belum keluar, kita masih bisa berdo'a dan berharap agar Adek baik-baik saja. Mas tau kamu khawatir, kita juga khawatir. Kita sangat sayang sama Adek. Jadi apapun yang terjadi, kita harus tetap kuat demi Adek." ujar Ammar yang berusaha menenangkan Dhana.

"Mas Ammar benar, Dhana. Lebih baik sekarang kita masuk, lalu istirahat. Nanti Ayah dan Ibu curiga kalau kita semua di sini." timpal Sadha yang mengajak Ammar dan Dhana masuk.

Ammar dan Dhana pun mengikuti yang dikatakan oleh Sadha. Kini mereka sudah saling mengetahui tentang kejadian yang terjadi pada Dhina selama dua hari ini. Rasa penasaran di antara mereka bertiga sudah terjawab, walaupun belum pasti. Diagnosis yang dikatakan Ammar dan Sadha, membuat ketiganya merasa tidak tenang.

Saat berada di kamar masing-masing, kini hanya Dhina yang tertidur pulas. Tidak dengan Ammar, Sadha dan Dhana. Mereka masih saja teringat dengan pembicaraan mereka tadi. Tidak terasa, malam pun semakin larut dan memaksa mereka untuk tertidur. Mereka terpaksa harus melupakan sementara permasalahan yang sedang mereka hadapi kini.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

Terpopuler

Comments

coni

coni

Mas-mas sabar ya semoga diagnosis kalian semua salah🥺🥺🥺

2021-05-27

1

Arthi Yuniar

Arthi Yuniar

Separah itukah penyakit Dhina kok aku jd takut lihat hasilnya ya

2021-04-13

0

Nofi Kahza

Nofi Kahza

hatiku berdenyut ketika ammar mendiaknosa dibatin kalau dhina kena kanker darah. meskipun itu blm pasti😢

2021-03-13

2

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan Tokoh
2 Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3 Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4 Episode 3 ~ Rencana Ibu
5 Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6 Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7 Episode 6 ~ On The Way Puncak
8 Episode 7 ~ Mulai Aneh
9 Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10 Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11 Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12 Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13 Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14 Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15 Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16 Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17 Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18 Episode 17 ~ Kecewa
19 Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20 Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21 Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22 Episode 21 ~ Diganggu Preman
23 Episode 22 ~ Foundation
24 Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25 Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26 Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27 Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28 Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29 Episode 28 ~ Terpukul
30 Episode 29 ~ Hilang
31 Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32 Episode 31 ~ Minta Maaf
33 Episode 32 ~ Berjodoh?
34 Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35 Episode 34 ~ Boleh Pulang
36 Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37 Episode 36 ~ Memar Lagi
38 Episode 37 ~ Balas Dendam
39 Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40 Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41 Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42 Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43 Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44 Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45 Episode 44 ~ Berenang
46 Episode 45 ~ Tenggelam
47 Episode 46 ~ Incaran Pertama
48 Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49 Episode 48 ~ Introgasi
50 Episode 49 ~ Sepemikiran
51 Episode 50 ~ Demam Tinggi
52 Episode 51 ~ Ibu Murka
53 Episode 52 ~ Kejutan
54 Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55 Episode 54 ~ Topeng Hantu
56 Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57 Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58 Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59 Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60 Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61 Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62 Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63 Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64 Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65 Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66 Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67 Episode 66 ~ Kemoterapi
68 Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69 Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70 Episode 69 ~ Mencari Tau
71 Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72 Episode 71 ~ Botak Bersama
73 Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74 Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75 Episode 74 ~ Muntah-muntah
76 Episode 75 ~ Karyawati Baru
77 Episode 76 ~ Barang Bukti
78 Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79 Episode 78 ~ Orang Asing
80 Episode 79 ~ Merubah Rencana
81 Episode 80 ~ Gelisah
82 Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83 Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84 Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85 Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86 Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87 Episode 86 ~ Mata Sembap
88 Episode 87 ~ Penyelidikan
89 Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90 Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91 Episode 90 ~ Obat Asing
92 Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93 Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94 Episode 93 ~ Stadium Tiga
95 Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96 Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97 Episode 96 ~ Rakha???
98 Episode 97 ~ Janji Dhina
99 Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100 Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101 Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102 Episode 101 ~ Melepas Rindu
103 Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104 Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105 Episode 104 ~ Semakin Sakit
106 Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107 Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108 Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109 Episode 108 ~ Tidak Tega
110 Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111 Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112 Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113 Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114 Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115 Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116 Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117 Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118 Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119 Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120 Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121 Visual
122 Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123 Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124 Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125 Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126 Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127 Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128 Episode 126 ~ Tes Mendadak
129 Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130 Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131 Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132 Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133 Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134 Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135 Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136 Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137 Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138 Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139 Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140 Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141 Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142 Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143 Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144 Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145 Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146 Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147 Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148 Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149 Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150 Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151 Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152 Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153 Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154 Episode 152 ~ Kenangan Manis
155 Episode 153 ~ Tetap Waspada
156 Episode 154 ~ Dijodohkan???
157 Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158 Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159 Episode 157 ~ Malam Pengajian
160 Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161 Episode 159 ~ Bucin
162 Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163 Episode 161 ~ First Kiss
164 Episode 162 ~ Baru Menyadari
165 Episode 163 ~ Balapan
166 Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167 Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168 Episode 166 ~ Masalah Lama
169 Episode 167 ~ Berita Bahagia
170 Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171 Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172 Episode 170 ~ Labil
173 Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174 Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175 Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176 Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177 Episode 175 ~ Komplikasi
178 Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179 Episode 177 ~ Perang Bathin
180 Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181 Episode 179 ~ Cuci Darah
182 Episode 180 ~ Dasar Mesum
183 Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184 Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185 Episode 183 ~ Bukan Peduli
186 Episode 184 ~ Botol Minum
187 Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188 Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189 Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190 Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191 Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192 Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193 Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194 Episode 192 ~ Terhalang Restu
195 Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196 Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197 Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198 Episode 196 ~ Jambret Nakal
199 Episode 197 ~ Bertemu Umi
200 Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201 Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202 Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203 Episode 201 ~ Hari Persiapan
204 Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205 Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206 Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207 Episode 205 ~ Firasat Dhana
208 Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209 Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210 Episode 208 ~ Akad Nikah
211 Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212 Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213 Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214 Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215 Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216 Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217 Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218 Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219 Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220 Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221 Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222 Surat Cinta Author dan Dhina
223 Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224 Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225 Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226 Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227 Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228 Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229 Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230 Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231 Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232 Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233 Pengumuman Novel Baru
234 Pemberitahuan Novel Sekuel
235 Novel Sekuel Sudah Rilis
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Pengenalan Tokoh
2
Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3
Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4
Episode 3 ~ Rencana Ibu
5
Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6
Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7
Episode 6 ~ On The Way Puncak
8
Episode 7 ~ Mulai Aneh
9
Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10
Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11
Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12
Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13
Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14
Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15
Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16
Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17
Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18
Episode 17 ~ Kecewa
19
Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20
Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21
Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22
Episode 21 ~ Diganggu Preman
23
Episode 22 ~ Foundation
24
Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25
Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26
Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27
Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28
Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29
Episode 28 ~ Terpukul
30
Episode 29 ~ Hilang
31
Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32
Episode 31 ~ Minta Maaf
33
Episode 32 ~ Berjodoh?
34
Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35
Episode 34 ~ Boleh Pulang
36
Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37
Episode 36 ~ Memar Lagi
38
Episode 37 ~ Balas Dendam
39
Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40
Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41
Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42
Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43
Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44
Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45
Episode 44 ~ Berenang
46
Episode 45 ~ Tenggelam
47
Episode 46 ~ Incaran Pertama
48
Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49
Episode 48 ~ Introgasi
50
Episode 49 ~ Sepemikiran
51
Episode 50 ~ Demam Tinggi
52
Episode 51 ~ Ibu Murka
53
Episode 52 ~ Kejutan
54
Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55
Episode 54 ~ Topeng Hantu
56
Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57
Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58
Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59
Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60
Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61
Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62
Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63
Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64
Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65
Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66
Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67
Episode 66 ~ Kemoterapi
68
Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69
Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70
Episode 69 ~ Mencari Tau
71
Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72
Episode 71 ~ Botak Bersama
73
Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74
Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75
Episode 74 ~ Muntah-muntah
76
Episode 75 ~ Karyawati Baru
77
Episode 76 ~ Barang Bukti
78
Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79
Episode 78 ~ Orang Asing
80
Episode 79 ~ Merubah Rencana
81
Episode 80 ~ Gelisah
82
Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83
Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84
Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85
Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86
Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87
Episode 86 ~ Mata Sembap
88
Episode 87 ~ Penyelidikan
89
Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90
Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91
Episode 90 ~ Obat Asing
92
Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93
Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94
Episode 93 ~ Stadium Tiga
95
Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96
Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97
Episode 96 ~ Rakha???
98
Episode 97 ~ Janji Dhina
99
Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100
Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101
Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102
Episode 101 ~ Melepas Rindu
103
Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104
Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105
Episode 104 ~ Semakin Sakit
106
Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107
Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108
Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109
Episode 108 ~ Tidak Tega
110
Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111
Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112
Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113
Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114
Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115
Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116
Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117
Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118
Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119
Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120
Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121
Visual
122
Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123
Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124
Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125
Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126
Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127
Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128
Episode 126 ~ Tes Mendadak
129
Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130
Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131
Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132
Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133
Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134
Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135
Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136
Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137
Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138
Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139
Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140
Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141
Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142
Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143
Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144
Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145
Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146
Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147
Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148
Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149
Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150
Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151
Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152
Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153
Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154
Episode 152 ~ Kenangan Manis
155
Episode 153 ~ Tetap Waspada
156
Episode 154 ~ Dijodohkan???
157
Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158
Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159
Episode 157 ~ Malam Pengajian
160
Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161
Episode 159 ~ Bucin
162
Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163
Episode 161 ~ First Kiss
164
Episode 162 ~ Baru Menyadari
165
Episode 163 ~ Balapan
166
Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167
Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168
Episode 166 ~ Masalah Lama
169
Episode 167 ~ Berita Bahagia
170
Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171
Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172
Episode 170 ~ Labil
173
Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174
Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175
Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176
Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177
Episode 175 ~ Komplikasi
178
Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179
Episode 177 ~ Perang Bathin
180
Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181
Episode 179 ~ Cuci Darah
182
Episode 180 ~ Dasar Mesum
183
Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184
Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185
Episode 183 ~ Bukan Peduli
186
Episode 184 ~ Botol Minum
187
Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188
Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189
Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190
Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191
Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192
Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193
Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194
Episode 192 ~ Terhalang Restu
195
Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196
Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197
Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198
Episode 196 ~ Jambret Nakal
199
Episode 197 ~ Bertemu Umi
200
Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201
Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202
Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203
Episode 201 ~ Hari Persiapan
204
Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205
Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206
Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207
Episode 205 ~ Firasat Dhana
208
Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209
Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210
Episode 208 ~ Akad Nikah
211
Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212
Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213
Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214
Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215
Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216
Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217
Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218
Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219
Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220
Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221
Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222
Surat Cinta Author dan Dhina
223
Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224
Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225
Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226
Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227
Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228
Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229
Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230
Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231
Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232
Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233
Pengumuman Novel Baru
234
Pemberitahuan Novel Sekuel
235
Novel Sekuel Sudah Rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!