Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa

...🍀🍀🍀...

Perjalanan menuju lokasi janjian Dhina dan Uci membutuhkan waktu satu jam. Dhina memilih lokasi yang berada dekat dengan tempat tinggal Uci karena lokasi tempat tinggal Uci yang cukup jauh dari lokasi rumah Dhina. Selama di perjalanan, tidak ada yang berbicara. Ammar dan Dhina hanya diam. Dhina fokus melihat jalan keluar kaca mobil, sedangkan Ammar fokus mengemudi dengan kelajuan yang kencang karena mengingat waktu yang sudah sore.

Setelah satu jam perjalanan, akhirnya Ammar dan Dhina sampai di sebuah restoran. Ammar pun memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Setelah itu, Dhina yang ingin segera turun namun dicegah oleh Ammar.

"Tunggu, Dek. Adek sudah tau posisi pastinya kalian bertemu di mana?" tanya Ammar sambil meraih tangan Dhina.

"Sudah, Mas. Di restoran ini." jawab Dhina dan kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil sambil menunjuk ke arah restoran.

"Bukan itu maksud Mas, tapi tempat duduknya. Restoran ini ada indoor dan outdoor loh. Kalian janjian di indoor atau outdoor?" ujar Ammar yang melihat sekitar restoran besar itu.

"Oh tunggu sebentar biar Adek hubungi uci dulu ya, Mas." jawab Dhina sambil mengambil ponsel dalam tasnya.

Dhina pun menghubungi uci dan ternyata uci belum sampai di restoran. Akhirnya, Dhina mengajak Ammar untuk menunggu di dalam sampai Uci datang.

"Uci belum sampai, Mas. Kita masuk saja ya. Kita tunggu dia di dalam." ujar Dhina yang membuka seatbelt lalu keluar.

"Ya sudah, ayo." Ucap Ammar yang keluar mobil lalu menggandeng tangan Dhina.

Mereka pun masuk ke restoran yang cukup besar itu. Entah kenapa Dhina memilih restoran ini. Sedangkan Ammar pernah ke restoran ini, maka dari itu ia mengajak Dhina untuk memilih indoor.

"Kita di indoor saja ya. Di luar lagi badai kalau kita pilih outdoor. Lagi pula kenapa Adek pilih restoran ini sih. Jauh lagi dari rumah kita." ujar Ammar yang berjalan masuk dengan Dhina.

"Adek mana tau kalau restorannya jauh, Mas. Adek saja asal cari tempat saja dan yang penting dekat dengan tempat tinggal Uci. Kasihan kalau dia jalan jauh karena dia masih baru di Jakarta." jawab Dhina yang berjalan di samping Ammar.

"Iya, iya tidak apa-apa. Lagi pula Mas juga sudah pernah ke sini kok. Kita duduk di sana?" tanya Ammar yang melihat ke arah Dhina lalu menunjuk tempat yang cukup bagus untuk mereka menunggu Uci.

"Boleh. Ayo, Mas." jawab Dhina dan mereka pun berjalan menuju tempat duduk mereka.

Setelah mereka duduk, Ammar langsung memesan minuman untuk dirinya dan adik perempuannya itu. Saat mereka tengah menunggu kedatangan Uci, tiba-tiba dari jauh ada seseorang yang memanggil Ammar.

"Mas Ammar..."

Dari jarak jauh, Ammar tidak begitu mengenali orang yang memanggilnya itu. Namun saat orang itu perlahan berjalan, saat tepat di depannya, Ammar terkejut bertemu dengan orang yang sangat ia kenali itu.

"Rezky..."

Dhina yang sedang asyik bermain ponsel pun membuka matanya lebar saat mendengar nama yang dipanggil oleh mas sulungnya itu.

"Iya, Mas. Ini aku, Rezky. Mas lupa ya?" ujar Rezky sambil mengembangkan tubuhnya yang bersiap memeluk Ammar.

"Rezky... Mas tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini. Kamu apa kabar? Kamu di Jakarta tapi kenapa tidak memberitahu Mas?" jawab Ammar yang memeluk Rezky karena susah lama tidak bertemu.

"Aku baik, Mas. Seperti yang Mas lihat sekarang. Aku sudah satu bulan di Jakarta." jawab Rezky yang melepaskan pelukan dari Ammar.

Melihat Ammar yang begitu senang bertemu Rezky, membuat Dhina teringat dengan perkataan Dhana malam itu saat selesai salat maghrib. Sejak saat itu, Dhina berniat untuk tidak lagi menyimpan perasaan apapun pada Rezky. Lagi pula dengan berjalannya waktu perasaan itu berangsur hilang. Apalagi sejak dulu Rezky memang tidak merespon Dhina dengan baik. Dhina hanya diam dan masih fokus pada ponselnya. Tanpa memperdulikan Rezky yang baru datang.

Rezky yang melihat Dhina sedang asyik dengan ponselnya dan tidak memperdulikan kedatangannya pun langsung duduk di sebelah Ammar namun matanya masih tertuju pada Dhina.

"Serius sekali sih main ponselnya, Dhina." ujar Rezky yang melipatkan tangannya di atas meja dan menatap Dhina.

"Adek... kenapa Adek seperti itu? Bukannya Rezky juga temannya Adek saat kuliah. Kenapa jadi sombong seperti ini?" timpal Ammar yang menoleh ke arah Dhina.

"Oh, ada Kak Rezky ya. Maaf Mas, Adek lagi chatting sama Uci. Katanya dia lagi di jalan, sebentar lagi juga datang." jawab Dhina yang dingin tanpa melirik ke Rezky sedikit pun.

"Saat bertemu waktu itu, kamu tidak jutek seperti ini. Kenapa tiba-tiba berubah Dhina?" ujar Rezky yang heran dengan sikap Dhina.

"Aku tidak apa-apa. Rasanya juga biasa saja waktu itu atau pun sekarang." jawab Dhina yang masih fokus pada ponselnya dan tidak melirik Rezky.

"Kalian pernah bertemu? Di mana?" tanya Ammar yang melihat ke Rezky dan Dhina.

"Waktu aku datang ke cafe Dhana, Mas. Waktu itu Dhina ikut dengan Dhana. Dhina dibiarkan menunggu sendirian oleh Dhana. Melihat Dhina sendirian saja, makanya aku temani dia." jelas Rezky dengan santai pada Ammar.

Dhina hanya terdiam saat mendengar pernyataan Rezky pada Ammar. Rezky yang berkata seperti itu, seakan tengah menjelekkan Dhana di depan Ammar. Dhina pun merasa panas dan tidak terima karena ada orang lain yang menilai mas kembarnya seperti itu. Dhina langsung mengangkat kepalanya.

"Siapa bilang Mas Dhana membiarkanku menunggu di luar? Aku duduk di dalam cafe kok. Aku juga pesan minuman di sana. Kak Rezky kenapa bicara seperti itu? Ingin menjelekkan Mas Dhana di depan Mas Ammar ya?" ujar Dhina yang terlanjur emosi karena mendengar perkataan buruk tentang mas kembarnya.

"Tenang dulu, Dek. Mungkin maksud Rezky tidak seperti itu. Adek jangan marah-marah di sini." ujar Ammar yang berusaha menenangkan Dhina.

"Sabar, Dhina. Aku tidak bermaksud seperti itu pada Dhana. Aku hanya bicara apa adanya. Kamu memang menunggu dia waktu itu, bukan? Berarti tidak ada yang salah dong." ujar Rezky yang santainya tanpa merasa bersalah.

"Dengar ya Kak! Aku tidak terima kalau Kakak menjelekkan saudara kembarku seperti itu. Apalagi di depan Mas Ammar seperti ini. Apa Kakak sengaja?" hardik Dhina yang tersulut emosi dengan jawaban Rezky.

"Sudah, sudah! Kenapa kalian bertengkar sih? Sudahlah, Ky! Dhana tidak mungkin membiarkan Dhina menunggu di luar cafe. Mungkin yang kamu maksud di luar itu, di luar ruangannya." timpal Ammar yang berusaha tenang sambil menenangkan Dhina.

"Awas kalau sekali lagi kamu bicara buruk tentang Mas Dhana. Lebih baik kamu jangan duduk di sini!" serkas Dhina yang duduk dan mengambil ponselnya.

"Adek... tidak boleh seperti itu. Sudah, jangan bertengkar lagi." ujar Ammar yang berusaha menenangkan Dhina.

Dhina sangat emosi mendengar apa yang dikatakan oleh Rezky tentang Dhana. Jika ia sampaikan pada Dhana mungkin akan terjadi perang dunia ke-4 saat ini juga. Tapi Dhina berusaha untuk tenang dan tidak merespon apapun yang dikatakan Rezky. Sedangkan Rezky, setelah berbicara buruk tentang Dhana. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. Hal itu membuat Dhina semakin kesal dan marah. Dhina pun memilih untuk diam, sedangkan Ammar asyik mengobrol dengan Rezky.

Saat Dhina asyik dengan ponselnya karena merasa malas untuk ikut mengobrol dengan Ammar dan Rezky, tiba-tiba ponsel Dhina berbunyi. Lalu Dhina langsung mengangkatnya.

"Hallo, Ci. Kamu di mana? Aku sudah di dalam, langsung masuk saja ya. Meja nomor tiga." ujar Dhina yang berbicara dengan Uci lewat telpon.

"Iya, Dhina. Aku baru sampai. Tunggu sebentar ya." jawab Uci dari arah luar restoran.

"Oke..."

Saat Dhina sedang berbicara dengan Uci lewat telpon, tanpa ia sadari kalau Uci sudah berasa di belakangnya. Uci yang baru datang berusaha menahan tawa. Lalu...

"Iya, aku sudah di sini juga." ucap Uci yang menggoda Dhina dan menutup telpon.

"Uci..." pekik Dhina dan langsung berdiri untuk memeluk sahabatnya itu.

"Ya ampun, Dhina. Kamu tambah gembul saja ya. Aku kangen sekali sama kamu. Kamu sehat 'kan Dhin?" ujar Uci sambil membalas pelukan sahabatnya itu.

"Aku juga kangen sekali. Sejak selesai skripsi, kita pulang ke rumah masing-masing. Lalu tidak pernah bertemu lagi. Aku sehat. Kamu?" jawab Dhina yang melepaskan pelukan Uci.

"Syukurlah, yang penting sehat dulu, yang lain bisa diusahakan. Aku sehat juga kok." ujar Uci yang duduk di samping Dhina tanpa sadar ada Rezky.

Dhina hanya tersenyum saat mendengar yang dikatakan oleh Uci. Saat ini Dhina pun juga bingung dengan kesehatannya sendiri seperti apa. Beberapa hari ini, ia memang merasa aneh dengan kondisi tubuhnya yang tidak sehat. Namun Dhina tetap menyembunyikan hal itu dari keluarganya dan bahkan Uci. Tanpa ia sadari bahwa ketiga masnya sedang mencari tau apa yang terjadi sebenarnya.

***

Saat duduk, Uci terkejut dengan kehadiran orang yang ada di depannya. Ya... Uci memang mengenali Rezky karena Uci sahabat Dhina. Uci juga mengetahui perasaan Dhina pada Rezky. Melihat ada Rezky, Uci pun menggoda Dhina.

"Itu bukannya Bang Rezky ya?" tanya Uci yang melihat Rezky dan sedang asyik mengobrol dengan Ammar di tempat duduk lain.

Dhina hanya diam saat Uci berusaha untuk menggodanya. Melihat sikap Rezky tadi, membuat Dhina hilang simpati pada pria itu. Uci yang melihat Dhina diam, berusaha lagi untuk menggoda sahabatnya itu.

"Dhina... kenapa diam saja? Itu ada Bang Rezky loh, bukannya kamu masih suka ya sama dia." ujar Uci yang berbisik seraya menggoda Dhina.

"Sudah tidak kok, aku sudah move on!" jawab Dhina dengan ketus karena malas mendengar nama pria itu.

"Sejak kapan?" tanya Uci yang membulatkan kedua matanya dan menatap Dhina.

"Sejak tadi! Sejak dia bicara buruk tentang Mas Dhana di depan aku dan Mas Ammar." jawab Dhina yang sengaja bicara seperti itu dengan keras agar terdengar oleh Rezky.

"Memang dia bicara apa?" tanya Uci yang semakin penasaran dengan perkataan Dhina.

"Pokoknya buruk deh, Ci. Malas aku membahas dia. Lebih baik kamu pesan makan saja. Kali ini aku pergi dengan bos rumah sakit. Jadi bos aku yang akan membayar semuanya." ujar Dhina sambil memberikan buku menu pada Uci.

"Jadi itu kakak sulung kamu? Tinggi, cool, ganteng, dokter. Sudah punya pacar belum?" jawab Uci yang menoleh ke arah Ammar.

"Sepertinya sudah. Aku juga kurang tau." ujar Dhina yang menyuapi makanannya yang sudah datang dari tadi.

"Yah... gagal deh buat pendekatan sama Mas Ammar." jawab Uci yang tertawa sambil membaca buku menu.

Dhina yang mendengar perkataan Uci hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu Uci pun lanjut memesan makanan dan mengobrol dengan Dhina. Sedangkan Rezky yang sejak tadi mengobrol dengan Ammar pun izin pamit untuk pulang. Lalu mereka kembali ke kursi di mana Dhina dan Uci sedang duduk dan menikmati makanan. Rezky yang melihat Uci pun berusaha untuk mengingat wajah gadis itu dan menyapanya.

"Kamu... kamu Uci bukan?" tanya Rezky yang baru kembali bersama Ammar dari tempat duduk lain.

"Iya, Bang. Aku Uci, sahabat Dhina. Waktu itu kita juga sering bertemu karena aku sering bersama Dhina." jawab Uci yang berusaha tidak gugup karena malu.

"Iya, iya aku ingat. Baru sampai juga ya?" tanya Rezky lagi.

"Tidak, Bang. Sudah sejak tadi juga." jawab Uci singkat namun jelas.

"Oh, kalau begitu aku pamit dulu ya. Mas aku pamit ya, semoga kita bisa bertemu lagi." ujar Rezky yang berpamitan pada Uci dan Ammar.

"Iya, Ky. Hati-hati, besok main ke rumah lah sesekali." jawab Ammar seraya memeluk Rezky sebelum pergi.

"Iya, Mas. Gampang kalau itu. Nanti bisa diatur." ujar Rezky yang membalas pelukan Ammar.

"Oke, Mas tunggu ya. Awas kalau bohong." jawab Ammar seraya melepas pelukannya pada Rezky.

"Siap, Bos. Kakak pamit dulu ya, Dhina." ucap Rezky yang berpamitan juga pada Dhina.

Dhina hanya diam dan tidak memperdulikan Rezky yang ingin pamit pulang. Rezky pun menghela nafas melihat sikap Dhina yang masih marah terhadapnya. Lalu...

"Hati-hati ya, Bang." ucap Uci singkat.

"Oke, Ci. Bye, Mas." jawab Rezky pada Uci dan melambaikan tangan pada Ammar.

Melihat sikap sang adik pada Rezky membuat Ammar merasa tidak enak hati. Ammar merasa bahwa sikap Dhina tadi terlalu berlebihan pada Rezky. Ammar menilai kalau Rezky hanya ingin menggoda Dhina. Lalu Ammar pun berusaha membujuk Dhina yang masih sibuk dengan ponselnya.

"Adek... Adek kenapa seperti itu sikapnya pada Rezky? Dia itu cuma bercanda kok." ujar Ammar seraya meminum minumannya.

"Nada bercanda dan serius itu Adek tau, Mas. Tadi itu nada bicaranya serius. Kalau bercanda kenapa dia tidak bilang bercanda? Kenapa dia tidak minta maaf? Jangankan minta maaf, merasa bersalah saja tidak." jawab Dhina yang melihat ke arah Ammar.

"Ya ampun, adikku Sayang. Adek sensitif sekali sih hari ini. Mas rasa itu bukan masalah serius, Dek." ujar Ammar yang mengelus kepala adik perempuannya itu.

"Mas itu terlalu baik sama dia. Adek kasih saran ya, Mas. Jangan terlalu percaya sama orang lain. Kita tidak tau dia itu seperti apa sebenarnya." ujar Dhina seraya mengambil tangan Ammar.

"Sudah, sudah! Jangan bahas itu lagi. Nanti Adek malah emosi lagi. Uci sudah pesan makanan? Kali ini biar Mas yang bayar." ujar Ammar pada Dhina dan bertanya pada Uci.

"Sudah, Mas. Uci sudah pesan makanan. Sudah mau habis juga kok ini." jawab Uci yang malu dan segan pada Ammar.

"Tidak usah malu, Ci. Setelah ini pesan lagi untuk dibawa pulang ya." ujar Ammar sambil memberikan lagi buku menu pada Uci.

"Tidak usah repot-repot, Mas. Uci sudah kenyang dan tidak akan habis kalau Uci makan sendiri di kos." jawab Uci yang segan karena Ammar membelikan makan lebih untuk dirinya.

"Sudahlah Ci, tidak usah menolak. Jarang loh Mas Ammar baik seperti ini." ujar Dhina pada Uci sambil menggoda Ammar.

"Iya, Dhina. Terima kasih banyak ya, Mas. Terima kasih ya, Dhina." ujar Uci pada Ammar dan Dhina.

"Iya, sama-sama. Ini sudah maghrib, ayo kita pulang, Dek. Nanti Ayah sama Ibu mencari kita loh kalau pulang malam." timpal Ammar pada Dhina yang meminum minumannya.

"Lebih baik kita salat dulu, setelah itu baru pulang, Mas. Bagaimana? Lagi pula sambil menunggu pesanan buat dibawa pulang juga." jawab Dhina yang berdiri dari tempat duduknya.

"Ya sudah, kita shalat dulu. Nanti berkumpul di sini lagi ya. Uci nanti pulangnya kita antar karena hari sudah malam. Tidak baik anak gadis pulang sendiri saat gelap seperti ini." ujar Ammar yang melihat Dhina dan Uci bergantian.

"Iya, Mas. Terima kasih banyak." jawab Uci malu karena Ammar terlalu baik padanya.

"Ayo, Ci. Kita shalat dulu. Adek ke sana ya, Mas." ujar Dhina yang menarik tangan Uci dan pergi ke mushallah yang ada di restoran.

"Hati-hati ya, Dek." jawab Ammar sambil berjalan menjauh dari Dhina dan Uci.

Mereka pun terpisah karena ingin melaksanakan salat maghrib sebelum pulang. Tidak lama kemudian Ammar, Dhina dan Uci sudah berkumpul lagi di tempat awal. Lalu mereka mengambil pesanan terlebih dahulu untuk dibawa pulang dan untuk Uci. Setelah itu, Ammar dan Dhina mengantarkan Uci pulang ke kosnya yang berada dekat dengan restoran.

"Besok main ke rumah ya, Ci. Kasih kabar saja kalau kamu ingin ke rumah, biar aku jemput kamu ke kos." ujar Dhina yang duduk di depan sambil melihat ke arah Uci.

"InsyaAllah ya, Dhina. Besok aku kasih kabar deh kalau ada waktu." jawab Uci yang duduk sendiri di bangku tengah.

"Jangan malu-malu lagi ya, Ci. Kalau sudah mau kerja, tidak boleh malu, harus berani!" timpal Ammar seraya melihat wajah Uci di spion mobil.

"Iya Mas. Terima kasih atas masukan dan semangatnya." jawab Uci tapi masih tetap malu.

Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di kos Uci. Kos itu menjadi tempat tinggal sementara untuk Uci menjelang ia mendapatkan pekerjaan. Setelah Uci turun, Ammar dan Dhina pun berpamitan karena tidak ingin sampai rumah terlalu malam. Lalu Ammar melajukan mobil dengan kencang namun tetap fokus. Saat Ammar sedang fokus mengemudi, tiba-tiba Dhina teringat dengan masalah Rezky tadi.

"Mas..." panggil Dhina dan membuat Ammar melambatkan kecepatan mobilnya.

"Kenapa Sayang?" tanya Ammar yang sedang fokus mengemudi lalu menoleh ke arah Dhina.

"Saran Adek, Mas jangan terlalu baik sama Kak Rezky. Belum tentu dia sebaik yang Mas pikirkan. Sejak kejadian tadi, Adek jadi percaya sama yang dikatakan Mas Dhana waktu itu. Kalau Kak Rezky bukan orang yang baik." ujar Dhina dan membuat Ammar semakin melambatkan laju mobilnya.

"Memang Dhana bilang apa sama Adek?" tanya Ammar yang heran dengan yang dikatakan Dhana sampai membuat Dhina tidak menyukai Rezky.

"Bukan Mas Dhana yang bilang, tapi feeling Mas Dhana. Feeling Mas Dhana tidak baik saat melihat Adek bertemu dengan Kak Rezky. Dari cara menatap Kak Rezky ke Adek, lalu cara bicaranya dan sikapnya." jelas Dhina yang dibicarakan Dhana waktu itu.

"Sejak dulu Dhana memang kurang suka dengan Rezky, Dek. Tidak hanya Dhana, Sadha pun juga. Mereka berdua memang tidak menyukai Rezky karena Mas bercerita yang baik-baik tentang Rezky pada mereka." jawab Ammar yang kembali fokus mengemudi.

"Adek juga tau kalau yang itu, Mas. Saran Adek, Mas hati-hati saja sama dia. Jangan mudah percaya. Paham Mas?" ujar Dhina yang melihat ke arah Ammar.

"Iya, iya, Mas hati-hati. Dasar ya, adik Mas satu ini suka memaksa sekali." jawab Ammar sambil mencubit pipi cubby adik perempuannya itu.

Dhina hanya tertawa mendapat cubitan di pipinya itu. Ia merasa senang bisa bertemu lagi dengan Uci dan jalan-jalan bersama mas sulungnya itu. Kini jam masih menunjukan pukul setengah tujuh malam. Berarti mereka masih sempat sampai rumah sebelum jam makan malam.

Selama perjalanan, tidak ada tanda-tanda yang aneh dengan kondisi Dhina. Ammar yang sedang mengemudi tiba-tiba teringat dengan hari esok. Di mana ia akan mengetahui semuanya tentang siapa pemilik darah yang ada di tisu itu. Tapi karena kini Ammar masih mengemudi, ia berusaha untuk bersikap tenang dan fokus mengemudi.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

Terpopuler

Comments

coni

coni

Aku setuju sama Kak Adek paling gak suka kalo Abang sendiri diomongin buruknya😒😒😒 Kak Dhina sayang banget ya sama² mas-mas nya, tambah berantem-berantem kecil seru kak Dina,🤭🤭🤭 tapi enggak deh entar kayak Arsen sama Aster😂😂😂😂 Penasaran sama hasilnya besok

2021-05-27

1

Nofi Kahza

Nofi Kahza

aku penasaran. dg hasil lab darah dhina yg dtisu itu loh thoor..😆

2021-03-12

1

Bagus Effendik

Bagus Effendik

boom like

2021-02-21

1

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan Tokoh
2 Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3 Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4 Episode 3 ~ Rencana Ibu
5 Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6 Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7 Episode 6 ~ On The Way Puncak
8 Episode 7 ~ Mulai Aneh
9 Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10 Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11 Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12 Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13 Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14 Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15 Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16 Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17 Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18 Episode 17 ~ Kecewa
19 Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20 Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21 Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22 Episode 21 ~ Diganggu Preman
23 Episode 22 ~ Foundation
24 Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25 Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26 Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27 Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28 Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29 Episode 28 ~ Terpukul
30 Episode 29 ~ Hilang
31 Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32 Episode 31 ~ Minta Maaf
33 Episode 32 ~ Berjodoh?
34 Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35 Episode 34 ~ Boleh Pulang
36 Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37 Episode 36 ~ Memar Lagi
38 Episode 37 ~ Balas Dendam
39 Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40 Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41 Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42 Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43 Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44 Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45 Episode 44 ~ Berenang
46 Episode 45 ~ Tenggelam
47 Episode 46 ~ Incaran Pertama
48 Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49 Episode 48 ~ Introgasi
50 Episode 49 ~ Sepemikiran
51 Episode 50 ~ Demam Tinggi
52 Episode 51 ~ Ibu Murka
53 Episode 52 ~ Kejutan
54 Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55 Episode 54 ~ Topeng Hantu
56 Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57 Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58 Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59 Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60 Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61 Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62 Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63 Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64 Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65 Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66 Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67 Episode 66 ~ Kemoterapi
68 Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69 Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70 Episode 69 ~ Mencari Tau
71 Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72 Episode 71 ~ Botak Bersama
73 Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74 Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75 Episode 74 ~ Muntah-muntah
76 Episode 75 ~ Karyawati Baru
77 Episode 76 ~ Barang Bukti
78 Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79 Episode 78 ~ Orang Asing
80 Episode 79 ~ Merubah Rencana
81 Episode 80 ~ Gelisah
82 Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83 Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84 Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85 Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86 Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87 Episode 86 ~ Mata Sembap
88 Episode 87 ~ Penyelidikan
89 Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90 Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91 Episode 90 ~ Obat Asing
92 Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93 Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94 Episode 93 ~ Stadium Tiga
95 Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96 Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97 Episode 96 ~ Rakha???
98 Episode 97 ~ Janji Dhina
99 Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100 Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101 Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102 Episode 101 ~ Melepas Rindu
103 Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104 Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105 Episode 104 ~ Semakin Sakit
106 Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107 Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108 Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109 Episode 108 ~ Tidak Tega
110 Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111 Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112 Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113 Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114 Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115 Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116 Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117 Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118 Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119 Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120 Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121 Visual
122 Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123 Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124 Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125 Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126 Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127 Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128 Episode 126 ~ Tes Mendadak
129 Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130 Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131 Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132 Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133 Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134 Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135 Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136 Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137 Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138 Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139 Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140 Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141 Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142 Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143 Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144 Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145 Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146 Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147 Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148 Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149 Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150 Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151 Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152 Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153 Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154 Episode 152 ~ Kenangan Manis
155 Episode 153 ~ Tetap Waspada
156 Episode 154 ~ Dijodohkan???
157 Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158 Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159 Episode 157 ~ Malam Pengajian
160 Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161 Episode 159 ~ Bucin
162 Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163 Episode 161 ~ First Kiss
164 Episode 162 ~ Baru Menyadari
165 Episode 163 ~ Balapan
166 Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167 Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168 Episode 166 ~ Masalah Lama
169 Episode 167 ~ Berita Bahagia
170 Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171 Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172 Episode 170 ~ Labil
173 Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174 Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175 Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176 Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177 Episode 175 ~ Komplikasi
178 Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179 Episode 177 ~ Perang Bathin
180 Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181 Episode 179 ~ Cuci Darah
182 Episode 180 ~ Dasar Mesum
183 Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184 Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185 Episode 183 ~ Bukan Peduli
186 Episode 184 ~ Botol Minum
187 Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188 Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189 Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190 Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191 Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192 Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193 Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194 Episode 192 ~ Terhalang Restu
195 Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196 Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197 Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198 Episode 196 ~ Jambret Nakal
199 Episode 197 ~ Bertemu Umi
200 Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201 Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202 Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203 Episode 201 ~ Hari Persiapan
204 Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205 Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206 Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207 Episode 205 ~ Firasat Dhana
208 Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209 Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210 Episode 208 ~ Akad Nikah
211 Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212 Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213 Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214 Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215 Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216 Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217 Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218 Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219 Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220 Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221 Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222 Surat Cinta Author dan Dhina
223 Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224 Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225 Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226 Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227 Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228 Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229 Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230 Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231 Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232 Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233 Pengumuman Novel Baru
234 Pemberitahuan Novel Sekuel
235 Novel Sekuel Sudah Rilis
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Pengenalan Tokoh
2
Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3
Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4
Episode 3 ~ Rencana Ibu
5
Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6
Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7
Episode 6 ~ On The Way Puncak
8
Episode 7 ~ Mulai Aneh
9
Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10
Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11
Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12
Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13
Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14
Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15
Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16
Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17
Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18
Episode 17 ~ Kecewa
19
Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20
Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21
Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22
Episode 21 ~ Diganggu Preman
23
Episode 22 ~ Foundation
24
Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25
Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26
Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27
Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28
Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29
Episode 28 ~ Terpukul
30
Episode 29 ~ Hilang
31
Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32
Episode 31 ~ Minta Maaf
33
Episode 32 ~ Berjodoh?
34
Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35
Episode 34 ~ Boleh Pulang
36
Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37
Episode 36 ~ Memar Lagi
38
Episode 37 ~ Balas Dendam
39
Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40
Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41
Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42
Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43
Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44
Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45
Episode 44 ~ Berenang
46
Episode 45 ~ Tenggelam
47
Episode 46 ~ Incaran Pertama
48
Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49
Episode 48 ~ Introgasi
50
Episode 49 ~ Sepemikiran
51
Episode 50 ~ Demam Tinggi
52
Episode 51 ~ Ibu Murka
53
Episode 52 ~ Kejutan
54
Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55
Episode 54 ~ Topeng Hantu
56
Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57
Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58
Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59
Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60
Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61
Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62
Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63
Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64
Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65
Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66
Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67
Episode 66 ~ Kemoterapi
68
Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69
Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70
Episode 69 ~ Mencari Tau
71
Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72
Episode 71 ~ Botak Bersama
73
Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74
Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75
Episode 74 ~ Muntah-muntah
76
Episode 75 ~ Karyawati Baru
77
Episode 76 ~ Barang Bukti
78
Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79
Episode 78 ~ Orang Asing
80
Episode 79 ~ Merubah Rencana
81
Episode 80 ~ Gelisah
82
Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83
Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84
Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85
Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86
Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87
Episode 86 ~ Mata Sembap
88
Episode 87 ~ Penyelidikan
89
Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90
Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91
Episode 90 ~ Obat Asing
92
Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93
Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94
Episode 93 ~ Stadium Tiga
95
Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96
Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97
Episode 96 ~ Rakha???
98
Episode 97 ~ Janji Dhina
99
Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100
Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101
Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102
Episode 101 ~ Melepas Rindu
103
Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104
Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105
Episode 104 ~ Semakin Sakit
106
Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107
Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108
Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109
Episode 108 ~ Tidak Tega
110
Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111
Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112
Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113
Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114
Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115
Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116
Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117
Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118
Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119
Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120
Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121
Visual
122
Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123
Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124
Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125
Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126
Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127
Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128
Episode 126 ~ Tes Mendadak
129
Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130
Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131
Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132
Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133
Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134
Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135
Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136
Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137
Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138
Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139
Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140
Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141
Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142
Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143
Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144
Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145
Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146
Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147
Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148
Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149
Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150
Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151
Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152
Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153
Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154
Episode 152 ~ Kenangan Manis
155
Episode 153 ~ Tetap Waspada
156
Episode 154 ~ Dijodohkan???
157
Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158
Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159
Episode 157 ~ Malam Pengajian
160
Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161
Episode 159 ~ Bucin
162
Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163
Episode 161 ~ First Kiss
164
Episode 162 ~ Baru Menyadari
165
Episode 163 ~ Balapan
166
Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167
Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168
Episode 166 ~ Masalah Lama
169
Episode 167 ~ Berita Bahagia
170
Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171
Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172
Episode 170 ~ Labil
173
Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174
Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175
Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176
Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177
Episode 175 ~ Komplikasi
178
Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179
Episode 177 ~ Perang Bathin
180
Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181
Episode 179 ~ Cuci Darah
182
Episode 180 ~ Dasar Mesum
183
Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184
Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185
Episode 183 ~ Bukan Peduli
186
Episode 184 ~ Botol Minum
187
Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188
Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189
Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190
Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191
Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192
Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193
Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194
Episode 192 ~ Terhalang Restu
195
Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196
Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197
Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198
Episode 196 ~ Jambret Nakal
199
Episode 197 ~ Bertemu Umi
200
Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201
Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202
Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203
Episode 201 ~ Hari Persiapan
204
Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205
Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206
Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207
Episode 205 ~ Firasat Dhana
208
Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209
Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210
Episode 208 ~ Akad Nikah
211
Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212
Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213
Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214
Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215
Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216
Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217
Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218
Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219
Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220
Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221
Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222
Surat Cinta Author dan Dhina
223
Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224
Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225
Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226
Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227
Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228
Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229
Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230
Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231
Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232
Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233
Pengumuman Novel Baru
234
Pemberitahuan Novel Sekuel
235
Novel Sekuel Sudah Rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!