...🍀🍀🍀...
Perjalanan menuju lokasi janjian Dhina dan Uci membutuhkan waktu satu jam. Dhina memilih lokasi yang berada dekat dengan tempat tinggal Uci karena lokasi tempat tinggal Uci yang cukup jauh dari lokasi rumah Dhina. Selama di perjalanan, tidak ada yang berbicara. Ammar dan Dhina hanya diam. Dhina fokus melihat jalan keluar kaca mobil, sedangkan Ammar fokus mengemudi dengan kelajuan yang kencang karena mengingat waktu yang sudah sore.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya Ammar dan Dhina sampai di sebuah restoran. Ammar pun memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Setelah itu, Dhina yang ingin segera turun namun dicegah oleh Ammar.
"Tunggu, Dek. Adek sudah tau posisi pastinya kalian bertemu di mana?" tanya Ammar sambil meraih tangan Dhina.
"Sudah, Mas. Di restoran ini." jawab Dhina dan kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil sambil menunjuk ke arah restoran.
"Bukan itu maksud Mas, tapi tempat duduknya. Restoran ini ada indoor dan outdoor loh. Kalian janjian di indoor atau outdoor?" ujar Ammar yang melihat sekitar restoran besar itu.
"Oh tunggu sebentar biar Adek hubungi uci dulu ya, Mas." jawab Dhina sambil mengambil ponsel dalam tasnya.
Dhina pun menghubungi uci dan ternyata uci belum sampai di restoran. Akhirnya, Dhina mengajak Ammar untuk menunggu di dalam sampai Uci datang.
"Uci belum sampai, Mas. Kita masuk saja ya. Kita tunggu dia di dalam." ujar Dhina yang membuka seatbelt lalu keluar.
"Ya sudah, ayo." Ucap Ammar yang keluar mobil lalu menggandeng tangan Dhina.
Mereka pun masuk ke restoran yang cukup besar itu. Entah kenapa Dhina memilih restoran ini. Sedangkan Ammar pernah ke restoran ini, maka dari itu ia mengajak Dhina untuk memilih indoor.
"Kita di indoor saja ya. Di luar lagi badai kalau kita pilih outdoor. Lagi pula kenapa Adek pilih restoran ini sih. Jauh lagi dari rumah kita." ujar Ammar yang berjalan masuk dengan Dhina.
"Adek mana tau kalau restorannya jauh, Mas. Adek saja asal cari tempat saja dan yang penting dekat dengan tempat tinggal Uci. Kasihan kalau dia jalan jauh karena dia masih baru di Jakarta." jawab Dhina yang berjalan di samping Ammar.
"Iya, iya tidak apa-apa. Lagi pula Mas juga sudah pernah ke sini kok. Kita duduk di sana?" tanya Ammar yang melihat ke arah Dhina lalu menunjuk tempat yang cukup bagus untuk mereka menunggu Uci.
"Boleh. Ayo, Mas." jawab Dhina dan mereka pun berjalan menuju tempat duduk mereka.
Setelah mereka duduk, Ammar langsung memesan minuman untuk dirinya dan adik perempuannya itu. Saat mereka tengah menunggu kedatangan Uci, tiba-tiba dari jauh ada seseorang yang memanggil Ammar.
"Mas Ammar..."
Dari jarak jauh, Ammar tidak begitu mengenali orang yang memanggilnya itu. Namun saat orang itu perlahan berjalan, saat tepat di depannya, Ammar terkejut bertemu dengan orang yang sangat ia kenali itu.
"Rezky..."
Dhina yang sedang asyik bermain ponsel pun membuka matanya lebar saat mendengar nama yang dipanggil oleh mas sulungnya itu.
"Iya, Mas. Ini aku, Rezky. Mas lupa ya?" ujar Rezky sambil mengembangkan tubuhnya yang bersiap memeluk Ammar.
"Rezky... Mas tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini. Kamu apa kabar? Kamu di Jakarta tapi kenapa tidak memberitahu Mas?" jawab Ammar yang memeluk Rezky karena susah lama tidak bertemu.
"Aku baik, Mas. Seperti yang Mas lihat sekarang. Aku sudah satu bulan di Jakarta." jawab Rezky yang melepaskan pelukan dari Ammar.
Melihat Ammar yang begitu senang bertemu Rezky, membuat Dhina teringat dengan perkataan Dhana malam itu saat selesai salat maghrib. Sejak saat itu, Dhina berniat untuk tidak lagi menyimpan perasaan apapun pada Rezky. Lagi pula dengan berjalannya waktu perasaan itu berangsur hilang. Apalagi sejak dulu Rezky memang tidak merespon Dhina dengan baik. Dhina hanya diam dan masih fokus pada ponselnya. Tanpa memperdulikan Rezky yang baru datang.
Rezky yang melihat Dhina sedang asyik dengan ponselnya dan tidak memperdulikan kedatangannya pun langsung duduk di sebelah Ammar namun matanya masih tertuju pada Dhina.
"Serius sekali sih main ponselnya, Dhina." ujar Rezky yang melipatkan tangannya di atas meja dan menatap Dhina.
"Adek... kenapa Adek seperti itu? Bukannya Rezky juga temannya Adek saat kuliah. Kenapa jadi sombong seperti ini?" timpal Ammar yang menoleh ke arah Dhina.
"Oh, ada Kak Rezky ya. Maaf Mas, Adek lagi chatting sama Uci. Katanya dia lagi di jalan, sebentar lagi juga datang." jawab Dhina yang dingin tanpa melirik ke Rezky sedikit pun.
"Saat bertemu waktu itu, kamu tidak jutek seperti ini. Kenapa tiba-tiba berubah Dhina?" ujar Rezky yang heran dengan sikap Dhina.
"Aku tidak apa-apa. Rasanya juga biasa saja waktu itu atau pun sekarang." jawab Dhina yang masih fokus pada ponselnya dan tidak melirik Rezky.
"Kalian pernah bertemu? Di mana?" tanya Ammar yang melihat ke Rezky dan Dhina.
"Waktu aku datang ke cafe Dhana, Mas. Waktu itu Dhina ikut dengan Dhana. Dhina dibiarkan menunggu sendirian oleh Dhana. Melihat Dhina sendirian saja, makanya aku temani dia." jelas Rezky dengan santai pada Ammar.
Dhina hanya terdiam saat mendengar pernyataan Rezky pada Ammar. Rezky yang berkata seperti itu, seakan tengah menjelekkan Dhana di depan Ammar. Dhina pun merasa panas dan tidak terima karena ada orang lain yang menilai mas kembarnya seperti itu. Dhina langsung mengangkat kepalanya.
"Siapa bilang Mas Dhana membiarkanku menunggu di luar? Aku duduk di dalam cafe kok. Aku juga pesan minuman di sana. Kak Rezky kenapa bicara seperti itu? Ingin menjelekkan Mas Dhana di depan Mas Ammar ya?" ujar Dhina yang terlanjur emosi karena mendengar perkataan buruk tentang mas kembarnya.
"Tenang dulu, Dek. Mungkin maksud Rezky tidak seperti itu. Adek jangan marah-marah di sini." ujar Ammar yang berusaha menenangkan Dhina.
"Sabar, Dhina. Aku tidak bermaksud seperti itu pada Dhana. Aku hanya bicara apa adanya. Kamu memang menunggu dia waktu itu, bukan? Berarti tidak ada yang salah dong." ujar Rezky yang santainya tanpa merasa bersalah.
"Dengar ya Kak! Aku tidak terima kalau Kakak menjelekkan saudara kembarku seperti itu. Apalagi di depan Mas Ammar seperti ini. Apa Kakak sengaja?" hardik Dhina yang tersulut emosi dengan jawaban Rezky.
"Sudah, sudah! Kenapa kalian bertengkar sih? Sudahlah, Ky! Dhana tidak mungkin membiarkan Dhina menunggu di luar cafe. Mungkin yang kamu maksud di luar itu, di luar ruangannya." timpal Ammar yang berusaha tenang sambil menenangkan Dhina.
"Awas kalau sekali lagi kamu bicara buruk tentang Mas Dhana. Lebih baik kamu jangan duduk di sini!" serkas Dhina yang duduk dan mengambil ponselnya.
"Adek... tidak boleh seperti itu. Sudah, jangan bertengkar lagi." ujar Ammar yang berusaha menenangkan Dhina.
Dhina sangat emosi mendengar apa yang dikatakan oleh Rezky tentang Dhana. Jika ia sampaikan pada Dhana mungkin akan terjadi perang dunia ke-4 saat ini juga. Tapi Dhina berusaha untuk tenang dan tidak merespon apapun yang dikatakan Rezky. Sedangkan Rezky, setelah berbicara buruk tentang Dhana. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. Hal itu membuat Dhina semakin kesal dan marah. Dhina pun memilih untuk diam, sedangkan Ammar asyik mengobrol dengan Rezky.
Saat Dhina asyik dengan ponselnya karena merasa malas untuk ikut mengobrol dengan Ammar dan Rezky, tiba-tiba ponsel Dhina berbunyi. Lalu Dhina langsung mengangkatnya.
"Hallo, Ci. Kamu di mana? Aku sudah di dalam, langsung masuk saja ya. Meja nomor tiga." ujar Dhina yang berbicara dengan Uci lewat telpon.
"Iya, Dhina. Aku baru sampai. Tunggu sebentar ya." jawab Uci dari arah luar restoran.
"Oke..."
Saat Dhina sedang berbicara dengan Uci lewat telpon, tanpa ia sadari kalau Uci sudah berasa di belakangnya. Uci yang baru datang berusaha menahan tawa. Lalu...
"Iya, aku sudah di sini juga." ucap Uci yang menggoda Dhina dan menutup telpon.
"Uci..." pekik Dhina dan langsung berdiri untuk memeluk sahabatnya itu.
"Ya ampun, Dhina. Kamu tambah gembul saja ya. Aku kangen sekali sama kamu. Kamu sehat 'kan Dhin?" ujar Uci sambil membalas pelukan sahabatnya itu.
"Aku juga kangen sekali. Sejak selesai skripsi, kita pulang ke rumah masing-masing. Lalu tidak pernah bertemu lagi. Aku sehat. Kamu?" jawab Dhina yang melepaskan pelukan Uci.
"Syukurlah, yang penting sehat dulu, yang lain bisa diusahakan. Aku sehat juga kok." ujar Uci yang duduk di samping Dhina tanpa sadar ada Rezky.
Dhina hanya tersenyum saat mendengar yang dikatakan oleh Uci. Saat ini Dhina pun juga bingung dengan kesehatannya sendiri seperti apa. Beberapa hari ini, ia memang merasa aneh dengan kondisi tubuhnya yang tidak sehat. Namun Dhina tetap menyembunyikan hal itu dari keluarganya dan bahkan Uci. Tanpa ia sadari bahwa ketiga masnya sedang mencari tau apa yang terjadi sebenarnya.
***
Saat duduk, Uci terkejut dengan kehadiran orang yang ada di depannya. Ya... Uci memang mengenali Rezky karena Uci sahabat Dhina. Uci juga mengetahui perasaan Dhina pada Rezky. Melihat ada Rezky, Uci pun menggoda Dhina.
"Itu bukannya Bang Rezky ya?" tanya Uci yang melihat Rezky dan sedang asyik mengobrol dengan Ammar di tempat duduk lain.
Dhina hanya diam saat Uci berusaha untuk menggodanya. Melihat sikap Rezky tadi, membuat Dhina hilang simpati pada pria itu. Uci yang melihat Dhina diam, berusaha lagi untuk menggoda sahabatnya itu.
"Dhina... kenapa diam saja? Itu ada Bang Rezky loh, bukannya kamu masih suka ya sama dia." ujar Uci yang berbisik seraya menggoda Dhina.
"Sudah tidak kok, aku sudah move on!" jawab Dhina dengan ketus karena malas mendengar nama pria itu.
"Sejak kapan?" tanya Uci yang membulatkan kedua matanya dan menatap Dhina.
"Sejak tadi! Sejak dia bicara buruk tentang Mas Dhana di depan aku dan Mas Ammar." jawab Dhina yang sengaja bicara seperti itu dengan keras agar terdengar oleh Rezky.
"Memang dia bicara apa?" tanya Uci yang semakin penasaran dengan perkataan Dhina.
"Pokoknya buruk deh, Ci. Malas aku membahas dia. Lebih baik kamu pesan makan saja. Kali ini aku pergi dengan bos rumah sakit. Jadi bos aku yang akan membayar semuanya." ujar Dhina sambil memberikan buku menu pada Uci.
"Jadi itu kakak sulung kamu? Tinggi, cool, ganteng, dokter. Sudah punya pacar belum?" jawab Uci yang menoleh ke arah Ammar.
"Sepertinya sudah. Aku juga kurang tau." ujar Dhina yang menyuapi makanannya yang sudah datang dari tadi.
"Yah... gagal deh buat pendekatan sama Mas Ammar." jawab Uci yang tertawa sambil membaca buku menu.
Dhina yang mendengar perkataan Uci hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu Uci pun lanjut memesan makanan dan mengobrol dengan Dhina. Sedangkan Rezky yang sejak tadi mengobrol dengan Ammar pun izin pamit untuk pulang. Lalu mereka kembali ke kursi di mana Dhina dan Uci sedang duduk dan menikmati makanan. Rezky yang melihat Uci pun berusaha untuk mengingat wajah gadis itu dan menyapanya.
"Kamu... kamu Uci bukan?" tanya Rezky yang baru kembali bersama Ammar dari tempat duduk lain.
"Iya, Bang. Aku Uci, sahabat Dhina. Waktu itu kita juga sering bertemu karena aku sering bersama Dhina." jawab Uci yang berusaha tidak gugup karena malu.
"Iya, iya aku ingat. Baru sampai juga ya?" tanya Rezky lagi.
"Tidak, Bang. Sudah sejak tadi juga." jawab Uci singkat namun jelas.
"Oh, kalau begitu aku pamit dulu ya. Mas aku pamit ya, semoga kita bisa bertemu lagi." ujar Rezky yang berpamitan pada Uci dan Ammar.
"Iya, Ky. Hati-hati, besok main ke rumah lah sesekali." jawab Ammar seraya memeluk Rezky sebelum pergi.
"Iya, Mas. Gampang kalau itu. Nanti bisa diatur." ujar Rezky yang membalas pelukan Ammar.
"Oke, Mas tunggu ya. Awas kalau bohong." jawab Ammar seraya melepas pelukannya pada Rezky.
"Siap, Bos. Kakak pamit dulu ya, Dhina." ucap Rezky yang berpamitan juga pada Dhina.
Dhina hanya diam dan tidak memperdulikan Rezky yang ingin pamit pulang. Rezky pun menghela nafas melihat sikap Dhina yang masih marah terhadapnya. Lalu...
"Hati-hati ya, Bang." ucap Uci singkat.
"Oke, Ci. Bye, Mas." jawab Rezky pada Uci dan melambaikan tangan pada Ammar.
Melihat sikap sang adik pada Rezky membuat Ammar merasa tidak enak hati. Ammar merasa bahwa sikap Dhina tadi terlalu berlebihan pada Rezky. Ammar menilai kalau Rezky hanya ingin menggoda Dhina. Lalu Ammar pun berusaha membujuk Dhina yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Adek... Adek kenapa seperti itu sikapnya pada Rezky? Dia itu cuma bercanda kok." ujar Ammar seraya meminum minumannya.
"Nada bercanda dan serius itu Adek tau, Mas. Tadi itu nada bicaranya serius. Kalau bercanda kenapa dia tidak bilang bercanda? Kenapa dia tidak minta maaf? Jangankan minta maaf, merasa bersalah saja tidak." jawab Dhina yang melihat ke arah Ammar.
"Ya ampun, adikku Sayang. Adek sensitif sekali sih hari ini. Mas rasa itu bukan masalah serius, Dek." ujar Ammar yang mengelus kepala adik perempuannya itu.
"Mas itu terlalu baik sama dia. Adek kasih saran ya, Mas. Jangan terlalu percaya sama orang lain. Kita tidak tau dia itu seperti apa sebenarnya." ujar Dhina seraya mengambil tangan Ammar.
"Sudah, sudah! Jangan bahas itu lagi. Nanti Adek malah emosi lagi. Uci sudah pesan makanan? Kali ini biar Mas yang bayar." ujar Ammar pada Dhina dan bertanya pada Uci.
"Sudah, Mas. Uci sudah pesan makanan. Sudah mau habis juga kok ini." jawab Uci yang malu dan segan pada Ammar.
"Tidak usah malu, Ci. Setelah ini pesan lagi untuk dibawa pulang ya." ujar Ammar sambil memberikan lagi buku menu pada Uci.
"Tidak usah repot-repot, Mas. Uci sudah kenyang dan tidak akan habis kalau Uci makan sendiri di kos." jawab Uci yang segan karena Ammar membelikan makan lebih untuk dirinya.
"Sudahlah Ci, tidak usah menolak. Jarang loh Mas Ammar baik seperti ini." ujar Dhina pada Uci sambil menggoda Ammar.
"Iya, Dhina. Terima kasih banyak ya, Mas. Terima kasih ya, Dhina." ujar Uci pada Ammar dan Dhina.
"Iya, sama-sama. Ini sudah maghrib, ayo kita pulang, Dek. Nanti Ayah sama Ibu mencari kita loh kalau pulang malam." timpal Ammar pada Dhina yang meminum minumannya.
"Lebih baik kita salat dulu, setelah itu baru pulang, Mas. Bagaimana? Lagi pula sambil menunggu pesanan buat dibawa pulang juga." jawab Dhina yang berdiri dari tempat duduknya.
"Ya sudah, kita shalat dulu. Nanti berkumpul di sini lagi ya. Uci nanti pulangnya kita antar karena hari sudah malam. Tidak baik anak gadis pulang sendiri saat gelap seperti ini." ujar Ammar yang melihat Dhina dan Uci bergantian.
"Iya, Mas. Terima kasih banyak." jawab Uci malu karena Ammar terlalu baik padanya.
"Ayo, Ci. Kita shalat dulu. Adek ke sana ya, Mas." ujar Dhina yang menarik tangan Uci dan pergi ke mushallah yang ada di restoran.
"Hati-hati ya, Dek." jawab Ammar sambil berjalan menjauh dari Dhina dan Uci.
Mereka pun terpisah karena ingin melaksanakan salat maghrib sebelum pulang. Tidak lama kemudian Ammar, Dhina dan Uci sudah berkumpul lagi di tempat awal. Lalu mereka mengambil pesanan terlebih dahulu untuk dibawa pulang dan untuk Uci. Setelah itu, Ammar dan Dhina mengantarkan Uci pulang ke kosnya yang berada dekat dengan restoran.
"Besok main ke rumah ya, Ci. Kasih kabar saja kalau kamu ingin ke rumah, biar aku jemput kamu ke kos." ujar Dhina yang duduk di depan sambil melihat ke arah Uci.
"InsyaAllah ya, Dhina. Besok aku kasih kabar deh kalau ada waktu." jawab Uci yang duduk sendiri di bangku tengah.
"Jangan malu-malu lagi ya, Ci. Kalau sudah mau kerja, tidak boleh malu, harus berani!" timpal Ammar seraya melihat wajah Uci di spion mobil.
"Iya Mas. Terima kasih atas masukan dan semangatnya." jawab Uci tapi masih tetap malu.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di kos Uci. Kos itu menjadi tempat tinggal sementara untuk Uci menjelang ia mendapatkan pekerjaan. Setelah Uci turun, Ammar dan Dhina pun berpamitan karena tidak ingin sampai rumah terlalu malam. Lalu Ammar melajukan mobil dengan kencang namun tetap fokus. Saat Ammar sedang fokus mengemudi, tiba-tiba Dhina teringat dengan masalah Rezky tadi.
"Mas..." panggil Dhina dan membuat Ammar melambatkan kecepatan mobilnya.
"Kenapa Sayang?" tanya Ammar yang sedang fokus mengemudi lalu menoleh ke arah Dhina.
"Saran Adek, Mas jangan terlalu baik sama Kak Rezky. Belum tentu dia sebaik yang Mas pikirkan. Sejak kejadian tadi, Adek jadi percaya sama yang dikatakan Mas Dhana waktu itu. Kalau Kak Rezky bukan orang yang baik." ujar Dhina dan membuat Ammar semakin melambatkan laju mobilnya.
"Memang Dhana bilang apa sama Adek?" tanya Ammar yang heran dengan yang dikatakan Dhana sampai membuat Dhina tidak menyukai Rezky.
"Bukan Mas Dhana yang bilang, tapi feeling Mas Dhana. Feeling Mas Dhana tidak baik saat melihat Adek bertemu dengan Kak Rezky. Dari cara menatap Kak Rezky ke Adek, lalu cara bicaranya dan sikapnya." jelas Dhina yang dibicarakan Dhana waktu itu.
"Sejak dulu Dhana memang kurang suka dengan Rezky, Dek. Tidak hanya Dhana, Sadha pun juga. Mereka berdua memang tidak menyukai Rezky karena Mas bercerita yang baik-baik tentang Rezky pada mereka." jawab Ammar yang kembali fokus mengemudi.
"Adek juga tau kalau yang itu, Mas. Saran Adek, Mas hati-hati saja sama dia. Jangan mudah percaya. Paham Mas?" ujar Dhina yang melihat ke arah Ammar.
"Iya, iya, Mas hati-hati. Dasar ya, adik Mas satu ini suka memaksa sekali." jawab Ammar sambil mencubit pipi cubby adik perempuannya itu.
Dhina hanya tertawa mendapat cubitan di pipinya itu. Ia merasa senang bisa bertemu lagi dengan Uci dan jalan-jalan bersama mas sulungnya itu. Kini jam masih menunjukan pukul setengah tujuh malam. Berarti mereka masih sempat sampai rumah sebelum jam makan malam.
Selama perjalanan, tidak ada tanda-tanda yang aneh dengan kondisi Dhina. Ammar yang sedang mengemudi tiba-tiba teringat dengan hari esok. Di mana ia akan mengetahui semuanya tentang siapa pemilik darah yang ada di tisu itu. Tapi karena kini Ammar masih mengemudi, ia berusaha untuk bersikap tenang dan fokus mengemudi.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
coni
Aku setuju sama Kak Adek paling gak suka kalo Abang sendiri diomongin buruknya😒😒😒 Kak Dhina sayang banget ya sama² mas-mas nya, tambah berantem-berantem kecil seru kak Dina,🤭🤭🤭 tapi enggak deh entar kayak Arsen sama Aster😂😂😂😂 Penasaran sama hasilnya besok
2021-05-27
1
Nofi Kahza
aku penasaran. dg hasil lab darah dhina yg dtisu itu loh thoor..😆
2021-03-12
1
Bagus Effendik
boom like
2021-02-21
1