Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas

...🍀🍀🍀...

Jam masih menunjukan pukul tujuh malam. Di ruang keluarga, terlihat Pak Aidi dan Bu Aini yang sedang asyik menonton. Sedangkan Dhina sedang asyik memainkan ponselnya. Bu Aini yang mengetahui kalau Ammar memiliki teman dekat wanita pun, langsung membicarakan hal itu pada Pak Aidi.

"Ayah... sepertinya anak sulung kita sudah punya calon pasangan hidup." ujar Bu Aini pada Pak Aidi yang sedang asyik mendengar berita.

Seketika konsentrasi pria paruh baya anak empat itu buyar saat mendengar perkataan istrinya.

"Ibu serius? Bagus kalau begitu. Artinya, Ammar sudah memikirkan masa depannya sendiri." jawab Pak Aidi seraya menyeruput gelas kopinya.

"Iya, Ayah. Memang sudah saatnya. Lagi pula Ammar sudah jadi dokter tetap di sini. Dia juga sudah punya rumah sendiri. Jadi tidak ada halangan lagi untuk segera menikah." ujar Bu Aini sambil menatap layar TV.

Dhina yang masih berada di ruang keluarga bersama ayah dan ibunya pun tanpa sengaja mendengar bahwa Ammar sudah mempunyai rumah. Dhina cukup terkejut dengan berita ini karena Ammar tidak pernah cerita tentang rumah barunya. Disatu sisi, Dhina merasa bangga dan senang, ia mempunyai seorang kakak yang kini sudah menjadi pria dewasa yang sukses dan mandiri. Namun disisi lain dalam hati kecilnya, ia juga merasa sedih karena tidak akan lama lagi mas sulungnya itu akan mempunyai kehidupan baru dan meninggalkan dirinya untuk hidup bersama istrinya.

Dhina tidak bersuara sama sekali mendengar hal itu, ia hanya mendengarkan pembicaraan antara ayah dan ibunya seraya tetap memainkan ponsel.

"Tadi Ammar minta izin sama Ibu. Besok dia ingin mengajak teman dekatnya untuk ikut liburan bersama kita. Ayah tidak keberatan 'kan?" ujar Bu Aini lagi pada Pak Aidi.

"Tidak apa-apa, Bu. Ayah tidak masalah. Anggap saja liburan ini sebagai perkenalan gadis itu dengan keluarga kita." jawab Pak Aidi sambil melihat ke arah istrinya dan Bu Aini hanya menganggukan kepalanya.

"Adek... tadi katanya ingin mengawasi mas-mas tampan kamu main game. Kenapa anak gadis Ibu asyik sendiri di sini?" ujar Bu Aini seraya berpindah tempat ke tempat Dhina duduk.

"Sebentar lagi, Bu. Adek lagi asyik chat sama teman. Lagi pula ini masih jam tujuh malam. Biarkan saja mas-masnya Adek main dulu. Kasihan dari hari senin sampai sabtu kerja terus. Nanti lama-lama mereka bisa botak, Bu. Kalau tidak dikasih game." jawab Dhina yang tertawa bersama dengan Pak Aidi dan Bu Aini.

"Ya sudah, Ibu sama Ayah mau ke kamar dulu ya, Nak. Ayah sudah capek sekali, pengen dipijat Ibu. Besok jangan lupa bangun pagi ya. Selamat malam, putri Ayah." ujar Pak Aidi yang berdiri dan berjalan menuju kamar bersama Bu Aini.

"Siap, Ayah." jawab Dhina sambil hormat pada sang ayah.

Setelah Pak Aidi dan Bu Aini pergi ke kamar mereka, Dhina pun memutuskan untuk naik ke atas dan melihat mas-masnya main PS di kamar Ammar. Sebelum naik, terlebih dahulu Dhina menemui Bi Iyah untuk meminta Bi Iyah memeriksa semua pintu dan jendela rumah.

"Bi... nanti sebelum Bi Iyah istirahat tolong periksa pintu dan jendela ya, Bi." ujar Dhina pada Bi Iyah yang masih membereskan dapur.

"Baik, Non. Nanti Bibi periksa." jawab Bi Iyah sambil membalikkan tubuhnya melihat ke arah Dhina.

"Oke, Bi. Terima kasih ya, Bi. Adek mau naik dulu ke atas. Selamat malam Bi Iyah." ujar Dhina sambil berjalan menuju tangga.

"Selamat malam Non." jawab Bi Iyah yang melihat Dhina sudah berjalan menaiki tangga.

Kini Dhina sedang menuju ke kamar Ammar. Setelah sampai di depan kamar Ammar, Dhina langsung mengetuk pintu kamar mas sulungnya itu terlebih dahulu.

Tok... Tok... Tok...

Namun tidak ada yang membuka pintu. Akhirnya, Dhina memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar Ammar. Saat ia membuka pintu, Dhina melihat ketiga masnya sedang asyik main game dengan suara TV yang keras. Melihat hal itu, Dhina mendapat sebuah ide untuk mengerjai ketiga masnya.

Ammar, Sadha dan Dhana yang sedang asyik pun tidak menyadari kedatangan Dhina yang sudah berdiri di dekat pintu. Lalu Dhina pun mulai menjalankan misinya.

Bruk!

Dhina pun terjatuh dan pingsan di dekat pintu kamar Ammar yang sudah terbuka sejak tadi. Ketiga pria itu langsung tersentak dan terkejut saat melihat adik perempuan mereka tiba-tiba pingsan di dekat pintu.

"Adek... Adek kenapa Dek? Bangun Dek, bangun." ujar Ammar yang langsung mendekati Dhina karena posisi duduknya lebih dekat dengan pintu.

"Adek kenapa Mas? Kenapa Adek tiba-tiba pingsan seperti ini?" tanya Sadha yang ikut cemas melihat Dhina yang tiba-tiba pingsan.

"Lebih baik kita bawa ke tempat tidur dulu, Mas." timpal Dhana yang sudah keringat dingin melihat Dhina pingsan.

Dalam hati sebenarnya Dhina menahan tawa karena mendengar kecemasan dari ketiga masnya itu yang menurutnya lucu dan menggemaskan. Dhina hanya mendengar, tapi tidak melihat ekspresi sang kakak yang begitu mencemaskan dirinya.

Kemudian Ammar menggendong Dhina menuju tempat tidur di kamarnya. Lalu Ammar mengambil alat-alat medis yang ia miliki untuk memeriksa kondisi sang adik. Setelah Ammar mencoba memeriksa Dhina dan berusaha mencari penyebab Dhina pingsan, tiba-tiba Dhina sadarkan diri dan langsung tertawa.

"April mop!!! semuanya terkena prank Adek. Berhasil, berhasil, berhasil, hore." pekik Dhina yang terbangun dan langsung meloncat karena berhasil mengerjai ketiga masnya.

Terkejut bercampur kesal, itulah yang ketiganya rasakan saat ini. Sementara Dhina masih asyik meloncat di atas tempat tidur mas sulungnya.

"Adek... ini tidak lucu. Apa-apaan sih." ujar Sadha yang kesal dengan adik perempuannya itu.

"Habisnya Mas Ammar, Mas Sadha dan Mas Dhana asyik sekali main PS. Sampai Adek masuk saja tidak ada yang dengar. Untung saja Adek yang masuk, kalau maling bagaimana?" ujar Dhina yang kembali duduk di tepi tempat tidur Ammar.

"Tidak lucu, Dek! Mas tidak suka ya, kalau prank-prank seperti tadi lagi. Itu baru prank, kalau pingsan sungguhan bagaimana?" ujar Ammar dengan wajah kesal dan nada bicaranya yang mulai tinggi pada Dhina.

"Iya, Mas. Adek minta maaf." jawab Dhina sambil mengangkat dua jarinya pada Ammar, Sadha dan Dhana.

"Bercanda boleh tapi jangan seperti tadi! Adek tidak lihat, kita semua panik saat Adek tiba-tiba pingsan di depan pintu kamar Mas." ujar Ammar yang memegang bahu adik perempuannya itu lalu memalingkan wajahnya.

Ini pertama kalinya Ammar bicara nada tinggi pada Dhina karena perbuatannya membuat semua orang panik. Mereka bertiga panik saat melihat Dhina pingsan secara tiba-tiba. Padahal tadi masih sehat-sehat saja dan masih ikut makan bersama.

Dhina yang mendengar Ammar bicara dengan nada tinggi membuat matanya berkaca-kaca. Dhana yang melihat adik kembarnya tertunduk karena nada bicara Ammar pun langsung menghampirinya.

"Adek... Mas Ammar bukannya marah sama Adek. Mas Ammar seperti itu karena dia sayang sama Adek. Mana ada sih seorang kakak yang tidak khawatir melihat adiknya tiba-tiba pingsan. Mas sendiri saja tadi sudah keringat dingin, takut terjadi sesuatu sama Adek. Mas Sadha juga, dia panik sekali melihat Adek pingsan." tutur Dhana sambil merangkul bahu Dhina untuk menenangkan adik kembarnya itu karena tertunduk dengan nada suara Ammar.

"Dhana benar, Dek. Kita bukan marah. Prank boleh tapi tidak seperti ini caranya. Kita tidak bisa membayangkan kalau memang terjadi sesuatu sama Adek tadi." timpal Sadha yang tadi juga sempat kesal dengan Dhina sambil menggenggam kedua tangan Dhina.

"Adek minta maaf, Mas. Adek tidak ada maksud lain. Adek hanya ingin mengganggu kalian main saja." ujar Dhina yang memberanikan diri menatap Sadha dan Dhana.

Lalu Dhina memberanikan diri mendekati Ammar yang berdiri membelakangi ketiga adiknya itu. Dari belakang, Dhina mengambil tangan Ammar yang ada di dalam saku samping celananya.

"Mas... Adek minta maaf ya. Adek tau, Adek salah. Adek tidak akan mengulangnya lagi. Tapi maafkan Adek ya. Sejak kecil Mas tidak pernah marah sama Adek. Ini pertama kalinya Mas marah sama Adek. Adek minta maaf ya, Mas." Ucap Dhina yang menangis karena mengetahui mas sulungnya marah terhadap dirinya sambil mencium tangan Ammar.

Melihat Dhina yang begitu menyesal karena melakukan hal yang menurut Ammar tidak baik, membuat Ammar tidak tega melihatnya. Apalagi ia sadar, selama ini ia tidak pernah marah pada adik perempuannya itu. Lalu Ammar langsung memeluk Dhina.

"Mas tidak marah, Sayang. Mas hanya kesal pada diri Mas sendiri. Kenapa Mas bicara nada tinggi seperti tadi sama Adek." ujar Ammar seraya memeluk Dhina yang sudah terlanjur menangis.

Dhina yang mendengar itu pun semakin membenamkan wajahnya ke dalam dekapan Ammar.

"Pingsan atau sakit itu jangan dibawa bercanda, Sayang. Segala perbuatan dan ucapan itu adalah do'a. Kalau Adek tadi pingsan sungguhan bagaimana? Atau Adek sakit sungguhan bagaimana? Kita semua sayang sama Adek. Kita tidak mau terjadi sesuatu pada Adek." ujar Ammar seraya melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Dhina.

Dhina hanya diam, sementara Ammar menangkup wajah sang adik dan mengecup keningnya.

"Jangan ulangi itu lagi ya, Sayang. Mas minta maaf karena tadi sudah bicara keras sama Adek." ujar Ammar lagi dan kembali memeluk adik perempuannya itu.

"Iya, Mas. Adek juga minta maaf." jawab Dhina yang masih berada di dalam pelukan Ammar.

Sadha dan Dhana pun merasa lega karena Ammar berhasil menenangkan Dhina. Lalu...

"Berarti main kita hanya sampai di sini? Artinya kita tidak jadi mengalahkan Mas Ammar, Dhana." ujar Sadha yang berusaha memecahkan suasana sambil menggarut kepalanya yang tidak gatal.

Dhana yang melihat tingkah Sadha hanya terkekeh. Sementara Ammar langsung melerai pelukannya dan menatap tajam ke arah Sadha.

"Kamu itu niat sekali ya ingin mengalahkan Mas sendiri. Kamu ada dendam apa sama Mas? Seperti ada pesan yang tidak sampai saja." ujar Ammar yang memasang ekspresi jengah pada Sadha.

Sadha, Dhana dan Dhina pun terkekeh melihat ekspresi Ammar yang lucu seperti itu.

"Kita mainnya sudah saja ya, Mas. Sudah jam sembilan lewat. Apalagi besok kita mau pergi." timpal Dhana yang menyadari jam lalu merapihkan kamar Ammar yang berantakan.

"Ya sudah... ayo kita bubar! Terima kasih ya Dek, sudah membubarkan kita main game." ujar Sadha yang berjalan keluar sambil mengusap kepala adik perempuannya.

"Maaf Mas. Mas Ammar, Adek ke kamar juga ya." jawab Dhina pada Sadha yang keluar dari kamar Ammar sambil pamit juga pada Ammar.

"Iya, istirahat ya Dek." jawab Ammar dengan mencubit hidung mancung adik perempuannya itu.

"Ayo, Dek. Mas Ammar jangan ketiduran ya besok. Kalau tidak kita siram pakai air panas." ujar Dhana yang mengajak Dhina menuju kamar mereka sambil menggoda Ammar.

"Mas besok bangun lebih awal." jawab Ammar pada Dhana yang sudah berjalan ke arah kamar bersama Dhina.

Dhina yang melihat itu hanya tertawa seraya menggelengkan kepalanya.

***

Tepat jam sepuluh malam. Mereka sudah masuk ke kamar masing-masing dan terlelap. Tapi tidak dengan Dhina. Sejak sadar dari pingsan pura-puranya tadi, entah kenapa saat ini kepalanya terasa sangat berat. Padahal saat ini ia sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Merasa sangat pusing membuat Dhina terbangun dan ingin mengambil minum karena haus. Setelah minum, Dhina pun berniat ingin merebahkan tubuhnya kembali. Tapi ia merasa ingin pergi ke kamar mandi.

Setelah selesai buang air kecil, Dhina duduk di meja rias miliknya. Ia tatap pantulan dirinya yang ada di dalam sana. Namun saat berada di depan cermin, Dhina terkejut saat melihat ada darah segar yang mengalir keluar dari hidungnya.

Melihat itu, Dhina pun segera mengambil tisu dan membersihkan darah segar yang keluar dari hidungnya. Namun darah segar itu tidak berhenti mengalir. Akhirnya, Dhina memutuskan untuk berbaring agar darah dari dalam hidungnya berhenti keluar. Pikiran Dhina pun menerawang saat ini, seraya menatap langit-langit kamar.

"Kepalaku terasa berat sekali."

Dhina bicara sendiri di dalam kamar sambil menatap langit-langit kamar seraya memijat lembut pelipisnya.

"Kenapa aku mimisan? Biasanya aku tidak pernah seperti ini. Apa karena aku kelelahan karena seharian tidak di rumah?"

Melihat tisu yang penuh dengan darah itu, Dhina pun segera membuangnya ke dalam tempat sampah yang ada di kamarnya. Setelah itu, Dhina kembali berbaring di tempat tidur. Berusaha untuk memejamkan mata dan berharap agar segera terpejam. Tapi matanya terasa perih dan susah untuk dipejamkan.

Jam sudah menunjukan pukul 12 malam namun Dhina belum juga terpejam. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Tubuhnya terasa sangat letih, kepalanya berat, dan tadi ia sempat mimisan. Perasaannya campur aduk saat ini. Ingin rasanya Dhina membangunkan Ammar, Sadha atapun Dhana. Tapi Dhina mengurungkan niatnya karena takut ketiga masnya itu khawatir. Lalu Dhina memutuskan untuk salat tahajud dan berharap setelah salat, hati dan pikirannya bisa lebih tenang.

"Lebih baik aku tahajud dulu. Agar hati dan pikiranku bisa lebih tenang. Bismillah."

Perlahan, Dhina pun bangkit dan berusaha untuk berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Setelah mengambil wudhu, Dhina langsung melaksanakan salat tahajud dua rakaat. Dalam salatnya, ia berdo'a dan memohon pada Allah SWT.

"Ya Allah... Lindungilah selalu keluargaku. Ampunilah dosaku, dosa Ayah Ibuku, dosa kakak-kakakku. Sertailah selalu kami dalam kebahagiaan dan ketenangan. Berkahilah rezeki kami. Berikanlah kami kesehatan. Jauhkanlah kami dari orang-orang jahat, Ya Allah. Rabbana Atina Fiddunya Hasanah Wafil Akhirati Hasanah Waqinna Azabannar."

Setelah selesai salat, Dhina pun kembali merebahkan tubuhnya dan langsung memejamkan mata agar sakit di kepalanya bisa segera hilang. Akhirnya, Dhina pun bisa terpejam dan tertidur setelah salat. Kini hati dan pikirannya sedikit lebih tenang dan Dhina dapat tertidur dengan pulas.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

Terpopuler

Comments

Ica Snow Kim

Ica Snow Kim

PRANK DHINA JADI NYATA DEH

2021-05-12

1

Aysel

Aysel

salam dari skenario sang pencipta 🤗🤗🤗

2021-04-23

0

coni

coni

emang seru dek kalo ngerjain mas sendiri😂 Aster juga begitu😂 Adek kenapa? adek gak sakit kan?

2021-04-21

0

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan Tokoh
2 Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3 Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4 Episode 3 ~ Rencana Ibu
5 Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6 Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7 Episode 6 ~ On The Way Puncak
8 Episode 7 ~ Mulai Aneh
9 Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10 Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11 Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12 Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13 Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14 Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15 Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16 Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17 Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18 Episode 17 ~ Kecewa
19 Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20 Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21 Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22 Episode 21 ~ Diganggu Preman
23 Episode 22 ~ Foundation
24 Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25 Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26 Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27 Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28 Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29 Episode 28 ~ Terpukul
30 Episode 29 ~ Hilang
31 Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32 Episode 31 ~ Minta Maaf
33 Episode 32 ~ Berjodoh?
34 Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35 Episode 34 ~ Boleh Pulang
36 Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37 Episode 36 ~ Memar Lagi
38 Episode 37 ~ Balas Dendam
39 Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40 Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41 Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42 Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43 Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44 Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45 Episode 44 ~ Berenang
46 Episode 45 ~ Tenggelam
47 Episode 46 ~ Incaran Pertama
48 Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49 Episode 48 ~ Introgasi
50 Episode 49 ~ Sepemikiran
51 Episode 50 ~ Demam Tinggi
52 Episode 51 ~ Ibu Murka
53 Episode 52 ~ Kejutan
54 Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55 Episode 54 ~ Topeng Hantu
56 Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57 Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58 Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59 Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60 Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61 Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62 Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63 Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64 Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65 Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66 Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67 Episode 66 ~ Kemoterapi
68 Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69 Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70 Episode 69 ~ Mencari Tau
71 Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72 Episode 71 ~ Botak Bersama
73 Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74 Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75 Episode 74 ~ Muntah-muntah
76 Episode 75 ~ Karyawati Baru
77 Episode 76 ~ Barang Bukti
78 Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79 Episode 78 ~ Orang Asing
80 Episode 79 ~ Merubah Rencana
81 Episode 80 ~ Gelisah
82 Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83 Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84 Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85 Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86 Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87 Episode 86 ~ Mata Sembap
88 Episode 87 ~ Penyelidikan
89 Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90 Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91 Episode 90 ~ Obat Asing
92 Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93 Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94 Episode 93 ~ Stadium Tiga
95 Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96 Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97 Episode 96 ~ Rakha???
98 Episode 97 ~ Janji Dhina
99 Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100 Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101 Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102 Episode 101 ~ Melepas Rindu
103 Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104 Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105 Episode 104 ~ Semakin Sakit
106 Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107 Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108 Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109 Episode 108 ~ Tidak Tega
110 Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111 Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112 Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113 Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114 Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115 Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116 Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117 Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118 Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119 Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120 Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121 Visual
122 Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123 Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124 Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125 Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126 Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127 Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128 Episode 126 ~ Tes Mendadak
129 Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130 Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131 Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132 Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133 Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134 Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135 Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136 Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137 Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138 Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139 Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140 Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141 Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142 Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143 Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144 Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145 Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146 Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147 Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148 Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149 Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150 Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151 Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152 Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153 Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154 Episode 152 ~ Kenangan Manis
155 Episode 153 ~ Tetap Waspada
156 Episode 154 ~ Dijodohkan???
157 Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158 Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159 Episode 157 ~ Malam Pengajian
160 Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161 Episode 159 ~ Bucin
162 Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163 Episode 161 ~ First Kiss
164 Episode 162 ~ Baru Menyadari
165 Episode 163 ~ Balapan
166 Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167 Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168 Episode 166 ~ Masalah Lama
169 Episode 167 ~ Berita Bahagia
170 Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171 Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172 Episode 170 ~ Labil
173 Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174 Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175 Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176 Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177 Episode 175 ~ Komplikasi
178 Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179 Episode 177 ~ Perang Bathin
180 Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181 Episode 179 ~ Cuci Darah
182 Episode 180 ~ Dasar Mesum
183 Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184 Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185 Episode 183 ~ Bukan Peduli
186 Episode 184 ~ Botol Minum
187 Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188 Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189 Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190 Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191 Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192 Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193 Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194 Episode 192 ~ Terhalang Restu
195 Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196 Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197 Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198 Episode 196 ~ Jambret Nakal
199 Episode 197 ~ Bertemu Umi
200 Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201 Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202 Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203 Episode 201 ~ Hari Persiapan
204 Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205 Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206 Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207 Episode 205 ~ Firasat Dhana
208 Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209 Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210 Episode 208 ~ Akad Nikah
211 Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212 Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213 Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214 Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215 Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216 Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217 Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218 Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219 Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220 Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221 Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222 Surat Cinta Author dan Dhina
223 Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224 Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225 Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226 Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227 Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228 Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229 Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230 Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231 Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232 Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233 Pengumuman Novel Baru
234 Pemberitahuan Novel Sekuel
235 Novel Sekuel Sudah Rilis
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Pengenalan Tokoh
2
Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3
Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4
Episode 3 ~ Rencana Ibu
5
Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6
Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7
Episode 6 ~ On The Way Puncak
8
Episode 7 ~ Mulai Aneh
9
Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10
Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11
Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12
Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13
Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14
Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15
Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16
Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17
Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18
Episode 17 ~ Kecewa
19
Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20
Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21
Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22
Episode 21 ~ Diganggu Preman
23
Episode 22 ~ Foundation
24
Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25
Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26
Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27
Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28
Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29
Episode 28 ~ Terpukul
30
Episode 29 ~ Hilang
31
Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32
Episode 31 ~ Minta Maaf
33
Episode 32 ~ Berjodoh?
34
Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35
Episode 34 ~ Boleh Pulang
36
Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37
Episode 36 ~ Memar Lagi
38
Episode 37 ~ Balas Dendam
39
Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40
Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41
Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42
Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43
Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44
Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45
Episode 44 ~ Berenang
46
Episode 45 ~ Tenggelam
47
Episode 46 ~ Incaran Pertama
48
Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49
Episode 48 ~ Introgasi
50
Episode 49 ~ Sepemikiran
51
Episode 50 ~ Demam Tinggi
52
Episode 51 ~ Ibu Murka
53
Episode 52 ~ Kejutan
54
Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55
Episode 54 ~ Topeng Hantu
56
Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57
Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58
Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59
Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60
Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61
Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62
Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63
Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64
Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65
Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66
Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67
Episode 66 ~ Kemoterapi
68
Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69
Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70
Episode 69 ~ Mencari Tau
71
Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72
Episode 71 ~ Botak Bersama
73
Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74
Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75
Episode 74 ~ Muntah-muntah
76
Episode 75 ~ Karyawati Baru
77
Episode 76 ~ Barang Bukti
78
Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79
Episode 78 ~ Orang Asing
80
Episode 79 ~ Merubah Rencana
81
Episode 80 ~ Gelisah
82
Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83
Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84
Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85
Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86
Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87
Episode 86 ~ Mata Sembap
88
Episode 87 ~ Penyelidikan
89
Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90
Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91
Episode 90 ~ Obat Asing
92
Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93
Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94
Episode 93 ~ Stadium Tiga
95
Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96
Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97
Episode 96 ~ Rakha???
98
Episode 97 ~ Janji Dhina
99
Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100
Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101
Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102
Episode 101 ~ Melepas Rindu
103
Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104
Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105
Episode 104 ~ Semakin Sakit
106
Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107
Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108
Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109
Episode 108 ~ Tidak Tega
110
Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111
Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112
Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113
Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114
Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115
Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116
Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117
Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118
Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119
Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120
Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121
Visual
122
Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123
Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124
Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125
Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126
Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127
Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128
Episode 126 ~ Tes Mendadak
129
Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130
Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131
Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132
Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133
Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134
Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135
Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136
Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137
Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138
Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139
Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140
Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141
Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142
Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143
Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144
Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145
Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146
Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147
Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148
Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149
Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150
Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151
Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152
Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153
Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154
Episode 152 ~ Kenangan Manis
155
Episode 153 ~ Tetap Waspada
156
Episode 154 ~ Dijodohkan???
157
Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158
Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159
Episode 157 ~ Malam Pengajian
160
Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161
Episode 159 ~ Bucin
162
Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163
Episode 161 ~ First Kiss
164
Episode 162 ~ Baru Menyadari
165
Episode 163 ~ Balapan
166
Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167
Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168
Episode 166 ~ Masalah Lama
169
Episode 167 ~ Berita Bahagia
170
Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171
Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172
Episode 170 ~ Labil
173
Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174
Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175
Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176
Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177
Episode 175 ~ Komplikasi
178
Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179
Episode 177 ~ Perang Bathin
180
Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181
Episode 179 ~ Cuci Darah
182
Episode 180 ~ Dasar Mesum
183
Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184
Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185
Episode 183 ~ Bukan Peduli
186
Episode 184 ~ Botol Minum
187
Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188
Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189
Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190
Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191
Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192
Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193
Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194
Episode 192 ~ Terhalang Restu
195
Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196
Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197
Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198
Episode 196 ~ Jambret Nakal
199
Episode 197 ~ Bertemu Umi
200
Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201
Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202
Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203
Episode 201 ~ Hari Persiapan
204
Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205
Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206
Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207
Episode 205 ~ Firasat Dhana
208
Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209
Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210
Episode 208 ~ Akad Nikah
211
Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212
Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213
Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214
Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215
Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216
Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217
Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218
Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219
Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220
Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221
Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222
Surat Cinta Author dan Dhina
223
Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224
Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225
Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226
Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227
Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228
Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229
Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230
Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231
Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232
Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233
Pengumuman Novel Baru
234
Pemberitahuan Novel Sekuel
235
Novel Sekuel Sudah Rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!