...🍀🍀🍀...
Jam masih menunjukan pukul tujuh malam. Di ruang keluarga, terlihat Pak Aidi dan Bu Aini yang sedang asyik menonton. Sedangkan Dhina sedang asyik memainkan ponselnya. Bu Aini yang mengetahui kalau Ammar memiliki teman dekat wanita pun, langsung membicarakan hal itu pada Pak Aidi.
"Ayah... sepertinya anak sulung kita sudah punya calon pasangan hidup." ujar Bu Aini pada Pak Aidi yang sedang asyik mendengar berita.
Seketika konsentrasi pria paruh baya anak empat itu buyar saat mendengar perkataan istrinya.
"Ibu serius? Bagus kalau begitu. Artinya, Ammar sudah memikirkan masa depannya sendiri." jawab Pak Aidi seraya menyeruput gelas kopinya.
"Iya, Ayah. Memang sudah saatnya. Lagi pula Ammar sudah jadi dokter tetap di sini. Dia juga sudah punya rumah sendiri. Jadi tidak ada halangan lagi untuk segera menikah." ujar Bu Aini sambil menatap layar TV.
Dhina yang masih berada di ruang keluarga bersama ayah dan ibunya pun tanpa sengaja mendengar bahwa Ammar sudah mempunyai rumah. Dhina cukup terkejut dengan berita ini karena Ammar tidak pernah cerita tentang rumah barunya. Disatu sisi, Dhina merasa bangga dan senang, ia mempunyai seorang kakak yang kini sudah menjadi pria dewasa yang sukses dan mandiri. Namun disisi lain dalam hati kecilnya, ia juga merasa sedih karena tidak akan lama lagi mas sulungnya itu akan mempunyai kehidupan baru dan meninggalkan dirinya untuk hidup bersama istrinya.
Dhina tidak bersuara sama sekali mendengar hal itu, ia hanya mendengarkan pembicaraan antara ayah dan ibunya seraya tetap memainkan ponsel.
"Tadi Ammar minta izin sama Ibu. Besok dia ingin mengajak teman dekatnya untuk ikut liburan bersama kita. Ayah tidak keberatan 'kan?" ujar Bu Aini lagi pada Pak Aidi.
"Tidak apa-apa, Bu. Ayah tidak masalah. Anggap saja liburan ini sebagai perkenalan gadis itu dengan keluarga kita." jawab Pak Aidi sambil melihat ke arah istrinya dan Bu Aini hanya menganggukan kepalanya.
"Adek... tadi katanya ingin mengawasi mas-mas tampan kamu main game. Kenapa anak gadis Ibu asyik sendiri di sini?" ujar Bu Aini seraya berpindah tempat ke tempat Dhina duduk.
"Sebentar lagi, Bu. Adek lagi asyik chat sama teman. Lagi pula ini masih jam tujuh malam. Biarkan saja mas-masnya Adek main dulu. Kasihan dari hari senin sampai sabtu kerja terus. Nanti lama-lama mereka bisa botak, Bu. Kalau tidak dikasih game." jawab Dhina yang tertawa bersama dengan Pak Aidi dan Bu Aini.
"Ya sudah, Ibu sama Ayah mau ke kamar dulu ya, Nak. Ayah sudah capek sekali, pengen dipijat Ibu. Besok jangan lupa bangun pagi ya. Selamat malam, putri Ayah." ujar Pak Aidi yang berdiri dan berjalan menuju kamar bersama Bu Aini.
"Siap, Ayah." jawab Dhina sambil hormat pada sang ayah.
Setelah Pak Aidi dan Bu Aini pergi ke kamar mereka, Dhina pun memutuskan untuk naik ke atas dan melihat mas-masnya main PS di kamar Ammar. Sebelum naik, terlebih dahulu Dhina menemui Bi Iyah untuk meminta Bi Iyah memeriksa semua pintu dan jendela rumah.
"Bi... nanti sebelum Bi Iyah istirahat tolong periksa pintu dan jendela ya, Bi." ujar Dhina pada Bi Iyah yang masih membereskan dapur.
"Baik, Non. Nanti Bibi periksa." jawab Bi Iyah sambil membalikkan tubuhnya melihat ke arah Dhina.
"Oke, Bi. Terima kasih ya, Bi. Adek mau naik dulu ke atas. Selamat malam Bi Iyah." ujar Dhina sambil berjalan menuju tangga.
"Selamat malam Non." jawab Bi Iyah yang melihat Dhina sudah berjalan menaiki tangga.
Kini Dhina sedang menuju ke kamar Ammar. Setelah sampai di depan kamar Ammar, Dhina langsung mengetuk pintu kamar mas sulungnya itu terlebih dahulu.
Tok... Tok... Tok...
Namun tidak ada yang membuka pintu. Akhirnya, Dhina memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar Ammar. Saat ia membuka pintu, Dhina melihat ketiga masnya sedang asyik main game dengan suara TV yang keras. Melihat hal itu, Dhina mendapat sebuah ide untuk mengerjai ketiga masnya.
Ammar, Sadha dan Dhana yang sedang asyik pun tidak menyadari kedatangan Dhina yang sudah berdiri di dekat pintu. Lalu Dhina pun mulai menjalankan misinya.
Bruk!
Dhina pun terjatuh dan pingsan di dekat pintu kamar Ammar yang sudah terbuka sejak tadi. Ketiga pria itu langsung tersentak dan terkejut saat melihat adik perempuan mereka tiba-tiba pingsan di dekat pintu.
"Adek... Adek kenapa Dek? Bangun Dek, bangun." ujar Ammar yang langsung mendekati Dhina karena posisi duduknya lebih dekat dengan pintu.
"Adek kenapa Mas? Kenapa Adek tiba-tiba pingsan seperti ini?" tanya Sadha yang ikut cemas melihat Dhina yang tiba-tiba pingsan.
"Lebih baik kita bawa ke tempat tidur dulu, Mas." timpal Dhana yang sudah keringat dingin melihat Dhina pingsan.
Dalam hati sebenarnya Dhina menahan tawa karena mendengar kecemasan dari ketiga masnya itu yang menurutnya lucu dan menggemaskan. Dhina hanya mendengar, tapi tidak melihat ekspresi sang kakak yang begitu mencemaskan dirinya.
Kemudian Ammar menggendong Dhina menuju tempat tidur di kamarnya. Lalu Ammar mengambil alat-alat medis yang ia miliki untuk memeriksa kondisi sang adik. Setelah Ammar mencoba memeriksa Dhina dan berusaha mencari penyebab Dhina pingsan, tiba-tiba Dhina sadarkan diri dan langsung tertawa.
"April mop!!! semuanya terkena prank Adek. Berhasil, berhasil, berhasil, hore." pekik Dhina yang terbangun dan langsung meloncat karena berhasil mengerjai ketiga masnya.
Terkejut bercampur kesal, itulah yang ketiganya rasakan saat ini. Sementara Dhina masih asyik meloncat di atas tempat tidur mas sulungnya.
"Adek... ini tidak lucu. Apa-apaan sih." ujar Sadha yang kesal dengan adik perempuannya itu.
"Habisnya Mas Ammar, Mas Sadha dan Mas Dhana asyik sekali main PS. Sampai Adek masuk saja tidak ada yang dengar. Untung saja Adek yang masuk, kalau maling bagaimana?" ujar Dhina yang kembali duduk di tepi tempat tidur Ammar.
"Tidak lucu, Dek! Mas tidak suka ya, kalau prank-prank seperti tadi lagi. Itu baru prank, kalau pingsan sungguhan bagaimana?" ujar Ammar dengan wajah kesal dan nada bicaranya yang mulai tinggi pada Dhina.
"Iya, Mas. Adek minta maaf." jawab Dhina sambil mengangkat dua jarinya pada Ammar, Sadha dan Dhana.
"Bercanda boleh tapi jangan seperti tadi! Adek tidak lihat, kita semua panik saat Adek tiba-tiba pingsan di depan pintu kamar Mas." ujar Ammar yang memegang bahu adik perempuannya itu lalu memalingkan wajahnya.
Ini pertama kalinya Ammar bicara nada tinggi pada Dhina karena perbuatannya membuat semua orang panik. Mereka bertiga panik saat melihat Dhina pingsan secara tiba-tiba. Padahal tadi masih sehat-sehat saja dan masih ikut makan bersama.
Dhina yang mendengar Ammar bicara dengan nada tinggi membuat matanya berkaca-kaca. Dhana yang melihat adik kembarnya tertunduk karena nada bicara Ammar pun langsung menghampirinya.
"Adek... Mas Ammar bukannya marah sama Adek. Mas Ammar seperti itu karena dia sayang sama Adek. Mana ada sih seorang kakak yang tidak khawatir melihat adiknya tiba-tiba pingsan. Mas sendiri saja tadi sudah keringat dingin, takut terjadi sesuatu sama Adek. Mas Sadha juga, dia panik sekali melihat Adek pingsan." tutur Dhana sambil merangkul bahu Dhina untuk menenangkan adik kembarnya itu karena tertunduk dengan nada suara Ammar.
"Dhana benar, Dek. Kita bukan marah. Prank boleh tapi tidak seperti ini caranya. Kita tidak bisa membayangkan kalau memang terjadi sesuatu sama Adek tadi." timpal Sadha yang tadi juga sempat kesal dengan Dhina sambil menggenggam kedua tangan Dhina.
"Adek minta maaf, Mas. Adek tidak ada maksud lain. Adek hanya ingin mengganggu kalian main saja." ujar Dhina yang memberanikan diri menatap Sadha dan Dhana.
Lalu Dhina memberanikan diri mendekati Ammar yang berdiri membelakangi ketiga adiknya itu. Dari belakang, Dhina mengambil tangan Ammar yang ada di dalam saku samping celananya.
"Mas... Adek minta maaf ya. Adek tau, Adek salah. Adek tidak akan mengulangnya lagi. Tapi maafkan Adek ya. Sejak kecil Mas tidak pernah marah sama Adek. Ini pertama kalinya Mas marah sama Adek. Adek minta maaf ya, Mas." Ucap Dhina yang menangis karena mengetahui mas sulungnya marah terhadap dirinya sambil mencium tangan Ammar.
Melihat Dhina yang begitu menyesal karena melakukan hal yang menurut Ammar tidak baik, membuat Ammar tidak tega melihatnya. Apalagi ia sadar, selama ini ia tidak pernah marah pada adik perempuannya itu. Lalu Ammar langsung memeluk Dhina.
"Mas tidak marah, Sayang. Mas hanya kesal pada diri Mas sendiri. Kenapa Mas bicara nada tinggi seperti tadi sama Adek." ujar Ammar seraya memeluk Dhina yang sudah terlanjur menangis.
Dhina yang mendengar itu pun semakin membenamkan wajahnya ke dalam dekapan Ammar.
"Pingsan atau sakit itu jangan dibawa bercanda, Sayang. Segala perbuatan dan ucapan itu adalah do'a. Kalau Adek tadi pingsan sungguhan bagaimana? Atau Adek sakit sungguhan bagaimana? Kita semua sayang sama Adek. Kita tidak mau terjadi sesuatu pada Adek." ujar Ammar seraya melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Dhina.
Dhina hanya diam, sementara Ammar menangkup wajah sang adik dan mengecup keningnya.
"Jangan ulangi itu lagi ya, Sayang. Mas minta maaf karena tadi sudah bicara keras sama Adek." ujar Ammar lagi dan kembali memeluk adik perempuannya itu.
"Iya, Mas. Adek juga minta maaf." jawab Dhina yang masih berada di dalam pelukan Ammar.
Sadha dan Dhana pun merasa lega karena Ammar berhasil menenangkan Dhina. Lalu...
"Berarti main kita hanya sampai di sini? Artinya kita tidak jadi mengalahkan Mas Ammar, Dhana." ujar Sadha yang berusaha memecahkan suasana sambil menggarut kepalanya yang tidak gatal.
Dhana yang melihat tingkah Sadha hanya terkekeh. Sementara Ammar langsung melerai pelukannya dan menatap tajam ke arah Sadha.
"Kamu itu niat sekali ya ingin mengalahkan Mas sendiri. Kamu ada dendam apa sama Mas? Seperti ada pesan yang tidak sampai saja." ujar Ammar yang memasang ekspresi jengah pada Sadha.
Sadha, Dhana dan Dhina pun terkekeh melihat ekspresi Ammar yang lucu seperti itu.
"Kita mainnya sudah saja ya, Mas. Sudah jam sembilan lewat. Apalagi besok kita mau pergi." timpal Dhana yang menyadari jam lalu merapihkan kamar Ammar yang berantakan.
"Ya sudah... ayo kita bubar! Terima kasih ya Dek, sudah membubarkan kita main game." ujar Sadha yang berjalan keluar sambil mengusap kepala adik perempuannya.
"Maaf Mas. Mas Ammar, Adek ke kamar juga ya." jawab Dhina pada Sadha yang keluar dari kamar Ammar sambil pamit juga pada Ammar.
"Iya, istirahat ya Dek." jawab Ammar dengan mencubit hidung mancung adik perempuannya itu.
"Ayo, Dek. Mas Ammar jangan ketiduran ya besok. Kalau tidak kita siram pakai air panas." ujar Dhana yang mengajak Dhina menuju kamar mereka sambil menggoda Ammar.
"Mas besok bangun lebih awal." jawab Ammar pada Dhana yang sudah berjalan ke arah kamar bersama Dhina.
Dhina yang melihat itu hanya tertawa seraya menggelengkan kepalanya.
***
Tepat jam sepuluh malam. Mereka sudah masuk ke kamar masing-masing dan terlelap. Tapi tidak dengan Dhina. Sejak sadar dari pingsan pura-puranya tadi, entah kenapa saat ini kepalanya terasa sangat berat. Padahal saat ini ia sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Merasa sangat pusing membuat Dhina terbangun dan ingin mengambil minum karena haus. Setelah minum, Dhina pun berniat ingin merebahkan tubuhnya kembali. Tapi ia merasa ingin pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai buang air kecil, Dhina duduk di meja rias miliknya. Ia tatap pantulan dirinya yang ada di dalam sana. Namun saat berada di depan cermin, Dhina terkejut saat melihat ada darah segar yang mengalir keluar dari hidungnya.
Melihat itu, Dhina pun segera mengambil tisu dan membersihkan darah segar yang keluar dari hidungnya. Namun darah segar itu tidak berhenti mengalir. Akhirnya, Dhina memutuskan untuk berbaring agar darah dari dalam hidungnya berhenti keluar. Pikiran Dhina pun menerawang saat ini, seraya menatap langit-langit kamar.
"Kepalaku terasa berat sekali."
Dhina bicara sendiri di dalam kamar sambil menatap langit-langit kamar seraya memijat lembut pelipisnya.
"Kenapa aku mimisan? Biasanya aku tidak pernah seperti ini. Apa karena aku kelelahan karena seharian tidak di rumah?"
Melihat tisu yang penuh dengan darah itu, Dhina pun segera membuangnya ke dalam tempat sampah yang ada di kamarnya. Setelah itu, Dhina kembali berbaring di tempat tidur. Berusaha untuk memejamkan mata dan berharap agar segera terpejam. Tapi matanya terasa perih dan susah untuk dipejamkan.
Jam sudah menunjukan pukul 12 malam namun Dhina belum juga terpejam. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Tubuhnya terasa sangat letih, kepalanya berat, dan tadi ia sempat mimisan. Perasaannya campur aduk saat ini. Ingin rasanya Dhina membangunkan Ammar, Sadha atapun Dhana. Tapi Dhina mengurungkan niatnya karena takut ketiga masnya itu khawatir. Lalu Dhina memutuskan untuk salat tahajud dan berharap setelah salat, hati dan pikirannya bisa lebih tenang.
"Lebih baik aku tahajud dulu. Agar hati dan pikiranku bisa lebih tenang. Bismillah."
Perlahan, Dhina pun bangkit dan berusaha untuk berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Setelah mengambil wudhu, Dhina langsung melaksanakan salat tahajud dua rakaat. Dalam salatnya, ia berdo'a dan memohon pada Allah SWT.
"Ya Allah... Lindungilah selalu keluargaku. Ampunilah dosaku, dosa Ayah Ibuku, dosa kakak-kakakku. Sertailah selalu kami dalam kebahagiaan dan ketenangan. Berkahilah rezeki kami. Berikanlah kami kesehatan. Jauhkanlah kami dari orang-orang jahat, Ya Allah. Rabbana Atina Fiddunya Hasanah Wafil Akhirati Hasanah Waqinna Azabannar."
Setelah selesai salat, Dhina pun kembali merebahkan tubuhnya dan langsung memejamkan mata agar sakit di kepalanya bisa segera hilang. Akhirnya, Dhina pun bisa terpejam dan tertidur setelah salat. Kini hati dan pikirannya sedikit lebih tenang dan Dhina dapat tertidur dengan pulas.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Ica Snow Kim
PRANK DHINA JADI NYATA DEH
2021-05-12
1
Aysel
salam dari skenario sang pencipta 🤗🤗🤗
2021-04-23
0
coni
emang seru dek kalo ngerjain mas sendiri😂 Aster juga begitu😂 Adek kenapa? adek gak sakit kan?
2021-04-21
0