...🍀🍀🍀...
Kegiatan di rumah membuat Dhina menjadi cepat bosan. Apalagi saat ini hanya dirinya, Dhana dan Bi Iyah saja yang berada di rumah. Dhina pun berniat untuk mengajak Dhana pergi keluar. Namun karena malas, Dhana menolak ajakan adik kembarnya itu.
"Mas... Adek bosan di rumah terus. Ayo keluar! Kita beli makanan atau minuman atau ke mana gitu, yang penting keluar." ujar Dhina seraya menggoyangkan tubuh Dhana.
"Mas lagi malas keluar, Dek. Lagi pula makanan kemarin juga masih banyak." jawab Dhana yang masih memainkan ponselnya.
"Makanan kemarin sudah habis dibawa saat jalan-jalan, Mas." ujar Dhina dengan nada yang tidak bersemangat.
"Adek buat saja makanan. Biasanya Adek suka membuat sesuatu, bukan." jawab Dhana yang duduk di sofa dan melirik ke arah Dhina.
Dhina pun menghela nafas panjang dengan penolakan Dhana. Dhina pasrah dan ikut memainkan ponselnya. Walaupun sebenarnya ia sudah bosan bermain ponsel sejak tadi. Lalu saat mereka sedang asyik dengan ponsel masing-masing, Bi Iyah datang menghampiri mereka.
"Den Dhana dan Non Adek... mau Bibi belikan sesuatu?" tanya Bi Iyah yang sudah berdiri di depan mereka berdua.
"Memang Bi Iyah mau ke mana?" tanya Dhina balik sebelum ia menjawab pertanyaan Bi Iyah.
"Bibi mau pergi ke supermarket, Non. Bibi mau belanja bulanan yang diminta sama ibu tadi." jawab Bi Iyah pada Dhina.
"Tapi stok di kulkas masih ada 'kan Bi?" tanya Dhina pada Bi Iyah.
"Masih, Non. Bibi hanya ingin membeli yang diminta sama Ibu. Kebetulan bahan itu memang sudah habis di kulkas." jelas Bi Iyah sambil memperlihatkan catatan belanja yang diberikan Bu Aini.
"Oh, begitu. Ya sudah Bi. Bi Iyah hati-hati ya." ujar Dhina yang memberikan kembali catatan belanja pada Bi Iyah.
"Non Adek tidak mau menitip sesuatu?" tanya Bi Iyah sebelum pergi.
"Sepertinya tidak, Bi. Mas Dhana... mau menitip sesuatu sama Bi Iyah tidak?" jawab Dhina lalu bertanya pada Dhana.
"Tidak, Dek." jawab Dhana singkat karena masih asyik main ponsel.
"Ya sudah, kalau begitu Bibi pergi dulu ya. Assalamualaikum." ucap Bi Iyah yang berjalan keluar rumah.
"Wa'alaikumsalam, Bi." jawab si kembar dengan serentak.
Setelah Bi Iyah pergi, Dhina pun pergi ke dapur. Dhina berniat untuk membuat sesuatu yang ia sukai, sesuai dengan ide yang dikatakan oleh Dhana tadi. Sebelum membuat sesuatu, terlebih dahulu Dhina memeriksa isi kulkas dan ternyata masih banyak persediaan di dalam sana.
"Ini bahan masakan masih banyak. Kenapa ibu menyuruh Bi Iyah belanja lagi?"
Melihat isi kulkas yang masih banyak bahan masakan dan juga buah, membuat Dhina jadi semangat untuk melakukan sesuatu yang sudah terpikir olehnya sejak tadi. Dhina ingin membuat pasta dan jus buah naga. Setelah mempersiapkan bahan-bahan, Dhina pun mulai membuatnya. Ia membuat dua porsi, satu untuk dirinya dan satu untuk mas kembarnya.
Tidak lama kemudian, pasta yang dibuat oleh Dhina pun sudah terhidang dua porsi. Tinggal jus buah naga yang belum selesai.
Saat Dhina hendak mengambil buah naga di dalam kulkas, tiba-tiba kepala Dhina terasa sakit lagi, bahkan kali ini rasanya seperti berputar.
"Kenapa kepalaku sakit lagi ya?"
Dhina yang merasakan sakit di kepalanya pun memegang kepalanya seraya bersandar ke kulkas.
"Ya Allah... kepalaku sakit sekali. Aku tidak kuat."
Dhina pun berusaha untuk berjalan ke arah meja makan. Saat ia berusaha mendekati meja makan, belum sampai tangannya menjangkau kursi meja makan, tiba-tiba...
Bruk!
Dhina terjatuh ke lantai bersama kursi meja makan dan pingsan di dekat sana. Dhana yang mendengar ada benda jatuh dari arah ruang makan pun mencoba memanggil Dhina untuk memastikan tidak terjadi sesuatu.
"Apa yang jatuh Dek? Kalau tidak niat masak, lebih baik tidak usah masak, Dek."
Tidak mendengar jawaban dari adik kembarnya itu membuat Dhana resah. Lalu karena tidak mendengar jawaban dari Dhina, membuat Dhana terduduk dan mencoba bertanya lagi pada adik kembarnya itu.
"Adek... di dapur masih aman 'kan?"
Dhana merasa heran karena Dhina masih tidak menjawab pertanyaannya. Lalu...
"Kenapa Adek tidak menjawab? Karena tidak dengar atau bagaimana sih nih bocah?"
Merasa tidak enak hati, akhirnya Dhana memilih untuk melihat Dhina ke dapur. Saat hendak berjalan ke dapur, Dhana melewati ruang makan. Setelah Dhana sampai di meja makan, ia terkejut saat melihat keberadaan Dhina yang tergeletak di lantai dan tertimpa kursi makan. Dhana pun langsung menjatuhkan ponselnya. Melihat sang adik yang pingsan, membuat Dhana panik dan langsung berlari mendekati adik kembarnya itu.
"Adek..."
Dhana yang melihat sang adik pingsan dan tergeletak di dekat meja makan pun langsung berlari ke arah Dhina.
"Ya ampun, Dek. Adek kenapa? Adek bangun, Dek."
Dhana pun meraih kepala Dhina lalu meletakkannya di atas pahanya seraya mengusap wajah Dhina yang sangat pucat.
"Adek... bangun Dek! Ya Allah, Adek kenapa? Adek bangun... jangan membuat Mas panik. Bangun Dek, bangun."
Dhana panik dan khawatir melihat Dhina yang pingsan dan wajahnya sangat pucat. Lalu Dhana pun menggendong Dhina menuju ke ruang keluarga. Dhana berusaha tetap tenang untuk menghadapi masalah ini. Apalagi saat ini hanya mereka berdua yang ada di rumah.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Dhana yang panik pun meletakkan Dhina perlahan di atas sofa lalu berpikir.
"Ayolah Dhana! Jangan panik untuk sekarang. Adek butuh bantuan kamu. Ayo berpikirlah Dhana, berpikirlah..."
Dhana yang masih panik hanya bisa bicara sendiri sambil mengacak rambutnya dan berpikir untuk menolong sang adik.
"Oh iya, minyak kayu putih. Iya... tunggu sebentar ya, Dek."
Dhana pun langsung berlari dengan cepat untuk mengambil minyak angin agar bisa menyadarkan Dhina yang sedang pingsan. Setelah mengambil minyak angin, Dhana kembali berlari menuju ke ruang keluarga, di mana adik kembarnya saat ini sedang pingsan.
"Bismillahirrahmanirrahim. Ayo Dek... bangun. Ayo bangun, Dek. Mas mohon, bangunlah."
Lama Dhana berusaha membangunkan Dhina dengan minyak angin dan membuat keringat dinginnya bercucuran.
"Adek... Mas mohon jangan seperti ini."
Dhana pun mengusap kepala adik kembarnya itu lalu memberikan minyak angin di hidungnya dan berharap Dhina akan sadar.
"Apa aku telpon Mas Ammar saja ya. Iya... aku harus memberitahu Mas Ammar."
Dhana pun berniat untuk menghubungi Ammar. Namun ponselnya mati karena sempat terjatuh karena panik melihat Dhina pingsan. Dhana bingung. Ia tidak tau harus melakukan apa. Lalu Dhana kembali ke tempat Dhina. Dhana berusaha lagi untuk membangunkan Dhina dengan minyak angin.
"Adek... bangun Dek."
Dhana tidak bisa menahan air matanya untuk keluar karena melihat adik kembarnya pingsan seperti ini. Suaranya tertahan dan air matanya terus mengalir karena sang adik yang tidak kunjung membuka matanya.
"Mas..."
Dhana yang mendengar suara lirih itu pun langsung mengangkat wajahnya yang tertunduk dan sudah berurai air mata ke arah Dhina.
"Adek... Adek tidak apa-apa? Adek kenapa bisa pingsan? Adek jatuh atau Adek sakit? Adek kenapa? Bilang sama Mas." tanya Dhana yang bertubi-tubi seraya membelai wajah adik kembarnya itu.
"Adek tidak apa-apa, Mas. Mas Dhana menangis ya?" jawab Dhina yang berusaha duduk sambil melihat ke wajah Dhana.
"Tidak, Mas tidak menangis. Apa yang Adek rasakan sekarang? Kita ke rumah sakit ya. Adek pingsannya lama sekali. Mas takut Adek sakit." ujar Dhana sambil membantu Dhina duduk.
"Tidak perlu, Mas. Adek tadi hanya tersandung terus kepala Adek terbentur kursi meja makan, makanya adek pingsan." jawab Dhina yang berbohong pada mas kembarnya.
Dhina terpaksa berbohong pada mas kembarnya itu karena ia tidak mau melihat Dhana khawatir. Dhina juga tidak ingin memberitahu Dhana kalau penyebab dirinya pingsan adalah karena kepalanya yang terasa sakit lagi. Bahkan lebih sakit dari sebelumnya. Sebenarnya Dhina bersyukur karena pada saat ia pingsan, hidungnya tidak mengeluarkan darah segar seperti tadi pagi. Jadi Dhana tidak mengetahui kondisinya yang saat ini sedang tidak baik.
"Tersandung? Kenapa? Apa Adek bohong sama Mas?" tanya Dhana yang meraih dagu Dhina dan membuat kepala Dhina terangkat.
"Iya Mas. Adek tadi tersandung dengan kaki Adek sendiri. Adek berlari saat ingin ke meja makan." jawab Dhina gugup tapi memberanikan diri untuk menatap Dhana.
"Tapi wajah Adek pucat sekali tadi." ujar Dhana sambil membelai pipi adik kembarnya itu.
"Mungkin karena Adek pingsan, Mas. Mas jangan menangis lagi ya. Adek baik-baik saja kok. Kalau Mas menangis, nanti Mas tidak ganteng lagi loh." jawab Dhina yang berusaha meyakinkan Dhana dan menggoda mas kembarnya seraya mengusap air mata di pipi Dhana.
"Saat seperti ini Adek masih bisa menggoda Mas ya. Mas panik, bingung, tidak tau harus melakukan apa. Ponsel Mas sampai jatuh dan tidak bisa hidup lagi dan Adek masih bisa tenang seperti ini." serkas Dhana yang meraih tangan Dhina di pipinya.
"Ponsel Mas jatuh? Adek minta maaf ya, Mas. Ponsel Mas jatuh karena Adek pingsan." ujar Dhina yang tertunduk karena merasa bersalah pada Dhana.
"Bukan ponsel yang Mas khawatirkan, Sayang. Tapi Adek. Kalau ponsel bisa Mas beli lagi, tapi tidak dengan Adek." jawab Dhana tegas dan membuat Dhina terharu mendengarnya lalu langsung memeluk Dhana.
"Adek minta maaf ya, Mas. Adek tidak bermaksud untuk membuat Mas khawatir seperti tadi. Adek yang ceroboh dan tidak hati-hati. Maaf ya Mas." ujar Dhina yang memeluk Dhana dan menangis.
Dhina pun menangis di dalam pelukan Dhana. Melihat adik kembarnya yang menangis, membuat Dhana menjadi tidak tega. Lalu membalas pelukan Dhina untuk menenangkan adik kembarnya itu.
"Sudah, sudah! Jangan menangis lagi. Mas minta maaf karena sudah bicara keras sama Adek." ujar Dhana seraya membalas pelukan Dhina.
Dhana pun berusaha menenangkan sang adik walaupun hatinya masih teramat cemas dengan kondisi Dhina yang pingsan tanpa tau penyebab sebenarnya.
"Lebih baik Adek istirahat ya. Mas ingin ke dapur sebentar. Adek duduk di sini saja ya. Nanti Mas akan membawa minuman untuk Adek." ujar Dhana yang hendak berdiri namun dicegah oleh Dhina.
"Mas... boleh Adek minta sesuatu?" ujar Dhina yang memegang tangan Dhana.
"Adek ingin meminta apa Sayang?" tanya Dhana balik yang menatap Dhina.
"Mas jangan ceritakan kejadian ini pada Ayah, Ibu, Mas Ammar dan Mas Sadha ya. Adek takut mereka jadi khawatir. Lalu berpikiran yang aneh dan tidak-tidak. Adek tidak ingin itu terjadi. Mas Dhana janji ya sama Adek. Jangan beritahu siapapun. Janji?" tutur Dhina yang mengarahkan jari kelingkingnya.
Dhana pun menghela nafas panjang. Ia sebenarnya tidak ingin menuruti keinginan adik kembarnya itu. Tapi karena Dhina baru sadar dari pingsan, Dhana terpaksa mengalah dan menuruti permintaan Dhina.
"Iya. Mas janji. Mas ke belakang dulu ya." jawab Dhana yang menghela nafas panjang lalu pergi ke ruang makan.
Melihat adik kembarnya yang sudah sadar, membuat Dhana sedikit lega. Tapi ada sesuatu yang membuat Dhana belum bisa tenang sepenuhnya. Saat berjalan ke dapur, Dhana terus saja kepikiran hal itu.
Apa benar yang Adek katakan? Kalau dia pingsan karena tersandung? Sebenarnya tidak masuk akal. Tapi aku juga tidak tau apa penyebab sebenarnya. Apalagi saat pingsan, Adek pucat sekali. Tidak mungkin karena tersandung sampai pucat seperti itu. Apa yang sedang Adek sembunyikan sebenarnya? Apa yang dipikirkan Mas Ammar tadi sama dengan yang aku pikirkan saat ini. Gumam Dhana dalam hati.
Dhana yang bergumam sendiri dengan pikiran buruknya pun terus membereskan lantai bekas pingsan sang adik tadi.
"Aku harus mencari tau tentang ini!"
Setelah pergi ke dapur, Dhana pun kembali ke ruang keluarga dan membawa satu gelas air putih untuk Dhina.
"Adek... minum dulu ya. Setelah pingsan tadi Adek belum minum." ujar Dhana seraya memberikan gelas air pada Dhina.
"Terima kasih, Mas." jawab Dhina sambil mengambil gelas air dari tangan Dhana.
"Setelah ini Mas antar ke kamar ya. Lebih baik Adek istirahat di kamar sambil tidur siang juga." ujar Dhana yang duduk di samping Dhina.
"Iya Mas. Tapi Adek ingin menunggu Ibu dan Ayah pulang dulu ya. Tadi pagi Adek juga tidak sempat bertemu mereka." jawab Dhina yang melirik ke arah Dhana.
"Ya sudah, Adek tidur di sini saja dulu, sampai Ayah dan Ibu pulang. Mas temani Adek ya." ujar Dhana yang mengusap lembut kepala adik kembarnya.
"Iya, Mas. Terima kasih ya, Mas." jawab Dhina yang meraih tangan Dhana.
***
Hari pun semakin siang dan Bi Iyah juga sudah sampai di rumah tidak lama setelah Dhina sadar dari pingsan tadi. Tidak lama kemudian, Pak Aidi dan Bu Aini pun juga sampai di rumah. Lalu mereka langsung masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum." ucap Pak Aidi dan Bu Aini yang membuka pintu rumah.
"Wa'alaikumsalam, Ayah, Ibu." jawab si kembar dari dalam rumah dengan serentak.
"Anak kembar Ibu di rumah saja?" ujar Bu Aini yang melihat anak kembarnya menghampiri mereka.
"Iya, Bu. Mas Dhana lagi malas keluar. Jadi kita di dalam rumah saja sejak tadi." ujar Dhina yang menyalami ayah dan ibunya itu.
"Wajah Adek kenapa pucat sekali? Adek sakit atau belum makan Nak?" tanya Pak Aidi yang mengusap kepala sang putri.
Dhana dan Dhina pun terdiam lalu saling pandang saat mendengar pertanyaan dari sang ayah. Lalu dengan cepat Dhina menjawab pertanyaan Pak Aidi agar mereka tidak curiga.
"Adek tidak apa-apa, Ayah. Adek sejak tadi hanya di dalam rumah, mungkin efek tidak keluar seharian, makanya Adek terlihat pucat." jawab Dhina yang berusaha tenang agar Pak Aidi percaya.
Adek, Adek... Kenapa sih tidak jujur saja pada Ayah dan Ibu? Kenapa harus berbohong? Tadi katanya karena tersandung, sekarang karena tidak keluar rumah. Apa yang sebenarnya Adek tengah sembunyikan. Gumam Dhana dalam hati.
"Hei, ini lagi... anak Ibu yang tampan kenapa melamun siang bolong seperti ini. Nanti kesurupan loh, Nak." ujar Bu Aini seraya menepuk bahu Dhana dan membuat Dhana terkejut.
"Eh iya, Bu. Maaf, Dhana melamun. Ayah sama Ibu lebih baik istirahat saja. Dhana sama Adek juga ingin ke atas dulu." jawab Dhana yang cukup gugup karena ikut berbohong dengan ayah dan ibunya.
"Ya sudah, Ayah dan Ibu ke kamar dulu ya." ujar Pak Aidi sambil berlalu pergi ke kamar.
"Iya, Ayah, Ibu." jawab si kembar bersamaan.
Setelah Pak Aidi dan Bu Aini masuk ke kamar, Dhana dan Dhina pun pergi ke lantai atas. Mereka ingin tidur siang. Namun saat Dhana ingin ke kamarnya, Dhina mencegahnya.
"Mas..." panggil Dhina dan membuat Dhana memutar tubuhnya dan melihat ke arah Dhina.
"Iya, Dek. Kenapa? Masih pusing ya." ujar Dhana yang mengelus kepala adik kembarnya itu.
"Bukan, Mas. Bukan itu. Adek ingin bilang terima kasih karena tidak memberitahu Ayah dan Ibu tentang kejadian tadi." jawab Dhina yang meraih tangan Dhana.
"Iya, sama-sama. Sekarang Adek masuk kamar, lalu tidur siang." ujar Dhana yang mencubit pipi cubby Dhina.
"Iya, Mas. Adek ke kamar dulu ya. Mas tidur juga ya." jawab Dhina dan langsung masuk ke kamarnya untuk tidur siang.
Dhana menghela nafas panjang melihat sikap Dhina seperti tadi. Ia tidak habis pikir dengan sikap Dhina yang bisa menyembunyikan hal seperti tadi terhadap ayah dan ibu mereka. Dhana pun hanya bisa mengikuti permintaan Dhina. Bukan karena tidak sayang, melainkan karena sangat menyayangi adik kembarnya itu. Dhana tidak tega untuk menolak permintaan Dhina.
"Semoga tidak terjadi sesuatu pada adikku!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
Hallo reader, maaf ya kadang-kadang aku telat up ceritanya 😘😘😘 karena pekerjaan ku tidak hanya ini. Mohon di maklumi ya 🤗🤗🤗
Tapi tenang saja reader ku, aku bakal tetap up kok setiap hari 👍👍👍 Jadi ikuti terus ya ceritanya 🤩🤩🤩🤩
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
coni
Ampun dek, kasih tahu aja mas-mas nya kenapa. liat tuh pada khawatir semua jadinya 😭😭😭 kasih tahu mas Ammar juga kan mas Ammar dokter
2021-05-27
1
Nofi Kahza
ya ampun..sampai kapan tu penyakit hars dirahasiakan?
ayolah..jng gt.. itu malah merugikan dirimu sndiri dhina.. ya Allah😭
2021-03-11
1
Bagus Effendik
dan semangat semangat semangat
2021-02-21
1