...🍁🍁🍁...
Setelah menunggu lebih dari dua puluh menit, akhirnya Suster labor selesai memeriksa antara DNA rambut dengan DNA yang ada di tisu berdarah itu. Setelah selesai, Suster labor pun berniat untuk langsung mengantarkan hasil tes DNA itu ke ruangan Ammar. Namun saat Suster labor sedang berjalan menuju ruangan Ammar, tiba-tiba Suster labor berpapasan dengan Dokter Ronald.
"Suster... mau ke mana?" tanya Dokter Ronald pada Suster karena tidak biasanya seorang Suster melewati jalan menuju ruangan pribadi dokter.
"Maaf Dok, saya diminta Dokter Ammar untuk mengantarkan ini ke ruangannya sekarang juga." jawab Suster labor pada Dokter Ronald.
"Apa itu? Apakah hasil tes dari tisu yang Ammar berikan kemarin sudah keluar?" tanya Dokter Ronald lagi pada Suster.
"Hasil tes tisu itu sudah diambil oleh Dokter Ammar, Dok. Ini hasil tes DNA untuk mencocokkan dengan DNA yang ada di hasil tes itu." jelas Suster labor pada Dokter Ronald.
"Kalau begitu biar saya saja yang mengantarkan hasil tes DNA itu pada Ammar." ujar Dokter Ronald yang menawarkan diri untuk mengantarkan hasil tes DNA pada Ammar.
"Tapi, Dok..."
"Nanti biar saya yang menjelaskan pada Ammar, sekarang Suster boleh kembali ke ruangan labor." potong Dokter Ronald pada Suster labor.
"Baik, Dok. Ini hasil tes DNA nya. Terima kasih. Saya permisi dulu." ujar Suster labor seraya memberikan amplop hasil tes DNA pada Dokter Ronald.
Setelah Dokter Ronald mendapat amplop itu, dengan cepat Dokter Ronald langsung berjalan menuju ruangan Ammar yang tidak jauh dari ruangannya. Saat sampai di depan ruangan Ammar, dengan menghela nafas panjang Dokter Ronald mengetuk pintu ruangan itu. Lalu ia membuka dan masuk ke dalam.
Ammar yang melihat Dokter Ronald masuk pun terkejut dan langsung beranjak dari duduknya.
"Dokter Ronald..."
"Am... saya ingin memberikan ini sama kamu." ujar Dokter Ronald seraya memberikan sebuah amplop pada Ammar.
"Apa ini Dok?" tanya Ammar yang mengambil amplop yang diberikan oleh Dokter Ronald.
"Itu amplop yang ingin diberikan Suster labor padamu. Tadi saya berpapasan dengan dia. Saat saya tau itu punya kamu, saya langsung meminta pada suster agar saya yang mengantarkan ke sini." jelas Dokter Ronald pada Ammar.
Sadha dan Dhana saling pandang saat mengetahui kalau amplop yang dibawa Dokter Ronald itu adalah hasil tes DNA rambut Dhina dengan darah yang ada di tisu itu. Lalu...
"Coba buka, Mas. Kita harus melihat hasilnya." ujar Sadha yang berjalan menuju meja Ammar.
"Kita buka tes DNA dulu, baru kita lihat hasil amplop ini." jawab Ammar yang gemetar saat memegang kedua amplop itu.
"Baca bismillah dulu, Mas." timpal Dhana yang berusaha menenangkan Ammar.
"Am... kalau kamu mengizinkan, biarkan saya yang membuka dan membacanya agar kamu tidak terlalu syok." ujar Dokter Ronald seraya meraih bahu Ammar.
"Jujur saya takut sekali, Dok. Saya tidak yakin bisa kuat menerima kalau diagnosis saya itu benar." jawab Ammar dengan suaranya yang tertahan karena menahan tangis.
"Berikan saja pada Dokter Ronald kalau kamu tidak kuat, Mas. Kamu tidak perlu takut menghadapi semuanya sendiri. Kita semua akan selalu bersama kamu." ujar Ibel yang berusaha menenangkan Ammar sambil meraih tangannya.
Ibel memberanikan diri mendekati Ammar. Walaupun ia tau kalau tindakan itu tidak akan diperdulikan oleh Ammar. Lalu...
"Dokter Bella benar, Am. Saya akan membantu kamu apapun yang terjadi." ujar Dokter Ronald pada Ammar seraya menenangkannya.
Ammar masih tetap diam sambil memandang kedua amplop yang ada di tangannya. Sadha yang merasa tidak sabar ingin mengetahui isi dari amplop itu pun mengambilnya dari tangan Ammar. Lalu...
"Buka saja, Dokter. Sepertinya Mas Ammar tidak mampu mengatakan apapun. Sadha minta tolong sama Dokter." ujar Sadha yang memberikan amplop pada Dokter Ronald.
"Baiklah, Sadha. Saya akan membukanya." jawab Dokter Ronald yang mengambil amplop itu dari Sadha.
Sadha pun memberikan amplop itu pada Dokter Ronald karena melihat Ammar yang hanya diam. Ia tau kalau Ammar tidak akan sanggup menerima kenyataan. Kalau adik perempuannya itu sakit seperti yang ia katakan tadi malam. Sementara Dokter Ronald mulai membuka amplop pertama, yaitu amplop hasil tes DNA. Saat Dokter Ronald sudah membuka dan membacanya, semua yang ada di sana merasa khawatir.
"Bagaimana Dokter? Apakah hasil tes DNA itu sama dengan DNA darah yang ada di tisu?" tanya Ammar yang berdiri dan melihat ke arah Dokter Ronald.
"Hasilnya..."
"Hasilnya apa Dokter?" tanya Ibel yang juga semakin penasaran sekaligus khawatir.
"Hasilnya positif, Am! Itu artinya DNA rambut Dhina sama dengan DNA darah yang ada di tisu itu." jawab Dokter Ronald yang berusaha tenang agar Ammar dan yang lain pun tenang.
"Itu artinya darah yang ada di tisu itu memang darah Adek." timpal Dhana yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Lalu bagaimana dengan amplop kedua Dok? Saya butuh jawabannya sekarang." ujar Ammar yang sudah menjatuhkan air mata di pipinya.
"Mas tenang ya... kita berdo'a agar hasilnya tidak sesuai dengan diagnosis yang Mas katakan." ujar Ibel yang berada di samping Ammar seraya menggenggam tangan pria yang ia cintai itu.
"Saya buka dan saya pelajari dulu ya. Saya harap apapun hasilnya, kalian semua bisa kuat dan tetap tenang." ujar Dokter Ronald seraya membuka amplop kedua.
Dokter Ronald pun membuka amplop kedua. Setelah terbuka, Dokter Ronald langsung membacanya. Saat ia membaca isi surat itu, ekspresi Dokter Ronald berubah. Sementara Ammar, Sadha, Dhana dan Ibel hanya terdiam.
Ya Allah... jangan biarkan adikku menerima beban seberat ini. Jangan biarkan dia sakit. Gumam Ammar dalam hati.
Ya Allah... aku sangat menyayangi adikku. Jangan beri dia cobaan seberat ini. Selama ini dia tidak pernah sakit. Aku mohon... Gumam Sadha dalam hati.
Ya Allah... engkau pasti tau apa do'aku untuk adik kembarku. Dia separuhku, dia teman dan sahabatku, dia nyawaku. Jangan biarkan dia sakit biar aku saja yang menggantikan posisi Adek. Gumam Dhana dalam hati.
Ya Allah... aku tidak bisa melihat Mas Ammar seperti ini. Tolong berikan yang terbaik menurut mu. Gumam Ibel dalam hati.
"Bagaimana Dokter? Apakah kami bisa mendengar hasilnya sekarang?" tanya Dhana yang berusaha tegar dan tidak menangis.
"Setelah saya baca dan saya pelajari, saya sudah mengetahui hasilnya. Hasilnya... hasil tes laboratorium Dhina menunjukan, kalau Dhina... Dhina... Dhina positif kanker darah stadium dua!"
Jgeeer!
Ammar, Sadha, Dhana dan Ibel sangat terkejut saat mendengar pernyataan Dokter Ronald. Dokter tampan itu menyatakan kalau Dhina positif kanker darah dan sudah stadium dua. Mereka semua tidak bisa menahan air mata saat mendengar itu. Semuanya menangis dan sangat terpukul saat mengetahui adik perempuan mereka satu-satunya mendapat penyakit parah seperti ini.
Ammar dan Dhana yang tidak bisa menerima semua ini, menjadi histeris dan emosi mereka tidak terkontrol. Sementara Sadha dan Ibel berusaha tegar dan menenangkan keduanya.
"Tidak!!! Tidak mungkin. Dokter pasti salah. Tidak mungkin adik saya sakit kanker. Saya ini dokter spesialis kanker. Tidak mungkin!!! Tidak mungkin." ujar Ammar yang tidak bisa mengontrol emosinya lagi saat mengetahui kenyataan.
"Mas... kamu harus tenang. Kalau kamu seperti ini, kita tidak akan bisa mencari jalan keluar dari masalah ini, Mas." ujar Ibel yang berusaha menenangkan Ammar.
Ibel berusaha menenangkan Ammar yang hilang kendali karena emosinya. Sedangkan Sadha, berjalan mendekati Dokter Ronald. Lalu...
"Apakah Dokter sedang mempermainkan kita semua?" tanya Sadha yang masih tidak percaya dan wajahnya sudah basah karena air mata.
"Kamu harus sabar, Sadha. Saya tau ini berat untuk kalian semua, tapi ini sudah takdir. Saya harap kalian bisa tenang agar kita bisa mencari jalan keluarnya." jawab Dokter Ronald seraya menepuk bahu Sadha untuk menenangkannya.
Sadha pun terduduk dan menangis di kursi. Ia juga merasa terpukul mendengar adik yang sangat ia sayangi harus sakit kanker. Sementara Dhana, ia masih saja menangis sesegukan. Lalu...
"Apa Dhana sedang bermimpi Mas? Coba Mas Sadha pukul Dhana. Dhana tidak ingin berada di mimpi ini. Pukul Dhana, Mas. Pukul!!!" serkas Dhana pada Sadha.
Dhana juga hilang kendali karena emosinya. Ia meminta Sadha memukul dirinya. Melihat Dhana seperti itu, Sadha langsung memeluk Dhana dan tangis mereka pun sudah pecah.
"Tidak mungkin Adek sakit kanker, Mas. Dokter Ronald pasti bohong sama kita. Mas Sadha kenapa diam saja? Jawab Dhana, Mas!!!" ujar Dhana yang masih berada di dalam dekapan Sadha.
Semua yang berada di ruangan Ammar menjadi terpukul dan sangat sedih saat mendengar semua kenyataan pahit ini. Sementara Dokter Ronald yang melihat itu semua, hanya bisa terdiam dan tidak menyangka kalau kasih sayang Ammar, Sadha dan Dhana terhadap Dhina sangat besar. Dokter Ronald pun juga merasa sedih atas berita ini. Lalu ia memilih untuk tetap berada di ruangan Ammar untuk membantu sahabatnya itu.
"Mas Ammar harus kuat dan sabar. Dhina pasti tidak akan suka melihat Mas seperti ini. Mas sayang bukan sama Dhina?" ujar Ibel yang menangis dan berusaha menenangkan Ammar.
"Aku tidak ingin dia sakit, Bel. Aku tidak pantas menjadi seorang Kakak. Aku bisa mengobati orang lain, tapi adikku sendiri... aku tidak bisa menjaga kesehatannya." jawab Ammar yang sendu dan menangis.
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Mas. Saat ini yang perlu kita pikirkan adalah cara menyembuhkan Dhina. Kamu harus bisa menyembuhkan adik kamu, seperti kamu menyembuhkan orang lain." ujar Ibel yang menyemangati Ammar.
"Apakah aku bisa Bel? Aku takut tidak bisa dan gagal." tanya Ammar yang tertunduk karena merasa takut gagal untuk menyembuhkan sang adik.
"Kamu tidak boleh menyerah, Mas. Mana Mas Ammar yang aku kenal. Mas Ammar yang selalu semangat dan pantang menyerah. Setiap usaha tidak akan mengecewakan hasil, Mas. Kamu jangan khawatir karena aku akan selalu ada buat kamu." ujar Ibel yang membuat Ammar kembali tersenyum dan semangat.
"Terima kasih, Bella. Kamu memang sahabat terbaikku. Maafkan sikapku tadi karena sudah keras padamu." jawab Ammar yang memegang tangan Ibel.
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu selalu menerima aku sebagai sahabat kamu. Kamu yang semangat ya. Dhina butuh masnya yang kuat dan pantang menyerah seperti kamu, Mas." ujar Ibel sambil membalas genggaman Ammar.
Ibel merasa lega karena Ammar sudah tidak marah lagi padanya. Namun disisi lain, Ibel juga merasa sedih karena sampai sekarang Ammar hanya menganggapnya sebagai sahabat baik.
Kenapa kamu menganggapku hanya sabagai sahabat Mas? Apa kamu tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan? Aku berharap hubungan kita bisa lebih dari sekedar sahabat. Tapi saat ini aku juga tidak boleh egois. Sabar Bel... suatu saat Ammar pasti bisa melihat cintamu. Gumam Ibel dalam hati.
Melihat Ammar yang sudah mulai tenang, Ibel pun meminta Ammar untuk menenangkan kedua adik laki-lakinya itu. Mereka berdua juga terpukul dengan semua ini. Namun Sadha berusaha mengontrol emosinya dan tegar di depan Dhana agar ia bisa menenangkan Dhana.
"Sekarang kamu sudah lebih tenang. Lebih baik kamu coba menenangkan Sadha dan Dhana. Mereka juga terpukul seperti kamu. Mereka juga butuh kamu, Mas." ujar Ibel yang melihat ke arah Sadha dan Dhana.
"Oke, aku ke sana sebentar ya. Setelah ini kita cari solusi dari masalah ini sama-sama." jawab Ammar yang mengusap air mata di pipinya lalu berjalan menuju Sadha dan Dhana.
Ammar pun mengikuti yang dikatakan oleh Ibel. Ia berjalan mendekati kedua adik itu yang sedang terpukul sama seperti dirinya.
"Sadha, Dhana..."
Sadha dan Dhana yang mendengar suara parau Ammar pun langsung memeluk tubuh mas sulungnya itu. Lalu...
"Mas... Adek bagaimana Mas?" ujar Dhana yang masih syok dengan kenyataan yang terjadi.
"Kamu harus tenang, Dhana. Mas janji akan berusaha dengan maksimal untuk mengobati Adek. Kita bertiga harus kuat. Kita jangan memikirkan perasaan kita saja. Kita juga harus memikirkan perasaan Ayah dan Ibu. Jika mereka tau hal ini, mereka akan lebih terpukul dari pada kita." jawab Ammar yang mengusap lembut kepala Dhana.
"Lebih baik kita beritahu Ayah dan Ibu besok saja, Mas. Setelah pulang dari acara di kantor Ayah. Kalau kita beritahu sekarang, kasihan Ayah dan Ibu. Mereka tidak akan semangat untuk menghadiri acara besok kalau mengetahui kabar ini sekarang." ujar Sadha seraya melepaskan pelukannya dari Ammar.
"Mas setuju dengan saran kamu. Kita beritahu Ayah dan Ibu besok. Tapi yang Mas pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya kita memberitahu Adek? Mas tidak yakin, Adek bisa kuat mendengar berita ini." jawab Ammar yang bingung.
"Saran saya, lebih baik untuk saat ini Dhina tidak perlu tau kondisinya, Am. Yang terpenting kalian sebagai kakaknya sudah tau dan bisa mengambil tindakan apa yang harus dilakukan." ujar Dokter Ronald yang berdiri di samping meja kerja Ammar.
"Sebenarnya aku kurang setuju dengan saran Dokter Ronald. Bagaimana pun juga Dhina berhak tau kondisinya saat ini. Lagi pula kalau Dhina sudah tau kondisinya, kita akan lebih mudah untuk melakukan tindakan." timpal Ibel yang berjalan ke arah Ammar.
"Baiklah, saya akan mengikuti saran kalian berdua. Untuk saat ini, Adek tidak perlu tau dulu berita ini. Jika waktunya tepat, saya akan beritahu Adek yang sebenarnya." ujar Ammar yang memilih jalan tengah untuk kedua saran dari Dokter Ronald dan Ibel.
"Oke, Mas. Sadha setuju." ujar Sadha yang meraih bahu Ammar dari belakang.
"Dhana juga setuju. Tapi bagaimana caranya Mas menangani Adek agar dia tidak curiga untuk sementara ini?" tanya Dhana yang sudah merasa lebih tenang.
"Nanti Mas akan memberikan obat pada Adek. Kita juga harus bisa membohongi Adek. Biar Adek tidak curiga, kita harus bisa meyakinkan Adek bahwa obat yang Mas berikan itu hanya vitamin biasa." jelas Ammar pada Sadha dan Dhana.
"Am... untuk menyembuhkan Dhina, lebih baik dari sekarang kamu mulai mencari pendonor sumsum tulang belakang untuknya." timpal Dokter Ronald pada Ammar.
"Iya, Dok. Saya juga berpikiran seperti itu. Tapi untuk awal ini apa lebih baik kita melakukan kemoterapi saja. Bagaimana?" ujar Ammar pada Dokter Ronald.
"Itu juga bisa, tapi Dhina harus tau dulu tentang penyakitnya. Kalau tidak dia akan heran dan bingung. Jadi jangan terlalu lama menyimpan rahasia ini, Am." jawab Dokter Ronald seraya meraih bahu Ammar.
"Saya usahakan, Dok. Kalau begitu saya ingin ke apotek sebentar untuk mengambil obat." ujar Ammar yang hendak pergi keluar.
Saat Ammar ingin beranjak dari posisi berdirinya, Sadha dan Dhana pun mencegah Ammar. Lalu...
"Kita ikut, Mas." pekik Dhana pada Ammar sambil berlari ke arah Ammar.
"Iya, Mas. Kita ingin ikut." timpal Sadha pada Ammar.
"Ya sudah, kalau begitu saya juga pamit memeriksa pasien dulu. Permisi." ujar Dokter Ronald yang pamit dan berjalan keluar ruangan Ammar.
"Terima kasih, Dokter." ucap Ammar pada Dokter Ronald yang sudah berjalan keluar ruangannya.
Dokter Ronald yang sudah berjalan hanya melambaikan tangannya pada Ammar. Saat Ammar, Sadha dan Dhana ingin keluar. Ammar melihat Ibel yang masih terduduk di kursi sambil melamun. Ammar pun menghampiri Ibel. Sedangkan Sadha dan Dhana yang mengerti dengan situasi ini, memilih keluar agar mas sulung mereka bisa berbicara dengan Ibel.
"Ibel... kamu ingin tetap di sini atau ikut kami ke apotek?" tanya Ammar pada Ibel yang sedang melamun.
"Lebih baik aku pulang saja, Mas. Nanti takutnya, Bunda mencariku. Kalau kamu butuh aku, kamu langsung telephone aku saja ya." jawab Ibel yang meraih tasnya yang ada di meja Ammar.
"Apa sebaiknya kamu tunggu aku sebentar? Habis mengambil obat untuk Adek, aku juga ingin pulang, Bel." ujar Ammar pada Ibel yang sudah mau pergi.
"Tidak perlu, Mas. Aku pulang sendiri saja. Kamu harus fokus sama Adek kamu. Aku pamit ya. Sadha, Dhana... Kakak pulang duluan ya. Assalamualaikum". ujar Ibel yang berpamitan pada Ammar, Sadha dan Dhana sambil berjalan keluar.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Bel."
Setelah Ibel pergi, Ammar, Sadha dan Dhana pun langsung pergi ke apotek untuk mengambil obat yang akan diberikan pada Dhina. Kesedihan saat mendengar bahwa Dhina sakit parah membuat ketiga pria tampan itu selalu memikirkan kondisi Dhina. Apalagi saat ingin pergi tadi pagi, mereka bertiga tidak ada yang berbicara pada Dhina. Mereka memang kesal, tapi kini mereka pun menyesali perbuatan mereka sendiri terhadap adik perempuannya itu.
Selesai mengambil obat, Ammar pun berniat untuk pulang cepat. Hari ini sebenarnya ia tidak ada jadwal dinas. Ia hanya ingin mengambil hasil tes labor yang berikan kemarin. Sedangkan Sadha kembali ke kantornya karena masih ada jam kerja. Sementara Dhana memilih ikut bersama Ammar untuk pulang ke rumah.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Fia Falah
ya ampunn..part ini apa gak kebanyakan ngasih bawangnya thorrr😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢
2021-06-24
0
coni
Huaaa😭😭😭😭 salut sama masa sadha dia tetep berusa tegar setelah mendapat hasil yang Jgeerr dari authornya 😭😭😭
2021-05-27
1
Arthi Yuniar
Ya ampuun Dhina sakit kanker darah..auto mewek aku thor😭
2021-04-13
0