Episode 18 ~ Kenyataan Pahit

...🍁🍁🍁...

Setelah menunggu lebih dari dua puluh menit, akhirnya Suster labor selesai memeriksa antara DNA rambut dengan DNA yang ada di tisu berdarah itu. Setelah selesai, Suster labor pun berniat untuk langsung mengantarkan hasil tes DNA itu ke ruangan Ammar. Namun saat Suster labor sedang berjalan menuju ruangan Ammar, tiba-tiba Suster labor berpapasan dengan Dokter Ronald.

"Suster... mau ke mana?" tanya Dokter Ronald pada Suster karena tidak biasanya seorang Suster melewati jalan menuju ruangan pribadi dokter.

"Maaf Dok, saya diminta Dokter Ammar untuk mengantarkan ini ke ruangannya sekarang juga." jawab Suster labor pada Dokter Ronald.

"Apa itu? Apakah hasil tes dari tisu yang Ammar berikan kemarin sudah keluar?" tanya Dokter Ronald lagi pada Suster.

"Hasil tes tisu itu sudah diambil oleh Dokter Ammar, Dok. Ini hasil tes DNA untuk mencocokkan dengan DNA yang ada di hasil tes itu." jelas Suster labor pada Dokter Ronald.

"Kalau begitu biar saya saja yang mengantarkan hasil tes DNA itu pada Ammar." ujar Dokter Ronald yang menawarkan diri untuk mengantarkan hasil tes DNA pada Ammar.

"Tapi, Dok..."

"Nanti biar saya yang menjelaskan pada Ammar, sekarang Suster boleh kembali ke ruangan labor." potong Dokter Ronald pada Suster labor.

"Baik, Dok. Ini hasil tes DNA nya. Terima kasih. Saya permisi dulu." ujar Suster labor seraya memberikan amplop hasil tes DNA pada Dokter Ronald.

Setelah Dokter Ronald mendapat amplop itu, dengan cepat Dokter Ronald langsung berjalan menuju ruangan Ammar yang tidak jauh dari ruangannya. Saat sampai di depan ruangan Ammar, dengan menghela nafas panjang Dokter Ronald mengetuk pintu ruangan itu. Lalu ia membuka dan masuk ke dalam.

Ammar yang melihat Dokter Ronald masuk pun terkejut dan langsung beranjak dari duduknya.

"Dokter Ronald..."

"Am... saya ingin memberikan ini sama kamu." ujar Dokter Ronald seraya memberikan sebuah amplop pada Ammar.

"Apa ini Dok?" tanya Ammar yang mengambil amplop yang diberikan oleh Dokter Ronald.

"Itu amplop yang ingin diberikan Suster labor padamu. Tadi saya berpapasan dengan dia. Saat saya tau itu punya kamu, saya langsung meminta pada suster agar saya yang mengantarkan ke sini." jelas Dokter Ronald pada Ammar.

Sadha dan Dhana saling pandang saat mengetahui kalau amplop yang dibawa Dokter Ronald itu adalah hasil tes DNA rambut Dhina dengan darah yang ada di tisu itu. Lalu...

"Coba buka, Mas. Kita harus melihat hasilnya." ujar Sadha yang berjalan menuju meja Ammar.

"Kita buka tes DNA dulu, baru kita lihat hasil amplop ini." jawab Ammar yang gemetar saat memegang kedua amplop itu.

"Baca bismillah dulu, Mas." timpal Dhana yang berusaha menenangkan Ammar.

"Am... kalau kamu mengizinkan, biarkan saya yang membuka dan membacanya agar kamu tidak terlalu syok." ujar Dokter Ronald seraya meraih bahu Ammar.

"Jujur saya takut sekali, Dok. Saya tidak yakin bisa kuat menerima kalau diagnosis saya itu benar." jawab Ammar dengan suaranya yang tertahan karena menahan tangis.

"Berikan saja pada Dokter Ronald kalau kamu tidak kuat, Mas. Kamu tidak perlu takut menghadapi semuanya sendiri. Kita semua akan selalu bersama kamu." ujar Ibel yang berusaha menenangkan Ammar sambil meraih tangannya.

Ibel memberanikan diri mendekati Ammar. Walaupun ia tau kalau tindakan itu tidak akan diperdulikan oleh Ammar. Lalu...

"Dokter Bella benar, Am. Saya akan membantu kamu apapun yang terjadi." ujar Dokter Ronald pada Ammar seraya menenangkannya.

Ammar masih tetap diam sambil memandang kedua amplop yang ada di tangannya. Sadha yang merasa tidak sabar ingin mengetahui isi dari amplop itu pun mengambilnya dari tangan Ammar. Lalu...

"Buka saja, Dokter. Sepertinya Mas Ammar tidak mampu mengatakan apapun. Sadha minta tolong sama Dokter." ujar Sadha yang memberikan amplop pada Dokter Ronald.

"Baiklah, Sadha. Saya akan membukanya." jawab Dokter Ronald yang mengambil amplop itu dari Sadha.

Sadha pun memberikan amplop itu pada Dokter Ronald karena melihat Ammar yang hanya diam. Ia tau kalau Ammar tidak akan sanggup menerima kenyataan. Kalau adik perempuannya itu sakit seperti yang ia katakan tadi malam. Sementara Dokter Ronald mulai membuka amplop pertama, yaitu amplop hasil tes DNA. Saat Dokter Ronald sudah membuka dan membacanya, semua yang ada di sana merasa khawatir.

"Bagaimana Dokter? Apakah hasil tes DNA itu sama dengan DNA darah yang ada di tisu?" tanya Ammar yang berdiri dan melihat ke arah Dokter Ronald.

"Hasilnya..."

"Hasilnya apa Dokter?" tanya Ibel yang juga semakin penasaran sekaligus khawatir.

"Hasilnya positif, Am! Itu artinya DNA rambut Dhina sama dengan DNA darah yang ada di tisu itu." jawab Dokter Ronald yang berusaha tenang agar Ammar dan yang lain pun tenang.

"Itu artinya darah yang ada di tisu itu memang darah Adek." timpal Dhana yang matanya mulai berkaca-kaca.

"Lalu bagaimana dengan amplop kedua Dok? Saya butuh jawabannya sekarang." ujar Ammar yang sudah menjatuhkan air mata di pipinya.

"Mas tenang ya... kita berdo'a agar hasilnya tidak sesuai dengan diagnosis yang Mas katakan." ujar Ibel yang berada di samping Ammar seraya menggenggam tangan pria yang ia cintai itu.

"Saya buka dan saya pelajari dulu ya. Saya harap apapun hasilnya, kalian semua bisa kuat dan tetap tenang." ujar Dokter Ronald seraya membuka amplop kedua.

Dokter Ronald pun membuka amplop kedua. Setelah terbuka, Dokter Ronald langsung membacanya. Saat ia membaca isi surat itu, ekspresi Dokter Ronald berubah. Sementara Ammar, Sadha, Dhana dan Ibel hanya terdiam.

Ya Allah... jangan biarkan adikku menerima beban seberat ini. Jangan biarkan dia sakit. Gumam Ammar dalam hati.

Ya Allah... aku sangat menyayangi adikku. Jangan beri dia cobaan seberat ini. Selama ini dia tidak pernah sakit. Aku mohon... Gumam Sadha dalam hati.

Ya Allah... engkau pasti tau apa do'aku untuk adik kembarku. Dia separuhku, dia teman dan sahabatku, dia nyawaku. Jangan biarkan dia sakit biar aku saja yang menggantikan posisi Adek. Gumam Dhana dalam hati.

Ya Allah... aku tidak bisa melihat Mas Ammar seperti ini. Tolong berikan yang terbaik menurut mu. Gumam Ibel dalam hati.

"Bagaimana Dokter? Apakah kami bisa mendengar hasilnya sekarang?" tanya Dhana yang berusaha tegar dan tidak menangis.

"Setelah saya baca dan saya pelajari, saya sudah mengetahui hasilnya. Hasilnya... hasil tes laboratorium Dhina menunjukan, kalau Dhina... Dhina... Dhina positif kanker darah stadium dua!"

Jgeeer!

Ammar, Sadha, Dhana dan Ibel sangat terkejut saat mendengar pernyataan Dokter Ronald. Dokter tampan itu menyatakan kalau Dhina positif kanker darah dan sudah stadium dua. Mereka semua tidak bisa menahan air mata saat mendengar itu. Semuanya menangis dan sangat terpukul saat mengetahui adik perempuan mereka satu-satunya mendapat penyakit parah seperti ini.

Ammar dan Dhana yang tidak bisa menerima semua ini, menjadi histeris dan emosi mereka tidak terkontrol. Sementara Sadha dan Ibel berusaha tegar dan menenangkan keduanya.

"Tidak!!! Tidak mungkin. Dokter pasti salah. Tidak mungkin adik saya sakit kanker. Saya ini dokter spesialis kanker. Tidak mungkin!!! Tidak mungkin." ujar Ammar yang tidak bisa mengontrol emosinya lagi saat mengetahui kenyataan.

"Mas... kamu harus tenang. Kalau kamu seperti ini, kita tidak akan bisa mencari jalan keluar dari masalah ini, Mas." ujar Ibel yang berusaha menenangkan Ammar.

Ibel berusaha menenangkan Ammar yang hilang kendali karena emosinya. Sedangkan Sadha, berjalan mendekati Dokter Ronald. Lalu...

"Apakah Dokter sedang mempermainkan kita semua?" tanya Sadha yang masih tidak percaya dan wajahnya sudah basah karena air mata.

"Kamu harus sabar, Sadha. Saya tau ini berat untuk kalian semua, tapi ini sudah takdir. Saya harap kalian bisa tenang agar kita bisa mencari jalan keluarnya." jawab Dokter Ronald seraya menepuk bahu Sadha untuk menenangkannya.

Sadha pun terduduk dan menangis di kursi. Ia juga merasa terpukul mendengar adik yang sangat ia sayangi harus sakit kanker. Sementara Dhana, ia masih saja menangis sesegukan. Lalu...

"Apa Dhana sedang bermimpi Mas? Coba Mas Sadha pukul Dhana. Dhana tidak ingin berada di mimpi ini. Pukul Dhana, Mas. Pukul!!!" serkas Dhana pada Sadha.

Dhana juga hilang kendali karena emosinya. Ia meminta Sadha memukul dirinya. Melihat Dhana seperti itu, Sadha langsung memeluk Dhana dan tangis mereka pun sudah pecah.

"Tidak mungkin Adek sakit kanker, Mas. Dokter Ronald pasti bohong sama kita. Mas Sadha kenapa diam saja? Jawab Dhana, Mas!!!" ujar Dhana yang masih berada di dalam dekapan Sadha.

Semua yang berada di ruangan Ammar menjadi terpukul dan sangat sedih saat mendengar semua kenyataan pahit ini. Sementara Dokter Ronald yang melihat itu semua, hanya bisa terdiam dan tidak menyangka kalau kasih sayang Ammar, Sadha dan Dhana terhadap Dhina sangat besar. Dokter Ronald pun juga merasa sedih atas berita ini. Lalu ia memilih untuk tetap berada di ruangan Ammar untuk membantu sahabatnya itu.

"Mas Ammar harus kuat dan sabar. Dhina pasti tidak akan suka melihat Mas seperti ini. Mas sayang bukan sama Dhina?" ujar Ibel yang menangis dan berusaha menenangkan Ammar.

"Aku tidak ingin dia sakit, Bel. Aku tidak pantas menjadi seorang Kakak. Aku bisa mengobati orang lain, tapi adikku sendiri... aku tidak bisa menjaga kesehatannya." jawab Ammar yang sendu dan menangis.

"Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Mas. Saat ini yang perlu kita pikirkan adalah cara menyembuhkan Dhina. Kamu harus bisa menyembuhkan adik kamu, seperti kamu menyembuhkan orang lain." ujar Ibel yang menyemangati Ammar.

"Apakah aku bisa Bel? Aku takut tidak bisa dan gagal." tanya Ammar yang tertunduk karena merasa takut gagal untuk menyembuhkan sang adik.

"Kamu tidak boleh menyerah, Mas. Mana Mas Ammar yang aku kenal. Mas Ammar yang selalu semangat dan pantang menyerah. Setiap usaha tidak akan mengecewakan hasil, Mas. Kamu jangan khawatir karena aku akan selalu ada buat kamu." ujar Ibel yang membuat Ammar kembali tersenyum dan semangat.

"Terima kasih, Bella. Kamu memang sahabat terbaikku. Maafkan sikapku tadi karena sudah keras padamu." jawab Ammar yang memegang tangan Ibel.

"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu selalu menerima aku sebagai sahabat kamu. Kamu yang semangat ya. Dhina butuh masnya yang kuat dan pantang menyerah seperti kamu, Mas." ujar Ibel sambil membalas genggaman Ammar.

Ibel merasa lega karena Ammar sudah tidak marah lagi padanya. Namun disisi lain, Ibel juga merasa sedih karena sampai sekarang Ammar hanya menganggapnya sebagai sahabat baik.

Kenapa kamu menganggapku hanya sabagai sahabat Mas? Apa kamu tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan? Aku berharap hubungan kita bisa lebih dari sekedar sahabat. Tapi saat ini aku juga tidak boleh egois. Sabar Bel... suatu saat Ammar pasti bisa melihat cintamu. Gumam Ibel dalam hati.

Melihat Ammar yang sudah mulai tenang, Ibel pun meminta Ammar untuk menenangkan kedua adik laki-lakinya itu. Mereka berdua juga terpukul dengan semua ini. Namun Sadha berusaha mengontrol emosinya dan tegar di depan Dhana agar ia bisa menenangkan Dhana.

"Sekarang kamu sudah lebih tenang. Lebih baik kamu coba menenangkan Sadha dan Dhana. Mereka juga terpukul seperti kamu. Mereka juga butuh kamu, Mas." ujar Ibel yang melihat ke arah Sadha dan Dhana.

"Oke, aku ke sana sebentar ya. Setelah ini kita cari solusi dari masalah ini sama-sama." jawab Ammar yang mengusap air mata di pipinya lalu berjalan menuju Sadha dan Dhana.

Ammar pun mengikuti yang dikatakan oleh Ibel. Ia berjalan mendekati kedua adik itu yang sedang terpukul sama seperti dirinya.

"Sadha, Dhana..."

Sadha dan Dhana yang mendengar suara parau Ammar pun langsung memeluk tubuh mas sulungnya itu. Lalu...

"Mas... Adek bagaimana Mas?" ujar Dhana yang masih syok dengan kenyataan yang terjadi.

"Kamu harus tenang, Dhana. Mas janji akan berusaha dengan maksimal untuk mengobati Adek. Kita bertiga harus kuat. Kita jangan memikirkan perasaan kita saja. Kita juga harus memikirkan perasaan Ayah dan Ibu. Jika mereka tau hal ini, mereka akan lebih terpukul dari pada kita." jawab Ammar yang mengusap lembut kepala Dhana.

"Lebih baik kita beritahu Ayah dan Ibu besok saja, Mas. Setelah pulang dari acara di kantor Ayah. Kalau kita beritahu sekarang, kasihan Ayah dan Ibu. Mereka tidak akan semangat untuk menghadiri acara besok kalau mengetahui kabar ini sekarang." ujar Sadha seraya melepaskan pelukannya dari Ammar.

"Mas setuju dengan saran kamu. Kita beritahu Ayah dan Ibu besok. Tapi yang Mas pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya kita memberitahu Adek? Mas tidak yakin, Adek bisa kuat mendengar berita ini." jawab Ammar yang bingung.

"Saran saya, lebih baik untuk saat ini Dhina tidak perlu tau kondisinya, Am. Yang terpenting kalian sebagai kakaknya sudah tau dan bisa mengambil tindakan apa yang harus dilakukan." ujar Dokter Ronald yang berdiri di samping meja kerja Ammar.

"Sebenarnya aku kurang setuju dengan saran Dokter Ronald. Bagaimana pun juga Dhina berhak tau kondisinya saat ini. Lagi pula kalau Dhina sudah tau kondisinya, kita akan lebih mudah untuk melakukan tindakan." timpal Ibel yang berjalan ke arah Ammar.

"Baiklah, saya akan mengikuti saran kalian berdua. Untuk saat ini, Adek tidak perlu tau dulu berita ini. Jika waktunya tepat, saya akan beritahu Adek yang sebenarnya." ujar Ammar yang memilih jalan tengah untuk kedua saran dari Dokter Ronald dan Ibel.

"Oke, Mas. Sadha setuju." ujar Sadha yang meraih bahu Ammar dari belakang.

"Dhana juga setuju. Tapi bagaimana caranya Mas menangani Adek agar dia tidak curiga untuk sementara ini?" tanya Dhana yang sudah merasa lebih tenang.

"Nanti Mas akan memberikan obat pada Adek. Kita juga harus bisa membohongi Adek. Biar Adek tidak curiga, kita harus bisa meyakinkan Adek bahwa obat yang Mas berikan itu hanya vitamin biasa." jelas Ammar pada Sadha dan Dhana.

"Am... untuk menyembuhkan Dhina, lebih baik dari sekarang kamu mulai mencari pendonor sumsum tulang belakang untuknya." timpal Dokter Ronald pada Ammar.

"Iya, Dok. Saya juga berpikiran seperti itu. Tapi untuk awal ini apa lebih baik kita melakukan kemoterapi saja. Bagaimana?" ujar Ammar pada Dokter Ronald.

"Itu juga bisa, tapi Dhina harus tau dulu tentang penyakitnya. Kalau tidak dia akan heran dan bingung. Jadi jangan terlalu lama menyimpan rahasia ini, Am." jawab Dokter Ronald seraya meraih bahu Ammar.

"Saya usahakan, Dok. Kalau begitu saya ingin ke apotek sebentar untuk mengambil obat." ujar Ammar yang hendak pergi keluar.

Saat Ammar ingin beranjak dari posisi berdirinya, Sadha dan Dhana pun mencegah Ammar. Lalu...

"Kita ikut, Mas." pekik Dhana pada Ammar sambil berlari ke arah Ammar.

"Iya, Mas. Kita ingin ikut." timpal Sadha pada Ammar.

"Ya sudah, kalau begitu saya juga pamit memeriksa pasien dulu. Permisi." ujar Dokter Ronald yang pamit dan berjalan keluar ruangan Ammar.

"Terima kasih, Dokter." ucap Ammar pada Dokter Ronald yang sudah berjalan keluar ruangannya.

Dokter Ronald yang sudah berjalan hanya melambaikan tangannya pada Ammar. Saat Ammar, Sadha dan Dhana ingin keluar. Ammar melihat Ibel yang masih terduduk di kursi sambil melamun. Ammar pun menghampiri Ibel. Sedangkan Sadha dan Dhana yang mengerti dengan situasi ini, memilih keluar agar mas sulung mereka bisa berbicara dengan Ibel.

"Ibel... kamu ingin tetap di sini atau ikut kami ke apotek?" tanya Ammar pada Ibel yang sedang melamun.

"Lebih baik aku pulang saja, Mas. Nanti takutnya, Bunda mencariku. Kalau kamu butuh aku, kamu langsung telephone aku saja ya." jawab Ibel yang meraih tasnya yang ada di meja Ammar.

"Apa sebaiknya kamu tunggu aku sebentar? Habis mengambil obat untuk Adek, aku juga ingin pulang, Bel." ujar Ammar pada Ibel yang sudah mau pergi.

"Tidak perlu, Mas. Aku pulang sendiri saja. Kamu harus fokus sama Adek kamu. Aku pamit ya. Sadha, Dhana... Kakak pulang duluan ya. Assalamualaikum". ujar Ibel yang berpamitan pada Ammar, Sadha dan Dhana sambil berjalan keluar.

"Wa'alaikumsalam, hati-hati Bel."

Setelah Ibel pergi, Ammar, Sadha dan Dhana pun langsung pergi ke apotek untuk mengambil obat yang akan diberikan pada Dhina. Kesedihan saat mendengar bahwa Dhina sakit parah membuat ketiga pria tampan itu selalu memikirkan kondisi Dhina. Apalagi saat ingin pergi tadi pagi, mereka bertiga tidak ada yang berbicara pada Dhina. Mereka memang kesal, tapi kini mereka pun menyesali perbuatan mereka sendiri terhadap adik perempuannya itu.

Selesai mengambil obat, Ammar pun berniat untuk pulang cepat. Hari ini sebenarnya ia tidak ada jadwal dinas. Ia hanya ingin mengambil hasil tes labor yang berikan kemarin. Sedangkan Sadha kembali ke kantornya karena masih ada jam kerja. Sementara Dhana memilih ikut bersama Ammar untuk pulang ke rumah.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

Terpopuler

Comments

Fia Falah

Fia Falah

ya ampunn..part ini apa gak kebanyakan ngasih bawangnya thorrr😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢

2021-06-24

0

coni

coni

Huaaa😭😭😭😭 salut sama masa sadha dia tetep berusa tegar setelah mendapat hasil yang Jgeerr dari authornya 😭😭😭

2021-05-27

1

Arthi Yuniar

Arthi Yuniar

Ya ampuun Dhina sakit kanker darah..auto mewek aku thor😭

2021-04-13

0

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan Tokoh
2 Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3 Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4 Episode 3 ~ Rencana Ibu
5 Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6 Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7 Episode 6 ~ On The Way Puncak
8 Episode 7 ~ Mulai Aneh
9 Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10 Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11 Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12 Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13 Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14 Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15 Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16 Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17 Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18 Episode 17 ~ Kecewa
19 Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20 Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21 Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22 Episode 21 ~ Diganggu Preman
23 Episode 22 ~ Foundation
24 Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25 Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26 Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27 Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28 Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29 Episode 28 ~ Terpukul
30 Episode 29 ~ Hilang
31 Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32 Episode 31 ~ Minta Maaf
33 Episode 32 ~ Berjodoh?
34 Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35 Episode 34 ~ Boleh Pulang
36 Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37 Episode 36 ~ Memar Lagi
38 Episode 37 ~ Balas Dendam
39 Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40 Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41 Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42 Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43 Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44 Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45 Episode 44 ~ Berenang
46 Episode 45 ~ Tenggelam
47 Episode 46 ~ Incaran Pertama
48 Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49 Episode 48 ~ Introgasi
50 Episode 49 ~ Sepemikiran
51 Episode 50 ~ Demam Tinggi
52 Episode 51 ~ Ibu Murka
53 Episode 52 ~ Kejutan
54 Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55 Episode 54 ~ Topeng Hantu
56 Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57 Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58 Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59 Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60 Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61 Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62 Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63 Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64 Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65 Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66 Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67 Episode 66 ~ Kemoterapi
68 Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69 Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70 Episode 69 ~ Mencari Tau
71 Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72 Episode 71 ~ Botak Bersama
73 Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74 Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75 Episode 74 ~ Muntah-muntah
76 Episode 75 ~ Karyawati Baru
77 Episode 76 ~ Barang Bukti
78 Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79 Episode 78 ~ Orang Asing
80 Episode 79 ~ Merubah Rencana
81 Episode 80 ~ Gelisah
82 Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83 Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84 Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85 Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86 Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87 Episode 86 ~ Mata Sembap
88 Episode 87 ~ Penyelidikan
89 Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90 Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91 Episode 90 ~ Obat Asing
92 Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93 Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94 Episode 93 ~ Stadium Tiga
95 Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96 Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97 Episode 96 ~ Rakha???
98 Episode 97 ~ Janji Dhina
99 Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100 Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101 Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102 Episode 101 ~ Melepas Rindu
103 Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104 Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105 Episode 104 ~ Semakin Sakit
106 Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107 Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108 Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109 Episode 108 ~ Tidak Tega
110 Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111 Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112 Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113 Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114 Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115 Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116 Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117 Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118 Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119 Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120 Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121 Visual
122 Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123 Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124 Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125 Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126 Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127 Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128 Episode 126 ~ Tes Mendadak
129 Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130 Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131 Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132 Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133 Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134 Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135 Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136 Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137 Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138 Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139 Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140 Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141 Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142 Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143 Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144 Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145 Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146 Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147 Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148 Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149 Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150 Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151 Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152 Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153 Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154 Episode 152 ~ Kenangan Manis
155 Episode 153 ~ Tetap Waspada
156 Episode 154 ~ Dijodohkan???
157 Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158 Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159 Episode 157 ~ Malam Pengajian
160 Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161 Episode 159 ~ Bucin
162 Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163 Episode 161 ~ First Kiss
164 Episode 162 ~ Baru Menyadari
165 Episode 163 ~ Balapan
166 Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167 Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168 Episode 166 ~ Masalah Lama
169 Episode 167 ~ Berita Bahagia
170 Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171 Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172 Episode 170 ~ Labil
173 Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174 Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175 Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176 Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177 Episode 175 ~ Komplikasi
178 Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179 Episode 177 ~ Perang Bathin
180 Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181 Episode 179 ~ Cuci Darah
182 Episode 180 ~ Dasar Mesum
183 Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184 Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185 Episode 183 ~ Bukan Peduli
186 Episode 184 ~ Botol Minum
187 Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188 Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189 Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190 Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191 Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192 Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193 Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194 Episode 192 ~ Terhalang Restu
195 Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196 Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197 Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198 Episode 196 ~ Jambret Nakal
199 Episode 197 ~ Bertemu Umi
200 Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201 Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202 Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203 Episode 201 ~ Hari Persiapan
204 Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205 Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206 Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207 Episode 205 ~ Firasat Dhana
208 Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209 Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210 Episode 208 ~ Akad Nikah
211 Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212 Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213 Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214 Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215 Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216 Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217 Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218 Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219 Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220 Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221 Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222 Surat Cinta Author dan Dhina
223 Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224 Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225 Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226 Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227 Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228 Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229 Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230 Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231 Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232 Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233 Pengumuman Novel Baru
234 Pemberitahuan Novel Sekuel
235 Novel Sekuel Sudah Rilis
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Pengenalan Tokoh
2
Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3
Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4
Episode 3 ~ Rencana Ibu
5
Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6
Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7
Episode 6 ~ On The Way Puncak
8
Episode 7 ~ Mulai Aneh
9
Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10
Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11
Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12
Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13
Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14
Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15
Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16
Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17
Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18
Episode 17 ~ Kecewa
19
Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20
Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21
Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22
Episode 21 ~ Diganggu Preman
23
Episode 22 ~ Foundation
24
Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25
Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26
Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27
Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28
Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29
Episode 28 ~ Terpukul
30
Episode 29 ~ Hilang
31
Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32
Episode 31 ~ Minta Maaf
33
Episode 32 ~ Berjodoh?
34
Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35
Episode 34 ~ Boleh Pulang
36
Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37
Episode 36 ~ Memar Lagi
38
Episode 37 ~ Balas Dendam
39
Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40
Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41
Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42
Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43
Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44
Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45
Episode 44 ~ Berenang
46
Episode 45 ~ Tenggelam
47
Episode 46 ~ Incaran Pertama
48
Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49
Episode 48 ~ Introgasi
50
Episode 49 ~ Sepemikiran
51
Episode 50 ~ Demam Tinggi
52
Episode 51 ~ Ibu Murka
53
Episode 52 ~ Kejutan
54
Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55
Episode 54 ~ Topeng Hantu
56
Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57
Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58
Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59
Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60
Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61
Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62
Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63
Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64
Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65
Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66
Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67
Episode 66 ~ Kemoterapi
68
Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69
Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70
Episode 69 ~ Mencari Tau
71
Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72
Episode 71 ~ Botak Bersama
73
Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74
Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75
Episode 74 ~ Muntah-muntah
76
Episode 75 ~ Karyawati Baru
77
Episode 76 ~ Barang Bukti
78
Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79
Episode 78 ~ Orang Asing
80
Episode 79 ~ Merubah Rencana
81
Episode 80 ~ Gelisah
82
Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83
Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84
Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85
Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86
Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87
Episode 86 ~ Mata Sembap
88
Episode 87 ~ Penyelidikan
89
Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90
Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91
Episode 90 ~ Obat Asing
92
Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93
Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94
Episode 93 ~ Stadium Tiga
95
Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96
Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97
Episode 96 ~ Rakha???
98
Episode 97 ~ Janji Dhina
99
Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100
Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101
Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102
Episode 101 ~ Melepas Rindu
103
Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104
Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105
Episode 104 ~ Semakin Sakit
106
Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107
Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108
Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109
Episode 108 ~ Tidak Tega
110
Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111
Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112
Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113
Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114
Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115
Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116
Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117
Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118
Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119
Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120
Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121
Visual
122
Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123
Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124
Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125
Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126
Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127
Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128
Episode 126 ~ Tes Mendadak
129
Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130
Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131
Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132
Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133
Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134
Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135
Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136
Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137
Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138
Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139
Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140
Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141
Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142
Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143
Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144
Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145
Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146
Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147
Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148
Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149
Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150
Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151
Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152
Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153
Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154
Episode 152 ~ Kenangan Manis
155
Episode 153 ~ Tetap Waspada
156
Episode 154 ~ Dijodohkan???
157
Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158
Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159
Episode 157 ~ Malam Pengajian
160
Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161
Episode 159 ~ Bucin
162
Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163
Episode 161 ~ First Kiss
164
Episode 162 ~ Baru Menyadari
165
Episode 163 ~ Balapan
166
Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167
Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168
Episode 166 ~ Masalah Lama
169
Episode 167 ~ Berita Bahagia
170
Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171
Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172
Episode 170 ~ Labil
173
Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174
Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175
Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176
Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177
Episode 175 ~ Komplikasi
178
Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179
Episode 177 ~ Perang Bathin
180
Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181
Episode 179 ~ Cuci Darah
182
Episode 180 ~ Dasar Mesum
183
Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184
Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185
Episode 183 ~ Bukan Peduli
186
Episode 184 ~ Botol Minum
187
Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188
Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189
Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190
Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191
Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192
Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193
Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194
Episode 192 ~ Terhalang Restu
195
Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196
Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197
Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198
Episode 196 ~ Jambret Nakal
199
Episode 197 ~ Bertemu Umi
200
Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201
Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202
Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203
Episode 201 ~ Hari Persiapan
204
Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205
Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206
Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207
Episode 205 ~ Firasat Dhana
208
Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209
Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210
Episode 208 ~ Akad Nikah
211
Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212
Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213
Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214
Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215
Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216
Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217
Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218
Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219
Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220
Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221
Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222
Surat Cinta Author dan Dhina
223
Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224
Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225
Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226
Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227
Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228
Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229
Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230
Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231
Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232
Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233
Pengumuman Novel Baru
234
Pemberitahuan Novel Sekuel
235
Novel Sekuel Sudah Rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!