...🍀🍀🍀...
Malam pun berganti pagi. Hari ini cahaya matahari sangat cerah tapi sangat bertolak belakang dengan perasaan ketiga putra Pak Aidi dan Bu Aini. Sejak pembicaraan yang terjadi di antara mereka bertiga tadi malam, membuat wajah ketiganya pagi ini tidak semangat. Berbeda dengan Dhina.
Kali ini Dhina bangun pagi seperti biasa. Melihat sang adik bangun lebih awal membuat Ammar, Sadha dan Dhana saling pandang dan merasa heran.
"Anak gadis Ayah bangun pagi lagi ya setelah beberapa hari telat bangun." ujar Pak Aidi yang menggoda sang putri.
"Adek khilaf, Yah. Mungkin terlalu lelah karena jalan-jalan saat weekend." jawab Dhina yang duduk di kursi makan.
"Ibu sampai cemas loh, Sayang. Kamu biasanya selalu bangun pagi tapi kemarin tiba-tiba berubah." timpal Bu Aini dari arah dapur seraya membawakan makanan.
"Maaf ya, Bu. Adek jadi membuat Ibu cemas." jawab Dhina yang memeluk sang ibu dari belakang.
"Iya, iya tidak apa-apa. Oh iya, mas-mas kamu kenapa ya, Nak? Sejak tadi diam saja, biasanya tidak pernah diam." ujar Bu Aini yang berbisik dan heran melihat sikap ketiga putranya yang berubah.
"Adek juga tidak tau, Bu. Sejak turun dari atas mereka sudah seperti itu. Banyak pekerjaan mungkin, Bu." jawab Dhina yang ikut berbisik pada Bu Aini.
"Anak sama Ibu kenapa bisik-bisik sih? Kalian menggosip apa?" ujar Pak Aidi yang menyadari tingkah istri dan putrinya.
"Ayah kepo deh. Ingin tau saja urusan wanita." jawab Bu Aini dan membuat Dhina terkekeh.
Sebenarnya Dhina juga merasa heran dengan sikap ketiga masnya itu. Padahal kemarin masih biasa-biasa saja, sering ribut dan sewot satu sama lain namun sangat berbeda dengan pagi ini. Mereka hanya diam dan menikmati sarapan tanpa berkata apapun, bahkan untuk menyapanya saja tidak.
Dhina pun merasa tidak tahan dengan sikap ketiga masnya itu. Lalu Dhina mencoba untuk menyapa mereka.
"Mas Ammar, Mas Sadha sama Mas Dhana kenapa sih? Kenapa sejak tadi diam terus? Ini masih pagi loh, Mas." ujar Dhina seraya melirik ketiganya.
Ammar, Sadha dan Dhana tetap bergeming mendengar pertanyaan adik perempuan mereka itu. Mereka tetap bersikap santai tanpa melirik ke arah Dhina. Sedangkan Dhina hanya menatap ketiga masnya itu dengan heran.
Tidak biasanya aku dicuekin seperti ini oleh mereka. Mereka kenapa sih? Aku ada buat salah ya sampai dicuekin seperti ini. Gumam Dhina dalam hati.
"Mas... Adek punya salah ya? Kenapa kalian diam terus?" ujar Dhina pada ketiga masnya itu.
Tanpa menjawab pertanyaan sang adik, Ammar, Sadha dan Dhana langsung pamit pada kedua orang tua mereka.
"Ayah, Ibu... Ammar berangkat dinas dulu ya. Assalamualaikum." ujar Ammar yang menyalami ayah dan ibunya tanpa melihat ke arah Dhina.
*Mas minta maaf, Sayang. Mas diam karena Mas tidak bisa membohongi perasaan Mas sendiri. Mas kesal, marah, dan kecewa sama Adek. Adek tidak jujur. Daripada Mas marah dan bicara keras pada Adek, lebih baik Mas diam agar kita tidak sama-sama sakit*. Gumam Ammar dalam hati.
"Sadha pamit ya, Yah, Bu. Assalamualaikum." ujar Sadha yang juga menyalami ayah dan ibunya lalu pergi tanpa melirik Dhina.
Adek bohong sama Mas. Adek bilang baru pertama kali mimisan karena kelelahan. Tapi kenyataannya, Adek sudah pernah mimisan. Seandainya Mas tau, tidak akan Mas menyembunyikan semuanya dari Mas Ammar. Gumam Sadha dalam hati.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Nak." jawab Bu Aini yang juga heran melihat sikap ketiga putranya.
Dhina pun merasa kesal dengan sikap Ammar dan Sadha.
"Ayah, Ibu... Dhana pamit..."
"Mas Dhana juga mau pamit? Mas juga tidak mau bicara sama Adek? Adek salah apa sih Mas? Kenapa kalian seperti ini?" serkas Dhina yang terlanjur emosi dengan sikap ketiga masnya itu.
Dhana tetap diam dengan perkataan Dhina dan usaha Dhina pun gagal. Lalu Dhana yang hanya diam pun langsung berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Dhana pamit juga ya, Yah, Bu. Dhana ingin melihat cafe. Assalamualaikum." ujar Dhana yang menyalami ayah dan ibunya lalu langsung pergi.
"Wa'alaikumsalam, jangan terlalu kencang membawa motornya ya, Nak. Hati-hati!" sahut Bu Aini pada Dhana yang berjalan keluar.
"Iya, Bu." jawab Dhana singkat.
Dhana pun berjalan keluar mengikuti kedua masnya yang sudah pergi bekerja. Lalu...
"Sebenarnya aku tidak suka dengan situasi ini, tapi aku juga berhak kesal sama Adek. Katanya kembar tapi tidak mau jujur dengan saudara kembar sendiri."
Dhana yang meracau pun menghela nafas berat lalu menaiki motornya dan pergi.
***
Pak Aidi dan Bu Aini pun melihat kesedihan di wajah Dhina karena diacuhkan oleh ketiga masnya. Lalu mereka pun berusaha menenangkan putrinya itu.
"Tidak usah sedih, Sayang. Mungkin mereka sedang banyak pekerjaan. Sudah ya, jangan sedih lagi nanti cantiknya hilang." ujar Bu Aini yang berusaha menenangkan putri bungsunya itu.
"Tapi tidak biasanya mereka seperti itu, Bu. Mungkin Adek ada salah ya sama mereka." jawab Dhina yang menangis seraya memeluk Bu Aini.
"Adek salah apa memang? Sebesar apapun kesalahan Adek, tidak akan merubah kasih sayang mereka sama kamu, Nak." ujar Bu Aini yang membelai lembut kepala putrinya.
"Sudahlah, Nak. Mungkin mereka bertiga ada alasan lain kenapa bersikap seperti ini. Nanti saat mereka pulang, coba Adek tanya lagi." timpal Pak Aidi yang sudah selesai makan.
"Ya sudah, Ibu sama Ayah berangkat dulu ya. Adek hati-hati di rumah. Jaga diri ya, Sayang. Ibu pergi dulu. Assalamualaikum." ujar Bu Aini sambil mencium kening putrinya itu.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya, Bu." jawab Dhina seraya mengusap air matanya.
"Ayah pergi dulu ya, Nak. Assalamualaikum." ucap Pak Aidi seraya mengelus kepala Dhina.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Ayah." jawab Dhina yang berdiri lalu berjalan ke ruang keluarga.
Saat ini perasaan Dhina sangat sedih melihat sikap Ammar, Sadha dan Dhana seperti tadi. Dhina merasa kesepian walaupun ada Bi Iyah di rumah. Untuk menghilang rasa sepi di hatinya, Dhina pun memilih pergi ke kamar dan menonton film kesukaannya.
***
Kini Ammar sudah sampai di rumah sakit. Sebelum pergi ke labor, Ammar terlebih dahulu menelpon Sadha dan Dhana untuk segera menyusul dirinya ke rumah sakit. Saat Ammar sedang menunggu kedua adik laki-lakinya itu datang, Ibel yang baru selesai dinas malam dan ingin pulang pun bertemu dengan Ammar.
"Mas Ammar... sedang apa Mas di luar?" sapa Ibel yang melihat ke arah Ammar.
"Ibel... aku, aku sedang menunggu seseorang." jawab Ammar dan membuat Ibel bingung dan heran.
"Seseorang? Siapa Mas?" tanya Ibel yang melihat sekitar berharap mengetahui siapa yang sedang Ammar tunggu.
"Kamu sendiri sedang apa di sini? Bukannya jadwal dinas kamu sudah habis?" tanya Ammar balik tanpa menjawab pertanyaan Ibel.
"Iya, Mas. Aku ingin pulang dan melihat kamu berdiri di sini. Jadinya aku ke sini dan menyapa kamu. Kamu kenapa sepertinya gelisah sekali?" jawab Ibel dan bertanya balik pada Ammar.
"Tidak, aku tidak apa-apa." jawab Ammar singkat tanpa melihat ke arah Ibel.
Ibel merasa kesal dengan sikap Ammar yang tiba-tiba berubah seperti ini. Lalu Ibel pun ikut diam sambil mengikuti Ammar yang sedang menunggu seseorang. Tidak lama kemudian, Sadha pun akhirnya datang dan menghampiri Ammar dan Ibel yang berada di lobi rumah sakit.
"Bagaimana Mas? Apakah hasilnya sudah keluar?" ujar Sadha yang baru sampai dan langsung menyalami Ammar.
Sadha yang baru datang, tidak menyadari ada Ibel di belakang Ammar. Lalu...
"Belum, Sadha. Kita tunggu Dhana dulu ya sebentar. Dia sedang di jalan dari cafe." jawab Ammar yang masih terlihat gelisah.
Ibel yang berada di sana merasa heran dan bingung saat mendengar apa yang ditanyakan Sadha pada Ammar.
"Hasil? Memang hasil apa Mas?" tanya Ibel yang sudah cukup kesal dengan sikap Ammar yang mengabaikannya.
"Kak Ibel? Maaf Kak, Sadha tidak melihat ada Kakak di sini." ujar Sadha yang menyalami calon kakak iparnya itu.
"Tidak apa-apa, Sadha. Kakak heran saja melihat sikap Mas kamu ini, seperti orang ketakutan, sejak tadi gelisah terus. Kakak tanya, tidak dijawab. Memang hasil apa yang kamu tanyakan padanya?" jawab Ibel yang kesal dengan sikap Ammar.
"Hasil, hasil..." ujar Sadha yang grogi pada Ibel.
Saat Sadha ingin memberitahu Ibel tentang apa yang ingin mereka cari tau, tiba-tiba Ammar yang mendengar itu langsung memotong pembicaraan Sadha.
"Nanti aku ceritakan semuanya." ujar Ammar sambil melihat sekitar berharap Dhana sudah datang.
Mendengar apa yang dikatakan Ammar membuat Sadha langsung terdiam. Tapi tidak dengan Ibel. Ibel masih bingung dan penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Ammar. Ibel pun terpaksa mengikuti permintaan Ammar karena dirinya juga penasaran.
Setelah lama menunggu, akhirnya Dhana pun sampai di rumah sakit dan langsung menghampiri Ammar, Sadha dan Ibel yang berada di lobi rumah sakit.
"Kenapa lama sekali Dhana?" tanya Ammar yang sudah merasa bosan menunggu Dhana datang.
"Maaf Mas, tadi ada kendala di jalan, makanya telat. Bagaimana Mas? Mas sudah ambil hasilnya?" jawab Dhana yang menyalami mas sulungnya dan Sadha.
"Belum, Mas sama Sadha tunggu kamu. Ya sudah, ayo kita ke ruangan Mas dulu. Ayo Bel, kamu ingin tau juga, bukan?" ujar Ammar yang mengajak semua ke ruangannya dan bertanya pada Ibel.
"Iya, Mas." awab Ibel singkat dan hanya mengikuti Ammar dan ketiga adiknya.
Mereka pun berjalan ke ruangan Ammar. Setelah sampai di depan ruangannya, Ammar meminta semuanya untuk menunggu di dalam. Sedangkan dirinya hendak ke labor untuk mengambil hasil tes lab yang kemarin ia berikan. Ammar pun langsung berlari menuju laboratorium. Lalu...
"Suster... saya ingin mengambil hasil tes dari tisu yang saya berikan kemarin. Apakah sudah bisa saya ambil hasilnya?" ujar Ammar.
"Sudah, Dokter. Tunggu sebentar saya ambilkan dulu ya, Dok." jawab Suster labor yang mencari hasil tes yang diminta oleh Ammar.
"Baik, tolong cepat ya." ujar Ammar yang sudah tidak sabar untuk melihat hasil tes itu.
"Ini, Dok. Jika dilihat dari data DNA-nya yang memiliki darah ini seorang wanita, Dok." ujar Suster yang memberikan sedikit informasi pada Ammar.
Seorang wanita? Tidak salah lagi, ini pasti darah adek. Gumam Ammar dalam hati.
"Apakah ada informasi lain?" tanya Ammar lagi.
"Kalau identitas hanya sejauh itu, Dok. Identitas lengkapnya tidak bisa diketahui secara detail karena kita tidak tau siapa pemilik darah ini." jawab Suster itu dan membuat Ammar sedikit pesimis.
"Apakah bisa DNA darah itu dicocokkan dengan rambut ini?" tanya Ammar yang memberikan kumpulan rambut dalam sebuah plastik kepada Suster.
"Bisa, Dok. Dokter tunggu sebentar ya. Karena untuk mencocokkan DNA hanya butuh waktu dua puluh menit. Jadi hasilnya bisa keluar hari ini juga." jawab Suster labor dan membuat Ammar tersenyum.
"Baiklah, saya akan menunggu. Nanti tolong antarkan hasilnya ke ruangan saya saja. Terima kasih, Sus." ujar Ammar yang keluar dari labor.
Sudah aku duga... kalau identitas Adek tidak akan diketahui hanya dengan tisu itu. Untung saja aku sempat mengambil beberapa helai rambut Adek yang rontok di sisir. Jadi dengan begitu, aku bisa tau apakah darah di tisu itu darah adek atau bukan. Gumam Ammar dalam hati.
Setelah mengambil hasil tes labor, Ammar pun kembali ke ruangannya dan di sana sudah ada Sadha, Dhana dan Ibel. Saat Ammar masuk, Sadha dan Dhana langsung bertanya dengan antusias.
"Mas... bagaimana hasilnya?" tanya Sadha sambil berdiri dan menghampiri Ammar.
"Iya, Mas. Bagaimana hasilnya?" tanya Dhana yang mengikuti Sadha.
"Hasilnya ada di dalam amplop ini. Tapi kita belum bisa melihat isinya karena kita belum tau ini benar tes darah Adek atau bukan." jelas Ammar yang berjalan ke arah kursi kerjanya.
"Lalu bagaimana Mas?" tanya Sadha yang cukup mengerti dengan maksud Ammar.
"Mas sudah antisipasi semuanya. Saat Mas menemukan tisu itu, Mas juga sempat mengambil beberapa helai rambut Adek. Jika DNA darah dan rambut itu sama, maka benar itu tisu bekas darah Adek." jelas Ammar dan membuat Ibel terkejut.
"Tisu bekas darah? Darah Adek? Apa yang kalian bicarakan ini? Maksudnya apa Mas?" ujar Ibel yang bingung dengan Ammar dan kedua adiknya.
Ammar terdiam saat mendapat pertanyaan Ibel. Ia merasa kalau yang sedang disembunyikan oleh Ibel sama dengan yang pernah disembunyikan oleh Sadha dan Dhana. Ammar pun menghela nafas panjang. Lalu...
"Sejak di puncak, aku sudah melihat sikap Adek yang aneh dan sering diam. Aku curiga dan merasa heran. Apalagi saat kalian berdua keluar dari toilet saat itu. Perubahan sikap Sadha dan Dhana yang khawatir berlebihan pada Adek. Tisu berdarah yang aku temukan di kamar Adek. Pernyataan Sadha dan Dhana tadi malam. Aku curiga kalau Adek sakit, Bel." tutur Ammar yang menatap tajam ke arah Ibel.
Ibel terkejut saat mendengar penjelasan Ammar. Ibel merasa kalau Ammar sudah mengetahui apa yang terjadi pada Dhina. Hal itu membuat Ibel teringat lagi saat ia melihat Dhina mimisan di toilet.
"Apa kamu yakin Mas? Mungkin Adek hanya kelelahan karena jalan-jalan kemarin." tanya Ibel yang sudah mengerti dengan apa yang Ammar bicarakan.
"Awalnya aku ragu tapi setelah mengetahui semuanya dan menganalisa semua gejala yang terlihat. Aku yakin, Bel." jawab Ammar seraya mengusap wajahnya karena merasa cemas.
Saat mendengar penjelasan Ammar seperti itu, Ibel pun merasa bersalah pada Ammar. Ibel merasa bersalah karena pada saat ia melihat Dhina mimisan di toilet saat di puncak, ia tidak langsung memberitahu Ammar. Ia malah membiarkan Ammar mencari tau semuanya sendiri.
"Aku minta maaf ya, Mas. Seharusnya aku langsung memberitahu kamu saat itu." ujar Ibel dan membuat Ammar penasaran.
Ammar langsung melihat ke arah Ibel saat mendengar yang dikatakan oleh Dokter cantik itu. Lalu...
"Kamu ingin memberitahu apa?" ujar Ammar yang beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Ibel.
"Sebenarnya, di toilet waktu itu. Aku melihat Dhina sedang membersihkan darah di hidungnya. Dhina mimisan, Mas. Aku panik dan cemas. Aku berniat untuk memberitahu kamu, tapi Dhina melarangku. Dia tidak ingin kamu khawatir dan merusak suasana liburan." jelas Ibel yang mulai berkaca-kaca karena takut Ammar marah padanya.
"Jadi kamu juga menyembunyikan semuanya dariku? Padahal waktu itu aku sudah berusaha memaksamu untuk bicara, Bel! Tapi kamu tidak membantuku sama sekali." ujar Ammar yang kesal karena Ibel menuruti keinginan Dhina.
"Aku benar-benar menyesal, Mas. Tolong maafkan aku. Aku melakukan ini karena aku tidak tega melihat Dhina yang memohon padaku dan menangis. Jadi aku menuruti permintaannya." jawab Ibel yang menghampiri Ammar.
Sadha dan Dhana yang mendengar itu merasa terkejut. Mereka pun saling pandang dan tidak menyangka. Kalau ternyata sikap aneh Ibel selama di puncak saat itu karena pernah melihat Dhina mimisan di toilet. Lalu...
"Kak Ibel tidak salah, Mas. Kak Ibel juga melakukan hal yang sama dengan yang kita berdua lakukan." timpal Dhana yang meraih bahu Ammar.
Ammar hanya diam dan berjalan kembali ke kursinya saat Dhana berusaha menenangkannya. Sedangkan Ibel menangis melihat sikap Ammar yang tiba-tiba berubah padanya saat ia berani untuk bicara jujur. Disatu sisi, Ibel juga sadar akan kesalahannya. Namun disisi lain, ia juga tidak bisa bohong dengan perasaannya yang telah lama mencintai pria tampan itu. Ibel takut Ammar akan marah padanya. Melihat Ibel yang merasa bersalah dan menangis, Sadha dan Dhana pun mendekatinya.
"Kak... jangan menangis lagi. Mas Ammar hanya kesal. Kakak pasti tau Mas Ammar seperti apa. Berikan Mas Ammar waktu ya, Kak." ujar Dhana yang menundukan tubuhnya mengikuti tinggi Ibel.
"Kakak minta maaf sama kalian. Kalau waktu itu Kakak langsung jujur, pasti kalian sudah bisa mengambil tindakan. Kakak menyesal, Dhana. Maafkan Kakak." jawab Ibel yang menangis seraya meraih tangan Sadha dan Dhana bergantian.
"Kakak tidak perlu merasa bersalah. Dhana juga melakukan apa yang Kakak lakukan. Kemarin Adek tiba-tiba pingsan dan Dhana dimintanya juga untuk diam. Tapi karena tadi malam Mas Sadha jujur pada Mas Ammar. Dhana pun mengikuti Mas Sadha." jelas Dhana yang duduk di samping Ibel.
"Memang Sadha jujur apa pada Mas Ammar?" tanya Ibel pada Dhana sambil mengusap air matanya.
"Sadha juga pernah melihat Adek mimisan, Kak. Waktu itu kita masih dalam perjalanan pulang dan Adek sedang tidur." jawab Sadha dan membuat Ibel terkejut.
"Apa? Tunggu, tunggu... Mas Ammar menemukan tisu berdarah kemarin pagi, berarti tisu itu sudah ada sebelum kita pergi ke puncak. Itu artinya, Adek juga membohongi Kakak. Adek bilang waktu itu kalau dia baru pertama kali mimisan. Ya Allah, Adek..." tutur Ibel yang menepuk keningnya.
"Ternyata tidak hanya kita berdua yang dibohongi oleh Adek, Kakak juga." jawab Dhana seraya mengelengkan kepalanya.
Mereka semua pun sudah tau kebohongan yang disembunyikan oleh Dhina. Kini mereka sedang menunggu hasil tes DNA rambut Dhina yang sempat diambil oleh Ammar. Selama menunggu, mereka semua hanya terdiam dan larut dengan lamunan masing-masing.
Ammar yang merasa kecewa pada Ibel hanya terdiam. Disatu sisi, Ammar sebenarnya juga telah lama mencintai gadis itu. Namun di sisi lain, Ammar merasa kecewa dengan sikap Ibel yang menuruti keinginan adik perempuannya itu.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
coni
sampe sini aku belum nemu titik cerah supaya Adek jujur🥺🥺🥺🥺
2021-05-27
1
Nofi Kahza
ya ampunn..dhina sakit apa sih sebenrenya..? 😩
2021-03-13
2
BELVA
👍👍👍👍👍💕
2021-02-25
1