Episode 17 ~ Kecewa

...🍀🍀🍀...

Malam pun berganti pagi. Hari ini cahaya matahari sangat cerah tapi sangat bertolak belakang dengan perasaan ketiga putra Pak Aidi dan Bu Aini. Sejak pembicaraan yang terjadi di antara mereka bertiga tadi malam, membuat wajah ketiganya pagi ini tidak semangat. Berbeda dengan Dhina.

Kali ini Dhina bangun pagi seperti biasa. Melihat sang adik bangun lebih awal membuat Ammar, Sadha dan Dhana saling pandang dan merasa heran.

"Anak gadis Ayah bangun pagi lagi ya setelah beberapa hari telat bangun." ujar Pak Aidi yang menggoda sang putri.

"Adek khilaf, Yah. Mungkin terlalu lelah karena jalan-jalan saat weekend." jawab Dhina yang duduk di kursi makan.

"Ibu sampai cemas loh, Sayang. Kamu biasanya selalu bangun pagi tapi kemarin tiba-tiba berubah." timpal Bu Aini dari arah dapur seraya membawakan makanan.

"Maaf ya, Bu. Adek jadi membuat Ibu cemas." jawab Dhina yang memeluk sang ibu dari belakang.

"Iya, iya tidak apa-apa. Oh iya, mas-mas kamu kenapa ya, Nak? Sejak tadi diam saja, biasanya tidak pernah diam." ujar Bu Aini yang berbisik dan heran melihat sikap ketiga putranya yang berubah.

"Adek juga tidak tau, Bu. Sejak turun dari atas mereka sudah seperti itu. Banyak pekerjaan mungkin, Bu." jawab Dhina yang ikut berbisik pada Bu Aini.

"Anak sama Ibu kenapa bisik-bisik sih? Kalian menggosip apa?" ujar Pak Aidi yang menyadari tingkah istri dan putrinya.

"Ayah kepo deh. Ingin tau saja urusan wanita." jawab Bu Aini dan membuat Dhina terkekeh.

Sebenarnya Dhina juga merasa heran dengan sikap ketiga masnya itu. Padahal kemarin masih biasa-biasa saja, sering ribut dan sewot satu sama lain namun sangat berbeda dengan pagi ini. Mereka hanya diam dan menikmati sarapan tanpa berkata apapun, bahkan untuk menyapanya saja tidak.

Dhina pun merasa tidak tahan dengan sikap ketiga masnya itu. Lalu Dhina mencoba untuk menyapa mereka.

"Mas Ammar, Mas Sadha sama Mas Dhana kenapa sih? Kenapa sejak tadi diam terus? Ini masih pagi loh, Mas." ujar Dhina seraya melirik ketiganya.

Ammar, Sadha dan Dhana tetap bergeming mendengar pertanyaan adik perempuan mereka itu. Mereka tetap bersikap santai tanpa melirik ke arah Dhina. Sedangkan Dhina hanya menatap ketiga masnya itu dengan heran.

Tidak biasanya aku dicuekin seperti ini oleh mereka. Mereka kenapa sih? Aku ada buat salah ya sampai dicuekin seperti ini. Gumam Dhina dalam hati.

"Mas... Adek punya salah ya? Kenapa kalian diam terus?" ujar Dhina pada ketiga masnya itu.

Tanpa menjawab pertanyaan sang adik, Ammar, Sadha dan Dhana langsung pamit pada kedua orang tua mereka.

"Ayah, Ibu... Ammar berangkat dinas dulu ya. Assalamualaikum." ujar Ammar yang menyalami ayah dan ibunya tanpa melihat ke arah Dhina.

*Mas minta maaf, Sayang. Mas diam karena Mas tidak bisa membohongi perasaan Mas sendiri. Mas kesal, marah, dan kecewa sama Adek. Adek tidak jujur. Daripada Mas marah dan bicara keras pada Adek, lebih baik Mas diam agar kita tidak sama-sama sakit*. Gumam Ammar dalam hati.

"Sadha pamit ya, Yah, Bu. Assalamualaikum." ujar Sadha yang juga menyalami ayah dan ibunya lalu pergi tanpa melirik Dhina.

Adek bohong sama Mas. Adek bilang baru pertama kali mimisan karena kelelahan. Tapi kenyataannya, Adek sudah pernah mimisan. Seandainya Mas tau, tidak akan Mas menyembunyikan semuanya dari Mas Ammar. Gumam Sadha dalam hati.

"Wa'alaikumsalam, hati-hati Nak." jawab Bu Aini yang juga heran melihat sikap ketiga putranya.

Dhina pun merasa kesal dengan sikap Ammar dan Sadha.

"Ayah, Ibu... Dhana pamit..."

"Mas Dhana juga mau pamit? Mas juga tidak mau bicara sama Adek? Adek salah apa sih Mas? Kenapa kalian seperti ini?" serkas Dhina yang terlanjur emosi dengan sikap ketiga masnya itu.

Dhana tetap diam dengan perkataan Dhina dan usaha Dhina pun gagal. Lalu Dhana yang hanya diam pun langsung berpamitan dengan kedua orang tuanya.

"Dhana pamit juga ya, Yah, Bu. Dhana ingin melihat cafe. Assalamualaikum." ujar Dhana yang menyalami ayah dan ibunya lalu langsung pergi.

"Wa'alaikumsalam, jangan terlalu kencang membawa motornya ya, Nak. Hati-hati!" sahut Bu Aini pada Dhana yang berjalan keluar.

"Iya, Bu." jawab Dhana singkat.

Dhana pun berjalan keluar mengikuti kedua masnya yang sudah pergi bekerja. Lalu...

"Sebenarnya aku tidak suka dengan situasi ini, tapi aku juga berhak kesal sama Adek. Katanya kembar tapi tidak mau jujur dengan saudara kembar sendiri."

Dhana yang meracau pun menghela nafas berat lalu menaiki motornya dan pergi.

***

Pak Aidi dan Bu Aini pun melihat kesedihan di wajah Dhina karena diacuhkan oleh ketiga masnya. Lalu mereka pun berusaha menenangkan putrinya itu.

"Tidak usah sedih, Sayang. Mungkin mereka sedang banyak pekerjaan. Sudah ya, jangan sedih lagi nanti cantiknya hilang." ujar Bu Aini yang berusaha menenangkan putri bungsunya itu.

"Tapi tidak biasanya mereka seperti itu, Bu. Mungkin Adek ada salah ya sama mereka." jawab Dhina yang menangis seraya memeluk Bu Aini.

"Adek salah apa memang? Sebesar apapun kesalahan Adek, tidak akan merubah kasih sayang mereka sama kamu, Nak." ujar Bu Aini yang membelai lembut kepala putrinya.

"Sudahlah, Nak. Mungkin mereka bertiga ada alasan lain kenapa bersikap seperti ini. Nanti saat mereka pulang, coba Adek tanya lagi." timpal Pak Aidi yang sudah selesai makan.

"Ya sudah, Ibu sama Ayah berangkat dulu ya. Adek hati-hati di rumah. Jaga diri ya, Sayang. Ibu pergi dulu. Assalamualaikum." ujar Bu Aini sambil mencium kening putrinya itu.

"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya, Bu." jawab Dhina seraya mengusap air matanya.

"Ayah pergi dulu ya, Nak. Assalamualaikum." ucap Pak Aidi seraya mengelus kepala Dhina.

"Wa'alaikumsalam, hati-hati Ayah." jawab Dhina yang berdiri lalu berjalan ke ruang keluarga.

Saat ini perasaan Dhina sangat sedih melihat sikap Ammar, Sadha dan Dhana seperti tadi. Dhina merasa kesepian walaupun ada Bi Iyah di rumah. Untuk menghilang rasa sepi di hatinya, Dhina pun memilih pergi ke kamar dan menonton film kesukaannya.

***

Kini Ammar sudah sampai di rumah sakit. Sebelum pergi ke labor, Ammar terlebih dahulu menelpon Sadha dan Dhana untuk segera menyusul dirinya ke rumah sakit. Saat Ammar sedang menunggu kedua adik laki-lakinya itu datang, Ibel yang baru selesai dinas malam dan ingin pulang pun bertemu dengan Ammar.

"Mas Ammar... sedang apa Mas di luar?" sapa Ibel yang melihat ke arah Ammar.

"Ibel... aku, aku sedang menunggu seseorang." jawab Ammar dan membuat Ibel bingung dan heran.

"Seseorang? Siapa Mas?" tanya Ibel yang melihat sekitar berharap mengetahui siapa yang sedang Ammar tunggu.

"Kamu sendiri sedang apa di sini? Bukannya jadwal dinas kamu sudah habis?" tanya Ammar balik tanpa menjawab pertanyaan Ibel.

"Iya, Mas. Aku ingin pulang dan melihat kamu berdiri di sini. Jadinya aku ke sini dan menyapa kamu. Kamu kenapa sepertinya gelisah sekali?" jawab Ibel dan bertanya balik pada Ammar.

"Tidak, aku tidak apa-apa." jawab Ammar singkat tanpa melihat ke arah Ibel.

Ibel merasa kesal dengan sikap Ammar yang tiba-tiba berubah seperti ini. Lalu Ibel pun ikut diam sambil mengikuti Ammar yang sedang menunggu seseorang. Tidak lama kemudian, Sadha pun akhirnya datang dan menghampiri Ammar dan Ibel yang berada di lobi rumah sakit.

"Bagaimana Mas? Apakah hasilnya sudah keluar?" ujar Sadha yang baru sampai dan langsung menyalami Ammar.

Sadha yang baru datang, tidak menyadari ada Ibel di belakang Ammar. Lalu...

"Belum, Sadha. Kita tunggu Dhana dulu ya sebentar. Dia sedang di jalan dari cafe." jawab Ammar yang masih terlihat gelisah.

Ibel yang berada di sana merasa heran dan bingung saat mendengar apa yang ditanyakan Sadha pada Ammar.

"Hasil? Memang hasil apa Mas?" tanya Ibel yang sudah cukup kesal dengan sikap Ammar yang mengabaikannya.

"Kak Ibel? Maaf Kak, Sadha tidak melihat ada Kakak di sini." ujar Sadha yang menyalami calon kakak iparnya itu.

"Tidak apa-apa, Sadha. Kakak heran saja melihat sikap Mas kamu ini, seperti orang ketakutan, sejak tadi gelisah terus. Kakak tanya, tidak dijawab. Memang hasil apa yang kamu tanyakan padanya?" jawab Ibel yang kesal dengan sikap Ammar.

"Hasil, hasil..." ujar Sadha yang grogi pada Ibel.

Saat Sadha ingin memberitahu Ibel tentang apa yang ingin mereka cari tau, tiba-tiba Ammar yang mendengar itu langsung memotong pembicaraan Sadha.

"Nanti aku ceritakan semuanya." ujar Ammar sambil melihat sekitar berharap Dhana sudah datang.

Mendengar apa yang dikatakan Ammar membuat Sadha langsung terdiam. Tapi tidak dengan Ibel. Ibel masih bingung dan penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Ammar. Ibel pun terpaksa mengikuti permintaan Ammar karena dirinya juga penasaran.

Setelah lama menunggu, akhirnya Dhana pun sampai di rumah sakit dan langsung menghampiri Ammar, Sadha dan Ibel yang berada di lobi rumah sakit.

"Kenapa lama sekali Dhana?" tanya Ammar yang sudah merasa bosan menunggu Dhana datang.

"Maaf Mas, tadi ada kendala di jalan, makanya telat. Bagaimana Mas? Mas sudah ambil hasilnya?" jawab Dhana yang menyalami mas sulungnya dan Sadha.

"Belum, Mas sama Sadha tunggu kamu. Ya sudah, ayo kita ke ruangan Mas dulu. Ayo Bel, kamu ingin tau juga, bukan?" ujar Ammar yang mengajak semua ke ruangannya dan bertanya pada Ibel.

"Iya, Mas." awab Ibel singkat dan hanya mengikuti Ammar dan ketiga adiknya.

Mereka pun berjalan ke ruangan Ammar. Setelah sampai di depan ruangannya, Ammar meminta semuanya untuk menunggu di dalam. Sedangkan dirinya hendak ke labor untuk mengambil hasil tes lab yang kemarin ia berikan. Ammar pun langsung berlari menuju laboratorium. Lalu...

"Suster... saya ingin mengambil hasil tes dari tisu yang saya berikan kemarin. Apakah sudah bisa saya ambil hasilnya?" ujar Ammar.

"Sudah, Dokter. Tunggu sebentar saya ambilkan dulu ya, Dok." jawab Suster labor yang mencari hasil tes yang diminta oleh Ammar.

"Baik, tolong cepat ya." ujar Ammar yang sudah tidak sabar untuk melihat hasil tes itu.

"Ini, Dok. Jika dilihat dari data DNA-nya yang memiliki darah ini seorang wanita, Dok." ujar Suster yang memberikan sedikit informasi pada Ammar.

Seorang wanita? Tidak salah lagi, ini pasti darah adek. Gumam Ammar dalam hati.

"Apakah ada informasi lain?" tanya Ammar lagi.

"Kalau identitas hanya sejauh itu, Dok. Identitas lengkapnya tidak bisa diketahui secara detail karena kita tidak tau siapa pemilik darah ini." jawab Suster itu dan membuat Ammar sedikit pesimis.

"Apakah bisa DNA darah itu dicocokkan dengan rambut ini?" tanya Ammar yang memberikan kumpulan rambut dalam sebuah plastik kepada Suster.

"Bisa, Dok. Dokter tunggu sebentar ya. Karena untuk mencocokkan DNA hanya butuh waktu dua puluh menit. Jadi hasilnya bisa keluar hari ini juga." jawab Suster labor dan membuat Ammar tersenyum.

"Baiklah, saya akan menunggu. Nanti tolong antarkan hasilnya ke ruangan saya saja. Terima kasih, Sus." ujar Ammar yang keluar dari labor.

Sudah aku duga... kalau identitas Adek tidak akan diketahui hanya dengan tisu itu. Untung saja aku sempat mengambil beberapa helai rambut Adek yang rontok di sisir. Jadi dengan begitu, aku bisa tau apakah darah di tisu itu darah adek atau bukan. Gumam Ammar dalam hati.

Setelah mengambil hasil tes labor, Ammar pun kembali ke ruangannya dan di sana sudah ada Sadha, Dhana dan Ibel. Saat Ammar masuk, Sadha dan Dhana langsung bertanya dengan antusias.

"Mas... bagaimana hasilnya?" tanya Sadha sambil berdiri dan menghampiri Ammar.

"Iya, Mas. Bagaimana hasilnya?" tanya Dhana yang mengikuti Sadha.

"Hasilnya ada di dalam amplop ini. Tapi kita belum bisa melihat isinya karena kita belum tau ini benar tes darah Adek atau bukan." jelas Ammar yang berjalan ke arah kursi kerjanya.

"Lalu bagaimana Mas?" tanya Sadha yang cukup mengerti dengan maksud Ammar.

"Mas sudah antisipasi semuanya. Saat Mas menemukan tisu itu, Mas juga sempat mengambil beberapa helai rambut Adek. Jika DNA darah dan rambut itu sama, maka benar itu tisu bekas darah Adek." jelas Ammar dan membuat Ibel terkejut.

"Tisu bekas darah? Darah Adek? Apa yang kalian bicarakan ini? Maksudnya apa Mas?" ujar Ibel yang bingung dengan Ammar dan kedua adiknya.

Ammar terdiam saat mendapat pertanyaan Ibel. Ia merasa kalau yang sedang disembunyikan oleh Ibel sama dengan yang pernah disembunyikan oleh Sadha dan Dhana. Ammar pun menghela nafas panjang. Lalu...

"Sejak di puncak, aku sudah melihat sikap Adek yang aneh dan sering diam. Aku curiga dan merasa heran. Apalagi saat kalian berdua keluar dari toilet saat itu. Perubahan sikap Sadha dan Dhana yang khawatir berlebihan pada Adek. Tisu berdarah yang aku temukan di kamar Adek. Pernyataan Sadha dan Dhana tadi malam. Aku curiga kalau Adek sakit, Bel." tutur Ammar yang menatap tajam ke arah Ibel.

Ibel terkejut saat mendengar penjelasan Ammar. Ibel merasa kalau Ammar sudah mengetahui apa yang terjadi pada Dhina. Hal itu membuat Ibel teringat lagi saat ia melihat Dhina mimisan di toilet.

"Apa kamu yakin Mas? Mungkin Adek hanya kelelahan karena jalan-jalan kemarin." tanya Ibel yang sudah mengerti dengan apa yang Ammar bicarakan.

"Awalnya aku ragu tapi setelah mengetahui semuanya dan menganalisa semua gejala yang terlihat. Aku yakin, Bel." jawab Ammar seraya mengusap wajahnya karena merasa cemas.

Saat mendengar penjelasan Ammar seperti itu, Ibel pun merasa bersalah pada Ammar. Ibel merasa bersalah karena pada saat ia melihat Dhina mimisan di toilet saat di puncak, ia tidak langsung memberitahu Ammar. Ia malah membiarkan Ammar mencari tau semuanya sendiri.

"Aku minta maaf ya, Mas. Seharusnya aku langsung memberitahu kamu saat itu." ujar Ibel dan membuat Ammar penasaran.

Ammar langsung melihat ke arah Ibel saat mendengar yang dikatakan oleh Dokter cantik itu. Lalu...

"Kamu ingin memberitahu apa?" ujar Ammar yang beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Ibel.

"Sebenarnya, di toilet waktu itu. Aku melihat Dhina sedang membersihkan darah di hidungnya. Dhina mimisan, Mas. Aku panik dan cemas. Aku berniat untuk memberitahu kamu, tapi Dhina melarangku. Dia tidak ingin kamu khawatir dan merusak suasana liburan." jelas Ibel yang mulai berkaca-kaca karena takut Ammar marah padanya.

"Jadi kamu juga menyembunyikan semuanya dariku? Padahal waktu itu aku sudah berusaha memaksamu untuk bicara, Bel! Tapi kamu tidak membantuku sama sekali." ujar Ammar yang kesal karena Ibel menuruti keinginan Dhina.

"Aku benar-benar menyesal, Mas. Tolong maafkan aku. Aku melakukan ini karena aku tidak tega melihat Dhina yang memohon padaku dan menangis. Jadi aku menuruti permintaannya." jawab Ibel yang menghampiri Ammar.

Sadha dan Dhana yang mendengar itu merasa terkejut. Mereka pun saling pandang dan tidak menyangka. Kalau ternyata sikap aneh Ibel selama di puncak saat itu karena pernah melihat Dhina mimisan di toilet. Lalu...

"Kak Ibel tidak salah, Mas. Kak Ibel juga melakukan hal yang sama dengan yang kita berdua lakukan." timpal Dhana yang meraih bahu Ammar.

Ammar hanya diam dan berjalan kembali ke kursinya saat Dhana berusaha menenangkannya. Sedangkan Ibel menangis melihat sikap Ammar yang tiba-tiba berubah padanya saat ia berani untuk bicara jujur. Disatu sisi, Ibel juga sadar akan kesalahannya. Namun disisi lain, ia juga tidak bisa bohong dengan perasaannya yang telah lama mencintai pria tampan itu. Ibel takut Ammar akan marah padanya. Melihat Ibel yang merasa bersalah dan menangis, Sadha dan Dhana pun mendekatinya.

"Kak... jangan menangis lagi. Mas Ammar hanya kesal. Kakak pasti tau Mas Ammar seperti apa. Berikan Mas Ammar waktu ya, Kak." ujar Dhana yang menundukan tubuhnya mengikuti tinggi Ibel.

"Kakak minta maaf sama kalian. Kalau waktu itu Kakak langsung jujur, pasti kalian sudah bisa mengambil tindakan. Kakak menyesal, Dhana. Maafkan Kakak." jawab Ibel yang menangis seraya meraih tangan Sadha dan Dhana bergantian.

"Kakak tidak perlu merasa bersalah. Dhana juga melakukan apa yang Kakak lakukan. Kemarin Adek tiba-tiba pingsan dan Dhana dimintanya juga untuk diam. Tapi karena tadi malam Mas Sadha jujur pada Mas Ammar. Dhana pun mengikuti Mas Sadha." jelas Dhana yang duduk di samping Ibel.

"Memang Sadha jujur apa pada Mas Ammar?" tanya Ibel pada Dhana sambil mengusap air matanya.

"Sadha juga pernah melihat Adek mimisan, Kak. Waktu itu kita masih dalam perjalanan pulang dan Adek sedang tidur." jawab Sadha dan membuat Ibel terkejut.

"Apa? Tunggu, tunggu... Mas Ammar menemukan tisu berdarah kemarin pagi, berarti tisu itu sudah ada sebelum kita pergi ke puncak. Itu artinya, Adek juga membohongi Kakak. Adek bilang waktu itu kalau dia baru pertama kali mimisan. Ya Allah, Adek..." tutur Ibel yang menepuk keningnya.

"Ternyata tidak hanya kita berdua yang dibohongi oleh Adek, Kakak juga." jawab Dhana seraya mengelengkan kepalanya.

Mereka semua pun sudah tau kebohongan yang disembunyikan oleh Dhina. Kini mereka sedang menunggu hasil tes DNA rambut Dhina yang sempat diambil oleh Ammar. Selama menunggu, mereka semua hanya terdiam dan larut dengan lamunan masing-masing.

Ammar yang merasa kecewa pada Ibel hanya terdiam. Disatu sisi, Ammar sebenarnya juga telah lama mencintai gadis itu. Namun di sisi lain, Ammar merasa kecewa dengan sikap Ibel yang menuruti keinginan adik perempuannya itu.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

Terpopuler

Comments

coni

coni

sampe sini aku belum nemu titik cerah supaya Adek jujur🥺🥺🥺🥺

2021-05-27

1

Nofi Kahza

Nofi Kahza

ya ampunn..dhina sakit apa sih sebenrenya..? 😩

2021-03-13

2

BELVA

BELVA

👍👍👍👍👍💕

2021-02-25

1

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan Tokoh
2 Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3 Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4 Episode 3 ~ Rencana Ibu
5 Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6 Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7 Episode 6 ~ On The Way Puncak
8 Episode 7 ~ Mulai Aneh
9 Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10 Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11 Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12 Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13 Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14 Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15 Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16 Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17 Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18 Episode 17 ~ Kecewa
19 Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20 Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21 Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22 Episode 21 ~ Diganggu Preman
23 Episode 22 ~ Foundation
24 Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25 Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26 Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27 Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28 Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29 Episode 28 ~ Terpukul
30 Episode 29 ~ Hilang
31 Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32 Episode 31 ~ Minta Maaf
33 Episode 32 ~ Berjodoh?
34 Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35 Episode 34 ~ Boleh Pulang
36 Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37 Episode 36 ~ Memar Lagi
38 Episode 37 ~ Balas Dendam
39 Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40 Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41 Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42 Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43 Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44 Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45 Episode 44 ~ Berenang
46 Episode 45 ~ Tenggelam
47 Episode 46 ~ Incaran Pertama
48 Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49 Episode 48 ~ Introgasi
50 Episode 49 ~ Sepemikiran
51 Episode 50 ~ Demam Tinggi
52 Episode 51 ~ Ibu Murka
53 Episode 52 ~ Kejutan
54 Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55 Episode 54 ~ Topeng Hantu
56 Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57 Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58 Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59 Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60 Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61 Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62 Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63 Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64 Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65 Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66 Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67 Episode 66 ~ Kemoterapi
68 Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69 Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70 Episode 69 ~ Mencari Tau
71 Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72 Episode 71 ~ Botak Bersama
73 Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74 Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75 Episode 74 ~ Muntah-muntah
76 Episode 75 ~ Karyawati Baru
77 Episode 76 ~ Barang Bukti
78 Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79 Episode 78 ~ Orang Asing
80 Episode 79 ~ Merubah Rencana
81 Episode 80 ~ Gelisah
82 Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83 Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84 Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85 Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86 Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87 Episode 86 ~ Mata Sembap
88 Episode 87 ~ Penyelidikan
89 Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90 Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91 Episode 90 ~ Obat Asing
92 Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93 Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94 Episode 93 ~ Stadium Tiga
95 Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96 Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97 Episode 96 ~ Rakha???
98 Episode 97 ~ Janji Dhina
99 Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100 Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101 Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102 Episode 101 ~ Melepas Rindu
103 Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104 Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105 Episode 104 ~ Semakin Sakit
106 Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107 Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108 Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109 Episode 108 ~ Tidak Tega
110 Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111 Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112 Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113 Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114 Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115 Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116 Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117 Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118 Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119 Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120 Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121 Visual
122 Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123 Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124 Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125 Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126 Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127 Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128 Episode 126 ~ Tes Mendadak
129 Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130 Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131 Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132 Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133 Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134 Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135 Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136 Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137 Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138 Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139 Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140 Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141 Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142 Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143 Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144 Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145 Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146 Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147 Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148 Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149 Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150 Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151 Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152 Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153 Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154 Episode 152 ~ Kenangan Manis
155 Episode 153 ~ Tetap Waspada
156 Episode 154 ~ Dijodohkan???
157 Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158 Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159 Episode 157 ~ Malam Pengajian
160 Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161 Episode 159 ~ Bucin
162 Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163 Episode 161 ~ First Kiss
164 Episode 162 ~ Baru Menyadari
165 Episode 163 ~ Balapan
166 Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167 Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168 Episode 166 ~ Masalah Lama
169 Episode 167 ~ Berita Bahagia
170 Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171 Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172 Episode 170 ~ Labil
173 Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174 Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175 Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176 Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177 Episode 175 ~ Komplikasi
178 Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179 Episode 177 ~ Perang Bathin
180 Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181 Episode 179 ~ Cuci Darah
182 Episode 180 ~ Dasar Mesum
183 Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184 Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185 Episode 183 ~ Bukan Peduli
186 Episode 184 ~ Botol Minum
187 Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188 Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189 Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190 Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191 Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192 Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193 Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194 Episode 192 ~ Terhalang Restu
195 Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196 Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197 Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198 Episode 196 ~ Jambret Nakal
199 Episode 197 ~ Bertemu Umi
200 Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201 Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202 Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203 Episode 201 ~ Hari Persiapan
204 Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205 Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206 Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207 Episode 205 ~ Firasat Dhana
208 Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209 Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210 Episode 208 ~ Akad Nikah
211 Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212 Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213 Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214 Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215 Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216 Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217 Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218 Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219 Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220 Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221 Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222 Surat Cinta Author dan Dhina
223 Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224 Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225 Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226 Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227 Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228 Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229 Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230 Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231 Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232 Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233 Pengumuman Novel Baru
234 Pemberitahuan Novel Sekuel
235 Novel Sekuel Sudah Rilis
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Pengenalan Tokoh
2
Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3
Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4
Episode 3 ~ Rencana Ibu
5
Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6
Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7
Episode 6 ~ On The Way Puncak
8
Episode 7 ~ Mulai Aneh
9
Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10
Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11
Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12
Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13
Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14
Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15
Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16
Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17
Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18
Episode 17 ~ Kecewa
19
Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20
Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21
Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22
Episode 21 ~ Diganggu Preman
23
Episode 22 ~ Foundation
24
Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25
Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26
Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27
Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28
Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29
Episode 28 ~ Terpukul
30
Episode 29 ~ Hilang
31
Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32
Episode 31 ~ Minta Maaf
33
Episode 32 ~ Berjodoh?
34
Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35
Episode 34 ~ Boleh Pulang
36
Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37
Episode 36 ~ Memar Lagi
38
Episode 37 ~ Balas Dendam
39
Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40
Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41
Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42
Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43
Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44
Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45
Episode 44 ~ Berenang
46
Episode 45 ~ Tenggelam
47
Episode 46 ~ Incaran Pertama
48
Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49
Episode 48 ~ Introgasi
50
Episode 49 ~ Sepemikiran
51
Episode 50 ~ Demam Tinggi
52
Episode 51 ~ Ibu Murka
53
Episode 52 ~ Kejutan
54
Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55
Episode 54 ~ Topeng Hantu
56
Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57
Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58
Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59
Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60
Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61
Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62
Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63
Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64
Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65
Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66
Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67
Episode 66 ~ Kemoterapi
68
Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69
Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70
Episode 69 ~ Mencari Tau
71
Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72
Episode 71 ~ Botak Bersama
73
Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74
Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75
Episode 74 ~ Muntah-muntah
76
Episode 75 ~ Karyawati Baru
77
Episode 76 ~ Barang Bukti
78
Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79
Episode 78 ~ Orang Asing
80
Episode 79 ~ Merubah Rencana
81
Episode 80 ~ Gelisah
82
Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83
Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84
Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85
Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86
Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87
Episode 86 ~ Mata Sembap
88
Episode 87 ~ Penyelidikan
89
Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90
Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91
Episode 90 ~ Obat Asing
92
Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93
Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94
Episode 93 ~ Stadium Tiga
95
Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96
Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97
Episode 96 ~ Rakha???
98
Episode 97 ~ Janji Dhina
99
Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100
Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101
Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102
Episode 101 ~ Melepas Rindu
103
Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104
Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105
Episode 104 ~ Semakin Sakit
106
Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107
Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108
Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109
Episode 108 ~ Tidak Tega
110
Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111
Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112
Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113
Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114
Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115
Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116
Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117
Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118
Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119
Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120
Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121
Visual
122
Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123
Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124
Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125
Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126
Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127
Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128
Episode 126 ~ Tes Mendadak
129
Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130
Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131
Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132
Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133
Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134
Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135
Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136
Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137
Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138
Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139
Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140
Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141
Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142
Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143
Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144
Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145
Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146
Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147
Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148
Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149
Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150
Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151
Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152
Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153
Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154
Episode 152 ~ Kenangan Manis
155
Episode 153 ~ Tetap Waspada
156
Episode 154 ~ Dijodohkan???
157
Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158
Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159
Episode 157 ~ Malam Pengajian
160
Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161
Episode 159 ~ Bucin
162
Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163
Episode 161 ~ First Kiss
164
Episode 162 ~ Baru Menyadari
165
Episode 163 ~ Balapan
166
Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167
Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168
Episode 166 ~ Masalah Lama
169
Episode 167 ~ Berita Bahagia
170
Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171
Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172
Episode 170 ~ Labil
173
Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174
Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175
Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176
Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177
Episode 175 ~ Komplikasi
178
Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179
Episode 177 ~ Perang Bathin
180
Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181
Episode 179 ~ Cuci Darah
182
Episode 180 ~ Dasar Mesum
183
Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184
Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185
Episode 183 ~ Bukan Peduli
186
Episode 184 ~ Botol Minum
187
Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188
Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189
Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190
Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191
Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192
Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193
Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194
Episode 192 ~ Terhalang Restu
195
Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196
Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197
Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198
Episode 196 ~ Jambret Nakal
199
Episode 197 ~ Bertemu Umi
200
Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201
Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202
Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203
Episode 201 ~ Hari Persiapan
204
Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205
Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206
Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207
Episode 205 ~ Firasat Dhana
208
Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209
Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210
Episode 208 ~ Akad Nikah
211
Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212
Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213
Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214
Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215
Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216
Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217
Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218
Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219
Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220
Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221
Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222
Surat Cinta Author dan Dhina
223
Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224
Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225
Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226
Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227
Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228
Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229
Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230
Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231
Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232
Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233
Pengumuman Novel Baru
234
Pemberitahuan Novel Sekuel
235
Novel Sekuel Sudah Rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!