...🍀🍀🍀...
Kini Ammar, Sadha, Dhana, Dhina dan Ibel sudah berada di sebuah restoran yang ada di dekat villa. Setelah mereka semua duduk, Ammar langsung menawarkan makanan pada Ibel dan adik-adiknya.
"Sadha, Dhana, Adek.. ayo pesan!" ucap Ammar pada adik-adiknya seraya memberikan buku menu.
"Oke, Mas. Apa boleh pesan lebih Mas? Dhana lapar sekali ini." tanya Dhana sambil tersenyum penuh arti pada Ammar.
"Iya, boleh. Pesan saja yang kalian mau." jawab Ammar yang membuat Dhana jadi semangat.
"Terima kasih, Mas." ucap Dhana yang mengacungkan jempol dan dibalas anggukan oleh Ammar.
"Kamu tidak pesan makanan Bel?" tanya Ammar pada Ibel.
Ibel yang termenung pun tidak menjawab pertanyaan Ammar. Pikiran Ibel menerawang karena memikirkan apa yang terjadi pada Dhina tadi. Sementara Ammar yang melihat sikap Ibel yang aneh pun mengeryitkan dahinya karena heran.
Dhina yang menyadari Ibel yang sejak tadi melamun pun mulai merasa cemas. Ia takut kalau tiba-tiba Ibel akan memberitahu ketiga masnya tentang kejadian tadi. Sedangkan Ammar merasa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Ibel dan membuatnya melamun.
"Ibel... kamu kenapa?" tanya Ammar lagi yang memanggil Ibel sambil memegang tangan Ibel dan membuat Ibel terkejut.
"Tidak Mas, aku tidak apa-apa. Kenapa? Mas butuh sesuatu?" jawab Ibel yang terkejut karena Ammar memegang tangannya.
"Tidak... aku tidak perlu apa-apa. Kamu tidak pesan makanan?" ujar Ammar dan membuat Ibel salah tingkah karena sempat melamun.
"Oh iya. Nanti biar aku pesan sendiri. Aku ke sana sebentar ya, Mas." jawab Ibel yang gugup lalu beranjak dari duduknya dan pergi memesan makanan.
Melihat sikap Ibel yang tiba-tiba aneh seperti ini, membuat Ammar semakin yakin kalau ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Ibel.
Tidak lama kemudian, makanan yang dipesan Ammar, Sadha, dan si kembar pun datang. Sementara itu Ammar ingin menyusul Ibel. Tapi Ammar tidak ingin ketiga adiknya itu curiga kalau ia ingin mengajak Ibel bertemu diam-diam dan menanyakan sesuatu pada Ibel tentang Dhina.
"Kalian makan duluan ya. Mas ingin ke toilet sebentar." ujar Ammar yang berdiri dan pergi ke arah toilet.
"Iya, Mas." jawab Sadha dan Dhana serentak.
Dhina yang memperhatikan kepergian Ammar pun merasa lega karena ia melihat kalau mas sulungnya itu benar-benar pergi ke toilet, bukan menyusul Ibel. Walaupun awalnya, ia sempat curiga kalau Ammar ingin menyusul Ibel yang tengah memesan makanan.
***
Ammar yang sudah berada di toilet pun meraih ponselnya lalu mengirim pesan pada Ibel.
Bella... temui aku di taman belakang sekarang. Tapi jangan sampai Sadha, Dhana dan Adek melihat kamu. Aku tunggu secepatnya.
Pesan singkat Ammar pun terkirim lalu pria itu langsung beranjak dari dalam toilet menuju ke taman belakang restoran.
Drrrrtttt...
Saat sedang memesan makanan, tiba-tiba Ibel merasakan ada getaran dari dalam tasnya. Ternyata ponsel Ibel yang mendapatkan notifikasi. Kemudian ia mengambil ponsel di tasnya. Ibel terkejut karena notifikasi itu ternyata dari Ammar. Lalu Ibel membacanya.
Isi pesan itu membuat Ibel bingung, tapi ia juga berpikir mungkin ini saat yang bagus untuk memberitahu Ammar tentang kondisi Dhina. Sebelum pergi, Ibel melihat ke arah adik-adik Ammar yang sedang asyik menikmati makanan. Saat merasa aman, Ibel pun segera berlari tanpa diketahui oleh adik-adik Ammar.
Sementara Sadha, Dhana dan Dhina asyik menikmati makanan yang mereka pesan dan mereka saling mencicipi makanan satu sama lain.
"Mas... Adek mau sandwich itu." ujar Dhina dengan manjanya pada Sadha.
"Makanan Adek 'kan masih ada. Makan itu saja." jawab Sadha yang segera mengalihkan piringnya dari adik perempuannya itu.
"Mas Sadha pelit sekali sih. Adek minta sedikit saja tidak boleh." ujar Dhina yang mengerucutkan bibirnya dan membuat Sadha gemas.
"Iya, iya... Mas hanya bercanda, Sayang. Mas mau juga ya makanan Adek." jawab Sadha yang memberikan piringnya pada Dhina.
"Iya, boleh kok. Enak Mas? Mas Dhana mau juga?" ujar Dhina sambil menawarkan juga pada Dhana.
"Boleh, Dek. Adek mau makanan Mas? Enak tapi rasanya lebih pedas." jawab Dhana yang menawarkan balik pada Dhina.
"Boleh, Mas." jawab Dhina sambil mengambil makanan Dhana dan mencicipinya.
Dhina pun menyuapi makanan yang ia ambil dari piring Dhana. Sementara Dhana terlihat penasaran dengan respon sang adik tatkala mencoba makanannya yang pedas itu.
"Iya Mas. Pedas sekali." ujar Dhina yang kepedasan karena makanan Dhana dan langsung mengambil minum.
Saat sedang asyik menikmati makan siang, tiba-tiba Sadha merasa harus pergi ke toilet. Lalu...
"Kalian di sini sebentar ya. Mas ingin ke toilet dulu." ujar Sadha yang terburu-buru ke toilet karena sudah tidak tahan ingin buang air.
"Oke, Mas." Jawab si kembar serentak.
***
Di taman belakang restoran, Ammar sedang menunggu Ibel cukup lama. Ia takut kalau Ibel akan terlihat oleh ketiga adiknya. Tapi saat Ammar sedang membalikkan tubuhnya, tiba-tiba ada yang menepuk bahu Ammar dari belakang.
"Mas..."
Ammar yang terkejut pun langsung berbalik.
"Kamu mengagetkan aku saja. Bagaimana? Apa adik-adik melihat kamu ke sini?" tanya Ammar yang terkejut dan langsung bertanya pada Ibel.
"Tidak, Mas. Semuanya aman. Kamu kenapa panggil aku ke sini?" tanya Ibel yang sebenarnya tau maksud Ammar memanggilnya pasti ingin bertanya sesuatu tentang Dhina.
"Aku ingin bertanya sesuatu tentang Adek sama kamu. Kamu yakin kalau Adek baik-baik saja?" ujar Ammar yang menatap Ibel berharap akan mendapatkan jawaban dari matanya.
"Maksud kamu Mas?" tanya Ibel balik yang berusaha bersikap tenang dan biasa saja.
"Saat jalan-jalan tadi, Adek selalu bersama kamu. Apa terjadi sesuatu pada Adek? Sejak kalian keluar dari toilet tadi, Adek lebih banyak diam. Sedangkan kamu, kamu jadi sering melamun. Jangan pernah berpikir kalau aku tidak perhatikan kalian! Jawab aku, Bel! Apa yang terjadi pada Adek?" tutur Ammar tegas seraya memegang bahu Ibel dan membuat Ibel gugup.
Ibel merasa takut saat melihat ekspresi Ammar yang berubah seperti itu. Ibel pun hanya diam dan tertunduk. Lalu...
"Jawab, Bel. Kenapa kamu diam? Aku berhak tau apa yang terjadi sama adikku. Apakah Adek melarang kamu untuk cerita?" ujar Ammar yang semakin kesal dan memaksa Ibel untuk jujur.
"Mas... Adek, Adek..."
Ibel yang gugup karena didesak oleh Ammar untuk bicara pun membuat Ammar semakin yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan Ibel dan Dhina.
***
Saat Ammar sedang menunggu jawaban dari Ibel yang akan bicara, tiba-tiba Sadha yang baru keluar dari toilet melihat Ammar dan Ibel di taman belakang restoran.
Sadha pun memperhatikan Ammar dan Ibel, seperti ada sesuatu hal serius yang sedang mereka bicarakan. Sadha pun penasaran, lalu dengan berani Sadha menghampiri Ammar dan Ibel.
"Mas... Kak..." panggil Sadha dari arah belakang Ammar dan membuat Ammar dan Ibel terkejut.
"Sadha... kamu sedang apa di sini?" tanya Ammar yang melihat ke arah Sadha.
"Harusnya Sadha yang bertanya seperti itu pada Mas dan Kak Ibel. Kalian sedang apa di sini?" ujar Sadha yang mendekati mas sulungnya itu.
"Kita tidak sedang apa-apa, Sadha. Kita hanya membahas masalah dinas besok karena jadwalnya yang tiba-tiba berubah." jawab Ibel yang berusaha meyakinkan Sadha agar dia tidak curiga.
"Sadha... sejak kapan kamu di sini?" tanya Ammar lagi pada Sadha karena takut Sadha sudah mendengar pembicaraan mereka.
"Baru saja, Mas. Sadha dari toilet lalu tidak sengaja melihat kalian di sini." jawab Sadha yang cukup penasaran dengan apa yang dibicarakan Ammar dan Ibel.
"Ya sudah. Ayo kita kembali ke dalam. Nanti Dhana dan Adek mencari kita." timpal Ibel yang jalan duluan lalu mengerlingkan matanya pada Ammar.
Ammar yang mengerti dengan isyarat Ibel pun menghela nafas jengah karena terpaksa harus menuruti isyarat sahabatnya itu.
"Ayo, Mas." ujar Sadha yang menarik tangan Ammar yang masih terdiam sambil berdiri.
Ammar menghela nafas panjang karena gagal untuk mendapatkan jawaban dari Ibel. Ia merasa kalau Dhina melarang Ibel untuk bicara yang sebenarnya. Melihat sikap Ibel yang tidak mau bicara jujur padanya, membuat Ammar memutuskan untuk mencari tau dengan caranya sendiri apa yang sedang disembunyikan oleh Dhina dan Ibel.
***
Setelah sampai di meja makan, Dhina melihat ekspresi Ammar yang berubah setelah kembali dari toilet bersama Sadha dan Ibel. Dhina kembali cemas karena takut Ibel sudah mengatakan semuanya tentang kondisinya saat ini yang tidak baik pada Ammar. Lalu dengan berani Dhina bertanya pada Ammar.
"Mas... lama sekali di toiletnya. Mas baik-baik saja 'kan?" ukar Dhina yang meraih tangan Ammar.
Mendengar pertanyaan Dhina, membuat hati Ammar tercubit. Bagaimana bisa adik perempuannya itu mencemaskan dirinya saat ini sedangkan Ammar tau ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada adik perempuannya itu.
"Mas tidak apa-apa, Dek. Adek sudah selesai makannya?" jawab Ammar sambil membelai lembut kepala Dhina yang menggunakan hijab.
"Sudah, Mas. Adek dan Mas Dhana sudah selesai makan." jawab Dhina dengan tersenyum manis pada Ammar.
"Oh iya, Mas. Ayah tadi menghubungi Dhana, habis ini kita langsung pulang. Soalnya besok Ayah ada rapat pagi, jadi tidak bisa pulang malam." jelas Dhana yang melihat ponselnya dan melirik ke arah Ammar.
"Ya sudah kalau begitu Mas, Ibel dan Sadha habiskan makanan dulu ya. Mubazir kalau tidak dimakan." jawab Ammar sambil menyuapi makanan pesanannya tadi.
"Iya, Mas. Tapi Dhana tunggu di luar ya sama Adek. Ayo Dek, kita keluar." ujar Dhana yang beranjak dan menarik tangan Dhina.
"Adek keluar dulu ya, Mas, Kak." timpal Dhina yang izin pergi keluar pada Ammar, Sadha dan Ibel.
"Iya, Sayang." jawab Ammar singkat sambil menyuapi makanan ke dalam mulutnya.
Si kembar pun memilih untuk menunggu di luar karena sudah merasa bosan duduk di dalam. Saat di luar, Dhina melihat ada ayunan yang tidak jauh dari sana. Lalu ia langsung menghampiri dan menaiki ayunan itu. Setelah duduk di ayunan, Dhina pun memanggil Dhana.
"Mas Dhana... ayo sini!" sahut Dhina yang melambaikan tangannya ke arah Dhana.
"Ya ampun, Dek. Mas kira siapa yang memanggil." jawab Dhana yang berjalan menuju ayunan itu.
Si kembar pun menikmati ayunan. Dhana yang sedang asyik melihat ponsel tiba-tiba diberi pertanyaan aneh oleh adik kembarnya itu.
"Mas... saat kecil, apakah Adek pernah sakit?" tanya Dhina yang menatap langit cerah dan membuat Dhana mengalihkan pandangannya pada Dhina.
"Kenapa Adek bertanya seperti itu?" tanya Dhana balik pada sang adik kembar.
"Tidak apa-apa. Adek hanya penasaran saja dan tiba-tiba kepikiran sama Adek." jawab Dhina yang menerawang.
Dhana yang mendengar pertanyaan Dhina pun menjadi heran.
"Mas tidak tau, Dek. Lagi pula kita dari bayi sampai dewasa selalu sama-sama. Jadi Mas tidak tau, Adek pernah sakit atau tidak saat kecil." jawab Dhana asal namun ia masih penasaran dengan maksud pertanyaan Dhina.
"Iya juga ya, Mas. Berarti Adek salah alamat untuk bertanya dong." ujar Dhina yang tertawa dan Dhana pun ikut tertawa.
Saat sedang asyik bercanda dengan Dhana, tiba-tiba Ammar, Sadha dan Ibel pun datang menghampiri mereka.
"Asyik sekali si kembar ini bercandanya. Ayo kita kembali ke villa. Ayah sudah menelpon Mas Ammar lagi tuh." ujar Sadha seraya menarik tangan kedua adik kembarnya itu.
"Sabar kenapa sih Mas." jawab Dhina pada Sadha yang menarik tangannya.
"Tau nih Mas Sadha. Ayah tidak akan pergi duluan meninggalkan kita, Mas." timpal Dhana yang ikut sewot pada Sadha.
Sadha yang terus menarik tangan keduanya pun tidak merespon apa yang dikatakan oleh kedua adik kembarnya itu. Sementara Ammar dan Ibel yang melihat tingkah ketiga adiknya itu pun hanya bisa menggelengkan kepala.
Saat berjalan, Ibel yang selalu melirik ke arah Ammar, mengira kalau Ammar sedang marah padanya. Lalu dengan memberanikan diri Ibel bertanya.
"Mas... kamu marah ya sama aku?" tanya Ibel sambil melihat ke arah Ammar.
"Tidak, aku tidak marah. Kalau kamu tidak mau cerita sama aku, aku bisa cari tau sendiri. Aku yakin kalau kamu pasti dilarang oleh Adek untuk cerita. Jadi aku tidak marah sama kamu." jawab Ammar yang menggenggam tangan Ibel.
"Jadi kamu marah sama Adek karena dia melarang aku untuk cerita?" tanya Ibel pada Ammar yang tanpa menyadari bahwa dirinya telah terpancing dengan perkataan Ammar.
"Benar ada sesuatu, bukan? Aku akan cari tau sendiri. Aku tidak mungkin marah sama Adek. Aku tidak marah pada siapapun, kamu tenang saja ya." jawab Ammar menenangkan Ibel dan membuat Ibel menjadi salah tingkah.
Jarak dari restoran menuju villa tidak terlalu jauh. Kini mereka sudah sampai di villa. Jam sudah menunjukan pukul empat sore. Saat masuk villa, mereka melihat Pak Aidi dan Bu Aini sedang duduk di ruang tamu.
"Ayah, Ibu... maaf ya kita terlalu lama di luar." ujar Ammar yang mewakili Ibel dan ketiga adiknya untuk meminta maaf.
"Iya, Nak. Tidak apa-apa. Lebih baik kalian bersiap. Kita harus pulang sekarang. Maaf ya kalau liburan kita hari ini tidak sesuai rencana. Soalnya Ayah kalian tadi mendapat kabar dari kantor kalau besok ada rapat pagi." jelas Bu Aini pada anak-anaknya.
"Iya Bu, tidak apa-apa. Lagi pula besok Sadha juga ada meeting mendadak sama klien." timpal Sadha yang ternyata ia juga mendapat pesan dari perusahaan bahwa ada meeting besok pagi.
"Ya sudah, kalian siap-siap dulu ya. Kasihan juga sama Nak Ibel kalau harus pulang malam. Tidak enak sama orang tuanya." ujar Bu Aini.
"Tidak apa-apa, Tante. Lagi pula Ibel sudah dewasa dan Bunda pasti juga mengerti." jawab Ibel yang meraih tangan Bu Aini dan dibalas anggukan oleh Bu Aini.
Setelah itu, Ibel pergi ke kamarnya untuk mengambil barang yang sempat ia tinggalkan tadi saat jalan-jalan. Sedangkan yang lain juga sedang siap-siap.
Setelah semua selesai bersiap, mereka pun langsung menuju mobil yang ada di tempat parkir. Saat sampai di tempat parkir, satu per satu dari mereka pun naik ke mobil.
Posisi duduk mereka kali ini berbeda dengan saat akan pergi. Kali ini Sadha yang membawa mobil dan Dhina duduk di depan bersama Sadha. Di tengah tetap Bu Aini dan Ibel. Sedangkan di belakang, ada Pak Aidi, Ammar, dan Dhana.
Di saat perjalanan, Ammar tiba-tiba kepikiran lagi dengan apa yang ingin dikatakan oleh Ibel tadi. Namun terpotong karena kedatangan Sadha. Kini Ammar merasa bahwa adik perempuannya itu sedang berusaha menjauh darinya karena takut diperhatikan. Bahkan tadi saat ingin naik ke mobil, Dhina berusaha memohon pada sang ayah untuk pindah ke belakang agar ia bisa duduk di depan bersama Sadha. Dengan alasan karena perutnya terasa tidak enak saat duduk di belakang. Padahal tadi saat pergi, Dhina baik-baik saja saat duduk di belakang.
Ammar pun termenung memikirkan itu. Ia pun bertekad akan mencari tau secepatnya apa yang sedang terjadi pada adik perempuannya itu.
Semoga tidak terjadi sesuatu yang serius pada Adek. Gumam Ammar dalam hati.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Mommy Gyo
10;like hadir thor mampir
2021-09-28
0
SyaSyi
aku mampir di karya mu membawa like
aku cicil baca dan like, aku sdh masukan ke favorite.
saling dukung karya ku " aku dan mantan kekasih suamiku "
aku tunggu feedbacknya
2021-06-06
1
Perjuangan cinta Tuan Muda
5 jempol lg drku kak. syukaa bca critamu. semangat terooss.
2021-05-07
0