Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar

...🍀🍀🍀...

Kini Ammar, Sadha, Dhana, Dhina dan Ibel sudah berada di sebuah restoran yang ada di dekat villa. Setelah mereka semua duduk, Ammar langsung menawarkan makanan pada Ibel dan adik-adiknya.

"Sadha, Dhana, Adek.. ayo pesan!" ucap Ammar pada adik-adiknya seraya memberikan buku menu.

"Oke, Mas. Apa boleh pesan lebih Mas? Dhana lapar sekali ini." tanya Dhana sambil tersenyum penuh arti pada Ammar.

"Iya, boleh. Pesan saja yang kalian mau." jawab Ammar yang membuat Dhana jadi semangat.

"Terima kasih, Mas." ucap Dhana yang mengacungkan jempol dan dibalas anggukan oleh Ammar.

"Kamu tidak pesan makanan Bel?" tanya Ammar pada Ibel.

Ibel yang termenung pun tidak menjawab pertanyaan Ammar. Pikiran Ibel menerawang karena memikirkan apa yang terjadi pada Dhina tadi. Sementara Ammar yang melihat sikap Ibel yang aneh pun mengeryitkan dahinya karena heran.

Dhina yang menyadari Ibel yang sejak tadi melamun pun mulai merasa cemas. Ia takut kalau tiba-tiba Ibel akan memberitahu ketiga masnya tentang kejadian tadi. Sedangkan Ammar merasa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Ibel dan membuatnya melamun.

"Ibel... kamu kenapa?" tanya Ammar lagi yang memanggil Ibel sambil memegang tangan Ibel dan membuat Ibel terkejut.

"Tidak Mas, aku tidak apa-apa. Kenapa? Mas butuh sesuatu?" jawab Ibel yang terkejut karena Ammar memegang tangannya.

"Tidak... aku tidak perlu apa-apa. Kamu tidak pesan makanan?" ujar Ammar dan membuat Ibel salah tingkah karena sempat melamun.

"Oh iya. Nanti biar aku pesan sendiri. Aku ke sana sebentar ya, Mas." jawab Ibel yang gugup lalu beranjak dari duduknya dan pergi memesan makanan.

Melihat sikap Ibel yang tiba-tiba aneh seperti ini, membuat Ammar semakin yakin kalau ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Ibel.

Tidak lama kemudian, makanan yang dipesan Ammar, Sadha, dan si kembar pun datang. Sementara itu Ammar ingin menyusul Ibel. Tapi Ammar tidak ingin ketiga adiknya itu curiga kalau ia ingin mengajak Ibel bertemu diam-diam dan menanyakan sesuatu pada Ibel tentang Dhina.

"Kalian makan duluan ya. Mas ingin ke toilet sebentar." ujar Ammar yang berdiri dan pergi ke arah toilet.

"Iya, Mas." jawab Sadha dan Dhana serentak.

Dhina yang memperhatikan kepergian Ammar pun merasa lega karena ia melihat kalau mas sulungnya itu benar-benar pergi ke toilet, bukan menyusul Ibel. Walaupun awalnya, ia sempat curiga kalau Ammar ingin menyusul Ibel yang tengah memesan makanan.

***

Ammar yang sudah berada di toilet pun meraih ponselnya lalu mengirim pesan pada Ibel.

Bella... temui aku di taman belakang sekarang. Tapi jangan sampai Sadha, Dhana dan Adek melihat kamu. Aku tunggu secepatnya.

Pesan singkat Ammar pun terkirim lalu pria itu langsung beranjak dari dalam toilet menuju ke taman belakang restoran.

Drrrrtttt...

Saat sedang memesan makanan, tiba-tiba Ibel merasakan ada getaran dari dalam tasnya. Ternyata ponsel Ibel yang mendapatkan notifikasi. Kemudian ia mengambil ponsel di tasnya. Ibel terkejut karena notifikasi itu ternyata dari Ammar. Lalu Ibel membacanya.

Isi pesan itu membuat Ibel bingung, tapi ia juga berpikir mungkin ini saat yang bagus untuk memberitahu Ammar tentang kondisi Dhina. Sebelum pergi, Ibel melihat ke arah adik-adik Ammar yang sedang asyik menikmati makanan. Saat merasa aman, Ibel pun segera berlari tanpa diketahui oleh adik-adik Ammar.

Sementara Sadha, Dhana dan Dhina asyik menikmati makanan yang mereka pesan dan mereka saling mencicipi makanan satu sama lain.

"Mas... Adek mau sandwich itu." ujar Dhina dengan manjanya pada Sadha.

"Makanan Adek 'kan masih ada. Makan itu saja." jawab Sadha yang segera mengalihkan piringnya dari adik perempuannya itu.

"Mas Sadha pelit sekali sih. Adek minta sedikit saja tidak boleh." ujar Dhina yang mengerucutkan bibirnya dan membuat Sadha gemas.

"Iya, iya... Mas hanya bercanda, Sayang. Mas mau juga ya makanan Adek." jawab Sadha yang memberikan piringnya pada Dhina.

"Iya, boleh kok. Enak Mas? Mas Dhana mau juga?" ujar Dhina sambil menawarkan juga pada Dhana.

"Boleh, Dek. Adek mau makanan Mas? Enak tapi rasanya lebih pedas." jawab Dhana yang menawarkan balik pada Dhina.

"Boleh, Mas." jawab Dhina sambil mengambil makanan Dhana dan mencicipinya.

Dhina pun menyuapi makanan yang ia ambil dari piring Dhana. Sementara Dhana terlihat penasaran dengan respon sang adik tatkala mencoba makanannya yang pedas itu.

"Iya Mas. Pedas sekali." ujar Dhina yang kepedasan karena makanan Dhana dan langsung mengambil minum.

Saat sedang asyik menikmati makan siang, tiba-tiba Sadha merasa harus pergi ke toilet. Lalu...

"Kalian di sini sebentar ya. Mas ingin ke toilet dulu." ujar Sadha yang terburu-buru ke toilet karena sudah tidak tahan ingin buang air.

"Oke, Mas." Jawab si kembar serentak.

***

Di taman belakang restoran, Ammar sedang menunggu Ibel cukup lama. Ia takut kalau Ibel akan terlihat oleh ketiga adiknya. Tapi saat Ammar sedang membalikkan tubuhnya, tiba-tiba ada yang menepuk bahu Ammar dari belakang.

"Mas..."

Ammar yang terkejut pun langsung berbalik.

"Kamu mengagetkan aku saja. Bagaimana? Apa adik-adik melihat kamu ke sini?" tanya Ammar yang terkejut dan langsung bertanya pada Ibel.

"Tidak, Mas. Semuanya aman. Kamu kenapa panggil aku ke sini?" tanya Ibel yang sebenarnya tau maksud Ammar memanggilnya pasti ingin bertanya sesuatu tentang Dhina.

"Aku ingin bertanya sesuatu tentang Adek sama kamu. Kamu yakin kalau Adek baik-baik saja?" ujar Ammar yang menatap Ibel berharap akan mendapatkan jawaban dari matanya.

"Maksud kamu Mas?" tanya Ibel balik yang berusaha bersikap tenang dan biasa saja.

"Saat jalan-jalan tadi, Adek selalu bersama kamu. Apa terjadi sesuatu pada Adek? Sejak kalian keluar dari toilet tadi, Adek lebih banyak diam. Sedangkan kamu, kamu jadi sering melamun. Jangan pernah berpikir kalau aku tidak perhatikan kalian! Jawab aku, Bel! Apa yang terjadi pada Adek?" tutur Ammar tegas seraya memegang bahu Ibel dan membuat Ibel gugup.

Ibel merasa takut saat melihat ekspresi Ammar yang berubah seperti itu. Ibel pun hanya diam dan tertunduk. Lalu...

"Jawab, Bel. Kenapa kamu diam? Aku berhak tau apa yang terjadi sama adikku. Apakah Adek melarang kamu untuk cerita?" ujar Ammar yang semakin kesal dan memaksa Ibel untuk jujur.

"Mas... Adek, Adek..."

Ibel yang gugup karena didesak oleh Ammar untuk bicara pun membuat Ammar semakin yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan Ibel dan Dhina.

***

Saat Ammar sedang menunggu jawaban dari Ibel yang akan bicara, tiba-tiba Sadha yang baru keluar dari toilet melihat Ammar dan Ibel di taman belakang restoran.

Sadha pun memperhatikan Ammar dan Ibel, seperti ada sesuatu hal serius yang sedang mereka bicarakan. Sadha pun penasaran, lalu dengan berani Sadha menghampiri Ammar dan Ibel.

"Mas... Kak..." panggil Sadha dari arah belakang Ammar dan membuat Ammar dan Ibel terkejut.

"Sadha... kamu sedang apa di sini?" tanya Ammar yang melihat ke arah Sadha.

"Harusnya Sadha yang bertanya seperti itu pada Mas dan Kak Ibel. Kalian sedang apa di sini?" ujar Sadha yang mendekati mas sulungnya itu.

"Kita tidak sedang apa-apa, Sadha. Kita hanya membahas masalah dinas besok karena jadwalnya yang tiba-tiba berubah." jawab Ibel yang berusaha meyakinkan Sadha agar dia tidak curiga.

"Sadha... sejak kapan kamu di sini?" tanya Ammar lagi pada Sadha karena takut Sadha sudah mendengar pembicaraan mereka.

"Baru saja, Mas. Sadha dari toilet lalu tidak sengaja melihat kalian di sini." jawab Sadha yang cukup penasaran dengan apa yang dibicarakan Ammar dan Ibel.

"Ya sudah. Ayo kita kembali ke dalam. Nanti Dhana dan Adek mencari kita." timpal Ibel yang jalan duluan lalu mengerlingkan matanya pada Ammar.

Ammar yang mengerti dengan isyarat Ibel pun menghela nafas jengah karena terpaksa harus menuruti isyarat sahabatnya itu.

"Ayo, Mas." ujar Sadha yang menarik tangan Ammar yang masih terdiam sambil berdiri.

Ammar menghela nafas panjang karena gagal untuk mendapatkan jawaban dari Ibel. Ia merasa kalau Dhina melarang Ibel untuk bicara yang sebenarnya. Melihat sikap Ibel yang tidak mau bicara jujur padanya, membuat Ammar memutuskan untuk mencari tau dengan caranya sendiri apa yang sedang disembunyikan oleh Dhina dan Ibel.

***

Setelah sampai di meja makan, Dhina melihat ekspresi Ammar yang berubah setelah kembali dari toilet bersama Sadha dan Ibel. Dhina kembali cemas karena takut Ibel sudah mengatakan semuanya tentang kondisinya saat ini yang tidak baik pada Ammar. Lalu dengan berani Dhina bertanya pada Ammar.

"Mas... lama sekali di toiletnya. Mas baik-baik saja 'kan?" ukar Dhina yang meraih tangan Ammar.

Mendengar pertanyaan Dhina, membuat hati Ammar tercubit. Bagaimana bisa adik perempuannya itu mencemaskan dirinya saat ini sedangkan Ammar tau ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada adik perempuannya itu.

"Mas tidak apa-apa, Dek. Adek sudah selesai makannya?" jawab Ammar sambil membelai lembut kepala Dhina yang menggunakan hijab.

"Sudah, Mas. Adek dan Mas Dhana sudah selesai makan." jawab Dhina dengan tersenyum manis pada Ammar.

"Oh iya, Mas. Ayah tadi menghubungi Dhana, habis ini kita langsung pulang. Soalnya besok Ayah ada rapat pagi, jadi tidak bisa pulang malam." jelas Dhana yang melihat ponselnya dan melirik ke arah Ammar.

"Ya sudah kalau begitu Mas, Ibel dan Sadha habiskan makanan dulu ya. Mubazir kalau tidak dimakan." jawab Ammar sambil menyuapi makanan pesanannya tadi.

"Iya, Mas. Tapi Dhana tunggu di luar ya sama Adek. Ayo Dek, kita keluar." ujar Dhana yang beranjak dan menarik tangan Dhina.

"Adek keluar dulu ya, Mas, Kak." timpal Dhina yang izin pergi keluar pada Ammar, Sadha dan Ibel.

"Iya, Sayang." jawab Ammar singkat sambil menyuapi makanan ke dalam mulutnya.

Si kembar pun memilih untuk menunggu di luar karena sudah merasa bosan duduk di dalam. Saat di luar, Dhina melihat ada ayunan yang tidak jauh dari sana. Lalu ia langsung menghampiri dan menaiki ayunan itu. Setelah duduk di ayunan, Dhina pun memanggil Dhana.

"Mas Dhana... ayo sini!" sahut Dhina yang melambaikan tangannya ke arah Dhana.

"Ya ampun, Dek. Mas kira siapa yang memanggil." jawab Dhana yang berjalan menuju ayunan itu.

Si kembar pun menikmati ayunan. Dhana yang sedang asyik melihat ponsel tiba-tiba diberi pertanyaan aneh oleh adik kembarnya itu.

"Mas... saat kecil, apakah Adek pernah sakit?" tanya Dhina yang menatap langit cerah dan membuat Dhana mengalihkan pandangannya pada Dhina.

"Kenapa Adek bertanya seperti itu?" tanya Dhana balik pada sang adik kembar.

"Tidak apa-apa. Adek hanya penasaran saja dan tiba-tiba kepikiran sama Adek." jawab Dhina yang menerawang.

Dhana yang mendengar pertanyaan Dhina pun menjadi heran.

"Mas tidak tau, Dek. Lagi pula kita dari bayi sampai dewasa selalu sama-sama. Jadi Mas tidak tau, Adek pernah sakit atau tidak saat kecil." jawab Dhana asal namun ia masih penasaran dengan maksud pertanyaan Dhina.

"Iya juga ya, Mas. Berarti Adek salah alamat untuk bertanya dong." ujar Dhina yang tertawa dan Dhana pun ikut tertawa.

Saat sedang asyik bercanda dengan Dhana, tiba-tiba Ammar, Sadha dan Ibel pun datang menghampiri mereka.

"Asyik sekali si kembar ini bercandanya. Ayo kita kembali ke villa. Ayah sudah menelpon Mas Ammar lagi tuh." ujar Sadha seraya menarik tangan kedua adik kembarnya itu.

"Sabar kenapa sih Mas." jawab Dhina pada Sadha yang menarik tangannya.

"Tau nih Mas Sadha. Ayah tidak akan pergi duluan meninggalkan kita, Mas." timpal Dhana yang ikut sewot pada Sadha.

Sadha yang terus menarik tangan keduanya pun tidak merespon apa yang dikatakan oleh kedua adik kembarnya itu. Sementara Ammar dan Ibel yang melihat tingkah ketiga adiknya itu pun hanya bisa menggelengkan kepala.

Saat berjalan, Ibel yang selalu melirik ke arah Ammar, mengira kalau Ammar sedang marah padanya. Lalu dengan memberanikan diri Ibel bertanya.

"Mas... kamu marah ya sama aku?" tanya Ibel sambil melihat ke arah Ammar.

"Tidak, aku tidak marah. Kalau kamu tidak mau cerita sama aku, aku bisa cari tau sendiri. Aku yakin kalau kamu pasti dilarang oleh Adek untuk cerita. Jadi aku tidak marah sama kamu." jawab Ammar yang menggenggam tangan Ibel.

"Jadi kamu marah sama Adek karena dia melarang aku untuk cerita?" tanya Ibel pada Ammar yang tanpa menyadari bahwa dirinya telah terpancing dengan perkataan Ammar.

"Benar ada sesuatu, bukan? Aku akan cari tau sendiri. Aku tidak mungkin marah sama Adek. Aku tidak marah pada siapapun, kamu tenang saja ya." jawab Ammar menenangkan Ibel dan membuat Ibel menjadi salah tingkah.

Jarak dari restoran menuju villa tidak terlalu jauh. Kini mereka sudah sampai di villa. Jam sudah menunjukan pukul empat sore. Saat masuk villa, mereka melihat Pak Aidi dan Bu Aini sedang duduk di ruang tamu.

"Ayah, Ibu... maaf ya kita terlalu lama di luar." ujar Ammar yang mewakili Ibel dan ketiga adiknya untuk meminta maaf.

"Iya, Nak. Tidak apa-apa. Lebih baik kalian bersiap. Kita harus pulang sekarang. Maaf ya kalau liburan kita hari ini tidak sesuai rencana. Soalnya Ayah kalian tadi mendapat kabar dari kantor kalau besok ada rapat pagi." jelas Bu Aini pada anak-anaknya.

"Iya Bu, tidak apa-apa. Lagi pula besok Sadha juga ada meeting mendadak sama klien." timpal Sadha yang ternyata ia juga mendapat pesan dari perusahaan bahwa ada meeting besok pagi.

"Ya sudah, kalian siap-siap dulu ya. Kasihan juga sama Nak Ibel kalau harus pulang malam. Tidak enak sama orang tuanya." ujar Bu Aini.

"Tidak apa-apa, Tante. Lagi pula Ibel sudah dewasa dan Bunda pasti juga mengerti." jawab Ibel yang meraih tangan Bu Aini dan dibalas anggukan oleh Bu Aini.

Setelah itu, Ibel pergi ke kamarnya untuk mengambil barang yang sempat ia tinggalkan tadi saat jalan-jalan. Sedangkan yang lain juga sedang siap-siap.

Setelah semua selesai bersiap, mereka pun langsung menuju mobil yang ada di tempat parkir. Saat sampai di tempat parkir, satu per satu dari mereka pun naik ke mobil.

Posisi duduk mereka kali ini berbeda dengan saat akan pergi. Kali ini Sadha yang membawa mobil dan Dhina duduk di depan bersama Sadha. Di tengah tetap Bu Aini dan Ibel. Sedangkan di belakang, ada Pak Aidi, Ammar, dan Dhana.

Di saat perjalanan, Ammar tiba-tiba kepikiran lagi dengan apa yang ingin dikatakan oleh Ibel tadi. Namun terpotong karena kedatangan Sadha. Kini Ammar merasa bahwa adik perempuannya itu sedang berusaha menjauh darinya karena takut diperhatikan. Bahkan tadi saat ingin naik ke mobil, Dhina berusaha memohon pada sang ayah untuk pindah ke belakang agar ia bisa duduk di depan bersama Sadha. Dengan alasan karena perutnya terasa tidak enak saat duduk di belakang. Padahal tadi saat pergi, Dhina baik-baik saja saat duduk di belakang.

Ammar pun termenung memikirkan itu. Ia pun bertekad akan mencari tau secepatnya apa yang sedang terjadi pada adik perempuannya itu.

Semoga tidak terjadi sesuatu yang serius pada Adek. Gumam Ammar dalam hati.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

Terpopuler

Comments

Mommy Gyo

Mommy Gyo

10;like hadir thor mampir

2021-09-28

0

SyaSyi

SyaSyi

aku mampir di karya mu membawa like
aku cicil baca dan like, aku sdh masukan ke favorite.
saling dukung karya ku " aku dan mantan kekasih suamiku "
aku tunggu feedbacknya

2021-06-06

1

Perjuangan cinta Tuan Muda

Perjuangan cinta Tuan Muda

5 jempol lg drku kak. syukaa bca critamu. semangat terooss.

2021-05-07

0

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan Tokoh
2 Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3 Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4 Episode 3 ~ Rencana Ibu
5 Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6 Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7 Episode 6 ~ On The Way Puncak
8 Episode 7 ~ Mulai Aneh
9 Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10 Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11 Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12 Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13 Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14 Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15 Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16 Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17 Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18 Episode 17 ~ Kecewa
19 Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20 Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21 Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22 Episode 21 ~ Diganggu Preman
23 Episode 22 ~ Foundation
24 Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25 Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26 Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27 Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28 Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29 Episode 28 ~ Terpukul
30 Episode 29 ~ Hilang
31 Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32 Episode 31 ~ Minta Maaf
33 Episode 32 ~ Berjodoh?
34 Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35 Episode 34 ~ Boleh Pulang
36 Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37 Episode 36 ~ Memar Lagi
38 Episode 37 ~ Balas Dendam
39 Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40 Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41 Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42 Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43 Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44 Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45 Episode 44 ~ Berenang
46 Episode 45 ~ Tenggelam
47 Episode 46 ~ Incaran Pertama
48 Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49 Episode 48 ~ Introgasi
50 Episode 49 ~ Sepemikiran
51 Episode 50 ~ Demam Tinggi
52 Episode 51 ~ Ibu Murka
53 Episode 52 ~ Kejutan
54 Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55 Episode 54 ~ Topeng Hantu
56 Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57 Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58 Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59 Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60 Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61 Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62 Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63 Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64 Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65 Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66 Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67 Episode 66 ~ Kemoterapi
68 Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69 Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70 Episode 69 ~ Mencari Tau
71 Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72 Episode 71 ~ Botak Bersama
73 Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74 Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75 Episode 74 ~ Muntah-muntah
76 Episode 75 ~ Karyawati Baru
77 Episode 76 ~ Barang Bukti
78 Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79 Episode 78 ~ Orang Asing
80 Episode 79 ~ Merubah Rencana
81 Episode 80 ~ Gelisah
82 Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83 Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84 Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85 Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86 Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87 Episode 86 ~ Mata Sembap
88 Episode 87 ~ Penyelidikan
89 Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90 Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91 Episode 90 ~ Obat Asing
92 Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93 Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94 Episode 93 ~ Stadium Tiga
95 Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96 Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97 Episode 96 ~ Rakha???
98 Episode 97 ~ Janji Dhina
99 Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100 Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101 Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102 Episode 101 ~ Melepas Rindu
103 Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104 Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105 Episode 104 ~ Semakin Sakit
106 Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107 Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108 Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109 Episode 108 ~ Tidak Tega
110 Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111 Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112 Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113 Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114 Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115 Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116 Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117 Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118 Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119 Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120 Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121 Visual
122 Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123 Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124 Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125 Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126 Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127 Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128 Episode 126 ~ Tes Mendadak
129 Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130 Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131 Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132 Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133 Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134 Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135 Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136 Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137 Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138 Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139 Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140 Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141 Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142 Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143 Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144 Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145 Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146 Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147 Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148 Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149 Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150 Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151 Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152 Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153 Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154 Episode 152 ~ Kenangan Manis
155 Episode 153 ~ Tetap Waspada
156 Episode 154 ~ Dijodohkan???
157 Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158 Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159 Episode 157 ~ Malam Pengajian
160 Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161 Episode 159 ~ Bucin
162 Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163 Episode 161 ~ First Kiss
164 Episode 162 ~ Baru Menyadari
165 Episode 163 ~ Balapan
166 Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167 Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168 Episode 166 ~ Masalah Lama
169 Episode 167 ~ Berita Bahagia
170 Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171 Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172 Episode 170 ~ Labil
173 Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174 Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175 Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176 Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177 Episode 175 ~ Komplikasi
178 Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179 Episode 177 ~ Perang Bathin
180 Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181 Episode 179 ~ Cuci Darah
182 Episode 180 ~ Dasar Mesum
183 Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184 Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185 Episode 183 ~ Bukan Peduli
186 Episode 184 ~ Botol Minum
187 Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188 Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189 Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190 Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191 Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192 Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193 Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194 Episode 192 ~ Terhalang Restu
195 Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196 Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197 Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198 Episode 196 ~ Jambret Nakal
199 Episode 197 ~ Bertemu Umi
200 Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201 Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202 Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203 Episode 201 ~ Hari Persiapan
204 Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205 Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206 Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207 Episode 205 ~ Firasat Dhana
208 Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209 Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210 Episode 208 ~ Akad Nikah
211 Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212 Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213 Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214 Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215 Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216 Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217 Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218 Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219 Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220 Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221 Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222 Surat Cinta Author dan Dhina
223 Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224 Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225 Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226 Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227 Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228 Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229 Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230 Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231 Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232 Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233 Pengumuman Novel Baru
234 Pemberitahuan Novel Sekuel
235 Novel Sekuel Sudah Rilis
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Pengenalan Tokoh
2
Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3
Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4
Episode 3 ~ Rencana Ibu
5
Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6
Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7
Episode 6 ~ On The Way Puncak
8
Episode 7 ~ Mulai Aneh
9
Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10
Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11
Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12
Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13
Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14
Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15
Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16
Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17
Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18
Episode 17 ~ Kecewa
19
Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20
Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21
Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22
Episode 21 ~ Diganggu Preman
23
Episode 22 ~ Foundation
24
Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25
Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26
Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27
Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28
Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29
Episode 28 ~ Terpukul
30
Episode 29 ~ Hilang
31
Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32
Episode 31 ~ Minta Maaf
33
Episode 32 ~ Berjodoh?
34
Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35
Episode 34 ~ Boleh Pulang
36
Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37
Episode 36 ~ Memar Lagi
38
Episode 37 ~ Balas Dendam
39
Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40
Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41
Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42
Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43
Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44
Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45
Episode 44 ~ Berenang
46
Episode 45 ~ Tenggelam
47
Episode 46 ~ Incaran Pertama
48
Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49
Episode 48 ~ Introgasi
50
Episode 49 ~ Sepemikiran
51
Episode 50 ~ Demam Tinggi
52
Episode 51 ~ Ibu Murka
53
Episode 52 ~ Kejutan
54
Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55
Episode 54 ~ Topeng Hantu
56
Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57
Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58
Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59
Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60
Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61
Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62
Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63
Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64
Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65
Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66
Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67
Episode 66 ~ Kemoterapi
68
Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69
Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70
Episode 69 ~ Mencari Tau
71
Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72
Episode 71 ~ Botak Bersama
73
Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74
Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75
Episode 74 ~ Muntah-muntah
76
Episode 75 ~ Karyawati Baru
77
Episode 76 ~ Barang Bukti
78
Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79
Episode 78 ~ Orang Asing
80
Episode 79 ~ Merubah Rencana
81
Episode 80 ~ Gelisah
82
Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83
Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84
Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85
Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86
Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87
Episode 86 ~ Mata Sembap
88
Episode 87 ~ Penyelidikan
89
Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90
Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91
Episode 90 ~ Obat Asing
92
Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93
Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94
Episode 93 ~ Stadium Tiga
95
Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96
Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97
Episode 96 ~ Rakha???
98
Episode 97 ~ Janji Dhina
99
Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100
Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101
Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102
Episode 101 ~ Melepas Rindu
103
Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104
Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105
Episode 104 ~ Semakin Sakit
106
Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107
Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108
Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109
Episode 108 ~ Tidak Tega
110
Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111
Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112
Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113
Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114
Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115
Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116
Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117
Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118
Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119
Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120
Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121
Visual
122
Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123
Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124
Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125
Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126
Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127
Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128
Episode 126 ~ Tes Mendadak
129
Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130
Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131
Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132
Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133
Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134
Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135
Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136
Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137
Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138
Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139
Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140
Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141
Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142
Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143
Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144
Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145
Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146
Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147
Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148
Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149
Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150
Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151
Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152
Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153
Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154
Episode 152 ~ Kenangan Manis
155
Episode 153 ~ Tetap Waspada
156
Episode 154 ~ Dijodohkan???
157
Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158
Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159
Episode 157 ~ Malam Pengajian
160
Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161
Episode 159 ~ Bucin
162
Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163
Episode 161 ~ First Kiss
164
Episode 162 ~ Baru Menyadari
165
Episode 163 ~ Balapan
166
Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167
Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168
Episode 166 ~ Masalah Lama
169
Episode 167 ~ Berita Bahagia
170
Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171
Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172
Episode 170 ~ Labil
173
Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174
Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175
Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176
Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177
Episode 175 ~ Komplikasi
178
Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179
Episode 177 ~ Perang Bathin
180
Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181
Episode 179 ~ Cuci Darah
182
Episode 180 ~ Dasar Mesum
183
Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184
Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185
Episode 183 ~ Bukan Peduli
186
Episode 184 ~ Botol Minum
187
Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188
Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189
Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190
Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191
Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192
Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193
Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194
Episode 192 ~ Terhalang Restu
195
Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196
Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197
Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198
Episode 196 ~ Jambret Nakal
199
Episode 197 ~ Bertemu Umi
200
Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201
Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202
Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203
Episode 201 ~ Hari Persiapan
204
Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205
Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206
Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207
Episode 205 ~ Firasat Dhana
208
Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209
Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210
Episode 208 ~ Akad Nikah
211
Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212
Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213
Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214
Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215
Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216
Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217
Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218
Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219
Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220
Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221
Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222
Surat Cinta Author dan Dhina
223
Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224
Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225
Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226
Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227
Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228
Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229
Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230
Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231
Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232
Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233
Pengumuman Novel Baru
234
Pemberitahuan Novel Sekuel
235
Novel Sekuel Sudah Rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!