...🍀🍀🍀...
Hari ini adalah hari senin. Hari di mana semua orang di rumah akan sibuk dengan aktifitas mereka, tapi tidak dengan Dhina. Ia hanya bisa berdiam diri di rumah karena sampai saat ini ia belum mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan. Beberapa waktu yang lalu, sempat ada panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang ada di Jakarta. Tapi karena ada kendala mendesak saat itu, membuat Dhina tidak bisa mengikuti panggilan kerja tersebut.
Jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Semua anggota keluarga, kecuali Dhina sudah berada di meja makan untuk sarapan sebelum melakukan aktifitas. Pak Aidi yang menyadari putrinya belum berada di meja makan bertanya pada yang lain.
"Sepertinya personil kita kurang satu ya." ujar Pak Aidi seraya menyeruput gelas teh hangat dan membaca koran.
"Adek mana?" tanya Ammar yang tersadar bahwa Dhina belum turun sambil melihat ke Sadha dan Dhana satu per satu.
"Tidak tau, Mas. Sepertinya masih tidur. Sejak kemarin Adek memang sering telat bangun 'kan?" jawab Dhana seraya mengambil nasi goreng buatan Bi Iyah.
Sadha pun terdiam saat mendengar jawaban Dhana. Sadha tiba-tiba teringat kembali dengan kejadian kemarin. Ia mengira kalau penyebab Dhina bangun telat akhir-akhir ini adalah karena kelelahan dan karena itu juga Dhina jadi mimisan.
Sementara Ammar yang mendengar jawaban Dhana, berniat untuk melihat Dhina ke kamarnya.
"Kalau begitu Mas ingin melihat Adek ke kamar dulu ya, Yah, Bu." ujar Ammar yang beranjak.
"Biar Sadha saja yang melihat Adek ke kamar, Mas. Mas sarapan saja di sini. Sebentar ya, Yah, Bu." timpal Sadha yang beranjak dan terus berjalan menuju lantai atas.
Melihat sikap Sadha yang cukup aneh, membuat Ammar menjadi heran.
Kenapa sikap Sadha aneh seperti itu? Kemarin saat mengemudi, dia melamun. Padahal tidak biasanya Sadha melamun seperti itu, apalagi saat mengemudi. Sekarang dia yang ingin melihat Adek ke kamar. Apa ada sesuatu yang disembunyikan Sadha dari ku. Gumam Ammar dalam hati
***
Dhina baru saja membuka mata dan berusaha untuk bangkit dari tidurnya. Ia berusaha untuk duduk karena kepalanya terasa sangat berat, bahkan lebih berat dari hari sebelumnya. Dhina pun terduduk di tepi tempat tidur dan mengambil gelas air yang ada di dekat sana. Sedangkan Sadha yang baru saja sampai di depan pintu kamar adik perempuannya itu, memilih untuk langsung membuka pintu dan masuk.
Dhina tidak sadar kalau Sadha membuka pintu kamarnya. Saat Dhina ingin berdiri, tiba-tiba ia terjatuh karena kepalanya yang terasa sangat berat.
Sadha yang melihat sang adik terjatuh pun membuat Sadha langsung berlari dengan sigap menangkap sang adik.
"Adek..."
Sadha pun memapa dan membawa Dhina duduk di tepi tempat tidur. Sadha merasa khawatir dengan keadaan adik perempuannya itu. Lalu...
"Mas Sadha..." ujar Dhina yang berada di dalam pelukan Sadha dan berusaha melihat wajah mas tengahnya itu.
"Adek kenapa? Kenapa bisa jatuh seperti ini?" tanya Sadha yang cemas melihat kondisi sang adik seperti ini.
"Adek tidak apa-apa, Mas. Setelah bangun Adek langsung berdiri, makanya terasa pusing lalu terjatuh." jawab Dhina yang berbohong pada Sadha.
Dhina terpaksa berbohong lagi pada Sadha. Padahal penyebab ia terjatuh adalah karena kepalanya yang terasa sangat berat. Bahkan dirinya sendiri tidak mampu berdiri dengan benar. Sadha pun menatap adik perempuannya itu.
"Adek yakin tidak apa-apa? Mas panggil Mas Ammar ya biar diperiksa." ujar Sadha hingga membuat Dhina mengangkat kepalanya.
"Jangan, Mas. Tidak perlu, Adek benar tidak apa-apa. Mas kenapa ke sini?" jawab Dhina dengan cepat karena tidak ingin semua orang tau kondisinya.
"Mas ingin melihat kondisi Adek. Tadi Mas Ammar yang ingin ke sini, tapi Mas cegah. Mas khawatir sama Adek, kita periksa ke dokter ya. Wajah Adek pucat sekali loh." ujar Sadha yang mengelus lembut kepala Dhina.
"Adek tidak apa-apa, Mas. Lebih baik Mas turun saja karena Adek mau mandi dulu. Setelah mandi, Adek langsung turun. Oke?" jawab Dhina yang berusaha meyakinkan Sadha.
"Adek yakin tidak apa-apa?" tanya Sadha lagi untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa adik perempuannya itu baik-baik saja.
"Yakin, Mas." jawab Dhina yang tersenyum sambil mencubit pipi Sadha.
"Ya sudah, cepat mandi setelah itu turun untuk sarapan. Jangan lama-lama ya, Sayang." ujar Sadha yang mencubit pipi adik perempuannya itu.
"Siap, Bos." jawab Dhina yang hormat pada Sadha.
Sadha hanya tersenyum melihat sikap Dhina yang biasa saja seperti itu lalu ia mengusap kepala sang adik. Sadha pun beranjak dari kamar Dhina lalu turun ke bawah. Setelah Sadha keluar, Dhina pun langsung menutup pintu kamarnya. Lalu Dhina segera masuk ke dalam kamar mandi. Saat ini Dhina masih merasakan berat yang amat sangat dikepalanya. Sebelum mandi, Dhina melamun di depan kaca kamar mandi.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Kepalaku berat sekali. Rasanya seperti ingin pecah. Untung saja Mas Sadha tidak curiga kalau aku sedang menahan sakit."
Saat Dhina mengangkat kepalanya, Dhina melihat ada darah segar lagi yang keluar dari hidungnya. Dengan cepat, ia mengambil tisu dan mengusapnya.
"Ya ampun, mimisan lagi. Untung saja Mas Sadha tidak melihat ini."
Dhina pun membersihkan darah di hidungnya.
"Sudah empat kali aku mimisan seperti ini. Kepalaku juga sangat sakit. Apa aku kurang tidur atau aku kelelahan?"
Setelah hidungnya bersih dari darah, Dhina pun langsung mandi agar keluarganya tidak curiga karena dirinya sangat lama berada di kamar. Sementara Sadha sudah kembali dari kamar Dhina dan menuju ke meja makan.
"Adek mana Mas? Kenapa Mas lama sekali di kamar Adek?" tanya Dhana yang melihat Sadha turun dari tangga menuju meja makan.
"Adek sedang mandi, Dhana. Sebentar lagi juga turun." jawab Sadha sambil duduk di tempatnya semula.
"Adek baik-baik saja 'kan Sadha?" timpal Ammar hingga membuat Sadha tersedak saat mendengar pertanyaan Ammar.
Sadha yang tersedak pun langsung minum air dan terdiam.
Tidak mungkin aku memberitahu Mas Ammar kalau Adek sempat terjatuh tadi. Sebenarnya aku juga khawatir, tapi mungkin yang dikatakan Adek benar. Adek ingin bangun tapi dia tidak duduk terlebih dahulu. Gumam Sadha dalam hati.
"Aman kok, Mas. Tadi saat Sadha masuk ke kamarnya, Adek sedang bersiap akan mandi." jawab Sadha setelah minum sambil meletakan gelasnya.
Ammar tetap tidak puas dengan jawaban adik tengahnya itu. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Selain mencari tau yang sebenarnya. Lalu...
"Anak-anak... Ayah sama Ibu berangkat duluan ya. Nanti kalau adik kalian makan, berikan makanan ini. Sudah Ibu siapkan. Ayah kalian buru-buru, jadi Ibu juga harus ikut karena kita berangkat sama-sama." jelas Bu Aini pada ketiga anaknya yang sedang makan.
"Iya, Ibu. Ayah dan Ibu hati-hati ya." jawab Ammar seraya menyalami Pak Aidi dan Bu Aini.
"Iya, Ibu pergi dulu ya. Assalamualaikum." ucap Bu Aini sambil membalas salaman ketiga putranya.
"Ayah pergi dulu ya. Assalamualaikum." timpal Pak Aidi yang juga membalas salaman ketiga putranya.
"Wa'alaikumsalam, Ayah, Ibu." jawab Ammar, Sadha dan Dhana.
Setelah Pak Aidi dan Bu Aini pergi, ketiga pria itu pun melanjutkan sarapan mereka. Namun...
"Mas... Dhana perhatikan sejak kemarin ada yang aneh dengan sikap Adek." ujar Dhana yang ikut merasakan ada sesuatu terjadi pada adik kembarnya.
Ammar dan Sadha yang mendengar perkataan Dhana, saling pandang. Ammar sejak kemarin memang merasakan hal aneh yang sedang terjadi pada adik perempuannya itu. Sementara Sadha yang melihat Dhina mimisan sore itu dan ditambah lagi dengan kejadian tadi, juga merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Dhina.
"Aneh? Maksud kamu Dhana?" tanya Sadha dengan heran dan berusaha mencari tau apa yang Dhana ketahui.
"Aneh saja, Mas. Adek yang biasanya bangun lebih cepat dari kita bertiga, beberapa hari ini Adek berubah jadi suka telat bangun." jawab Dhana yang sudah selesai makan dan masih duduk di meja makan.
Ammar dan Sadha pun tetap bergeming, berusaha menganalisa dengan pikiran mereka masing-masing.
"Lalu kalau Dhana perhatikan, kemarin saat di puncak Adek mudah sekali kelelahan. Lalu wajahnya pucat, sering diam dan melamun." ujar Dhana lagi.
Ammar dan Sadha masih diam. Mereka tetap makan seraya mendengar perkataan Dhana.
"Apakah Mas Ammar dan Mas Sadha tidak merasakan itu? Apa hanya Dhana yang merasakan perubahan sikap dan kebiasaan Adek?" tanya Dhana pada kedua masnya itu.
"Mas sebenarnya juga heran, Adek banyak berubah sejak kemarin. Sejak Adek keluar dari toilet bersama Ibel. Adek lebih banyak diam." jawab Ammar yang juga baru selesai makan.
"Mas Sadha bagaimana?" tanya Dhana pada Sadha.
Sadha terdiam saat Dhana bertanya padanya dan membuatnya gugup karena ia cukup tau dengan kondisi Dhina saat ini. Walaupun dirinya sendiri pun tidak tau pasti kondisi sang adik.
"T-tidak. Mas tidak merasakan apa-apa. Mungkin Adek hanya kelelahan karena liburan kemarin." jawab Sadha yang berusaha tenang.
Ammar pun semakin yakin saat mendengar jawaban Sadha. Kalau sedang terjadi sesuatu pada Dhina yang sudah diketahui oleh Sadha. Namun Sadha tidak ingin mengatakan hal itu. Lalu...
"Ya sudah kalau begitu, Mas ingin ke atas sebentar. Ingin mengambil sesuatu." ujar Ammar yang beranjak dari kursinya lalu pergi menuju lantai atas.
Sadha yang mendengar Ammar ingin ke atas, merasa cemas kalau mas sulungnya itu menemui Dhina. Walaupun sebenarnya itu bagus, artinya Ammar bisa melihat sendiri kondisi Dhina. Kini tinggal Sadha dan Dhana yang masih di meja makan. Lalu...
"Dhana... kamu ke mana hari ini?" tanya Sadha pada adik kembarnya itu seraya merapihkan piringnya.
"Sepertinya Dhana di rumah saja, Mas. Lagi malas ke cafe. Dhana masih lelah karena liburan kemarin." jawab Dhana dan membuat Sadha sedikit lega karena Dhina tidak sendirian di rumah.
"Ya sudah. Mas mau ke atas dulu ya, pamit sama Mas Ammar dan Adek." ujar Sadha yang beranjak lalu berjalan menuju lantai atas.
Sementara Ammar yang sedang menuju ke kamarnya, melihat Dhina yang baru keluar kamar.
"Adek... baru bangun Sayang?" sapa Ammar sambil berjalan menuju ke arah Dhina.
"Tidak, Mas. Adek baru selesai mandi. Mas belum berangkat?" jawab Dhina yang bertanya balik pada Ammar seraya menutup pintu kamarnya.
"Iya, ini Mas mau berangkat. Tas Mas ketinggalan di kamar. Mas ambil dulu ya. Lebih baik Adek turun ke bawah karena sarapan Adek sudah disiapkan oleh Ibu." ujar Ammar seraya memegang bahu Dhina.
"Kalau begitu Adek ke bawah ya, Mas." jawab Dhina sambil meraih tangan Ammar yang ada di pundaknya.
Ammar pun mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tasnya. Sedangkan Dhina ingin turun tangga berpapasan dengan Sadha.
"Mas Sadha belum berangkat juga? Ini sudah jam tujuh, Mas." ujar Dhina pada Sadha yang sudah sampai di lantai atas.
"Ini Mas mau berangkat. Mas mau pamit sama Adek dan Mas Ammar. Mas Ammar di kamar?" jawab Sadha yang menanyakan Ammar.
"Iya, barusan Mas Ammar masuk kamar sedang mengambil tas katanya." ujar Dhina yang melihat ke arah kamar Ammar.
"Mas pamit sama Mas Ammar dulu ya, Dek. Adek sarapan dulu. Makanan Adek sudah ada di atas meja." jawab Sadha pada Dhina lalu berjalan menuju kamar Ammar.
Setelah itu, Dhina pun turun ke bawah. Sedangkan Sadha pergi ke kamar Ammar untuk berpamitan pergi kerja.
"Mas... Sadha berangkat duluan ya. Hari ini ada meeting pagi dengan klien." sahut Sadha dari luar kamar Ammar yang sedikit terbuka.
"Iya, Sadha. Hati-hati ya. Semangat meeting nya. Jangan lupa bismillah dan fokus." jawab Ammar yang sedang membereskan tasnya
"Oke, Mas. Do'akan Sadha ya. Assalamualaikum." ujar Sadha lalu pergi dari kamar Ammar.
"Wa'alaikumsalam." jawab Ammar yang melihat Sadha sudah pergi.
Setelah Sadha pamit pada Ammar, Sadha pun langsung turun dan pamit juga pada adik kembarnya.
"Dhana, Adek... Mas berangkat dulu ya. Kalian hati-hati di rumah. Assalamualaikum." ujar Sadha yang berjalan keluar rumah dan menuju ke mobilnya.
"Wa'alaikumsalam. Semangat meeting nya ya, Mas." jawab Dhana dan Dhina dari arah yang berbeda namun serentak.
***
Ammar sudah selesai mengemas tas dinasnya. Ia langsung keluar dan hendak turun ke bawah. Tapi saat melewati kamar Dhina, Ammar kembali teringat dengan sikap Dhina yang berubah.
Ammar pun berniat untuk masuk ke kamar adik perempuannya itu. Ia ingin mencari tau sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk. Awalnya Ammar merasa ragu, tapi hatinya keras untuk mencari tau tentang apa yang sedang disembunyikan oleh Dhina. Lagi pula hari ini, jadwal dinas Ammar sebenarnya agak siang. Jadi ia mempunyai waktu luang untuk menyelidiki.
Dengan penuh keyakinan, Ammar pun melangkah masuk ke kamar Dhina. Ammar berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Perlahan Ammar mulai menyusuri kamar Dhina. Mulai dari kasur, lemari, hingga ke kamar mandi. Namun tidak ada yang mencurigakan.
Merasa tidak ada sesuatu yang mencurigakan, Ammar pun memutuskan untuk keluar. Tapi pada saat Ammar ingin berjalan keluar, tiba-tiba Ammar melihat sebuah tisu yang penuh dengan darah di dalam tempat sampah kamar Dhina.
"Darah siapa ini? Apa ini darah Adek? Tapi kenapa banyak seperti ini. Apa yang terjadi pada Adek sebenarnya?"
Satu per satu helai tisu itu pun Ammar periksa. Ternyata tidak hanya sehelai tapi banyak helai tisu yang penuh dengan darah.
"Lebih baik aku membawa tisu ini ke rumah sakit. Aku akan memeriksa darah siapa yang ada di tisu ini."
Ammar pun memasukan tisu berdarah itu dalam tasnya dan pergi dari kamar Dhina.
Di lantai bawah, Dhina sedang makan di dekat ruang keluarga sambil nonton TV bersama Dhana yang sedang asyik bermain dengan ponselnya.
"Mas Dhana tidak ke cafe hari ini?" tanya Dhina sambil menyuapi makanannya.
"Tidak dulu sepertinya, Dek. Mas lagi malas sekali." jawab Dhana yang asyik memainkan ponselnya.
Dhina hanya menganggukan kepalanya, tanda mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Dhana. Tidak lama kemudian, Ammar sampai di lantai bawah dan melihat si kembar yang berada di ruang keluarga.
"Dhana, Adek... Mas berangkat dinas dulu ya. Kalian hati-hati di rumah. Assalamualaikum." ujar Ammar seraya bersalaman dengan kedua adik kembarnya itu.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya Mas." jawab Dhina sambil menyalami mas sulungnya itu.
"Wa'alaikumsalam, Mas." jawab Dhana yang terduduk dan menyalami Ammar.
Ammar pun pergi menuju rumah sakit. Saat di jalan, pikiran Ammar hanya tertuju pada tisu berdarah yang ia temukan tadi dan juga adik perempuannya.
"Kalau benar itu darah Adek, darah apa itu? Apa mungkin Adek mimisan? Dari aromanya, darah itu bukan darah kotor tapi darah segar. Kalau pun itu darah luka, tidak mungkin sebanyak itu."
Pikiran Ammar benar-benar menerawang saat ini karena tisu berdarah itu.
"Aku harus cepat mencari tau tentang ini."
Di sepanjang perjalanan, Ammar hanya memikirkan tisu berdarah itu dan Dhina. Memikirkan adakah hubungan Dhina dengan darah yang ada di tisu itu. Pikiran Ammar sangat kacau saat ini. Sebelum ia memeriksa darah itu, maka sampai kapan pun pikirannya akan tetap seperti ini. Dengan cepat Ammar melajukan mobilnya agar bisa segera sampai di rumah sakit dan langsung membawa tisu berdarah itu ke laboratorium.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
coni
Dhina gapapa kok, kasih tahu aja😢😢
2021-05-01
0
Nofi Kahza
ya ampun dhina..sebaiknya kamu segera kasih tahu keadaanmu biar bs segeran ditindaklanjuti..😢
Masya Allah.. aku blm pernah melihat kebersamaan keluarga yg seharmonis ini. bener2 saling menghormati dan sling menyayangi🥰
2021-03-09
2
Puan Harahap
hadir kk 11 like sudah mendarat
⚘⚘PRIA IDOLA DAN
MENIKAHI PRIA URAKAN⚘⚘
Yuk saling dukung
2021-02-22
2