Episode 11 ~ Tisu Berdarah

...🍀🍀🍀...

Hari ini adalah hari senin. Hari di mana semua orang di rumah akan sibuk dengan aktifitas mereka, tapi tidak dengan Dhina. Ia hanya bisa berdiam diri di rumah karena sampai saat ini ia belum mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan. Beberapa waktu yang lalu, sempat ada panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang ada di Jakarta. Tapi karena ada kendala mendesak saat itu, membuat Dhina tidak bisa mengikuti panggilan kerja tersebut.

Jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Semua anggota keluarga, kecuali Dhina sudah berada di meja makan untuk sarapan sebelum melakukan aktifitas. Pak Aidi yang menyadari putrinya belum berada di meja makan bertanya pada yang lain.

"Sepertinya personil kita kurang satu ya." ujar Pak Aidi seraya menyeruput gelas teh hangat dan membaca koran.

"Adek mana?" tanya Ammar yang tersadar bahwa Dhina belum turun sambil melihat ke Sadha dan Dhana satu per satu.

"Tidak tau, Mas. Sepertinya masih tidur. Sejak kemarin Adek memang sering telat bangun 'kan?" jawab Dhana seraya mengambil nasi goreng buatan Bi Iyah.

Sadha pun terdiam saat mendengar jawaban Dhana. Sadha tiba-tiba teringat kembali dengan kejadian kemarin. Ia mengira kalau penyebab Dhina bangun telat akhir-akhir ini adalah karena kelelahan dan karena itu juga Dhina jadi mimisan.

Sementara Ammar yang mendengar jawaban Dhana, berniat untuk melihat Dhina ke kamarnya.

"Kalau begitu Mas ingin melihat Adek ke kamar dulu ya, Yah, Bu." ujar Ammar yang beranjak.

"Biar Sadha saja yang melihat Adek ke kamar, Mas. Mas sarapan saja di sini. Sebentar ya, Yah, Bu." timpal Sadha yang beranjak dan terus berjalan menuju lantai atas.

Melihat sikap Sadha yang cukup aneh, membuat Ammar menjadi heran.

Kenapa sikap Sadha aneh seperti itu? Kemarin saat mengemudi, dia melamun. Padahal tidak biasanya Sadha melamun seperti itu, apalagi saat mengemudi. Sekarang dia yang ingin melihat Adek ke kamar. Apa ada sesuatu yang disembunyikan Sadha dari ku. Gumam Ammar dalam hati

***

Dhina baru saja membuka mata dan berusaha untuk bangkit dari tidurnya. Ia berusaha untuk duduk karena kepalanya terasa sangat berat, bahkan lebih berat dari hari sebelumnya. Dhina pun terduduk di tepi tempat tidur dan mengambil gelas air yang ada di dekat sana. Sedangkan Sadha yang baru saja sampai di depan pintu kamar adik perempuannya itu, memilih untuk langsung membuka pintu dan masuk.

Dhina tidak sadar kalau Sadha membuka pintu kamarnya. Saat Dhina ingin berdiri, tiba-tiba ia terjatuh karena kepalanya yang terasa sangat berat.

Sadha yang melihat sang adik terjatuh pun membuat Sadha langsung berlari dengan sigap menangkap sang adik.

"Adek..."

Sadha pun memapa dan membawa Dhina duduk di tepi tempat tidur. Sadha merasa khawatir dengan keadaan adik perempuannya itu. Lalu...

"Mas Sadha..." ujar Dhina yang berada di dalam pelukan Sadha dan berusaha melihat wajah mas tengahnya itu.

"Adek kenapa? Kenapa bisa jatuh seperti ini?" tanya Sadha yang cemas melihat kondisi sang adik seperti ini.

"Adek tidak apa-apa, Mas. Setelah bangun Adek langsung berdiri, makanya terasa pusing lalu terjatuh." jawab Dhina yang berbohong pada Sadha.

Dhina terpaksa berbohong lagi pada Sadha. Padahal penyebab ia terjatuh adalah karena kepalanya yang terasa sangat berat. Bahkan dirinya sendiri tidak mampu berdiri dengan benar. Sadha pun menatap adik perempuannya itu.

"Adek yakin tidak apa-apa? Mas panggil Mas Ammar ya biar diperiksa." ujar Sadha hingga membuat Dhina mengangkat kepalanya.

"Jangan, Mas. Tidak perlu, Adek benar tidak apa-apa. Mas kenapa ke sini?" jawab Dhina dengan cepat karena tidak ingin semua orang tau kondisinya.

"Mas ingin melihat kondisi Adek. Tadi Mas Ammar yang ingin ke sini, tapi Mas cegah. Mas khawatir sama Adek, kita periksa ke dokter ya. Wajah Adek pucat sekali loh." ujar Sadha yang mengelus lembut kepala Dhina.

"Adek tidak apa-apa, Mas. Lebih baik Mas turun saja karena Adek mau mandi dulu. Setelah mandi, Adek langsung turun. Oke?" jawab Dhina yang berusaha meyakinkan Sadha.

"Adek yakin tidak apa-apa?" tanya Sadha lagi untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa adik perempuannya itu baik-baik saja.

"Yakin, Mas." jawab Dhina yang tersenyum sambil mencubit pipi Sadha.

"Ya sudah, cepat mandi setelah itu turun untuk sarapan. Jangan lama-lama ya, Sayang." ujar Sadha yang mencubit pipi adik perempuannya itu.

"Siap, Bos." jawab Dhina yang hormat pada Sadha.

Sadha hanya tersenyum melihat sikap Dhina yang biasa saja seperti itu lalu ia mengusap kepala sang adik. Sadha pun beranjak dari kamar Dhina lalu turun ke bawah. Setelah Sadha keluar, Dhina pun langsung menutup pintu kamarnya. Lalu Dhina segera masuk ke dalam kamar mandi. Saat ini Dhina masih merasakan berat yang amat sangat dikepalanya. Sebelum mandi, Dhina melamun di depan kaca kamar mandi.

"Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Kepalaku berat sekali. Rasanya seperti ingin pecah. Untung saja Mas Sadha tidak curiga kalau aku sedang menahan sakit."

Saat Dhina mengangkat kepalanya, Dhina melihat ada darah segar lagi yang keluar dari hidungnya. Dengan cepat, ia mengambil tisu dan mengusapnya.

"Ya ampun, mimisan lagi. Untung saja Mas Sadha tidak melihat ini."

Dhina pun membersihkan darah di hidungnya.

"Sudah empat kali aku mimisan seperti ini. Kepalaku juga sangat sakit. Apa aku kurang tidur atau aku kelelahan?"

Setelah hidungnya bersih dari darah, Dhina pun langsung mandi agar keluarganya tidak curiga karena dirinya sangat lama berada di kamar. Sementara Sadha sudah kembali dari kamar Dhina dan menuju ke meja makan.

"Adek mana Mas? Kenapa Mas lama sekali di kamar Adek?" tanya Dhana yang melihat Sadha turun dari tangga menuju meja makan.

"Adek sedang mandi, Dhana. Sebentar lagi juga turun." jawab Sadha sambil duduk di tempatnya semula.

"Adek baik-baik saja 'kan Sadha?" timpal Ammar hingga membuat Sadha tersedak saat mendengar pertanyaan Ammar.

Sadha yang tersedak pun langsung minum air dan terdiam.

Tidak mungkin aku memberitahu Mas Ammar kalau Adek sempat terjatuh tadi. Sebenarnya aku juga khawatir, tapi mungkin yang dikatakan Adek benar. Adek ingin bangun tapi dia tidak duduk terlebih dahulu. Gumam Sadha dalam hati.

"Aman kok, Mas. Tadi saat Sadha masuk ke kamarnya, Adek sedang bersiap akan mandi." jawab Sadha setelah minum sambil meletakan gelasnya.

Ammar tetap tidak puas dengan jawaban adik tengahnya itu. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Selain mencari tau yang sebenarnya. Lalu...

"Anak-anak... Ayah sama Ibu berangkat duluan ya. Nanti kalau adik kalian makan, berikan makanan ini. Sudah Ibu siapkan. Ayah kalian buru-buru, jadi Ibu juga harus ikut karena kita berangkat sama-sama." jelas Bu Aini pada ketiga anaknya yang sedang makan.

"Iya, Ibu. Ayah dan Ibu hati-hati ya." jawab Ammar seraya menyalami Pak Aidi dan Bu Aini.

"Iya, Ibu pergi dulu ya. Assalamualaikum." ucap Bu Aini sambil membalas salaman ketiga putranya.

"Ayah pergi dulu ya. Assalamualaikum." timpal Pak Aidi yang juga membalas salaman ketiga putranya.

"Wa'alaikumsalam, Ayah, Ibu." jawab Ammar, Sadha dan Dhana.

Setelah Pak Aidi dan Bu Aini pergi, ketiga pria itu pun melanjutkan sarapan mereka. Namun...

"Mas... Dhana perhatikan sejak kemarin ada yang aneh dengan sikap Adek." ujar Dhana yang ikut merasakan ada sesuatu terjadi pada adik kembarnya.

Ammar dan Sadha yang mendengar perkataan Dhana, saling pandang. Ammar sejak kemarin memang merasakan hal aneh yang sedang terjadi pada adik perempuannya itu. Sementara Sadha yang melihat Dhina mimisan sore itu dan ditambah lagi dengan kejadian tadi, juga merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Dhina.

"Aneh? Maksud kamu Dhana?" tanya Sadha dengan heran dan berusaha mencari tau apa yang Dhana ketahui.

"Aneh saja, Mas. Adek yang biasanya bangun lebih cepat dari kita bertiga, beberapa hari ini Adek berubah jadi suka telat bangun." jawab Dhana yang sudah selesai makan dan masih duduk di meja makan.

Ammar dan Sadha pun tetap bergeming, berusaha menganalisa dengan pikiran mereka masing-masing.

"Lalu kalau Dhana perhatikan, kemarin saat di puncak Adek mudah sekali kelelahan. Lalu wajahnya pucat, sering diam dan melamun." ujar Dhana lagi.

Ammar dan Sadha masih diam. Mereka tetap makan seraya mendengar perkataan Dhana.

"Apakah Mas Ammar dan Mas Sadha tidak merasakan itu? Apa hanya Dhana yang merasakan perubahan sikap dan kebiasaan Adek?" tanya Dhana pada kedua masnya itu.

"Mas sebenarnya juga heran, Adek banyak berubah sejak kemarin. Sejak Adek keluar dari toilet bersama Ibel. Adek lebih banyak diam." jawab Ammar yang juga baru selesai makan.

"Mas Sadha bagaimana?" tanya Dhana pada Sadha.

Sadha terdiam saat Dhana bertanya padanya dan membuatnya gugup karena ia cukup tau dengan kondisi Dhina saat ini. Walaupun dirinya sendiri pun tidak tau pasti kondisi sang adik.

"T-tidak. Mas tidak merasakan apa-apa. Mungkin Adek hanya kelelahan karena liburan kemarin." jawab Sadha yang berusaha tenang.

Ammar pun semakin yakin saat mendengar jawaban Sadha. Kalau sedang terjadi sesuatu pada Dhina yang sudah diketahui oleh Sadha. Namun Sadha tidak ingin mengatakan hal itu. Lalu...

"Ya sudah kalau begitu, Mas ingin ke atas sebentar. Ingin mengambil sesuatu." ujar Ammar yang beranjak dari kursinya lalu pergi menuju lantai atas.

Sadha yang mendengar Ammar ingin ke atas, merasa cemas kalau mas sulungnya itu menemui Dhina. Walaupun sebenarnya itu bagus, artinya Ammar bisa melihat sendiri kondisi Dhina. Kini tinggal Sadha dan Dhana yang masih di meja makan. Lalu...

"Dhana... kamu ke mana hari ini?" tanya Sadha pada adik kembarnya itu seraya merapihkan piringnya.

"Sepertinya Dhana di rumah saja, Mas. Lagi malas ke cafe. Dhana masih lelah karena liburan kemarin." jawab Dhana dan membuat Sadha sedikit lega karena Dhina tidak sendirian di rumah.

"Ya sudah. Mas mau ke atas dulu ya, pamit sama Mas Ammar dan Adek." ujar Sadha yang beranjak lalu berjalan menuju lantai atas.

Sementara Ammar yang sedang menuju ke kamarnya, melihat Dhina yang baru keluar kamar.

"Adek... baru bangun Sayang?" sapa Ammar sambil berjalan menuju ke arah Dhina.

"Tidak, Mas. Adek baru selesai mandi. Mas belum berangkat?" jawab Dhina yang bertanya balik pada Ammar seraya menutup pintu kamarnya.

"Iya, ini Mas mau berangkat. Tas Mas ketinggalan di kamar. Mas ambil dulu ya. Lebih baik Adek turun ke bawah karena sarapan Adek sudah disiapkan oleh Ibu." ujar Ammar seraya memegang bahu Dhina.

"Kalau begitu Adek ke bawah ya, Mas." jawab Dhina sambil meraih tangan Ammar yang ada di pundaknya.

Ammar pun mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tasnya. Sedangkan Dhina ingin turun tangga berpapasan dengan Sadha.

"Mas Sadha belum berangkat juga? Ini sudah jam tujuh, Mas." ujar Dhina pada Sadha yang sudah sampai di lantai atas.

"Ini Mas mau berangkat. Mas mau pamit sama Adek dan Mas Ammar. Mas Ammar di kamar?" jawab Sadha yang menanyakan Ammar.

"Iya, barusan Mas Ammar masuk kamar sedang mengambil tas katanya." ujar Dhina yang melihat ke arah kamar Ammar.

"Mas pamit sama Mas Ammar dulu ya, Dek. Adek sarapan dulu. Makanan Adek sudah ada di atas meja." jawab Sadha pada Dhina lalu berjalan menuju kamar Ammar.

Setelah itu, Dhina pun turun ke bawah. Sedangkan Sadha pergi ke kamar Ammar untuk berpamitan pergi kerja.

"Mas... Sadha berangkat duluan ya. Hari ini ada meeting pagi dengan klien." sahut Sadha dari luar kamar Ammar yang sedikit terbuka.

"Iya, Sadha. Hati-hati ya. Semangat meeting nya. Jangan lupa bismillah dan fokus." jawab Ammar yang sedang membereskan tasnya

"Oke, Mas. Do'akan Sadha ya. Assalamualaikum." ujar Sadha lalu pergi dari kamar Ammar.

"Wa'alaikumsalam." jawab Ammar yang melihat Sadha sudah pergi.

Setelah Sadha pamit pada Ammar, Sadha pun langsung turun dan pamit juga pada adik kembarnya.

"Dhana, Adek... Mas berangkat dulu ya. Kalian hati-hati di rumah. Assalamualaikum." ujar Sadha yang berjalan keluar rumah dan menuju ke mobilnya.

"Wa'alaikumsalam. Semangat meeting nya ya, Mas." jawab Dhana dan Dhina dari arah yang berbeda namun serentak.

***

Ammar sudah selesai mengemas tas dinasnya. Ia langsung keluar dan hendak turun ke bawah. Tapi saat melewati kamar Dhina, Ammar kembali teringat dengan sikap Dhina yang berubah.

Ammar pun berniat untuk masuk ke kamar adik perempuannya itu. Ia ingin mencari tau sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk. Awalnya Ammar merasa ragu, tapi hatinya keras untuk mencari tau tentang apa yang sedang disembunyikan oleh Dhina. Lagi pula hari ini, jadwal dinas Ammar sebenarnya agak siang. Jadi ia mempunyai waktu luang untuk menyelidiki.

Dengan penuh keyakinan, Ammar pun melangkah masuk ke kamar Dhina. Ammar berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Perlahan Ammar mulai menyusuri kamar Dhina. Mulai dari kasur, lemari, hingga ke kamar mandi. Namun tidak ada yang mencurigakan.

Merasa tidak ada sesuatu yang mencurigakan, Ammar pun memutuskan untuk keluar. Tapi pada saat Ammar ingin berjalan keluar, tiba-tiba Ammar melihat sebuah tisu yang penuh dengan darah di dalam tempat sampah kamar Dhina.

"Darah siapa ini? Apa ini darah Adek? Tapi kenapa banyak seperti ini. Apa yang terjadi pada Adek sebenarnya?"

Satu per satu helai tisu itu pun Ammar periksa. Ternyata tidak hanya sehelai tapi banyak helai tisu yang penuh dengan darah.

"Lebih baik aku membawa tisu ini ke rumah sakit. Aku akan memeriksa darah siapa yang ada di tisu ini."

Ammar pun memasukan tisu berdarah itu dalam tasnya dan pergi dari kamar Dhina.

Di lantai bawah, Dhina sedang makan di dekat ruang keluarga sambil nonton TV bersama Dhana yang sedang asyik bermain dengan ponselnya.

"Mas Dhana tidak ke cafe hari ini?" tanya Dhina sambil menyuapi makanannya.

"Tidak dulu sepertinya, Dek. Mas lagi malas sekali." jawab Dhana yang asyik memainkan ponselnya.

Dhina hanya menganggukan kepalanya, tanda mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Dhana. Tidak lama kemudian, Ammar sampai di lantai bawah dan melihat si kembar yang berada di ruang keluarga.

"Dhana, Adek... Mas berangkat dinas dulu ya. Kalian hati-hati di rumah. Assalamualaikum." ujar Ammar seraya bersalaman dengan kedua adik kembarnya itu.

"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya Mas." jawab Dhina sambil menyalami mas sulungnya itu.

"Wa'alaikumsalam, Mas." jawab Dhana yang terduduk dan menyalami Ammar.

Ammar pun pergi menuju rumah sakit. Saat di jalan, pikiran Ammar hanya tertuju pada tisu berdarah yang ia temukan tadi dan juga adik perempuannya.

"Kalau benar itu darah Adek, darah apa itu? Apa mungkin Adek mimisan? Dari aromanya, darah itu bukan darah kotor tapi darah segar. Kalau pun itu darah luka, tidak mungkin sebanyak itu."

Pikiran Ammar benar-benar menerawang saat ini karena tisu berdarah itu.

"Aku harus cepat mencari tau tentang ini."

Di sepanjang perjalanan, Ammar hanya memikirkan tisu berdarah itu dan Dhina. Memikirkan adakah hubungan Dhina dengan darah yang ada di tisu itu. Pikiran Ammar sangat kacau saat ini. Sebelum ia memeriksa darah itu, maka sampai kapan pun pikirannya akan tetap seperti ini. Dengan cepat Ammar melajukan mobilnya agar bisa segera sampai di rumah sakit dan langsung membawa tisu berdarah itu ke laboratorium.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

Terpopuler

Comments

coni

coni

Dhina gapapa kok, kasih tahu aja😢😢

2021-05-01

0

Nofi Kahza

Nofi Kahza

ya ampun dhina..sebaiknya kamu segera kasih tahu keadaanmu biar bs segeran ditindaklanjuti..😢

Masya Allah.. aku blm pernah melihat kebersamaan keluarga yg seharmonis ini. bener2 saling menghormati dan sling menyayangi🥰

2021-03-09

2

Puan Harahap

Puan Harahap

hadir kk 11 like sudah mendarat
⚘⚘PRIA IDOLA DAN
MENIKAHI PRIA URAKAN⚘⚘
Yuk saling dukung

2021-02-22

2

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan Tokoh
2 Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3 Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4 Episode 3 ~ Rencana Ibu
5 Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6 Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7 Episode 6 ~ On The Way Puncak
8 Episode 7 ~ Mulai Aneh
9 Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10 Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11 Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12 Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13 Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14 Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15 Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16 Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17 Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18 Episode 17 ~ Kecewa
19 Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20 Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21 Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22 Episode 21 ~ Diganggu Preman
23 Episode 22 ~ Foundation
24 Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25 Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26 Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27 Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28 Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29 Episode 28 ~ Terpukul
30 Episode 29 ~ Hilang
31 Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32 Episode 31 ~ Minta Maaf
33 Episode 32 ~ Berjodoh?
34 Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35 Episode 34 ~ Boleh Pulang
36 Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37 Episode 36 ~ Memar Lagi
38 Episode 37 ~ Balas Dendam
39 Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40 Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41 Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42 Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43 Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44 Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45 Episode 44 ~ Berenang
46 Episode 45 ~ Tenggelam
47 Episode 46 ~ Incaran Pertama
48 Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49 Episode 48 ~ Introgasi
50 Episode 49 ~ Sepemikiran
51 Episode 50 ~ Demam Tinggi
52 Episode 51 ~ Ibu Murka
53 Episode 52 ~ Kejutan
54 Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55 Episode 54 ~ Topeng Hantu
56 Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57 Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58 Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59 Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60 Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61 Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62 Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63 Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64 Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65 Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66 Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67 Episode 66 ~ Kemoterapi
68 Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69 Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70 Episode 69 ~ Mencari Tau
71 Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72 Episode 71 ~ Botak Bersama
73 Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74 Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75 Episode 74 ~ Muntah-muntah
76 Episode 75 ~ Karyawati Baru
77 Episode 76 ~ Barang Bukti
78 Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79 Episode 78 ~ Orang Asing
80 Episode 79 ~ Merubah Rencana
81 Episode 80 ~ Gelisah
82 Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83 Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84 Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85 Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86 Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87 Episode 86 ~ Mata Sembap
88 Episode 87 ~ Penyelidikan
89 Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90 Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91 Episode 90 ~ Obat Asing
92 Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93 Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94 Episode 93 ~ Stadium Tiga
95 Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96 Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97 Episode 96 ~ Rakha???
98 Episode 97 ~ Janji Dhina
99 Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100 Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101 Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102 Episode 101 ~ Melepas Rindu
103 Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104 Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105 Episode 104 ~ Semakin Sakit
106 Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107 Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108 Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109 Episode 108 ~ Tidak Tega
110 Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111 Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112 Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113 Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114 Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115 Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116 Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117 Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118 Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119 Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120 Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121 Visual
122 Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123 Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124 Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125 Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126 Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127 Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128 Episode 126 ~ Tes Mendadak
129 Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130 Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131 Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132 Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133 Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134 Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135 Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136 Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137 Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138 Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139 Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140 Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141 Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142 Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143 Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144 Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145 Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146 Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147 Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148 Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149 Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150 Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151 Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152 Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153 Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154 Episode 152 ~ Kenangan Manis
155 Episode 153 ~ Tetap Waspada
156 Episode 154 ~ Dijodohkan???
157 Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158 Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159 Episode 157 ~ Malam Pengajian
160 Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161 Episode 159 ~ Bucin
162 Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163 Episode 161 ~ First Kiss
164 Episode 162 ~ Baru Menyadari
165 Episode 163 ~ Balapan
166 Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167 Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168 Episode 166 ~ Masalah Lama
169 Episode 167 ~ Berita Bahagia
170 Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171 Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172 Episode 170 ~ Labil
173 Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174 Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175 Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176 Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177 Episode 175 ~ Komplikasi
178 Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179 Episode 177 ~ Perang Bathin
180 Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181 Episode 179 ~ Cuci Darah
182 Episode 180 ~ Dasar Mesum
183 Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184 Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185 Episode 183 ~ Bukan Peduli
186 Episode 184 ~ Botol Minum
187 Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188 Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189 Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190 Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191 Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192 Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193 Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194 Episode 192 ~ Terhalang Restu
195 Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196 Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197 Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198 Episode 196 ~ Jambret Nakal
199 Episode 197 ~ Bertemu Umi
200 Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201 Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202 Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203 Episode 201 ~ Hari Persiapan
204 Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205 Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206 Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207 Episode 205 ~ Firasat Dhana
208 Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209 Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210 Episode 208 ~ Akad Nikah
211 Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212 Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213 Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214 Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215 Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216 Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217 Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218 Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219 Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220 Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221 Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222 Surat Cinta Author dan Dhina
223 Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224 Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225 Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226 Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227 Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228 Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229 Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230 Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231 Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232 Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233 Pengumuman Novel Baru
234 Pemberitahuan Novel Sekuel
235 Novel Sekuel Sudah Rilis
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Pengenalan Tokoh
2
Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3
Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4
Episode 3 ~ Rencana Ibu
5
Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6
Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7
Episode 6 ~ On The Way Puncak
8
Episode 7 ~ Mulai Aneh
9
Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10
Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11
Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12
Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13
Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14
Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15
Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16
Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17
Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18
Episode 17 ~ Kecewa
19
Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20
Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21
Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22
Episode 21 ~ Diganggu Preman
23
Episode 22 ~ Foundation
24
Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25
Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26
Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27
Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28
Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29
Episode 28 ~ Terpukul
30
Episode 29 ~ Hilang
31
Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32
Episode 31 ~ Minta Maaf
33
Episode 32 ~ Berjodoh?
34
Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35
Episode 34 ~ Boleh Pulang
36
Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37
Episode 36 ~ Memar Lagi
38
Episode 37 ~ Balas Dendam
39
Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40
Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41
Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42
Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43
Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44
Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45
Episode 44 ~ Berenang
46
Episode 45 ~ Tenggelam
47
Episode 46 ~ Incaran Pertama
48
Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49
Episode 48 ~ Introgasi
50
Episode 49 ~ Sepemikiran
51
Episode 50 ~ Demam Tinggi
52
Episode 51 ~ Ibu Murka
53
Episode 52 ~ Kejutan
54
Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55
Episode 54 ~ Topeng Hantu
56
Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57
Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58
Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59
Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60
Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61
Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62
Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63
Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64
Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65
Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66
Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67
Episode 66 ~ Kemoterapi
68
Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69
Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70
Episode 69 ~ Mencari Tau
71
Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72
Episode 71 ~ Botak Bersama
73
Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74
Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75
Episode 74 ~ Muntah-muntah
76
Episode 75 ~ Karyawati Baru
77
Episode 76 ~ Barang Bukti
78
Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79
Episode 78 ~ Orang Asing
80
Episode 79 ~ Merubah Rencana
81
Episode 80 ~ Gelisah
82
Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83
Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84
Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85
Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86
Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87
Episode 86 ~ Mata Sembap
88
Episode 87 ~ Penyelidikan
89
Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90
Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91
Episode 90 ~ Obat Asing
92
Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93
Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94
Episode 93 ~ Stadium Tiga
95
Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96
Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97
Episode 96 ~ Rakha???
98
Episode 97 ~ Janji Dhina
99
Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100
Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101
Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102
Episode 101 ~ Melepas Rindu
103
Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104
Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105
Episode 104 ~ Semakin Sakit
106
Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107
Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108
Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109
Episode 108 ~ Tidak Tega
110
Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111
Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112
Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113
Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114
Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115
Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116
Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117
Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118
Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119
Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120
Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121
Visual
122
Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123
Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124
Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125
Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126
Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127
Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128
Episode 126 ~ Tes Mendadak
129
Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130
Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131
Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132
Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133
Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134
Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135
Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136
Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137
Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138
Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139
Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140
Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141
Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142
Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143
Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144
Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145
Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146
Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147
Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148
Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149
Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150
Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151
Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152
Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153
Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154
Episode 152 ~ Kenangan Manis
155
Episode 153 ~ Tetap Waspada
156
Episode 154 ~ Dijodohkan???
157
Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158
Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159
Episode 157 ~ Malam Pengajian
160
Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161
Episode 159 ~ Bucin
162
Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163
Episode 161 ~ First Kiss
164
Episode 162 ~ Baru Menyadari
165
Episode 163 ~ Balapan
166
Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167
Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168
Episode 166 ~ Masalah Lama
169
Episode 167 ~ Berita Bahagia
170
Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171
Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172
Episode 170 ~ Labil
173
Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174
Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175
Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176
Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177
Episode 175 ~ Komplikasi
178
Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179
Episode 177 ~ Perang Bathin
180
Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181
Episode 179 ~ Cuci Darah
182
Episode 180 ~ Dasar Mesum
183
Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184
Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185
Episode 183 ~ Bukan Peduli
186
Episode 184 ~ Botol Minum
187
Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188
Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189
Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190
Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191
Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192
Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193
Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194
Episode 192 ~ Terhalang Restu
195
Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196
Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197
Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198
Episode 196 ~ Jambret Nakal
199
Episode 197 ~ Bertemu Umi
200
Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201
Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202
Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203
Episode 201 ~ Hari Persiapan
204
Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205
Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206
Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207
Episode 205 ~ Firasat Dhana
208
Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209
Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210
Episode 208 ~ Akad Nikah
211
Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212
Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213
Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214
Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215
Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216
Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217
Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218
Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219
Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220
Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221
Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222
Surat Cinta Author dan Dhina
223
Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224
Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225
Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226
Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227
Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228
Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229
Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230
Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231
Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232
Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233
Pengumuman Novel Baru
234
Pemberitahuan Novel Sekuel
235
Novel Sekuel Sudah Rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!