...🍁🍁🍁...
Tidak terasa waktu sudah berlalu. Ammar, Ibel, dan si kembar masih betah berada di kamar Ibel. Sedangkan Sadha yang mulai bosan dengan acara TV berniat untuk mencari mas dan adik-adiknya. Sadha pun berjalan menuju kamar karena yang ia tau kalau Ammar sedang istirahat di kamar.
Setelah membuka pintu kamar, Sadha melihat kamarnya yang kosong dan tidak ada Ammar di sana. Kemudian Sadha menuju ke kamar Pak Aidi dan Bu Aini. Sadha langsung membuka pintu kamar ayah ibunya, dan ternyata Pak Aidi dan Bu Aini masih terlelap. Sadha menghela nafas panjang karena tiada seorang pun yang berhasil ia temukan.
Akhirnya Sadha berniat untuk ke kamar Dhana dan berharap Dhana ada di kamar. Namun saat ingin membuka pintu kamar Dhana, Sadha mendengar suara tertawa dari kamar Ibel yang berada di samping kamar Dhana. Lalu Sadha pun berjalan ke kamar Ibel dan melihat semuanya ada disana.
"Hei... dicariin ke mana-mana, ternyata kalian di sini semua." ujar Sadha yang masih berdiri di depan pintu dan berkacak pinggang.
"Sadha... ayo sini gabung! Oh iya, Kakak ada sesuatu untuk kamu. Tadi Kakak mencari kamu, kata Dhana kamu sedang nonton." ujar Ibel yang menyuruh Sadha masuk dan bergabung dengan yang lain.
"Tidak perlu, Kak. Sadha sudah dewasa jadi tidak perlu dikasih hadiah." jawab Sadha yang merasa tidak enak menerima hadiah kecil dari Ibel dan berjalan masuk ke dalam kamar Ibel.
"Tidak merepotkan kok. Sudah sejak lama Kakak ingin memberikan adik-adiknya Mas Ammar hadiah kecil ini. Awalnya ingin Kakak titip ke Mas Ammar, tapi rasanya lebih enak kalau kasih secara langsung." tutur Ibel sambil memberikan sebuah gelang yang hampir mirip dengan gelang Dhana.
"Terima kasih, Kak. Gelangnya bagus. Sadha pakai ya." ucap Sadha yang akhirnya menerima hadiah kecil dari Ibel.
"Iya, sama-sama. Ayo kita jalan-jalan. Di sini banyak tempat santai dan objek foto. Masa tidak kita nikmati, selagi masih sini." ujar Ibel pada semuanya.
"Adek setuju sama Kak Ibel. Ayo, Mas. Kita pergi keluar. Adek ingin jalan-jalan. Katanya ada taman sakura di sekitar sini. Kita ke sana ya, Mas." timpal Dhina yang semangat sambil membujuk Ammar, Sadha dan Dhana.
"Tapi Ayah dan Ibu masih istirahat, Dek. Nanti kalau kita pergi, Ayah dan Ibu bangun lalu mencari kita bagaimana?" tanya Sadha yang sempat melihat ayah dan ibu mereka masih tertidur di kamar.
"Kita bisa kirim pesan saja nanti ke Ayah, Mas." timpal Dhana sambil terduduk dari tidurnya.
"Betul itu kata Mas Dhana. Mas Dhana memang selalu mengerti Adek." ujar Dhina yang berlari ke arah Dhana dan langsung memeluk mas kembarnya itu.
"Iya, iya, namanya juga kembar. Selalu satu tujuan." jawab Sadha yang menggoda adik-adik kembarnya sambil mencibir mereka.
"Ya sudah. Ayo kita jalan-jalan, nanti biar Mas kirim pesan ke ponsel Ayah atau Ibu." ujar Ammar sambil berdiri dari duduknya.
Dhina sangat senang dan semangat saat Ammar setuju untuk jalan-jalan. Sebelum pergi, Ammar mengirim pesan terlebih dahulu kepada kedua orang tua mereka yang masih tidur. Setelah itu, mereka semua pergi jalan-jalan dan melihat pemandangan di sekitar puncak.
***
Sadha dan Dhana berjalan di depan dan Ibel berada di tengah sendirian sambil melihat sekitar jalan. Sedangkan Dhina berjalan berdampingan dengan Ammar di belakang. Saat berjalan, Dhina selalu melirik ke arah mas sulungnya itu karena teringat dengan kejadian tadi malam. Ia merasa cemas kalau Ammar mencurigai kondisinya saat bangun tidur tadi.
Ammar pun merasakan kalau Dhina sedang memperhatikan dirinya. Ia pun ikut melirik ke arah adik perempuannya itu. Sebenarnya ia masih kepikiran dengan kebiasaan Dhina yang tiba-tiba berubah drastis. Ammar ingin sekali menanyakan hal itu, tapi Ammar juga tau kalau Dhina tidak akan jujur.
Dhina merasa takut kalau Ammar sampai tau kejadian tadi malam. Jika Ammar sampai tau, maka ia akan khawatir dengan kondisinya. Begitu juga dengan yang lainnya. Sementara ini hanya dirinya sendiri yang tau kejadian tadi malam. Untuk menghilangkan rasa takutnya dan mengalihkan perhatian Ammar, akhirnya Dhina mengajak Ammar bicara hal-hal lain.
"Mas... Mas Ammar suka ya sama Kak Ibel?" tanya Dhina untuk mengalihkan pikiran Ammar yang mungkin saat ini sedang memikirkan dirinya.
"Adek bicara apaan sih. Ibel itu sahabat Mas dari awal kuliah sampai sekarang. Adek suka sekali ya menggoda Mas sejak kemarin." jawab Ammar yang merangkul bahu Dhina dan menjitak lembut kepala adik perempuannya itu.
"Sakit Mas." pekik Dhina yang berusaha melepaskan diri dari rangkulan tangan Ammar.
"Adek tidak akan bisa lepas dari Mas. Ini hukuman karena selalu menggoda Mas." ujar Ammar yang masih mempertahankan Dhina di dalam tangannya.
"Lepaskan tidak. Mas kalau suka bilang saja, nanti kalau Kak Ibel diambil orang bagaimana? Mas sendiri yang akan sedih. Lagi pula Mas, tidak ada persahabatan yang murni di antara pria dan wanita. Pasti salah satunya punya rasa yang beda, atau keduanya sama-sama suka. Tapi kalian saja yang malu mengungkapkan." jelas Dhina yang mengerti dengan jalan pikiran Ammar.
Ammar hanya diam saat mendengar penjelasan Dhina sambil terus berjalan dan merangkul bahu adik perempuannya itu.
"Kalau Mas butuh teman curhat, Adek siap untuk mendengarkan. Bahkan Adek juga siap membantu Mas untuk mendapatkan hati Kak Ibel." ujar Dhina yang sudah mulai terlepas dari tangan Ammar.
Melihat Ammar hanya diam dan tidak merespon apa yang ia katakan, membuat Dhina semakin yakin kalau mas sulungnya itu mencintai Ibel. Dhina sudah terlepas dari rangkulan tangan Ammar. Lalu ia berlari mengikuti Ibel dan mengajak Ibel mengobrol.
"Kak, tunggu Adek." pekik Dhina seraya berlari ke arah Ibel.
"Adek kenapa lari-lari? Mas Ammar mana?" tanya Ibel yang melihat ke arah Dhina dan menanyakan Ammar.
"Mas Ammar sedang bersama Mas Sadha dan Mas Dhana, Kak. Biasa urusan laki-laki." jawab Dhina sambil membawa Ibel duduk di kursi taman.
"Puncak sekarang beda sekali ya, Dek. Banyak yang berubah. Terakhir kali Kakak ke sini, sebelum Kakak koast. Sudah lama sekali." ujar Ibel yang melihat sekitarnya.
"Iya Kak, puncak banyak berubah dan beda." timpal Dhina yang juga ikut melihat sekitar.
Dhina dan Ibel duduk bersama di kursi taman. Saat sedang asyik menikmati pemandangan, tiba-tiba Dhina teringat lagi dengan hubungan Ibel dengan mas sulungnya. Lalu...
"Apa perasaan Kakak ke Mas Ammar tidak berubah?" ujar Dhina yang melihat ke arah Ibel.
Ibel yang mendengarkan pertanyaan Dhina pun tersentak dan langsung menolehkan wajahnya ke arah Dhina.
"Maksud Adek apa? Kakak tidak mengerti." tanya Ibel yang gugup sambil memalingkan pandangannya dari Dhina.
"Tadi Adek sempat bertanya pada Mas Ammar. Tapi Adek tidak mendapatkan jawabannya. Sekarang Adek ingin Kakak jawab pertanyaan Adek." tutur Dhina sambil meraih tangan Ibel dan membuat Ibel menatap Dhina.
Ibel merasa kalau Dhina sedang mencari tau tentang hubungannya dengan Ammar. Saat menatap Dhina, Ibel berusaha untuk tenang agar Dhina tidak curiga. Lalu...
"Apakah kalian akan terus jadi sahabat? Adek melihat sesuatu yang berbeda di mata Kakak saat melihat Mas Ammar, begitu juga sebaliknya. Kakak tidak usah menutupinya dari Adek." ujar Dhina dan membuat mata Ibel berkaca-kaca.
Ibel hanya terdiam dan tertunduk saat mendengar perkataan Dhina. Sebenarnya, Ibel memang sudah lama menyimpan perasaan terhadap Ammar. Namun karena melihat Ammar yang nyaman menjadi sahabatnya, Ibel tidak berani untuk mengatakan apapun pada Ammar. Lalu...
"Kakak tidak tau, Dek. Kalau boleh jujur, sejak dulu Kakak memang sudah menyimpan perasaan ini. Tapi karena Kakak menghargai persahabatan Kakak dengan Mas Ammar, Kakak mengubur perasaan ini. Kakak takut Mas Ammar kecewa dan tidak mau bersahabat lagi dengan Kakak." tutur Ibel pada Dhina yang matanya mulai berkaca-kaca.
Dhina tersenyum mendengar pengakuan Ibel yang memang benar, kalau di antara keduanya sudah mempunyai rasa yang lebih terhadap satu sama lain.
"Adek... Adek tolong jangan ceritakan ini pada Mas Ammar ya. Ini cukup jadi rahasia kita berdua saja. Kakak tidak bisa menahan diri Kakak, saat Adek bicara seperti tadi." ujar Ibel yang mengusap air matanya yang sudah terlanjur jatuh.
"Iya, Kak. Adek tidak akan bilang pada Mas Ammar." jawab Dhina yang berusaha menenangkan Ibel dengan memeluknya.
Kini Dhina sudah tau kalau Ibel ada perasaan lebih pada mas sulungnya itu. Dhina memang janji untuk tidak memberitahu Ammar. Tapi bukan berarti Dhina akan diam saja. Dhina juga yakin kalau Ammar mempunyai rasa yang sama terhadap Ibel. Setelah mengetahui semua itu, Dhina pun berniat untuk menyatukan cinta keduanya.
Setelah Dhina dan Ibel selesai mengobrol, Dhina mengajak Ibel untuk bergabung dengan yang lainnya. Mereka sedang berfoto di ujung taman. Saat beranjak dari duduknya, Dhina pun berjalan di belakang Ibel. Namun saat sedang berjalan, tiba-tiba kepala Dhina terasa berat lagi seperti yang ia rasakan tadi malam.
Dhina pun menghentikan langkahnya. Ibel yang menyadari Dhina tidak ada di sampingnya pun langsung melihat ke arah belakang dan melihat Dhina yang sedang berdiri. Lalu...
"Adek... kenapa berhenti? Adek kenapa?" tanya Ibel seraya menghampiri lalu meraih tangan Dhina.
"Tidak, Kak. Adek tidak apa-apa. Adek tiba-tiba ingin buang air. Adek ke toilet sebentar ya, Kak." jawab Dhina tanpa melihat Ibel dan terus menunduk.
Dhina hanya menunduk dan tidak melihat ke arah Ibel karena ia merasakan ada sesuatu yang mengalir dihidungnya.
"Mau Kakak temani?" tanya Ibel yang berusaha melihat wajah Dhina yang masih menunduk.
"Tidak perlu, Kak. Adek pergi dulu ya. Kalau Mas Ammar mencari Adek, bilang saja kalau Adek ke toilet." jawab Dhina yang berlalu pergi sambil menutupi hidungnya.
Ibel yang melihat sekilas Dhina menutupi hidungnya pun merasa ada yang sedang ditutupi oleh Dhina dari dirinya dan semua kakak-kakaknya. Lalu tanpa berpikir panjang, Ibel pun langsung mengikuti Dhina dari belakang karena penasaran dengan tingkah Dhina. Dhana yang melihat Ibel berlari kecil ke arah toilet pun menjadi heran. Lalu...
"Kak Ibel kenapa berlari tuh Mas?" ujar Dhana pada Ammar yang melihat Ibel berlari ke arah toilet.
"Mungkin ke toilet, Dhana. Lagi pula larinya ke arah toilet, bukan?" jawab Ammar yang sedang asyik memotret pemandangan sekitar.
"Kalau Kak Ibel berlari ke toilet, lalu Adek di mana?" ujar Dhana lagi dan membuat Ammar berhenti dari aktifitasnya lalu melihat ke sekitar.
"Iya, ya. Adek ke mana?" ujar Ammar yang ikut bingung dan bertanya balik pada Dhana.
"Mungkin ke toilet juga, Mas." timpal Sadha yang sedang asyik juga memotret pemandangan.
Sebenarnya Ammar tidak puas dengan jawaban Sadha. Lalu Ammar pun memilih melihat ke sekitar sambil mencari Dhina.
***
Di dalam toilet, Dhina melihat banyak darah di telapak tangannya karena berhasil menutupi darah yang keluar dari hidung mancungnya itu. Lalu dengan cepat Dhina membersihkan darah di tangan dan hidungnya dengan tisu. Tanpa Dhina sadari, Ibel yang mengikuti Dhina sejak tadi melihat pemandangan yang tidak baik itu.
Ibel terkejut melihat Dhina yang mimisan dan banyak sekali darah segar yang keluar dari hidungnya. Tanpa aba-aba, Ibel menghampiri Dhina karena merasa khawatir dengan kondisi Dhina.
"A-adek..."
Dhina pun terkejut saat mendengar suara Ibel yang memanggil dari arah belakang. Sementara darah di hidungnya belum selesai ia bersihkan. Lalu...
"Kakak... Kakak sedang apa di sini?" tanya Dhina gugup sambil menutupi kembali hidungnya dan berharap Ibel belum melihatnya.
"Adek mimisan?" tanya Ibel yang berjalan mendekati Dhina.
Dhina terkejut saat mendapat pertanyaan dari Ibel. Ia tidak menyangka ternyata Ibel sudah melihat darah di hidungnya itu.
"Kak... Adek mohon jangan ceritakan hal ini pada siapapun, termasuk Mas Ammar dan yang lainnya. Adek tidak ingin mereka khawatir. Adek tidak apa-apa. Adek hanya mimisan biasa. Mungkin karena Adek kelelahan saja, Kak." ujar Dhina yang memohon pada Ibel sambil meraih kedua tangannya.
"Sudah berapa kali Adek mimisan seperti ini?" tanya Ibel yang mulai meninggikan nada bicaranya pada Dhina karena khawatir melihat kondisi Dhina.
"Baru kali ini saja, Kak. Kak... Adek mohon jangan beritahu siapapun. Adek tidak ingin semuanya khawatir, Kak." jawab Dhina pada Ibel yang sudah menangis karena takut Ibel akan memberitahu Ammar.
"Adek... ini tidak bisa dibiarkan. Ini harus diperiksa. Kalau Adek sakit bagaimana? Nanti bisa tambah parah." ujar Ibel yang juga sudah menangis melihat Dhina memohon seperti itu.
"Adek tidak apa-apa, Kak. Adek janji akan baik-baik saja. Adek mohon Kak! Jangan beritahu semuanya. Adek tidak mau mereka susah. Adek tidak mau mereka khawatir." ujar Dhina yang menangis sesegukan dan membuat Ibel tidak tega melihatnya.
"Ya sudah. Sudah ya, Sayang! Jangan menangis lagi. Sekarang bersihkan dulu darahnya. Baiklah, Kakak tidak akan bilang pada siapapun." jawab Ibel yang membantu Dhina membersihkan darah di hidungnya.
Kini Ibel sudah melihat Dhina saat mimisan. Saat ini yang mengetahui kondisi Dhina hanya Ibel dan dirinya sendiri. Ibel merasa ada sesuatu yang terjadi pada Dhina. Namun saat ini yang terpenting baginya adalah membuat Dhina tenang. Ibel berniat memberi tau Ammar tentang masalah ini. Tapi Ibel sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahu Ammar.
"Apa yang Adek rasakan sekarang?" tanya Ibel sambil memegang wajah Dhina.
"Tidak ada, Kak." jawab Dhina singkat dan berusaha untuk tidak menatap mata Ibel.
"Adek tidak bohong 'kan?" tanya Ibel lagi dengan posisi yang masih sama.
"Tidak, Kak. Adek tidak bohong." jawab Dhina yang berusaha tenang.
Dhina berusaha bersikap tenang agar Ibel tidak curiga lagi kalau saat ini ia sedang menahan rasa sakit di kepalanya.
"Ya sudah, ayo kita keluar. Nanti Mas Ammar dan yang lain mencari kita. Ayo, Dek!" ujar Ibel sambil mengusap kepala Dhina dengan lembut dan mengandeng Dhina berjalan keluar.
Melihat Ibel dan Dhina yang keluar dari arah toilet, Ammar, Sadha dan Dhana menghampiri mereka.
"Ibel, Adek... kalian dari mana saja? Kita panik mencari kalian!" ujar Ammar yang cukup panik karena sejak tadi Ibel dan Dhina tidak terlihat.
"Kita dari toilet, Mas. Tadi Adek tiba-tiba ingin buang air kecil, lalu aku menemani dia." jawab Ibel yang berusaha tenang agar yang lain tidak curiga.
"Adek... Adek baik-baik saja 'kan? Wajah Adek pucat sekali ini." ujar Dhana yang melihat adik kembarnya pucat dan hanya terdiam sejak keluar dari toilet.
"Iya nih, wajah Adek pucat sekali." timpal Sadha yang berpindah ke samping Dhina.
"Adek kenapa Bel? Apa Adek baik-baik saja?" tanya Ammar pada Ibel karena ia merasa tidak akan mendapat jawaban jika bertanya pada adik perempuannya itu.
"Adek tidak apa-apa, Mas. Sejak tadi dia bersamaku. Mungkin Adek sudah lapar karena sejak tadi kita berjalan terus. Lagi pula hari juga semakin siang. Bagaimana kalau kita makan siang dulu?" ujar Ibel yang berusaha tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan Ammar.
"Ya sudah, ayo! Sebentar Mas telpon Ayah dulu." jawab Ammar sambil mengambil ponsel dalam sakunya lalu menelpon Pak Aidi.
Saat menelpon, ternyata Pak Aidi dan Bu Aini juga sedang jalan-jalan menikmati waktu berdua. Jadi, Pak Aidi meminta Ammar agar membawa Ibel dan adik-adiknya untuk makan siang duluan. Sedangkan Pak Aidi nanti akan makan siang berdua dengan Bu Aini. Setelah selesai menelpon, Ammar pun mengajak semuanya makan siang di restoran yang dekat dengan villa.
***
Saat berjalan, Ammar selalu memperhatikan Dhina. Sejak tadi ia merasa kalau ada sesuatu yang sedang ditutupi oleh adik perempuannya itu. Ammar berniat ingin menanyakan hal itu lagi pada Ibel. Tapi nanti setelah mereka selesai makan siang.
Semoga Ibel mau bicara jujur padaku. Gumam Ammar dalam hati.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
coni
kak Dina jangan bilang Dhina kena kanker 🥺🥺🥺 kak Ibek bantuin Dhina kak, kak Ibek kan dokter juga🥺🥺🥺
2021-04-23
0
Nofi Kahza
plis. sementara jujur sama ibel gpp dhina.. ibel kn dokter..ya Allah..😭
2021-03-08
1
zien
aku hadir disini dan memberimu like 👍😘
mampir juga di novelku JODOHKU YANG LUAR BIASA 🙏😘
mari kita saling mendukung karya kita 🙏❤️
2021-03-06
1