Episode 8 ~ Awal Kesedihan

...🍁🍁🍁...

Tidak terasa waktu sudah berlalu. Ammar, Ibel, dan si kembar masih betah berada di kamar Ibel. Sedangkan Sadha yang mulai bosan dengan acara TV berniat untuk mencari mas dan adik-adiknya. Sadha pun berjalan menuju kamar karena yang ia tau kalau Ammar sedang istirahat di kamar.

Setelah membuka pintu kamar, Sadha melihat kamarnya yang kosong dan tidak ada Ammar di sana. Kemudian Sadha menuju ke kamar Pak Aidi dan Bu Aini. Sadha langsung membuka pintu kamar ayah ibunya, dan ternyata Pak Aidi dan Bu Aini masih terlelap. Sadha menghela nafas panjang karena tiada seorang pun yang berhasil ia temukan.

Akhirnya Sadha berniat untuk ke kamar Dhana dan berharap Dhana ada di kamar. Namun saat ingin membuka pintu kamar Dhana, Sadha mendengar suara tertawa dari kamar Ibel yang berada di samping kamar Dhana. Lalu Sadha pun berjalan ke kamar Ibel dan melihat semuanya ada disana.

"Hei... dicariin ke mana-mana, ternyata kalian di sini semua." ujar Sadha yang masih berdiri di depan pintu dan berkacak pinggang.

"Sadha... ayo sini gabung! Oh iya, Kakak ada sesuatu untuk kamu. Tadi Kakak mencari kamu, kata Dhana kamu sedang nonton." ujar Ibel yang menyuruh Sadha masuk dan bergabung dengan yang lain.

"Tidak perlu, Kak. Sadha sudah dewasa jadi tidak perlu dikasih hadiah." jawab Sadha yang merasa tidak enak menerima hadiah kecil dari Ibel dan berjalan masuk ke dalam kamar Ibel.

"Tidak merepotkan kok. Sudah sejak lama Kakak ingin memberikan adik-adiknya Mas Ammar hadiah kecil ini. Awalnya ingin Kakak titip ke Mas Ammar, tapi rasanya lebih enak kalau kasih secara langsung." tutur Ibel sambil memberikan sebuah gelang yang hampir mirip dengan gelang Dhana.

"Terima kasih, Kak. Gelangnya bagus. Sadha pakai ya." ucap Sadha yang akhirnya menerima hadiah kecil dari Ibel.

"Iya, sama-sama. Ayo kita jalan-jalan. Di sini banyak tempat santai dan objek foto. Masa tidak kita nikmati, selagi masih sini." ujar Ibel pada semuanya.

"Adek setuju sama Kak Ibel. Ayo, Mas. Kita pergi keluar. Adek ingin jalan-jalan. Katanya ada taman sakura di sekitar sini. Kita ke sana ya, Mas." timpal Dhina yang semangat sambil membujuk Ammar, Sadha dan Dhana.

"Tapi Ayah dan Ibu masih istirahat, Dek. Nanti kalau kita pergi, Ayah dan Ibu bangun lalu mencari kita bagaimana?" tanya Sadha yang sempat melihat ayah dan ibu mereka masih tertidur di kamar.

"Kita bisa kirim pesan saja nanti ke Ayah, Mas." timpal Dhana sambil terduduk dari tidurnya.

"Betul itu kata Mas Dhana. Mas Dhana memang selalu mengerti Adek." ujar Dhina yang berlari ke arah Dhana dan langsung memeluk mas kembarnya itu.

"Iya, iya, namanya juga kembar. Selalu satu tujuan." jawab Sadha yang menggoda adik-adik kembarnya sambil mencibir mereka.

"Ya sudah. Ayo kita jalan-jalan, nanti biar Mas kirim pesan ke ponsel Ayah atau Ibu." ujar Ammar sambil berdiri dari duduknya.

Dhina sangat senang dan semangat saat Ammar setuju untuk jalan-jalan. Sebelum pergi, Ammar mengirim pesan terlebih dahulu kepada kedua orang tua mereka yang masih tidur. Setelah itu, mereka semua pergi jalan-jalan dan melihat pemandangan di sekitar puncak.

***

Sadha dan Dhana berjalan di depan dan Ibel berada di tengah sendirian sambil melihat sekitar jalan. Sedangkan Dhina berjalan berdampingan dengan Ammar di belakang. Saat berjalan, Dhina selalu melirik ke arah mas sulungnya itu karena teringat dengan kejadian tadi malam. Ia merasa cemas kalau Ammar mencurigai kondisinya saat bangun tidur tadi.

Ammar pun merasakan kalau Dhina sedang memperhatikan dirinya. Ia pun ikut melirik ke arah adik perempuannya itu. Sebenarnya ia masih kepikiran dengan kebiasaan Dhina yang tiba-tiba berubah drastis. Ammar ingin sekali menanyakan hal itu, tapi Ammar juga tau kalau Dhina tidak akan jujur.

Dhina merasa takut kalau Ammar sampai tau kejadian tadi malam. Jika Ammar sampai tau, maka ia akan khawatir dengan kondisinya. Begitu juga dengan yang lainnya. Sementara ini hanya dirinya sendiri yang tau kejadian tadi malam. Untuk menghilangkan rasa takutnya dan mengalihkan perhatian Ammar, akhirnya Dhina mengajak Ammar bicara hal-hal lain.

"Mas... Mas Ammar suka ya sama Kak Ibel?" tanya Dhina untuk mengalihkan pikiran Ammar yang mungkin saat ini sedang memikirkan dirinya.

"Adek bicara apaan sih. Ibel itu sahabat Mas dari awal kuliah sampai sekarang. Adek suka sekali ya menggoda Mas sejak kemarin." jawab Ammar yang merangkul bahu Dhina dan menjitak lembut kepala adik perempuannya itu.

"Sakit Mas." pekik Dhina yang berusaha melepaskan diri dari rangkulan tangan Ammar.

"Adek tidak akan bisa lepas dari Mas. Ini hukuman karena selalu menggoda Mas." ujar Ammar yang masih mempertahankan Dhina di dalam tangannya.

"Lepaskan tidak. Mas kalau suka bilang saja, nanti kalau Kak Ibel diambil orang bagaimana? Mas sendiri yang akan sedih. Lagi pula Mas, tidak ada persahabatan yang murni di antara pria dan wanita. Pasti salah satunya punya rasa yang beda, atau keduanya sama-sama suka. Tapi kalian saja yang malu mengungkapkan." jelas Dhina yang mengerti dengan jalan pikiran Ammar.

Ammar hanya diam saat mendengar penjelasan Dhina sambil terus berjalan dan merangkul bahu adik perempuannya itu.

"Kalau Mas butuh teman curhat, Adek siap untuk mendengarkan. Bahkan Adek juga siap membantu Mas untuk mendapatkan hati Kak Ibel." ujar Dhina yang sudah mulai terlepas dari tangan Ammar.

Melihat Ammar hanya diam dan tidak merespon apa yang ia katakan, membuat Dhina semakin yakin kalau mas sulungnya itu mencintai Ibel. Dhina sudah terlepas dari rangkulan tangan Ammar. Lalu ia berlari mengikuti Ibel dan mengajak Ibel mengobrol.

"Kak, tunggu Adek." pekik Dhina seraya berlari ke arah Ibel.

"Adek kenapa lari-lari? Mas Ammar mana?" tanya Ibel yang melihat ke arah Dhina dan menanyakan Ammar.

"Mas Ammar sedang bersama Mas Sadha dan Mas Dhana, Kak. Biasa urusan laki-laki." jawab Dhina sambil membawa Ibel duduk di kursi taman.

"Puncak sekarang beda sekali ya, Dek. Banyak yang berubah. Terakhir kali Kakak ke sini, sebelum Kakak koast. Sudah lama sekali." ujar Ibel yang melihat sekitarnya.

"Iya Kak, puncak banyak berubah dan beda." timpal Dhina yang juga ikut melihat sekitar.

Dhina dan Ibel duduk bersama di kursi taman. Saat sedang asyik menikmati pemandangan, tiba-tiba Dhina teringat lagi dengan hubungan Ibel dengan mas sulungnya. Lalu...

"Apa perasaan Kakak ke Mas Ammar tidak berubah?" ujar Dhina yang melihat ke arah Ibel.

Ibel yang mendengarkan pertanyaan Dhina pun tersentak dan langsung menolehkan wajahnya ke arah Dhina.

"Maksud Adek apa? Kakak tidak mengerti." tanya Ibel yang gugup sambil memalingkan pandangannya dari Dhina.

"Tadi Adek sempat bertanya pada Mas Ammar. Tapi Adek tidak mendapatkan jawabannya. Sekarang Adek ingin Kakak jawab pertanyaan Adek." tutur Dhina sambil meraih tangan Ibel dan membuat Ibel menatap Dhina.

Ibel merasa kalau Dhina sedang mencari tau tentang hubungannya dengan Ammar. Saat menatap Dhina, Ibel berusaha untuk tenang agar Dhina tidak curiga. Lalu...

"Apakah kalian akan terus jadi sahabat? Adek melihat sesuatu yang berbeda di mata Kakak saat melihat Mas Ammar, begitu juga sebaliknya. Kakak tidak usah menutupinya dari Adek." ujar Dhina dan membuat mata Ibel berkaca-kaca.

Ibel hanya terdiam dan tertunduk saat mendengar perkataan Dhina. Sebenarnya, Ibel memang sudah lama menyimpan perasaan terhadap Ammar. Namun karena melihat Ammar yang nyaman menjadi sahabatnya, Ibel tidak berani untuk mengatakan apapun pada Ammar. Lalu...

"Kakak tidak tau, Dek. Kalau boleh jujur, sejak dulu Kakak memang sudah menyimpan perasaan ini. Tapi karena Kakak menghargai persahabatan Kakak dengan Mas Ammar, Kakak mengubur perasaan ini. Kakak takut Mas Ammar kecewa dan tidak mau bersahabat lagi dengan Kakak." tutur Ibel pada Dhina yang matanya mulai berkaca-kaca.

Dhina tersenyum mendengar pengakuan Ibel yang memang benar, kalau di antara keduanya sudah mempunyai rasa yang lebih terhadap satu sama lain.

"Adek... Adek tolong jangan ceritakan ini pada Mas Ammar ya. Ini cukup jadi rahasia kita berdua saja. Kakak tidak bisa menahan diri Kakak, saat Adek bicara seperti tadi." ujar Ibel yang mengusap air matanya yang sudah terlanjur jatuh.

"Iya, Kak. Adek tidak akan bilang pada Mas Ammar." jawab Dhina yang berusaha menenangkan Ibel dengan memeluknya.

Kini Dhina sudah tau kalau Ibel ada perasaan lebih pada mas sulungnya itu. Dhina memang janji untuk tidak memberitahu Ammar. Tapi bukan berarti Dhina akan diam saja. Dhina juga yakin kalau Ammar mempunyai rasa yang sama terhadap Ibel. Setelah mengetahui semua itu, Dhina pun berniat untuk menyatukan cinta keduanya.

Setelah Dhina dan Ibel selesai mengobrol, Dhina mengajak Ibel untuk bergabung dengan yang lainnya. Mereka sedang berfoto di ujung taman. Saat beranjak dari duduknya, Dhina pun berjalan di belakang Ibel. Namun saat sedang berjalan, tiba-tiba kepala Dhina terasa berat lagi seperti yang ia rasakan tadi malam.

Dhina pun menghentikan langkahnya. Ibel yang menyadari Dhina tidak ada di sampingnya pun langsung melihat ke arah belakang dan melihat Dhina yang sedang berdiri. Lalu...

"Adek... kenapa berhenti? Adek kenapa?" tanya Ibel seraya menghampiri lalu meraih tangan Dhina.

"Tidak, Kak. Adek tidak apa-apa. Adek tiba-tiba ingin buang air. Adek ke toilet sebentar ya, Kak." jawab Dhina tanpa melihat Ibel dan terus menunduk.

Dhina hanya menunduk dan tidak melihat ke arah Ibel karena ia merasakan ada sesuatu yang mengalir dihidungnya.

"Mau Kakak temani?" tanya Ibel yang berusaha melihat wajah Dhina yang masih menunduk.

"Tidak perlu, Kak. Adek pergi dulu ya. Kalau Mas Ammar mencari Adek, bilang saja kalau Adek ke toilet." jawab Dhina yang berlalu pergi sambil menutupi hidungnya.

Ibel yang melihat sekilas Dhina menutupi hidungnya pun merasa ada yang sedang ditutupi oleh Dhina dari dirinya dan semua kakak-kakaknya. Lalu tanpa berpikir panjang, Ibel pun langsung mengikuti Dhina dari belakang karena penasaran dengan tingkah Dhina. Dhana yang melihat Ibel berlari kecil ke arah toilet pun menjadi heran. Lalu...

"Kak Ibel kenapa berlari tuh Mas?" ujar Dhana pada Ammar yang melihat Ibel berlari ke arah toilet.

"Mungkin ke toilet, Dhana. Lagi pula larinya ke arah toilet, bukan?" jawab Ammar yang sedang asyik memotret pemandangan sekitar.

"Kalau Kak Ibel berlari ke toilet, lalu Adek di mana?" ujar Dhana lagi dan membuat Ammar berhenti dari aktifitasnya lalu melihat ke sekitar.

"Iya, ya. Adek ke mana?" ujar Ammar yang ikut bingung dan bertanya balik pada Dhana.

"Mungkin ke toilet juga, Mas." timpal Sadha yang sedang asyik juga memotret pemandangan.

Sebenarnya Ammar tidak puas dengan jawaban Sadha. Lalu Ammar pun memilih melihat ke sekitar sambil mencari Dhina.

***

Di dalam toilet, Dhina melihat banyak darah di telapak tangannya karena berhasil menutupi darah yang keluar dari hidung mancungnya itu. Lalu dengan cepat Dhina membersihkan darah di tangan dan hidungnya dengan tisu. Tanpa Dhina sadari, Ibel yang mengikuti Dhina sejak tadi melihat pemandangan yang tidak baik itu.

Ibel terkejut melihat Dhina yang mimisan dan banyak sekali darah segar yang keluar dari hidungnya. Tanpa aba-aba, Ibel menghampiri Dhina karena merasa khawatir dengan kondisi Dhina.

"A-adek..."

Dhina pun terkejut saat mendengar suara Ibel yang memanggil dari arah belakang. Sementara darah di hidungnya belum selesai ia bersihkan. Lalu...

"Kakak... Kakak sedang apa di sini?" tanya Dhina gugup sambil menutupi kembali hidungnya dan berharap Ibel belum melihatnya.

"Adek mimisan?" tanya Ibel yang berjalan mendekati Dhina.

Dhina terkejut saat mendapat pertanyaan dari Ibel. Ia tidak menyangka ternyata Ibel sudah melihat darah di hidungnya itu.

"Kak... Adek mohon jangan ceritakan hal ini pada siapapun, termasuk Mas Ammar dan yang lainnya. Adek tidak ingin mereka khawatir. Adek tidak apa-apa. Adek hanya mimisan biasa. Mungkin karena Adek kelelahan saja, Kak." ujar Dhina yang memohon pada Ibel sambil meraih kedua tangannya.

"Sudah berapa kali Adek mimisan seperti ini?" tanya Ibel yang mulai meninggikan nada bicaranya pada Dhina karena khawatir melihat kondisi Dhina.

"Baru kali ini saja, Kak. Kak... Adek mohon jangan beritahu siapapun. Adek tidak ingin semuanya khawatir, Kak." jawab Dhina pada Ibel yang sudah menangis karena takut Ibel akan memberitahu Ammar.

"Adek... ini tidak bisa dibiarkan. Ini harus diperiksa. Kalau Adek sakit bagaimana? Nanti bisa tambah parah." ujar Ibel yang juga sudah menangis melihat Dhina memohon seperti itu.

"Adek tidak apa-apa, Kak. Adek janji akan baik-baik saja. Adek mohon Kak! Jangan beritahu semuanya. Adek tidak mau mereka susah. Adek tidak mau mereka khawatir." ujar Dhina yang menangis sesegukan dan membuat Ibel tidak tega melihatnya.

"Ya sudah. Sudah ya, Sayang! Jangan menangis lagi. Sekarang bersihkan dulu darahnya. Baiklah, Kakak tidak akan bilang pada siapapun." jawab Ibel yang membantu Dhina membersihkan darah di hidungnya.

Kini Ibel sudah melihat Dhina saat mimisan. Saat ini yang mengetahui kondisi Dhina hanya Ibel dan dirinya sendiri. Ibel merasa ada sesuatu yang terjadi pada Dhina. Namun saat ini yang terpenting baginya adalah membuat Dhina tenang. Ibel berniat memberi tau Ammar tentang masalah ini. Tapi Ibel sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahu Ammar.

"Apa yang Adek rasakan sekarang?" tanya Ibel sambil memegang wajah Dhina.

"Tidak ada, Kak." jawab Dhina singkat dan berusaha untuk tidak menatap mata Ibel.

"Adek tidak bohong 'kan?" tanya Ibel lagi dengan posisi yang masih sama.

"Tidak, Kak. Adek tidak bohong." jawab Dhina yang berusaha tenang.

Dhina berusaha bersikap tenang agar Ibel tidak curiga lagi kalau saat ini ia sedang menahan rasa sakit di kepalanya.

"Ya sudah, ayo kita keluar. Nanti Mas Ammar dan yang lain mencari kita. Ayo, Dek!" ujar Ibel sambil mengusap kepala Dhina dengan lembut dan mengandeng Dhina berjalan keluar.

Melihat Ibel dan Dhina yang keluar dari arah toilet, Ammar, Sadha dan Dhana menghampiri mereka.

"Ibel, Adek... kalian dari mana saja? Kita panik mencari kalian!" ujar Ammar yang cukup panik karena sejak tadi Ibel dan Dhina tidak terlihat.

"Kita dari toilet, Mas. Tadi Adek tiba-tiba ingin buang air kecil, lalu aku menemani dia." jawab Ibel yang berusaha tenang agar yang lain tidak curiga.

"Adek... Adek baik-baik saja 'kan? Wajah Adek pucat sekali ini." ujar Dhana yang melihat adik kembarnya pucat dan hanya terdiam sejak keluar dari toilet.

"Iya nih, wajah Adek pucat sekali." timpal Sadha yang berpindah ke samping Dhina.

"Adek kenapa Bel? Apa Adek baik-baik saja?" tanya Ammar pada Ibel karena ia merasa tidak akan mendapat jawaban jika bertanya pada adik perempuannya itu.

"Adek tidak apa-apa, Mas. Sejak tadi dia bersamaku. Mungkin Adek sudah lapar karena sejak tadi kita berjalan terus. Lagi pula hari juga semakin siang. Bagaimana kalau kita makan siang dulu?" ujar Ibel yang berusaha tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan Ammar.

"Ya sudah, ayo! Sebentar Mas telpon Ayah dulu." jawab Ammar sambil mengambil ponsel dalam sakunya lalu menelpon Pak Aidi.

Saat menelpon, ternyata Pak Aidi dan Bu Aini juga sedang jalan-jalan menikmati waktu berdua. Jadi, Pak Aidi meminta Ammar agar membawa Ibel dan adik-adiknya untuk makan siang duluan. Sedangkan Pak Aidi nanti akan makan siang berdua dengan Bu Aini. Setelah selesai menelpon, Ammar pun mengajak semuanya makan siang di restoran yang dekat dengan villa.

***

Saat berjalan, Ammar selalu memperhatikan Dhina. Sejak tadi ia merasa kalau ada sesuatu yang sedang ditutupi oleh adik perempuannya itu. Ammar berniat ingin menanyakan hal itu lagi pada Ibel. Tapi nanti setelah mereka selesai makan siang.

Semoga Ibel mau bicara jujur padaku. Gumam Ammar dalam hati.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

Terpopuler

Comments

coni

coni

kak Dina jangan bilang Dhina kena kanker 🥺🥺🥺 kak Ibek bantuin Dhina kak, kak Ibek kan dokter juga🥺🥺🥺

2021-04-23

0

Nofi Kahza

Nofi Kahza

plis. sementara jujur sama ibel gpp dhina.. ibel kn dokter..ya Allah..😭

2021-03-08

1

zien

zien

aku hadir disini dan memberimu like 👍😘

mampir juga di novelku JODOHKU YANG LUAR BIASA 🙏😘

mari kita saling mendukung karya kita 🙏❤️

2021-03-06

1

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan Tokoh
2 Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3 Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4 Episode 3 ~ Rencana Ibu
5 Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6 Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7 Episode 6 ~ On The Way Puncak
8 Episode 7 ~ Mulai Aneh
9 Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10 Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11 Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12 Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13 Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14 Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15 Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16 Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17 Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18 Episode 17 ~ Kecewa
19 Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20 Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21 Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22 Episode 21 ~ Diganggu Preman
23 Episode 22 ~ Foundation
24 Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25 Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26 Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27 Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28 Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29 Episode 28 ~ Terpukul
30 Episode 29 ~ Hilang
31 Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32 Episode 31 ~ Minta Maaf
33 Episode 32 ~ Berjodoh?
34 Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35 Episode 34 ~ Boleh Pulang
36 Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37 Episode 36 ~ Memar Lagi
38 Episode 37 ~ Balas Dendam
39 Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40 Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41 Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42 Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43 Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44 Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45 Episode 44 ~ Berenang
46 Episode 45 ~ Tenggelam
47 Episode 46 ~ Incaran Pertama
48 Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49 Episode 48 ~ Introgasi
50 Episode 49 ~ Sepemikiran
51 Episode 50 ~ Demam Tinggi
52 Episode 51 ~ Ibu Murka
53 Episode 52 ~ Kejutan
54 Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55 Episode 54 ~ Topeng Hantu
56 Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57 Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58 Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59 Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60 Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61 Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62 Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63 Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64 Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65 Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66 Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67 Episode 66 ~ Kemoterapi
68 Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69 Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70 Episode 69 ~ Mencari Tau
71 Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72 Episode 71 ~ Botak Bersama
73 Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74 Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75 Episode 74 ~ Muntah-muntah
76 Episode 75 ~ Karyawati Baru
77 Episode 76 ~ Barang Bukti
78 Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79 Episode 78 ~ Orang Asing
80 Episode 79 ~ Merubah Rencana
81 Episode 80 ~ Gelisah
82 Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83 Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84 Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85 Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86 Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87 Episode 86 ~ Mata Sembap
88 Episode 87 ~ Penyelidikan
89 Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90 Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91 Episode 90 ~ Obat Asing
92 Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93 Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94 Episode 93 ~ Stadium Tiga
95 Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96 Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97 Episode 96 ~ Rakha???
98 Episode 97 ~ Janji Dhina
99 Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100 Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101 Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102 Episode 101 ~ Melepas Rindu
103 Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104 Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105 Episode 104 ~ Semakin Sakit
106 Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107 Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108 Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109 Episode 108 ~ Tidak Tega
110 Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111 Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112 Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113 Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114 Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115 Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116 Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117 Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118 Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119 Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120 Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121 Visual
122 Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123 Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124 Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125 Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126 Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127 Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128 Episode 126 ~ Tes Mendadak
129 Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130 Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131 Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132 Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133 Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134 Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135 Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136 Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137 Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138 Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139 Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140 Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141 Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142 Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143 Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144 Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145 Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146 Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147 Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148 Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149 Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150 Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151 Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152 Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153 Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154 Episode 152 ~ Kenangan Manis
155 Episode 153 ~ Tetap Waspada
156 Episode 154 ~ Dijodohkan???
157 Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158 Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159 Episode 157 ~ Malam Pengajian
160 Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161 Episode 159 ~ Bucin
162 Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163 Episode 161 ~ First Kiss
164 Episode 162 ~ Baru Menyadari
165 Episode 163 ~ Balapan
166 Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167 Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168 Episode 166 ~ Masalah Lama
169 Episode 167 ~ Berita Bahagia
170 Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171 Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172 Episode 170 ~ Labil
173 Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174 Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175 Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176 Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177 Episode 175 ~ Komplikasi
178 Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179 Episode 177 ~ Perang Bathin
180 Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181 Episode 179 ~ Cuci Darah
182 Episode 180 ~ Dasar Mesum
183 Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184 Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185 Episode 183 ~ Bukan Peduli
186 Episode 184 ~ Botol Minum
187 Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188 Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189 Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190 Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191 Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192 Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193 Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194 Episode 192 ~ Terhalang Restu
195 Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196 Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197 Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198 Episode 196 ~ Jambret Nakal
199 Episode 197 ~ Bertemu Umi
200 Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201 Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202 Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203 Episode 201 ~ Hari Persiapan
204 Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205 Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206 Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207 Episode 205 ~ Firasat Dhana
208 Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209 Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210 Episode 208 ~ Akad Nikah
211 Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212 Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213 Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214 Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215 Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216 Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217 Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218 Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219 Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220 Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221 Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222 Surat Cinta Author dan Dhina
223 Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224 Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225 Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226 Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227 Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228 Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229 Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230 Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231 Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232 Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233 Pengumuman Novel Baru
234 Pemberitahuan Novel Sekuel
235 Novel Sekuel Sudah Rilis
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Pengenalan Tokoh
2
Episode 1 ~ Cemberut Pagi
3
Episode 2 ~ Dhana Bad Mood
4
Episode 3 ~ Rencana Ibu
5
Episode 4 ~ Rencana Ibu (2)
6
Episode 5 ~ Prank untuk Para Mas
7
Episode 6 ~ On The Way Puncak
8
Episode 7 ~ Mulai Aneh
9
Episode 8 ~ Awal Kesedihan
10
Episode 9 ~ Kecurigaan Ammar
11
Episode 10 ~ Kekhawatiran Sadha
12
Episode 11 ~ Tisu Berdarah
13
Episode 12 ~ Rumah Sakit vs Kantor
14
Episode 13 ~ Kepanikan Dhana
15
Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina
16
Episode 15 ~ Emosi Tingkat Dewa
17
Episode 16 ~ Diagnosis Mengerikan
18
Episode 17 ~ Kecewa
19
Episode 18 ~ Kenyataan Pahit
20
Episode 19 ~ Adek itu Penerang Hidup Kita!
21
Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar
22
Episode 21 ~ Diganggu Preman
23
Episode 22 ~ Foundation
24
Episode 23 ~ Acara di Kantor Ayah
25
Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
26
Episode 25 ~ Masuk Rumah Sakit
27
Episode 26 ~ Kondisi Dhina
28
Episode 27 ~ Utang Penjelasan
29
Episode 28 ~ Terpukul
30
Episode 29 ~ Hilang
31
Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
32
Episode 31 ~ Minta Maaf
33
Episode 32 ~ Berjodoh?
34
Epidode 33 ~ Mimpi Buruk
35
Episode 34 ~ Boleh Pulang
36
Episode 35 ~ Ngungsi dan Curhat
37
Episode 36 ~ Memar Lagi
38
Episode 37 ~ Balas Dendam
39
Episode 38 ~ Tamu Pagi Hari
40
Episode 39 ~ Tamu Tak Diundang
41
Episode 40 ~ Mobil Merah Mencurigakan
42
Episode 41 ~ Selalu Kepikiran
43
Episode 42 ~ Makan Malam Bersama
44
Episode 43 ~ Kedatangan Vanny
45
Episode 44 ~ Berenang
46
Episode 45 ~ Tenggelam
47
Episode 46 ~ Incaran Pertama
48
Episode 47 ~ Teror Dimulai!!!
49
Episode 48 ~ Introgasi
50
Episode 49 ~ Sepemikiran
51
Episode 50 ~ Demam Tinggi
52
Episode 51 ~ Ibu Murka
53
Episode 52 ~ Kejutan
54
Episode 53 ~ Rasa Penasaran Imam
55
Episode 54 ~ Topeng Hantu
56
Episode 55 ~ Hari Bersejarah
57
Episode 56 ~ Mobil Merah Itu Lagi?
58
Episode 57 ~ Datang ke Rumah Ibel
59
Episode 58 ~ Mengungkapkan Perasaan
60
Episode 59 ~ Berangkat Keluar Kota
61
Episode 60 ~ Rahasia Masa Lalu
62
Episode 61 ~ Air Mata Kesedihan
63
Episode 62 ~ Jatuh Korban Lagi
64
Episode 63 ~ Mengetahui sesuatu
65
Episode 64 ~ Musuh Dalam Selimut
66
Episode 65 ~ Masa Lalu Terbongkar
67
Episode 66 ~ Kemoterapi
68
Episode 67 ~ Kembali ke Jakarta
69
Episode 68 ~ Kekesalan Imam
70
Episode 69 ~ Mencari Tau
71
Episode 70 ~ Harus Merelakan Mahkota Hitam
72
Episode 71 ~ Botak Bersama
73
Episode 72 ~ Kembali ke Cafe itu
74
Episode 73 ~ Rekaman CCTV
75
Episode 74 ~ Muntah-muntah
76
Episode 75 ~ Karyawati Baru
77
Episode 76 ~ Barang Bukti
78
Episode 77 ~ Hari Ulang Tahun Ayah
79
Episode 78 ~ Orang Asing
80
Episode 79 ~ Merubah Rencana
81
Episode 80 ~ Gelisah
82
Episode 81 ~ Kebakaran Besar
83
Episode 82 ~ Usaha Penyelamatan
84
Episode 83 ~ Bertanggung Jawab
85
Episode 84 ~ Niat Busuk Mira Sebenarnya
86
Episode 85 ~ Trauma dan Syok
87
Episode 86 ~ Mata Sembap
88
Episode 87 ~ Penyelidikan
89
Episode 88 ~ Keraguan Hati Rezky
90
Episode 89 ~ Jalan Menuju Kebenaran
91
Episode 90 ~ Obat Asing
92
Episode 91 ~ Kecelakaan Maut
93
Episode 92 ~ Kebenaran Dugaan Uci
94
Episode 93 ~ Stadium Tiga
95
Episode 94 ~ Hari Yang Melelahkan
96
Episode 95 ~ Jalan-jalan di Mall
97
Episode 96 ~ Rakha???
98
Episode 97 ~ Janji Dhina
99
Episode 98 ~ Dihadang Komplotan Begal
100
Episode 99 ~ Permintaan Dhina
101
Episode 100 ~ Silsilah Keluarga
102
Episode 101 ~ Melepas Rindu
103
Episode 102 ~ Tidak Ingin Menjadi Penghalang
104
Episode 103 ~ Phobia Kata Mati
105
Episode 104 ~ Semakin Sakit
106
Episode 105 ~ Perihal Jam Tangan
107
Episode 106 ~ Rezky Masih Hidup???
108
Episode 107 ~ Kebenaran Sesungguhnya
109
Episode 108 ~ Tidak Tega
110
Episode 109 ~ Dua Kemungkinan Buruk
111
Episode 110 ~ Menuruti Permintaan Dhina
112
Episode 111 ~ Kuatkan lah Adikku...
113
Episode 112 ~ Harus Kuat dan Tegar
114
Episode 113 ~ Bertemu Kakek dan Nenek
115
Episode 114 ~ Racauan Saudara Kembar
116
Episode 115 ~ Komunikasi Bathin
117
Episode 116 ~ Setitik Kebahagiaan
118
Episode 117 ~ Penyesalan Rezky
119
Episode 118 ~ Ide Konyol Dhana
120
Episode 119 ~ Hasil Tes Laboratorium
121
Visual
122
Episode 120 ~ Salam Dari Surga Untuk Mas
123
Episode 121 ~ Misteri Wanita Pincang
124
Episode 122 ~ Meminta Bantuan
125
Episode 123 ~ Ketakutan Ayah
126
Episode 124 ~ Perasaan Ibel Tidak Enak
127
Episode 125 ~ Si Kembar Sakit Berjama'ah
128
Episode 126 ~ Tes Mendadak
129
Episode 127 ~ Rasa itu Telah Hilang
130
Episode 128 ~ Aku Mencintaimu, Dhina...
131
Episode 129 ~ Kabar Baik Dibalik Air Mata
132
Episode 130 ~ Operasi Sumsum Tulang
133
Episode 131 ~ Rasa Syukur Tak Terhingga
134
Episode 132 ~ Teringat Janji Mas Ammar
135
Episode 133 ~ Kebahagiaan Ibel
136
Episode 134 ~ Aksi Penembakan Keji
137
Episode 135 ~ Rasa Yang Datang Terlambat
138
Episode 136 ~ Diantar Kakak Misterius
139
Episode 137 ~ Surat Rumah Sakit
140
Episode 138 ~ Masih Menjadi Teka-Teki
141
Episode 139 ~ Acara Reuni Kampus
142
Episode 140 ~ Aksi Brutal Pria Hitam
143
Episode 141 ~ Pengakuan Pilu Rezky
144
Episode 142 ~ Berusaha Menjelaskan
145
Episode 143 ~ Mereka Butuh Waktu, Dek...
146
Episode 144 ~ Berusaha Membuang Ego
147
Episode 145 ~ Rumah Itu Menyeramkan
148
Episode 146 ~ Disekap Wanita Pincang
149
Episode 147 ~ Mira Telah Kembali
150
Episode 148 ~ Kegilaan Mira
151
Episode 149 ~ Situasi Yang Sulit
152
Episode 150 ~ Kehendak Tuhan
153
Episode 151 ~ Selamat Jalan Kak Rezky...
154
Episode 152 ~ Kenangan Manis
155
Episode 153 ~ Tetap Waspada
156
Episode 154 ~ Dijodohkan???
157
Episode 155 ~ Mati Satu Tumbuh Seribu
158
Episode 156 ~ Bisa Merasakan
159
Episode 157 ~ Malam Pengajian
160
Episode 158 ~ Cara Yang Tak Sama
161
Episode 159 ~ Bucin
162
Episode 160 ~ Pasrah Tapi Penasaran
163
Episode 161 ~ First Kiss
164
Episode 162 ~ Baru Menyadari
165
Episode 163 ~ Balapan
166
Episode 164 ~ Si Kembar Dalam Bahaya
167
Episode 165 ~ Selamat Dari Maut
168
Episode 166 ~ Masalah Lama
169
Episode 167 ~ Berita Bahagia
170
Episode 168 ~ Isi Hati Adik Perempuan
171
Episode 169 ~ Hadiah Kecil Untuk Dhina
172
Episode 170 ~ Labil
173
Episode 171 ~ Tindakan Ayah
174
Episode 172 ~ Pengakuan Preman Sialan
175
Episode 173 ~ Belanja Bulanan
176
Episode 174 ~ Kasih Sayang Kakak Ipar
177
Episode 175 ~ Komplikasi
178
Episode 176 ~ Adikku Sayang Adikku Malang
179
Episode 177 ~ Perang Bathin
180
Episode 178 ~ Terpaksa Berbohong
181
Episode 179 ~ Cuci Darah
182
Episode 180 ~ Dasar Mesum
183
Episode 181 ~ Berbohong Lagi
184
Episode 182 ~ Seperti Fast And Furious
185
Episode 183 ~ Bukan Peduli
186
Episode 184 ~ Botol Minum
187
Episode 185 ~ Menceritakan Kronologi
188
Episode 186 ~ Hinaan Yang Kejam
189
Episode 187 ~ Hukuman Tetap Berlaku
190
Episode 188 ~ Tidak Ingin Mengorbankan
191
Episode 189 ~ Air Mata Si Kembar
192
Episode 190 ~ Su'udzon Pada Si Kembar
193
Episode 191 ~ Firasat Mulai Muncul
194
Episode 192 ~ Terhalang Restu
195
Episode 193 ~ Mengantar Undangan
196
Episode 194 ~ Siksaan Penjara
197
Episode 195 ~ Mengunjungi Mira
198
Episode 196 ~ Jambret Nakal
199
Episode 197 ~ Bertemu Umi
200
Episode 198 ~ Tangis Jatuh Ke Dalam
201
Episode 199 ~ Firasat Buruk Umi
202
Episode 200 ~ Tanda-Tanda
203
Episode 201 ~ Hari Persiapan
204
Episode 202 ~ Kenangan Masa Kecil
205
Episode 203 ~ Firasat Paman dan Bibi
206
Episode 204 ~ Diam-Diam Cinta
207
Episode 205 ~ Firasat Dhana
208
Episode 206 ~ Dua Amplop Putih
209
Episode 207 ~ Pagi Yang Sibuk
210
Episode 208 ~ Akad Nikah
211
Episode 209 ~ Menjelang Resepsi
212
Episode 210 ~ Menunggu Kabar
213
Episode 211 ~ Tangis Pilu Keluarga
214
Episode 212 ~ Permintaan Terakhir Adek
215
Episode 213 ~ Tuhan Lebih Sayang Adek
216
Episode 214 ~ Bahagia Berselimut Duka
217
Episode 215 ~ Untuk Yang Terakhir Kali
218
Episode 216 ~ Tenanglah Di Sana, Sayang...
219
Episode 217 ~ Surat Terakhir Adek
220
Episode 218 ~ Permintaan Maaf Mira
221
Episode 219 ~ Salam Perpisahan
222
Surat Cinta Author dan Dhina
223
Boneps 1 ~ Serupa Tapi Tak Sama
224
Boneps 2 ~ Antara Kasihan dan Cinta
225
Boneps 3 ~ Masih Terbalut Duka
226
Boneps 4 ~ Bukan Halusinasi
227
Boneps 5 ~ Cerita Pilu Seorang Mala
228
Boneps 6 ~ Menantikan Jawaban
229
Boneps 7 ~ Penerang itu Seakan Kembali
230
Boneps 8 ~ Berbeda Dunia
231
Boneps 9 ~ Harus Benar-benar Pergi
232
Boneps 10 ~ Selamat Tinggal (Ending)
233
Pengumuman Novel Baru
234
Pemberitahuan Novel Sekuel
235
Novel Sekuel Sudah Rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!