Putra menyusul Axila yang sudah berada beberapa meter didepan sana, dengan langkah kaki yang cepat dia sudah berada disamping Axila.
"Makan yuk, aku lapar." Ajak Putra.
Axila mengangguk, mereka melangkah bersama menuju salah satu caffe dan memesan hidangan.
"Satu lava cake dan coffelate." Ucap Axila pada waiters yang melayani mereka.
Pria itu menatap Putra yang berada dihadapan Axila. "Aku samakan saja." Ujar Putra.
"Silahkan tunggu sebentar, Tuan-Nona. Saya siapkan dulu pesanannya." Ujarnya dengan ramah pada kedua tamunya.
Axila dan Putra hanya mengangguk, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Axila berfikir, bagaimanapun caranya dia harus segera menjemput Azka di Seoul, tiga miliar cukup untuk kebutuhan mereka berdua. Namun, dia juga ingin membuka bisnis disana, entah itu membuka restoran, ataupun lainnya. Yang pasti, di harus mempunyai bisnis di luar negeri.
'Aku memang bukan kakaknya, namun dia sudah menjadi tanggung jawab ku. Aku yang akan menjadi walinya nanti. Tunggu kakak menjemput mu, Azka.' Batin Axila.
Kesibukan mereka terganggu saat waiters tadi datang lagi, membawa pesanan mereka dan menyajikannya dihadapan kedua pelanggannya.
"Silahkan dinikmati, Tuan-Nona." Ujarnya.
"Terima kasih." Balas Putra.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan-Nona." Pamitnya dan melayani pelanggan yang lainnya.
Axila mengambil garpu, lalu mulai memotong cake dihadapannya. Satu suapan masuk kedalam mulut Axila, rasa coklat yang mendominasi membuat Axila tersenyum. Dia menyeruput coffelate, rasanya membuat Axila menjadi tenang. Mungkin, ini akan menjadi minuman kesukaannya.
Karena di jaman dulu, mana ada yang beginian. Yang dia tahu hanyalah minum teh, dan makan kue bulan ataupun jenis kue lainnya.
Axila dan Putra beberapa kali bercanda dan tertawa, Putra memang sangat tahu bagaimana cara membuat Axila tersenyum.
Setelah itu Putra membawa Axila ke toko baju, membelikannya beberapa pasang baju untuk Axila sesuai dengan yang Axila inginkan.
Jika kalian berfikir dia akan mengambil dres ataupun baju-baju cewek feminim, maka kalian salah. Dia membeli beberapa baju pria, yang ukurannya oversize, celana jeans, dan sepatu kets. Ada juga beberapa baju anak perempuan yang dipilihkan oleh Putra, dengan ditemani oleh seorang pelayan wanita.
Mereka berlanjut ke toko elektronik, Putra membelikan Axila satu smartphone yang berlogo iPhone, dan juga satu laptop yang berlogo sama seperti smartphone.
Semua dia belikan menggunakan kartu kredit miliknya, tidak menggunakan milik Mike yang diberikan pada Axila. Karena menurut Putra, dia harus membelikan sesuatu untuk adiknya perempuannya, adik yang selama ini dia impikan namun tak tercapai.
Putra benar-benar senang sekali mengeluarkan uang hanya untuk membelikan barang-barang untuk Axila, dia mengatakan: "untuk apa aku mencari uang? Tentu saja untuk adikku yang satu ini, kau tak usah cemas, kakak yang akan memanjakan mu hari ini." Itulah yang dikatakan oleh nya.
Axila? Dia hanya menurut, karena Putra benar-benar tulus dan terlihatlah bahagia, dia tak cemas dan khawatir, karena kakak angkatnya sangat menyayangi nya.
*****
"Dari mana kau dapat berlian dan permata itu, Lila?" Tanya Putra saat mereka akan kembali.
"Ada didalam sana, Gege. Aku sudah menyimpannya didalam tas itu. Gege saja yang tak memperhatikan apa yang kubawa." Balas Axila berbohong, karena dia mempunyai banyak batu-batu mulia itu didalam ruang dimensinya. Axila sendiri juga bingung, bagaimana bisa ada permata didalam sana.
Saat dia masuk kedalam ruang penyimpanan harta di paviliun teratai, banyak berserakan koin emas yang menumpuk, berlian yang berserakan dilantai, kristal diantara koin emas, dan harta lainnya yang sudah dibentuk. Entah itu menjadi kalung mas, mahkota berhias, gelang ataupun lainnya.
"Dari mana semua ini muncul, Louis?" Tanya Axila pada pria disamping nya.
"Aku juga tidak tahu, Yang mulia. Saat aku masuk, sudah ada semua ini. Jika permata, aku yang menyimpannya namun untuk batu kecil yang berserakan itu, aku tak tahu." Ujar Louis dengan santai. Batu yang dia maksud adalah berlian, dia pikir itu hanyalah kerikil kecil yang tak berguna.
"Bantu aku membereskan semua ini, Louis." Ucap Axila, dia tak menggunakan elemen untuk membereskan semua harta yang berserakan. Axila mengambil beberapa kotak berukuran besar dan memasukan koin kedalam sana, lalu kristal, dan kemudian berlian yang berserakan dipungut oleh Louis.
"Giok nya tak sebanyak emas, Yang mulia." Ucap Evan dibelakang Axila, dia berusaha mengumpulkan beberapa gelang giok, kalung dan beberapa peralatan makan yang terbuat dari batu giok.
"Simpan semua giok itu dengan baik, Evan. Ada beberapa giok peninggalan Nenekku." Ujar Axila, nafasnya mulai tersengal karena lelah mengumpulkan koin emas kedalam kotak kayu.
"Baik, Yang mulia." Balas Evan. Karena merasa kasihan dengan Evan, Louis membantunya menyimpan giok-giok dengan menyusunnya dengan rapi.
Louis sudah menyelesaikan tugasnya, yaitu mengumpulkan berlian kedalam satu kotak. Dan hasilnya, ada satu kotak besar penuh berlian, 10 kotak koin emas, tiga kotak kristal, dan lima kotak giok.
Semua itu disusun Louis dengan baik didalam ruang penyimpanan harta.
Setelah ruang penyimpanan harta rapi, mereka pindah ke ruang penyimpanan Pil dan merapikan ruangan yang sedikit berantakan itu.
*******
Axila sedang berhadapan dengan Laptop yang sejak tadi terus on. Dia dan Putra sudah kembali ke asrama sejak dua jam yang lalu, ketika mereka tiba, Putra langsung kembali ke kamarnya dan begitu juga dengan Axila.
Dan saat ini, jemari lentik itu terus saja berlarian di atas keyboard laptop, Axila masuk kedalam suatu program, lalu dengan otaknya yang cerdas membuat suatu aplikasi. Dimana semua data yang disimpan tak akan pernah bisa di bobol, dan juga aplikasi yang bisa membobol pertahanan data-data rahasia. Bahkan, data dari suatu negara bisa dibobol oleh aplikasi yang dibuat Axila. Axila menamainya sebagai "AL". Yang artinya."Axila Lian"
Setelah selesai, Axila menyimpan semua data dirinya, lalu keluarganya. Entah data ayah dan ibunya, dan juga keluarga angkat sang ayah.
Jika ada yang berani membobol, maka akan ada pemberitahuan yang masuk ke ponsel Axila, karena terhubung dengan ponselnya. Dan jikapun mereka bisa masuk, hanya akan sampai 10 persen saja kemudian sistem mereka akan eror karena dibajak balik oleh sistem milik Axila.
"Aku rasa, data-data ini sudah cukup." Gumam Axila, segera dia simpan laptop itu didalam ruang penyimpan, dan menyuruh Louis untuk menyimpannya dikamar Axila.
"Tak terasa, hari sudah malam." Gumam Axila, memang sejak tadi dia terus fokus pada laptop itu, jadilah dia lupa waktu. Untung saja dia dan Putra sempat membeli makan malam untuk dibawa pulang, karena Axila malas untuk memasak. Bukan malas, tapi dia memang tak bisa memasak, tubuh inilah yang pandai masak tapi tidak dengan jiwa yang menempatinya saat ini.
Axila yang dulu merupakan orang yang ceria dan polos, namun dia menjadi orang terkebelakang hanya karena masalah ekonomi keluarga yang rendah. Namun beda lagi dengan Axila yang sekarang, dia menjadi orang yang sedikit dingin, berani dan tak terkalahkan. Mempunyai IQ diatas rata-rata dan sangat cantik. Axila yang hangat, ceria dan penyayang seperti telah hilang, sekarang tak ada lagi. Mungkin ada, namun itu nanti.
Setelah matanya merasakan kantuk, Axila segera masuk kedalam bawah sadarnya, dengan memposisikan diri diatas ranjang singel yang empuk dan nyaman.
"Selamat malam, untuk kalian semua." Gumam Axila sambil membayangkan wajah ayah dan kakaknya, yang entah bagaimana kabar mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Land19
mau dong koin dan kristalnya
🤭🤭🤭🤭🤭
2024-12-12
0
Riah Hariah Boh
Semoga bahagia
2024-07-08
0
Rio Thigan
kesibukan ❎
lamunan ✅
2022-05-13
3