Bisik-bisik para prajurit terus saja terdengar, bahkan ada yang terang-terangan menggoda Axila, tapi hanya dibalas senyum dan kedipan mata dari Axila.
Sontak, suara para prajurit menjadi gaduh, karena gadis itu.
"Diamlah, kalian seperti tak pernah melihat wanita cantik saja." Ujar kapten Ronal, dia menjadi takut jika Axila marah dengan tingkah para juniornya.
"Tak apa sir Ronal, itu bukan masalah." Ujar Axila, dia membaca pikiran para prajurit ya g menjadi takut dan ragu akibat ucapan Kapten Ronal.
"Syukurlah, saya pikir Nona merasa terganggu oleh dogaan mereka."
Axila menggeleng, "lanjutkan aktifitas kalian. Aku akan beristirahat sebentar." Ujar Axila lalu berjalan menjauh, disana tenda yang di dirikan oleh teman-teman Putra sudah selesai.
"Terima kasih, kalian semua." Ujar Axila pada para prajurit yang berjumlah 4 orang, ditambah Putra menjadi 5 orang.
"Sudah menjadi tugas kami, Nona." Balas mereka sambil tersenyum.
"Kalian kembalilah berjaga, aku akan beristirahat." Ujar Axila, diangguki oleh mereka lalu memberi hormat dan berlalu dari hadapan Axila.
Axila memasuki tenda singgel yang berwarna biru, milik Putra. Didalam sana hanya ada tikar milik prajurit, entah punya siapa tikar itu, dan juga senter yang akan dinyalakan saat malam hari.
Mata Axila mulai terpejam saat tubuhnya sudah berbaring disana, dia melepaskan semua rasa lelah ditubuhnya.
*****
Disekitar Axila hanya ada cahaya yang begitu terang, membuat mata Axila sedikit silau, lalu mengerjap matanya beberapa kali dan menyesuaikan dengan cahaya yang berada disekitar sini.
Cahaya itu berubah menjadi padang rumput yang begitu luas, angin berhembus dengan sangat tenang. Membuat udara disekitarnya menjadi sejuk, sejauh mata memandang terdapat satu pohon yang lebat daunnya.
Kaki Axila melangkah, mendekati pohon itu. Semakin dekat, terlihat jelas banyak bunga-bunga yang beraneka warna, dah harumnya bunga-bunga itu tercium saat angin menerpa wajahnya.
Dibalik pohon, keluarlah seorang wanita dengan pakaian kerajaan. Jubah milik seorang yang pernah menjadi permaisuri dari suatu kerajaan.
Wajah itu nampak familiar, seperti mendiang ibu suri yang menjadi neneknya. Namun, yang berhadapan dengannya saat ini mempunyai wajah yang lebih cantik dan terlihat muda.
"Mei'er, nenek merindukanmu, sayang." Ujar wanita itu sambil tersenyum pada Axila.
"Nenek?" Gumam Axila, namun matanya membulat sempurna. Kakinya langsung bergerak dengan sangat cepat, dia berlari pada sosok wanita itu kemudian memeluknya saat sudah tiba disana.
"Nenek.. apa ini sungguh kau? Aku sangat merindukanmu." Ujar Axila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya sayang, ini nenek. Nenek juga sangat merindukanmu." Balas Ibu suri.
Ibu suri melonggarkan pelukannya, mengangkat wajahnya gadis yang menjadi cucunya itu.
"Wajahmu sudah berubah, bahkan sifatmu juga ikut berubah. Mengapa, hmm?" Tanya ibu suri lembut, dia mengecup kening Axila dengan lembut, sama seperti apa yang dia lakukan saat masih hidup dulu.
"Ak...aku..." Axila ragu menjawabnya.
"Jangan membohongi dirimu sendiri, Mei'er. Nenek tahu isi hatimu, jadilah dirimu sendiri." Ucap ibu suri dengan lembut, sambil menggenggam wajah Axila dengan kedua tangannya.
"Iya, Nek. Aku mengerti." Balas Axila.
"Lakukan tugas terakhir yang diinginkan olehnya pemilik sebelumnya, setelah itu tugasmu akan selesai." Tambah ibu suri.
"Baik, Nek. Aku mengerti."
"Mei'er, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, sayang."
Kening Axila mengerut, sejak tadi yang hanya ditangkap oleh indra penglihatannya hanyalah sosok yang menjadi neneknya, tak ada siapapun yang ada disini selain neneknya. "Siapa, Nek? Tak ada siapapun yang berada disini, Nek." Pandangannya mengarah pada seluruh padang.
"Disana, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Tangan ibu suri terangkat, menunjuk pada satu arah. Dimana seseorang baru saja keluar dari antara bunga-bunga yang berwarna-warni. Wanita itu mempunyai wajah yang sangat cantik, mempunyai tubuh yang ideal, dan rambut yang menjuntai sampai ketanah.
"Putriku..." Ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca, membuat kedua alis Axila menyatu.
"Siapa kau?" Ujar Axila melangkah mundur. Wajah itu nampak sangat mirip dengannya yang duky, mereka seperti anak kembar. Namun, seingat Axila dia tak mempunyai saudara kembar.
"Mei'er, dia adalah permaisuri Xi Lian, ibumu Mei'er." Balas Ibu Suri.
'sungguh? Apa dia benar-benar ibuku?' batin Axila, dengan ragu dia melangkah mendekat.
"Kau sungguh ibuku, Xi Lian?" Tanya Axila pada wanita dihadapannya.
Wanita itu mengangguk, "aku Xi Lian, wanita yang menjadi ibumu." Balasnya dan langsung menarik Axila kedalam pelukannya.
Pelukan itu terasa hangat, ada rasa cinta yang benar-benar tulus didalam sana. Ada rasa rindu yang sangat mendalam.
Mereka melepas rindu disana, bersenang-senang disekitar taman, dan minum teh bersama. Ketiganya melakukan semua ya g mereka inginkan disana.
"Mei'er, ada sesuatu yang ingin nenek katakan padamu, sayang." Ujar Ibu Suri dengan tatapan serius.
Axila menyimpan cangkir mini yang selalu digunakan untuk minum teh, "apa yang ingin Nenek katakan padaku?" Balas Axial dengan tatapan serius.
"Apa kau masih menyimpan kalung ya g nenek berikan padamu, sayang?" Tanya Ibu Suri.
Axila mengangguk, "kalung itu ikut terbawa ke zaman Ini, Nek."
"Itu bukanlah kalung biasa, itu disebut kalung yang mempunyai ruang dimensi. Dimana semua yang kau inginkan ada didalam sana, sudah nenek siapkan untukmu disana," Jeda Ibu Suri, "Semua itu kau tukarkan dengan mata uang di zaman modern, semua yang berada didalam sana adalah barang antik di dunia ini, itu akan sangat bermanfaat untukmu.
Kau juga bisa masuk kedalam ruang dimensi yang nenek berikan padamu, kau hanya harus meneteskan satu tetes darahmu pada kalung itu. Maka akan menjadi milikmu seutuhnya, jikapun kalung itu berpindah tangan secara paksa, maka akan kembali padamu lagi." Jelas ibu suri panjang lebar.
Axila mengangguk, "apa paling berharga didalam sana, nenek?"
"Air kristal suci. Itu adalah air yang sangat bermanfaat untuk tubuhmu, apa lagi saat kau sekarat ataupun merasa pegal di sekujur tubuhmu. Jika kau meneguknya akan langsung pulih setelah beberapa menit.
Jangan menyala gunakan semua yang berada didalam sana, sayang." Balas ibu suri menjelaskan.
'Jadi, itu adalah harta Karun yang sangat berharga? Bukankah aku seperti mempunyai harta Karun berjalan?' batin Axila.
"Baik nenek, aku mengerti." Ujar Axila lagi.
Xi Lian menataap putrinya dengan sendu, "Mei'er, maaf tapi kami tak mempunyai banyak waktu. Kami harus segera pergi sekarang."
"Tapi ibu, aku belum puas bersama denganmu disini." Cegah Axila
"Maaf, sayang. Waktu kami juga dibatasi oleh sang pencipta untuk bertemu denganmu, sayang." Sambung Ibu Suri dengan mengelus rambut Axila.
"Aku mengerti, Nenek, Ibu. Yang ingin kukatakan terakhir kali hanyalah, ayah dan Gege sangat merindukanmu, ibu. Kami sangat mencintaimu, ibu." Ujar Axila dengan cepat saat perlahan bayangan kedua wanita ibu mulai memudar.
"Aku sangat mencintai kalian berdua, aku ingin bertemu lagi dengan kalian suatu saat nanti." Teriak Axila dan perlahan kedua wanita itu sudah menghilang.
"Kami juga sangat mencintaimu, Mei'er...."
********
"Ibu...ibu...ibu..." Gumam Axila terus menerus.
Beberapa prajurit yang mendengar suara Axila segera berlari kearah tendanya, Putra yang sangat khawatir masuk kedalam sana dengan paksa, meski sudah dilarang oleh teman-teman dan para seniornya.
"Axila..Axila..Axila sadarlah.." panggil Putra dengan menepuk pelan pipi Axila, tubuh Axila terasa panas.
"Dia demam, apa yang terjadi sebenarnya?" Gumam Putra.
"Axila....Axila.. buka matamu, hei.." panggil Putra lagi.
Perlahan mata Axila terbuka, meski buram tapi dia melihat wajah Putra yang terlihat panik.
"Gege.. ibu, Gege.." ucap Axila lemah.
Putra mengalihkan pandangannya pada empat orang temannya yang menatap Putra didepan sana. "Nona demam." Ujarnya.
Putra langsung mengangkat tubuh Axila keluar dari tenda itu, semua prajurit menatapnya dengan bingung.
Kapten Ronal mendekat saat salah satu prajurit memberitahu apa yang terjadi pada Kapten Ronal.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya pada Putra.
Putra tak menjawab, dia sedang kalut saat ini, dia malah melewati Kapten Ronal begitu saja dan berjalan kearah tenda yang dipersiapkan jika terjadi keadaan darurat, misalnya salah satu prajurit yang terluka atau apapun.
Tubuh Axila dibaringkan diatas tempat tidur, yang terbuat dari beberapa besi yang bisa dibuka dan dipasang kembali, lalu ditaruh beberapa potong bambu sebagai alasnya.
Kapten Ronal masuk kedalam sana dengan wajah panik, "apa yang terjadi?!" Tanyanya dengan suara sangar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Liani purnafasary☺
mungkin gara-gara merindukan ibu dan nenek nya, jdinya demam. 😔
2024-12-09
0
zylla
*single
2024-07-25
0
Riah Hariah Boh
Ada juga yang sayang dan turut risau jika berlaku sesuatu
2024-07-08
0