Kapten Ronal masuk kedalam sana dengan wajah panik, "apa yang terjadi?!" Tanyanya dengan suara sangar. Dia berjalan mendekati Axila yang sudah dibaringkan disana, wajah itu terlihat pucat sekali. Padahal beberapa jam yang lalu Axila masih terlihat baik-baik saja.
Putra mengambil termometer dan stetoskop lalu mendekati Axila, menaruh termometer disela mulut Axila dan mulai memeriksa tubuh Axila.
Jangan heran, dia adalah seorang anak dari dokter yang sangat hebat, ditambah ayahnya adalah seorang jendral bintang tiga dalam dunia militer. Bukankah sangat beruntung Putra itu? anak dari seorang dokter dan tentara.
Putra sudah terbiasa memeriksa kesehatan seseorang, karena dia selalu membantu ibunya di klinik milik sang ibu. Ditambah Putra berada di kelas IPA waktu dia masih duduk di bangku SMA. Jadi tidak mengherankan jika dia bisa memegang alat medis, walaupun sekedar hanya memeriksa dan memberikan cairan infus saja.
"Suhu tubuh 38,5⁰ celsius, detak jantung tak beraturan, dan kekurangan cairan tubuh." gumam Putra setelah memeriksa Axila.
Sedangkan Kapten Ronal hanya melihat saja, dia sudah tahu apa yang terjadi dan sudah pasti karena Axila yang tengah demam itu.
Mata Axila memang terbuka, namun dia tak mampu untuk bangun sebentar saja karena kepalanya sangat pusing, ditambah rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Yang dia lihat hanyalah Putra yang tengah khawatir seperti seorang kakak yang khawatir jika terjadi sesuatu pada adiknya.
Axila membaca pikiran Putra, dimana Putra benar-benar tulus dan khawatir padanya.
Cairan infus memasuki tubuhnya lewat pembuluh darah balik/Vena, karena sudah dipasang oleh Putra sendiri. Semua yang dilakukan oleh Putra sama seperti seorang dokter yang tengah menangani pasiennya, padahal dia adalah seorang Bintara. Putra juga tak lupa memberikan Axila antibiotik agar demamnya cepat turun, ditambah keningnya dikompres menggunakan air dingin.
Rasa dingin itu seperti menusuk dikeningnya, namun terasa lebih enak dan ringan. Perlahan tapi pasti, mata Axila mulai menutup dan memasuki alam mimpinya.
Rasa khawatir juga tak luput dari beberapa orang prajurit, mereka terus saja berada didalam tenda, ada juga yang berada diluar sana.
******
Mata Axila mengeliat lalu perlahan terbuka, kepalanya sudah tak pusing lagi, badannya juga sudah terasa lebih enak dari pada sebelumnya, namun pegal-pegal sudah pasti karena dia tertidur dari sekitar jam 2 siang sampai sekarang sudah pukul 3 subuh.
Putra yang merasa ada pergerakan disamping nya segera membuka matanya, dia tidur dalam posisi duduk saat ini.
"Apa masih terasa pusing?" tanya Putra lembut, dia seperti seorang kakak yang sayang pada adiknya.
"Hmm.. tapi sudah tidak terlalu, Gege." balas Axila, dia memanggil Putra dengan sebutan 'Gege' yang sudah pasti artinya adalah 'Kakak laki-laki'
Putra merasa legah, "Syukurlah."
"Apa aku membuatmu repot, Gege?"
Putra menggeleng dengan cepat, "Aku hanya khawatir padamu, itu saja." balas Putra lembut.
Axila mengangguk, "Aku haus, Ge."
"Tunggu sebentar, aku ambilkan kau air." ujar putra, lalu berjalan keluar tenda dan kembali beberapa menit kemudian sambil membawa gelas kaleng ditangannya. "Minumlah, aku bawakan kau air hangat." ujarnya.
Axila mengangguk kecil, lalu duduk dibantu oleh Putra. "Terima kasih, Gege." ujar Axila.
"Sama-sama, Nona." balas Putra, namun ada sesuatu yang menggangu pikiran nya sejak tadi.
"Ada apa, Ge?" tanya Axila meski dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh lawan bicaranya.
"Mengapa kau memanggilku dengan sebutan 'Gege' sejak tadi?" tanya Putra.
"Karena sikap dan wajahmu mirip dengan kakakku, itulah sebabnya aku memanggilmu dengan 'Gege" balas Axila menjelaskan.
"Memangnya dimana kakakmu?" tanya Putra dengan cepat, dia juga ingat saat beberapa jam yang lalu Axila memanggilnya dengan sebutan yang sama karena membangunkannya.
"Entahlah, aku juga tak tahu bagaimana kabarnya, apakah dia baik-baik saja atau tidak. Aku tak tahu." balas Axila.
Putra merasa iba, dia juga menganggap Axila sebagai adiknya saat merawat Axila tadi. Rasa ingin memiliki seorang adik perempuan seperti terwujud, karena dia tak mempunyai saudara atau bisa dikatakan dia itu anak tunggal didalam keluarga nya.
"Kau bisa menganggap ku sebagai kakakmu, Nona." ujarnya dengan tulus.
"Terima kasih, Gege." balas Axila tersenyum lembut.
"Tentu saja, Adikku." balas Putra dengan mengelus kepala Axila lembut, Axila juga membiarkan nya karena merasa nyaman dan merasa seperti dilindungi oleh pria ini. Perasaan seorang kakak yang benar-benar menyayangi adiknya.
"Kau mau sesuatu?" Tanya Putra.
Axila mengangguk, "Aku lapar. Apa aku bisa makan sesuatu sebelum pagi datang?"
"Tentu saja, akan aku ambilkan sebentar." balas Putra dan keluar dari tenda, dia meminta tolong pada dua orang temannya untuk mengambilkan makanan untuk Axila.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Land19
huhuuuu...
2024-12-12
0
Liani purnafasary☺
semakin seru
2024-12-09
0
Ayuni
mending kakak aja thor kan ini di indo
2024-07-22
0