Alina dan Raffa keluar dari perpustakaan. Alina mendorong kursi roda Raffa. Wajah Alina sangat gembira sedangkan wajah Raffa seperti menaruh harapan padanya. Mereka menghampiri Papa dan Mama yang sedang mengobrol di ruang keluarga
"Pa Ma kami mau bicara" ungkap Raffa
Papa dan Mama segera menyudahi obrolan mereka dan mendengarkan apa yang ingin mereka katakan
"Aku bersedia menikahi Alina"
Wajah Papa dan Mama berubah drastis. Mereka sangat senang mendapat kabar yang tidak disangka sangka. Papa dan Mama dari kemarin sangat mengkhawatirkan keadaan Raffa. Sang Mama tak kuasa menahan tangis bahagianya dan memeluk Raffa erat
"Mama sangat senang mendengar berita menggembirakan ini Raffa, berita ini sudah lama ingin kami dengar, akhirnya sekarang jadi kenyataan"
Mama melepaskan pelukannya dari Raffa dan memeluk Alina. "Makasih sayang, kamu sudah bantu mewujudkan impian kami"
Alina membalas pelukan Mama, "Aku yang berterima kasih karena sudah diterima di keluarga ini"
Papa memeluk Raffa, "Papa senang mendengar ini sayang"
Papa membelai rambut Alina, "Makasih banyak ya Lin"
Mereka berempat pun membicarakan pernikahan Raffa dan Alina. "Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Papa
"Aku mau secepatnya Pa" jawab Raffa. Dia ingin menikah terlebih dahulu daripada Neysha dan Ettan
"Bagaimana kalau dua minggu lagi?" Papa mengerti maksud Raffa yang ingin cepat cepat menikahi Alina
"Oke, setuju" Raffa menjawab dengan cepat.
Mama pun setuju dengan waktu pernikahan mereka. Sementara Alina masih tidak menduga kalau pernikahannya akan dilakukan secepat itu. Alina berfikir bagaimana dia akan memberitahukan keluarganya sedangkan waktunya sangat sempit
"Bagaimana Alina, apa pendapatmu?"
Alina tidak menjawab dan masih melamun memikirikan keluarganya, dia masih menunduk dan tidak berani menatap mereka
"Jangan khawatir Alina, Papa akan memenuhi janji untuk bertemu dengan keluargamu"
Alina langsung menatap Papa, dia sangat senang Papa menepati janji
"Besok kita berangkat ke rumah nenekmu untuk melamarmu, dan nanti h-2 sebelum pernikahan, Ivan akan jemput mereka"
"Makasih Pa"
"Jadi apa kamu keberatan dengan tanggal pernikahannya?"
"Sama sekali tidak Pa, aku ikut aja, apa mas Raffa besok ikut ke rumah nenekku?"
"Ya tentu saja, aku harus bertemu dengan nenekmu dan juga adikmu"
"Aku senang mas Raffa ikut tapi penampilan mas ga boleh kaya gini, bisa mikir macam macam keluargaku nanti"
"Maksudnya?"
"Mas Raffa kan mau ngelamar aku, masa penampilannya kaya begini, sini aku rapikan mas, aku bisa ko cukur rambut sama cukur kumis dan jenggot"
"Jadi kamu malu kalo penampilanku kaya begini?"
"Ga ko.. cuma aku ga mau keluargaku mikir yang negatif tentang mas, aku mau jaga itu"
"Baiklah, demi nenekmu, aku ga mau beliau malah kepikiran nanti"
"Yeeeeaaaaayyy, makasih, aku akan ambilkan peralatannya dulu, mas tunggu sini ya"
"Aku ga mau disini, aku maunya di perpustakaan aja, disini terlalu banyak orang lalu lalang"
"Siap mas, tunggu sebentar ya" Alina mengantar Raffa ke perpustakaan dan pamit untuk mengambil peralatan yang dibutuhkan
Beberapa lama kemudian, Alina tiba di perpustakaan, dia sudah nembawa peralatannya, dia menyiapkan gunting hingga handuk kecil
"Mas Raffa aku mulai ya" Alina tersenyum, dia sudah sangat gemas dengan penampilan Raffa, sejujurnya dia tidak suka dengan pria yang tidak mengurus penampilannya, tapi entah berbeda dengan Raffa, walaupun penampilannya begitu terlihat tidak terurus, namun Alina tetap saja merasa nyaman di dekatnya
"Kamu yakin bisa memotong rambutku?" tangan Raffa memegang tangan Alina
"Iya, aku waktu itu pernah kursus gunting rambut di Surabaya karena mau buka salon mas tapi belum kesampean"
"Kenapa ga jadi?"
"Waktu itu orang tuaku meninggal jadi aku harus berhenti di tengah jalan dan mencari pekerjaan tetap" Alina sudah mulai memotong rambut Raffa
"Kapan orang tuamu meninggal?"
"Dua tahun yang lalu, mereka kecelakaan"
"Oh maaf"
"Gapapa mas, aku sudah bisa menerimanya ko, mas Raffa beruntung karena masih diberikan kesempatan untuk hidup"
Dalam hatinya Raffa membenarkan ucapan Alina, dia sangat beruntung diberikan kesempatan untuk hidup walaupun tidak dapat berjalan
"Lin.."
"Hmm,, iya mas"
"Apa kamu tidak takut kalau aku sering marah padamu?"
Alina menggeleng pelan, "Aku sudah biasa dimarahi mas, jadi sudah kebal"
"Siapa yang paling sering memarahamimu?"
"Bosku di perusahan sebelumnya, sebelum aku bekerja di perusahaan Papa, aku sudah bekerja di salah satu perusahaan property pesaing kalian, disana bos bosnya sangat galak, kalau sudah marah kebun binatang pasti keluar semua, sangat berbeda dengan perusahan Papa, mereka memperlakukan siapa saja dengan baik, bahkan Papa dikenal sebagai big bos yang baik dimata karyawannya"
Entah kenapa Raffa merasa lega karena Alina merasa nyaman kerja di kantor Papanya. "Apa rencanamu setelah menikah denganku?"
"Aku akan berhenti kerja mas, aku akan mengurus mas Raffa seperti istri pada umumnya, tapi aku minta izin untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih belum selesai, aku masih pegang beberapa proyek"
"Baiklah"
Alina senang Raffa sudah mulia mengajaknya ngobrol. Dia juga senang karena diizinkan untuk memenuhi kewajibannya sampai pekerjaan yang dia pegang terselesaikan dengan baik
"Sudah selesai...yeay.. lanjut ke jenggot dan kumis ya mas" Alina sudah selesai memotong rambut Raffa. Rambut yang tadinya acak acakan sekarang menjadi rapih. Alina menyisir rambut Raffa dari belakang.
Deg.. deg.. Alina jadi deg degan melihat mata Raffa dari dekat. Seketika dia menjadi salah tingkah. Dia tidak menyadari mata Raffa yang begitu indah karena selama ini tertutupi oleh rambutnya. Mata yang hangat dan seakan menatapnya dengan dalam. Alina dengan refleks memegang dadanya
"Kenapa?"
"Ga.. gapapa mas" Alina sangat malu dengan kelakuannya sekarang, ingin rasanya dia menghilang karena saat ini ketahuan salah tingkah di depan Raffa
"Gadis aneh" batin Raffa
Setelah berhasil menguasasi dirinya kembali, dia melanjutkan mencukur kumis dan jenggota Raffa, namun lagi lagi dia tidak dapat menyembunyikan rasa gugup dan salah tingkahnya ketika melihat bibir Raffa yang sudah tidak terhalangi kumis dan jenggot lagi
"Ya Tuhan, kenapa aku ini? Sadar Lin sadar, dia belum jadi suamiku, aku sudah seperti ini. Aku ga bisa menahan diriku untuk memandanginya lebih lama dan tenggelam di dalam pandangannya"
"Hei,, kamu sudah selesai belum? Dari tadi bengong aja, jangan mikir yang aneh aneh, kita belum menikah"
"Yang mikir aneh aneh siapa mas, aku ga mikir kaya gitu"
Alina menyembunyikan perasaan gugupnya
"Masa? Apa kamu terpukau dan baru tau kalau aku ini sangat tampan sehingga kamu ingin memandangiku lebih lama?"
"Aaaaaa.... Kenapa dia tau sih, aku kan jadi makin salah tingkah" batin Alina
"Ko ga jawab, biasanya kamu selalu ga mau kalah sama aku, kenapa sekarang kamu diam saja? Apa aku memang benar?" goda Raffa
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Rienandha Fuji
oowow alina ketahuan... 😂😂😂
2021-05-11
0
Nefertiti
mungkin yang nabrak orang tua Alina adalah Rafa???
2021-03-30
1
Siti Asmaulhusna
😁😁😁😁makjleeebb ktauan akhir nya si Alin nya ternyata si Raffa sangat tampan
2021-03-15
1