"Papa sudah pulang"
"Iya ma"
"Gimana pa, udah ketemu sama karyawan papa itu?"
"Sudah ma, aku tadi juga sudah bilang ke dia tentang Raffa, sudah menawarkan penawaran juga yang akan dia berfikir seribu kali untuk menolaknya" Pak Bastian berbicara sambil melepaskan jas yang sudah dipakainya
"Baguslah, terus dia bilang apa pa?"
"Dia syok banget ma, aku paham banget itu, siapa yang ga syok tiba tiba dipanggil ke ruangan atasannya dan pemberitahuan tentang perjodohan ini?"
"Tapi apa dia sudah jawab pa?"
"Sama sekali ga ada jawaban dan penolakan ma yang ada tadi dia cuma diam aja dan wajahnya menjadi sangat tidak karuan setelah dia mendengar berita ini"
"Huft, kita kasih dia waktu untuk berfikir aja pa, aku ga mau kesempatannya hilang gitu aja" Mama menjawab sambil mempersiapkan air hangat untuk mandi. "Airnya sudah siap ya pa"
"Oke sayang, papa mandi dulu ya nanti kita ngobrol lagi"
"Iya pa, aku ke bawah dulu ya untuk siapkan makan malam"
"Oke mama sayang"
Sekitar dua puluh menit berlalu. Papa turun dari lantai dua rumah mereka menuju ke ruang makan yang berada di lantai satu
"Raffa sudah dipanggil ma?"
"Sudah pa tapi dia ga mau makan malam disini, dia pengen ngabisin waktu di kamarnya aja, tadi Adrian bilang begitu"
"Ah anak itu, kenapa sih dia sukanya menyendiri setelah kejadian itu?"
"Mama juga heran pa, dia selalu aja seperti itu, sepertinya langkah kita untuk mencarikan dia istri sudah tepat, aku ga mau dia kaya gini terus terusan" Mama menjawab dengan nada sedih
"Pokoknya kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk menikahkan dia dengan Alina"
"Pa.. kenapa papa milih Alina sebagai calon mantu kita?"
"Mama sudah lihat fotonya belum?"
"Belum pa, mama penasaran banget dengan sosok menantu idaman papa"
Papa mengeluarkan handphonenya dan membuka galery, ia ingin memperlihatkan wajah dan cv Alina kepada mama
"Ini ma, ini fotonya dan ada juga cv nya dia, aku juga sudah menyelidiki asal usul keluarganya dan juga sifatnya, aku menilai dia itu orang yang tulus untuk membantu sekitarnya, aku sangat amat terkesan begitu pertama kali melihat dia"
"Cantiknya pa calon mantu kita, mama setuju"
"Bukan hanya cantik, dia juga bertanggung jawab ma, dia harus merawat neneknya yang ada di daerah dan menyekolahkan adiknya yang masih kuliah"
"Dia pekerja keras banget ya pa"
"Ya, pertama kali aku lihat dia, aku tau kalau dia itu orang yang pekerja keras, waktu itu PIC (Person in Charge) di kegiatan itu Alina, kegiatannya berjalan lancar tanpa ada masalah apa apa, nah dari situ papa bilang kalau dia akan papa jodohkan dengan Raffa, dari situ pula lah papa terus menyelidiki tentang latar belakangan dan perilaku dia baik itu di kantor maupun diluar kantor, mama juga pasti akan senang begitu ketemu dengan Alina"
"Mudah mudahan aja dia mau jadi mantu keluarga kita ya pa, mama sangat berharap banyak ke Alina, mudah mudah Raffa bisa segera berjalan dan kembali seperti semula"
"Amiiin"
"Kapan kita sebaiknya kasih tau Raffa tentang ini pa?"
"Nanti aja ma kalau Alina sudah setuju, aku takut Raffa malah ngamuk kalau kita kasih tau sekarang"
"Iya pa"
......
Disisi lain, Alina telah kembali ke kamar kostannya. Sebelum masuk kamar tak lupa dia membeli makan malam terlebih dahulu. Dia terus memikirkan hal hal yang terjadi di kantor hari ini. Dia menghela napas panjang, "Kenapa nasibku kaya gini ya, apa aku emang ga ditakdirkan untuk bahagia?" Alina kembali menangis tersedu sedu
Alina membuka foto album kenangan yang terdapat foto orangtuanya. Dia masih merasa sangat kehilangan kepergian mereka beberapa tahun lalu. Kini dia tinggal di Jakarta seorang diri dan adiknya berada di Surabaya untuk kuliah serta mengurus neneknya
Alina membuka Youtube untuk menenangkan pikirannya. Tapi dia tidak fokus ke music yang dia buka, pikirannya tetap kemana mana. Dia memutuskan untuk menghubungi adik dan neneknya. Dia mengambil handphone dan mencoba menghubungi mereka
"Halo.."
"Halo Kila, gimana kabarmu?"
"Baik kak, kakak gimana disana?"
"Baik juga dong" Alina terpaksa berbohong agar adik dan neneknya tidak mencemaskan keadaan dirinya
"Gimana kabar nenek? Apa sudah minum obat?"
"Nenek sudah mendingan kak, obatnya sudah tinggal dua kali minum lagi"
"Tinggal dua kali? Bukannya beberapa hari lalu kamu bilang obatnya nenek sudah habis?"
"Iya kak, terakhir kali ke dokter, dokter mengganti obat nenek, tapi sekarang nenek jadi mendingan ko"
"Oh baiklah, aku akan kirimkan uang untuk beli obat nenek, Kila aku tutup dulu ya, aku mau makan dulu"
"Iya kak, makasih ya kak"
Alina pun menutup telp adiknya. Tadinya dia berharap bahwa menelfon mereka akan membawa ketenangan sendiri untuknya tapi ternyata malah sebaliknya
"Aku harus gimana? Masih awal bulan tapi uangku sudah habis" Alina kembali menangis seorang diri. Dia masih bimbang untuk menerima tawaran dari Pak Bastian atau tidak
....
Besoknya Alina berangkat ke kantor dengan keadaan yang sangat tak karuan. Sebelum naik ke ruangannya, dia mengecek ATM dulu yang berada di lantai basement. Dia bermaksud untuk mengirimkan uang kepada adiknya untuk pengobatan sang nenek. Namun hal tersebut urung untuk dilakukan karena saldo di ATMnya tidak cukup
Alina kembali frustasi dengan apa yang menimpanya. Dia tidak dapat membiarkan neneknya menderita tanpa minum obat, disisi lain dia juga merasa ga enak hati karena hampir setiap bulan harus meminjam uang ke teman temannya
Dia pun memutuskan untuk naik ke ruangannya terlebih dahulu, dia tidak dapat fokus bekerja, dia memikirkan biaya pengobatan neneknya yang menelan biaya yang tidak sedikit, belum lagi awal bulan depan adalah batas waktu adiknya harus membayar kuliah. Alina pergi ke kamar mandi dan menangis disana. Dia sudah tidak tau lagi harus berbuat apa. Dia tidak ingin merepotkan orang orang yang selama ini sudah banyak membantu dirinya terutama masalah keuangannya.
Merasa pikirannya sudah buntu, akhirnya dia menghubungi Ivan dan ingin membuat janji dengan Pak Bastian. Ivan pun menghubungi Pak Bastian dan menentukan tempat serta waktu pertemuan Big Bosnya dengan Alina.
....
Alina sudah sampai duluan di ABC Resto, tempat pertemuan dengan Pak Bastian, dia sebelumnya meminta izin dari Bu Susi, awalanya Bu Susi tidak setuju kalau Alina pulang cepat lagi tapi setelah mengetahui bahwa Alina akan bertemu dengan Big Bos di perusahaan tersebut, akhirnya Bu Susi mengizinkan, bahkan meminta Alina untuk berangkat 1 jam lebih awal sehingga Alina tidak akan terlambat untuk bertemu dengan Pak Bastian
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Yufita Ajun
lanjut
2023-07-01
0
dhiena shanty
kisahnya seperti dunia nyata
2021-12-06
0
R⃟_nDia😎
cakep kagak ya anaknya .. kan Mayan Alina klo sembuh tuh cowok🤣🤣🤣sombong biasanya klo lumpuh buat nutupin rasa mindernya
2021-10-10
0