"Mama.. kami punya kejutan"
Mama yang sedang membereskan buah buahan di dapur langsung berbalik ke arah mereka
"Raffa" teriak Mama, Mama refleks menjatuhkan nampan berisi buah yang baru ia panen. Mama sangat terharu dengan penampilan Raffa yang sudah kembali seperti saat sebelum kecelakaan
Begitu mendengar teriakan Mama, Papa langsung menghampiri mereka. Dia terpaku melihat penampilan Raffa yang sekarang, sangat berbeda dengan sebelumnya
Mama dan Papa segera menghampiri Raffa dan memeluknya. Mereka sudah lama untuk meminta Raffa merapikan penampilannya tapi dia tidak pernah mau, baru kali ini dia mau karena ingin bertemu dengan nenek Alina
.....
Keesokan harinya Alina, Raffa, Papa, Mama dan juga Ivan serta Bu Dar sedang menuju perjalanan ke bandara. Mereka akan menuju Surabaya untuk menemui keluarga Alina. Alina sangat tidak sabar untuk bertemu nenek dan adiknya serta mengunjungi makam kedua orang tuanya
Di dalam pesawat, Mama duduk di sebelah Papa, Alina duduk di sebelah Raffa, mereka berempat menggunakan business class sementara Ivan dan Bu Dar menggunakan economy class. Alina yang belum pernah menggunakan business class tidak mengetahui bagaimana menggunakan fasilitas di sana. Alina biasanya menggunakan economy class dan ia pun hanya menggunakan pesawat ketika sedang dinas kantor. Sedangkan keluarga Hadibrata sudah terbiasa menggunakan business class. Alina pun bertanya pada Raffa tentang menggunakan fasilitas tersebut
"Mas Raffa gimana sih cara pakai fasilitas di business class?"
Raffa yang sedang membaca koran langsung menoleh ke Alina. Dia mengajarkan bagaimana caranya menggunakan semua fasilitas yang tersedia di seat mereka. Alina bukannya mendengarkan penjelasan dan menyimaknya dengan benar, malah memperhatikan wajah Raffa yang sangat tampan
"Hei,, kamu sudah bisa belum?" Raffa tiba tiba menjentikkan jarinya di dekat wajah Alina
"Eh.. itu.. hmm" Alina tersadar kalau Raffa mengetahui dia sedang melamun, dia pun gelagapan mendengar pertanyaan Raffa
"Huft.. makanya kalau lagi dijelasin jangan melamun kaya gitu, kan sia sia aja apa yang aku omongin tadi ke kamu, kamu yang nanya malah kamu yang ga fokus"
"Gimana mau fokus kalau yang jelasin orangnya ganteng banget gini.. Yang ada malah merhatiin wajahnya mas Raffa, lagian mas Raffa kan jarang banget ngomong panjang kali lebar sama aku jadi ga boleh aku sia siakan kesempatan tadi"
Tuk.. Raffa menyentil dahi Alina. Dia sudah cape untuk mengajarkan Alina tapi malah jawaban Alina seperti itu
"Awww.. sakit mas, kenapa sih seneng banget lihat aku kesakitan"
"Ya abisnya kamu sih bilang begitu"
"Ya siapa suruh punya wajah yang ganteng banget, jadi terpesona deh aku hahahaha, mas Raffa emangnya ga ada bawahan mas yang hilang fokus kaya aku tadi?"
"Ya mana berani mereka, aku itu kan killer, sekalinya ada yang ga fokus langsung aku hajar, makanya aku waktu itu ga mau cari bawahan yang masih muda dan semuanya rata rata laki laki"
"Untung aja aku ga jadi bawahan mas Raffa, kalau ga udah kena amuk terus deh aku sama mas gara gara hilang fokus"
Raffa pun tak menjawab perkataan Alina. Dia lebih memilih untuk melanjutkan membaca koran sampai pesawat landing dengan sempurna
Setelah pesawat landing, mereka pun keluar dari pesawat dan menunggu Ivan serta Bu Dar di depan salah satu resto yang ada di bandara. Mereka pun berniat untuk makan terlebih dahulu sebelum menuju rumah Alina tapi Alina tidak memperbolehkannya dengan alasan bahwa adik dan neneknua sudah menyiapkan makanan khas untuk mereka
"Nenek.. Kila.." Alina pun bergegas untuk masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu. Begitu mereka bertemu, Alina pun langsung memeluk adiknya dan juga mencium tangan serta memeluk sang nenek
Mama, Papa, Raffa, Ivan dan Bu Dar masuk ke rumah Alina. Mereka suka dengan konsep rumah Alina, walaupun terbilang sangat kecil tapi rumah itu sangat nyaman
"Nek,, kenalkan ini Papa dan Mama, calon mertuaku"
Papa dan Mama pun segera menyalami nenek dan Kila. Alina langsung memperkenalkan Raffa kepada mereka berdua. Sang nenek awalnya tak terima kalau Alina harus menikahi Raffa karena Raffa tidak dapat berjalan tetapi Alina sudah menjelaskan pada neneknya kalau dia mencintai Raffa dengan tulus dan keluarga Raffa sangat menyayanginya, akhirnya sang nenek pun menyetujui pernikahan mereka sebelum keluarga Hadibrata datang untuk melamar Alina
Di rumah Alina, keluarga Hadibrata, Ivan dan Bu Dar disuguhkan makanan yamg sangat tradisional. Mereka tak mempermasalahkan hal tersebut dan makan dengan lahap. Mereka bahkan sangat menyukainya
Setelah makan, Papa menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk melamar Alina dan memberitahu bahwa pernikahannya akan berlangsung dua minggu lagi. Nenek pun langsung menyetujui hal ini demi Alina, dia ingin melihat cucunya bahagia karena ia merasa Alina sudah banyak menderita sepenginggal kedua orang tuanya
Setelah Papa menyampaikan maksudnya, giliran Raffa yang menyatakan kalau dia sungguh sungguh ingin menikahi Alina, dia ingin membahagiakan Alina. Alina sangat terpana dengan Raffa yang berbicara dengan tegas dan juga meyakinkan. Alina berharap bahwa perkataan Raffa akan menjadi kenyataan dan Raffa akan melupakan Neysha seutuhnya, Alina tidak mempermasalahkan sama sekali soal Raffa yang tidak dapat berjalan dan harus menggunakan kursi roda, dia menginginkan Raffa apa adanya, entah sejak kapan jantung Alina selalu berdegup tak normal ketika melihat Raffa
Seusai kunjungan ke rumah nenek, Alina dan yang lainnya menyempatkan untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya. Disana Alina meminta izin untuk menikah, Alina tidak dapat menyembunyikan rasa rindu kepada kedua orang tuanya, rasa sedih karena pernikahan Alina tidak dapat disaksikan oleh mereka, rasa bahagia karena Alina datang kesana untuk meminta izin akan menikah dalam waktu dekat
Papa dan Mama yang sudah mengetahui bagaimana kedua orang tua Alina pergi meninggalkannya karena kecelakan yang mereka alami, merasa sedikit beruntung karena Raffa masih dapat bertahan hidup walaupun belum bisa berjalan seperti semula
Raffa yang melihat Alina menangis tersedu sedu, merasa tidak enak hati. Alina yang dia kenal bukanlah seperti ini. Alina biasanya sangat periang dan juga tak mau kalah dengan dirinya, sekarang tampak sangat bersedih di hadapan makam kedua orang tuanya
Mereka pun memberikan waktu kepada Alina agar Alina tidak ada ganjalan ketika sudah menikah dengan Raffa. Ketika sudah selesai, Mama pun menghibur Alina agar dia tak bersedih lagi. Tak lama mereka pun menuju ke airport untuk pulang kembali ke rumah
Di dalam pesawat, Alina sudah tidak menangis lagi, matanya sampai bengkak karena menangis tadi, Alina sangat lelah sehingga dia memutuskan untuk tidur di dalam perjalanan. Ketika tertidur Alina tidak sengaja menjatuhkan kepalanya ke bahu Raffa. Raffa menoleh ke arah Alina dan membiarkan dia untuk tidur di bahunya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Nur Farida
nunggu raffa bucin sama alina
2022-06-08
0
sebutir debu
Bukannya kalo bussines class tempat duduknya sndiri" ya tidak berdempetan
2022-02-02
0
mami Fauzan
akhirnya luluh jg hati Raffa mau trima Alina jd istri Nya
2021-07-08
1