Raffa mendesah kasar saat dia mengingat kejadian yang membuat hidupnya hancur. Sebelum kejadian itu, kehidupannya berjalan normal. Memiliki keluarga yang harmonis, karir cemerlang dan dari keturunan yang kaya raya, tidak susah bagi Raffa untuk menjalankan perusahaan karena dia sudah dididik dari kecil untuk itu. Tetapi kecelakaan itu membuat dunianya terbalik. Saat ini dia tidak percaya lagi pada wanita kecuali Mamanya dan tidak memiliki motivasi untuk hidup.
Penampilannya pun sering acak acakan. Rambutnya gondrong, berkumis, memiliki jenggot yang tidak tertata rapi. Dia terlihat sangat kacau setelah kecelakaan itu. Sang Mama pun tidak dapat berbuat apa apa walaupun Mamanya sudah membujuknya berkali kali untuk merapikan penampilan anaknya itu
Raffa memiliki trauma yang sangat menyakitkan dalam hidupnya. Beberapa orang psikiater terbaik mencoba untuk membangun motivasi Raffa tapi hal itu sia sia belaka. Raffa tidak bergeming ketika memulai sesi konsultasi
Papa dan Mamanya tau tentang kejadian itu dari mulut Raffa sendiri ketika Raffa sudah mulai bisa menerima keadaan. Kedua orangtuanya sangat marah kepada Neysha dan Ettan.
"Gimana ini Pa, Raffa masih ga mau menikah dengan Alina. Dia juga tidak mau makan sesuap nasi pun. Dia hanya mau minum susu, katanya dia akan seperti itu sampai kita membatalkan rencana pernikahannya"
"Huft.. Mengapa jadi serumit ini Ma? Ini bermula karena ulah Neysha yang selingkuh dengan Ettan. Sampai sekarang Aku ga habis pikir kenapa mereka berdua melakukan hal itu pada anak kita, kurang apa anak kita Ma?"
"Pa bagaimana kalau kita meminta Alina untuk datang kesini? Kita minta Alina untuk bertemu dengan Raffa, siapa tau Raffa berubah pikiran ketika melihat Alina"
"Ide bagus Ma, Alina sampai saat ini belum boleh bekerja, aku masih tidak memperbolehkannya masuk sampai berita hoax itu benar benar tertangani dengan baik, aku akan coba menghubunginya dan meminta dia untuk datang besok"
"Iya Pa, Mama sudah ga sabar ketemu dengan calon mantu kita juga"
Kring kring kring...
"Halo Alina"
"Halo Pak Bastian, ada yang bisa saya bantu Pak?"
"Jangan terlalu formal kepadaku Alina, sebentar lagi hubungan kita bukan lagi atasan dan bawahan melainkan mertua dan menantu, kamu jangan canggung kepada kami"
"Baik Pak"
"Jangan panggil Pak, manggil Papa saja, anggap kami sebagai orang tuamu sendiri Alina"
"I.. Iya Pa" dengan ragu Alina berkata demikian
"Gimana kabarmu? Apa mereka masih mengganggumu dengan menyebarkan berita hoax?"
Alina langsung menggeleng "Tidak Pa,, mereka sudah tidak mengganguku lagi, makasih banyak Pa bantuannya"
"Sama sama.. Saya tidak suka kalau ada orang yang berani mengusik keluarga saya, kamu juga sebentar lagi akan jadi bagian dari keluarga Hadibrata, jadi siapapun yang mengganggu kamu akan berurusan dengan kami"
Alina terharu mendengar perkataan dan perbuatan dari Big Bos yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya. Dia merasa sangat beruntung memiliki calon mertua seperti mereka
"Makasih banyak Pa, aku sangat menghargai bantuan Papa"
"Lin.. kamu besok ada acara ga?"
"Ga ko Pa, aku di kostan aja, gimana Pa?"
"Kami mau mempertemukan Raffa dengan kamu"
Deg.. tubuh Alina seketika langsung memberikan reaksi. "Bagaimana ini? Apa sudah saatnya aku bertemu dengan calon suamiku? Aku sama sekali belum siap ketemu dengannya" gumam Alina
"Alina, Mama tau kalau kamu sangat terkejut mendengar berita yang mendadak ini, kami semalam sudah bilang Raffa tentang pernikahan ini tapi sampai saat ini dia masih menolak, makanya kami fikir sebaiknya kamu bertemu dengannya terlebih dahulu, mungkin dia akan jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihatmu" Mama menimpali
"Aku akan berusaha Ma" Alina memegang dadanya, dia tidak dapat menyembunyikan perasaan gugupnya lagi
Setelah menutup telpon dari calon mertuanya, Alina berniat untuk tidur, dia beranjak ke kasur kesayangannya. "Apa yang harus aku lakukan? Gimana kalau setelah kami bertemu dia tetap menolakku? Aku sangat takut menghadapi dia Ibu, bantu aku Ibu, semua ini aku lakukan demi nenek dan Kila, tolong bantu aku" batin Alina, tanpa sadar air matanya sudah jatuh dengan sempurna ke pipi kiri dan kanannnya
Alina bergulang guling dan berganti ganti arah serta tempat dia tidur, tak ada satupun yang berhasil. Dia masih saja memikirkan kejadian besok.
"Ayo tidur Alina.. Dia tidak seserem itu, biar gimana pun juga suatu saat kamu harus bertemu dengannya karena dia calon suamimu, ayo ayolah tidur"
Setelah menghitung domba sebanyak 100 kali lebih, Alina baru berhasil memejamkan matanya, dia hanya tidur sekitar 4 jam. Alhasil ada kantung mata di sekitar mata Alina
"Hah.. yang benar saja, kenapa mataku jadi berkantung seperti ini? Aku harus tampil cantik saat bertemu dengannya" Alina pun bersiap siap dan menggunakan pakaian terbaiknya.
"Aku siap" itulah yang diucapkan Alina ketika dirinya benar benar siap untuk bertemu Raffa. Alina keluar dari kostannya dan menuju rumah keluarga Hadibrata.
"Mas boleh setel youtube?"
"Boleh mba, mau lagu apa?"
"When you believenya Whitney Houston feat Mariah Carey"
Alina pun bernyanyi lagu ini setiap kali dia merasa gugup. Lagu ini merupakan lagu penyemangat baginya
An' though they don't always happen when you ask
And it's easy to give in, to your fears
But when you're blinded by your pain
Can't see your way clear through the rain
A small but still, resilient voice
Says hope is very near
There can be miracles
When you believe
Though hope is frail
Its hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve
When you believe, somehow you will
You will when you believe
Begitu selesai menyanyikan lagu itu, Alina pun menjadi lebih santai, tidak segugup pertama kali. Dia berusaha untuk menguasai keadaan
Tak lama, Alina masuk ke gerbang rumah keluarga Hadibrata. Mata Alina memandang rumah tersebut penuh kagum. Dia belum pernah masuk bahkan melihat rumah sebesar itu. Rumah keluarga Hadibrata nampak asri karena terdapat taman di samping rumahnya. Warna cat hijau kombinasi putih pun menambah keasrian rumah tersebut.
"Wah jarak antara pintu gerbang dan pintu masuk rumah sangat jauh, enak banget kalau ada anak kecil bisa lari lari sepuasnya. Eh ada kolam renang juga ternyata, kalau anaku nanti mau belajar renang secara private, ga bakalan ada yang lihat" gumam Alina. Alina langsung menepuk nepuk kepalanya, "kamu mikir apa sih Lin, udah mikirin punya anak aja, ketemu aja belum, tugasmu masih sangat panjang" batin Alina lagi
Setelah sampai di lobby rumah tersebut, Alina melakukan ritualnya setiap kali ia gugup. Dia menghirup napas menahannya dan menghembuskan lewat mulutnya, hal itu dia lakukan 3x
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
arin
ayo smngt Alina,psti kmu bisa jngn mnyrah...
2021-02-09
0
Akbar
ya semangat alina, jngan mundur sebelum menang
2020-12-17
2
Nelly Noor
was was cemas yah
2020-11-28
4