Sambil menunggu, Alina mengamati beberapa pelayan restaurant tersebut mondar mandir ke mejanya. Ivan sudah menyiapkan makanan dan minuman untuk Alina dan Pak Bastian, sang Big Bos. Ditempat pertemuan tersebut sudah ada beberapa orang ajudan yang bertugas untuk mengurus semua hal sebelum Pak Bas datang.
"Wah orang kaya emang beda, sebelum datang aja makanan dan minuman sudah siap di mejanya" gumam Alina. Alina yang sadar bahwa penampilan dirinya itu masih sangat berantakan, segera pamit kepada salah satu ajudan untuk ke kamar mandi. Salah satu ajudan itu pun mengantar Alina dan menunggui Alina hingga selesai. Alina merasa sangat canggung dan tidak terbiasa sama sekali dengan hal ini
Di dalam kamar mandi, dia merapikan tampilannya agar terlihat fresh di depan Pak Bas. Alina tidak mau terlihat seperti orang yang sedang bimbang. Alina takut hal tersebut akan berimbas kepada karirnya
Setelah kembali ke mejanya, Alina kembali menunggu kedatangan Pak Bastian. Dia menghela napas panjang. "Masa di pertemuan ketiga aku langsung minta uang? Tapi kalau bukan sekarang, kapan lagi, aku butuh banget untuk beli obat nenek dan untuk membayar biaya kuliah Syakila"
Beberapa saat kemudian Pak Bastian datang. Dia datang berdua dengan Ivan. Ivan dan para ajudan duduk di meja dekat dengan Pak Bas. Sedangkan Pak Bas duduk semeja dengan Alina saja
"Sore Alina, sudah lama menunggu?" Pak Bas tersenyum ke arah Alina sambil mengulurkan tanggan untuk mengajak salaman
"Sore Pak Bastian" Alina langsung berdiri sambil tersenyum dan bersalaman dengan Pak Bastian
"Silakan duduk, maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama"
"Tidak pak, saya baru saja sampai setengah jam yang lalu"
"Ayo silakan dimakan, saya tau kalau kamu belum makan seharian ini"
"Pak Bastian tau darimana kalau aku belum makan? Jadi beliau sengaja menyiapkan untuk aku?" gumam Alina
"Jangan melamun saja Alina, ayo dimakan, kamu pasti lapar kan"
"Baik pak" Alina pun mengambil nasi, lauk dan sayuran ke dalam piringnya. Begitu pun dengan Pak Bastian
"Gimana, enak kan?" tanya Pak Bas setelah Alina selesai menghabiskan suapan pertamanya
"Enak pak, enak banget"
"Sukurlah kalau kamu suka, ini merupakan salah satu restaurant favorit keluarga saya, dulu kami sering makan di sini sebelum Raffa kecelakaan"
Pak Bastian pun mengajak ngobrol Alina terlebih dahulu, dia ingin mendekatkan diri dengan calon menantunya itu dan membuat Alina tidak canggung lagi terhadap dirinya
Setelah mengobrol panjang lebar, akhirnya Pak Bastian pun menanyakan keputusan yang sudah Alina buat. "Apa kamu sudah membuat keputusan terhadap tawaran saya kemarin?"
"Sudah pak, saya bersedia menikah dengan Raffa"
Pak Bastian tidak bisa menutupi rasa senangnya. "Terima kasih ya Alina, kamu memang bisa diandalkan"
Alina terlihat gugup sekali, dia ingin meminta uang untuk pengobatan sang nenek. Menyadari kegugupan Alina, Pak Bastian pun menanyakannya
"Kamu kenapa Alina? Ko keliahatan gugup sekali"
"Hmm Pak maaf kalau saya lancang sekali, tapi apa boleh saya meminjam uang Bapak untuk biaya pengobatan nenek saya pak, saya sangat butuh sekali karena obat yang beliau minum sudah habis"
Pak Bastian menarik napas panjang. Alina merasa bersalah melihat respon dari Big Bossnya itu. Dia takut saat ini kehilangan pekerjaannya
"Kenapa kamu malah minjam uang dari saya Alina.. Mulai sekarang kamu tidak usah khawatir lagi tentang biaya pengobatan nenekmu dan biaya kuliah adikmu itu, semuanya akan saya tanggung"
Alina terbelalak terkejut dengan pernyataan Pak Bastian. Dia sangat senang karena orang orang terdekatnya mendapatkan jaminan yang lebih baik
"Ter..Terima kasih Pak, terima kasih banyak" Alina mengucapkan terima kasih sambil menangis bahagia
"Kamu tenang saja Alina, saya akan menjamin nenek kamu dapat pengobatan terbaik dan menjamin adik kamu tidak akan kekurangan biaya saat kuliah berlangsung, saya juga akan menjamin hidup kamu tidak akan kekurangan biaya sedikit pun"
"Terima kasih banyak pak, saya merasa berhutang budi kepada Bapak"
"Balaslah hutang budi yang kami berikan dengan mencintai anak saya satu satunya, saya dan istri saya ingin sekali melihat anak kami kembali seperti semua, kami sudah sangat merindukan tawa Raffa, setelah kecelakaan dia sama sekali tidak pernah tertawa bahagia, jangankan seperti itu, tersenyum saja tidak pernah, saat ini dia merupakan yang paling penting untuk kami, asal dia bisa bahagia dan kembali seperti sebelum kecelakaan itu, kami rela memberikan apa pun itu"
"Baik Pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat anak Bapak kembali seperti semua"
"Terima kasih Alina, kamu satu satunya harapan yang kami punya sekarang, buatlah dia tersenyum setidaknya satu kali saja, kami sangat rindu dengan kebahagiaan yang ada di wajahnya" ucap Bastian, tidak terasa air matanya menetes. Hal itu disadari betul oleh Alina
Alina merasa dadanya sesak saat melihat Pak Bastian seperti ini. Di kantornya, beliau adalah orang yang benar benar super power tetapi saat ini Alina melihat sisi lain dari Pak Bastian. Alina bertekad untuk memenuhi permintaan atasannya tersebut
Alina berniat untuk mengurusi Raffa sampai dia benar benar bisa sembuh seperti sedia kala, tidak peduli sifat Raffa akan seperti apa dan seberapa besar penolakan Raffa nantinya. Dia ingin keluarganya hidup bahagia dan melihat keluarga bosnya hidup bahagia pula.
"Oya Alina, untuk pengobatan nenekmu itu serahkan saja ke Ivan, dia yang akan mengurusnya, besok nenekmu akan kami pindahkan ke rumah sakit terbaik di sana agar nenekmu mendapat perawatan semaksimal mungkin dan Ivan juga akan mengurus biaya kuliah adikmu, kamu tenang saja, jangan mengkhawatirkan apa pun lagi, cukup fokus saja ke Raffa setelah kalian menikah nanti"
"Baik pak, terima kasih banyak atas bantuannya"
"Saya yang berterima kasih kepada kamu Alina, kamu adalah harapan kami yang terakhir, saya harap Raffa dapat menerima kamu sebagai istrinya, nanti saya akan bicarakan ini dulu ke Raffa, setelah dia setuju baru kalian akan menikah, kapan kamu ada waktu lagi? Saya ingin mengajak kamu untuk bertemu dengan istri saya, dia pasti sangat senang dengan kabar gembira ini"
Alina tersenyum mendengar pernyataan bosnya, "Kapan saja pak, saya siap untuk bertemu istri Bapak dan menikah dengan anak Bapak"
Pak Bastian pun memanggil Ivan, dia ingin Ivan mengatur pertemuan antara dirinya, istrinya dan juga Alina, Pak Bastian ingin istrinya bertemu dengan Alina terlebih dahulu sebelum Alina bertemu dengan Raffa. Dia ingin menanyakan bagaimana pendapat istrinya itu tentang Alina setelah mereka bertemu
Tak lama, Alina pun pamit dan kembali ke kostannya, kali ini Pak Bastian mengantar Alina untuk pulang sambil melihat lokasi kostannya seperti apa
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Erni Garnita
ya alur cerita bagus aq sllu hbs baca nya
2021-03-12
0
Sari Mulia
aku ikuti alur ceritanya,kayanya menarik !
2021-02-23
0
♈⛎♎ chann💫💫
,, lanjut
2020-12-09
0