Begitu selesai menelfon Alina, Bastian pun segera pulang ke rumahnya. Di dalam perjalanan, dia terus saja memikirkan akan seperti apa sikap Raffa begitu mendengar tentang perjodohannya dengan Alina. Bastian pun memijat kepalanya dan memejamkan mata sebentar untuk menenangkan dirinya
Sesampainya dirumah dia menceritakan hal yang telah dialami oleh Alina kepada istrinya. Mereka berdua sangat terbuka dalam berbagai hal. Tidak ada yang mereka tutup tutupi
"Ma,, kita pangil Raffa untuk makan malam bareng ya, habis itu kita bicarakan ini ke dia"
"Iya Pa, Mama panggil Raffa dulu ya, dia kayanya masih di perpustakaan, tadi dia mau baca buku katanya"
"Iya Ma"
Mama pun menuju ke perpustakaan untuk memanggil Raffa. Mama melihat Raffa sedang tertidur sambil memegang buku. Mama Kirana lantas menghampiri Raffa dan mencium kepala Raffa. Hal itu membuat Raffa terbangun
"Ma.. ada apa Ma?"
"Mama cuma kangen kamu saja sayang, kita makan malam bareng yu"
"Ma apa aku boleh makam dikamar aja? Aku lelah Ma"
"Hmm.. sebetulnya ada hal yang ingin kami beritahukan padamu"
"Apa itu Ma?"
"Biar Papa saja yang mengatakannya padamu setelah makan malam"
Raffa pun akhirnya menuruti keinginan sang Mama untuk makan malam bersama. Sebelum makan malam, dia masuk ke kamarnya untuk mandi terlebih dahulu. Sang Mama mengantar dan membantu mendorong kursi roda yang dipakai anaknya itu
"Kamu sudah selesai mandi sayang?"
"Udah Ma"
"Ayo kita makan dulu yu" Mama pun mengambilkan nasi dan lauk untuk Papa, setelah itu Mama mengambilkan nasi dan lauk untuk Raffa dan baru mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri. Setelah selesai makan, mereka mengobrol singkat
Mereka bertiga pun pindah ke ruang keluarga. Papa mengutarakan rencananya untuk menikahkan Raffa dan Alina
"Raffa, kamu tahun ini sudah memasuki usia 28 tahun, Papa sebentar lagi akan pensiun dari perusahaan, Papa mau kamu yang jadi penerusnya"
Raffa hanya bisa diam saja, dia sudah tau dari kecil kalau harus meneruskan bisnis turun temurun keluarganya. Dari kecil pula dia sudah dididik dan dipersiapkan untuk menjadi generasi penerus
"Selain itu juga, Papa dan Mama sangat ingin kamu memiliki pasangan hidup dan bisa memberikan kami cucu"
Raffa sudah biasa mendengarkan hal ini, kedua orangtuanya sudah mengatakan hal ini berkali kali kepadanya, dan sampai sekarang pun dia masih tidak merespon apa apa. Kedua orangtuanya pun sangat mengetahui sifat dari anaknya ini.
"Kami tau kamu tidak akan bereaksi apa apa, oleh karena itu kami ingin kamu menikah dengan wanita pilihan kami"
Mendengar perkataan Papanya, Raffa langsung menoleh, "Aku ga mau menikah Pa"
"Mau sampai kapan kamu seperti ini terus?"
"Papa tau kan sebabnya kenapa aku jadi seperti ini? Aku sudah ga percaya wanita lagi, aku ga mau menikah sampai kapan pun juga"
Mama langsung menangis begitu mendengar perkataan yang keluar dari mulut anaknya. Dia tau Raffa akan menolak tapi dia tak menyangka kalau anaknya tidak akan pernah mau menikah
"Kamu jangan menyama ratakan semua wanita yang ada di dunia ini. Kalau kamu seperti ini karena mantan tunanganmu, coba lihatlah keluarga kamu ini, lihatlah Mamamu, apa Mamamu itu orang yang seperti mantanmu? Tentunya tidak, apa Nenekmu orang yang seperti mantanmu itu? Tidak juga. Jangan pernah kamu sekali kali berkata kalau kamu tidak akan pernah mau menikah, kamu sadar tidak kalau kami juga terluka dan sangat amat sedih melihatmu seperti ini? Mau sampai kapan sikapmu seperti ini terus, coba lihat Mamamu, Mamamu sangat menyayangi kamu, apa kamu sudah lupa apa yang telah kami perbuat padamu? Mamamu bahkan harus bertaruh nyawa ketika melahirkanmu, apa sekarang balasanmu seperti ini kepada kami?" ucap Papa dengan nada tegas
Raffa masih terdiam dan berusaha untuk mencerna ucapan demi ucapan yang ayahnya lontarkan kepadanya. Sedangkan sang Mama tak henti hentinya menangisi kedua orang yang paling dicintainya
"Cobalah pikirkan lagi matang matang, kamu masih muda, masa depanmu masih sangat panjang Raffa, kamu harus berubah, kamu harus melanjutkan hidupmu dan bahagia kembali seperti semula, bahkan harus lebih bahagia dari sebelum kamu kecelakaan. Kami sangat sedih melihat kamu seperti ini, kamu seperti kehilangan motivasi hidup"
"Pa sudah stop Pa, kasihan Raffa"
"Mama jangan seperti itu, aku mau lihat dia lanjutkan hidupnya dan bahagia dengan keluarga kecilnya sebelum aku meninggal. Saat ini kita berdua sudah tua, kita ga tau kapan malaikat maut akan menjemput, siapa yang akan mengurus anak kita kalau kita tidak ada? Siapa yang mengurus dia saat kondisi dia seperti ini? Tidak akan ada yang mau Ma, makanya Papa ingin kamu cepat cepat menikah dengan pilihan kami"
"Aku tetap tidak akan mau Pa, tolong jangan memaksaku seperti itu, aku bukan anak kecil lagi sekarang, aku berhak menentukan hidupku seperti apa" Raffa memencet tombol di kursi rodanya, dia ingin menuju kamarnya
"Tenang saja Ma, Papa akan cari cara supaya dia mau menikah dengan Alina, Papa ga mau hidupnya hancur seperti ini terus" Papa berkata sambil memeluk istri tercintanya yang belum berhenti menangis
"Aku ga mau dia terluka Pa, aku ga mau dia tambah down lagi"
"Mama tenang aja, lama lama dia juga mau, besok atau lusa kita bicarakan baik baik dengan dia, kita juga bisa mengajak Alina langsung ke sini dan bertemu dengannya terlebih dahulu"
"Iya Pa"
Di dalam kamarnya Raffa mengamuk, dia melempar semua barang barang yang ada disana, dia marah sekali karena Papanya berkata seperti itu
"Aaaaaaaakh Aaaaaaakh" Raffa berteriak dan setelah dia menarik napas sambil ngos ngosan, dia melepaskan beban dan kemarahan akibat pembicaraan dengan kedua orang tuanya
"Pa,, apa Raffa gapapa?"
"Biarkan saja Ma"
"Apa aku harus ke kamarnya sekarang Pa?"
"Ga usah Ma, beri dia waktu untuk sendiri, dia akan merenungkan perkataanku tadi, aku yakin dia tidak akan menyakiti dirinya sendiri, dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri setelah itu dia akan berfikir tentang perkataanku tadi, aku sangat hapal sifat dari anak kita, makanya tadi aku berbicara keras padanya agar dia sadar dan tidak menyia nyiakan hidupnya seperti itu lagi"
"Tapi Pa, aku takut dia kenapa napa"
"Dia ga akan kenapa napa Ma, percaya padaku, apa Mama tidak mengenal Raffa dengan baik? Bukannya sifatnya memang seperti itu dari dia kecil Ma"
"Aku tau dan paham sekali sifatnya Pa, tapi saat ini keadaannya sangat jauh berbeda dari dulu, aju khawatir sekali dengannya"
"Sudah,, ga usah dipikirkan, sekarang kamu istirahatlah, jangan sampai sakit karena memikirkan dia"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Neng Win
visualnya
2021-12-12
0
fanthaliyya
semangat Raffa....
semoga Raffa benar" cinta sm Alina nantinya 💗
2021-05-10
0
Akbar
hidup harus bterus berlnjut rafah, apapun itu bentuknya
2020-12-17
1