Rianti tiba di night club tiga puluh menit kemudian setelah panggilan telepon teman Dori dimatikan.
Dentuman suara musik mengalun memekakkan telinga begitu Rianti memasuki ruangan besar dengan bau alkohol bercampur rokok yang menyengat.
Lambu warna-warni membuat matanya terasa silau.
Gadis itu terus berjalan dengan menunduk tidak memperhatikan beberapa pasang mata yang menatapnya lapar.
Matanya terus mencari-cari dalam keremangan sampai dia menemukan sosok Dori di depan meja bartender. Pria itu mabuk berat rupanya, dan hampir kehilangan kesadarannya.
“Lo Rianti?" seorang pemuda dengan rambut Mohawk mengulurkan tangganya, "Gue Ardi."
Rianti mengangguk sopan.
"Tuh lihat cowok lo, Ri. Dia dari tadi manggil-manggil nama lo. Dia cinta banget kayaknya sama lo. Gue juga heran. Tumben-tumbenan dia ngajak ke tempat ginian. Biasanya kan dia ngajak nongkrong minumnya jus jeruk. Ini nih, sok-sokan minum alkohol. Mabuk kan dia,” Ardi ngoceh sendiri.
Rianti mengedik heran, cowoknya? Sejak kapan? Tapi gadis itu hanya diam, berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
Didekatinya tubuh Dori yang tertelungkup di meja bar.
"Kak Dori?" Rianti mencoba menepuk-nepuk punggung Dori, pemuda itu menggeliat dan menepis tangan Rianti.
"Gue gak mau pulang, Di. Gue ingin Rianti. Gue cinta banget sama Rianti."
Tubuh Rianti menegang. Kak Dori suka sama dirinya? Sungguhkah? Siapa sih yang tidak suka dengan calon dokter yang tampan, pinter dan tajir macam Dori? Dan pemuda itu mengaku suka padanya? Bukankah seperti di novel-novel romantis orang mabuk suka bicara jujur?
"Ini Rianti, Kak. Kakak pulang yuk. Ini udah hampir pagi."
"Rianti?" Dori mendongakkan kepalanya, mencoba melihat dari pandangan matanya yang kabur.
"Kau Rianti? Kau datang untukku?"
Rianti mengangguk, "Aku antar kakak pulang, ya?"
"Tidak. aku tidak mau pulang.”
Rianti memutar matanya jengah. Dia merasa tidak nyaman di tempat seperti ini. Apalagi pandangan mata banyak pria yang menatap tajam ke arahnya seolah bisa menelanjanginya hanya dengan tatapan.
"Kalau kakak tidak mau pulang, aku akan pulang sendiri."
"Tidak...tidak... aku mau pulang. Asal kau mau jadi pacarku," Dori mengoceh sambil memegang tangan Rianti erat.
Aduh, pemuda ini tidak ada baik-baiknya, baru kali ini Rianti merasa ditembak dengan cara mabuk.
"Terima aja Ri. Dia kan lagi mabok, gak sadar sama yang diucapkannya, toh, paling besok juga udah lupa. Yang penting itu anak pulang dulu," Ardi menepuk pundak Rianti pelan.
"Iya, tapi kakak pulang, ya?" Rianti mencoba memapah tubuh kekar Dori.
"Sungguh? Kau mau jadi pacarku?"
Rianti mengangguk kaku. Matanya terpejam. Jika hidupnya normal mungkin dia akan bahagia banget ditembak Dori. Tapi sekarang? Bagaimana dengan pria brengsek yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu?
"Jadi kita sekarang pacaran kan, Ri?" Dori tersenyum sambil mencoba memeluk Rianti, Gadis itu mengangguk dan tersenyum manis. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedari tadi mengikuti, mengabadikan kebersamaan mereka dengan diam-diam.
🍁🍁🍁
Rianti tiba ke rumah keluarga besar Dori, dini hari. Diantar oleh Ardi hingga ke ruang tamu Dori yang luas dan elegan.
Ardi memapah Dori hingga ke kamarnya di lantai dua.
Seorang perempuan muda dengan perut buncit datang mendekat. Tersenyum manis dan mempersilakan Rianti duduk di kursi ruang tamu yang empuk.
"Kamu Rianti?" suaranya halus dan lembut.
"Silakan duduk."
Rianti tersenyum, "Iya. Saya Rianti, Kak.”
"Saya Lewi, Kakaknya Dori," Wanita cantik itu tersenyum ramah sambil menjabat tangan Rianti erat.
"Senang sekali bertemu denganmu, Ri. Dori sering menceritakan tentangmu pada kakak."
"Oya?" Wajah Rianti bersemu.
"Kau gadis yang cantik, Ri. Tidak salah Dori mencintaimu. Kalian akan bahagia selamanya. Tidak seperti kakak," Wanita itu tertunduk sambil mengusap perut buncitnya. Pandangannya sedih dan kosong.
"Saya rasa kakak sudah salah paham. Saya dan Kak Dori tidak ada hubungan apa-apa?"
"Benarkah? Berarti Dori bertepuk sebelah tangan?"
"Maksud Kakak?"
"Dori selalu antusias menceritakan tentangmu sepulang dari kampus. Wajahnya sangat bahagia. Apa dia yang hanya menyukaimu sedangkan kamu tidak?"
Rianti tertunduk, "Saya tidak pantas untuk Kak Dori, Kak."
"Kenapa?"
Rianti menunduk.
"Aku sudah antar Dori ke kamarnya, Kak. Anak itu sudah tidur," Ardi tiba-tiba saja menyela percakapan mereka, Rianti mendesah lega.
Lewi mengangguk. "Terima kasih Di. Anak itu entah kenapa malam ini minum-minum. Biasanya dia tidak pernah mabok. Benar kan, Di?"
Ardi menganguk.
"Tadi siang dia terlihat kalut sekali. Dia bilang ada seseorang yang mencoba merebut seseorang yang paling berharga baginya. Kakak tidak paham apa maksudnya."
Rianti terdiam. Apa mungkin karena Rianti dijemput Alex siang tadi? Tidak tidak. Rianti tidak mungkin ke gr-an bukan?
"Sudah hampir pagi, Kak. Sepertinya kami harus pulang," Ardi kembali membuyarkan lamunan Rianti.
Rianti hanya tersenyum tipis, "Iya, Kak. Saya permisi dulu, saya juga harus pulang."
"Aku akan mengantarmu," Ardi menyambar jaketnya, "Aku pulang dulu, Kak."
"Iya, Di. Dan kau Ri. Sering-seringlah datang kemari. Kakak tidak punya saudara perempuan. Kita bisa hangout bareng," Lewi melepas kepergian Rianti dan Ardi hingga halaman depan.
Rianti mengangguk sambil tersenyum sopan. Gadis itu buru-buru memasuki mobil Ardi, perasaanya tidak enak.
“Antarkan aku sampai depan perumahan saja, Kak. Aku pesan taksi online."
"Gue udah bilang kan, kalo akan antar lo?" Ardi melajukan mobilnya dengan pelan.
Rianti gelisah di tempatnya. Bagaimana jika teman Dori tahu di mana dia tinggal sekarang?
"Tidak perlu, Kak. Saya tidak ingin merepotkan."
"Gue tidak merasa direpotkan, Ri. Gue sohib Dori sejak orok. Dori akan membunuh gue jika gak antar lo. Ardi tertawa. Apalagi lo sumber kebahagiaannya. Dia selama ini tidak pernah dekat sama wanita. Kecuali sama Kak Lew," Ardi kembali tertawa.
Rianti ikutan tertawa meski dalam hatinya dia masih merasa resah, entah kenapa?
“Dori dari kecil tidak pernah tinggal sama bokap nyokapnya. Sejak bokap nyokapnya cerai, Bokapnya menikah lagi, begitu juga dengan nyokapnya. Dia hanya tinggal berdua sama Kak Lew ditemani neneknya sih dulu. Tapi sejak Grandma meninggal, Dori merasa agak depresi, dia merasa tambah hancur ketika Kak Lew hamil di luar nikah. Brengsek emang itu cowok, gak mau tanggung jawab. Mentang-mentang tajir. Bisa seenaknya saja nanam benih."
Rianti mengerutkan kening, pikirannya berkecamuk antara permasalahan Dori dan perasaannya sendiri. Dori menyukainya sudah cukup membuatnya terkejut meski selama ini dia sudah merasa terlalu istimewa bagi cowok itu. Apalagi sekarang permasalahan peliknya dengan Alex.
Aarggh... Rianti menyugar rambutnya kasar. Perasaannya benar-benar tidak enak.
Rianti takut Alex akan marah padanya jika tau dia pergi malam-malam tanpa pamit. Gadis itu dengan panik mencari ponsel di dalam tasnya, sial. Baterai ponselnya mati.
Ardi melirik sekilas gadis itu. Mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Ardi segera melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta yang tak pernah lenggang meski pagi menjelang.
🍁🍁🍁
Terima kasih atas like, komen, dan vote-nya ya readers.
Teşekkür ederim.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Siti Aminah
waaah....Rianti cari masalah ...gk tau dia klo alex mulai bucin
2024-05-19
0
Ayuna Kamelia
klo aku jadi rianti
aku akan milih dori
daripada alex yg suka celap celup
2024-03-28
0
Em Mooney
lewi yg ngehamilin willy
2023-12-16
0