Monica masih terpesona dengan pemandangan di depannya.
Meski masih berdarah Indonesia, gadis itu dari kecil sudah tinggal di Hongkong. Monica tidak menyangkal kalau suasana di resto ini hampir sama dengan resto-resto kelas dunia lainnya. Tempatnya bikin betah dan nyaman.
Restoran romantis ini menyajikan view panorama kota Jakarta dari ketinggian lantai 46. Di malam hari berjuta lampu di kota Jakarta terlihat indah sekali. Seperti jutaan kunang-kunang, atau mungkin seperti gugusan bintang.
Tapi kenapa tempat seindah ini sepi?
"Aku sudah membooking semuanya. Hanya akan ada kita berdua," kata Alex seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Monica.
Monica tersenyum bahagia. Dipandangnya makhluk Tuhan paling menakjubkan yang pernah dilihatnya. Ia berdiri gagah di tengah ruangan dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Wajahnya memancarkan wibawa serta kharisma yang memukau. Tak ada senyum, namun ada pesona yang tak terbantahkan.
Alex menggeser kursi ke belakang dan membantu Monica untuk duduk. Pria itu, meskipun wajahnya hampir selalu datar tanpa ekspresi, tapi dia juga bisa bersikap manis.
Sikap yang akan membuat semua wanita meleleh di hadapannya.
"Kapan kau mempersiapkan ini?" Monica tersenyum. Perasaannya membuncah bahagia.
"Pada saat kau bersiap-siap, yang katanya sebentar ternyata hampir satu jam," sindir Alex dengan tersenyum.
"Jangan rusak rasa bahagiaku, Alex," Monica memukul lengan Alex manja.
Mereka bahkan tidak menyadari saat seorang pelayan wanita berseragam putih hitam datang dan melihat dengan canggung ke arah mereka,
"Maaf, mau pesan apa, Sir, Miss?"
“Rib eye bone in steak and wine, you?"
“Waldorf Salad."
"Kamu masih diet?"
"Hm."
“Why?"
Monica tersenyum manis, "For you (untukmu)."
“Me?"
“Yep."
Alex menautkan alisnya, "Why me (kenapa aku)?"
Monica tertawa, "Kalau aku tidak seksi, kamu bakalan melirik wanita lain, Alex."
“No I'm not (tidak. aku tidak seperti itu)."
"Semua pria sama saja Alex. Apalagi pria seperti kamu," Monica mengerling manja.
Alex mendengus.
Bukan salah Alex dong kalau wajahnya tampan dan kekayaannya berlimpah, hingga wanita-wanita itu berlomba-lomba melemparkan dirinya kepada Alex. Dia tak pernah meminta, tapi mereka yang menawarkan dirinya secara cuma-cuma.
“But, I want you. Only you (tetapi, aku menginginkanmu, hanya kamu)," Suara rendah Alex yang memiliki alunan tegas namun sensual membuat hati siapapun berdesir saat mendengarnya.
Monica mencoba menenteramkan degup jantungnya.
"Only me (hanya aku)? Alexander Kemal Malik? Wow aku benar-benar tersanjung."
Alex tersenyum. Senyum yang bisa membuat berjuta wanita di luar sana menjerit bahagia, senyum itu juga yang seketika membuat Monica terpaku di tempatnya.
"Monica Young. Will you marry me (maukah kau menikah denganku)?" Alex tiba-tiba mengeluarkan kotak beludru berwarna merah dari saku jasnya. Di dalamnya terdapat cincin berlian yang begitu indah.
Berlian berwarna biru, seperti cincin tunangan Putri Inggris, Kate Middleton, yang selalu di idamkannya.
Mata Monica terbelalak. Ada gelenyar aneh di sekujur tubuhnya.
"Kau melamarku?"
"Tidak. Aku hanya menawarimu sekali lagi untuk menikah denganku. Setelah dulu kau berulang kali menolakku."
“Alex," Monica mendesah manja.
"Apa kau juga mendadak mempersiapkan lamaran ini saat aku sedang bersiap-siap tadi?" wanita cantik itu mencoba melucu untuk menentramkan debaran jantungnya yang berpacu.
"Tidak. Kalau cincin ini, aku sudah mempersiapkan lama sekali. Bahkan saat kita berdua tinggal bersama saat di Harvard. Kau masih ingat?"
Monica memejamkan matanya. Mengingat kembali kebersamaan mereka selama di Harvard University. Sungguh, andai dia tidak berada di puncak karier sekarang, dia pasti akan menerima lamaran CEO tampan dan kaya ini.
Tapi, Monica merasa dia masih belum ingin menikah. Usia 29 tahun masih terlalu muda baginya. Apalagi perusahaannya membutuhkannya. Tidak mungkin Monica meninggalkan perusahaan dan mengikuti Alex pulang ke Turki atau ke Indonesia.
"Aku belum siap," Monica mendesah panjang.
Dia tidak ingin mengecewakan pria itu. Tapi dia juga ingin mengejar kariernya.
"Maaf," Monica bangkit dari duduknya dan menutup kotak cincin itu kembali lantas memeluk Alex erat.
"Save it for me (simpan itu untukku). Aku akan menerimanya nanti.”
“Again (lagi - kau menolakku lagi)? Now, Give me the reason (sekarang, berikan aku alasannya)?"
"Aku belum siap meninggalkan duniaku."
Monica menunduk, "Kau tahu? Aku berjuang demi karierku hingga di posisi sekarang. Semua melalui proses yang panjang, Alex."
"Aku bisa memberikan segalanya untukmu."
“I know. Kamu bahkan bisa membeli dunia dengan uangmu."
"Dan kau lebih memilih kariermu daripada aku?" Alex mengerutkan keningnya.
Monica gelisah di tempatnya, "Kau tahu aku sangat mencintaimu, Alex."
“No, you don't. Kamu lebih mencintai dirimu sendiri, Darl. If you know, Baba and Ane menyuruhku untuk segera membawa calon istriku pada pesta anniversary mereka. Jika tidak, mereka akan menjodohkanku." Alex terdiam sejenak. Menatap Monica lekat.
"Dan kau tahu, mereka akan memberikan semua asetnya padaku saat itu juga, dan akan disahkan pada saat aku menikah. Mereka tidak main-main, Darl. Orang kepercayanku mengatakan jika Baba sudah menghubungi lawyer untuk itu," Alex memijat pangkal hidungnya lelah.
“Are you kidding me (apakah kamu bercanda)?"
"Apa untungnya bagiku?"
“Alex," Monica memejamkan matanya. “Kau tahu aku selalu ingin menikah dengamu."
Wanita cantik itu mendesah panjang. Menggenggam tangan pria di hadapannya itu erat. Wajah tampan itu tetap datar meski di matanya ada sedikit kekecewaan.
"Tapi kau baru saja menolakku."
“Darl. Pelase! aku hanya butuh waktu," Monica setengah memohon.
Alex mengedikkan bahu, "Berapa lama? Sehari? Seminggu? Sebulan? And time is over (dan semua selesai). You know, perusahanku dan semua fasilitas yang aku peroleh selama ini dengan jerih payahku," Alex menjetikkan jarinya di depan wajah Monica,
"Dengan sekejap mata, bum, there's gone!”
“Just one year. No more (hanya satu tahun, tidak lebih)," cicit Monica perlahan.
Mungkin satu tahun akan cukup untuk mengelola perusahaan Mommy kemudian membiarkannya untuk dikelola orang kepercayaannya. Atau mungkin bisa di-merger dengan perusahaan Alex. Dan Monica masih punya kesempatan untuk menikmati karier cemerlangnya sebagai model.
“What? Dan kau akan membiarkanku memilih untuk kehilangan saham-sahamku atau menerima perjodohan gila itu? What the f*ck, Monica," Alex bersungut-sungut.
Alih-alih sakit hati karena penolakan Monica, Pria tampan itu lebih merasa marah membayangkan dirinya yang pastinya tidak akan mampu menolak syarat dari Baba dan Anne.
Jika pria itu menolak perjodohan, apa kabar semua sahamnya di Malik's Corp dan semua fasilitasnya selama ini? Dan jika menerima gadis pilihan Anne, bagaimana dengan Monica?
Monica terdiam. Alex menengus perlahan. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Hingga pelayan menyajikan pesanan mereka. Tak ada seorang pun yang memulai untuk makan.
Hingga Monica berseru dengan tiba-tiba dan membuat Alex terkejut dibuatnya.
"Aku punya ide. Kau pura-puralah menikah dengan wanita yang mau kau bayar selama satu tahun. Hingga aku siap untuk menikah. Setelah itu ceraikan dia, menikahlah denganku. Kau tidak akan kehilangan sahammu, juga tidak terpaksa menerima perjodohan sialan itu. Dan aku juga tidak akan kehilangan karierku.”
Alex menautkan alisnya, "It's a crazy idea."
🍁🍁🍁
Keterangan :
"Again? Now, Give me the reason?" : Lagi? (kau menolakku lagi), sekarang berikan aku alasannya?
Are you kidding me? : Apakah kamu bercanda?
It's a crazy idea : Ide gila.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Ayuna Kamelia
Sekata² si monica
malah nyari tumbal buat kepentingan dia
emang so kecakepan ente mbwak monic
2024-03-28
0
Em Mooney
woaah.. tp untung ditolak y. kl ngg g jd nkh sm riyanti
2023-12-16
0
NaNim24
seneng baca novel ini bs sambil belajar bahasa inggris&turki
2023-07-04
1