"Kau sudah menemukannya?" Monica menggelayut manja di lengan Alex. Mempermainkan jemarinya di dada bidang itu.
Alex terpejam.
Shit, kenapa malah bayangan gadis bodoh itu dalam pikirannya.
"Hmm."
"Dia bersedia menikah dan kemudian bercerai denganmu setelah satu tahun?"
"Hmm."
"Berapa yang kau berikan sebagai imbalannya?"
"Lima puluh juta."
Bulu mata lentik Monica mengerjap heran. "Hanya lima puluh juta dan dia mau menikah denganmu selama satu tahun? Murah sekali? Bahkan biaya itu sama dengan biaya perawatanku satu kali. Dia memang benar-benar b*t*h."
B*t*h? Alex mendengus. Entah kenapa rasanya tidak layak menyebut gadis itu j*lang.
Alex membuka matanya dan bergerak menjauh dari tubuh Monica yang menempel erat padanya. Dengan malas ia melirik ke arah jam yang tergantung di dinding kamar tamu apartemennya yang Monica tiduri saat ini.
"Masih jam 9 pagi, Alex," ucap Monica dengan manja.
"Aku harus ke kantor."
Monica berdecak tidak suka, "Kau bekerja di perusahaanmu sendiri, kau bisa datang semaumu."
Wanita itu mulai bangkit dari tidurnya dan memeluk punggung kekar Alex dari belakang. Tangannya dengan perlahan mengelus perut Alex membuat pria itu memejamkan matanya kesal.
"Berhenti, Monica."
Bukan Monica namanya jika langsung menurut.
Wanita itu dengan cepat berpindah ke hadapan Alex dan mencium bibir pria itu.
"Monica, stop it!" Alex berteriak kesal.
"Ayolah Alex, kita sudah lama tidak melakukannya," Monica kembali merengek saat Alex mendorongnya menjauh.
"Kau menolak menikah denganku, dan kau ingin aku bercinta denganmu?"
“Oh come on, kita bukan orang suci yang tidak pernah bersenang-senang bukan?"
Alex meriding mendengar perkataan Monica. Memang dirinya seorang billioner player yang suka berganti-ganti wanita dan membuangnya begitu saja setelah dirinya bosan.
Tapi mendengar perkataan Monica membuat Alex mau tak mau membandingkan Monica dengan Rianti.
Apa kau mau makanan sisa, Alex? Suara gadis bodoh itu berdenging di telinganya.
Monica memeluk Alex erat dan mencoba mendorong tubuh kekar itu ke belakang sampai keduanya terjatuh di atas ranjang.
"Ayolah Alex, aku merindukanmu," Monica kembali menciumi bibir Alex.
Alex mengatupkan giginya kuat, "Jadi, sudah berapa pria yang menjadi partner one night stand-mu, Darl?"
Monica memutar bola matanya kesal. "Kenapa kau harus menanyakan itu di saat seperti ini?"
"Jawab saja."
"Aku tidak bisa menghitungnya. Aku wanita bebas. That's my life. We need making love just to have fun. Jangan katakan kalau kau juga tidak pernah melakukannya. Aku tahu benar siapa kamu, Alex."
Entah kenapa Alex merasa jijik dengan pengakuan Monica. Wanita ini, wanita yang dulu dia merasa nyaman dengannya. Wanita yang dia harapkan menjadi ibu dari anak-anaknya. Alex merasa gamang sekarang dengan pilihannya sendiri. Alex mencoba mendorong Monica dari atas tubuhnya, tapi dengan cepat wanita itu menahan Alex untuk bangun.
“Stop it, Monica."
Ting!
Suara notofikasi pesan masuk membuat Alex mengalihkan perhatiannya pada ponselnya.
Pria itu mengerutkan keningnya ketika melihat nomor yang tidak dia kenal. Ada satu pesan yang masuk dari nomor tersebut dan Alex langsung membukanya.
Maaf sudah mengganggu waktumu, Alex. Aku hanya ingin bertemu pagi ini pukul 10.00. Aku menunggumu di Café seberang kampusku. Terima kasih. Rianti Azalea Jauhar.
Shit! Alex mengumpat dan segera berlari keluar kamar tamu menuju kamarnya sendiri.
Dia keluar kamar tanpa mempedulikan Monica yang berteriak memanggilnya.
Alex menutup pintu kamarnya cepat dan menguncinya dengan harapan agar Monica tidak mengganggunya. Dengan cepat Alex membersihkan dirinya dan bersiap.
Dia melirik jam dan kembali mengumpat. Astaga! Aku akan terlambat. Dan kenapa juga aku bisa seheboh ini hanya karena gadis bodoh itu ingin menemuiku? Alex meruntuk dirinya sendiri, tapi dia juga tidak melambatkan gerakannya.
Dia memasang dasi dengan cepat tanpa mempedulikan suara ketukan dan teriakan Monica di luar sana.
Alex membuka pintu kamarnya dan melihat Monica dengan acak-acakan di depan kamarnya. Alex mencium pipi Monica sekilas lantas berlalu begitu saja melewati Monica yang mendengus kesal dan mengikuti langkahnya keluar dari apartemennya.
"Kau akan kemana, Alex?"
"Sudah kubilang aku akan ke kantor. Ada meeting penting yang tidak bisa aku tinggalkan."
Monica mendengus kesal, "Demi Tuhan Alex! Jika kau tidak berhenti, aku akan ke Hongkong sekarang juga."
Dengan tidak peduli Alex mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam lift. Matanya masih menatap Monica yang masih berdiri di depan pintu apartemennya.
"Tommy akan mengantarmu," Setelah mengucapkan itu Alex menutup pintu lift dan melesat pergi.
🍁🍁🍁
Alex menghentikan langkahnya ketika melihat punggung kecil yang membelakanginya itu.
Rianti sedang duduk di bangku café dengan hoodie kebesarannya seperti biasa.
Setelah berhasil mengubah raut wajahnya menjadi sedikit lebih tenang, Alex berjalan menghampiri Rianti.
"Melamun?"
Mendengar suara itu, gadis itu terlonjak kaget, ia dan menatap Alex tidak suka. Kenapa pria itu muncul selalu secara tiba-tiba seperti ini?
"Seperti yang kau lihat." Rianti menoleh sebentar kemudian asyik kembali memutar-mutar sendok di minumannya.
"Aku pikir kau yang memintaku datang, tapi kenapa kau yang diam?' Alex dengan angkuhnya berbicara tanpa menatap Rianti.
Seolah tersadar, dengan Cepat Rianti mendongak dan menatap Alex dengan pandangan menyesal, "Maaf Tuan. Silakan duduk."
"Kau masih memanggilku,Tuan?"
"Oh, maaf Alex."
"Tidak masalah," Alex mengambil duduk di depan Rianti. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
Rianti gelisah melihat sekelilingnya. Beberapa wanita berbisik-bisik dengan pandangan lapar pada pria yang ada di hadapannya. Pria dengan lesung pipi dan mata biru tajam kehijauan.
Pria itu tengah menatapnya dengan intens. Rianti mematung seketika, matanya tak berkedip, terpesona oleh pemandangan indah di depan matanya. Baru kali ini ia melihat sosok Alex dengan begitu dekat.
Bibir yang terbuka hendak mengatakan sesuatu itu kembali terkatup. Wajahnya kembali memerah ketika dia mengingat bagaimana dia sudah memeluk leher kokoh itu, mencium wangi rambut kecoklatan itu, bahkan bibir seksi itu sudah mencium keningnya saat pria itu mengantarkannya ke mansionnya malam itu.
Alex berdeham pelan, "Jadwalku sangat padat. Kau ingin bertemu denganku hanya untuk memandang wajahku?”
"A-ku, aku tidak bisa tinggal di rumahmu. Aku juga ingin membatalkan rencana pernikahan ini," cicit Rianti pelan.
“Kenapa?"
"Rumahmu sangat besar, Alex. Aku tidak terbiasa. Meskipun banyak pelayan, aku tidak bisa tidur semalaman. Apalagi setelah kau pulang ke apartemenmu dan meninggalkanku sendirian. Aku...,"
"Kau tak ingin aku tinggalkan?"
"Bukan-bukan. Aku hanya?"
"Kau takut?"
Dengan malu-malu Rianti mengangguk.
"Aku bisa menemanimu."
"Haah? Kita tidak boleh...," Wajah Rianti memerah.
"Apa yang kau pikirkan? Mansionku ada banyak kamar. Atau kau memang ingin aku tidur di kamar yang sama denganmu?”
“Dasar mesum!” Bibir Rianti mengerucut sebal.
Pria itu terkekeh, sangat menyenangkan menggoda gadis di hadapannya itu, “So?"
"Aku akan kembali ke kost, bolehkah?"
“No. Aku akan minta Bibi Jeni tidur di sofa kamarmu mulai malam ini."
"Tidak tidak. Aku tidak nyaman dengan pelayanmu yang irit bicara sepertimu. Apalagi kasihan beliau juga punya banyak pekerjaan."
"Hm Baiklah. Kau bisa ajak siapapun menemanimu asal tidak kembali ke kost-mu. Temanmu mungkin?"
Rianti menunduk, "Aku tidak punya teman. Hanya Lyca."
"Itu ide bagus. Kau bisa ajak Lyca."
"Kau kenal Lyca?" Alis Rianti bertaut.
“Kenapa terkejut? Lyca adik sepupuku. Bukannya kalian satu kampus?"
Ya Tuhan, Lyca Anabela Malik? Adik sepupu Alex? Kenapa Rianti begitu bodoh, bukankah nama keluarga mereka sama? Kenapa dia baru menyadarinya sekarang?
Seakan baru mendapat pencerahan, gadis itu mencerca Alex dengan banyak pertanyaan, "Alex ceritakan padaku bagaimana kau mengenalku? Kenapa saat di restoran tempatku bekerja, kau memintaku untuk melayanimu? Apakah kita sudah kenal sebelumnya?”
Pria itu menautkan alisnya, "Apakah itu penting?"
“Itu sangat penting bagiku. Kalau kau tidak mau menceritakannya. Aku tidak bisa melanjutkan kontrak konyol ini. Sungguh. Setelah aku pikirkan berulang kali, pernikahan hal yang sakral bagi aku juga keluargaku, Alex," Rianti mencoba mengancam.
Pria itu mengedikkan bahu, "Kalau begitu kau lebih memilih denda 10 M?"
Rianti menatap Alex tidak percaya, "Apa katamu? 10 M? Kau memerasku, Tuan?"
Alex menatap Rianti lekat, membenarkan posisi duduknya agar nyaman berhadapan dengan gadis itu.
"Memerasmu? Kontrak itu kita sama-sama membacanya, dan kau juga dengan sadar menandatanganinya. Jika dibatalkan sepihak dendanya dua puluh kali lipat, dan itu berarti 10 M.”
"Bagaimana bisa?" gumam Rianti pelan.
"Semua terserah kamu," Alex menatap Rianti tajam.
"Kau lanjutkan, ataukah kau bayar dendanya?" Rasanya sangat menyenangkan menggoda gadis ini. Alex merasa kecanduan.
Riani merasa terintimidasi dengan pria di hadapannya. Tubuh yang besar itu berbanding terbalik dengan tubuh kecilnya. Ketika ditatap seperti itu nyali Rianti menciut. Dia takut akan kekuasaan Alex.
Apa boleh dia berpikir jika Alex adalah pria berbahaya?
Bagaimana tidak jika tanpa hujan badai tiba-tiba saja pria itu datang ke restoran tempatnya bekerja, menjegal kakinya, membuatnya menumpahkan makanan di tubuh seksi pria itu, menjebaknya dengan ganti rugi, dan berakhir dengan kontrak pernikahan konyol, hingga gaji lima puluh juta per bulan dan denda pembatalah 10M?
Rianti bimbang, pria di hadapannya itu malaikat ataukah iblis berwajah malaikat?
Alex melihat jam tangan mahal di lengan kanannya, "Jadwal kita hari ini, setelah lunch, kita dating. Aku sudah mengosongkan semua jadwalku siang ini. Aku harap kau menepatinya."
"Aku benci kamu, Alex."
“Thanks."
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Siti Aminah
tanpa d sadari alex mulai suka pd Rianti
2024-05-17
0
Em Mooney
sat set y bang. btw itu tomy teh kenzo kn
2023-12-16
0
Hilda Ventura
Aqu suka novelnya..Bgus bngat..Penulisnya pintar skali..Suka bangat..
2023-04-11
2