Alex mengajak Rianti makan malam di mansionnya. Pria itu menikmati bagaimana Rianti yang terlihat takjub pada makanan yang terhidang. Sudut bibirnya terangkat ke atas.
Gadis itu begitu mengagumi daging salmon segar berwarna jingga dan daging ikan tuna steak beserta Jeruk nipis dan saus berwarna kehitaman yang terletak di mangkuk kecil di sebelahnya.
Tampaknya ini pertama kali Rianti memakan makanan yang seperti ini. Alex pura-pura tidak menyadari saat gadis itu mengamati caranya makan dan kemudian menirunya.
Keduanya makan nyaris tanpa bicara. Alex sibuk memperhatikan wanita di hadapannya, sementara konsentrasi Rianti justru terfokus pada makanan yang kini disantapnya.
Bayangkan, Rianti akhirnya bisa memakan daging yang sangat lembut dalam irisan tipis yang segar. Saus jeruk dan salad buah membuat hidangan utama ini sama sekali tidak enek. Rianti hanya bisa mendefinisikan semua makanan yang ditelan olehnya adalah sangat lezat. Tapi porsinya saja terlalu kecil.
"Apa aku boleh minta tambah nasi?" Rianti meminum jus buah yang terhidang dengan puas setelah menghabiskan strawberry cake sebagai hidangan penutup. Tapi dia belum merasa kenyang hanya dengan makan daging dan buah.
Alex mencibir, "Kau benar-benar belum kenyang?"
Rianti melihat makanan Alex yang masih banyak tersisa sedangkan makanan di hadapannya tandas tak tersisa.
"Menurutku sebelum makan nasi, kita belum makan, Tuan.”
Alex berdecak, tapi segera memanggil pelayannya untuk membawakan nasi pada Rianti.
"Dan kenapa Anda tidak menghabiskan makanannya? Anda tahu, banyak di luar sana yang bahkan susah untuk bisa makan seperti, Anda."
Alex tidak mengindahkan perkataanya, pria itu lebih memilih memanggil pelayannya, kemudian berbisik. Pelayan tua yang berwibawa itu mengangguk sebentar kemudian berbalik pergi.
Rianti kembali makan dengan diam. Masa bodo dengan Alex. Yang penting dia kenyang malam ini. Nasib anak kost, jangan sampai makanan yang enak tersia-siakan.
Alex memperhatikan gadis itu dalam diam. Perlahan kembali disantapnya makanan di hadapannya hingga habis tak tersisa. Sudut bibirnya kembali terangkat, gadis ini sungguh berbeda. Dia masihlah gadis polos yang sangat menghargai makanan. Ia bahkan tidak menjaga image saat makan.
"Ini yang Anda pesan Tuan Alex," Pelayan tua berwibawa itu kembali datang sambil membawa sebotol anggur dalam wadah berisi es.
Pelayan itu dengan cekatan membuka tutup botol dan menungkan anggur kemerahan ke dalam gelas kristal kosong di hadapan Alex dan juga mengisi gelas kristal di hadapan Rianti.
"Apa ini?"
"Wine, Nona."
Mata Rianti terbelalak. Oh tidak. Minuman keras dengan kadar alkohol serendah apapun haram hukumnya dalam agamanya.
"Toast untuk kesepakatan kontrak kita." Alex mengangkat gelasnya.
Rianti gugup dan memilih mengangkat jus buahnya dan mengabaikan gelas wine yang diberikan kepadanya.
Alis Alex mengerut, "Kau menolak wine dariku?"
"Bu-bukan Tuan. Saya tidak boleh minum. Minuman keras terlarang bagi saya. Minuman itu juga merusak kesehatan, Tuan. Ibu saya juga selalu berpesan agar saya menjauhi sex bebas dan minuman keras.”
Decakan terdengar tapi Alex tidak membantah. Ia membiarkan Rianti menghabiskan makanannya dan menyesap jusnya.
Aroma wine dengan kadar alkohol tinggi, ditambah dengan pemandangan bibir merah alami yang beradu dengan tepian gelas yang indah membuat Alex ingin segera melahapnya.
Entah apa yang merasukinya, tapi jika diperlihatkan benar-benar gadis itu sangat cantik dan menggemaskan.
Rianti sadar dirinya diperhatikan. Ia berkali-kali menelan air liur untuk menenangkan dirinya, hingga makanan di hadapannya tak lagi terasa enak.
"Tuan, saya sudah kenyang."
Alex mengangguk.
"Saya akan pulang. Tak perlu mengantar. Saya sudah pesan taksi online. Terima kasih makan malamnya," Rianti berdiri dan mengangguk sopan.
"Mulai malam ini kau tinggal di sini."
"Maksud Tuan?"
Alex memandang wajah Rianti tajam, "Dalam kontrak tadi disebutkan mulai malam ini kau tinggal di sini untuk persiapan pernikahan."
"Ta-tapi kan kita belum menikah, Tuan?"
“Mulai sekarang, kau bisa tinggal di sini. Aku akan tinggal di apartemen. Dan ingat, mulai sekarang, jangan panggil aku tuan. Cukup panggil saja namaku, Alex."
“Tapi, Tu-an,"
"Aku akan memberimu hukuman jika kau salah."
"Hukuman?"
"Satu kesalahan satu ciuman."
"Haah kau tak bisa begitu. Bukannya dalam kontrak disebutkan tidak ada sex di antara kita?"
"Dan dalam kontrak juga disebutkan kau akan menuruti semua perintahku. Dan ingat! Ciuman bukan berarti sex, kan?"
"Kau curang!"
“Yes, Iam."
"Kau!"
"Panggil aku Alex."
Rianti memutar bola matanya malas, "Baiklah, Alex."
Alex tertawa. "Kau sangat manis jika menjadi penurut."
"Mulai besok kita akan latihan menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai. Agar saat pernikahan nanti kita sudah tidak canggung di depan kedua orang tuaku.”
“What? In your dream!"
Cup
Rianti melonggo, "Kau! Kenapa kau mencium pipiku?”
"Tidak menurut satu ciuman."
Wajah Rianti merah padam, "Aku pulang sekarang!"
Alex tersenyum, "Baiklah, kita ambil barangmu sekarang. Aku akan mengantarmu."
"Tidak! Jangan."
"Kenapa?"
"Aku bisa naik taksi sendiri. Aku tidak mau tetanggaku tahu tentang kita. Mereka akan menduga yang tidak-tidak jika kau mengantarku malam-malam begini."
"Kau pulang denganku atau tidak sama sekali?" Alex berdecak dan kembali menyeret Rianti setengah paksa ke halaman mansion.
"Aku tidak akan membiarkan ada wanita pulang sendirian."
Wajah Rianti bersemu. Meski begitu dingin, pria itu ternyata peduli juga pada seorang wanita.
"Jangan senang dulu. Aku hanya tidak mau calon istriku tersasar. Bisa jadi, itu akan menodai nama baikku selama ini."
🍁🍁🍁
Setelah melewati perdebatan yang sengit, dan tentu saja pria arogan itu yang menjadi pemenangnya. Alex kembali melajukan mobilnya. Lagi-lagi mereka hanya berdampingan dalam diam. Rianti tak mau repot-repot mengajak pria arogan itu bicara. Kepalanya kini dipenuhi apa yang harus disampaikan kepada orang tuanya nanti.
Menikah adalah hal yang paling sakral buat dirinya dan juga keluarganya. Apakah Rianti rela menggadaikan kepercayaan orang tuanya dengan pernikahan palsu?
Di sampingnya, Alex sesekali melirik Rianti.
Gadis itu benar-benar menarik.
Segala pose sensual yang biasanya membuat para wanita bertekuk lutut sama sekali tak membuat gadis itu meliriknya. Bahkan ia sudah melepaskan jasnya dan menggulung kemeja hingga ke siku. Menampilkan otot-otot lengannya yang kekar dan menarik. Namun Rianti hanya menatap kosong ke depan.
"Di mana rumahmu?"
"Haah," gadis itu terkejut.
"Rumahmu?"
"Aku tidak punya rumah di sini."
Alex mengerutkan keningnya, "Lantas, kau tinggal di mana? Gelandangan?"
"Oh. Aku tinggal di kost."
“Oh my God," pria itu memukul keningnya keras. "Maksud aku itu. Tempat tinggalmu?"
"Kau tadi bertanya rumahku. Rumahku jauh dari sini."
“Whatever."
Alex merasa emosinya naik ke ubun-ubun. Kenapa masih ada gadis sebodoh ini?
Pria itu lantas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah Rianti memberitahu alamat kostnya. Mereka hanya diam, larut dengan pikiran masing-masing. Gadis itu mengalihkan pandangan pada jendela mobil, sementara Alex sesekali melirik ke arahnya melalui sudut matanya.
🍁🍁🍁
"Stop! Berhenti di sini saja," teriak Rianti tiba-tiba.
Alex mengerem mendadak. Ban berdecit ketika dia membanting setirnya saat menepi mendadak di tepi jalan. Wajahnya memerah menahan marah, "Tidak bisakah kau tidak mengagetkanku?"
"Maaf."
"Di sini kost mu?" Alex memicingkan matanya. Terlihat berjejer rumah lumayan besar. Gadis ini terlihat bukan seperti orang yang kekurangan. Apa informasi dari Tommy salah?
"Bukan... bukan! Di sana. Di ujung gang kecil itu, masuk kampung," Rianti menunjuk gang kecil dengan penerangan remang-remang dengan ujung jarinya.
Alex mengernyit, "Baiklah. Turun. Aku akan mengantarmu."
"Jangan, ini sudah malam. Aku takut tetangga kostku melihat aku pulang malam dan diantar olehmu."
Alex memutar bola matanya kesal, "Kau takut dilihat orang tapi kau tidak takut berjalan sendiri malam-malam begini? Bagaimana jika ada orang yang berniat buruk padamu?”
Satu-satunya orang yang berniat buruk padaku hanya kamu, Alex. Pikir Rianti geram.
Alex membuka pintu mobilnya dan berjalan memutar untuk membukakan pintu Rianti.
Gadis itu menatap pintu mobil yang terbuka dengan ekspresi takjub ketika baru menyadari, jika pintu mobil itu terangkat ke atas.
"Hei, kau tak pernah lihat hypercar?" Alex mengibaskan tangannya di wajah gadis itu.
“Hypercar?"
"Mobil ini. this is a Hypercar."
Rianti melongo menatapnya, "Wow ini seperti mobil-mobilan adikku."
"Hah!" Alex mendengus tak percaya, “Are you kidding me?"
Jika wanita lain pasti akan menjerit histeris melihat Koenig-nya, tapi justru gadis itu menyamakannya dengan mobil mainan adiknya? Astaga.
Pria itu baru akan mendebat Rianti ketika bunyi notifikasi masuk ke ponselnya. Alex lantas merogoh ponsel di saku celananya, mengecek notifikasi yang masuk tanpa mempedulikan gadis itu sudah turun dengan telanjang kaki.
Perhatiannnya sudah teralihkan dengan dering panggilan masuk dari Monica.
Rianti menghela napas berat ketika menyadari dia lupa memakai kembali sepatunya yang tertinggal di mansion Alex. Pria itu menyeret dan memaksanya untuk mengantarkannya pulang sehingga ia lupa memakai kembali sepatunya yang ia taruh di balik pintu mansion.
Alex berjalan mengikuti Rianti dari belakang. Pria itu masih sibuk dengan ponselnya. Namun sesekali matanya menatap ke arah Rianti dengan cara jalannya yang aneh. Alex segera mematikan ponselnya.
"Dimana sepatumu?"
"A-aku meninggalkannya waktu masuk rumahmu."
"Bodoh," Alex berjongkok di depan Rianti.
Gadis itu memandang tingkah Alex dengan heran.
"Naik."
"Hah?"
"Menurutlah. Atau aku akan menciummu."
Rianti menggeram pelan. Kenapa sih, pria itu suka banget nyosor-nyosor?
"Sebenarnya aku bisa jalan sendiri," Rianti mengalihkan perhatiannya dari detak jantungnya yang berpacu ketika pria itu memaksa untuk menggendongnya.
Aroma pomade yang maskulin menggelitik penciumannya. Leher kokoh beraroma musk yang menggoda, dan punggung yang pelukable membuat wajah Rianti merona.
Alex tersenyum tipis. Punggungnya bisa merasakan detak jantung gadis itu bertalu berirama dengan dengan detak jantungnya sendiri.
Alex menurunkan gadis itu tepat di depan pintu kostnya.
"Kau tidak boleh masuk, Alex," Rianti menahan tangannya di dada Alex.
Pria itu menaikkan alisnya, "Why?"
"Pria tidak boleh masuk ke kamar wanita sembarangan."
“Remember, U're my future wife, right?"
"Baru calon istri dan belum menjadi istri, kan? Apalagi kita hanya nikah pura-pura. Apakah kau suka makanan sisa, Alex? Tentu tidak bukan? Begitu juga dengan aku. Jika makanan saja kau memilih yang baru, apalagi wanita."
Alex terpaku di tempatnya. Gadis ini benar-benar.
"Baiklah. Aku tunggu di sini. Segera kemasi barangmu dan kita segera kembali.”
Rianti mengangguk pelan lantas menutup pintu kamar kostnya meninggalkan Alex yang masih termangu di depan pintu.
🍁🍁🍁
Terima kasih atas like, komen, dan vote-nya.
Teşekkür ederim
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Siti Aminah
hhmmm....alex mati kutu d hadapan Rianti
2024-05-17
0
Em Mooney
waduh.., udah digendong mas alex aj ni
2023-12-16
0
Siti Aminah
asli d part ini gigi ku kering krn banyk tertawa bc kata2 perdebatan rianti dn alex hahaha...
2023-06-30
0