"Kakak, bisa tidak jika tidak menggangguku waktu aku kuliah?" Lyca berteriak memasuki ruangan berpintu besar bercat hitam metalik itu.
Vivian, sekretaris Alex buru-buru mencegahnya. Namun Lyca tetap saja memasuki ruangan pria itu dengan kesal.
"Maaf, Sir. Nona Lyca memaksa untuk masuk," Vivian menunduk ketakutan di ambang pintu yang terbuka.
Aroma musk menguar ketika Lyca memasuki ruangan bernuansa maskulin itu.
Pria tampan di balik meja besar itu hanya mengangkat sebelah tangannya, meminta Vivian untuk pergi. Ia bahkan tidak terprovokasi oleh tingkah gadis cantik di depannya itu yang kini tengah mengerucutkan bibirnya dengan sebal.
Lyca hanya bisa mendengus. Pria tampan itu masih terpaku pada layar laptop di depannya, hanya sekali memberikan tanda pada Lyca untuk diam.
Mungkin dia sedang melakukan video converence atau apalah. Lyca malas melihat kelakuan kakak sepupunya itu.
Lyca menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang ada di tengah ruangan. Gadis itu mengedarkan pandangan. Hingga pandangannya terkunci pada lemari pendingin yang ada di sudut ruangan itu.
Lyca kembali bangkit, berjalan perlahan menuju lemari pendingin itu dan membukanya. Gadis itu mengambil beberapa minuman kaleng dan makanan ringan lantas kembali membawanya ke sofa.
Lyca memakan makanan ringan itu dengan kesal. Pasalnya kakak sepupunya itu masih asyik dengan laptop di hadapannya.
Jika tahu seperti ini, kenapa dia harus buru-buru meninggalkan kuliahnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dari kampus menuju ke kantor kakak sepupunya itu?
"Hmm," Lyca kembali mendengus kesal.
Apa mentang-mentang dia tampan bisa seenak jidatnya sendiri? Apa mentang-mentang dia juga kaya? Atau apa karena mentang-mentang keluarga Malik memang yang membiayai semua kehidupan keluarga besarnya.
Entahlah.
Lyca hanya bisa duduk, diam, makan, dan menunggu sambil menatap kakaknya dalam-dalam.
Harus Lyca akui, Alexander Kemal Malik memang tampan. Sangat tampan tepatnya.
Pria itu memiliki tubuh jangkung dan atletis, rambut hitam kecoklatan yang selalu terpangkas rapi, iris mata biru kehijauan yang mengingatkan pada warna air di Pantai Green Bay, serta kedua lesung pipi yang terlihat tidak hanya saat ia tersenyum, tapi juga ketika ia berbicara. Sorot mata tajam membuat dirinya semakin memikat dan terkesan misterius. Bahkan bibirnya tebal dan penuh, membuat para wanita berkhayal untuk merasakan ciumannya yang panas dan menggairahkan.
"Puas kau melihatku?" suara bariton itu tiba-tiba mengejutkan Lyca dari pikiran kotornya.
Ah, andai Alex bukan kakaknya pasti Lyca juga sama dengan b*tch di luar sana. Bucin parah dengan Alex.
"Eng, ada apa kakak memanggilku?" Lyca tergagap mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Kau sudah menemukan apa yang aku minta?" Alex menyandarkan kepalanya di sandaran kursinya yang empuk. Menatap adik sepupunya itu dengan tajam.
Lyca tersenyum masam, “Kakak selalu menolaknya bukan? Aku tidak tahu seperti apa wanita yang kakak inginkan, selain Monica. Selera kakak dan aku berbeda."
"Aku tidak butuh ocehanmu. Tinggal katakan saja, kau sudah menemukannya apa belum?"
Ish... Lyca mencebik kesal.
"Aku tidak tahu kali ini sesuai keinginan kakak atau tidak. Tapi hari ini aku menemukan seorang wanita yang sangat cantik, dan ia juga lembut seperti Anne. Tapi aku tak yakin, aku bisa menawarkan temanku yang polos itu kepada kakak. Dia terlalu lugu dan polos. Ah, lupakan. Dia pasti juga tidak sesuai selera kakak."
Alex kembali menatap wajah sepupunya itu lekat.
"Aku tidak punya banyak waktu. Aku mau sebelum aniversary Anne dan Baba, kau harus menemukan wanita yang pantas untuk jadi istriku!" perintah Alex tegas.
"Aku tidak menerima kegagalan," tambahnya lagi.
"Akan aku usahakan, kak," Lyca mengangguk dan berbalik menuju pintu.
"Aku pulang dulu."
“Wait.”
Lyca berhenti ketika tangannya hendak meraih handel pintu, "Apalagi?"
"Siapa dia?"
"Maksud kakak?"
"Gadis cantik dan lembut seperti Anne, lugu, serta polos yang kau sebut tadi? Aku tidak tertarik dengan semua perempuan yang kau tawarkan ini," Alex melempar map ke hadapan Lyca.
"Kalau tidak karena kau yang lebih lama tinggal di Indonesia, aku juga tidak akan meminta bantuanmu. Seleramu membuatku mual."
Lyca menatap isi map yang berhamburan di sekitar kaki jenjangnya. Foto-foto wanita cantik dengan segala posenya yang seksi.
Lyca mendengus, lagi-lagi Alex menolaknya bukan?
Lyca tak habis pikir. Wanita-wanita itu kebanyakan para artis, model, dan juga sosialita yang elegan dan pastinya sangat cantik. Bahkan mereka juga mau dibayar untuk menikah pura-pura. Apalagi yang kurang?
"Aku hanya ingin wanita yang tidak tertarik padaku. Kau tahu? Mereka akan tinggal satu rumah, bahkan mungkin berbagi satu tempat tidur denganku."
Membayangkan bagaimana tingkah para wanita itu jika tinggal bersamanya selama satu tahun, Alex bergidik ngeri. Mereka pasti akan menyerangnya begitu ada kesempatan.
Lyca mengangsurkan ponselnya, "Kakak lihat sendiri."
Alex melihat foto yang diambil secara candyd yang ada di ponsel Lyca. Tampak sosok gadis cantik polos tanpa make up dengan hoddie kebesarannya. Gadis itu memang terlihat kampungan, lugu, dan polos. Tapi wajahnya sangat cantik dan teduh, begitu damai, sangat mirip dengan Anne namun dengan kecantikan yang sangat berbeda.
Alex menggeser foto-foto yang ada pada galery ponsel Lyca.
Sudut bibir pria tampan itu terangkat, "Ambil ponselmu!"
“Kakak tidak suka?"
"Siapa namanya?"
Lyca mengernyit, “Namanya?"
"Gadis yang ada dalam ponselmu."
"Oh..." Lyca tersenyum masam.
"Gadis itu, Rianti. Rianti Azalea Jauhar."
Alex menekan intercom di atas meja kerjanya, "Tommy, ke ruanganku, sekarang."
Segera pintu diketuk dari luar, dan asisten Alex, Tommy masuk dengan kepala tertunduk.
"Anda memanggil saya, Sir?"
"Cari segala informasi tentang gadis yang bernama Rianti Azalea Jauhar. Dia kuliah di kampus yang sama dengan Lyca."
"Baik, Sir. Saya undur diri dulu," Tommy menunduk dan segera berbalik pergi.
Diam-diam Lyca merasa sesak di dadanya. Apakah yang dia lakukan salah?
Gadis selugu Rianti akankah bisa baik-baik saja di tangan player seperti kakak sepupunya?
Oh God.
Lyca menjadi sedikit menyesal dan merasa bersalah. Harusnya Lyca menawarkan bi*tch seperti Tiara atau teman-temannya yang lain yang pastinya memiliki gaya hidup hedon yang butuh uang banyak dari Alex.
"Kerja yang bagus, Ly. Kamu bisa keluar sekarang."
"Kakak, aku eng...," Lyca merasa takut untuk membatalkan idenya tentang Rianti. Mulutnya terasa kelu untuk berkata.
"Kakak, maksudku, kalau bisa...,"
"Jangan kuatir. Mini cooper edisi terbaru akan segera kakak kirim ke apartemenmu."
"Bukan itu."
"Ada yang kurang?"
"Bukan... bukan. Aku."
"Sebentar lagi aku ada meeting dengan klien. Kau bisa keluar sekarang," Alex berdiri dan membenarkan jas mahalnya. Lyca hanya bisa mendengus dan berbalik keluar sambil menghentakkan kakinya.
🍁🍁🍁
Terima kasih untuk Like, Komen, dan Vote nya ya readers.
Teşekkür ederim.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Siti Aminah
kasian Rianti...
2024-05-13
0
She Imoed
ini yg namanya ada udang dibalik bakwan🤭
2023-12-29
0
Em Mooney
wah... pantesan tiba" mau jd tmn baik
2023-12-16
0