Alex memandang gadis itu dari kejauhan. Ia sengaja datang ke kampus Rianti hanya ingin memastikan tentang gadis itu.
Pria tampan itu duduk di dalam mobilnya. Memandang lewat jendela mobil. Jemari besarnya mengelus dagunya sambil berpikir.
"Apa benar dia yang bernama Rianti Azalea Jauhar?"
"Benar Sir, semua keterangan tentang gadis itu sudah ada di dalam file yang Anda pegang," jawab Tommy sambil menunduk hormat.
Alex melirik dan membuka macbooknya, "Aku malas membacanya. Ceritakan secara singkat tentang gadis itu, Tommy."
Tommy hanya mengangguk dan membuka macbook di pangkuannya.
"Nama gadis itu Rianti Azalea Jauhar," Tommy mulai bercerita. "Panggilannya Rianti atau Ri."
"Gadis itu berusia sembilan belas tahun. Baru kuliah jurusan kedokteran semester satu dari jalur beasiswa. Dia berasal dari Bojonegoro, kota kecil di daerah Jawa Timur," Tommy membalik layar macbooknya.
"Dia hidup bersama ayah dan ibunya, yang hanya seorang pegawai negeri. Ayahnya bernama Pak Qorib, dan Ibunya bernama Siti Kholifah. Dia juga punya adik laki-laki bernama Azzam. Adiknya masih berusia enam belas tahun, dan masih duduk di bangku SMA. Selain kuliah, sore hari dia bekerja di warnet dekat kostnya, dan malam hari dia bekerja sebagai waiters di salah satu resto cabang GAIYA di Jakarta Selatan. Dia selalu mengambil sift malam, dari pukul 12 malam hingga pagi, itulah kenapa dia sering terlambat masuk kuliah."
Alex menautkan alisnya.
"Wait, jadi dia kuliah sambil bekerja? Hingga pagi?" tanya Alex dengan tidak percaya.
"Benar Sir, beasiswa hanya bisa mengcover biaya kuliahnya, tapi tidak dengan biaya hidup dan untuk semua biaya praktik serta tugas-tugasnya. Jadi dia mengambil beberapa pekerjaan sekaligus, Sir."
Alex memegang kepalanya pening. Gadis serapuh itu, bekerja dengan sangat keras, demi pendidikannya? Itulah kenapa dari beberapa foto candyd yang diambil Lyca kemarin tampak gurat lelah di wajah cantiknya.
"Apa orang tuanya tidak mengirim uang untuk biaya hidupnya, Tommy?"
Tommy tersenyum, dan mengatupkan bibirnya sebelum berkata pelan,
"Sir, gaji pegawai negeri dengan golongan rendah seperti ayah Nona Rianti, tentu saja tidak cukup untuk biaya di kota besar seperti ini. Apalagi kuliah jurusan kedokteran," Tommy tersenyum miris.
"Menurut informan kita, setiap bulan ayahnya juga mengirimi uang untuk Nona Rianti."
"Mungkin kau benar, pasti uang dari orang tuanya tidak cukup," Alex mendesah pelan. "Apalagi, biaya hidup di kota besar juga sangat mahal."
Alex menatap Tommy lekat, "Apa kau bisa mengaturnya untuk memberikan beasiswa, Tommy?"
Tommy menundukkan kepala, "Jika Anda memerintahkan. Mungkin saya bisa mencobanya, Sir."
"Jadi ia tidak perlu bekerja keras seperti itu."
Alex tertawa pelan, "Tetapi, jika dia bersedia menjadi istriku, dia tidak akan mengalami ini."
Tommy tersenyum, "Melihat kegigihannya untuk menuntut ilmu, Sir. Saya yakin gadis itu tidak mudah untuk menerima tawaran Anda begitu saja."
"Hmm, apa menurutmu seperti itu?"
Tommy mengangguk, "Maaf, Sir. Itu hanya perkiran saya."
"Mungkin kau benar," mata elang Alex menatap Rianti tajam. Dari kejauhan nampak gadis itu sedang tertawa lepas dengan Lyca.
Tommy memang mengatur agar Lyca mengajak Rianti untuk ke tempat yang sudah direncanakan agar mudah bagi bos besarnya itu untuk melihatnya.
Pria tampan itu tertawa pelan, "Dia memang sangat polos, Tommy."
"Tapi jika ia bekerja sekeras itu. Aku penasaran, kapan dia istirahat, Tommy?" tanya Alex tanpa sadar. Pria itu masih menatap Rianti dari kejauhan. Lyca benar, gadis itu benar-benar polos, cantik, dan lembut seperti Anne.
"Gadis itu mengambil waktu kuliah dari pukul 8 pagi hingga pukul 2 siang. Kemudian dia bekerja di warnet hingga pukul 6 sore. Setelah itu dia free hingga pukul 12 malam. Informasi lain, gadis itu selalu ada di perpustakaan ketika jam kosong, atau waktu di antara pergantian jam kuliahnya. Sir. Mungkin saja di waktu-waktu kosong itu, dia istirahat."
Alex menggelengkan kepalanya. "Dia seperti robot. Tommy. Begitu inginnya kah dia kuliah hingga sampai seperti itu?"
Tommy ikut menghela napas. "Anda benar Sir, Nona Rianti memang bercita-cita menjadi dokter."
"Oh ya, Sir. Dari informasi yang saya dapat, Nona Rianti juga menjadi korban pem-bully-an di kampus."
Mata Alex membelalak. Tanpa sadar, jemarinya mengepal hingga buku jarinya memutih. Ada apa dengan dirinya? Kenapa dia merasa sakit hati? Atau mungkin dia hanya merasa kasihan?
"Apa yang kau tahu tentang bullying itu, Tommy?"
"Dia sering dihina karena miskin, Sir. Padahal nona Rianti adalah gadis yang sangat cerdas. Dan sebab lain, karena Nona Rianti dekat dengan ketua BEM di kampus ini."
"Pria?"
"Benar, Sir. Namanya Dori.”
Wajah Alex mengeras. "Kembali ke kantor. Ingat untuk membooking resto tempat dia bekerja. Aku ingin menemuinya malam ini juga."
"Baik Sir."
🍁🍁🍁
Alex mengedarkan pandangannya di sekeliling restoran GAIYA. Memang tempatnya biasa saja. Akan tetapi restoran ini terasa nyaman dan buka hingga 24 jam.
Menu yang disajikan pun menu masakan Indonesia pada umumnya. Seperti rawon betawi, soto lamongan, sate madura, bahkan ada juga pecel madiun. Benar-benar komplit. Harganya pun standar kelas menengah ke bawah. Tapi tetap tidak memalukan untuk kalangan menengah ke atas.
Karena restoran ini terletak di dekat kawasan industri, sehingga masih tetap ramai meski tengah malam sekalipun.
Pria tampan itu terlihat memukau dengan setelan jas mahalnya yang masih nampak rapi. Sangat berbeda dengan pengunjung restoran ini pada umumnya.
Alex seakan pangeran yang datang ke tempat yang salah.
Dia masih bergeming di posisinya, ketika manajer resto datang dengan tergopoh-gopoh menemuinya.
"Tuan Alexander?" tanya pria setengah baya bertubuh tambun itu sambil membungkukkan badannya.
Alex mengangguk.
"Saya Bramantyo manajer restoran ini. Asisten Anda sudah reservasi untuk VIP room. Meja untuk Anda sudah kami siapkan. Mari saya antar," kcapnya sambil kembali membungkuk dalam-dalam.
Pria itu kemudian mempersilakan Alex untuk mengikutinya.
Para pengunjung menatap lekat pria tampan itu yang nampak sangat mencolok.
Apa pesonanya terlalu kuat? Bahkan ada beberapa pengunjung wanita yang hampir histeris melihatnya. Dan beberapa diantaranya mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan keberadaannya.
Alex mengangguk pelan dan kemudian mengikuti langkah kaki pria tambun itu hingga sampai ke sebuah ruangan yang lumayan besar. Agak terpisah dengan ruangan lainnya. VIP room.
"Anda akan pesan apa, Tuan?" manajer itu kembali bertanya ketika Alex sudah duduk di kursinya. Memang tidak terlalu mewah, tapi juga tidak terlalu sederhana. Tempat ini lumayan bersih, nyaman, dan fasilitasnya juga lumayan lengkap.
"Berikan saya menu andalan resto, Anda."
"Baik tuan," Manajer itu akan berbalik sebelum Alex mencegahnya.
"Wait."
"Iya Tuan?"
"Saya hanya ingin, gadis yang bernama Rianti yang melayani saya."
"Maksud Tuan?"
"Suruh gadis yang bernama Rianti yang membawa pesanan saya kemari. Saya tidak mau yang lain," suara baritone Alex terdengar tegas dan menakutkan.
"Tapi Tuan, kenapa harus Rianti?" tanya manajer itu keheranan.
"Saya tidak pernah suka mengulang kembali perkataan saya."
Manajer resto itu hanya bisa mengangguk, mengusap peluh di keningnya dan segera berlalu, "Oh... Baik... Baik... Segera, Tuan."
🍁🍁🍁
Terima kasih untuk like, komen, dan votenya ya readers.
Teşekkür ederim.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Siti Aminah
hhmmmm Alex kau mau bermain licik yaaah
2024-05-14
0
Em Mooney
hmm.. gmn nih. pasti cara licik alex
2023-12-16
0
Siti Aminah
entah sdh yg ke brp x aku baca karya mu ini thor...serasa gk ad bosen2ny
2023-06-29
2