Rianti menganga. Setelah dikejutkan dengan rumah mewah yang begitu megah bak istana dalam buku dongeng masa kecilnya.
Ia kini kembali takjub pada tangga melingkar yang begitu besar, berdiri gagah di tengah ruangan.
Lantai granit yang memantulkan bayangan orang yang menapakinya terlihat begitu memukau. Juga lampu gantung kristal yang menjuntai, sesekali bergerak ketika angin pendingin ruangan yang menyembur ke arahnya. Aroma segar pengharum ruangan yang menyemprot secara otomatis tiap beberapa detik sekali, membuat ruangan ini begitu menenangkan.
Semua itu membuat Rianti terasa kerdil. Gadis itu bergegas melepas sepatu buluknya dan menaruhnya di belakang pintu besar di belakangnya.
Dia merasa dirinya salah kostum berdiri di ruangan sebesar dan seindah ini.
Bagaimana bisa wanita yang hanya mengenakan kemeja putih dan rok span hitam masuk ke rumah yang lebih pantas di sebut istana ini?
Bahkan para pelayan di tempat ini menggunakan seragam yang jauh lebih bagus dari bajunya, dan dengan make up sempurna layaknya keluar dari salon kecantikan. Sementara dirinya? Bahkan hanya mengenakan make up tipis dan itupun sudah luntur ketika dia menangis.
Ia seperti Cinderela tanpa gaun pesta yang diajak pangeran ke istana.
"Tuan Alexander," seseorang lelaki berjas licin yang wajahnya seperti tak asing berlalu lalang di televisi sedang tersenyum lebar sambil menjabat tangan Alex erat.
Pria itu adalah pengacara Alex. Pengacara yang konon menurut gosib ketahuan berpacaran dengan artis tahun 90-an dan pengacara paling kaya se-Indonesia.
Rianti memperhatikan sosok pengacara yang hanya pernah dilihatnya di televisi itu dalam diam. Pria itu memang sesuai dengan apa yang pernah dilihatnya di layar kaca, ia juga menggunakan banyak cincin berbatu akik di tangannya.
Rianti tersenyum geli. Harusnya ia membuka ponsel murahnya dan memfoto pengacara itu agar bisa ditunjukkannya pada Azzam. Kalau dia baru saja bertemu orang terkenal di Jakarta.
Tanpa gadis itu sadari, jika pria di sampingnya itu bahkan lebih terkenal dari pengacara itu.
"Bisa dimulai?" Alex tersenyum kaku.
Pengacara itu mengangguk kemudian mengeluarkan map dari dalam tasnya.
Rianti masih belum menyadari ketika pengacara itu mulai membacakan pasal demi pasal perjanjian yang baginya sangat membosankan.
Inikah dunia orang kaya? Apapun harus ada hitam di atas putih?
Gadis itu hanya menatap kosong ruangan yang luar biasa besar itu, di sebelahnya ada rak wine ukuran raksasa berbentuk L sebagai sekat dengan wilayah yang berbatasan langsung dengan jendela kaca.
Bahkan di samping ruang tamu itu terdapat air mancur yang bahkan lebih indah dari air mancur yang ada di simpang empat jalan di kampungnya.
Rumah mewah ini benar-benar luar biasa.
"Anda paham apa yang saya ucapkan, Nona?" pengacara itu bertanya padanya dengan nada sarkas yang manis.
"Kau bisa menandatanganinya jika sudah mengerti apa yang disampaikan pengacara," Alex menyodorkan lembaran kertas ke arahnya.
Selintas Rianti melirik lawan bicaranya. Mengapa wajah itu selalu nyaris datar tanpa ekspresi. Begitu dingin dan kaku.
Alex seolah bersikap acuh kala mata Rianti membelalak menatapnya. Dia bahkan tidak mendengarkan apa yang disampaikan oleh pengacara itu, matanya sibuk memindai interior rumah mewah itu yang baru sekali ini dilihatnya secara langsung selain lewat layar kaca.
"Apa?" Rianti justru nampak kebingungan membaca kertas yang disodorkan kepadanya.
Berkali-kali Alex bisa melihat mata hitam tajam itu menyusuri kata demi kata dari kiri ke kanan, lalu kembali lagi tanpa membuahkan hasil.
"Ini tentang perjanjian pernikahan kontrak antara Tuan Alexander dengan Anda, Nona," jawab pengacara itu dengan logat bataknya yang kental.
"Nikah kontrak?" Rianti akhirnya membuka mulutnya.
"Maaf, apa maksudnya dengan nikah kontrak? Saya masih kuliah Tuan," Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Maaf jika menikah, saya tidak bisa."
"Itu hanya pernikahan pura-pura. Hanya selama setahun. Dan hutangmu kuanggap lunas."
Gadis itu nampak berpikir. Benaknya berputar menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya.
Tapi semakin dia berpikir, semakin ia merasa pusing. Ia bahkan tidak tau ia sekarang bermimpi atau menghadapi kenyataan yang mengejutkan
"Atau kau bersedia membayar ganti rugi lima ratus juta?"
Rianti mengusap wajahnya kasar. Darimana coba uang lima ratus juta? Untuk biaya kuliahnya saja bergantung pada beasiswa. Atau jual sawah bapak? Gila. Lantas bagaimana keluarganya akan makan nantinya?
"Aku akan memberikan deposit ke rekeningmu 50 juta per bulan sebagai gajimu. Anggap saja kau bekerja padaku, sebagai istri pura-pura."
Mata gadis itu membulat, "Maksudmu ini hanya pura-pura? Dan ini berarti aku bekerja? Apa semua Itu masuk ke dalam perjanjian?"
Alex mengangguk. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Gadis ini benar-benar mengejutkan.
Gadis itu menghela napas, "Apakah aku punya pilihan lain?
"Tidak. Kau terima tawaranku atau kau membayar ganti rugi."
Gadis itu mendengus kasar, "Bahkan pendapatku tidak diperlukan disini. Tapi apakah aku bisa menambah poin perjanjian?"
Pengacara itu menatap Alex. Pria tampan berwajah datar itu mengangguk.
"Apa yang ingin Anda tambahkan, Nona?"
"Tolong tambahkan satu poin lagi. Tidak ada kontak fisik antara aku dan dia. Kita tidur di kamar terpisah dan kita tidak saling mengurusi privacy masing-masing. Dia bebas dengan hidupnya begitu juga aku."
"Itu lebih dari satu, Nona," Pengacara itu mencatat di notesnya sambil memandang Alex.
Pria itu kembali mengangguk menyetujui tambahan yang diajukan Rianti.
"Anggap saja ini sebagai pekerjaan, Nona. Anda cukup saja akting dengan pura-pura sebagai istri Tuan Alex, dan Tuan Alex menggaji Anda 50 juta per bulan. Akomodasi dan segala transportasi, serta biaya kuliah Anda, semua menjadi tanggungan Tuan Alex. Di mana lagi Anda bekerja dengan gaji sebesar ini? Anda juga tidak jual diri, karena dalam perjanjian sudah ditambahkan tidak akan ada kontak fisik antara Tuan dan Nona. Tapi ingat, dalam kontrak ini dilarang menggunakan perasaan cinta. Ini hanya sebatas atasan dan karyawan. Apakah Anda setuju?"
Rianti mengangguk. "Baiklah."
Tidak ada pilihan lain, bukan? Rianti sama sekali tidak menyangka, ini musibah ataukah anugrah?
Pengacara itu tersenyum sambil menjabat tangan Rianti. Gadis itu juga membalasnya dengan senyumnya yang menawan.
Alex memalingkan wajahnya. Senyuman itu sungguh manis. Tidak ada godaan di sana. Benar-benar sebuah senyuman yang tulus. Wajah natural Rianti begitu menarik. Meski riasannya sudah nyaris pudar, wajah polosnya masih terlihat segar.
Baru saja Rianti hendak menadatangani perjanjian itu, Alex mengagetkannya.
“Kalau begitu kau persiapkan diri baik-baik untuk pernikahan kita bulan depan."
“Pernikahan? Bulan depan, Tuan?"
Alex mengangguk. Dengan cepat pria itu menandatangani perjanjian itu. Sementara Rianti dengan bergetar juga membubuhkan tanda tangan di sebelah nama Alex. Ya Tuhan. Sebentar lagi dia akan menyandang istri meski hanya pura-pura, dari pria bernama Alexander Kemal Malik.
🍁🍁🍁
Terima kasih atas like, komen, dan vote-nya ya readers.
Teşekkür ederim.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Siti Aminah
awalny nikah pura2...lama2 jd beneran
2024-05-15
0
Em Mooney
gercep y bang...
2023-12-16
0
🍾⃝🦚ʜαͩmᷞιͧδαᷠʜͣᵇᵃˢᵉ༄
namanya jg rumah orang kaya Rianti beda dgn rumah2 biasa😂
2022-11-05
2