Alex mendengus pelan. Pria itu masih menatap keluar kantornya dari jendela kaca besar di hadapannya. Menatap padatnya bagungan-bangunan pencakar langit dengan mata elangnya.
"Shit."
Pria blesteran Turki-Indonesia itu mengumpat berkali-kali. Vivian sekretarisnya menciut di belakangnya. Wajahnya tertunduk tidak berani menatap tampang bos-nya yang menyeramkan. Meski pria itu berdiri membelakanginya tapi aura yang dikeluarkannya terlalu menakutkan.
"Jadi, Budianto Grup tidak mau menadatangani kesepakatan? Kau yakin?" suara baritonnya terdengar berat.
"Benar, Sir. Direktur Budianto ingin bertemu dengan Anda sebelum menandatangani kontrak, Sir. Jika Anda tidak mau menemuinya. Beliau membatalkan kontrak secara sepihak," kata Vivian menunduk takut-takut.
“Damn it! Apa maunya?" Alex kembali mengumpat.
Baru kali ini ia menjumpai perusahaan kecil yang bermain tarik ulur dengannya.
Jika tidak merasa sayang keuntungan dari proyek yang nilainya ratusan juta dollar, Alex juga malas bertemu. Biasanya semua cukup diselesaikan oleh Vivian, sekretarisnya, atau Tommy–tangan kanannya. Tidak perlu dirinya sendiri yang turun tangan.
"Baiklah. Aku ikuti permainan mereka. Kapan meeting-nya?"
"Sepuluh menit lagi, Sir."
Alex mengangguk tegas.
"Ok. Lebih cepat lebih baik. Aku tidak mau bertele-tele. Segera persiapkan semuanya."
Vivian mengangguk, "Baik, Sir."
Alex segera bersiap-siap ke ruang meeting. Vivian dengan cemas mengikutinya. Pria tampan itu memencet tombol lift dengan kasar. Ia tidak habis pikir. Baru kali ini ada perusahaan yang bermain-main dengan perusahannya.
Malik's Corporation, perusahaan properti dan ritel yang bermarkas di Ankara, Turki dan memiliki cabang di mana-mana. Bahkan sekarang Malik's Corp sudah merambah bisnis pertambangan. Itulah sebabnya ia membutuhkan bahan tambang. Dan Budianto Grup memiliki semua itu.
Vivian membuka pintu ruang meeting untuk Alex.
Pria itu menarik sudut bibirnya sinis. Ketika masuk di ruang meeting, sudah ada pria tua botak sedang berbicara serius dengan Tommy, tangan kanannya Alex.
Alex berdeham sejenak. Tommy menoleh dan buru-buru berdiri serta membungkuk hormat.
"Selamat datang, Sir."
Alex mengangguk tegas. Dipandangnya kembali dengan sinis pria tua botak di depannya itu dengan sudut matanya.
Well, ini orangnya yang bernama Direktur Budianto. Direktur perusahaan pertambangan paling terkenal di pulau Kalimantan-Indonesia. Yang merupakan penguasa batu bara terbesar di Kalimantan.
Seakan mengerti Direktur Budianto berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Welcome, Sir Malik Jr. CEO Malik's Corp. Anda memang benar seperti di rumor. Masih muda, smart, dan tampan," Direktur Budianto tersenyum menjilat.
"Silakan duduk," Alex mengacuhkan uluran tangan Direktur Budianto.
Pria itu lantas duduk di kursi kebesarannya sambil menyilangkan kakinya.
Pria tua itu menggeram dan menarik tangannya kaku. Suara baritone Alex membuat nyali Direktur Budianto sedikit menciut.
Sambil menghela napas panjang Direktur Budianto pun duduk di hadapan Alex.
Sial.
Direktur Budianto mengelap keringat di dahinya meski ruang meeting itu memiliki pendingin udara.
Ia sadar, pria muda di depannya itu bukan sembarang CEO. Perusahaan yang berdiri megah di Jakarta saja hanya anak cabangnya. Bahkan perusahaan itu lima kali lipat lebih besar dari perusahaan Budianto Grup di Kalimantan. Tapi perusahaan Alexander sedang membutuhkan kerja samanya sekarang. Harusnya dia bisa membuat kesepakatan. Pikir Direktur Budianto licik.
"Saya dengar Anda akan membatalkan kerja sama jika tidak bertemu saya?" tanya Alex tanpa basa-basi.
Direktur Budianto berdeham sebentar, "Anda terlalu terburu-buru, Sir."
"Saya tidak suka buang-buang waktu."
"Baiklah," Pria tua itu tersenyum licik.
"Perusahaan Anda yang di Kalimantan membutuhkan asupan bahan tambang dari saya. Saya menawarkan kesepakatan."
"Kesepakatan macam apa yang Anda tawarkan?" Alex lagi-lagi tersenyum sinis.
"Saya akan menyuplai batu bara ke perusahaan Anda dengan satu syarat," Direktur Budianto berdeham sejenak.
"Syarat?"
Direktur Budianto mengangguk, "Iya. Syaratnya adalah Anda harus menikahi putri saya, Elena."
Alex tertawa.
Merasa di atas angin, Direktur Budianto tersenyum senang.
"Tommy, kau tahu siapa Elena?" Alex menghentikan tawanya lantas menyeringai samar. Pria itu mengetuk-ngetukkan jemarinya pada meja kaca di hadapannya.
Tommy segera membuka macbooknya dengan cepat.
"Elena Budianto adalah model yang lagi naik daun saat ini, Sir. Saat ini nona Elena ada di bawah naungan RF Agency milik Rafi Ahmad."
Alex kembali mengetukkan jemarinya pada meja kaca di hadapannya. Suasana hening sejenak. Tampak Tommy menahan nafas melihat ekspresi bos besarnya itu. Vivian bahkan sudah mengerut di belakangnya.
"Minta RF Agency memutuskan semua kontrak dengan Elena. Dan satu hal lagi jangan ada agency manapun baik di Indonesia ataupun luar negeri yang menerimanya menjadi model."
"Baik, Sir," Tommy membungkukkan badannya.
"What?"
Direktur Budianto pucat pasi, "Wait... Wait, Sir. You know. Saya hanya bercanda dengan tawaran saya. Tolong jangan lakukan itu pada putri saya. Saya salah. Saya tidak akan memberi syarat apapun."
"Segera lakukan, Tommy."
“Sir, Anda bisa meminta apapun dari saya. Tapi tolong. Jangan hancurkan putri saya," Pria tua itu kembali menghiba. Ia menatap Alex dengan pandangan memohon.
Bagaimanapun dia sudah membangunkan singa sekarang. Apa jadinya jika putri kesayangannya kariernya harus hancur begitu saja.
"Apapun?" Alex memajukan wajahnya.
Direktur Budianto mengangguk lemah, "Apapun."
"Ok. Anda tahu bukan jika harga batubara Anda terlalu tinggi. Saya minta harga diturunkan 30%, dan segera kirimkan ke pabrik saya di Kalimantan. Vivian, sekretaris saya akan segera membuatkan surat kontraknya, dan salinannya akan dikirimkan pada Anda. Secepatnya."
Rahang Direktur Budianto mengeras. Matanya melotot. Tiga puluh persen? Tidak ada pilihan lain. Ia bagai makan buah simalakama. Tetapi tiga puluh persen di bawah harga pasar adalah harga terlalu mahal yang harus dibayar untuk kecerobohannya?
"Bagaimana? Anda menolak?" Alex mengerutkan keningnya.
“No... No... No, Sir. I Agree. Saya setuju."
Alex tersenyum. "Ok. Segera urus kontraknya, Vivian! Senang berbisnis dengan Anda, Tuan Budianto," Alex mengulurkan tangannya.
Ragu-ragu, Direktur Budianto menjabat tangan Alex, "Terima kasih, Sir. Senang berbisnis dengan Anda juga."
Alex tersenyum manis. Damn. Pria ini memang tampan. Tapi senyumnya terlalu manis hingga mematikan.
Dan bisnis kali ini pun Alex bisa meraih keuntungan besar. Suplai batu bara dengan harga tiga puluh persen di bawah pasar.
Pencapaian yang luar biasa. Tomy dan Vivian bahkan sampai menggelengkan kepala. Semua terasa mudah buat Alex.
Pria tampan itu melenggang dengan santai keluar dari ruang meeting meninggalkan Direktur Budianto yang masih terpaku di tempatnya.
Alex kembali menuju ruang kerjanya. Ia berjalan tegap dengan satu tangannya di masukkan ke saku celananya.
Tidak dapat dipungkiri memang, bahkan dari belakang pun punggung pria tampan itu terlihat sangat menggoda.
Alexander Kemal Malik, pria paling panas se-Asia pada abad ini versi majalah Forbes.
"Vivian usap liurmu," bisik Tomy di telinga Vivian.
Gadis itu menegang, perlahan diusap sudut bibirnya.
"Shit. Kau menipuku," Vivian menggeram.
Tommy tertawa.
🍁🍁🍁
Ini visualnya Alexander Kemal Malik
Kalau kurang pas, bisa dikasih saran ya...
🍁🍁🍁
Dan bagi yang ingin tertawa ngakak loss gak rewel. Ada novel somplak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Em Mooney
dikira mau nangkap ikan kakap eh mlh tekor...
2023-12-16
0
Eteh Tea
kurang ketimuran kn belesteran turky
2023-07-03
0
Dua Lima
cakep.. tp terlalu imut menurut ku.. buat playboy cap kadal suka mengoda masuk..
2023-01-31
0