"Kau sangat cantik," Alex memandang wajah Rianti lekat.
Jantung Rianti kembali berdebar.
Sadarlah Ri. Dia Alexander Kemal Malik. Dia pria jahat yang sudah membeli masa depanmu.
Dan ini hanya latihan. Pria itu sedang berpura-pura memujimu untuk kepentingannya.
Gadis itu merutuki kebodohannya yang mudah terhanyut oleh rayuan menyesatkan iblis tampan berwajah malaikat di hadapannya.
Rianti mengelus dadanya. Berusaha meyakinkan diri.
Ini hanya latihan. Ini hanya latihan. Katanya berulang-ulang dalam hati.
"Kau juga sangat tampan," Rianti tersenyum manis. Mencoba menghilangkan rasa gugup hanya berdua dengan makhluk berbahaya di depannya.
Alex terkejut. Gadis itu bisa juga memujinya,
"Yes, I'm."
"Ish. Kau sangat narsis, Tuan," Rianti mencebik.
Pria tampan itu terkekeh pelan, "Kau memujiku, bukan? Dan kenyataannya, aku memang sangat tampan."
“Hei, aku hanya melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh pasangan yang sedang kencan," wajah Rianti merona. Rasanya geli mengucapkan kata itu.
Kencan? Ih... Rianti ingin membekap mulutnya sendiri.
"Maksudmu? Kau pernah kencan?" Pria itu memiringkan kepalanya sambil tersenyum smirk.
Dilihat dari jarak sedekat ini. Iblis di hadapannya itu memang benar-benar tampan.
Rianti tertunduk malu. Wajahnya bersemu merah.
"Aku, eng..., aku hanya baca di novel-novel romantis," ucapnya lirih.
"Eh, tapi kau yang bilang bukan? Kita latihan pendekatan seminggu ini, agar nanti akting kita natural di depan orang tuamu? Dan aku sedang berlatih memujimu, Tuan."
"Oh," Alex tersenyum. "Tentu saja. Kita hanya latihan."
Mata Rianti membulat.
"Bahkan menggenggam tanganku juga termasuk latihan?"
"Hmm," Alex ingin tersenyum tapi ditahannya.
Gadis ini benar-benar lugu.
"Kau tidak pernah berpegangan tangan?"
"Tidak."
"Pantas, tanganmu sampai berkeringat."
Rianti menarik tangannya cepat, "Aku tak pernah punya pacar, jadi aku tak pernah berpegangan tangan dengan pria, kecuali ayahku."
Alex tersenyum, entah kenapa perasaannya lega mendengar pengakuan gadis itu, "Jadi aku yang pertama, Hm?"
Rianti merona. Alex sangat menikmati wajah gadis itu yang memerah malu-malu.
Bukankah dia terlihat begitu lucu dan menggemaskan?
“Well, kita kencan malam ini. Kau suka suasananya?"
Rianti mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Restoran ini begitu mewah, ruangannya luar biasa besar yang diisi meja-meja bundar dengan lilin-lilin yang berpendar di tiap mejanya.
Rianti duduk dengan rikuh ketika menyadari, mereka duduk menyendiri di ruangan yang terbuka dengan banyak lilin di lantainya serta tidak ada seorang pun selain dirinya dan Alex.
"Aku sudah mengosongkan semua meja untuk kencan kita," Alex berkata datar,
" Aku sangat menyukai privacy. Hanya akan ada kita berdua di sini."
"Kenapa orang kaya selalu buang-buang uang?" gadis itu bergumam sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maksudnya?"
"Tidak," Rianti mengedikkan bahu.
"Mau pesan apa?" Alex menyodorkan menu ke arah Rianti.
Selintas Rianti melirik lawan bicaranya. Mengapa wajah yang tampan itu terkadang nyaris tanpa ekspresi. Seandainya wajah itu selalu tersenyum atau bahkan tertawa pastinya akan sangat tampan berkali-kali lipat.
Rianti tersenyum dalam hati. Bahkan hanya dengan melihatnya saja jantungnya sudah menggila. Pria itu memang benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
Rianti mengalihkan perhatiannya pada buku menu di depannya. Astaga! Kenapa menunya berbahasa asing semua?
Alex menungu dengan sabar gadis di hadapannya itu memesan makanan. Alih-alih memesan, Rianti justru tampak kebingungan membaca menu makanan. Berkali-kali Alex bisa melihat mata hitam gadis itu menyusuri menu dari kiri ke kanan, lalu kembali lagi tanpa membuahkan hasil.
“Full course hari ini dua set." Alex akhirnya memberi tanda kepada waiterss untuk memesan menu terbaik mereka hari itu.
“Tolong tambah nasi putih," Rianti mendongak malu-malu.
Alex mengangguk, menyetujui tambahan yang diajukan Rianti.
“Terima kasih, Alex," Rianti tersenyum tulus. "Kau tahu aku tak bisa makan tanpa nasi."
"Aku tahu. Kau memang rakus."
"Aku apa?"
“Nothing," Alex mengedikkan bahunya. Mencoba mengalihkan pikirannya untuk tidak menerkam gadis itu saat ini juga.
Dress dari Versace yang terbuka di bagian dada dan punggung, membuat leher putih jenjang gadis itu kelihatan sangat menarik.
Riasan yang sederhana sangat sesuai dengan usianya membuat kesan elegan dan menatang sekaligus.
Alex harus menahan dirinya kuat-kuat agar tidak hilang kendali.
Rianti sadar dirinya diperhatikan. Ia berkali-kali menelan air liur untuk menenangkan dirinya. Daripada memikirkan bagaimana jika seandainya Alex akan mengecup lehernya atau memagut bibirnya, Rianti lebih suka memikirkan bagaimana cara memakan makanan yang ada di hadapannya.
Rianti tidak tahu apa yang akan terjadi nanti pada jantungnya mengingat jadwal kencannya seminggu ke depan.
🍁🍁🍁
Alex masuk ke kamar yang di tempati Rianti. Pria itu berdiri menatap Rianti yang tertidur dengan masih menggenakan dressnya. Ia lantas duduk di pinggir ranjang dan memperhatikan gadis itu yang sedang tertidur pulas itu lekat.
Sudut bibir pria itu tertarik ke atas.
Gadis bodoh. Apa nyaman tidur dengan dress dan high hells seperti itu?
Alex segera melepaskan high hels yang masih melekat erat pada kaki jenjang nan mulus itu, lalu melemparkannya ke pojok kamar.
Gadis itu benar-benar tidur seperti kerbau.
Alex menyeringai.
Kau sangat cantik kalau tidur begini.
Cukup lama pria itu duduk di sana sambil memandang wajah Rianti. Ia bahkan enggan kembali ke apartemennya. Ada rasa aneh yang membuatnya nyaman setelah melihat Rianti. Entah, ia tidak mau mengakui jika dia sudah jatuh cinta atau ia memang benar-benar tidak sadar dan tidak tau akan perasaannya sendiri.
"Tuan?"
Seorang pelayan pria tampak memanggilnya di ambang pintu yang setengah terbuka. Terlihat rasa takut di raut wajahnya.
Alex menyadari itu, tapi ia tidak bergeming. Ia bahkan tidak mau repot hanya untuk sekadar meliriknya.
"Hm?"
"Tuan, ada Tuan Tommy di ruang tamu bawah."
Alex mengernyitkan dahinya meski masih enggan menoleh, "Katakan padanya, tunggu 5 menit lagi."
"Baik, Tuan. Permisi."
Alex menatap Rianti yang masih damai dengan tidurnya. Pria itu berdiri, ia membenarkan posisi tidur Rianti dan menutupinya dengan selimut. Setelah selesai, ia berjalan keluar kamar dan menutup pintunya dengan pelan.
"Bibi Jen, jaga Rianti selagi aku keluar," ucap Alex pada salah satu pelayan wanita paruh baya yang ditugaskan khusus oleh pria itu untuk memberikan berbagai kebutuhan yang diperlukan Rianti.
"Baik, Tuan."
"Jika dia sudah bangun dan menanyakanku, katakan kalau aku ada urusan penting."
Pelayan itu mengangguk sebagai tanda mengerti, kemudian Alex melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah untuk menemui Tommy.
“Sir," Tommy segera berdiri saat mengetahui kedatangan Alex, "Nona Monica masuk rumah sakit di Bali."
Alex mengerutkan keningnya, "Kenapa?"
"Setelah meninggalkan apatemen Anda. Nona ke Bali untuk pemotretan. Nona jarang makan dan mengonsumsi alkohol berlebihan. Hingga semalam asistennya menelpon saya karena Nona pingsan dan masuk Rumah sakit Bali Mandara."
"Apa kata dokter?"
“Perkiraan sementara Nona menderita asam lambung dan...," Tommy berhenti sejenak, "Anxiety Disorder."
Alex menghela napas, "Segera persiapkan keberangkatanku ke Bali, Tommy."
"Baik, Sir."
🍁🍁🍁
Terima kasih atas like, komen, dan vote-nya ya readers.
Teşekkür ederim.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Siti Aminah
tuh kan...alex mulai jatuh cinta sm Rianti...awas bentar lg bucin km Lex
2024-05-19
0
Em Mooney
ish... jarang bekas mh meskipun didaur ulang ttp ngg kn sama ama yg ori
2023-12-16
0
💗💗oppa Sehun 💗💗💗
next thor
2022-10-17
1