Rianti mengusap air matanya kasar. Meski dia sudah bisa menebak permainan Alex dan Lyca tak urung membuatnya merasa sakit hati juga.
Bagaimana rasanya dikhianati sahabat?
Rianti meninggalkan Lyca begitu saja. Rasanya tidak mood kuliah hari ini.
"Ri! Tunggu!"
Rianti menoleh, ditutupnya kepalanya dengan hoodie kebesarannya. Di ujung koridor terlihat Dori berlari-lari ke arahnya.
Rianti meneruskan langkahnya, tak ingin melihat pemuda baik itu melihat air matanya.
Sudah cukup dirinya selalu merepotkan Dori selama ini. Rianti tidak ingin menambah bebannya.
"Sudah selesai kelas?" Dori mencekal lengan Rianti ketika berhasil menyusulnya, sambil mempercepat jalannya beriringan dengan gadis itu.
Rianti mengangguk.
"Kau sendiri?" Dori mengedarkan pandangannya ke sekitar Rianti. "Mana Lyca?"
"Aku tidak tahu, Kak."
Dori mengawati wajah sembab gadis cantik di depannya itu. "Kau sedang ada masalah?"
Rianti mendengus pelan, "Tidak ada."
"Kau bisa bercerita padaku apapun, Ri," Dori memandang wajah Rianti lekat. Ada yang sakit di hatinya melihat wajah itu terlihat sedih.
"Kita makan siang, yuk?"
"Maaf aku tak bisa, Kak."
Dori menghembuskan napas panjang. Ada yang aneh dengan gadis ini. Biasanya Rianti tidak pernah menolak makan siang dengannya apalagi gratis. Maklum, anak kost.
"Kau sakit?"
Rianti menggeleng, "Aku ada janji, Kak."
Dori menghentikan langkah Rianti, membalikkan tubuh gadis itu hingga pandangan mata mereka bertemu.
"Dengan?"
Rianti menunduk.
Tiiin...
Bunyi klakson mobil mengejutkan mereka.
"Maaf, aku harus pergi, Kak." Rianti melepaskan pegangan Dori dan berjalan menuju ke arah mobil Rolls Royce mewah berwarna putih dan berkaca gelap.
Tangan Dori mengepal. Mobil sejenis itu bukan sembarang orang yang bisa memilikinya. Lantas kenapa Rianti bisa dijemput dengan pemilik mobil itu? Apakah gadis itu sudah?
Ah. Dori menggelengkan kepala. Tidak mungkin Rianti melakukan hal di luar batas, seperti menjual diri atau menjadi simpanan para pria kaya. Tapi?
Siapapun yang menjemput gadis itu, Dori memang belum tahu. Tapi siapapun dia, tidak akan Dori izinkan menyakiti Rianti. Dori berjanji, dia akan selalu menjaga Rianti. Menjaga gadis itu dari siapa saja yang akan menyakitinya.
🍁🍁🍁
“Kekasihmu?" Alex bertanya santai sambil membuka macbooknya dari kursi penumpang.
"Sepertinya ada informasi yang kau lewatkan, Tom. She has a boy friend."
"Sorry, Sir," Tommy menjawab gugup sambil tetap mencoba konsentrasi mengemudi.
"Bukan urusanmu!"
"Itu menjadi urusanku sekarang. Sebentar lagi kita menikah. Aku tidak mau ada gosib istriku selingkuh dengan teman kampusnya. Tinggalkan dia, atau kau tahu apa akibatnya.”
Rianti memejamkan matanya, "Kau!"
"Ya?"
Rianti kehilangan kata-katanya. Wajahnya memerah menahan marah. Geram sekali melihat wajah pria yang sialnya tampan itu.
Sudut bibir Alex terangkat. Gadis itu sangat mengemaskan ketika marah. Wajah putihnya memerah, dan bibirnya mengerucut lucu. Alex menggelengkan kepalanya mencoba mengalihkan pikirannya untuk tidak m*l*mat bibir itu.
"Kita ke Grand Indonesia, Tom. Kau sudah bikin janji dengan Arnold?"
"Sudah, Sir. Tapi Mr. Arnold sedang ke Paris sekarang. Beliau merekomendasikan Ibu Lina. Marketing manajer. Ibu Lina yang akan menyiapkan segalanya untuk Anda. Anda jangan kuatir."
Alex mengangguk. Pandangannya kembali fokus pada macbooknya.
Rianti hanya diam. Malas mengatakan apapun.
🍁🍁🍁
Mobil berhenti di lobi mall. Tommy keluar dan segera membukaan pintu mobil untuk Alex kemudian berjalan memutar membukakan pintu untuk Rianti.
Seorang valet staff dari King Valet Service segera menghampiri Tommy dan mengangguk sopan. Tommy menyerahkan kunci mobil dan segera menghampiri Alex.
Di pintu lobi sudah ada wanita cantik dengan blazer hijau toska tersenyum ramah kepada Alex.
Catat. Hanya kepada Alex. Karena wanita itu sama sekali tidak melirik Rianti.
“Welcome Sir. Saya Lina. Marketing manager. Kehormatan bagi kami Anda datang ke mall kami. Mari saya antar."
Alex mengangguk. Tangannya meraih jemari Rianti dan menggandengnya erat.
Wanita bernama Lina itu terlihat mengernyit keheranan. Mungkin dia mengira sedang melihat seorang pangeran yang sedang berjalan bergandengan dengan upik abu. Alex dengan setelan jas mahalnya dan Rianti dengan hoodiee kebesarannya serta celana jeans belelnya.
Rianti tersenyum puas melihat wanita itu berpaling dan mencoba menetralkan ekspresi wajahnya.
Sementara itu, Alex tersenyum tipis melirik Rianti dari ekor matanya. Ternyata gadis itu tersenyum juga ketika dia menggandengnya.
Mereka larut dengan pikiran masing-masing hingga wanita bernama Lina itu menghentikan langkahnya di depan toko brand ternama.
“Sesuai dengan arahan Mr. Arnold, Sir. Apa yang bisa kami bantu untuk Anda?"
"Carikan dress yang cocok untuk calon istri saya."
"Baik, Sir. Anda bisa menunggu di lounge yang khusus kami sediakan untuk tamu VIP. Asisten saya akan mengantar Anda. Untuk Mrs. Alexander biar saya yang handel. Anda percayakan pada saya." Lina tersenyum manis sekali.
Alex mengangguk sekilas kemudian melangkah keluar diikuti Tommy.
🍁🍁🍁
“Anda suka Gucci, Chanel, Hermes, atau Prada, Miss?"
Rianti meringis, "Apa itu?"
Lina tersenyum dengan tatapan tidak percaya, "Anda sama sekali tidak tahu? Itu merek baju, Miss? Anda benar-benar calon istri Mr. Alexander?"
"Menurutmu?" Rianti mendengus.
"Maaf," Lina menjentikkan jarinya. Beberapa pelayan segera berjajar di belakangnya.
"Antar Mrs. Alexander untuk menemukan pakaian yang cocok untuknya."
Beberapa pelayan mengangguk hormat.
Rianti terpaku pada baju berpotongan simpel bergambar bunga dan daun. Sangat cantik.
"Itu sweatshirt with flora print, Miss. Salah satu keluaran Gucci terbaru. Terbuat dari bahan katun dengan nuansa retro yang cantik."
"Berapa harganya?"
"Dua puluh satu juta, Miss."
Rianti menelan ludahnya dengan susah payah. Hanya sepotong kaos dan harganya sudah bisa untuk membeli mobil cerry bapak di kampung?
"Bagaimana dengan ini? Chanel Beige spring skirt suit. Ini sangat cocok untuk Anda." Lina mengangsurkan dress tanpa lengan dengan warna krem, silver, dan gold.
Dress yang nampak kalem dan elegan. Rianti menggelengkan kepala ketika melihat baju itu dibanderol dengan harga delapan juta rupiah.
Ada yang salah dengan toko ini. Kenapa sama sekali tidak ada baju seharga seratus ribu?
Rianti ingin menangis rasanya. Dress yang paling sederhana berwarna biru dengan motif putih berlegan pendek bermerek Dolce & Gabbana saja dibanderol enam juta.
Demi Tuhan, uang cash di dompet Rianti hanya lima ratus ribu. Itupun uang untuk bayar kost yang belum sempat dibayarkannya setelah dia tinggal di mansion Alex.
Rianti ingin melarikan diri sekarang juga. Persetan dengan janji kencannya dengan Alex hari ini. Toh pria itu tidak bertanggung jawab dengan meninggalkannya sendirian.
"Saya ingin ke toilet sebentar," pamitnya pada Lina dan beberapa pelayan yang mengikutinya.
"Toiletnya ada di dalam, Miss."
"Tidak... tidak. Saya ingin toilet yang di luar. Perut saya sakit." Rianti memegang perutnya.
"Tapi Miss. Oh, Tuan Alex." Lina menunduk hormat.
"Kenapa lama sekali?" Suara baritone itu membuat Rianti menoleh. Gadis itu mendelik geram.
"Kenapa? Mereka menyakitimu?"
"Tidak." Salak Rianti.
"Kau yang menyakitiku."
Alex menunjuk dirinya, "Aku?"
Rianti menarik lengan Alex keluar. Pria itu mengernyit heran tapi tidak menolak.
"Kau menyuruhku membeli pakaian yang harga termurahnya saja lima juta? Bahkan gajiku sebulan di restoran hanya setengahnya. Bagaimana aku bisa membayarnya?" Bisik Rianti menggeram di telinga Alex.
"Siapa yang menyuruhmu membayarnya? Aku hanya menyuruhmu memilihnya."
"Dan kau melarikan diri Tuan Sombong. Aku hanya bisa berpura-pura sakit perut dan melarikan diri ke toilet."
Alex menyugar rambutnya ke belakang. Tawanya pecah seketika. Rianti membeku di tempatnya. Baru kali ini melihat pria itu tertawa lepas. Dia begitu terpesona dengan lesung pipi yang indah itu dan mata biru yang menyipit karena tertawa.
"Ayo!" Alex menarik tangan Rianti kembali ke dalam toko. "Aku mau itu...itu... dan itu," katanya sambil menunjuk beberapa baju yang di display di manekin. "Bungkus semua!"
"Satu lagi, kirimkan ke rumah saya semua keluaran terbaru dari berbagai merek yang ada di sini."
Rianti melongo, bahkan hingga Lina membawanya ke ruang ganti dan mengganti baju kumalnya dengan dress dari Versace. Versace Crystal Embellished Draped Gown, dress cantik terbuat dari bahan asetat dengan lapisan viscose dan sutera. Gaun dengan tali spaghetti berwarna putih yang begitu glamour saat dikenakan.
Dan ingatkan Rianti untuk menjual kembali gaun ini ketika pulang kampung. Rianti bahkan tidak berkedip menatap harga gaun yang dibanderol enam puluh lima juta itu.
🍁🍁🍁
Terima kasih untuk like, komen, dan vote-nya ya readers.
Teşekkür ederim.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Dessy Lisberita
Alex mau menikah dngan monik yg udah berganti laki"yg bener Alax
2024-11-03
0
Em Mooney
waduh.. jgn yg ke 3 terlalu seksoy
2023-12-16
0
Laela
🤣🤣🤣🤣
2022-12-11
0