Rianti mengerjapkan matanya, ia terbangun oleh suara nyaring ponsel yang dari tadi terus saja mengganggu kenyamanan tidurnya. Ia mencari sumber bunyi yang ada di nakas samping tempat tidur.
Disingkirkannya selimut yang menutupi tubuhnya yang bahkan baru ia sadari.
Gadis itu mengerutkan kening, siapa yang sudah menyelimutinya dan melepaskan highells dari kakinya?
Rianti duduk di pinggir ranjang dan mengambil ponselnya, ia segera menggeser tombol hijau.
Terdengar suara hiruk pikuk dan alunan musik house yang memekakkan telinga. Sontak membuat gadis itu terkejut dan segera menjauhkan ponsel dari telinganya.
Rianti mencoba mendengarkan lagi dan konsentrasi dengan suara pria yang terdengar memanggil namanya.
Sepertinya ia tidak mengenal suara itu.
Gadis itu melihat ponselnya dan terlihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Kak Dori? Aneh. Tapi suaranya bukan suara Kak Dori.
"Rianti?"
"Iya, Kak Dori?"
"Bukan, gue Ardi. Temannya Dori. Anak ini lagi mabuk. Apa lo bisa ke Dragonfly, sekarang?"
“Dragonfly?"
"Eng, night club di Graha. Gatot Subroto."
“Kenapa harus saya, Kak?"
"Dori selalu panggil-panggil nama lo. Dia nggak mau gue bawa balik. Please Ri. Lo bisa datang kan? Gue gak tega kalo Dori gue tinggal di club sendirian dalam keadaan mabok."
"Tapi ini sudah malem banget, Kak?" Rianti menoleh ke arah jam dinding di kamarnya.
"Yaelah, Rianti. Namanya juga club malam. Kalo pagi namanya mah pasar."
"Nyolot banget sih, Kak. Ya udah share alamatnya sekarang. Aku akan kesana," Rianti mendengus kesal. Seumur hidup, ia tidak pernah masuk ke tempat hiburan malam itu. Dan sekarang, ia terpaksa harus ke sana. Demi Kak Dori.
Tanpa menunggu jawaban dari teman Dori, Rianti segera mematikan ponselnya.
Ia kembali bingung, apa yang akan dilakukannya di club malam?
Bagaimana caranya nolongin orang mabuk?
Tapi jika sampai teman Dori menelponnya, tentulah pemuda itu membutuhkan bantuannya. Dan Rianti sudah terlalu banyak berutang budi pada pemuda itu.
Gadis itu terburu-buru, bahkan ia tidak sempat mandi dan berganti pakaian karena tadi langsung tertidur. Ia menghampiri cermin dan menyapu wajahnya dengan polesan bedak tipis dan sedikit parfum. Ia menyambar jaket dan tak lupa ponselnya dan memasukkan begitu saja ke dalam tas kecil berwarna hitam.
Rianti membuka pintu kamarnya, ia terkejut ketika ada seorang pelayan yang tampak akan membuka pintu kamarnya juga. Pelayan itu langsung menunduk hormat. Sebenarnya Rianti tidak suka diperlakukan seperti itu, tapi kali ini ia mencoba mengabaikannya dan berlalu.
"Nona, Anda mau kemana?" suara pelayan itu menghentikan langkahnya saat hendak menuruni tangga.
"Saya harus pergi," tanpa memedulikan pelayan yang mulai khawatir, Rianti kembali melanjutkan langkahnya.
"Nona, Anda jangan pergi. Tuan Alex akan marah jika dia sampai di rumah dan tidak melihat Anda."
Dengan terpaksa, karena Rianti merasa kasihan, ia berbalik menatap pelayan itu yang terlihat bersusah payah mengejarnya dengan tergopoh-gopoh.
"Bibi Jen. Maafkan saya. Saya harus pergi. Sampaikan pada Alex. ini sangat penting. Saya akan kembali secepatnya."
🍁🍁🍁
“Alex, kau datang?" Monica tersenyum menyambut kedatangan Alex. Tangannya yang bebas dari infus terulur menggapai tangan Alex.
"Kau menungguku, hm?"
“Of course. I miss you so bad, Alex," ucap Monica dengan nada manja.
“Why?"
Monica mengerutkan alisnya, "Why?"
"Kau minum banyak alkohol, pingsan di night club. Bahkan dokter pun bilang bahwa kau asam lambung, kurang gizi, dan...," Alex terdiam sejenak, "kau cemas berlebihan."
Monica mendesah panjang. "Alex, kau berutang penjelasan padaku?"
"Penjelasan apa?" Alex duduk di sisi ranjang rumah sakit, mengelus lengan Monica yang diperban karena jarum infus.
Wanita itu memegang dasi Alex dengan manja. "Kenapa kau meninggalkanku begitu saja saat itu?"
"Kau masih mengingatnya, rupanya?" tanya Alex lembut.
Sesekali ia mempermainkan rambut Monica, menyibakkan anak rambutnya ke belakang telinga. Biar bagaimanapun Alex masih menyayangi Monica. Tinggal bersama dengan wanita itu lebih dari empat tahun membuatnya sedikit banyak peduli dengan wanita itu.
Meski sekarang?
Oh Shit. Alex kembali mengingat Rianti.
"Bukankah saat itu aku bilang bahwa aku ada meeting penting di kantor?" Alex mencoba tersenyum, meski tak yakin Monica akan mempercayai ucapannya.
“Alex katakan padaku, saat itu kau menemuinya bukan? Kau menemui gadis itu dan meninggalkanku dengan menggenaskan di apartemen kamu? Kau bahkan tidak mengantarkanku ke bandara. Katakan Alex, kau tidak mencintai gadis itu, bukan?" Monica menghiba. Menggenggam tangan Alex erat.
Alis Alex bertaut, "Kau mengikutiku? Memata-mataiku?"
Deg.
Monica ketakutan. Wanita itu paham jika Alex paling tidak suka diikuti. Tapi Alex juga paling lemah dengan air mata.
“Cause I love you. I love you so much. You're mine, Alex. Aku tidak mau ada perempuan lain di hatimu," Monica terisak pelan.
Benarkan? Pandangan Alex yang semula tajam itu kembali melembut.
"Kau cemburu?" Alex mengelus pipi Monica dengan lembut. "Bagaimana jika aku benar-benar jatuh cinta? Bukankah kau yang menyuruhku untuk menikah?"
Monica mendongak, menatap wajah Alex lekat, "Alex, pernikahan itu hanya pura-pura. Kau tidak serius mengatakannya bukan? Kau tahu, sejak saat itu, aku takut, aku sedih. Aku bahkan lupa makan, dan aku juga melarikan diri dengan alkohol. Just one year. Dan aku akan menikah denganmu. Aku bisa mati jika kau meninggalkanku Alex." Air mata Monica menderas.
Alex menghela napas, "Semua ini bukankah kau yang menginginkannya, Darl. Apa kau lupa? Siapa yang menyuruhku menikah kontrak selama setahun?"
"Tapi kau tidak akan mencintainya, kan? Kalian hanya pura-pura? Kau tetap mencintaiku, kan, Alex? Please, tell me, you love me?"
"Sttt..., I love you." Alex menutup bibir Monica dengan ibu jarinya. Melepaskan cengkeraman tangan Monica di lengannya. Diusapnya perlahan air mata Monica.
Monica menarik lengan Alex agar tubuh pria itu lebih mendekat, mengikis jarak, hingga bibir mereka bertemu. Alex mel*mat lembut bibir itu, bertukar saliva, matanya terpejam.
Shit. Kenapa wajah gadis bodoh itu lagi-lagi terbayang.
Drrtt... Drrtt...
Getar ponsel di saku celana Alex menginterupsi keduanya. Alex merogoh saku celananya dan menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Ada apa?" Alex berbicara dengan nada tinggi. Moodnya sedang buruk sekarang. Entah kenapa kesedihan Monica membuatnya merasa tidak nyaman, tapi bayangan Rianti juga membuatnya gelisah.
“Tuan, Nona Rianti pergi dari rumah." Seorang pelayan yang Alex kenali suaranya, Bibi Jeni, sedang berbicara dengan nada bergetar.
“Shit. Kenapa kau bisa sebodoh itu?" bentak Alex.
“Dia memaksa Tuan, Nona Rianti bilang ada hal penting yang akan dilakukannya."
Alex melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 02.00 dini hari. Dan di Jakarta bahkan satu jam lebih lambat.
“Damn! Lakukan sesuatu atau aku akan membunuhmu."
“Saya minta maaf, Tuan. Sa...,"
Tut ...tut...
Alex memutuskan sambungan secara sepihak.
🍁🍁🍁
Terima kasih atas like, komen, dan vote-nya ya readers.
Teşekkür ederim
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Ayuna Kamelia
Aga ga iklas klo ntar rianti sama alex
terlalu bebas idupnya alex
living together 4th
sex bebas duhhhh kasian rianti
bisa²nya si alex masih sayang sm monica padahal tau monica suka having fun
duhhh geli lex
2024-03-28
0
Em Mooney
alah.. alex jg udh ngg bujang
2023-12-16
0
Nenk Manieez
kasian bibi jeni jd sasaran kemarahan alex
2023-01-26
0