Sementara Fino memasang wajah dingin dengan aura membunuh karena baru pertama kali ada seorang gadis yang membentaknya bahkan mengancamnya. Sungguh luar biasa gadis itu ia tidak tahu siapa Fino sebenarnya yang merupakan seorang mafia.
"Jangan biarkan gadis itu keluar dari kantor ini!" bentak Fino kepada bodyguard nya dengan kemarahan bagaikan seorang iblis. Lalu Fino kembali masuk keruangan nya dan menjatuhkan semua berkas yang ada di mejanya. Ia lalu bersandar di kursi kebesarannya.
"Baaaaik....tuan" ucap mereka tergagap karena baru kali ini ada yang membangunkan kemarahan tuannya. Kemudian mereka berlari mengejar Lexa.
Sementara Chiko mengintruksikan kepada semua bodyguard kantor untuk menangkap Lexa secepatnya dan bawa kehadapan tuan Fino . Ia tak habis pikir tuan Fino bisa marah besar kepada Lexa hanya masalah sepele.
Bencana besar nih. Batin Chiko.
Setelah itu Chiko masuk ke ruangan Fino yang tampak berantakan, lalu menghampiri Fino yang duduk di kursi kebesarannya sambil memejamkan matanya.
"Tenang kan dirimu tuan" ucap Chiko kepada Fino yang berdiri di samping nya.
"Apa kau sudah menangkap gadis itu hah!" ucap Fino dengan mata yang masih terpejam.
"Mereka sudah menangkap nona Lexa tuan" ucap Chiko.
Tak beberapa lama kemudian bodyguard yang diperintahkan untuk menangkap Lexa membawa Lexa ke ruangan Sang CEO. Lexa terus berteriak dalam Kungkungan para bodyguard, Lexa terus memberontak bahkan melakukan perlawanan dan sialnya ia menjatuhkan ponselnya sehingga ia tidak bisa menghubungi keluarganya bahkan tidak ada lagi yang bisa menolongnya.
Bodyguard menyeret paksa Lexa masuk ke ruangan Fino dan mendorongnya untuk bersimpuh di hadapan Fino. Dengan cepat Lexa kembali berdiri dan memperbaiki penampilannya yang berantakan dan menatap Fino dengan tatapan kebencian.
Fino yang melihat mangsanya ada di depan mata tertawa dengan lepasnya memenuhi ruangannya. Sementara Chiko dan para bodyguard hanya diam melihat aksi tuanya yang tidak sesuai logika.
Lexa merasa muak dengan tawa Fino. Ia hanya menyilangkan tangannya di depan dada.
Kemudian Fino mengintruksikan kepada Chiko dan para bodyguard untuk meninggalkan ruangannya. Lalu Fino memencet remote control untuk mengunci ruangannya. Kini tinggal Fino dan Lexa yang berada di ruangan itu dan tampak suasana ruangan itu menjadi menyeramkan.
"Kita mulai dari mana ya permainannya" ucap Fino yang terus berjalan mendekati Lexa sambil memasang sarung tangan, Lexa yang merasa waspada terus saja mundur kebelakang. Sementara Fino terus berjalan mendekati Lexa, Lexa pun berjalan mundur hingga terbentur di dinding. Fino berdiri di hadapan Lexa hanya beberapa centi saja. Fino menatap Lexa dengan tatapan mata elangnya. Lexa yang terus di tatap oleh Fino merasa gugup.
"Apa yang kau inginkan dariku" ucap Lexa dengan tatapan kebencian.
Sementara Fino hanya tersenyum sinis. Lalu menarik keras rambut Lexa. Lexa merasa kesakitan iapun tidak bisa melawan karena kedua tangannya terikat.
"Aku ingin menyiksamu terlebih dahulu setelah itu barulah aku akan membunuhmu" ucap Fino dingin dengan aura seorang mafia berdarah dingin dan kejam, Ia terus saja menarik rambut Lexa hingga beberapa helaian rambut panjang Lexa sudah terjatuh ke lantai. Lexa hanya menutup mulutnya mendapatkan siksaan dari Fino dan air matanya terus mengalir hingga membasahi wajahnya. Fino melihat Lexa menangis ia menghentikan aksinya.
"Bagaimana apa kau suka dengan permainanku" Ucap Fino
"Kau lelaki gila" ucap Lexa dengan mata memerah.
"Ya aku memang gila,......ha ha ha ha..... Kau tahu aku seperti ini karena keluarga mu" ucap Fino. Kemudian mencekal leher Lexa......
Aku begitu bodoh tidak mau mendengarkan ucapan Daddy dan ayah. Batin Lexa.
Lexa terbatuk-batuk dengan cekalan Fino yang tidak mau lepas di lehernya.
"Bunuh saja aku kalau itu keinginan mu" ucap Lexa yang hanya pasrah karena ia mendapatkan siksaan dari lelaki gila di hadapan nya.
"Baiklah jikalau itu keinginan mu" ucap Fino lalu mengeluarkan belati kecil dari saku jasnya.
Belati yang ia keluarkan ia arahkan ke leher Lexa. Sementara Lexa tampak ketakutan ternyata lelaki ini ingin membunuhnya.
"Tapi sayang kalau belati ini tidak mengenai wajah mu yang cantik ini" ucap Fino yang memegang wajah Lexa dan siap menggoreskan ke wajah Lexa.
"Hei jangan lakukan itu" ucap Lexa yang sudah ketakutan dan terlihat memohon.
Fino pun menghentikan aksinya dan kembali membuka suaranya.
"Aku tidak mengampuni musuhku, aku ingin membuat mu menjadi gadis yang cacat dan menderita" ucap Fino dan kembali mengarahkan belati kecil itu ke wajah Lexa.
"Jangan lakukan itu, tolong ampuni aku....
. hiks hiks hiks" ucap Lexa dengan tangisnya yang meminta pengampunan.
Fino tidak peduli dengan tangisan gadis di hadapannya. Lalu ia menusukkan belati itu ke mata Lexa.
"Aaakhhhhh..." teriak histeris Lexa hingga tak sadarkan diri. Kemudian Fino menghentikan aksinya tampak darah jatuh dari pelupuk mata Lexa hingga berceceran di ruangan itu kemudian Fino memeriksa nadi Lexa.
"Aku masih mengampuni mu nona, selamat menikmati kehidupan baru mu" gumam Fino.
Kemudian menyuruh anak buahnya untuk membawa Lexa keluar dari perusahaan nya dan menyuruh nya melakukan manipulasi kecelakaan atas kejadian yang menimpah Lexa.
Lalu Fino masuk ke dalam kamar pribadinya dan berjalan menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya. Sementara 2 bodyguard nya membersihkan ruangannya. Setelah selesai mengerjakan pekerjaannya kedua bodyguard itu kembali berdiri di depan pintu ruangan sang CEO.
Fino tampak segar memakai pakaian santainya. Ia duduk bersandar di sofa sambil memegangi bingkai foto dirinya dan ayahnya.
"Aku sudah memberi pelajaran keluarga the Manik ayah" ucap Fino yang memegangi bingkai foto ayahnya. Tak terasa lelaki berdarah dingin itu meneteskan air matanya saat membayangkan kejadian di masa lalu.
Flashback on
Seorang anak lelaki berumur 8 tahun duduk di bangku taman di halaman gedung apartemen menunggu kedatangan sang ayah, ia adalah Fino kecil. Fino menunggu kedatangan ayahnya yang menjanjikan ia sebuah mainan. Fino terus menatap jalanan yang sering dilewati sang ayah. Ia begitu menyayangi sosok ayah sekaligus berperan sebagai ibunya, karena sosok ibunya telah meninggal pada saat Fino dilahirkan. Sampai hari mulai gelap Fino kecil masih saja setia menunggu kedatangan sang ayah yang tak lain adalah Leo anak buah dari Alex.
Fino kecil tetap pada pendiriannya bahwa ia akan setia menunggu kepulangan ayahnya. Akan tetapi udara yang begitu dingin hingga menusuk kulitnya iapun melangkahkan kakinya menuju apartemen yang berada di lantai 5. Fino kecil terus menaiki anak tangga menuju apartemen ayahnya. Setelah sampai ia pun membuka kulkas dan mengambil cemilan yang disediakan ayahnya.
Hingga pagi hari Fino mencari keberadaan ayahnya. Ia bertanya pada tetangga apartemen ayahnya dan mereka mengatakan tidak melihatnya. Hingga utusan tuan Alex menjemputnya dan membawanya ke sebuah tempat pemakaman umum yang telah di penuhi oleh orang-orang berpakaian hitam. Fino bertanya kepada mereka.
"Ayahku mana paman" ucap Fino.
Salah satu dari mereka mengatakan bahwa ayahnya sudah beristirahat tenang di alam sana.
Fino terus bertanya hingga ia melihat sebuah nisan bertuliskan nama ayahnya. Iapun menghampiri nisan sang ayah dan memeluknya dengan erat.
"Ayah....hiks......hiks...... ayah.... jangan tinggalkan aku,.....ayah....hiks" ucap Fino kecil dengan deraian air mata.
....
"Ayah....." ucap Fino yang tersadar dari lamunannya.
Flashback on
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
mika cahyaningrum
bukannya ibunya fino bernama ratu thor di episode awal saat alex dioperasi🙄
2024-08-13
0
Leli Noer Octavia
aku tidak heran jika dia memiliki jiwa psikopat,karena latar belakang keluarga sekaligus masa lalunya 😔
2022-11-02
0
Tika Zah
rada t nyambung carita teh
2022-05-15
0