Chapter 18: Rampasan Perang

Tindakan Jiang Chen memang mengejutkan sang ketua bandit, namun tiba-tiba sang ketua bandit mencabut pedangnya dan langsung menebas kepala yang terbang kearahnya.

Jiang Chen tertawa "Hahaha......Aku tidak menyangka kau akan begitu kejam, pada kepala bawahanmu sendiri, disana mereka pasti akan menyesal jika mengetahui bahwa yang menghancurkan mayatnya adalah bosnya sendiri"

Ketua Bandit pun geram dan meraung dengan marah "JIANG CHEN................"

Jiang Chen tertawa dan membalas "Haha...Kenapa kau berteriak disana bodoh, kau hanya terlihat seperti banci yang baru saja dicampakan, dan tentu saja aku normal dan tidak menyukai seorang banci, maka jika berani datanglah kesini dan gigit tuan muda ini jika kau bisa"

Mendengar ucapan Jiang Chen hanya membuat amarahnya semakin besar sehingga dia, tanpa berpikir langsung maju dan menerjang kedepan.

Jiang Chen pun tidak diam saja dan ikut menerjang kedepan, mereka sama-sama mengayunkan pedangnya, namun karna Jiang Chen sudah kelelahan, dia terpaksa harus di terbangkan dan menabrak dinding gua.

Bamm..!!!

Jiang Chen menabrak dinding dengan keras sehingga membuat gua sedikit bergetar, selain itu Jiang Chen pun harus memuntahkan seteguk darah segar, tapi dia langsung mengelapnya dan kembali berdiri dengan tersenyum

"Aku tidak menyangka bahwa dinding gua akan senyaman ini, mungkin di masa depan aku harus membuat rumah di salah satu gua, hahaha....." Jiang Chen berkata dengan tertawa di akhir.

Ketua Bandit hanya mendengus mendengar itu "Hm....Tertawalah selagi bisa, karna aku akan segera mengambil nyawamu itu"

Setelah mengatakan itu baik Jiang Chen ataupun Ketua Bandit sekali lagi melancarkan sebuah serangan, dan merekapun harus bertabrakan sekali lagi, sehingga kejadian tadi pun terus terulang lagi.

Walaupun begitu Jiang Chen tidak menyerah dan terus melancarkan serangannya dan seperti yang di harapkan Jiang Chen, setelah melakukan serangan dan beberapa kali tabrakan, dia pun sudah mulai terbiasa dengan kekuatan Kultivator tingkat 9, sehingga terkadang dia bahkan bisa melancarkan serangan kejutan.

"Kenapa dia masih bisa bertahan setelah bertabrakan beberapa kali dan kenapa aku merasa dia terus bertambah kuat setiap kali kita bertabrakan" Ketua bandit berpikir. Namun, dia segera menggelengkan kepalanya, karna monster macam apa yang di siksa akan semakin kuat, tapu untuk berjaga-jaga dia pun memutuskan untuk segera mengakhiri pertempuran ini.

Melihat Ketua bandit yang berlari mendekat ke arahnya, Jiang Chen hanya tersenyum dan ikut menerjang ke depan.

Namun, kali ini sedikit berbeda Ketua bandit tidak lagi mengarahkan seranganya kedepan tapi langsung kearah lehernya, Jiang Chen juga sekali lagi melakukan serangan bunuh diri dengan mengarahkan pedangnya pada jantung ketua bandit.

Namun, entah kenapa saat ketua bandit melihat mata Jiang Chen, dia yakin bahwa Jiang Chen akan melakukannya dan tidak ada sedikitpun keraguan untuk itu, sehingga membuatnya sangat ketakutan karena dia sendiri belum siap untuk mati, sehingga dia pun mengubah serangan menuju pedang Jiang Chen.

Jiang Chen hanya tersenyum melihat itu dan dia pun segera mengubah arah serangannya menjadi lengan kanan ketua bandit.

Slasssh!!

Aaaarrggh......!!

Ketua bandit pun menjerit kesakitan karna mengetahui bahwa tangannya sudah terpotong, dia menjadi marah dan mengutuk "Kau sialannn, berani-beraninya kau memo...."

Namun, sebelum bisa menyelesaikan kalimatnya. Jiang Chen sudah memotong lengan yang satunya lagi.

Aaaarrggh!!!!

Bandit itu sekali lagi menjerit dan merintih kesakitan "Tuanku mohon luangkanlah hidupku, aku akan........"

Namun, sekali lagi sebelum dia bisa menyelesaikan ucapannya itu, sebuah pedang sudah menembus jantungnya, dan itu dilakukan oleh Jiang Chen dengan memasang wajah yang acuh tak acuh "Kau tau, aku selalu membenci orang-orang yang suka menggertak orang lain yang lebih lemah darinya, dan ketika mereka melakukan itu, di mataku mereka sudah bukan lagi manusia dan hanya seekor binatang"

Jiang Chen mancabut pedangnya dan langsung memenggal kepala sang ketua bandit.

Lalu semuanya pun berakhir dengan sebuah kepala yang menggelinding dan darah yang menyembur seperti air mancur.

Dan terlihat bahwa Jiang Chen juga sudah sangat kelelahan, sehingga dia harus langsung duduk dan bermeditasi.

Setelah beberapa saat, Jiang Chen pun akhirnya terbangun, tapj dia belum menyembuhkan lukanya dan hanya sudah mengisi kembali energinya.

Jiang Chen kebingungan, kenapa dia tidak bisa merasakan apapun setelah membunuh seseorang, mungkinkah ini pengaruh dari ingatannya yang tercampur atau karna teknik kultivasinya.

Jiang Chen sangat kebingungan, tapi dia juga tidak tahu harus berbuat apa, sehingga dia pun memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya sekarang dan memikirkannya di masa depan.

Jiang Chen bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menuju mayat ketua bandit, dan terlihat bahwa dia mati dengan wajah yang sangat ketakutan dan ke tidak percayaan yang kuat.

Namun, yang membuat Jiang Chen kecewa, adalah dia tidak menemukan cincin ruang ditanganya, cicin ruang adalah sebuah cicin uang di dalamnya mempunyai sebuah ruangan yang berfungsi untuk menyimpan barang.

"Apa yang aku harapkan, cincin ruang memang sangat langka bahkan di Klan Jiang hanya Ketua Klan dan para tetua yang memilikinya" gumam Jiang Chen dengan pahit.

Lalu Jiang Chen pun berjalan perlahan menuju sebuah ruangan yang ada di belakang kursi sang ketua bandit, saat JiangChen memasukinya dia sangat terkejut karna dia melihat tumpukan rumput kondensasi ringkat menengah dan beberapa rumput kondensasi tingkat tinggi, dan di ujung ruangan ada sebuah meja yang di atasnya terletak 2 buah botol.

Jiang Chen pun mendekat dan membuka 2 botol tersebut, namun setelah melihat isinya Jiang Chen pun meloncat kaget, lalu hatinya bergetar gembira karna di dalamnya terdapat sebuah pill berwarna merah cerah, itu adalah pill kondensasi dan masing-masing dari botol berisi satu pill, ini membuat Jiang Chen tersenyum tak karuan seperti orang yang sedang melihat wanita cantik telanjang.

Jiang Chen teringat bahwa Bos bandit adalah seorang kultivator tingkat 9, jadi pill ini pasti di siapkan untuknya menerobos, namun sebelum dia bisa melakukannya, dia sudah dibunuh oleh Jiang Chen, dan sekarang pillnya telah jatuh ke tangan Jiang Chen, Dia sungguh sial.

Tiba-tiba Jiang Chen melihat di sisi ruangan ada sebuah panah berwarna biru cerah yang terlihat sangat indah, Jiang Chen mendekat lalu mengambilnya dan tersenyum "Ini adalah senjata elite, aku tidak menyangka akan menemukannya disini"

Jiang Chen melanjutkan dengan bahagia "Ini pasti akan sangat cocok untuk Jia Yong, dia pasti akan sangat senang dengan hadiah ini, dan untuk Jilu aku akan mencarikannya senjata yang cocok di kota"

Jiang Chen pun mengangguk setuju dan mulai merapikan barang rampasanya, sebenarnya dia sedikit ragu-ragu dengan memikirkan ini adalah barang rampokan para bandit.

Namun, dia berpikir bahwa ini akan sangat sia-sia untuk di tinggalkan, Jiang Chen juga sedang kekurangan uang, dan yang terpenting dia juga sudah membunuh para bandit, itu juga bisa di hitung sebagai bayaran untuk membalaskan dendam mereka juga.

Akhirnya Jiang Chen memutuskan untuk mengambil semuanya, lalu kembali ke tempat dimana Jilu dan Jia Yong berada.

Jiang Chen berdoa untuk para korban "Saudaraku maafkan atas kelancanganku untuk mengambil harta kalian, aku sudah membalaskan dendam kalian, dan aku harap kalian bisa tenang disana"

Jiang Chen menangkupkan tinjunya, sebelum berbalik dan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Namun, setelah kepergian Jiang Chen tiba-tiba banyak bayangan yang muncul di ruangan tersebut dan salah satu dari mereka berkata dengan senyum di wajahnya "Nak kau sangat baik. Namun, sayangnya kami tidak bisa membalas kebaikanmu, tapi kami akan memberikanmu karma yang kami miliki, dan itu pasti akan membantumu bertahan di masa depan"

Mereka adalah bayangan dari korban para bandit yang mati dengan penuh dendam, sehingga membuat kematian mereka tidak tenang dan keinginan mereka untuk membalas dendam tidak pernah padam. Namun, karna pertolongan Jiang Chen, akhirnya mereka bisa terbebas dari siklus dendam ini.

Saat ini Jiang Chen sedang berlari kembali ke kereta, dan tidak tahu apa yang sedang terjadi di ruangan itu.

Terpopuler

Comments

Haikal Akbar

Haikal Akbar

Siipp.

2022-11-21

0

Ayi Hadi

Ayi Hadi

lanjutkan🦾🦾🦾🦾🦾✍🏽✍🏽✍🏽🙏🏻🙏🏻

2022-07-04

1

Deputy10

Deputy10

Kenapa ya... dimana-mana ketemu cincin ruang...

2021-12-21

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1: Kebangkitan
2 Chapter 2: Buah Kondensasi Langit
3 Chapter 3: Kembali Ke Kota
4 Chaper 4: Feng Lin
5 Chapter 5: Klan Jiang
6 Chapter 6 : Jiang Jian dan Li Shuwan
7 Chapter 7: Info Turnamen
8 Chapter 8: Perpustakaan Jiang
9 Chapter 9: Tinju Bayang
10 Chapter 10: Keberangkatan
11 Chapter 11: Jia Yong
12 Chapter 12: Pemburuan Pertama
13 Chapter 13: Pelatihan Jiang Chen
14 Chapter 14: Bandit Gunung
15 Chapter 15: Keluarnya Jiang Chen
16 Chapter 16: Serangan Jiang Chen
17 Chapter 17: Serangan Jiang Chen II
18 Chapter 18: Rampasan Perang
19 Chapter 19: Perubahan Rencana
20 Chapter 20: Penginapan Bulan Ming
21 Chapter 21: Kebodohan Yan Jilin
22 Chapter 22: Putri Ming
23 Chapter 23: Jalan Barang Antik
24 Chapter 24: Mendapatkan Harta
25 Chapter 25: Teknik Menggoda JiangChen
26 Chapter 26 : Klan Ming
27 Chapter 27: Klan Ming II
28 Chapter 28: Bukit Tengkorak
29 Chapter 29: Tombak Naga Langit
30 Chapter 30: Penyulingan Pertama
31 Chapter 31: Pemburuan
32 Chapter 32: Kemampuan Jilu
33 Chapter 33: Kemarahan Jiang Chen
34 Chapter 34: Jiu Long
35 Chapter 35: Sejarah Jiu Long
36 Chapter 36: Sejarah Jiu Long II
37 Chapter 37: Sejarah Jiu Long III
38 Chapter 38: Pill Bulan Ungu
39 Chapter 39: Kembali Ke Kota Ming
40 Chapter 40: Perubahan Turnamen
41 Chapter 41: Percakapan Ruang Rahasia
42 Chapter 42: Ujian Alchemist
43 Chapter 43: Paviliun Kosmos
44 Chapter 44: Paviliun Kosmos II
45 Chapter 45: Pelelangan
46 Chapter 46: Pelelangan II
47 Chapter 47: Pelelangan III
48 Chpater 48: Mencoba Teknik
49 Chapter 49: Tebasan Asura
50 Chapter 50: Rencana Pulang
51 Chapter 51: Menuju Klan Ming
52 Chapter 52: Pamitan
53 Chapter 53: Pamitan II
54 Chapter 54: Pamitan III
55 Chapter 55: Ming Mei
56 Chapter 56: Ming Mei II
57 Chapter 57: Kembali Ke Klan Jiang
58 Chapter 58: Pulangnya Jiang Chen
59 Chapter 59: Tradisi Keluarga
60 Chapter 60: Rencana Kepergian
61 Chapter 61: Kultivasi Feng Lin
62 Chapter 62: Mutiara Penghisap Darah
63 Chapter 63: Saber Tanpa Hati
64 Chapter 64: Saber Tanpa Hati II
65 Chapter 65: Saber Tanpa Hati III
66 Chapter 66: Memasuki Gua
67 Chapter 67: Warisan Li Hongli
68 Chapter 68: Warisan Li Hongli II
69 Chapter 69: Namamu Adalah Hubai
70 Chapter 70: Memasuki Kota Puyang
71 Chapter 71: Qing Tao
72 Chapter 72: Munculnya Fraksi
73 Chapter 73: Jia Yong vs Shi Gudong
74 Chapter 74: Kekalahan Telak Shi Gudong
75 Chapter 75: Pendaftaran Yang Mudah
76 Chapter 76: Masa lalu Qing Tao
77 Chapter 77: Masa lalu Qing Tao II
78 Chapter 78: Hari Turnamen
79 Chapter 79: Babak Penyisihan
80 Chapter 80: Babak Penyisihan II
81 Chapter 81: Memasuki Semi Final
82 Chapter 82: Amarah Jun Tao
83 Chapter 83: Malam Yang Menegangkan
84 Chapter 84: Babak Final
85 Chapter 85: Babak Final II
86 Chapter 86: Babak Final III
87 Chapter 87: Babak Final IV
88 Chapter 88: Babak Final V
89 Chapter 89: Babak Final VI
90 Chapter 90: Hasil Akhir
91 Chapter 91: Kedatangan Klan Jun
92 Chapter 92: Pertempuran Klan Jun
93 Chapter 93: Pertempuran Klan Jun II
94 Chapter 94: Pertempuran Klan Jun III
95 Chapter 95: Pertempuran Klan Jun IV
96 Chapter 96: Jatuhnya Jiang Chen
97 Chapter 97: Pohon Kuno
98 Chapter 98: Akhir Pertempuran
99 Chapter 99: Kembali Ke Klan Jiang
100 Chapter 100: Sebelum Kepergian
101 Chapter 101: Memulai Perjalanan
102 Chapter 102: Seorang Kultivator Yang Sedang Berlibur
103 Chapter 103: Pengkhianatan
104 Chapter 104: Pengkhianatan II
105 Chapter 105: Penyamaran Yang Terbongkar
106 Chapter 106: Raja Ran
107 Chapter 107: Permintaan Jiang Chen
108 Chapter 108: Ruang Harta
109 Chapter 109: Permintaan Raja Ran
110 Chapter 110: Tiba di Mansion
111 Chapter 111: Ran Riu
112 Chapter 112: Kerajaan Godam
113 Chapter 113: Serikat Petarung
114 Chapter 114: Mengambil Misi
115 Chapter 115: Gerombolan Serigala
116 Chapter 116: Terobosan Hubai
117 Chapter 117: Jin Giu
118 Chapter 118: Surat Raja Ran
119 Chapter 119: Tiba di Kerajaan Tei
120 Chapter 120: Dimana Matamu
121 Chapter 121: Tentara Kerajaan Tei
122 Chapter 122: Kakek Dan
123 Chapter 123: Api Hewani
124 Chapter 124: Genius Alkemis Nomor 1
125 Chapter 125: Dimulainya Pertandingan
126 Chapter 126: Genius Saja Tidak Cukup
127 Chapter 127: Pertaruhan
128 Chapter 128: Babak Final
129 Chapter 129: Apakah Aku Belum Terlambat
130 Chapter 130: Itu Adalah Rampasan Perang
131 Chapter 131: Undangan Jamuan Kerajaan
132 Chapter 132: Memasuki Kerajaan Tei
133 Chapter 133: Tujuan Raja Tei
134 Chapter 134: Kesembuhan Jin Giu.
135 Chapter 135: Permintaan Raja Tei dan Kakek Dan
136 Chapter 136: Kembali Pulang
137 Chapter 137: Penyergapan
138 Chapter 138: Pertarungan Perbatasan Provinsi
139 Chapter 139: Pertarungan Perbatasan Provinsi II
140 Chapter 140: Akhir Pertarungan Perbatasan Provinsi
141 Chapter 141: Menyelamatkan Para Tawanan
142 Chapter 142: Tangisan Para Tawanan
143 Chapter 143: Para Wanita dan Undangan Makan Malam
144 Chapter 144: Makan Malam Jiang Chen dan Li Wei
145 Chapter 145: Kepergian Li Wei
146 Chapter 146: Terobosan Transformasi Tendon
147 Chapter 147: Petir Kesengsaraan Jiang Chen
148 Chapter 148: Memasuki Kultivasi Kembali.
149 Chapter 149: Tingkat 6 Transformasi Tendon.
150 Chapter 150: Kedatangan Tamu Serikat Alkemis Pusat
151 Chapter 151: Kepergian Banyak Orang
152 Chapter 152: Perubahan Seekor Ular
153 Chapter 153: Sebuah Lubang Raksasa.
154 Chapter 154: Kolam Darah Naga
155 Chapter 155: Terlukannya Hubai
156 Chapter 156: Menetasnya Kedua Telur Naga
157 Chapter 157: Pelalangan Kerajaan Godam
158 Chapter 158: Pelelangan Kerajaan Godam II
159 Chapter 159: Paman Jin Giu
160 Chapter 160: Memasuki Ketenangan
161 Chapter 161: Pencerahan Tang Shan
162 Chapter 162: Tiba di Provinsi Gunung Es
163 Chapter 163: Kekuatan Tang Shan
164 Chapter 164: Menyebarkan Cerita
165 Chapter 165: Perang Bandit
166 Chapter 166: Akhir Perang Bandit
167 Chapter 167: Keributan Menjelang Pagi
168 Chapter 168: Memasuki Kerajaan Mutiara Salju
169 Chapter 169: Penawaran Raja Mutiara Salju
170 Chapter 170 : Permintaan Jiang Chen
171 Chapter 171 : Kemampuan Prajurit Asura
172 Chapter 172 : Pangeran Bing Jian
173 Chapter 173 : Tambang Kerajaan Awan Salju
174 Chapter 174 : Mencari Informasi
175 Chapter 175 : Memasuki Penjara
176 Chapter 176 : Waktunya Pertunjukkan
177 Chapter 177 : Tornado Asura
178 Chapter 178 : Batu Bulan
179 Chapter 179 : Tubuh Suci Phoenix Es
180 Chapter 180 : Munculnya Reruntuhan Kuno
181 Chapter 181 : Kenyataan Yang Memukul Wajah
182 Chapter 182 : Kemunculan Reruntuhan Kuno
183 Chapter 183 : Memasuki Menara
Episodes

Updated 183 Episodes

1
Chapter 1: Kebangkitan
2
Chapter 2: Buah Kondensasi Langit
3
Chapter 3: Kembali Ke Kota
4
Chaper 4: Feng Lin
5
Chapter 5: Klan Jiang
6
Chapter 6 : Jiang Jian dan Li Shuwan
7
Chapter 7: Info Turnamen
8
Chapter 8: Perpustakaan Jiang
9
Chapter 9: Tinju Bayang
10
Chapter 10: Keberangkatan
11
Chapter 11: Jia Yong
12
Chapter 12: Pemburuan Pertama
13
Chapter 13: Pelatihan Jiang Chen
14
Chapter 14: Bandit Gunung
15
Chapter 15: Keluarnya Jiang Chen
16
Chapter 16: Serangan Jiang Chen
17
Chapter 17: Serangan Jiang Chen II
18
Chapter 18: Rampasan Perang
19
Chapter 19: Perubahan Rencana
20
Chapter 20: Penginapan Bulan Ming
21
Chapter 21: Kebodohan Yan Jilin
22
Chapter 22: Putri Ming
23
Chapter 23: Jalan Barang Antik
24
Chapter 24: Mendapatkan Harta
25
Chapter 25: Teknik Menggoda JiangChen
26
Chapter 26 : Klan Ming
27
Chapter 27: Klan Ming II
28
Chapter 28: Bukit Tengkorak
29
Chapter 29: Tombak Naga Langit
30
Chapter 30: Penyulingan Pertama
31
Chapter 31: Pemburuan
32
Chapter 32: Kemampuan Jilu
33
Chapter 33: Kemarahan Jiang Chen
34
Chapter 34: Jiu Long
35
Chapter 35: Sejarah Jiu Long
36
Chapter 36: Sejarah Jiu Long II
37
Chapter 37: Sejarah Jiu Long III
38
Chapter 38: Pill Bulan Ungu
39
Chapter 39: Kembali Ke Kota Ming
40
Chapter 40: Perubahan Turnamen
41
Chapter 41: Percakapan Ruang Rahasia
42
Chapter 42: Ujian Alchemist
43
Chapter 43: Paviliun Kosmos
44
Chapter 44: Paviliun Kosmos II
45
Chapter 45: Pelelangan
46
Chapter 46: Pelelangan II
47
Chapter 47: Pelelangan III
48
Chpater 48: Mencoba Teknik
49
Chapter 49: Tebasan Asura
50
Chapter 50: Rencana Pulang
51
Chapter 51: Menuju Klan Ming
52
Chapter 52: Pamitan
53
Chapter 53: Pamitan II
54
Chapter 54: Pamitan III
55
Chapter 55: Ming Mei
56
Chapter 56: Ming Mei II
57
Chapter 57: Kembali Ke Klan Jiang
58
Chapter 58: Pulangnya Jiang Chen
59
Chapter 59: Tradisi Keluarga
60
Chapter 60: Rencana Kepergian
61
Chapter 61: Kultivasi Feng Lin
62
Chapter 62: Mutiara Penghisap Darah
63
Chapter 63: Saber Tanpa Hati
64
Chapter 64: Saber Tanpa Hati II
65
Chapter 65: Saber Tanpa Hati III
66
Chapter 66: Memasuki Gua
67
Chapter 67: Warisan Li Hongli
68
Chapter 68: Warisan Li Hongli II
69
Chapter 69: Namamu Adalah Hubai
70
Chapter 70: Memasuki Kota Puyang
71
Chapter 71: Qing Tao
72
Chapter 72: Munculnya Fraksi
73
Chapter 73: Jia Yong vs Shi Gudong
74
Chapter 74: Kekalahan Telak Shi Gudong
75
Chapter 75: Pendaftaran Yang Mudah
76
Chapter 76: Masa lalu Qing Tao
77
Chapter 77: Masa lalu Qing Tao II
78
Chapter 78: Hari Turnamen
79
Chapter 79: Babak Penyisihan
80
Chapter 80: Babak Penyisihan II
81
Chapter 81: Memasuki Semi Final
82
Chapter 82: Amarah Jun Tao
83
Chapter 83: Malam Yang Menegangkan
84
Chapter 84: Babak Final
85
Chapter 85: Babak Final II
86
Chapter 86: Babak Final III
87
Chapter 87: Babak Final IV
88
Chapter 88: Babak Final V
89
Chapter 89: Babak Final VI
90
Chapter 90: Hasil Akhir
91
Chapter 91: Kedatangan Klan Jun
92
Chapter 92: Pertempuran Klan Jun
93
Chapter 93: Pertempuran Klan Jun II
94
Chapter 94: Pertempuran Klan Jun III
95
Chapter 95: Pertempuran Klan Jun IV
96
Chapter 96: Jatuhnya Jiang Chen
97
Chapter 97: Pohon Kuno
98
Chapter 98: Akhir Pertempuran
99
Chapter 99: Kembali Ke Klan Jiang
100
Chapter 100: Sebelum Kepergian
101
Chapter 101: Memulai Perjalanan
102
Chapter 102: Seorang Kultivator Yang Sedang Berlibur
103
Chapter 103: Pengkhianatan
104
Chapter 104: Pengkhianatan II
105
Chapter 105: Penyamaran Yang Terbongkar
106
Chapter 106: Raja Ran
107
Chapter 107: Permintaan Jiang Chen
108
Chapter 108: Ruang Harta
109
Chapter 109: Permintaan Raja Ran
110
Chapter 110: Tiba di Mansion
111
Chapter 111: Ran Riu
112
Chapter 112: Kerajaan Godam
113
Chapter 113: Serikat Petarung
114
Chapter 114: Mengambil Misi
115
Chapter 115: Gerombolan Serigala
116
Chapter 116: Terobosan Hubai
117
Chapter 117: Jin Giu
118
Chapter 118: Surat Raja Ran
119
Chapter 119: Tiba di Kerajaan Tei
120
Chapter 120: Dimana Matamu
121
Chapter 121: Tentara Kerajaan Tei
122
Chapter 122: Kakek Dan
123
Chapter 123: Api Hewani
124
Chapter 124: Genius Alkemis Nomor 1
125
Chapter 125: Dimulainya Pertandingan
126
Chapter 126: Genius Saja Tidak Cukup
127
Chapter 127: Pertaruhan
128
Chapter 128: Babak Final
129
Chapter 129: Apakah Aku Belum Terlambat
130
Chapter 130: Itu Adalah Rampasan Perang
131
Chapter 131: Undangan Jamuan Kerajaan
132
Chapter 132: Memasuki Kerajaan Tei
133
Chapter 133: Tujuan Raja Tei
134
Chapter 134: Kesembuhan Jin Giu.
135
Chapter 135: Permintaan Raja Tei dan Kakek Dan
136
Chapter 136: Kembali Pulang
137
Chapter 137: Penyergapan
138
Chapter 138: Pertarungan Perbatasan Provinsi
139
Chapter 139: Pertarungan Perbatasan Provinsi II
140
Chapter 140: Akhir Pertarungan Perbatasan Provinsi
141
Chapter 141: Menyelamatkan Para Tawanan
142
Chapter 142: Tangisan Para Tawanan
143
Chapter 143: Para Wanita dan Undangan Makan Malam
144
Chapter 144: Makan Malam Jiang Chen dan Li Wei
145
Chapter 145: Kepergian Li Wei
146
Chapter 146: Terobosan Transformasi Tendon
147
Chapter 147: Petir Kesengsaraan Jiang Chen
148
Chapter 148: Memasuki Kultivasi Kembali.
149
Chapter 149: Tingkat 6 Transformasi Tendon.
150
Chapter 150: Kedatangan Tamu Serikat Alkemis Pusat
151
Chapter 151: Kepergian Banyak Orang
152
Chapter 152: Perubahan Seekor Ular
153
Chapter 153: Sebuah Lubang Raksasa.
154
Chapter 154: Kolam Darah Naga
155
Chapter 155: Terlukannya Hubai
156
Chapter 156: Menetasnya Kedua Telur Naga
157
Chapter 157: Pelalangan Kerajaan Godam
158
Chapter 158: Pelelangan Kerajaan Godam II
159
Chapter 159: Paman Jin Giu
160
Chapter 160: Memasuki Ketenangan
161
Chapter 161: Pencerahan Tang Shan
162
Chapter 162: Tiba di Provinsi Gunung Es
163
Chapter 163: Kekuatan Tang Shan
164
Chapter 164: Menyebarkan Cerita
165
Chapter 165: Perang Bandit
166
Chapter 166: Akhir Perang Bandit
167
Chapter 167: Keributan Menjelang Pagi
168
Chapter 168: Memasuki Kerajaan Mutiara Salju
169
Chapter 169: Penawaran Raja Mutiara Salju
170
Chapter 170 : Permintaan Jiang Chen
171
Chapter 171 : Kemampuan Prajurit Asura
172
Chapter 172 : Pangeran Bing Jian
173
Chapter 173 : Tambang Kerajaan Awan Salju
174
Chapter 174 : Mencari Informasi
175
Chapter 175 : Memasuki Penjara
176
Chapter 176 : Waktunya Pertunjukkan
177
Chapter 177 : Tornado Asura
178
Chapter 178 : Batu Bulan
179
Chapter 179 : Tubuh Suci Phoenix Es
180
Chapter 180 : Munculnya Reruntuhan Kuno
181
Chapter 181 : Kenyataan Yang Memukul Wajah
182
Chapter 182 : Kemunculan Reruntuhan Kuno
183
Chapter 183 : Memasuki Menara

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!