Saat ini Jiang Chen sedang berdiri di sebuah ruangan, didalam ruangan tersebut ada seorang pria paruh baya yang sedang duduk sambil meminum segelas teh, lalu terlihat di depannya ada sebuah meja catur dan sebuah kursi kosong, seperti sedang menunggu seseorang untuk bermain, dan Pria ini tidak lain adalah Jiang Jian yang sedang duduk, sambil menyeruput tehnya.
Jiang Jian berkata tanpa melihat JiangChen "Duduklah aku sudah menunggu lama, aku tidak menyangka kau akan mengobrol dengan mereka cukup lama"
Mendengar itu Jiang Chen terkejut, tapi dia segera menenangkan dirinya kembali karena dia tau ayahnya ada di ranah Transformasi Tendon dan dia pasti sudah membangkitkan Energi Spiritualnya, Jiang Chen pun duduk.
Jiang Jian berkata dengan acuh tak acuh "Bidak mana yang kau pilih Hitam atau Putih?"
Jiang Chen menjawab "Aku akan mengambil hitam, silahkan ayah bergerak terlebih dahulu"
Jiang Jian terkejut oleh pilihan anaknya, namun dengan cepat menjadi tenang dan hanya tersenyum, lalu menggerakan bidak caturnya "Baiklah ini cukup mengejutkan, karena seperti yang kau tau, bahwa Klan Jiang selalu memilih bidak putih dan tidak ada yang memilih bidak hitam di awal sepertimu"
Jiang Chen terkejut dan berkata, sambil menggerakan bidak catur "Apakah ada yang salah dengan itu"
Jiang Jian tertawa dan berkata "Hahaha... Tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja jalan yang akan kau lalui, mungkin akan jauh berbeda dengan kami "
Jiang Chen terdiam bingung, Lalu Jiang Jian melanjutkan
"Jalan yang kau lalui akan lebih curam dan berbahaya, kau mungkin bisa bangkit dengan cepat, tapi kau juga bisa terjatuh kapan saja.
Ini adalah permainan yang berbahaya, dan setiap langkah yang kau ambil mempengaruhi jalannya permainan"
Jiang Chen mengerutkan keningnya dan bertanya "Apakah ayah tau apa yang harus aku lakukan? "
Jiang Jian mengelengkan kepalanya dan berkata "Tidak ada semua yang kau perlukan sudah ku ajarkan "
Jiang Chen menjadi bingung lagi, lalu Jiang Jian berkata "Apakah kau ingat, dulu waktu umurmu 7 tahun dan kau melawan harimau yang kelaparan"
Jiang Chen menjawab dengan masam "Tentu saja, saat itu kau tidak membantuku dan malah pergi "
Jiang Jian tersenyum dan berkata "Apa kau ingat apa yang membuatmu bisa selamat"
Jiang Chen tiba-tiba mengingat sesuatu dan berkata penuh makna "Saat kau tidak bisa bertaruh pada kemampuanmu, kau bisa bertaruh pada hidupmu "
Jiang Chen ingat, saat itu dia hampir mati oleh harimau itu, namun tiba-tiba terdengar sebuah suara di kepalanya yang membuatnya berani bertarung dengan nyawa di panggilan, dan sekarang dia tahu suara tersebut berasal dari ayahnya.
"Seorang ahli sejati selalu bangkit dengan bermandikan darah dan bertahtakan tulang, jika tidak begitu bahkan jika kau berbakat itu akan sangat sia-sia"
Jiang Jian berkata dengan serius dan perlahan lalu menjutkan "Saat dalam situasi hidup dan mati yang perlu kau lakukan hanya tetap tenang dan beradaptasi dengan situasi "
Jiang Jian melanjutkan sambil mengakhiri permain dengan Skamat "Dan tanpa kekuatan yang cukup kau hanya akan menjadi bidak catur untuk orang lain"
Jiang Chen tiba-tiba tercerahkan dan berkata dengan ekspresi penuh penghormatan "Terimakasih atas kebaikanmu, Ayah."
Setalah berterimakasih Jiang Chen pun hendak membungkuk karena merasa berterimakasih saja kurang, tapi sayangnya sebelum dia bisa melakukannya Ayahnya pun segera menghentikannya.
Jiang Jin pu. mengutuk kesal "Apa yang kau lakukan, aku sudah bilang berapa kali padamu jangan terlalu sopanndenganku, kau hanya akan membuatku malu dengan sikapmu itu"
Jiang Chen sangat tersentuh atas kebaikan ayahnya ini, walaupun dia dulu sering membuatnya hampir mati dia sebenarnya bertujuan untuk melatihnya, sehingga dapat membentuk karakter yang kuat.
Jiang Jian melanjutkan "Apa tujuanmu datang kemari?"
Mendengar itu Jiang Chen sadar dari lamunanya dan berkata "Aku akan pergi berlatih lagi namun kali ini mungkin cukup lama "
Jiang Jian bertanya "Berapa lama 2 bulan atau 3 bulan? Dan kapan kamu akan pergi?"
Jiang Chen berkata dengan malu
"Sebenarnya itu 5 bulan dan aku akan berangkat dalam 2 hari "
Mendengar jawaban Jiang Chen, Jiang Jian memuntahkan kembali Teh yang sudah dia minum dan berkata dengan tergesa-gesa "Apakah ibumu mengetahui ini? Kau tahu bagaimana reaksi ibumu saat mengetahui ini, mungkin dia akan membunuhku jika tahu akulah yang memberikanmu izin untuk pergi"
Jiang Chen mengagguk ringan dan berkata "Aku mengetahuinya, ibu sangat menyayangiku dan tidak akan membiarkanku melakukan sesuatu yang berbahaya seperti itu, makanya aku meminta tolong ayah untuk membujuknya"
Jiang Jian berkata dengan serius "Tenanglah aku akan mengatiasi ini untukmu, setelah semua aku masih suaminya dia harus menurutiku"
Namun tiba-tiba ada sebuah tangan lembut yang menepuk dan mengelus pundak Jiang Jian dari belakang, lalu terdengarlah sebuah suara yang lembut.
"Ohhh....Siapa yang menuruti siapa"
Mendengar Suara itu Jiang Jian tiba-tiba berkeringat dingin di sekujur tubuhnya dan berkata dengan tergesa-gesa "Tentu saja aku sebagai suami yang baik, harus bertanya tentang pendapat yang penting istriku tercinta"
Li Shuwan tidak menjawab perkataan Jiang Jian dan malah balik berkata
"Suamiku kenapa kau penuh dengan keringat seperti ini"
Jiang Jian menjawab sambil tertawa canggung "Hahahah.... Iya suasana hari ini sungguh panas dan sebaiknya kau masuk kedalam karna mungkin ini akan merusak kulitmu yang indah itu"
Namun Li Shuwan mengabaikan jawabannya, dan mengalihkan pandanganya pada Jiang Chen dan berkata "Apakah kamu yakin untuk pergi"
Jiang Chen mengangguk dan berkata dengan serius "Iya, aku sangat yakin, aku ingin pergi dan melakukan pelatihanku sendiri "
Akhirnya Li Shuwan menghela nafas da berkata dengan lembut "Hmm... Aku tau hari ini akan datang dan aku tidak bisa selalu menghalangimu "
Mendengar jawaban ibunya, Jiang Chen menjadi bersemangat dan berkata "Tenanglah bu, aku bisa menjaga diriku sendiri dan aku sudah mempersiapkan semua kebutuhanku "
Li Shuwan hanya tersenyum dan berkata " Aku harap kamu bisa menjaga ucapanmu "
Jiang Jian berkata "Dalam 2 hari kedepan apa yang kau rencanakan?"
Jiang Chen menjawab "Aku akan pergi ke perpustakaan Klan Jiang untuk mendapatkan beberapa informasi dan teknik yang aku butuhkan"
Setelah selesai biacara Jiang Chen pun berpamitan dan berbalik pergi.
Jiang Jian berkata pada istrinya "Pilihanmu sudah benar, dia tidak bisa bersama kita selamanya, dia harus menemukan dunianya sendiri"
Li Shuwan tersenyum pahit dan berkata "Aku tahu itu, tapi aku masih sedikit khawatir "
Jiang Jian berkata dengan yakin "Tidak ada yang akan tejadi padanya, karna dia adalah anakku JiangJian"
Setelah keluar dari ruangan tersebut, Jiang Chen langsung berjalan ke arah timur dan hanya berhenti di sebuah bangunan yang bernuansa kuno dan antik, di atas pintu bangunan tersebut terdapat tulisan 'Perpustakaan Jiang' yang berlapisi emas dan memancarkan aura kuno tersendiri"
Saat Jiang Chen masuk ia melihat di sudut ruangan ada seorang pria tua yang sedang duduk di sebuah kursi sambil memejamkan matanya.
Melihat itu Jiang Chen langsung mendekat dan menangkupkan tinjunya pada pria itu dan berkata
"JiangChen melihat tetua Guo"
Pria itu membuka matanya dan tersenyum, lalu membalas dengan ramah "Hahaha..Kenapa begitu formal, aku hanya seorang pria tua yang sedang menikmati masa-masa terakhirnya"
Jiang Chen mengelengkan kelapanya dan berkata "Tidak tetua, anda adalah orang yang berjasa untuk Klan Jiang, Ayah pernah berkata bahwa dulu, anda telah berkorban banyak untuk Klan Jiang"
Penatua Guo hanya tersenyum menanggapinya dan berkata "Aku tau kamu mencari beberapa informasi dan teknik yang sesuai untukmu, maka carilah perpustakaan ini terbuka untukmu, kau harusnya tau bahwa bangunan ini terbagi menjadi tiga lantai, lantai 1 menyimpan informasi, lantai 2 untuk teknik Fana tingkat rendah, Lantai 3 untuk teknik Fana tingkat menengah dan tinggi"
Jiang Chen menjawab sambil menangkupkan tinjunya. "Terimakasih tetua atas bantuannya"
Setelah berterimakasih, Jiang Chen langsung berjalan ke sekumpulan Rak buku di lantai 1 dan bergumam sambil tersenyum "Aku harus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang propinsi Huo dan beberapa tempat-tempat misterius karna mungkun ada harta di sana"
Namun saat melihat buku yang menumpuk dan menjulang tinggi, senyum Jiang Chen membeku dan terlihat pait
"Sepertinya tidak cukup 2 hari untuk menghafal semuanya, sebaiknya aku mengutamakan tujuanku terlrbih dahulu"
Jiang Chen mengambil buku dan mulai membaca dengan serius.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 183 Episodes
Comments
Anonymous
🫎🐂🐂🐂
2024-03-12
0
Suami takut Istri apalagi galak 🤣🤣🤣
2023-08-13
0
Haikal Akbar
Siipp
2022-11-20
0