Chapter 13: Pelatihan Jiang Chen

"Biarkan aku lebih dulu"

Jia Yong berkata, sambil berjalan maju dengan gagah berani. Namun, tiba-tiba Jiang Chen menarik kerah bajunya dan melemparnya kebelakang seperti sedang membuang kertas,

Jiang Chen berkata dengan santai "Tunggu giliranmu, Jilu majulah, aku sengaja memilih kera ini sebagai lawanmu"

Jilu hanya mengangguk karena dia tahu Jiang Chen pasti punya alasan.

Jian Chen melanjutkan "Ingat aku tidak akan membantumu, bahkan jika kamu terluka parah, aku hanya akan memberikan beberapa saran jika di perlukan"

Lalu Jiang Chen melemparkan sebuah pedang ke Jilu "Kau pasti akan membutuhkannya"

Jilu mengangguk sekali lagi, dan mulai berjalan menuju arah kera tersebut.

Namun, setelah jarak mereka tinggal beberapa meter lagi, Jilu terkejut dengan ukuran kera tersebut, dari tempat Jiang Chen berdiri kera ini terlihat memiliki ukuran sekitar 2 meter, namun saat ini dia melihat bahwa kera tersebut memiliki tinggi 3 meter dengan lebar 1 meter, dan itu terlihat sangat besar.

Jilu yang biasa tenang akhirnya mengutuk "Sial, Bos pasti sudah mengetahui ini"

Seolah mendengar kutukan Jilu, Kera itu tiba-tiba marah dan langsung melancarkan sebuah pukulan ke jilu.

Jilu yang melihat sebuah pukulan besar mendekat ke arahnya, Tersenyum pahit dan meloncat ke samping untuk menghindarinya

Melihat bahwa Jilu bisa menghindari pukulanya, Kera itu pun bertambah marah dan meraung, lalu melancarkan banyak pukulan beruntun.

Jilu mulai berkeringat dingin dengan melihat banyak pukulan yang terbang kearahnya, dia pun mulai mencoba sebaik mungkin untuk menghindar, namun sepandai-pandainya tupai meloncat pasti terjatuh juga.

Jilu pun akhirnya terkena sebuah pukulan yang membuatnya terbang sejauh 10 meter dan hanya berhenti setelah menabrak pohon, Jilu memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.

Jiang Chen yang melihat itu, hanya berkata dengan datar "Saat kau menemui musuh yang lebih unggul darimu, yang harus kau lakukan adalah, pertama amati setiap gerakannya, kedua cari kelemahannya dan yang ketiga adalah mengetahui apa kelebihanmu"

Setelah mendengar itu Jilu pun kembali berdiri dan mengelap darah yang ada di mulutnya, lalu berjalan kembali menuju kera tersebut.

Kera itu marah dengan melihat bahwa Jilu belum mati dan mendekat kearahnya, dia pun sekali lagi melancar pukulan beruntunnya.

Jilu masih berusaha untuk menghindarinya, namun kali Ini dia menggunakan Langkah Angin yang membuat gerakannya menjadi lebih halus dan ringan, dia juga menggunakan gaya menghindar yang sangat eksotik, yang membuat dia terlihat seperti orang yang sedang berdansa di tengah pukulan kera.

Namun, setelah menghindarinya untuk beberapa saat, Jilu tiba-tiba mengeluarkan pedang dari sarungnya dan mulai berlari kearah kera itu.

Melihat Jilu yang mendekat, kera itu tidak mundur ataupun lebih waspada, dia hanya terus melancar pukulannya, mungkin karna dia merasa lebih kuat sehingga dia tidak menganggap serius serangan Jilu.

Saat jarak antara Jilu dan Kera itu tinggal 2 meter lagi, Jilu meleparkan sarung pedangnya yang mangarah langsung pada mata kera tersebut.

Kera itu tidak tinggal diam dengan serangan Jilu, dia menghalaunya dengan salah satunganya, namun itu menyebabkan penglihatanya sedikit terhalang, dan ketika penglihatannya sudah kembali normal Jilu sudah tidak ada disana.

Itu membuat Kera itu bingung dan menglihat kanan kirinya, namun Jilu masih tidak di temukan.

Ditengah kebingunan kera itu, Jilu tiba-tiba meloncat dari belakang dan melancarkan serangan dengan Pedangnya yang langsung memenggal kepala kera tersebut.

Slassshh!!

Sebuah kepala besar menggelinding ke tanah dan darah pun mulai menyembur dari tubuh kera tersebut.

Melihat itu Jilu merasa tidak percaya, bahwa dia telah berhasil membunuh Kera tersebut, yang memiliki Kultivasi 2 tingkat di atasnya.

Jia Yong yang melihat adegan Jilu yang memenggal kepala kera. menjadi bersemangat dan berteriak "Wow...Kau sungguh luar biasa saudara Jilu"

Jilu tidak menanggapinya dan malah berjalan menuju Jiang Chen dengan bahagia "Bos aku berhasil membunuhnya, ini semua berkat saranmu, terimakasih Bos"

Jiang Chen menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum dan berkata "Ini tidak ada hubunganya denganku, ini semua murni adalah hasil kerja kerasmu, jadi kau tidak perlu berterima kasih padaku"

Jilu tidak mau kalah "Tapi boss, tanpa saranmu mungkin aku tidak bisa mengalahkannya"

Jiang Chen tersenyum "Walaupun aku tidak memberi tahumu, kau akan mengetahuinya sendiri, namun itu akan memerlukan beberapa waktu"

Jilu menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tegas "Dalam beberapa waktu tersebut kita tidak tahu apa yang akan terjadi, dan mungkin aku akan mati karenanya"

Jiang Chen tidak membalas tapi mengangguk sebagai persetujuan

Jia Yong yang masih bersemangat tidak menghiraukan percaka Jilu dan Jiang Chen, dan berkata dengan tergesa-gesa "Boss cepat sekarang bagianku, kemana kita akan pergi"

Jiang Chen tersenyum dan berkata "Tenanglah, dan lihat ini"

Jiang Chen mengambil sebuah batu dari tanah dan melemparkannya ke semak-semak yang ada di belakang mereka.

"Roarrr!!!"

Tiba-tiba sebuah raungan yang mengerikan pun terdengar dari sana dan seekor Macan besar meloncat kelaur dengan cepat.

Macan itu memiliki ukuran tubuh dua meter dengan kulit berwarna hitam legam dan memiliki sepasang taring besar dengan panjam 15cm.

Jiang Chen tersenyum pada Jia Yong, sambil menunjuk Macan itu

"Itulah lawanmu!"

Jia Yong yang mengira bahwa dia akan melawan kera yang sama dengan Jilu menjadi terdiam "Bos bukankah ini berbeda dengan Saudara Jilu"

Jiang Chen membalas dengan datar "Siapa yang bilang bahwa kalian akan melawan musuh yang sama, setiap orang memiliki musuh yang berbeda dalam hidup mereka jadi jangan menyamakan dirimu dengan orang lain"

"Tapi Boss ak......"

Jia Yong ingin berkata sesuatu tapi sebelum selesai, dia sudah di tendang pergi oleh JiangChen, lalu Jiang Chen melanjutkan dengan serius "Aturannya masih sama, aku tidak akan membantumu dan hanya akan memberimu saran kecil, itu pun jika diperlukan"

Jia Yong masih ingin mengeluh tapi terlebih dahulu di tendang oleh Jiang Chen, menjadi kesal dan tidak terima, lalu bergumam "Lihat saja aku akan membuktikan, bahwa aku bisa mengalahkan Macan ini dengan mudah"

Melihat bahwa Jia Yong mendekatinya, Macan itu pun meraung marah dan langsung menerkam dengan cepat ke arah Jia Yong

"Sial bagaimana kucing ini bisa begitu cepat" Ujar Jia Yong yang terkejut melihat kecepatan macan itu, lalu dia pun langsung bergerak untuk menghindari terkamannya.

Dari awal pertarungan Jia Yong terus mencoba menghindar sebisa mungkin, tapi karena perbedaan kecepatan yang terlalu besar, membuat Jia Yong pun masih mendapatkan beberapa luka darinya.

Namun yang membuat JiaYong kesal adalah fakta bahwa selain cepat macan itu juga ternyata sangat lincah, sehingga meski Jia Yong sudah beberapa kali melancarkan serangan, macan itu masig bisa menghindarinya dengan mudah.

Jia Yong yang mulai kehilangan ketenangan, membuat semua serangannya kehilangan arah dan membabi buta.

Di lain sisi Macan yang melihat bahwa Jia Yong sudah mulai kelelahan, mulai bersiap untuk melakukan serangan akhir.

Jilu yang melihat pertarungan dari samping manjadi merasa kasihan pada Jia Yong, sehingga dia pun bertanya dari pada Jiang Chen "Bos bukankah ini terlalu jauh, dia sudah kelelahan dan mempunyai banyak luka"

Jiang Chen masih acuh tak acuh "Dia harus bisa menyelesaikannya dan mengenali siapa dirinya sendiri, karena hanya dengan begitu dia akan bisa bertahan di dunia ini. kau mungkin bisa membantunya sekarang, tapi tidak untuk masa depan, karena dia harus membangun jalannya sendiri"

Jiang Chen berteriak pada Jia Yong "Tenangkan pikiranmu, dorong dan fokuskan semua indramu sampai puncak, lalu pelajari setiap gerakannya dan kendalikan iramanya"

Jiang Chen melemparkan sebuah batu pada Jia Yong dan berkata "Karena hanya dengan begitu kau bisa menang"

Jia Yong menangkap batu yang dilempar Jiang Chen, lalu dia pun melihat kearah batu tersebut dengan tatapan bingung, tapi tiba-tiba dia pin tersenyum cerah.

Melihat bahwa Jia Yong sedang lengah, Macan itu pun mengambil inisiatif untuj menerkam ke arahnya.

Namun sayangnya Jia Yong sudah siap untuk menghindarinya dan melakukan serangan balik dengan melemparkan batu kearah kakinya.

"Roar!!" Macan itu pun marah karena kakinya kesakitan.

Melihat raungan macan itu, Jia Yong masih tetap tenang dan terus mengambil batu dari tanah, sehingga setiap macan itu pergi menerkamnya, dia pun akan bisa menghindar dan sekaligus membalasnya.

Namun yang tidak disadari oleh macan tersebut adalah setiap lemparan Jia Yong mengarah pada titik vitalnya, sehingga setelah mengenai semua titik vitalnya, macan itu pun tiba-tiba tidak bisa bergerak dan langsung terjatuh ketanah karena kakinya sudah lemas.

Melihat itu, Jia Yong pun tersenyum dan berjalan mendekat dengan sebuah batu di tangannya. Saat berjalan mendekat, Jia Yong pun terlihat sudah memiliki banyak luka cakaran ditubuhnya dan darah perlahan menetes dari bibirnya.

Macan itu pun meraung karena melihat Jia Yong yang sedang berjalan mendekat kearahnya, tapi sekarang raunganya berbeda karena raungannya terdengar, seperti raungan ketakutan dan meminta ampun.

Jia Yong pun hanya tersenyum melihat tindakan macan tersebut dan dia pun berkata "Kau pikir aku akan membebaskanmu hanya karena kau meminta ampun, Jika bukan karna adanya Bos yang memberikan bantuan padaku mungkin aku sudah mati dan dimakan olehmu, jadi mengapa aku harus menyelamatkanmu"

Jia Yong pun memukulkan sebuah batu pada kepala Harimau tersebut yang langsung menembus begian otaknya, sehingga membuat macan itu bisa mati dengan cepat. Jia Yong sebenarnya sedikit tidak tega untuk membunuhnya, jadi dia memberikan akhir yang cepat untuk permintaan maaf.

Jia Yong pun berjalan menuju Jiang Chen dan berkata dengan ekspresi penuh terimakasih "Terimakasih Bos"

Jiang Chen menepuk pundaknya "Kerja bagus"

Ditepuk oleh JiangChen, membuat Jia Yong berteriak karna kesakitan "Bos, sakit Boss"

Jiang Chen yang mendengarnya tidak bisa tidak tertawa dan berkata "Hahaha... Dengarkan aku, rasa sakit menandakan suatu perkembangan, ketika kau merasa sakit disitu ada perkembangan, proses selalu menyakitkan, tapi hasil selalu tergantung pada proses"

mereka berdua pun mengangguk setuju dan mulai saat ini mereka mengetahui bahwa Jiang Chen sebenarnya sangatlah Bijak, sehingga mereka pun berpikir untuk tidak mempertanyakan perintah bosnya lagi.

Jiang Chen tersenyum dan berkata perlahan "Mari kita kembali dan beristirahat, sebaiknya kita juga menangkap sesuatu untuk dimakan aku yakin kalian pasti lapar"

Jilu dan Jia Yong pun kembali mengangguk, lalu tersenyum malu karena mereka bisa mendengar suara perut mereka sendiri.

Jiang Chen pun berbalik dan memimpin jalan, lalu dibelakangnya Jilu dan Jia Yong pun mengikutinya.

Terpopuler

Comments

Haikal Akbar

Haikal Akbar

Up up up

2022-11-21

0

Ayi Hadi

Ayi Hadi

wooow mantap banget tuh latihannya pasti kalau bertarung nanti bakalan mantul

2022-07-04

0

Deputy10

Deputy10

Hohoho

2021-12-21

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1: Kebangkitan
2 Chapter 2: Buah Kondensasi Langit
3 Chapter 3: Kembali Ke Kota
4 Chaper 4: Feng Lin
5 Chapter 5: Klan Jiang
6 Chapter 6 : Jiang Jian dan Li Shuwan
7 Chapter 7: Info Turnamen
8 Chapter 8: Perpustakaan Jiang
9 Chapter 9: Tinju Bayang
10 Chapter 10: Keberangkatan
11 Chapter 11: Jia Yong
12 Chapter 12: Pemburuan Pertama
13 Chapter 13: Pelatihan Jiang Chen
14 Chapter 14: Bandit Gunung
15 Chapter 15: Keluarnya Jiang Chen
16 Chapter 16: Serangan Jiang Chen
17 Chapter 17: Serangan Jiang Chen II
18 Chapter 18: Rampasan Perang
19 Chapter 19: Perubahan Rencana
20 Chapter 20: Penginapan Bulan Ming
21 Chapter 21: Kebodohan Yan Jilin
22 Chapter 22: Putri Ming
23 Chapter 23: Jalan Barang Antik
24 Chapter 24: Mendapatkan Harta
25 Chapter 25: Teknik Menggoda JiangChen
26 Chapter 26 : Klan Ming
27 Chapter 27: Klan Ming II
28 Chapter 28: Bukit Tengkorak
29 Chapter 29: Tombak Naga Langit
30 Chapter 30: Penyulingan Pertama
31 Chapter 31: Pemburuan
32 Chapter 32: Kemampuan Jilu
33 Chapter 33: Kemarahan Jiang Chen
34 Chapter 34: Jiu Long
35 Chapter 35: Sejarah Jiu Long
36 Chapter 36: Sejarah Jiu Long II
37 Chapter 37: Sejarah Jiu Long III
38 Chapter 38: Pill Bulan Ungu
39 Chapter 39: Kembali Ke Kota Ming
40 Chapter 40: Perubahan Turnamen
41 Chapter 41: Percakapan Ruang Rahasia
42 Chapter 42: Ujian Alchemist
43 Chapter 43: Paviliun Kosmos
44 Chapter 44: Paviliun Kosmos II
45 Chapter 45: Pelelangan
46 Chapter 46: Pelelangan II
47 Chapter 47: Pelelangan III
48 Chpater 48: Mencoba Teknik
49 Chapter 49: Tebasan Asura
50 Chapter 50: Rencana Pulang
51 Chapter 51: Menuju Klan Ming
52 Chapter 52: Pamitan
53 Chapter 53: Pamitan II
54 Chapter 54: Pamitan III
55 Chapter 55: Ming Mei
56 Chapter 56: Ming Mei II
57 Chapter 57: Kembali Ke Klan Jiang
58 Chapter 58: Pulangnya Jiang Chen
59 Chapter 59: Tradisi Keluarga
60 Chapter 60: Rencana Kepergian
61 Chapter 61: Kultivasi Feng Lin
62 Chapter 62: Mutiara Penghisap Darah
63 Chapter 63: Saber Tanpa Hati
64 Chapter 64: Saber Tanpa Hati II
65 Chapter 65: Saber Tanpa Hati III
66 Chapter 66: Memasuki Gua
67 Chapter 67: Warisan Li Hongli
68 Chapter 68: Warisan Li Hongli II
69 Chapter 69: Namamu Adalah Hubai
70 Chapter 70: Memasuki Kota Puyang
71 Chapter 71: Qing Tao
72 Chapter 72: Munculnya Fraksi
73 Chapter 73: Jia Yong vs Shi Gudong
74 Chapter 74: Kekalahan Telak Shi Gudong
75 Chapter 75: Pendaftaran Yang Mudah
76 Chapter 76: Masa lalu Qing Tao
77 Chapter 77: Masa lalu Qing Tao II
78 Chapter 78: Hari Turnamen
79 Chapter 79: Babak Penyisihan
80 Chapter 80: Babak Penyisihan II
81 Chapter 81: Memasuki Semi Final
82 Chapter 82: Amarah Jun Tao
83 Chapter 83: Malam Yang Menegangkan
84 Chapter 84: Babak Final
85 Chapter 85: Babak Final II
86 Chapter 86: Babak Final III
87 Chapter 87: Babak Final IV
88 Chapter 88: Babak Final V
89 Chapter 89: Babak Final VI
90 Chapter 90: Hasil Akhir
91 Chapter 91: Kedatangan Klan Jun
92 Chapter 92: Pertempuran Klan Jun
93 Chapter 93: Pertempuran Klan Jun II
94 Chapter 94: Pertempuran Klan Jun III
95 Chapter 95: Pertempuran Klan Jun IV
96 Chapter 96: Jatuhnya Jiang Chen
97 Chapter 97: Pohon Kuno
98 Chapter 98: Akhir Pertempuran
99 Chapter 99: Kembali Ke Klan Jiang
100 Chapter 100: Sebelum Kepergian
101 Chapter 101: Memulai Perjalanan
102 Chapter 102: Seorang Kultivator Yang Sedang Berlibur
103 Chapter 103: Pengkhianatan
104 Chapter 104: Pengkhianatan II
105 Chapter 105: Penyamaran Yang Terbongkar
106 Chapter 106: Raja Ran
107 Chapter 107: Permintaan Jiang Chen
108 Chapter 108: Ruang Harta
109 Chapter 109: Permintaan Raja Ran
110 Chapter 110: Tiba di Mansion
111 Chapter 111: Ran Riu
112 Chapter 112: Kerajaan Godam
113 Chapter 113: Serikat Petarung
114 Chapter 114: Mengambil Misi
115 Chapter 115: Gerombolan Serigala
116 Chapter 116: Terobosan Hubai
117 Chapter 117: Jin Giu
118 Chapter 118: Surat Raja Ran
119 Chapter 119: Tiba di Kerajaan Tei
120 Chapter 120: Dimana Matamu
121 Chapter 121: Tentara Kerajaan Tei
122 Chapter 122: Kakek Dan
123 Chapter 123: Api Hewani
124 Chapter 124: Genius Alkemis Nomor 1
125 Chapter 125: Dimulainya Pertandingan
126 Chapter 126: Genius Saja Tidak Cukup
127 Chapter 127: Pertaruhan
128 Chapter 128: Babak Final
129 Chapter 129: Apakah Aku Belum Terlambat
130 Chapter 130: Itu Adalah Rampasan Perang
131 Chapter 131: Undangan Jamuan Kerajaan
132 Chapter 132: Memasuki Kerajaan Tei
133 Chapter 133: Tujuan Raja Tei
134 Chapter 134: Kesembuhan Jin Giu.
135 Chapter 135: Permintaan Raja Tei dan Kakek Dan
136 Chapter 136: Kembali Pulang
137 Chapter 137: Penyergapan
138 Chapter 138: Pertarungan Perbatasan Provinsi
139 Chapter 139: Pertarungan Perbatasan Provinsi II
140 Chapter 140: Akhir Pertarungan Perbatasan Provinsi
141 Chapter 141: Menyelamatkan Para Tawanan
142 Chapter 142: Tangisan Para Tawanan
143 Chapter 143: Para Wanita dan Undangan Makan Malam
144 Chapter 144: Makan Malam Jiang Chen dan Li Wei
145 Chapter 145: Kepergian Li Wei
146 Chapter 146: Terobosan Transformasi Tendon
147 Chapter 147: Petir Kesengsaraan Jiang Chen
148 Chapter 148: Memasuki Kultivasi Kembali.
149 Chapter 149: Tingkat 6 Transformasi Tendon.
150 Chapter 150: Kedatangan Tamu Serikat Alkemis Pusat
151 Chapter 151: Kepergian Banyak Orang
152 Chapter 152: Perubahan Seekor Ular
153 Chapter 153: Sebuah Lubang Raksasa.
154 Chapter 154: Kolam Darah Naga
155 Chapter 155: Terlukannya Hubai
156 Chapter 156: Menetasnya Kedua Telur Naga
157 Chapter 157: Pelalangan Kerajaan Godam
158 Chapter 158: Pelelangan Kerajaan Godam II
159 Chapter 159: Paman Jin Giu
160 Chapter 160: Memasuki Ketenangan
161 Chapter 161: Pencerahan Tang Shan
162 Chapter 162: Tiba di Provinsi Gunung Es
163 Chapter 163: Kekuatan Tang Shan
164 Chapter 164: Menyebarkan Cerita
165 Chapter 165: Perang Bandit
166 Chapter 166: Akhir Perang Bandit
167 Chapter 167: Keributan Menjelang Pagi
168 Chapter 168: Memasuki Kerajaan Mutiara Salju
169 Chapter 169: Penawaran Raja Mutiara Salju
170 Chapter 170 : Permintaan Jiang Chen
171 Chapter 171 : Kemampuan Prajurit Asura
172 Chapter 172 : Pangeran Bing Jian
173 Chapter 173 : Tambang Kerajaan Awan Salju
174 Chapter 174 : Mencari Informasi
175 Chapter 175 : Memasuki Penjara
176 Chapter 176 : Waktunya Pertunjukkan
177 Chapter 177 : Tornado Asura
178 Chapter 178 : Batu Bulan
179 Chapter 179 : Tubuh Suci Phoenix Es
180 Chapter 180 : Munculnya Reruntuhan Kuno
181 Chapter 181 : Kenyataan Yang Memukul Wajah
182 Chapter 182 : Kemunculan Reruntuhan Kuno
183 Chapter 183 : Memasuki Menara
Episodes

Updated 183 Episodes

1
Chapter 1: Kebangkitan
2
Chapter 2: Buah Kondensasi Langit
3
Chapter 3: Kembali Ke Kota
4
Chaper 4: Feng Lin
5
Chapter 5: Klan Jiang
6
Chapter 6 : Jiang Jian dan Li Shuwan
7
Chapter 7: Info Turnamen
8
Chapter 8: Perpustakaan Jiang
9
Chapter 9: Tinju Bayang
10
Chapter 10: Keberangkatan
11
Chapter 11: Jia Yong
12
Chapter 12: Pemburuan Pertama
13
Chapter 13: Pelatihan Jiang Chen
14
Chapter 14: Bandit Gunung
15
Chapter 15: Keluarnya Jiang Chen
16
Chapter 16: Serangan Jiang Chen
17
Chapter 17: Serangan Jiang Chen II
18
Chapter 18: Rampasan Perang
19
Chapter 19: Perubahan Rencana
20
Chapter 20: Penginapan Bulan Ming
21
Chapter 21: Kebodohan Yan Jilin
22
Chapter 22: Putri Ming
23
Chapter 23: Jalan Barang Antik
24
Chapter 24: Mendapatkan Harta
25
Chapter 25: Teknik Menggoda JiangChen
26
Chapter 26 : Klan Ming
27
Chapter 27: Klan Ming II
28
Chapter 28: Bukit Tengkorak
29
Chapter 29: Tombak Naga Langit
30
Chapter 30: Penyulingan Pertama
31
Chapter 31: Pemburuan
32
Chapter 32: Kemampuan Jilu
33
Chapter 33: Kemarahan Jiang Chen
34
Chapter 34: Jiu Long
35
Chapter 35: Sejarah Jiu Long
36
Chapter 36: Sejarah Jiu Long II
37
Chapter 37: Sejarah Jiu Long III
38
Chapter 38: Pill Bulan Ungu
39
Chapter 39: Kembali Ke Kota Ming
40
Chapter 40: Perubahan Turnamen
41
Chapter 41: Percakapan Ruang Rahasia
42
Chapter 42: Ujian Alchemist
43
Chapter 43: Paviliun Kosmos
44
Chapter 44: Paviliun Kosmos II
45
Chapter 45: Pelelangan
46
Chapter 46: Pelelangan II
47
Chapter 47: Pelelangan III
48
Chpater 48: Mencoba Teknik
49
Chapter 49: Tebasan Asura
50
Chapter 50: Rencana Pulang
51
Chapter 51: Menuju Klan Ming
52
Chapter 52: Pamitan
53
Chapter 53: Pamitan II
54
Chapter 54: Pamitan III
55
Chapter 55: Ming Mei
56
Chapter 56: Ming Mei II
57
Chapter 57: Kembali Ke Klan Jiang
58
Chapter 58: Pulangnya Jiang Chen
59
Chapter 59: Tradisi Keluarga
60
Chapter 60: Rencana Kepergian
61
Chapter 61: Kultivasi Feng Lin
62
Chapter 62: Mutiara Penghisap Darah
63
Chapter 63: Saber Tanpa Hati
64
Chapter 64: Saber Tanpa Hati II
65
Chapter 65: Saber Tanpa Hati III
66
Chapter 66: Memasuki Gua
67
Chapter 67: Warisan Li Hongli
68
Chapter 68: Warisan Li Hongli II
69
Chapter 69: Namamu Adalah Hubai
70
Chapter 70: Memasuki Kota Puyang
71
Chapter 71: Qing Tao
72
Chapter 72: Munculnya Fraksi
73
Chapter 73: Jia Yong vs Shi Gudong
74
Chapter 74: Kekalahan Telak Shi Gudong
75
Chapter 75: Pendaftaran Yang Mudah
76
Chapter 76: Masa lalu Qing Tao
77
Chapter 77: Masa lalu Qing Tao II
78
Chapter 78: Hari Turnamen
79
Chapter 79: Babak Penyisihan
80
Chapter 80: Babak Penyisihan II
81
Chapter 81: Memasuki Semi Final
82
Chapter 82: Amarah Jun Tao
83
Chapter 83: Malam Yang Menegangkan
84
Chapter 84: Babak Final
85
Chapter 85: Babak Final II
86
Chapter 86: Babak Final III
87
Chapter 87: Babak Final IV
88
Chapter 88: Babak Final V
89
Chapter 89: Babak Final VI
90
Chapter 90: Hasil Akhir
91
Chapter 91: Kedatangan Klan Jun
92
Chapter 92: Pertempuran Klan Jun
93
Chapter 93: Pertempuran Klan Jun II
94
Chapter 94: Pertempuran Klan Jun III
95
Chapter 95: Pertempuran Klan Jun IV
96
Chapter 96: Jatuhnya Jiang Chen
97
Chapter 97: Pohon Kuno
98
Chapter 98: Akhir Pertempuran
99
Chapter 99: Kembali Ke Klan Jiang
100
Chapter 100: Sebelum Kepergian
101
Chapter 101: Memulai Perjalanan
102
Chapter 102: Seorang Kultivator Yang Sedang Berlibur
103
Chapter 103: Pengkhianatan
104
Chapter 104: Pengkhianatan II
105
Chapter 105: Penyamaran Yang Terbongkar
106
Chapter 106: Raja Ran
107
Chapter 107: Permintaan Jiang Chen
108
Chapter 108: Ruang Harta
109
Chapter 109: Permintaan Raja Ran
110
Chapter 110: Tiba di Mansion
111
Chapter 111: Ran Riu
112
Chapter 112: Kerajaan Godam
113
Chapter 113: Serikat Petarung
114
Chapter 114: Mengambil Misi
115
Chapter 115: Gerombolan Serigala
116
Chapter 116: Terobosan Hubai
117
Chapter 117: Jin Giu
118
Chapter 118: Surat Raja Ran
119
Chapter 119: Tiba di Kerajaan Tei
120
Chapter 120: Dimana Matamu
121
Chapter 121: Tentara Kerajaan Tei
122
Chapter 122: Kakek Dan
123
Chapter 123: Api Hewani
124
Chapter 124: Genius Alkemis Nomor 1
125
Chapter 125: Dimulainya Pertandingan
126
Chapter 126: Genius Saja Tidak Cukup
127
Chapter 127: Pertaruhan
128
Chapter 128: Babak Final
129
Chapter 129: Apakah Aku Belum Terlambat
130
Chapter 130: Itu Adalah Rampasan Perang
131
Chapter 131: Undangan Jamuan Kerajaan
132
Chapter 132: Memasuki Kerajaan Tei
133
Chapter 133: Tujuan Raja Tei
134
Chapter 134: Kesembuhan Jin Giu.
135
Chapter 135: Permintaan Raja Tei dan Kakek Dan
136
Chapter 136: Kembali Pulang
137
Chapter 137: Penyergapan
138
Chapter 138: Pertarungan Perbatasan Provinsi
139
Chapter 139: Pertarungan Perbatasan Provinsi II
140
Chapter 140: Akhir Pertarungan Perbatasan Provinsi
141
Chapter 141: Menyelamatkan Para Tawanan
142
Chapter 142: Tangisan Para Tawanan
143
Chapter 143: Para Wanita dan Undangan Makan Malam
144
Chapter 144: Makan Malam Jiang Chen dan Li Wei
145
Chapter 145: Kepergian Li Wei
146
Chapter 146: Terobosan Transformasi Tendon
147
Chapter 147: Petir Kesengsaraan Jiang Chen
148
Chapter 148: Memasuki Kultivasi Kembali.
149
Chapter 149: Tingkat 6 Transformasi Tendon.
150
Chapter 150: Kedatangan Tamu Serikat Alkemis Pusat
151
Chapter 151: Kepergian Banyak Orang
152
Chapter 152: Perubahan Seekor Ular
153
Chapter 153: Sebuah Lubang Raksasa.
154
Chapter 154: Kolam Darah Naga
155
Chapter 155: Terlukannya Hubai
156
Chapter 156: Menetasnya Kedua Telur Naga
157
Chapter 157: Pelalangan Kerajaan Godam
158
Chapter 158: Pelelangan Kerajaan Godam II
159
Chapter 159: Paman Jin Giu
160
Chapter 160: Memasuki Ketenangan
161
Chapter 161: Pencerahan Tang Shan
162
Chapter 162: Tiba di Provinsi Gunung Es
163
Chapter 163: Kekuatan Tang Shan
164
Chapter 164: Menyebarkan Cerita
165
Chapter 165: Perang Bandit
166
Chapter 166: Akhir Perang Bandit
167
Chapter 167: Keributan Menjelang Pagi
168
Chapter 168: Memasuki Kerajaan Mutiara Salju
169
Chapter 169: Penawaran Raja Mutiara Salju
170
Chapter 170 : Permintaan Jiang Chen
171
Chapter 171 : Kemampuan Prajurit Asura
172
Chapter 172 : Pangeran Bing Jian
173
Chapter 173 : Tambang Kerajaan Awan Salju
174
Chapter 174 : Mencari Informasi
175
Chapter 175 : Memasuki Penjara
176
Chapter 176 : Waktunya Pertunjukkan
177
Chapter 177 : Tornado Asura
178
Chapter 178 : Batu Bulan
179
Chapter 179 : Tubuh Suci Phoenix Es
180
Chapter 180 : Munculnya Reruntuhan Kuno
181
Chapter 181 : Kenyataan Yang Memukul Wajah
182
Chapter 182 : Kemunculan Reruntuhan Kuno
183
Chapter 183 : Memasuki Menara

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!