Keesokan paginya, Kikan sudah bangun dan ia terlihat baru saja keluar dari kamar mandi. setelah itu, dirinya keluar dari kamar untuk mencari Cathrine, Langkah kaki Kikan terhenti saat dirinya melihat Cathrine sedang berdiri di dekat jendela dengan menyingkap sedikit tirai, untuk melihat ke arah luar rumah. Seketika itu, Kikan mencoba mengagetkan-nya, Cathrine yang begitu terkejut sontak memegangi dadanya.
"Sialan, kau mengagetkanku, saja." Cathrine berseru.
"Maaf, Cath. hehe, lagi pula kau sedang apa berdiri di sini?" tanya Kikan dengan mengernyitkan dahinya.
"Kemarilah, coba kau lihat di luar," kata Cathrine sambil menunjuk ke arah luar jendela.
"Itu kan mobilnya, Kak Rey. kenapa dia pagi -pagi buta seperti ini, kemari?" tanya Kikan.
"Sebenarnya, semalam suamimu kemari ingin menemuimu, Ki. tapi, kamu sudah tertidur. jadi, aku menyuruhnya untuk kembali lagi kemari besok. Tapi, sepertinya suamimu tidak pulang semalam, " ujar Cathrine.
"Benarkah?" tanya Kikan dengan melebarkan kedua matanya. dan Cathrine pun membenarkannya.
Kemudian, Kikan membuka pintu rumah Cathrine yang masih terkunci. Lalu, ia menghampiri mobil milik suaminya yang terparkir persis di halaman rumah Cathrine. Kikan mendekati mobil itu dan mencoba mengintip dari luar kaca mobil. dan di dalam mobil tersebut Rey terlihat nampak sedang tertidur.
sepertinya, semalam, Rey memang sengaja tidak pulang dan tidur di dalam mobil untuk menunggu Kikan. lalu, Kikan mencoba mengetuk pintu kaca mobil itu berulang kali, hingga membuat Rey terbangun dan mengerjapkan kedua matanya.
"Kikan," ucap Rey tanpa bersuara. Ia langsung cepat - cepat turun dari mobil.
"Kak Rey, sedang apa disini?" tanya Kikan jutek.
"Jemput kamu pulang," jawab Rey.
"Aku bisa pulang sendiri. kamu pulang saja sana," seru Kikan, hendak berlalu meninggalkan Rey, namun, Rey menghentikannya.
"Nona Kikan, aku minta maaf atas ucapanku kemarin," kata Rey. Ketika mendengar perminta maafan yang di tuturkan oleh suaminya, langkah kaki Kikan terhenti seketika.
"Aku salah, aku sudah tau cerita sebenarnya dari, Ibu. seharusnya, aku tidak berbicara seperti itu kepadamu. Tolong maafkan aku," imbuh Rey. Kikan membalikan badannya dan berjalan menghampiri suaminya itu.
"Kamu cerita kepada Ibu?" tanya Kikan dengan raut wajah yang kesal.
"Sebenarnya, aku tidak bermaksud untuk bercerita. tetapi, waktu semalam aku mencarimu, aku, berhenti di sebuah mini market dan tidak sengaja bertemu dengan Ibu Merry. Ibu memaksaku untuk menceritakan apa yang sudah terjadi dan--"
"Kamu tau, kan. Ibuku sedang sakit. dengan kamu menceritakan masalah ini, itu akan membuat-nya semakin kepikiran. lebih baik kamu pulanglah saja sana," seru Kikan dengan geram.
"Ikutlah pulang bersamaku, jika kau tidak mau melihat Ibu kepikiran." Rey mencoba mengajak Kikan pulang, Kikan terdiam sejenak. Sebenarnya, ia enggan untuk menerima ajakan, Rey. Tetapi, dirinya tidak mau melihat Ibunya sampai sakit hanya karna memikirkannya. Kikan menghela napas.
"Baiklah, tunggu." kata Kikan dengan terpaksa.
Kikan terlebih dulu masuk ke rumah Cathrine untuk berpamitan kepada sahabatnya itu. Seusai itu, Kikan kembali menemui Rey, di halaman. Rey menyuruh Kikan untuk masuk ke dalam mobil. kemudian, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk singgah sejenak di rumah Ibu Merry. Setelah 2 jam lamanya, Kikan dan Rey singgah dan berbincang - bincang bersama Ibu dan juga Mama Lilis.
Mereka berdua pun akhirnya berpamitan untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Mereka berdua terdiam dan tak berkata satu kata pun, sesekali Rey melirik ke arah wanita yang saat ini duduk di sampingnya.
"Apa dia masih marah?" gumam Rey dalam hati. Rey menambah laju kecepatan mobilnya tersebut.
"Kak Rey, berhenti." Kikan menepuk bahu suaminya, hingga membuat Rey menghentikan mobilnya dengan mendadak.
"Ada apa?" tanya Rey sembari mengernyitkan dahinya.
"Apa aku boleh meminjam uangmu?" tanya Kikan. Rey meraih dompet yang terselip di dalam saku celananya.
"Ini." Rey menyodorkan 2 lembar uang kepada Kikan.
Kikan turun dari mobil dan berjalan ke belakang mobil untuk membeli sesuatu. Rey memperhatikannya dari balik kaca spion mobil. Lalu, Kikan masuk ke dalam mobil dengan membawa permen kapas warna - warni, ditangannya.
"Astaga, ternyata dia memintaku untuk menghentikan mobil, hanya karena ingin membeli permen kapas? Sungguh konyol." Rey menggerutu dan menggeleng - gelengkan kepalanya. Ia kembali melajukan mobilnya.
"Apa kamu mau?" tanya Kikan dengan menyodorkan permen kapas itu kepada Rey.
"Tidak," singkat Rey.
"Minta berhenti ditengah jalan hanya ingin membeli permen kapas." Rey menggerutu kesal dalam hati.
"Dasar anak kecil," gumam Rey pelan.
"Kau bilang apa?" seru Kikan.
"Bilang anak kecil. kenapa memangnya? Apa ada masalah?" balas Rey.
"Bukan aku yang anak kecil, tetapi, kau saja yang terlalu tua," ketus Kikan sambil asyik menikmati permen kapas, hingga terlihat jelas gula - gula kapas itu melekat di sekitar mulutnya.
"Kau ya ..." seru Rey. Kikan hanya terkekeh melihatnya. Rey memfokuskan laju kemudinya. sesekali ia tersenyum kecil ketika melirik ke arah istrinya yang sedang menikmati permen kapas layaknya anak kecil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Mimilngemil
Cie.... Cie... Sudah mulai senyum" nie.... Rey
2023-11-02
0
Mimilngemil
😂😂😂😅😆
Rey... terlalu tua
2023-11-02
0
Katherina Ajawaila
kasihan ingat masa kecil y Kikan
2023-07-04
0