Terik sang surya

Seusai Kikan menyiapkan makan untuk sarapan pagi,  ia meminta Bi Ani untuk memanggilkan Rey, yang saat itu masih berada di dalam kamar. tak lama kemudian, Rey pun datang dan mendudukan tubuhnya di kursi meja makan.

Kikan juga mempersilahkan Bi Ani untuk duduk agar bisa ikut sarapan bersama, awalnya Bi Ani menolak. namun, kedmudia ia bersedia mau makan bersama karna Kikan memaksanya. Dan pagi itu mereka bertiga makan bersama di meja makan.

Saat siang harinya, waktu sudah menunjukan pukul 13.00 Pm

terik matahari terlihat menyengat di luaran sana, Bi Ani terlihat pergi ke kamar Kikan bermaksud untuk berpamitan pulang, karna dirinya bekerja hanya separuh waktu saja.

namun saat Bi Ani hendak menemui Kikan. Kikan sedang berada di dalam kamar mandi, jadi Bi Ani  hanya berpamitan kepada Rey saja. seusai berpamitan kepada majikannya, Bi Ani berlalu meninggalkan rumah tersebut.

***

Di kamar, saat Rey terlihat sedang disibukkan dengan memandangi layar laptop yang saat ini ia pangku, tiba - tiba dari arah pintu kamar terlihat Kikan sedang  berjalan hendak menghampiri-nya, dengan membawa cangkir ditangannya. ia  menyodorkan cangkir yang berisi coklat hangat kepada suaminya tersebut dengan 2 keping biskuit tertata di rapi di pinggiran cangkir itu. lalu, Kikan duduk disamping Rey dan sejenak mamandangi suaminya yang tengah bekerja, hingga membuat Rey merasa risih.

"Sedang apa kau disini?" tanya Rey dengan pandangan sinis.

"Ya, sedang duduk-lah. pakai bertanya  lagi," balas kikan

"Aku tau kau sedang duduk, kau pikir aku buta, apa. maksudku sedang apa kamu duduk disini? mau mencoba merayuku, iya." ketus Rey.

"Astaga, siapa yang mau merayumu? aku hanya duduk, tetapi kau sudah seperti mengajak orang mau perang saja, dasar menyebalkan," sungut Kikan seraya beranjak berdiri dan berlalu meninggalkan Rey, namun Rey melirik ke arah Kikan dan tak sengaja melihat sesuatu yang berwarna merah melekat di belakang rok yang di kenakan oleh Kikan.

"Nona Kikan, apa kamu habis terjatuh" tanya Rey hingga membuat langkah kaki Kikan terhenti.

"Tidak. kenapa memangnya?" tanya Kikan. Rey memindahkan laptop miliknya diatas meja dan berjalan mendekati Kikan.

"Kalau tidak terjatuh, lalu, kenapa belakang rokmu banyak sekali bercak darah?" tanya Rey dengan membalikan tubuh Kikan dan memastikannya. seketika itu Kikan langsung memeriksa belakang roknya.

"Astaga," Kikan terkejut dan langsung bergegas lari kekamar mandi hingga membuat Rey menggeleng - gelengkan kepala dengan keheranan.

"Ah sialan, kenapa datangnya cepat sekali, jadi malu, kan." Kikan menggerutu dan melepas rok beserta celana dalam yang saat ini ia kenakan, kemudian merendamnya ke dalam bak air.

"Ya'ampun, aku lupa tidak membawa ganti, aku harus bagaimana ini? ini sudah basah lagi," kata Kikan mengangkat bawahan miliknya yang sudah terlanjur terendam air.

Kikan begitu kebingungan dan mengacak - acak rambutnya dengan frustasi. lalu, ia mencoba membuka sedikit pintu kamar mandi, bermaksud mengintip dan memastikan apakah saminya masih ada didalam kamar atau tidak. namun yang saat ini ia lihat ternyata Rey masih berada didalam sana. Rey pun, menyadari bahwa Kikan sedang mengintipnya dari balik kamar mandi itu dan Kikan langsung menutup pintunya kembali.

Rey beranjak dari tempat duduknya, ia membuka lemari untuk mengambilkan handuk dan celana ganti milik Kikan secara acak yang sudah telipat rapi didalam lemari itu. dan Rey mendekati pintu kamar mandi untuk memberikannya kepada Kikan.

Dan kebetulan sekali Kikan sedang mengulangi hal yang sama seperti tadi, ia membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengintip, dan dilihat-nya Rey sudah tidak duduk disana. namun, Kikan begitu terkejut saat mendapati suaminya tiba - tiba sudah berdiri didepan-nya, sontak Kikan menutup kembali pintu-nya.

"Kau sedang apa disitu? kau mau mau mengintip, ya. dasar menyebalkan." Kikan berteriak dari balik pintu itu.

"Buka pintunya," teriak Rey dengan mengetuk keras pintu tersebut.

"Hey, wanita liar. aku sama sekali tidak berselera untuk mengintipmu, buka pintunya aku hanya mau memberikan handuk untukmu," imbuh Rey dengan suara teriakannya. seketika itu Kikan langsung membuka sedikit pintu kamar mandi itu.

"Oh, Aku kira, hehe ... terimakasih banyak, Kak." Kikan tersenyum pelik, ia menyaut handuk dan celana itu dari tangan Rey dan menutup kembali pintunya dengan sangat keras hingga membuat telinga Rey berdenging saat mendengarnya.

tak lama kemudian Kikan keluar dari kamar mandi dan mengacak acak isi lemarinya untuk mencari pembalut, namun ia tidak menemukan apa yang sedang ia cari.

"sepertinya, aku terlupa membawa pembalut," ucap Kikan dengan menghela napas dengan kesal.

Kikan mencoba keluar dari kamar dan mencari Bi Ani, bermaksud,  ingin menanyakan pembalut. namun Kikan sudah mengelilingi seisi rumah-nya, tetapi, dirinya sama sekali tak melihat Bi Ani disana. dan akhirnya, Kikan kembali ke kamar dan menanyakan keberadaan Bi Ani kepada Rey.

"Kak Rey, apa Kak Rey tau, dimana Bi Ani? aku mencarinya kemana - mana tetapi kenapa tidak ada, Ya." Kikan bertanya kepada Rey yang saat ini sedang fokus bekerja.

"Sudah pulang," jawab Rey tanpa memandang Kikan. Kikan berdecak kebingungan hingga membuat Rey terpaksa untuk mengalihkan pandangan kepadanya.

"Ada apa mencari, Bi Ani?" tanya Rey.

"Ehm, tidak apa – apa,” saut Kikan, Rey kembali memusatkan pandangannya ke arah laptop yang saat ini ia pangku.

"Kak Rey ... " Kikan memanggil dengan nada takut.

"Ada apa lagi?" tanya Rey dengan memasang wajah yang terlihat begitu garang.

"Ehm, apa Kak Rey tidak memiliki simpanan pembalut?" tanya Kikan pelan dengan menggigit bibir bawahnya karna malu.

"Apa kamu sudah gila menanyakan pembalut kepadaku? mana mungkin aku menyimpan pembalut!" seru Rey dengan begitu kesal.

"Ya, kan. aku hanya bertanya, Kak. barangkali disini ada pembalut milik kekasihmu atau Mama Lilis, cukup bilang tidak menyimpan saja kan bisa ... tidak perlu marah - marah," kata Kikan dengan kesal seraya pergi meninggalkan Rey dari kamar itu.

"Kenapa malah jadi dia yang emosi?" gumam Rey dalam hati.

Rey beranjak lagi dari tempat duduk dan mengambil kunci mobil, dirinya bergegas pergi meninggalkan rumah, ia menaiki mobil miliknya tersebut dan mulai melajukannya menuju ke arah dekat jalan raya untuk mencari sebuah toko kelontong disana. kurang dari waktu 5 menit mobil Rey berhenti di depan sebuah toko.

" Permisi, Nona. saya mau tanya,  apa ada pembalut untuk wanita usia  23 tahun?" tanya Rey pelan dengan nada malu.

"Ada, Tuan. semua pembalut sama saja, kok. bisa untuk semua usia." jawab sang penjual sembari menahan tawanya.

"Tolong bungkus 10 pcs," pinta Rey, penjual itu mengiyakannya dan tangannya mulai memasukan kemasan pembalut satu persatu kedalam kantong plastik merah  berukuran besar.

"Ini, Tuan."

"Terimakasih."

Rey meninggalkan toko itu dan kembali masuk kedalam mobil, ia kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil itu kembali menuju kerumah, "Sial, aku sangat malu sekali, baru kali ini aku membelikan seorang wanita pembalu," sungut Rey.

Setibanya di rumah. Rey menghampiri Kikan yang kala itu sedang duduk di ruang tengah dengan wajah yang terlihat ditekuk. Rey  langsung menyodorkan kantong plastik yang berisi pembalut tersebut kepada Kikan, tanpa menatap dan tanpa berkata sepatah kata satu pun. Rey berlalu begitu saja kembali kedalam kamar untuk melanjutkan pekerjaanya kembali.

"Pekerjaanku berulang-kali tertunda hanya karena dia." Rey menggerutu dan mendudukan tubuhnya kembali diatas kursi.

Dan setelah Kikan mengetahui, bahwa kantong plastik yang diberikan oleh Rey, kepadanya berisi-kan pembalut,  wajah Kikan langsung berubah sumringah dan begitu lega. dirinya langsung pergi kekamar mandi untuk berganti pembalut. dan setelah itu, ia  menghampiri suaminya didalam kamar.

"Kak Rey, terimakasih banyak, maaf jadi merepotkan," ucap Kikan dengan tersenyum, namun Rey tak menggubris perkataan Kikan. ia tetap fokus dengan pekerjaannya, Kikan yang tak mendapat balasan akan ucapan terimakasihnya, ia berlalu keluar meninggalkan kamar itu dan berjalan dengan mulut yang  tak henti menggerutu kesal.

Terpopuler

Comments

Rifa Lisa

Rifa Lisa

di kira pampers ya😂😂😭

2025-02-04

0

Queen Sha

Queen Sha

/Facepalm/ Kikannnnnn.... 🤣

2024-09-08

0

Mimilngemil

Mimilngemil

Masih ada rasa perduli, berarti Rey sebenarnya baik cuma butuh waktu aj.😊

2023-11-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!